asma

Saya dan Asma.

 

Mengacu kepada Asthma Initiative of Michigan( getasthmahelp.org ), asma saya sudah dikategorikan “TAK TERKONTROL”.
Karena jawabannya adalah YA untuk semua pertanyaan dibawah ini:

– apakah asma membuat tidak bisa bekerja/ sekolah?
– Apakah asma membuat tidak bisa berkegiatan olah tubuh/ exercise?
– apakah pernah mendapat layanan gawat darurat karena asma?
– Menggunakan lebih quick relief inhaler( seperti ventolin) lebih dari 2 x dalam seminggu?
– Terbangun tengah malam karena asma lebih dari 2 x dalam sebulan?
– Membutuhkan quick relief inhaler lebih dari 2 x dalam setahun?



Selama 63 th asma saya, saya pernah alami tak masuk sekolah dan kerja karena asma.

Sampai usia 54th saya tak pernah bisa berlari. Yg padahal adalah angan2 saya.

2 kali saya ke igd karena asma.

Pernah alami beberapa kali dalam sehari gunakan inhaler.

Pernah alami sering terbangun tengah malam karena asma.

Pernah alami beli inhaler hampir setiap bulan.

Jadi saya sadari betul asma saya  memang tak main2.
Bak Ninja yg mengintip peluang dan menghantam saat kita lengah.
Atau tanpa ba bu tiba- tiba saja frontal menyerang mematikan.

Jika sudah tak terkontrol maka saya sudah harus pakai astma controller. Seperti Berotex atau Seretide Diskus.
Harus dipakai setiap hari sampai2 -3 bulan terus menerus.

Setelah kontrol kembali. Jika sudah reda terkontrol, obat bisa dihentikan.Jika masih ya lanjut lagi.

Jadi sebaiknya menyikapinyapun tak main2.
Tak bisa asal2an.

Apa yg harus dilakukan saat serangan asma.

Waktu terbaik untuk mempersiapan diri menghadapi serangan asma adalah jauh sebelum serangan asma itu sendiri.
Artinya sesegera mungkin. Jangan ditunggu sampai serangan terjadi.
Bicarakan dengan dokter apa dan bagaimana sebaiknya. Sesuai dengan kondisi asmanya.

  1. Tetap tenang dan usahakan tetap santai. Semakin kita panik, bernafaspun akan semakin sulit.
  2. Usahakan ada orang lain dirumah yg sudah pasti tahu gangguan asma kita dan menemani.
  3. Ambil inhaler yang sblmnya sudah diresepkan dokter. Atau jika ragu obat mana yg harus diminum/ dihirup, tanya dokter, suster atau apotek.
  4. Jika inhaler/ obat tak membantu dalam waktu 5-10 menit, telfon dokter/ no darurat  atau ke igd.
  5. terus pakai inhaler sampai bantuan datang atau sampai di igd.

    Jangan pernah merubah/ menentukan  sendiri dosis obat yg diresepkan dokter.

Asma saya akan selalu ada seumur hidup saya.
Jadi bagaimana mengatasinyapun tak hanya sekali- sekali. Harus terus menerus sepanjang hayat.

Jadi alih- alih lakukan ini itu hanya untuk sekedar melawan asma, sekalian saja saya lakukan untuk kesehatan saya secara menyeluruh.
 Tak sekedar menghindari asupan pencetus asma, sekalian saja asupannya saya usahakan baik dan cukup secara keseluruhan.
– Menghindari gorengan, bumbu2 tajam, merokok, bahan pengawet, makanan olahan siap saji. Minuman manis dan dingin.

– Usahakan asupan bergizi tinggi.

– porsi yang cukup.

– minum hanya air putih hangat. tak pernah lagi minuman manis dan dingin.

– Lakukan olah tubuh yg cukup. Entah sekedar jalan kaki,senam, atau olah tubuh lainnya.


Sejak 2010, di usia 54 tahun, saya berlari hampir setiap hari. Mulai dari hanya bbrpa km/ hari. Meningkat belasan, puluhan, bahkan saking sukanya, pernah paling sedikit 1 bulan sekali berlari diatas seratus km sekaligus, tanpa henti kecuali mandi, solat dan makan.
Sekarang saya cukupi hanya 2,5km/ hari dan 20-30km/ hari bersepeda.

– Pilihan bersepeda sebagai transportasi saya juga membantu sekali. 

Sejak saya rutin berlari dan lakukan pola hidup lebih sehat saya tak hanya secara keseluruhan jauh lebih fit dan sehat, tapi asma pun bisa dibilang hampir tak pernah menyapa.
Jikapun mau saya bisa dengan nyaman minum manis dan dingin. Berlari sejak dini hari dengan hanya mengenakan celana lari dan singlet lari.
Lari muncak gunungpun tak pernah sekalipun memakai lebih dari kostum lari saya. Bahkan seringkali telanjang dada.
Nyaris hampir semua pencetus asma saya Alhamdullillah bisa teratasi.
Panas, cuaca dingin, debu, sejak 2 tahun lalu ada kucing dirumah, minuman manis dan dingin, keringat sendiri yang semula seringkali menjadi pencetus gatal2, kemudian batuk dan sesak.

Lari- berlari saya yang semula hanya berdasarkan suka saya saja saya konsultasikan ke teman- teman dokter saya yang juga pelari. Yang semula tak sedikit yang heran, pada akhirnya mengiyakan bahwa lari- lari saya benar- benar terapi yang baik dan sesuai bagi saya.

 

Jika dulu asma adalah hal yang saya sembunyikan, sejak saya berlari sebaliknya malah sengaja saya tampilkan.


Saya ingin agar semua tahu bahwa asma bukanlah aib atau kutukan seumur hidup. Asma hanyalah satu dari sekian banyak penyakit yang mungkin tak dapat sembuh tapi bisa dikendalikan pencetusnya. Juga sebagai pengingat bahwa kesehatan harus disyukuri dengan cara menjaga kesehatan itu sendiri. 

Wallahu a’lam bissawab.

 

 

 

 

 

Standard

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s