design

My Cat Litter Box.

Tiba2 saja ada kucing dirumah. usia setahun. Betina.
Mur adalah panggilan  yang diberikan anak kedua saya, ,sang pemilik. Saya panggilnya Nneng.
CatLitterBox6

Continue reading

Advertisements
Standard
nneng

Nama Panggilanku Nneng.

Hai.. Nama panggilan aku Nneng. Cewek( ya iyalah😊😀).
Sejak beberapa minggu tinggal dirumah Ayah Aki.
Sebelumnya, hampir setahun di kantor produksi tempat kerja anaknya Ayah Aki. Mmas panggilannya.
Di resque di usia 1 bulan, dalam kondisi kelaparan, sekarat.
Terimakasih Mmas. Semoga Alloh membalas dengan yg lebih lagi. Aamiin YRA.
Iya aku masih kuyus. Tapi sepertinya ga lama lagi akan gemukan. Selera maemku bagus.
Aku bersih, ga kutuan. Rajin di mandiin. Ga tau emang suka dimandiin atau pura2 suka. Biar ga ngecewain yg ngurusnya😊.
Selama apapun dimandiin, disabuninnya, aku diem aja. Padahal di wastafel, dibawah kran. Air dingin lagi.
Juga saat dikeringin pake hair dryer. Anteng 😊.
Saat dikantor, pup dan pipisku ya dimana aja. Abis ga ada kotak pasirnya.
Sekarang ga lagi. Pup dan pipisku pasti dikotak pasirnya.
Aku ga pernah disuruh dikandang. Bebas bebas aja. Tapi aku lebih suka kalau tidur dikandang. Pintunya selalu terbuka. Jadi selalu bisa keluar untuk pup dan pipis.
Kata Ayah Aki, aku kucing yg sopan.
Kalau ga diminta, aku ga pernah masuk keruang manapun dirumah.
Ohya, aku baru seminggu lalu selesai operasi.
Tulang pinggul kananku remuk.

Ditabrak motor dijalan, depan rumah.
Jadi dipasangin plaat dibagian pinggul kananku.
Alhamdullillah sudah bisa jalan. Lari sih belum.
Apalagi lari2 kencang kaya Aki Ayah😊.
Dah dulu ya.
Salam😊

#nneng #kucingkampung

Standard
ultra running

Tambora Challenge 2018.

meUsai sudah, 4 hari x rata2 200 huruf x rata2 150 kali update= 120.000 x penceten jempol kanan kiri. Termasuk kesalahan pencetan angka 3 untuk e, huruf w untuk a, bolak- balik kesalahan huruf besar- kecil😊.
Usai sudah, sinyal hilang- timbul dibeberapa ruas jalan, daya battery hp yg drop sebelum akhirnya bertemu sang colokan listrik tersayang.
2 x bablas ketidurannya di 2 malam yg tak usah saya ceritakan. Malu😊.
Semua hal diatas adalah sedikit persembahan saya, yang saya dedikasikan untuk dunia lari- berlari yg saya cintai.
“BERLARI ULTRA MEMBUAT KITA MENGENAL BANYAK HAL.
BERLARI ULTRA DI GANASNYA TREK TAMBORA CHALLENGE ,SAMA2 MEMBUAT KITA MENGENAL BANYAK HAL, DAN DIRI- SENDIRI SAMPAI RELUNG HATI TERDALAM”.

Doro Ncanga, April 2018.
Hak gambar ada pada Adi.Owu.

Standard
sepeda

Sepeda Motor Saya

PhatScooterFedEx002
Transportasi hari2 saya nomor 1 sudah pasti sepeda. Setelahnya adalah transportasi umum.
Jika suatu saat terfikir untuk juga ber sepeda- motor, electric scooter semacam ini bisa jadi adalah pilihan saya.
Sudah tak polutif, tak bising dan kecepatannyapun terbatas. Sudah pasti masih dalam batas yang dibolehkan.
Seperti sepeda, jadi tak perlu sim C.
Kecuali motor dan batterynya, dilihat dari desainnya sepertinya bisa dibuat sendiri dibengkel las yg dekat2. Ya kan?😊

Continue reading

Standard
sepeda, trip

Seli( Sepeda Lipat) di Kereta- Api.


Argo Parahyangan Ekonomi Bandung – Gambir tak menyisakan ruang sedikitpun untuk sepeda lipat kecuali di gang pintu masuk, dikedua ujung gerbong.

Jadi, agar tak jauh ke seli pilih tempat duduk bernomor awal atau akhir.
VIRB Picture

Posisikan disebelah pintu masuk sisi sebelah utara, yang hanya dibuka saat di dan sampai di Bandung atau Gambir.

<!–more–>
28336468_2126317207395585_7595003372831439645_o

Info di aplikasi KAI Access #screencapture #helpme #more #kaiaccess #playstore #appstore

Bersambung

Standard
sepeda

Sepeda Lipatnya Sudah Pasti Asyik, Apalagi Elektrik :-)

IMG_44065Setelah Trike, mtb, minivelo, onthel, citybike, dan persis sebelumnya juga sepeda lipat, link d16 ini adalah sepeda ber e-bike kit ke 7 yang saya pakai.
Bersepedanya sudah membuat jatuh  hati. Ber e- bike kit? Apalagi 🙂 .
Tetap bisa digowes seperti sepeda jenis manapun, tetap berkeringat err maksudnya, tak seberkeringat seperti biasanya :-), dan tetap hijau, sunyi senyap tak berasap.

Ber e- bike kit artinya, jangkauan yang lebih jauh dan daya tempuh yang lebih lama.
Tanjakanpun tak lagi begitu pedas.
Dikayuh sama, hanya seakan ada yang bantu mendorong sehingga terasa lebih ringan.

Continue reading

Standard
sepeda

Sepeda Lipat

Berbicara sepeda lipat tak hanya bicara sepeda yang ‘mudah dibawa- bawa’, tampil imut dan bagi sebagian adalah segabruk gear yang segala dipasang :-).. tapi juga adalah tentang lipatan, sistem, mekanis dan kelebihan dari lipatannya sendiri.
Disamping sistem clamp yang paling banyak digunakan, beberapa menggunakan sistem yang berbeda. Dengan sekian keunggulan dan atau kelemahannya.
Iipat, swing atau apapun namanya.

Continue reading

Standard
adventure, event, mountain running

UTMB.

Bandung, 1987.Angan2 terkesan muluk. Sekali seumur hidup bisa menamatkan 10k dilomba lari manapun. Sudah pasti tak peduli podium. Bahkan tak pusing jikapun beberapa jam terlewat waktu Cut Off Timenya. Selama tak sampai berganti hari.

Bandung 2010.

Mencoba mulai berlari.

Kandas di 1km pertama. Menangispun bukan lagi dibuat- buat atau kiasan.

Plawangan Sembalun, 26 november 2012.

Nyaris tewas. Sendirian, tak menemukan jalan ke Segara Anak, tujuan berikut dimana Kang Hendra dan Kang Rudy Ansyah mestinya sudah sampai.

Dehidrasi dan kelelahan teramat- sangat.

Angan- angan berikut bahwa suatu saat saya akan melihat lomba lari trel disini rupanya harus tetap sekedar angan- angan.

Continue reading

Standard
berbagi, biking, cycling, fit

BERSEPEDA

SpedagiBodypackDago

Bersepeda,  dibanding dengan sepedanya, selalu menjadi ide yang lebih menarik bagi saya.

Peduli bumi, berhemat, menyenangkan, olahraga, membawa kita kemanapun mau dan bahagia sekaligus😊.

Bersepeda, juga bisa seperti apa dan bagaimana kita inginkan.

Murah, sedang atau mahal sekalipun.

Mulai dari perolehan sepeda bekas ratusan ribu sampai puluh bahkan ratus juta.

Bersepeda, terutama di usia senja seperti saya, sudah sebaiknya jika tak dikatakan harus 🙂 .

Barangkali judulnya akan lebih pas, ‘Bersepeda Dan Usia Senja” 🙂

Continue reading

Standard
sepeda

​BE SMART BE HEALTHY

Ada pilihan menarik bertransportasi  di Bandung. Bebas macet dan tak begitu ngaret, sedikit berkeringat tapi sehat. Kan katanya, “Kebaikan Demi Kebaikan Menghampiri Orang2 Yg Berkeringat” 😊.

Semisal saya, dari rumah diutara Bandung hendak ke  Alun2 atau lokasi lain dimanapun di kota.

Ratus meter jalan kaki sampai jalan Setiabudi. Naik angkot jurusan manapun yg melewati atau dekat2 ke shelter/ dock BOSEH ( smart bike share).

Dock/ shelter terdekat dari saya adalah yang berlokasi di Mesjid Cipaganti.

Berarti saya ambil Angkot Kalapa Ledeng. Turun di Cihampelas/ Sastra.

Lanjut jalan kaki kearah barat ke jalan Cipaganti.

Sampai di dock/ shelter, tempel kartu BdgETransport, masukan pin, ambil kartu, tarik keluar sepeda.

Lanjut gowes kemanapun mau. Ke dock/ shelter manapun yang terdekat ke tujuan.

Tempel kartu, masukan pin, ambil kartu, masukan lagi sepeda, klik, selesai.

Demikian juga dengan pulangnya atau mau lanjutkan kemana lagi?

Keren ya 😊

Jangan lupa bawa helm, tumbler dan headlamp.

Siapa tahu, keasikan gowes, atau memang perlu sampai  malam menjelang 😊.

Yuk buat kartu BdgETransportnya.

Info: 022 5220768.

@dishub_kotabdg

dishub.bandung.go.id

Standard
cerita

Banyak Lari Dan Gowes Yang Tak Membuat Bisa Ngeles Dari Koles

Bangunan tak mewah. Tak juga terlalu luas. Yang pasti asri dan bersih.
Letaknyapun tak dijalan utama Sedikit agak masuk jalan kecil. Cukup dua kendaraan berpapasan.
Rumah- sakit Jantung Hasna Medika. Salah- satu sponsor kami.
Matahari masih dengan sinarnya yang kuat. Padahal sudah lebih dekat ke magrib daripada ashar.
Sambutan hangat teman- teman dokter membuat lelah- lelah gowes dari Bandung kami tak lagi terasa.
Sebentar bersihkan diri tak lama kami sudah berkumpul diruang pertemuan. Setelah sebelumnya berkeliling melihat berbagai ruang dan fasilitas Hasna Medika.

Sempat melirik hidangan yang disediakan. Dimeja saji disalah- satu sisi dinding ruangan.
Hmm khas masakan Cirebon. Mulai dari sega jamblang, nasi lengko dan penganan/ cemilan lain. Menggugah selera sudah pasti.

Entah, mengapa sega jamblang dan nasi lengko. Padahal sega ya nasi 🙂

Obrolan hangat. Banyak info bermanfaat yang didapat.

Mulai dari ruang- ruang pasien kelas  tiga rasa VIP, ber AC 24 jam, alat- alat medis lengkap dan canggih, sampai pelayanan yang prima dan manusiawi.
Biaya yang seluruhnya ditanggung asuransi/ bpjs.

Pagi keesokan hari dimulai dengan drama.

Salah- satu teman talent pesepeda ngambek tak mau lakukan pengecekan jantung.

Ups maaf, besok- besok saya sambung 🙂

 

Standard
cerita

ILHAM SANG PETUALANG

 

gain-100Rinjani100-2017-100-CPRinjani100-2017-100-MapLTrek 100km di Rinjani. Pastinya tak main- main.

Padahal 52km saat awal MRU( Mount Rinjani Ultra), 2013 jika tak salah, sudah membuat ampun- ampun tak hanya pelari- pelari lokal, mancanegarapun dibuat mutung, kesal dan ambek.

Ah apa juga yg perlu ku khawatirkan. Toh jikapun tak finish aku sudah mencoba. Itukan yg penting?
Did Not Finish selalu lebih baik daripada Did Not Start. Entah dimana pernah kudengar seperti itu.

Ya, aku tahu sebelumnya. Beberapa jawara- jawara ada disini. Kecil kemungkinan bisa dapatkan podium. Tapi? Tunggu dulu. Rasa- rasanya aku melihat peluang di podium 3.
Mereka boleh jawara- jawara, tapi trek panjang dan trel? Dan di Rinjani? Siapa takut. Seorang saya, pengalaman boleh sedikit, usiapun tak lagi terbilang muda. Tapi semangatku  boleh di adu.
Podium 3 kan juga berhadiah. Niat belikan dan bagi- bagikan sembako di desaku, dari hadiah nanti adalah api semangatku yang luar- biasa. AKU BISA!

Dan..dengan biaya dari sang istri untuk menutupi semua biaya dan kelengkapan lari trel sederhanaku, terimakasih Istriku sayang 🙂 , akupun hadir diantara yang start di Senaru, di kategori 100.
Bergabung bersama beberapa pelari- pelari lain, lokal maupun mancanegara, ber gear ya ampun, walau ada satu- dua sesederhana aku, tapi sisanya adalah hmm apik rek 🙂 .

Bismillah.
Trek awal Senaru – Senaru Rim(WS 1, km 10,5/ ) mudah- mudah saja. Begitu juga trek berikut, sampai Sembalun Rim(WS2, km 18 ). Continue reading

Standard
bacaan, review, tulisan

Hotel Malaka Bandung

malakavalkenet

Hak gambar ada pada Sudarsono

 

Jalan Malabar, Halimun, Wayang dan sekitarnya adalah area bermain saya. Bandung tempo akhir 60an.

Cuaca pagi yang masih berembun. Dan pullover pun selalunya menjadi kelengkapan setiap pagi harinya.

Siapa sangka hampir 50 tahun kemudian saya berkesempatan masuk eh bahkan menginap dibangunan yang dahulunya adalah  fabrik roti dan kue Valkenet.  Salah- satu fabrik roti dan kue di kota Bandung, selain Merbaboe, Maison Bogerijen, Maison Vogelpoel, Lux Vincet, dan lain- lain. Didirikan oleh orang Belanda.  Ada juga yang didirikan oleh orang-orang Tionghoa seperti Jap Tek Ho, Khoe Pek Goan, Tan Kim Liang, dan lain- lain.

 

Bangunan fabrik roti dan kue yang dahulunya punya kisah,”Siapapun yang melewatinya dan bisa mencium wangi roti/ kuenya boleh mendapatkannya cuma- cuma”, kini adalah Hotel Malaka.
Bangunan minimalis, di desain oleh arsitek senior kenamaan Tan Tjiang Ay.

Continue reading

Standard
cycling, design, review

Banda Neira, Sepeda Elektrik Nan Cantik

Tampil imut beroda kecil 20 inch, sepintas mirip sepeda lipat, adalah review berikut dari LOGR model  Banda Neira.

Geometri sepeda dewasa dengan roda lebih kecil. Tentunya menyebabkan seat stays dan head tube lebih panjang dari biasanya. Unik.
Bertenaga battery 250 watt/ 36 Volt yang menggerakkan dinamo hub depan sudah lebih dari cukup untuk gowes hari- hari. Tak hanya dijalan- jalan datar,sedikit tanjakanpun tak mesti khawatir.

Sama seperti LOGR Java, penggeraknya adalah hub depan.
Battery yang lebih kecil memberikan banyak pilihan penempatan battery. Ditas/ kantong depan atau belakang.
Jadi tak perlu rak lagi.

Kelengkapannya adalah:

  • motor pada hub depan,
  • battery  berikut controller dan lubang charger di tas/ kantong,
  • On/off, +/- naik turunkan torsi di handle bar kiri, , display ditengah dan gas di handle bar kanan. Akses yang mudah.
  • Kabel penghubung battery ke dinamo cukup panjang jika ingin battery disimpan ditas/ kantong belakang.
  • Rak depan lebar dan unik.
  • Gear internal matic menggantikan cassette. jadi tak ada gear shifter. Baik depan maupun belakang. Sangat praktis.

Handling, standar roda kecil. Hanya saat bergerak perlahan agak berat dengan battery di tas/ kantong depan. Selanjutnya biasa- biasa saja.
Trek Dago turun ke jalan Sumatera dan tanjakan mulai Cipaganti, Setiabudi, sampai Gegerkalong cukup ringan dan nyaman- nyaman saja tanpa bantuan elektriknya( Lupa di charges sebelumnya 🙂   )

Update:
Sore hari tadi, jumat, 16 des, setelah charges penuh malam sebelumnya, setelah juga putar- putar dikota, Cipaganti dan Setiabudi yang menanjak rupanya bukan kesulitan sama sekali bagi Sang Banda Neira. Hampir sampai 27km/ jam tanpa bantuan gowes sama sekali, dengan torsi di posisi 3. Wuzz wuzz wuzz 

Masih bersambung dengan detil lainnya lagi. Salam 🙂

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Standard
tulisan

Saya, Anak- Anak dan Rumah

 

” Kang Aki berasa sering sekali pergi- pergi untuk gowes dan lari- larinya, apa ga….( pasti sudah tahu kelanjutannya kaaaaan? )…..
 
Bagi sang tetangga adalah corat- coret anak nakal yang tak pernah ‘diajari’ orang- tuanya, bagi anak saya,siapa tau adalah karya maestronya🙂…..
 
Berada di saat, di waktu- waktu mereka kecil, main, sekolah dan masa pertumbuhan, bukanlah hal yang bisa diulang. Saat- saat sekali seumur hidup….
 
———————————————————————————
 
Panas siang- hari yang menghentak yang biasanya tak menjadi penghalang untuk tetap gowes atau lari, kali ini membuat saya agak ‘membiarkan’ untuk ‘mengalah’.
 
Secangkir kopi panas diruang kantor ber ac seorang teman kali ini sudah pasti adalah nikmat lain yang saya dapati.
 
Waktu minum kopi saya atau tepatnya susu dengan sedikit perasa kopi adalah pagi setelah sarapan pertama saya jam enam dirumah dan setelah makan sore jam tiga saya. Dimanapun. Walau juga tak mesti.
 
Sekali- sekali eh rasanya belakangan sering- kali, kopi siang haripun tak lagi saya tolak.
Katanya kopi bagus untuk pengidap asma.
 
Dan..obrolan santai yang semula tak saya niatkan untuk mengganggu pekerjaannya pun mengalir menjadi ealah ternyata agak- agak serius juga.
 
Obrolan bertema lari dan gowes( apalagi atuh ah ), dari soal aktifitas saya ajak- ajak siapapun untuk gowes dan lari ke , ” Kang, ngomong- ngomong, anak- anak ikut lari ngga?”, ” Kang Aki berasa sering sekali pergi- pergi untuk gowes dan lari- larinya, apa ga….( pasti sudah tahu kelanjutannya kaaaaan? )..terusss sampai,” Iya ni Kang, rasanya bukan saya saja yang penasaran, tapi sudah ‘viral’ kenapa Kang Aki ga pernah cerita, posting tentang anak- anak atau semua ‘orang rumah’”🙂
 
Masa siii? Iya ya..
 
Dan jawaban demi jawaban sayapun mengalir.
 
Pertama sekali.. ya betul, saya harus akui saya bukan Ayah dan suami ideal. Jauh dari itu.
 
Cinta, perhatian dan kasih- sayang atas orang rumah? Ya iyalah, Kadarnya? Relatif.
Entah saya yang mana tapi yang pasti tak masuk dalam kelompok Ayah atau suami super apa- apanya.
 
Jangan- jangan malah masuk kelompok dibawah rata- rata🙂
 
Anak- anak kan buah- hati. Selalu yang ‘ter’ bagi siapapun ayahnya.
Termasuk anak- anak saya.
 
Siapa bilang saya tak suka dengan ide berbagi apapun baik- baiknya , lucu- lucunya, keren- kerennya anak- anak kita?
 
Yang biasa- biasa saja dimata orang lain, selalunya lucu- lucu, keren- keren dimata kita. Apalagi jika ya memang yang beneran keren- kerennya. Semisal nilai- nilai bagus di sekolah, saat anak- anak sudah pintar baca tulis dan mengaji atau rajin ke rumah ibadah, masih muda sudah pintar cari uang. Dan banyak lagi. Ya kan?
Tak terkecuali saya.
 
Mereka seringkali menjadi hal yang indah- indah dan menyenangkan.
 
Sekali- sekali membuat jengkel dan mengesalkan🙂
 
Bagi saya, tak terkecuali anak- anak saya, rasanya tak sedikit yang ingin saya ‘pamerkan’.
Jangankan yang keren- keren, yang hebat- hebat seperti yang saya tulis diatas, yang sedikit- sedikit bagus saja atau bahkan bagi orang lain ‘tak lucu’, bagi saya , anak- anak selalu lucu. Apalagi anak- anak sendiri.
 
Rasanya saya pernah tulis ini entah kapan.
Saat anak kedua saya di usia belum sekolah membakar kasur di gudang kecil rumah tetangga sebelah karena jengkel ditegur sang tuan rumah tetangga,karena katanya corat- coret dinding pembatas antar rumah kita disisi rumahnya, bagi saya maaf, memang salah, dan sudah pasti saya kaget dan saya tegur dia. Tapi juga bagi saya adalah bahwa anak saya sudah bisa bersikap.
Bagi sang tetangga adalah corat- coret anak nakal yang tak pernah ‘diajari’ orang- tuanya, bagi anak saya,siapa tau adalah karya maestronya🙂.
Sampai- sampai satu anak saya ini mendapat julukan teroris.
Diantaranya ‘menteror’ Ibu- Ibu pengajian dirumah tetangga yang sandal- sandalnya satu-satu dibuang sang anak keselokan saat mereka khusuk mengaji. Astagfirullah, anaknya Pak Herry.
 
Dan masih ada lbanyak lagi cerita- cerita lain.
 
Jika saya tak banyak menulis tentang mereka, saya kira saya sedang belajar ‘menghargai’ privasi mereka.
Kisah- kisah mereka yang pastinya selalu indah bagi saya jangan- jangan adalah kisah- kisah yang bagi mereka ‘biar buat Ayah Ibu aja’.
 
Bersyukur tak kurang- kurang postingan- postingan indah, keren- keren tentang anak- anak, putra- putri yang dilakukan teman- teman atau siapapun yang lain.
 
Saya merasakan hal yang sama dan saya turut kagum dan bangga akan semua anak- anak kita.
Jadi rasanya tak salah jika saya cukupi saja dari melihat postingan- postingan orang- tua orang tua yang lain 🙂
 
Dalam mencari periuk nasi orang serumah, beruntung bagi saya, barangkali tidak bagi yang lain, tak mengharuskan saya ‘ngantor’ dengan waktu yang mengikat.
Waktu saya agak lebih bebas.
 
Sekali lagi saya bukanlah Ayah dan Suami ideal. Jauh dari itu.
Siapa tahu tak sedikit hal yang luput dari perhatian saya akan mereka karena ‘sibuk- sibuk’ saya.
Hanya barangkali cara saya agak berbeda.
 
 
Saya bisa berhari- hari tak ditengah- tengah mereka. Tapi begitupun juga, bisa berhari- hari berturut- turut ada bersama mereka.
Satu minggu tak melihat anak istri, di minggu berikutnya bisa jadi hanya berdua istri spontan saat pergi sekedar beli cemilan,” Yah, ke Cirebon yuk”. Dan tanpa tapi tanpa ‘gimana kalo gitu gimana kalo gini’ ajakan ke Cirebon menjadi jalan- jalan kuliner sampai Yogya. Anak- anak? ” Sok ajalah Yah, Bu. Masih inget kan nomor rekening kita?🙂 .
 
Dan petatah- petitih petuah kami hanya, ” Tolong liat- liat kalo ujan”, ” Pergi- perginya ati- ati, gantian ya, biar ada orang dirumah”. Yang tak selalu juga mereka turuti.
 
Saya, Ayah yang masih saja Ayah yang belum bisa ‘membahagiakan’ anak- anak dan istri dengan rumah dan mobil seorang satu, kirim mereka sekolah diluar negeri, intan- berlian di jari, leher dan lengan sang istri, yang kata orang sunda, reunceum, berjejer rapat padat dari pergelangan kesiku.
 
Tapi memang bukan juga cita- cita saya.
 
Saya, hanya Ayah yang menjadi orang pertama yang melihat mereka saat ketiganya hadir kedunia, selain dokter dan suster yang membantu kelahiran mereka.
 
Saya, yang walau tak selalu dengan muka berseri penuh senyum 🙂 , selain pastinya lebih banyak istri saya, juga buat susu mereka, ganti popok mereka, gendong mereka, antar jemput sekolah mereka, kenal dengan guru- guru mereka, aktif di sekolah mereka.
 
Sampai mereka kuliahpun saya masih sering beurusan dengan kampus mereka.
 
Bukan tak percaya anak- anak atau tak ingin mengajari anak- anak mandiri, tapi ada hal yang tak ingin saya tertinggal.
 
Berada di saat, di waktu- waktu mereka kecil, main, sekolah dan masa pertumbuhan, bukanlah hal yang bisa diulang. Saat- saat sekali seumur hidup.
 
Tiga puluh tujuh tahun kumpul kami adalah tiga puluh tujuh tahun tanpa pembantu.
Ngepel dan sapu- sapu bagi saya bukanlah tabu.
 
Tak selalu, tapi seringkalinya malah seru.
 
Saya tahu benda apapun dirumah dan tempatnya dimana.
Saya tak mesti teriak- teriak ke siapapun dirumah menanyakan apa dimana.
 
Saya tak pernah menganggap anak istri adalah remote control saya.
Siapkan sarapan dan sekedar buat kopi dan banyak hal lain lagi saya bisa dan seringkalinya lakukan sendiri.
 
Walau tak selalu berujung pada keberhasilan( ya da ga gampang atuh…) inisiatif saya atau permintaan sang istri, perbaikan apapun dirumah selalu saya coba lakukan sendiri.
Tahukan kisah naik- naik genting saya? Beneran lho, bukan hoax🙂
 
Pergi- pergi saya, lari- lari dan gowes- gowes saya bisa jadi sekali- sekali membuat kesal anak- anak dan istri.
 
Tapi mestinya tak dipungkiri, salah- satu keinginan anak- anak bahwa ” Ayah mah jangan tua- tua ya, Segini-gini aja” rasanya sudah terpenuhi.
 
Mandi pagi, dandan rapi dan sapu2 ngepel sekali- sekali sebelum bangunnya anak- istri, baru pergi lanjut gowes dan lari , rasa- rasanya si oke sekali🙂.
 
Tetap fit dan sehat( Alhamdullillah) sambil juga jaga berat badan dan penampilan adalah bentuk penghargaan saya kepada seisi rumah.
 
Salam dan selamat pagi🙂

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Standard
tulisan

Selamat Ulang- Tahun Kamu

Tak sulit mencari ungkapan terbaik di satu hari ulang- tahunmu.
karena semua ada pada apapun yg kamu lakukan setiap waktu.

Tiada hari tanpa senyum yg menenangkan dan menyenangkan  bagi siapapun yg kamu jumpai.

Tak seharipun terlewat tanpa perhatian atas sekitarmu dan dirimu sendiri.

Hari demi hari adalah hari hari  curahan kasih- sayangmu kepada orang- orang terdekatmu, bahkan bagi siapapun juga yang datang dan pergi.

Selamat Ulang- Tahun Kamu.
Tetaplah menjadi dirimu dan biarkan seisi dunia mengikuti.

Bamdung, 13 desember 2016

 

Standard