adventure

Hidup Hanya Sekali, Yuk Gowes Yang Jauh Sekali- Sekali :-)

screenshot_2016-09-21-06-01-55-1

Menggantung dibawah atap Saung di Pantai Sawarna

Hujan dan angin kencang semalam sempat membuat saya lebih mengkhawatirkan ambruknya saung ketimbang  terjatuh dari hammock.
Alhamdullillah saung yg hanya berstruktur balok2 kayu kecil dengan atap rumbia yg sudah tak lagi tampak bagus kokoh berdiri. Dan tak kurang pentingnya lagi tak bocor.

Menjelang magrib Hammock saya  pasang didalam saung. Khawatir jika hujan. Sementara memang belum saya lengkapi dengan Tarp atau Flysheet. Kap berbahan tenda berbentuk segi empat atau belah ketupat, sebagai pelindung hujan.
Dibentang diatas tali( tak mesti prusik 7mm, bisa yang lebih kecil). Keempat ujungnya ditarik ketanah dan dipasak.

Saat cerah Hammock saya gantung pada salah- satu kolom saung dan pohon terdekatnya.

screenshot_2016-09-20-07-43-01-1

Hari ini saya rencanakan kembali ke Bandung dengan menumpang mobil bak, truk atau apapun.

Gowesnya saya cukupi Bandung – Sawarna saja. Kembalinya? No thanks 😊

Cukup sekali merasakan tanjakan- tanjakan neraka Sawarna. Entah jika kapan- kapan lagi..

Minggu pagi,  tiga hari lalu, 5:30 gowes- gowes saya mulai, setelah hujan semalaman sehari sebelummya membuat acara gowes Bandung- Sawarna saya yang semula direncanakan sabtu pagi mundur satu hari.

screenshot_2016-09-17-20-04-22-1

road bike, sport action camera di stang, botol minum di garpu kiri, tas frame isi kamdig, p0werbank, smartphone, note8, 1 TB Ext. Harddisk berwifi, tongsis/monopod di batang frame bawah, 1 tas bawah sadel berisi alat2 sepeda dan 1 drybag yg dimodif menjadi panniers

Selain memang sudah lama gowes jauh tak saya lakukan, kali ini juga sekaligus uji- coba beberapa produk kelengkapan perjalanan.

Drybag yang juga backpack, desain terbaru, cantik menarik, dengan tambahan dudukan acrylic saya modif menjadi pannier. Terpasang di rak belakang sepeda buatan bengkel sepeda seorang teman. Masih yang terakhir kali dipakai rute Kualanamu – Danau Toba. Dan masih belum sempat saja dengan finishingnya.

Lampu sorot depan ber battery  isi ulang dan headlamp yang digunakan sebagai lampu belakang.

Kelengkapan lain yang saya bawa adalah: 1 smartphone kecil, 1 Note 8 inchi, powerbank 13000mA, kamera digital saku G16, 1 TB Ext. Harddisk berwifi

Rute yang saya gunakan adalah rute jalan raya. Gegerkalong Hilir, Sukahaji, Surya Sumantri, Gunung Batu, Cimahi, Padalarang, seterusnya sampai sebelum Cianjur mengambil jalan lingkar luar arah Sukabumi.

Saya rencanakan istirahat diwaktu makan saya, setiap 3 jam mulai jam 6.

Rute padat seperti biasa hari- hari. Dari senin sampai minggu.

Panah terik sepanjang jalan cukup membuat gerah dan lelah.

Praktis sekali Hammock sebagai pengganti tenda. Dalam hitungan menit terpasang,sepanjang ada  2 pohon tempat menggantung. Dalam perjalanan ini pertama kali saya pasang di salah- satu ruas jalan raya Cianjur – Sukabumi. Nyaman menggantung, nyaris terlelap 🙂

img_20160918_142037

Istirahat? Cukup cari 2 pohon berjarak dalam jangkauan 2 tali prusik sepanjang masing- masing 5m, dalam hitungan menit nyaris terlelap 🙂

Tanjakan dan turunan sejak Citatah sampai Pelabuhan Ratu tak memberikan kesulitan berarti.

Rombongan- rombongan motor- motorlah yang lebih mengganggu. Tak besar tak kecil, hampir semua rombongan motor yang saya jumpai selama ini tiba- tiba saja merasa menjadi penguasa tunggal jalanan.

Sirine yang meraung- raung, klakson yang menyalak, tak ketinggalan lampu strobo biru  berkedip menyilaukan. Menghalau semua pengguna jalan yang lain.

“jalan milik Kami, Kalian minggirrrrrr!!!! Apalagi barangkali terhadap pesepeda.

Jaman sudah entah kemana. Kalian masih saja kanak- kanak yang asyik- masyuk dengan mainan- mainannya. Tak peduli bahwa yang lainpun mempunyai hak yang sama atas jalan.

Rombongan motor satu hal. Gowes malam lain lagi.

Sempat khawatir adanya begal- begal. Setiap terdengar suara kendaraan dibelakang, terutama roda dua, dan dikegelapan malam ruas- ruas jalan yang sepi.

Sebaiknya memang perjalanan hanya sampai menjelang magrib saja.

Disamping agar tak terlalu lelah, yang utama adalah keselamatan diri.

Seperti juga saat trip terakhir Kualanamu – Kabanjahe. Gowes yang sampai menjelang tengah- malam.

Beruntung selamat tak ada gangguan satupun. Kecuali satu kali bocor ban. Dan ban dalam cadangan yang lupa dibawa.

Lampu sorot depan yang terang adalah mutlak. Juga dengan lampu merah belakang berkedip. Jelas melihat dan mudah terlihat.

Jam 10 malam sampai di Pelabuhan Ratu. Saya putuskan untuk bermalam disini.

Masih ada hari esok untuk trek berikut.

Berikutnya adalah mencari tempat menggantungkan Hammock. Dan tempat mandi tentu saja.

Tak sulit temukan mesjid besar. Beruntung Mesjid yang berada di area pantai. Berikutnya adalah, setelah mandi dan solat, pasang hammock.

Banyak pohon di area antara Mesjid dan pantai. Tak memerlukan waktu lama hammockpun menggantung.

Barang2 penting saya masukan di satu tas frame dan dimasukan disalah- satu ujung hammock. Dan diikat kesimpul. Karena dengan posisi yang lebih tinggi dari saya, pastinya  akan melorot kearah saya.

Barang- barang lain saya gantung di tali prusik. Termasuk sepedanya.

Walau malam tak bertabur bintang, masih beruntung tak hujan.

Bermalam tanpa atap, dipantai Pelabuhan Ratu.

Walau kantuk teramat sangat ternyata angin dan deburan keras ombak pantai selatan cukup membuat tak mudah terlelap diawal- awal.

Alhamdullillah tertidur juga pada akhirnya.

img_20160918_234256

Enjoy Life Without a Roof

Tentang Hammock.

Setelah penggunaan yang tak hanya sekedar berayun dikala senggang, tapi benar2 digunakan alas tidur semalaman, menggantung di reiling ruang lantai kayu lantai dua ‘saung’ saya, sering, nyaris setiap malam hampir beberapa minggu berturut- turut, sejak produk ditangan saya ditambah lagi di perjalanan Bandung – Sawarna, tak berlebihan jika sang hammock adalah  salah- satu kelengkapan yg tak boleh tertinggal.

Ringan, hampir tak terasa, terlipat/ tergulung dalam kantong bawaannya( terjahit di salah satu sisi hammock) hanya berukuran 20 x 20an cm setebal 6an cm.
Tak memerlukan ruang banyak. Mudah diselipkan dimanapun. Sekedar terikat di stang sepedapun aman.
Hammock dengan mesh( kasa nyamuk)seperti yg saya pakai lebih baik untuk perjalanan.
Dengan bentang lebih dari 2m masih tersisa ruang diujung- ujung bagian kepala dan kaki untuk menyimpan tas2 berisi bawaan penting.  Karena posisi yang miring kedalam( kearah kita),agar tak ‘melorot’,  bawaan tadi harus dalam posisi terikat ke tali prusik atau simpul.
Barang2 lainnya bisa digantung dibentangan tali prusik lainnya. Posisikan dalam jangkauan.
Dengan menggantung punggung terasa lebih nyaman dibanding jika tidur beralaskan  matraz dan atau sleeping bag.
Posisi tidur serong, tidak paralel terhadap hammock mengurangi posisi tidur yg melengkung secara vertical.
Badanpun lebih leluasa, tak terjepit terbungkus hammock.
Tali- temali yg mudah. Ada banyak tehnik simpul. Bisa banyak didapat di hammock knot.
1 – 2 macam simpul saja  sudah cukup.

Terbangun, kaget dengan suara adzan subuh serasa dekat telinga. Lupa jika tidurnya dekat sekali dengan Mesjid.

img_20160919_053139

Pagi dipantai Pelabuhan Ratu

Hari senin, hari kedua perjalanan, Jam 7 perjalanan ke Sawarna saya lanjutkan, setelah sebelumnya sarapan nasi uduk, air mineral dan susu kopi.

cisoloksawarna

Rute hari kedua, Cisolok – Sawarna, 40km.

Matahari belum lagi di kepala panasnya sudah luar- biasa. Apalagi pastinya nanti siang hari.

Bersambung..

screenshot_2016-09-19-20-18-18-1

Tanjakan2 Sawarna yang seperti tak pernah berakhir dan panas yang menghentak memaksa saya melepas semua yang dipakai kecuali sepatu sandal dan celana sepeda

screenshot_2016-09-19-20-10-21-1

Menjelang Tanjakan Habibie yang dikenal panjang, berkelok dan curam

screenshot_2016-09-19-16-37-10-1

Akhirnya, pantai Sawarna 🙂

gerlongsawarna

Gerlong – Sawarna, 198km

screenshot_2016-09-20-07-33-46-1screenshot_2016-09-20-07-34-32-1

screenshot_2016-09-20-07-42-04-1

Membawa Hammock artinya tak hanya badan yang menggantung, tetapi semua bawaan. Juga sang sepeda 🙂

screenshot_2016-09-20-19-40-33-1

screenshot_2016-09-20-19-41-36-1

Nelayan2 siap melaut sore hari. Dan kembali pagi esok hari.

screenshot_2016-09-20-19-42-25-1screenshot_2016-09-20-19-43-09-1screenshot_2016-09-20-19-44-03-1screenshot_2016-09-20-19-44-44-1screenshot_2016-09-20-19-45-38-1screenshot_2016-09-20-19-46-33-1screenshot_2016-09-20-19-47-17-1screenshot_2016-09-20-19-47-54-1screenshot_2016-09-20-19-48-33-1screenshot_2016-09-20-19-49-34-1screenshot_2016-09-20-19-50-22-2screenshot_2016-09-20-19-51-16-1

screenshot_2016-09-20-19-53-22-1

Tanjung Layar, batuan besar ,salah satu obyek wisata di Sawarna

screenshot_2016-09-20-19-54-54-1

Ombak besar Sawarna yang mempesona

img_20160918_102309

Sport Action Camera, 1TB Ext. Harddisk berWifi, Note 8 & Kamdig poket sebagai kelengkapan dokumentasi perjalanan

 

img_20160918_143531

Mug yang selalu saya bawa. #gerakanseribucangkir

img_20160919_075828

Menjelang Pelabuhan Ratu las dudukan rak belakang kiri lepas. Pannier yang semula disebelah kiri saya pindahkan  ke kanan.

Advertisements
Standard

One thought on “Hidup Hanya Sekali, Yuk Gowes Yang Jauh Sekali- Sekali :-)

  1. Pingback: IMPIAN YANG TERWUJUD( SEMOGA) | akiniaki

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s