cerita, story

Passion For Adventure. Versi kami.

” Gawat, ga dapet ijin”. Berarti ga ada duit juga.
Hening sesaat.
” Udahlah, seadanya duit aja”.
” Pangandaran?”.
” Kurang”.
” Jogja?.
” Apalagi atuh”
” Bali bali”.
” Hah?”.
” yuk!”.
” Yuk!”.
” yuk!”.
” Duit?”.
” Wah..”.
” Gw palingan… dua ratus..”.
” Tiga ratus lima puluh,..”.
Terkumpul kurang- lebih seribu rupiah, obrolan di warung Bi Dar, tempat kami, berempat,  jajan dan sembunyi- sembunyi merokok, berlanjut dengan pertanyaan- pertanyaan, “naik apa?”.
Menit- menit berikut kami ancang- ancang melenggang ke stasion kereta- api.
Idenya adalah dengan seadanya uang disaku, naik kereta- api barang kemanapun, kearah timur.
Pikiran cetek, tak ada satupun yg berfikir, kan harus makan.
Stasion Cirebon sebenarnya dekat saja dari komplek tempat sebagian dari kami tinggal.
Masalahnya adalah, dari rumah ke stasion artinya melalui kampung musuh kami.
Masalah yang tak main- main. Bisa- bisa babak- belur kami yang hanya berempat. Sementara mereka bisa terkumpul puluhan dalam sekejap.
Ide yang akhirnya kami anggap paling cemerlang adalah.. naik kereta barang dari sebelum masuk kota. Karena kereta barang sering melambat saat memasuki kota. Seringnya. Semoga.
Dan jarak yang lima kali lipatnya pun kami tempuh demi terhindarnya dari pukulan dan lemparan batu. Amit- amit.
Naik kereta barangnya sukses. Tujuan ke arah timur yang tidak.
Kereta barang berhenti di stasion Cirebon.
Jadi, jalan kaki sejauh lima kalinya, melompat naik kereta barang, untuk jarak yang juga sama, dan sampai stasion menemui kenyataan bahwa kampung sang musuh ternyata sepi. Fiuh.
Berangkat ke timur berarti kami akan melalui persimpangan kereta jalan Kartini.
Jalan paling ramai dikota kami. Dan.. paling banyak dilalui teman2.
Hah, ternyata kami berempat ini tak hanya sok berpetualang tapi juga tak cukup percaya diri untuk terlihat naik gerbong barang.
Mencoba masuk ke gerbong tentu saja tak mungkin. Semua terkunci.
Karena tak seorangpun dari kami yang sukarela untuk berdiri dikiri atau kanan terluar, ya itu tadi, malu terlihat oleh siapapun nanti diperempatan saat kami melintas, akhirnya undianlah cara satu- satunya.
Dan seperti biasa undian tak pernah berpihak kepada saya.
10 menit.. 30 menit. Sudah 1 jam lebih kereta tak juga berangkat.
Saat kami tanyakan kepada seorang petugas, jawabannya sungguh diluar dugaan,” berangkatnya 3- 4 hari lagi”.
Petualangan di kehidupan nyata berjalan tak semulus seperti di film- film.
Bunyi peluit lokomotif uap mengakhiri debat kami atas dilanjutkannya atau tidak rencana sok petualangan ini.
Kedatangannya yang serasa tiba- tiba seperti menyemangati kami.
Kali ini kami berfikir sedikit lebih pintar. Saat akhirnya rangkaian kereta api berhenti, kami datangi sang masinis. Menanyakan apakah keretanya juga berhenti beberapa hari atau lanjut kearah timur.
” 2 jam lagi berangkat”.
” Naik disini saja. Jangan di gerbong”.
Yang dimaksud adalah, kami naik di ruang masinis, membayar 100 rupiah setiap stasion kepada masinis, dan siap2 kabur sebelum dipergoki petugas di stasion yang akan kami lewati.
Kalau sekarang saya melihat orang- orang yang menumpang kereta api dengan cara duduk diatapnya, komentarnya tak jauh- jauh dari, maaf, ” Dasar tolol”. Nah seperti itulah kami.
Bukan diatas atap memang, tapi sama- sama tak pakai otak.
Berpegangan satu tangan pada apapun yang bisa. Satu kaki berpijak, tangan dan kaki lain seenaknya melambai dan mengayun bebas, menantang angin yang menerpa.
Bahagia itu sederhana. Dan berbahaya.
Udara panas dari pembakaran batubara, angin kencang, dan terik matahari. Dan tentu saja muka coreng- moreng campuran debu dan kotoran udara lainnya. Mengawali sok petualangan kami kali ini.
Sama hebohnya dengan saat 3 tahun sebelumnya, Pangandaran- Cirebon, diatas atap bus.
Penyesalan teramat – sangat, padahal baru beberapa menit naik keatap bus. Tapi gengsi juga yang membuat kami bertahan.

Berjalan diatas rel, hanya menimbulkan goncangan tak berarti kearah samping. Pantas saja, siapapun bisa berlari kencang diatas atap kereta yang juga melaju kencang.
Stasion demi stasion kami liwati. Bersukur tak ada petugas yang melihat kami. Bersembunyi adalah salah- satu keakhlian kami.
Masuk waktu isha kami sampai di stasion jogja.  Rangkaian kereta hanya sampai disini.

Karena saat itu tak ada lagi kereta yang kearah timur, entah esok harinya, kami putuskan lanjut dengan mencoba naik mobil. Apapun.
Jalan kaki adalah satu2nya pilihan. Dan spbu target start kami berikut.

Sisa uang setelah dikurangi beberapa kali 100 rupiah setiap stasion masih mencukupi untuk sekali makan. Setelahnya adalah nol.
Ohya, selama kami naik kereta, makan kami adalah sisa jajanan yang kami beli sebelumnya diwarung Bi Dar. Masih ingatkan warung kami ini?

Setelah sekian lama berjalan, lelah dan lapar lah  yang lebih cepat menghampiri kami dibanding kami menemukan spbu.

Ditambah tak sebatang rokokpun lengkap sudah penderitaan kami. Kami bertiga. Karena satu teman kami tak merokok. Dan yang paling kami sesali adalah karena kami sepakat mempercayakan uang saku dipegang oleh sang kawan satu ini. Percuma saja,merengekpun tak kan dibelikannya, walau hanya sebatang.

Satu dari sekian truk yang kami hampiri berbaik hati memberi kami tumpangan. Tentu saja di bak. Dikabin depan sudah ada 2 ibu2 penjual sayur.  Dan pak supir tentunya. Keneknya bersama kami dibelakang.

Sudah lewat waktu isha, saat truk mulai melaju.
Pastinya karena lelah dan lapar, kali ini kami lebih banyak diam daripada seperti biasanya ramai.
Tak ada lagi canda dan saling ejek.
Kami duduk diantara bakul- bakul sayuran. Ditutup terpal tebal.
Udara dingin malam dan angin yang kencang lebih memaksa kami mencari posisi senyaman mungkin.
Lebih tepat barangkali sesedikit mungkin tersiksa.
Bersandar kedinding bak truk yang kerasnya Na’Uzubillah. Duduk beralaskan apapun yang agak membantu terhindar dari ya juga kerasnya lantai bak truk.
Kali ini ada hal lain yang melintas di fikiran saya.
Tiba- tiba teringat hangatnya kamar tidur saya. Satu dari lima kamar tidur di rumah tinggal kami.
Rumah tinggal dengan arsitektur amerika tahun 50an.
Berdiri terpisah dari rumah- rumah tetangga lain. Kiri dan kanan masih lahan kosong.
Apalagi karena sudah ketetapan dinas tata kota, bahwa di deretan sebelah barat, ya deretan rumah kami, tak boleh lagi dibangun rumah- tinggal. Peruntukannya untuk kantoran.
Membuat rumah kami satu- satunya rumah- tinggal.
Selainnya adalah perkantoran. Itupun masih jarang sekali. Tak berderet- deret seperti sekarang.
Kamar tidur saya tak mewah. Tempat tidur biasa.
Yang paling saya suka adalah, lemari- lemari built- in dan pintu- pintu kamar tidur yang semua menghadap kehalaman belakang. Jadi bukan menghadap kedalam ruang keluarga, seperti pada umumnya.
Semua pintu dan jendela adalah dobel. Satu pintu biasa yang membuka kedalam. Dan satu pintu berkasa nyamuk yang membuka keluar.
Mahal? Tak sama sekali. Rumah yang dibeli Bapak seharga satu setengah juta rupiah.
Dihindari oleh yang lain, menjadi keberuntungan bagi kami.
Konon katanya rumah berhantu. Lama tak ditinggali.
Padahal desain rumahnya sudah modern sekali pada jamannya.
Tak pernah diceritakan Bapak tentunya soal rumah berhantu ini sebelumnya.
Saya baru menyadari lama setelahnya, bahwa awal- awal teman- teman yang suka main kerumah, jarang sekali sampai lewat magrib.
Sejak tinggal dirumah ini saat tidur seringkali saya mengalami kena eureup- eureup. Apa ya bahasanya. Saat tidur tiba- tiba merasa seperti ada yang menindih. Berasa sesak tak bisa bergerak.
Orang bilang, harus segera dibangunkan. Jika tidak, akan tak bangun- bangun. Selamanya.
Ah tak sedikitpun saya percaya.
Selalunya jika tidur telentang.
Hal yang mudah untuk dihindari sebenarnya. Ya tidur tengkurap saja.
Masalahnya saya sering lupa. Tidur terlentang lagi terlentang lagi.
Dan pelupa saya parah.
Jadi kalau sekarang saya ini pelupa, bukan karena faktor usia, tapi memang bawaan. Haha.

Ya, tiba- tiba saya mengimpikan berada dikamar saya. Kamar di rumah yang konon berhantu. Tapi pastinya hanya setarikan nafas saja untuk sampai ke dapur dan sapu- habis apapun yang bisa dimakan. Dan rebahan setelahnya dikamar. Selama dan sekehendak saya.
Bukan kedinginan dengan perut lapar dan kelelahan teramat- sangat.

Alih- alih bisa melalui malam- malam yang menyiksa dengan mengantuk dan tidur, tetesan- tetesan air melalui bolong- bolong kecil sang terpal dan dinginnya tenda yang menempel kepala dan sebagian bahu kami membuat kami sebaliknya.

Hujan turun cukup deras. Karena terpal tak terpasang terbentang kencang dengan dudukan tinggi seperti harusnya. Tapi tergelar seadanya menutupi kami dan bakul- bakul sayur, tak ayal genanganpun ada dimana- mana diatas terpal, tepat di kepala kami. Sempurna sudah penderitaan ini.

Satu dari empat sok petualang ini meneteskan airmata. Sedih dan kesal.
Kelak saya tahu, ternyata yang lainpun sama. 😛 .

Bersambung 😉

Cirebon, 1974.

Advertisements
Standard

2 thoughts on “Passion For Adventure. Versi kami.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s