Uncategorized

Putri, Sang Guru Ngaji

Lama tak kelihatan, sudah usia smp lagi saja Neng ini.
Berkulit agak gelap, rambut keriting. Dan senyum yg manis.
Oh, yang saya maksud adalah saya yang lama tak melihat , bertemu anak tetangga sendiri.
Saya lupa sama sekali, siapa namanya.
Yang pasti saya ingat adalah, ibundanya pernah mengajar ngaji istri saya. Belasan tahun lalu.

” Yah, kenalin ini Mba Putri, guru ngaji. Panggil Putri aja ya? Kan jauh masih muda gini”.

Dipengajian berikut.
” Putri,  mba mba tetangga depan juga mau pada belajar ngaji. Bisa ya? Sekalian”.
” Iya mangga Ceu, nuhun. Alhamdullillah’.

Beberapa bulan kemudian.
” Yah, Putri ni dijodohkan mba- mba tetangga kita, sama adiknya, si Mas… tau lah ya?. Kan masih sendiri”.
” Oh, Alhamdullillah atuh”.
” Tapi Putrinya bingung”.
” Lho?”.
” Iya, Putri bilang, Putri mau, tapi Putri kan masih dalam perawatan rumah- sakit jiwa. Apa kata mba- mbanya nanti. Putri tanya, bagaimana menurut kita”.
” Wah, tau apa kita? Bingung”.
” Ngga keliatan seperti yang sedang dirawat ya?. Rasanya biasa- biasa aja. Ngajarin ngajinya bagus, enak”.
” Yah, coba tanya- tanya, cari info, harus apa kita.
Nanti mau ajak ngobrol Putrinya juga”.

Berbekal informasi Putri, esok harinya saya ke jalan Riau 11. Alamat yang sudah sejak usia SD saya dengar, tapi baru tahu sekarang dimana tepatnya.
Walau baru pertama kali ke rumah sakit jiwa ini, saya tak merasa canggung, karena ‘ jalan- jalan’ saya adalah juga, sesempatnya saya, ‘kunjungan’ ke pasar- pasar yang becek, gang- gang pemukiman kumuh, gedung pengadilan, sampai ruang tahanan kantor kepolisian.
Semoga bukan karena ‘pupujieun’ orang sunda bilang.
Tetapi sedikit usaha saya, mengingatkan diri- sendiri, bahwa ada kehidupan lain, disamping kehidupan yang selama ini sudah saya kenal.

” Ya Pak, Mba Putri ini memang dalam perawatan kami. Bersyukur Mba Putrinya mau rutin periksakan ke kami.
Selama rajin periksakan diri dan teratur minum obatnya, mestinya ta ada masalah dengan rencana menikahnya”.

Walau berhalangan untuk hadir di hari pernikahannya, kami bersyukur, sebelumnya bisa sedikit terlibat di persiapannya.

Kini, sang anak, yang senyumnya manis, baik- baik, sehat- sehat saja.
Putri, sang ibunda,  yang mengidap gangguan jiwa, saya lupa di tingkatan yang mana, dan sang ayah, pengidap epilepsi, Alhamdullillah sama juga. Selalu terlihat baik- baik saja, rukun- rukun saja. Malah, sepertinya pasangan yang paling terlihat selalu sama- sama kemanapun juga.
Putri masih mengajar ngaji. Masih aktif di kegiatan ibu- ibu komplek . Walau sekedar arisan, membagikan edaran dan undangan.
Kang Masnyapun sama. Tak pernah lagi terdengar serangan epilepsinya. Seperti jauh sebelum pernikahannya.
Putri dan Kang Masnya, seperti juga Putri- Putri dan Kang Mas- Kang Mas yang lain, hanya berharap mendapatkan sikap dan pandangan yang sama, seperti sikap dan pandangan kita kepada yang lain.
Selamat hari senin dan salam đŸ™‚

Advertisements
Standard

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s