Uncategorized

Hutan Gunung Salak

image

H-1 HalimunSalakTrailRun.
Lupa tepatnya jam berapa. Sore, antara  Kawah Ratu & Pasir Reungit, di km 7an.
Saat pasang2 signage & marking.
Saya putuskan kembali ke Javana Spa. Sendiri. Sementara Kang Andi, Tata, Kang Uban kalo ga salah dan si bapak porter lanjut ke Pasir Reungit.
Sudah pasti akan tengah malam sampai. Artinya ya gelap2an sendiri ditengah- tengah hutan gunung salak yg konon katanya si ….
Tak seperti biasanya, kali ini saya koq ya agak merinding- merinding.
Di WS2 di Kawah Mati, tepat di km 5,5, beruntung ada teman2 marshall, bertiga kalau tak salah, yg akan bermalam di tenda di WS 1. Km 3,5an. Mungkin.
Lumayan, tak sendiri, walau tak sampai Javana Spa.
Alhamdullillah.
Sampai si WS1 ini ya sudah malam, gelap. Yang pasti lapar.
Tawaran teman2 marshall untuk ikut makan dan ngopi2 tak pelak saya iyakan.
Bukan melulu lapar dan mau ngopi2nya, tapi ssst, jujur rada serem juga malam2 sendiri kembali ke Javana Spa.
Tengah malam, lapar.. eh teman2 ini punya bbrpa bungkus nasi padang.
Ya ampun.
Nasi padang, dimana- mana sudah pasti enak. Mau lebih enak lagi? Sekali- sekali coba deh saat camping ditengah hutan atau muncak.
Gusti Nu Maha Suci, nikmat tiada bandingan šŸ˜‰
Ngupi2nya? Alhamdullillah. Sejak lama tak lagi banyak minum kopi, sulit bagi saya menerima selain sedikit kopi dgn banyak susu dancow buatan sendiri.
Lagi- lagi di WS1 ini koq ya nikmat.
Terimakasih manteman vollunteer.
Alhamdullillah( lagi- lagi), rencana nekat lanjut ke Javana Spa sendiri batal, karena beberapa porter yg lewat, akan drop refreshment di WS2, kan pastinya akan kembali lagi nanti.
Mereka akan harus tiga kali dropnya.
Jadi, hehe masih akan ada yg menemani šŸ˜› .
Singkat cerita, saat teman- teman porter sampai kembali di tenda kami, bersama- sama lanjut kearah Javana Spa.
Bersama- sama kearah Javana Spa!. Bukan bersama- sama ke Javana Spa.. šŸ˜¦ .
Karena ternyata dus- dus air & lain2nya sudah mereka angkut dan drop di.. saya lupa nama tempatnya. Di km 3 an saya kira.
Jadi.. haiyah, 3an km sendiri kembali ke Javana Spa.
Saya sudah mengira, ini akan menjadi 3km terpanjang kedua saya setelah 3 tahun lalu, sama, sendiri juga, malam, ditengah hutan, dikm 70an, 18km menjelang pantai Rancabuaya. Di Trek lari2 sendiri, start Danau Cileunca, Pangalengan. Finish di pantai selatan Rancabuaya.

Bismillah, Alhamdullillah, bukan tak dilupa- lupakan atau berusaha tenang. Tapi koq ya semakin merinding.
Gelap- gulita. Tak berani melihat keatas. Padahal kan harus sekali- sekali melihat tanda, menghindari tersesat.
Belum lagi batang, dahan pohon yg beberapa kerap melintang, bahkan patahannya mengarah tepat seketinggian kepala.
Bermacam bayangan sendiri  bermunculan.
Salah- satunya ya ehem, wanita berpakaian atau pocong putih- putih. Atau perasaan tiba- tiba ada yang menegur dari belakang,” Aki..” šŸ˜› .
Sebisa- bisa saya baca ayat- ayat Quran, apapun yang bisa saya baca/ hafal.
Dan iya si, walaupun ya itu- itu aja šŸ˜› .
Beruntung tak bawa koran atau majalah. Jangan- jangan ya juga saya baca.
Sudah merinding, ditambah lagi embun di dedaunan/ ranting/ semak- semak2 membuat celana panjang dan kaki basah.
Tak biasanya saya pakai celana panjang. Kali ini agak malas dengan lintah dan ‘goresan- goresan’ ranting/ dedaunan langsung ke kaki.
Ditambah dengan pijakan batuan licin dan tak begitu terlihat, walau dengan headlamp, yang membuat saya beberapa kali terpeleset, bahkan kaki terkilir, sempurna sudah ‘ petualangan’ saya. Dan sumpah- serapahpun mengalir dengan lancarnya. Ups..
“Gusti Nu Maha Suci, singkatkan perjalanan saya ini. Lekaskan lari2 saya, atau da Gusti mah Maha Kawasa, Javana Spanya atuh dekatkan ke sayah”. Aamiin aamiin.
Ah entah sudah berapa banyak versi doa- doa saya ini. Maaf, tak berniat main- main, tapi itulah memang situasi saya saat itu.
Patok- patok jarak yang saya temukan, yang ada setiap 100 meter, cukup melegakan. Karena artinya saya berada di trek yang benar. Juga, walaupun terasa lammmmaaaaa, menandakan 3km terpanjang saya sa uprit demi sa uprit brrkurang. Alhamdullillah.
Brrrrr, lagi- lagi bayangan- bayangan muncul.
Kali ini perempuan menyeringai sambil dadah- dadah jongkok ditanah, ” halo Akii..” .
Haduh..
Km 2.0, km 1.9, km 1.8… dan seterusnya. Walau lambat bat bat Alhamdullillah jarak semakin pendek. Insya- Alloh, karena tiba2 terlintas, sering ada cerita, orang terus berlari seperti yang terus kearah yang dituju, padahal terus saja berputar- putar disitu- situ saja. Sampai, amy amy winehouse eeeeh amit- amit jabang bayi, pengsan kelelahan.
Tiba- tiba terlihat sedikit agak diatas seperti terang.
Alhamdullillah, mestinya tak jauh lagi sang peradaban.
Perlahan percaya diri dan keberanian muncul.
Semak- semak, dedaunan dan ranting- ranting mulai jarang. Alhamdullillah, akhirnya bisa lepas celana panjang & tshirt katun pinjaman dari teman vollunteer terakhir di WS1.
Saat sampai di WS1 tadi singlet lari saya sudah basah sekali. Tak nyaman untuk terus dipakai saat tak berlari.
Sekali lagi hatur- nuhun Kang marshall.
Kapan setelah saya cuci setrika saya kembalikan ya Kang, šŸ™‚ .
Berkostum ‘normal’ saya, alhamdullillah, celana lari pendek hitam dan telanjang dada, saya selesaikan kurang dari 1km terakhir, selamat tak kurang suatu apa.
01.30 sabtu dini hari akhirnya kembali bertemu teman2 panitia yg belum tidur.
Alhamdullillah šŸ™‚

Advertisements
Standard

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s