cerita, motivation

PERUT RATA DAN BOKONG YANG SEDIKIT ADA

perutrata

Sejak menikah 35 tahun lalu, berat badan saya tak berubah sama sekali.

Dengan tinggi badan yang sayangnya tak sampai 170cm kurang sedikit( sengaja saya tulis sedikit, agar terkesan dekat ke 170cm 😛 ), berat badan saya tetap di 58kg.

Agak kurang untuk disebut ideal.

Tapi saya cukup sehat dan senang- senang saja. Bahkan merasa selalu bisa bergerak lincah.

Rasa- rasanya demikian juga dengan perut dan    bokong saya.

Merasa ‘gendut’ jika baru saja makan agak banyak. Dan bokong? Tak istimewa bak peragawan, tapi yaa ada sedikitlah, tak rata- rata amat.

Candaan diri kesukaan saya adalah ‘ badan harus menghadap kedepan’. Yang saya maksud adalah perut rata, bokong sedikit ada. Karena jika perut ada dan bokong rata, artinya kan sebaliknya, saya merasa berdiri menghadap kebelakang( just kidding 😛 ).

Maaf saya tak berniat menyinggung siapapun.

Tadi malam, kebetulan saya harus selesai duluan dengan lari- lari malam saya di Eiger Thursday Night Run.

Tak sengaja ada beberapa teman wiraniaga di resto sebelah- sebelah  yang bertanya kepada saya, bagaimana caranya punya perut rata.

Jaman apa- apa bisa bertanya ke Mbah Google, saking banyaknya mungkin membuat bingung mana yang dipilih.

Saran saya, sambil menunggu menemukan yang diinginkan, yang sesuai, barangkali beberapa hal yang sudah dan masih saja saya lakukan bisa dicoba.

1. Gerak, gerak dan gerak.

Keputusan saya dan nyonya untuk sejak menikah mengerjakan semua urusan/ kerjaan ruman, anak dan tetek- bengeknya sendiri membantu sekali untuk hal ini.Sapu, ngepel, bersih- bersih. Sampai- sampai saking seringnya bergantian menggendong nina- bobo anak2 kami saat kecil, membuat saya, jika berdiripun goyang- goyang sendiri, bergerak seolah  saya sedang menina- bobokan anak saya 😛

Menghindari menggunakan mobil sendiri jika memungkinkan.

Jika ya, selalunya tak terganggu dengan parkir mobil yang jauh dari kemana kami harus berada.

Menghindari lift/ eskalator semampu- mampunya.

Saat anak- anak di usia ‘ bisa dimintai tolong ambil itu ini’ seringnya saya lakukan sendiri.

Saya bukan tipikal suami yang harus selalu dilayani. Walau sang nyonya selalu siap dan senang hati lakukannya.

Sekedar buatkan suguhan untuk tamu saya, tak mesti minta tolong orang rumah. Apalagi untuk sendiri.

Dapur saya tak mahal. Tapi husband friendly 😉

Saya bisa nyaman siapkan teh atau kopi, cuci- cuci sampai siapkan sendiri sarapan pagi.

Walau selalumya sudah keduluan sang istri.

2. Urusan asupan saya tak punya pantangan. Semua suka. Bahkan sukaaaa sekali.

Tapi tak satupun yang menjadi keharusan.

Saya bisa tahunan tak makan nasi. Saya bisa diet apapun jika harus.

Berusaha tak sering-sering tentu saja goreng- gorengan, jeroan, yang terlalu berlemak, manis- manis dan bumbu yang terlalu tajam, kecuali pedas.

3. Berusaha sesering- seringnya bepergian.

Sering bepergian tak berarti tak betahan diam dirumah.

Saya suka dengan ungkapan “Selalu semangat pergi meninggalkan rumah, karena akan banyak mengalami/ menemukan banyak hal- hal baru.

Dan tak kalah semangatnya saat akan pulang, karena akan bisa ‘ istirahat’ sesuka dan senyaman suasana rumah sendiri”.

4. Persoalan dan masalah? Siapa sih yang tak punya sama sekali?

Tentunya saya tak terkecuali.

Saya tak membiarkan untuk memikirkan 1 persoalan/ masalah saya di waktu 24 jam saya dalam sehari.

Masih banyak hal itu- ini yg harus saya bagi.

Jadi, jika ada 1 hal tak juga kunjung selesai secara membuat saya happy, ya biar besok2 aja lagi.Toh dipikirin terus juga tetep we gitu lagi gitu lagi.

5. Sejak 5 tahun lalu saya tambahkan dengan berlari trel.

Larinya sendiri kita semua tahu manfaatnya. Lari trel?

Gerakan naik/ turun( turunan dan tanjakan), kaki yang banyak diangkat lebih tinggi,membuat otot perut banyak dirangsang untuk menjadi kencang. Suasana dan pemandangan yang hijau, udara lebih bersih, semua- semuanya adalah hal- hal mudah dan indah yang membuat lebih cepat lagi ke “PERUT RATA DAN BOKONG YANG SEDIKIT ADA”.

Eh sudah waktunya sepedahan dan lari pagi sambil pungut2 sampah ini.

Yuk atuh,

Selamat  pagi, selamat hari jumat 🙂

Advertisements
Standard

8 thoughts on “PERUT RATA DAN BOKONG YANG SEDIKIT ADA

  1. Yogi Dwi Pramono says:

    “Gerakan naik/ turun( turunan dan tanjakan), kaki yang banyak diangkat lebih tinggi,membuat otot perut banyak dirangsang untuk menjadi kencang”.

    Baru sadar saya Ki. 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s