olahraga, running, sport

Lari Barefoot

Berlari nyeker alias tanpa alas sama sekali. Tak ada dalam bayangan saya sama sekali sebelumnya. Kekamar mandi saja pakai alas. Kecuali saat mandi  dibawah shower.
Namun sensasinya saya rasakan betul.
Sekali- sekali. Dan bukan pada saat berlari. Tapi jalan kaki berjarak tak begitu jauh.
3 tahun lalu pertama kali melihat dan langsung tertarik dengan sepatu Vibr*m Five Fingers.
Beralas tipis sekali, dengan bagian depan yang berupa jari- jari. Lucu, membungkus masing2 jari2.
Entah rasanya jika dipakai.
Beberapa waktu kemudian seorang teman baik menghadiahi saya sepasang.
Terimakasih yaa 🙂
Ternyata nyaman sekali. Sedemikian ringan. Sampai- sampai saya berfikir, apakah  mungkin saya akan pakai lagi sepatu bersol ‘normal’.
Dan, ya, setelahnya memang lebih sering model barefoot ini yang saya  pakai.
Me**ell adalah sepatu model barefoot berikutnya yang saya beli kemudian. Menyusul New Ba**ance dengan seri minimusnya.
Semuanya ok dan nyaman sekali.
Entah memang sepatu2nya, atau saya yang beruntung, yang sepertinya memang cocok- cocok saja pakai yang manapun.
Lari2 dijalan dan ngetrel saya berikutnya adalah bersepatu model barefoot.
Lomba lari di Ragunan, pertama kalinya saya pakai barefoot untuk jarak 21k. Luar biasa ringan dan nyaman.
Finish dengan waktu belasan menit lebih cepat dari sebelum2nya. Beberapa langkah setelah garis finish, jalan perlahan, tertatih dan stop! Tak lagi bisa digerakan kedua kaki saya.
Kram. Sampai dipapah kearah mobil yang diparkir.
Lupa, jika sebelumnya belum pernah untuk jarak lebih dari sepuluh- belasan km.
Di lari2 jauh berikut saya pakai me**el. Untuk jarak 160km. Trek aspal  tanah dan batuan.
Kebanyakannya aspal.
Di km 130an ujung2 jari kaki serasa hancur. Terkena sedikit benturan kerikil kecil saja sakit sekali.
Beruntung walau dengan tertatih- tatih di 30k terakhir, bisa terselesaikan juga Lari2 Kawah Putih- Ujunggentengnya( yang harus berubah menjadi Kawah Putih- Argabinta. Karena ternyata masih 50km lagi jika sampai Ujunggenteng).
Nah bagaimana dengan lari nyeker, yg tanpa alas sama sekali?
Ternyata sama- sama nyaman dan menyenangkan.
Sejauh di trek yang tidak keras. Seperti tanah. Apalagi rerumputan.
Beberapa kali saya lakukan muncak Burangrang dengan nyeker.
Berlari belasan km di lintasan tanpa alas( nyeker) juga terasa nyaman, hanya setelahnya muncul bundaran merah ditelapak kaki. Blister.
Mungkin karena semakin lama semakin lelah. Tanpa sadar semakin lama telapak belakang semakin turun, yang akhirnya nyaris bersamaan dengan telapak depan menjejak landasan. Landasan lintasan yang memang keras.

Tulisan saya tidak dimaksudkan untuk menyampaikan bahwa berlari nyeker lebih baik atau sebaliknya dari berlari bersepatu.
Hanya jika teman2 terfikir untuk mencobanya, barangkali ini bisa sedikit membantu.
Kita sudah sekian lama terbiasa  berjalan,lari dengan bersepatu. Bersol tebal.
Jadi berpindah ke tanpa alas alias nyeker tentunya harus dengan tahapan.
Mulai dengan beberapa kali beberapa km, sepuluh, belasan dan selanjutnya.
Juga sebaiknya tidak untuk kapan saja berpindah-pindah antara beralas dan tanpa alas.
Sepatu2 model barefoot seperti yang saya sebut diatas bisa menjadi jembatan antara kedua cara berlari diatas.
Atau, cukup sampai dengan sepatu model barefoot saja.
Mengingat, jika untuk benar- benarnyeker, landasan dikita, bahkan di hutan dilereng Burangrang sekalipun masih suka saya temui pecahan kaca.

Advertisements
Standard

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s