story

Masa Kecil

Asma dan Bronkhitis.

Yg paling sekali saya ingat, diusia belum lagi 4 tahun , saat2 setiap subuh bapak berangkat kerja dan pulang tengah malam. Tinggal di bandung, kerja di jakarta. Tidak besar gajihnya. Yang pasti lebih dari separuhnya habis untuk biaya pengobatan asma dan bronkhitis saya.
Seminggu sekali berobat ke advent. Rumah-sakit mentereng( saat itu), dengan dokter- dokter  berkebangsaan Amerika. Mobil2 mereka yang berjendela lebar. Sekali- sekali beli bakpaw.  Ya sekali- sekali karena tentunya mahal bagi kami.
Diantar Bapak atau Mma( saya panggil Mma ke Ibu saya) terkadang pakai sepeda.
Sesuai anjuran dokter, sejak diketahui mengidap asma dan bronkhitis akut, usia 3 bulan bahkan divonis tak tertolong,  saya hanya boleh main didalam rumah. Kecuali  ke advent tadi.
Bandung katanya tidak bersahabat bagi anak- anak yang mengidap asma dan bronkhitis seperti saya.
Rupanya Bapak dan Mma berfikir lain.
Daripada saya panjang usia( aamiin) tapi hanya dirumah, dan tetap saja  sakitan, lebih baik singkat( jangaaaaan..) tapi tetap dapat mengecap dunia anak2 saya.

 

Jakarta.
Menjelang usia 4 tahun saya kami pindah ke Jakarta.
Berbeda dengan perlakuan terhadap anak- anak yang berpenyakit, saya malah sepertinya dibebaskan untuk lakukan apa saja.
Karena sekolah saya siang, maka pagi dan sore, kadang sampai malam adalah saat- saat bebas bermain saya.
Beruntung saya tidak punya masalah dengan sekolah saya.
Mma Dan Bapak selalu percaya bahwa saya bisa mengatasinya dengan baik.
Selama sekolah dasar saya selalu juara kelas.
Setiap acara rekreasi kantor bapak selalunya saya diajak. Setiap pameran dan pertunjukan musik.
Jikapun tidak bisa mengantar, saya selalu diijinkan untuk pergi dengan teman- teman.
Saat itu pertunjukan musik seringkalinya di istora senayan. Jadi, jalan kaki dari slipi tempat kami tinggal sampai senayan sering saya lakukan. Seringkalinya tanpa uang sepeserpun.

Untuk yang satu ini saya tidak pernah khawatir.

Menjelang pintu masuk pemeriksaan karcis cukup saya dekati, biasanya bapak- bapak sendiri, lalu saya bilang, ” Om, saya ikut ya”. Dengan senyum manis saya ( sepertinya ya), ditambah dandanan saya yang selalu rapih, kemeja lengan pendek bermotif kotak- kotak( Selalunya pilihan Bapak), dimasukan ke celana, yang terkancing sampai keleher, rasanya saya sulit untuk ditolak. 🙂

Selanjutnya saya cukup pegang ujung kemeja si bapak- bapak ini.

Istora belum mengenal karcis masuk untuk anak- anak. Jadi gratis.

 

Oh ya, belum saya ceritakan tempat tinggal pertama kami di senayan.

Rumah petak di Senayan.
Persis di area Istora senayan. Jadi saat itu masih kosong – melongpong alias  masih kampung.
Tidak tahu persis tapi petak tanah yang Bapak beli mungkin berukuran kurang lebih 3 meter x 6 meter.
Bangunan berdinding bilik dan berlantai tanah. Satu atap dengan tetangga.
Menghibur sekali saat itu, selalu bisa tahu apa- apa saja yang terjadi dirumah sebelah 🙂

Suatu saat saya dengar deru traktor dikampung kami. Bukan alang- kepalang suka- citanya. Ada benda besar, bergerak dengan sedemikian bertenaganya. Dorong/ angkat gundukan tanah kesana- kemari. Dengan warna kuning mencolok. Sementara Mma dan Bapak sebaliknya.

Lagi, Rumah Petak Beralas Tanah di Baturaja.

Singkat sekali waktunya sampai akhirnya kami pindah ke Baturaja. Persis sebelah selatan Hotel Indonesia. Mengontrak.

Petak rumah berukuran kurang- lebih sama. Dan ya sama juga beralaskan tanah. Lagi- lagi sama, kopel dengan tetangga sebelah. Lagi- lagi sama, menghibur. Sama, selalu bisa tahu apa- apa saja yang terjadi dirumah sebelah kan?  :).

Yang lainnya yang saya ingat disini adalah; penjual es-krim pakai kereta semacam andong beroda empat, ditarik kuda. Dijalan raya Baturajanya. Tempat  tinggal kami masuk lagi kekampung.

Bapak yang kalau berangkat kerja selalu telanjang kaki dengan sepatu yang ditentengnya. Sampai dijalan aspal baru pakai sepatu dengan sebelumnya gosok- gosok telapak kaki dulu kerumput.

Kakus umum berjarak 10 meter dari rumah. Berdinding bilik setinggi dada orang dewasa, dengan atap yang juga bilik. Lebih untuk menahan terik matahari dibanding curah hujan.

Sebisa mungkin Bapak selalu membawa apapun yang bisa dibaca dari kantornya. Entah koran edisi beberapa hari sebelumnya, brosur. Apapun. Mulai alat2 kelengkapan fabrik sampai kendaraan. Tulisan dan cetakan apapun yang bisa dibaca.

Jadi saya sudah bisa baca tulis dan berhitung jauh sebelum saya masuk sekolah dasar.

Setiap akhir minggu adalah jalan- jalan sekitar menteng. Kantor Bapak dijalan Imam Bonjol.
Jalan- jalan artinya jalan kaki dari rumah kekantor pulang- pergi.
Selalunya Bapak banyak bercerita tentang bangunan- bangunan yang ada sepanjang jalan- jalan kami.
Saya menikmati betul jalan- jalan ini.
Rasanya seperti masuk kedalam buku bergambar tentang rumah, bangunan dan seisinya. Dan kami bebas berjalan- jalan didalamnya.
Oh ada lagi yang selalu saya ingat. Setiap kami berjalan melalui jalan raya Baturaja yang beraspal saya selalu mendekati mobil fiat 1100 tahun 56, jika kebetulan memang sedang terparkir disitu. Setelahnya Bapak selalu membisiki saya, kapan- kapan kita beli mobil seperti ini.

Dan saya percaya.

Padahal mobil saat itu kan amat sangat jarang. Sementara kami rumah layak milik sendiripun belum punya.

Kembali kerumah kami di Baturaja.

Alat penangkap nyamuk kami adalah piring seng yang diolesi tipis minyak goreng disemua permukaannya. Sekali kebutan lembut( agar minyaknya tidak turut terkebut) puluhan nyamuk menempel disitu.

Berita Gembira.
Suatu saat berita gembira sampai kepada kami. Kami mendapat rumah pengganti di Slipi. Pengganti dari rumah petak berdinding bilik di senayan.
Selang tak terlalu lama kami pindah kerumah baru milik kami sendiri ini. Di slipi.
Terkesima. Rumah berdinding tembok. Dengan kamar- kamar yang juga berdinding tembok. Bukan lagi kain yang digantung di kawat yang dibentang sebagai pemisah antar ruang.
Kamar mandi didalam rumah. Dengan pintu kayu dan slot. Ya slot betulan. Bukan tali yang disangkutkan ke paku, agar pintunya tidak terbuka tertiup angin.
Halaman punya kami sendiri. Berpagar lagi.
Banyak rumah dan bangunan indah, megah nan luas yang pernah saya lihat dijalan- jalan kami di menteng. Tapi rumah inilah yang terindah.
Tiba- tiba saya punya teman- teman main yang banyak. Gang- gang antar kopel beraspal. Keluar pintu rumah sudah bisa pakai sepatu.

Saya yang selalunya berdandan rapi, semakin semangat saja lagi. Jadi, seingat saya, keluar rumah, sedekat dan sesebentar apapun adalah bersepatu.

Suatu saat, entah karena iseng, atau memang  sebal dengan gaya saya yang pecicilan, yang selalu bersepatu,  Om tetangga samping kopel menyiram kaki saya dengan air got, saat dia siram- siram jalan.

Mma dan Bapak hanya tersenyum saat saya adukan kejadian tadi.

Komplek perumahan kami, komplek Slipi. Membentang dari blok A di utara ke blok K di selatan.

Luas sekali. Tempat bermain kami banyak. Bisa dilapangan depan rumah. di blok sebelah. Dilapangan sekolah. Atau berpetualang masuk kekampung Kemanggisan. dengan sungai- sungai berwarna kecoklatan, tempat kami bermain air.

Belum lagi kolam- kolam air bekas galian dimana- mana.

Area sekolah tepat ditengah- tengah antara komplek kami dan kampung kemanggisan.

hubungan saya dan Mma/ Bapak baik sekali. Kalau tidak disebut saya adalah anak kesayangan mereka.

Tapi untuk urusan uang jajan anehnya saya merasa malu untuk minta.

Jadi, punya uang  jika diberi. Dan tak sepeserpun jika  tidak.

Entah dari mana idenya, saya bisa dapatkan satu gelas es serut gratis dari mamang penjualnya untuk beberapa gelas bekas yang saya cuci.

Saya lakukan dipagi hari ditempat jajan sekolah. Seperti yang sudah saya ceritakan diatas, pagi dan sore bahkan malam adalah waktu main saya.

Vespa Piaggio tahun 61 adalah kendaraan dinas Bapak pertama.

Cantik berwarna pastel.

Kegiatan saya bertambah. Cuci vespa setiap Bapak pulang kantor. Menyenangkan sekali.

Tanpa sepengetahuan Mma dan Bapak, saya belajar kemudikan Vespa, setiap sore pulang sekolah. Setiap selesai antar korannya  paman. Adik Mma  yang ikut tinggal dirumah.

Paman bekerja sebagai pengantar koran dikomplek.

Bisikan Bapak Yang Menjadi Kenyataan.

Fiat 1100 tahun 1956 akhirnya kami miliki. Bekas.

Yang Bapak beli dari teman kantor Bapak secara mencicil.

Malam takbiran nanti berarti kami bisa keliling- keliling kota dengan mobil kami sendiri. Tidak lagi berdesakan di truknya Om Sejan. Supir truk di Angkatan laut. Tetangga kami.

Ah tapi menyenangkan sekali naik  truk beramai- ramai dengan teman- teman yang lain.

Paling tidak sekarang ada pilihan lain.

Ada mobil artinya setiap akhir pekan ke Ancol. Dulu namanya Binaria.

Sepertinya disamping memang Bapak senang rekreasi juga mungkin karena ingin agar saya bisa menikmati masa kanak- kanak saya sebanyak mungkin.

Saat itu saya belum bisa berenang. Tapi Bapak membiarkan saya berkano tanpa pelampung kebagian yang pastinya dalam.

Suatu saat saya diajak Bapak melihat  kapal perang kita yang bersandar dipelabuhan. Pameran maritim.
Ternyata banyak sekali pengunjung yang datang. Dengan susah- payah kami menerobos, mencoba untuk sedekat mungkin ke kapal.

Dan…betul seperti yang dikhawatirkan Bapak, kapal sudah penuh oleh pengunjung. Bapak tampak kecewa sekali.

Jembatan akses masuknya pun sudah mau diangkat. Pupus sudah harapan masuk kedalam kapal.

Selanjutnya Bapak mencoba lebih dekat lagi ke kapal, ketika melihat seorang awak kapal tampak ada disisi terdekat kapal.

Ditengah riuh- rendah suara pengunjung, sulit bisa menangkap apa yang tengah dibicarakan Bapak dan orang ini.

Tiba- tiba saja dengan gerakan tangannya Bapak menyuruh saya untuk mendekat.

Tahu2 saya sudah berada diatas kapal.Tanpa Bapak.

Sedemikian inginnya Bapak, bahwa saya ada diatas kapal. Sedemikian besar upaya Bapak mengusahakannya.

Menggambar.

Sepertinya Bapak menginginkan sekali saya melakukan banyak hal yang tak bisa dilakukan Bapak dimasa- masa kecilnya. Dengan cara yang baik.

Tak memaksakan tapi memberi peluang.
Tak pernah mengharuskan saya ini- itu tapi menyediakan segalanya jika memang saya inginkan. Atau, dirasa saya inginkan.
Banyak bacaan. Walau sekedar buku- buku tua pinjaman, brosur- brosur alat- alat berat pertanian dan perkebunan. Banyak ajak saya jalan- jalan, rekreasi. Kemanapun.  Terkadang melampaui yang Bapak mampu.

Bapak selalu menyempatkan membelikan saya satu buku gambar setiap hari. Yang habis juga setiap hari.

Entah, saya suka sekali menggambar.

Turunan? Sukanya barangkali ya. Bapak memang suka akan gambar- menggambar. Tapi tak bisa menggambar.

Mma suka tari- tarian. Tapi sama juga, tak bisa menari.

Sementara saya, hampir setiap kegiatan dimasa- masa itu saya lakukan.

Guru menggambar pertama saya adalah kakak sepupu. Kakak sepupu berusia hampir sebaya Bapak. Sejak rumah di Baturaja tinggal selalu tak jauh dari kami. Suka sekali beliau menggambar.

Dan yang almarhum( semoga diampuni dosa dan kesalahannya. Aamiin) sukai untuk digambar selalunya perempuan cantik, berleher jenjang, bertungkai panjang dan..telanjang.

Bersambung..

 

 

Advertisements
Standard

6 thoughts on “Masa Kecil

  1. Masa kecil yang berkesan, meskipun ada pengalaman suka maupun duka. Kalau dibuat film “aki sang pelari” menarik kayaknya 🙂

    bwt saya juga sekarang sering jalan kaki benhil – slipi, ki, tapi penyebabnya gara2 macet, hehe. Daripada duduk di mobil lama-lama, dan sudah pasti gatsu itu macet mending jalan kaki lewat jalur lain.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s