kisah, story, tulisan

The Power of Kerokan Or Karma

Kerokan

Pijat, apalagi kerokan, gigi emas, jatuh terjengkang atau apapun yang tampak konyol adalah sebagian dari beberapa hal yang bisa menjauhkan saya dari minat saya kepada perempuan yang sedang saya dekati 😉

Dulu.

Sekarang, artis, selebriti dunia banyak bergigi emas.

Awal 1970an, usia- usia sma, saya, seperti juga kebanyakan usia- usia kami dijamannya adalah penyuka bermotor cepat. Ngebut.

HondaS901973-2

Tak peduli motor kami hanya honda S90 keluaran 1969( memang ditahun- tahun yang sama, berkapasitas mesin 90cc( ya iyalah), siapapun didepan, ratusan cc sekalipun, pantang berhenti sebelum terkejar.

Bagaimanapun caranya.

Minus saat makan dan tidur atau berkumpul, waktu- waktu kami adalah diatas sadel motor.

Tak berhelm, tak berjacket. Jangan sebut lagi pelindung lutut dan siku tangan. Helm hanya kami kenal di poster- poster iklan motor atau poster- poster lomba motor dunia.

Poster- poster cantik yang biasanya terpasang di toko- toko onderdil motor.

Bermotor tak hanya dikota, sekali sekali  keluar kota.

Tetap tanpa helm dan jacket. Tetap tolol.

Suatu saat, dalam perjalanan Cirebon Semarang.

Dalam kota Pekalongan.

Berdua berboncengan dengan salah- satu sahabat bermotor saya.

motor kami mendekati motor yang    ditumpangi dua remaja perempuan.

Saat akhirnya beriringan, sapaan, obrolan, senyuman dan saat senyuman dengan tampak sederetan gigi, salah- satu bergigi emas, kami pun pamit 😉

Itu tadi gigi emas.

Kerokan sering saya lihat di perkampungan, yang penduduknya terbiasa bertelanjang dada. Tampak tak hanya dipunggung pria, pada ibu- ibu tuapun kerap saya jumpai. ibu- ibu tua yang maaf hanya ber beha. Memang biasa seperti itu.

Dikota pun sama. Hanya karena dikota lebih banyak berpakaian, jadi tak tampak.

Garis- garis merah menyamping dari tengah kearah kedua sisi. Terkadang sampai menghitam disekujur punggung. Tak indah sama sekali.

Begitu juga dengan pijat, massage. Seperti mengada- ada.

Pijat pertama saya.

Tak diniatkan tak direncanakan. Badan serasa remuk setelah berkendaraan dari Bandung ke Solo.

Bibi, sang tuan rumah, sepertinya sudah biasa, menawarkan jasa pijat Si Mbok, tetangganya, kepada siapapun tamu dekatnya yang datang dari jauh.

” Coba dulu, jangan bilang ga suka ga suka”. Begitu katanya.

Tak ingin mengecewakan dan menyinggung keramah-tamahan sang  Shohibul Bait, kamipun mengiyakan. Saya dan nyonya.

Beruntung sang nyonya lebih avonturir dibanding saya.
Jadi dia terlebih dahulu.

Saya tinggal tunggu hasilnya 😉

 

Selang lebih dari satu jam saya lihat sang nyonya seperti yang baru bangun tidur.

Rupanya memang tertidur.

” Enak lho, ga kerasa. Tau- tau ngantuk. Bangun- bangun rasanya koq enteng-enteng deh badan”.

” Seperti yang disirep”, demikian dia tambahkan.

Dan berikutnya, apa yang terjadi pada sang nyonya saya alami juga.

Si Mbok hampir tak bersuara sedikitpun, kecuali menyuruh saya telungkup.

setelahnya adalah baluran campuran minyak kelapa dan entah apalagi lainnya.

Pijatan- pijatan lembut di awal telapak kaki, ke betis, paha, punggung dan pijatan- pijatan yang semakin kuat berikutnya.

Tahu- tahu saya tertidur.

Tak terasa sakit apalagi geli.

Sirep? Wallahu Alam.

Anggapan saya terhadap pijat harus dirubah rupanya.

Setelahnya, seperti diduga, bukan alasan tak enak badan, tapi agar badan lebih terasa enak, pijat yang dicari 😉

Walau sampai sekarang belum lagi bertemu dengan pijatan se juara Si Mbok.

Dari beberapa tempat pijat, salah- satu yang saya sukai adalah pijat tuna- netra.

Menurut saya mereka lebih bisa memijat. Tak asalan.
Dan yang lebih saya sukai lagi adalah, karena saya bisa berekspresi semau saya, saat menahan sakit atau geli tanpa, maaf, terlihat mereka.

Saya kira.

Hal yang tak saya sukai adalah, lagi- lagi maaf, usaha bersikap ramah dan sopan mereka.

Begitu berbaring, mereka langsung mulai dengan berbagai pertanyaan.

Seringkah datang, dimana tinggal, sudah berkeluarga ,dan banyak lagi.
Diperparah lagi dengan sahutan kebanyakan tamunya.
Alih- alih mau dipijat sambil rest yang ada adalah suasana seperti diruang tamu. Ramai.

Seringnya saya siasati dengan, ” Maaf ya Pak atau Bu, saya mau sambil tiduran”.

Suatu kali jawaban seorang Ibu pemijat adalah.” Lah katanya Bapak mau sambil tidur, koq smsan?”

“?????”

Jadi, jangan- jangan selama ini mereka bisa tahu ekspresi saya saat menahan sakit dan geli, tanpa harus bisa melihat.

Tinggal di Bandung, kami sering mengunjungi atau dikunjungi keluarga dekat.

Rupanya hal diatas berkaitan dengan semakin seringnya pijat memijat  dan kerokan. Dan sang nyonyapun sudah semakin bertambah jam terbangnya. Bukan me- tapi di- pijatnya 😉

Batuk, flu, agak sesak dan demam yang biasanya datang sendiri- sendiri, suatu ketika datang bersamaan.

Setelah berbagai obat dirasa tak mempan, akhirnya saya merelakan punggung err mulus saya dikerok. Setelah sebelumnya dipijat sang nyonya.

Ohya, masih jauh dari pijatan juaranya Si Mbok, tapi lumayan ;-).

Maaf ya Bu 😉

Kerokannya? Entah kebetulan entah tidak, atau karena sebab dan faktor lain, menyembuhkan. Alhamdullillah.

Saya tak perlu repot- repot dahulu mencari pembuktian medis atau membaca jurnal kedokteran untuk hal- hal seperti ini.

Sejauh bukan hal yang terlalu aneh, berisiko atau terlalu tak masuk akal.

Seperti juga kolang- kaling atau cangkaleng, banyak disebut belakangan oleh teman- teman sesama pelari sebagai yang dianjurkan untuk keluhan pada lutut dan persendian.

Tak mengiyakan, tak juga menolak mengakuinya.
Bersyukur sekali jika ya. Jika tidak, paling tidak enak rasanya. Dan sudah sejak lama saya konsumsi. Berawal dari sajian pembuka puasa. Selanjutnya sering tersaji dimeja makan.

Pembuktian medis suatu ketika bisa jadi terpatahkan/ terbantahkan dengan pembuktian medis yang lebih baru. Demikian seterusnya.

Jadi… jangan anggap enteng The Power of Kerokan 😉

Karma?

Oh ada satu lagi yang harus saya tambahkan.

Mengingat begitu tak sukanya saya melihat orang berpunggung kerokan.

Tak indah dan norak.

Suatu hari, saya memulai lari- lari pagi saya.

Seperti biasa dengan short dan singlet lari saya.

Kali ini dengan lebih banyak semangat lagi, karena akan ada  yang menemani saya berlari.

Entah saya yang kepagian atau sudah tertinggal, karena tak seorang pun tampak.

Tiba- tiba ada yang menepuk bahu saya. Dan sapaannya adalah. ” Abis kerokan ya…”

Hastagah, sudah pasti ada yang terlupakan.

Saya amat sangat berharap, detik itu juga saya ditelan bumi..

Bandung, 8 Desember 2015. Menjelang magrib

#whereareyou?

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements
Standard

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s