Uncategorized

UTMB.

Bandung, 1987.Angan2 terkesan muluk. Sekali seumur hidup bisa menamatkan 10k dilomba lari manapun. Sudah pasti tak peduli podium. Bahkan tak pusing jikapun beberapa jam terlewat waktu Cut Off Timenya. Selama tak sampai berganti hari.

Bandung 2010.

Mencoba mulai berlari.

Kandas di 1km pertama. Menangispun bukan lagi dibuat- buat atau kiasan.

Plawangan Sembalun, 26 november 2012.

Nyaris tewas. Sendirian, tak menemukan jalan ke Segara Anak, tujuan berikut dimana Kang Hendra dan Kang Rudy Ansyah mestinya sudah sampai.

Dehidrasi dan kelelahan teramat- sangat.

Angan- angan berikut bahwa suatu saat saya akan melihat lomba lari trel disini rupanya harus tetap sekedar angan- angan.

Plawangan Sembalun, agustus 2013. Mount Rinjani Ultra pertama.

80an peserta. 20 diantaranya jika tak salah adalah pelari luar.

Terharu saat Herwin Tiranda sampai di Plawangan tak lebih dari limabelas menit setelah pelari tercepat.

Seorang Herwin Tiranda. Bukan yang tercepat tapi lebih cepat dari banyak pelari- pelari luar yang punya jauh lebih banyak pengalaman.

Seorang Herwin Tiranda, yang tinggal satu kota dengan saya saat saat kuliahnya.

Paul Kawinda dan beberapa lagi lainnya setelahnya.

Timbul harapan bahwa lari- lari trel tanah- air suatu saat akan diperhitungkan.
September 2013.

Mount Rinjani Ultra mendapat poin  kualifikasi UTMB. Alhamdullillah.

Terimakasih Kang Hendra, terimakasih Bang Nefo. Terimakasih semua teman teman pelari. Tanah- air maupun luar.

2013, 2014 dan tahun- tahun selanjutnya, hajatan- hajatan lomba lari sejenispun bermunculan.

Sudah tak dapat lagi dihitung dengan seluruh jari banyaknya.

Pelarinyapun demikian. Laki- laki maupun perempuan.

September 2017.

Untuk kesekian kalinya pelari- pelari tanah- airpun turut berlari dan finish di UTMB, TDL, dan banyak lagi hajatan- hajatan lari- lari trel dunia.

Belum lagi lari- lari ratusan bahkan ribu kilometer yang dilakukan Kang Hendra Wijaya dan Valentine Lily
Semangat!  Semangat mulai berlari, semangat tetap berlari dan menginspirasi.

Satu per sepuluh-ribu saja dari penduduk Indonesia berlari, rasa- rasanya semua hajatan dunia habis oleh kita.

Semangat mengejar Indonesia menjadi kiblat hajatan lari trel dunia.

Aamiin YRA.

Advertisements
Standard
Uncategorized

SEPEDA.

Bersepeda, bukan Sepedanya, selalu menjadi ide menarik bagi saya.

Peduli bumi, berhemat, menyenangkan, olahraga, membawa kita kemanapun mau dan bahagia sekaligus😊.

Juga, bisa seperti apa dan bagaimana kita inginkan.

Murah, sedang atau mahal sekalipun.

Mulai dari perolehan sepeda bekas ratusan ribu sampai puluh bahkan ratus juta.

Bersambung..

Standard
berbagi, fit, healthy, tulisan

Usia 60an..

Apa ya, yg mungkin diharapkan atau tak diharapkan terjadi di usia 60an?

Yang tak sekedar kacamata baca, kerut- kerut dan keriput? Atau aroma balsam/ obat gosok yang tercium lebih kuat dari parfum?😊.

Kulit yang semakin rapuh.

Tanda2 penuaan yg semakin banyak.

Kemampuan daya ingat menurun. Reflek melambat. Metabolisme pun sama.

Penuaan, apalagi jika tak dibarengi dengan gaya hidup aktif, mengarah diantaranya  ke keluhan sendi- sendi, otot yang melemah dan banyak lagi lainnya.

Melawan penuaan? Jelas bukan dan tak mungkin.

Memperlambatnya? Rasanya ya.

Jikapun menua paling tidak dengan gaya😊.

Menjaga pola dan gaya hidup aktif serta sehat bisa jadi jawabannya.

Berat badan ideal yang terjaga atau paling tidak  mendekati ideal.

Terlatih dengan strengt training dan angkat beban membuat tulang- tulang kuat dan padat. Ototpun terlihat.

Semua membuat penyakit- penyakitpun tak tergesa mendekat. Syukur- syukur tak pernah menjadi sahabat.
Banyak kita lihat, di usia bahkan jauh diatas 60an penamat lari marathon dengan waktu yang fantastis. Penamat triathlonpun tak kurang- kurang.
Tak mesti seperti yang saya sebut diatas, walaupun jika mau kita bisa.

Sekedar 2- 3km lari 4-5 kali seminggu. 

Dengan pace yang diusahakan baik, bersepeda atau renang, sesering yang kita bisa, sadar maximal detak jantung sendiri( Max. Heart Rate) menjaga detak jantung terendahnya ( Resting Heart Rate)serendah mungkin, dan sekali- sekali memacu detak jantung ke mendekati maksimalnya, rasa- rasanya bisa membuat semburan darah sang jantung tua ini tak jauh- jauh amat dengan jantung- jantung muda😊

Salam..

Standard
sepeda

​BE SMART BE HEALTHY

Ada pilihan menarik bertransportasi  di Bandung. Bebas macet dan tak begitu ngaret, sedikit berkeringat tapi sehat. Kan katanya, “Kebaikan Demi Kebaikan Menghampiri Orang2 Yg Berkeringat” 😊.

Semisal saya, dari rumah diutara Bandung hendak ke  Alun2 atau lokasi lain dimanapun di kota.

Ratus meter jalan kaki sampai jl. Setiabudi. Naik angkot jurusan manapun yg melewati atau dekat2 ke shelter/ dock BOSEH ( smart bike share).

Dock/ shelter terdekat dari saya adalah yang berlokasi di Mesjid Cipaganti.

Berarti saya ambil Angkot Kalapa Ledeng. Turun di Cihampelas/ Sastra.

Lanjut jalan kaki kearah barat ke jalan Cipaganti.

Sampai di dock/ shelter, tempel kartu BdgETransport, masukan pin, ambil kartu, tarik keluar sepeda.

Lanjut gowes kemanapun mau. Ke dock/ shelter manapun yang terdekat ke tujuan.

Tempel kartu, masukan pin, ambil kartu, masukan lagi sepeda, klik, selesai.

Demikian juga dengan pulangnya atau mau lanjutkan kemana lagi?

Keren ya 😊

Jangan lupa bawa helm, tumbler dan headlamp.

Siapa tahu, keasikan gowes, atau memang perlu sampai  malam menjelang 😊.

Yuk buat kartu BdgETransportnya.

Info: 022 5220768.

@dishub_kotabdg

dishub.bandung.go.id

Standard
cerita

Banyak Lari Dan Gowes Yang Tak Membuat Bisa Ngeles Dari Koles

Bangunan tak mewah. Tak juga terlalu luas. Yang pasti asri dan bersih.
Letaknyapun tak dijalan utama Sedikit agak masuk jalan kecil. Cukup dua kendaraan berpapasan.
Rumah- sakit Jantung Hasna Medika. Salah- satu sponsor kami.
Matahari masih dengan sinarnya yang kuat. Padahal sudah lebih dekat ke magrib daripada ashar.
Sambutan hangat teman- teman dokter membuat lelah- lelah gowes dari Bandung kami tak lagi terasa.
Sebentar bersihkan diri tak lama kami sudah berkumpul diruang pertemuan. Setelah sebelumnya berkeliling melihat berbagai ruang dan fasilitas Hasna Medika.

Sempat melirik hidangan yang disediakan. Dimeja saji disalah- satu sisi dinding ruangan.
Hmm khas masakan Cirebon. Mulai dari sega jamblang, nasi lengko dan penganan/ cemilan lain. Menggugah selera sudah pasti.

Entah, mengapa sega jamblang dan nasi lengko. Padahal sega ya nasi 🙂

Obrolan hangat. Banyak info bermanfaat yang didapat.

Mulai dari ruang- ruang pasien kelas  tiga rasa VIP, ber AC 24 jam, alat- alat medis lengkap dan canggih, sampai pelayanan yang prima dan manusiawi.
Biaya yang seluruhnya ditanggung asuransi/ bpjs.

Pagi keesokan hari dimulai dengan drama.

Salah- satu teman talent pesepeda ngambek tak mau lakukan pengecekan jantung.

Ups maaf, besok- besok saya sambung 🙂

 

Standard
cerita

ILHAM SANG PETUALANG

 

gain-100Rinjani100-2017-100-CPRinjani100-2017-100-MapLTrek 100km di Rinjani. Pastinya tak main- main.

Padahal 52km saat awal MRU( Mount Rinjani Ultra), 2013 jika tak salah, sudah membuat ampun- ampun tak hanya pelari- pelari lokal, mancanegarapun dibuat mutung, kesal dan ambek.

Ah apa juga yg perlu ku khawatirkan. Toh jikapun tak finish aku sudah mencoba. Itukan yg penting?
Did Not Finish selalu lebih baik daripada Did Not Start. Entah dimana pernah kudengar seperti itu.

Ya, aku tahu sebelumnya. Beberapa jawara- jawara ada disini. Kecil kemungkinan bisa dapatkan podium. Tapi? Tunggu dulu. Rasa- rasanya aku melihat peluang di podium 3.
Mereka boleh jawara- jawara, tapi trek panjang dan trel? Dan di Rinjani? Siapa takut. Seorang saya, pengalaman boleh sedikit, usiapun tak lagi terbilang muda. Tapi semangatku  boleh di adu.
Podium 3 kan juga berhadiah. Niat belikan dan bagi- bagikan sembako di desaku, dari hadiah nanti adalah api semangatku yang luar- biasa. AKU BISA!

Dan..dengan biaya dari sang istri untuk menutupi semua biaya dan kelengkapan lari trel sederhanaku, terimakasih Istriku sayang 🙂 , akupun hadir diantara yang start di Senaru, di kategori 100.
Bergabung bersama beberapa pelari- pelari lain, lokal maupun mancanegara, ber gear ya ampun, walau ada satu- dua sesederhana aku, tapi sisanya adalah hmm apik rek 🙂 .

Bismillah.
Trek awal Senaru – Senaru Rim(WS 1, km 10,5/ ) mudah- mudah saja. Begitu juga trek berikut, sampai Sembalun Rim(WS2, km 18 ). Continue reading

Standard
bacaan, review, tulisan

Hotel Malaka Bandung

malakavalkenet

Hak gambar ada pada Sudarsono

 

Jalan Malabar, Halimun, Wayang dan sekitarnya adalah area bermain saya. Bandung tempo akhir 60an.

Cuaca pagi yang masih berembun. Dan pullover pun selalunya menjadi kelengkapan setiap pagi harinya.

Siapa sangka hampir 50 tahun kemudian saya berkesempatan masuk eh bahkan menginap dibangunan yang dahulunya adalah  fabrik roti dan kue Valkenet.  Salah- satu fabrik roti dan kue di kota Bandung, selain Merbaboe, Maison Bogerijen, Maison Vogelpoel, Lux Vincet, dan lain- lain. Didirikan oleh orang Belanda.  Ada juga yang didirikan oleh orang-orang Tionghoa seperti Jap Tek Ho, Khoe Pek Goan, Tan Kim Liang, dan lain- lain.

 

Bangunan fabrik roti dan kue yang dahulunya punya kisah,”Siapapun yang melewatinya dan bisa mencium wangi roti/ kuenya boleh mendapatkannya cuma- cuma”, kini adalah Hotel Malaka.
Bangunan minimalis, di desain oleh arsitek senior kenamaan Tan Tjiang Ay.

Continue reading

Standard
cycling, design, review

Banda Neira, Sepeda Elektrik Nan Cantik


Tampil imut beroda kecil 20 inch, sepintas mirip sepeda lipat, adalah review berikut dari LOGR model  Banda Neira.

Geometri sepeda dewasa dengan roda lebih kecil. Tentunya menyebabkan seat stays dan head tube lebih panjang dari biasanya. Unik.
Bertenaga battery 250 watt/ 36 Volt yang menggerakkan dinamo hub depan sudah lebih dari cukup untuk gowes hari- hari. Tak hanya dijalan- jalan datar,sedikit tanjakanpun tak mesti khawatir.

Sama seperti LOGR Java, penggeraknya adalah hub depan.
Battery yang lebih kecil memberikan banyak pilihan penempatan battery. Ditas/ kantong depan atau belakang.
Jadi tak perlu rak lagi.

Kelengkapannya adalah:

  • motor pada hub depan,
  • battery  berikut controller dan lubang charger di tas/ kantong,
  • On/off, +/- naik turunkan torsi di handle bar kiri, , display ditengah dan gas di handle bar kanan. Akses yang mudah.
  • Kabel penghubung battery ke dinamo cukup panjang jika ingin battery disimpan ditas/ kantong belakang.
  • Rak depan lebar dan unik.
  • Gear internal matic menggantikan cassette. jadi tak ada gear shifter. Baik depan maupun belakang. Sangat praktis.

Handling, standar roda kecil. Hanya saat bergerak perlahan agak berat dengan battery di tas/ kantong depan. Selanjutnya biasa- biasa saja.
Trek Dago turun ke jalan Sumatera dan tanjakan mulai Cipaganti, Setiabudi, sampai Gegerkalong cukup ringan dan nyaman- nyaman saja tanpa bantuan elektriknya( Lupa di charges sebelumnya 🙂   )

Update:
Sore hari tadi, jumat, 16 des, setelah charges penuh malam sebelumnya, setelah juga putar- putar dikota, Cipaganti dan Setiabudi yang menanjak rupanya bukan kesulitan sama sekali bagi Sang Banda Neira. Hampir sampai 27km/ jam tanpa bantuan gowes sama sekali, dengan torsi di posisi 3. Wuzz wuzz wuzz 

Masih bersambung dengan detil lainnya lagi. Salam 🙂

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Standard
tulisan

Saya, Anak- Anak dan Rumah

 

” Kang Aki berasa sering sekali pergi- pergi untuk gowes dan lari- larinya, apa ga….( pasti sudah tahu kelanjutannya kaaaaan? )…..
 
Bagi sang tetangga adalah corat- coret anak nakal yang tak pernah ‘diajari’ orang- tuanya, bagi anak saya,siapa tau adalah karya maestronya🙂…..
 
Berada di saat, di waktu- waktu mereka kecil, main, sekolah dan masa pertumbuhan, bukanlah hal yang bisa diulang. Saat- saat sekali seumur hidup….
 
———————————————————————————
 
Panas siang- hari yang menghentak yang biasanya tak menjadi penghalang untuk tetap gowes atau lari, kali ini membuat saya agak ‘membiarkan’ untuk ‘mengalah’.
 
Secangkir kopi panas diruang kantor ber ac seorang teman kali ini sudah pasti adalah nikmat lain yang saya dapati.
 
Waktu minum kopi saya atau tepatnya susu dengan sedikit perasa kopi adalah pagi setelah sarapan pertama saya jam enam dirumah dan setelah makan sore jam tiga saya. Dimanapun. Walau juga tak mesti.
 
Sekali- sekali eh rasanya belakangan sering- kali, kopi siang haripun tak lagi saya tolak.
Katanya kopi bagus untuk pengidap asma.
 
Dan..obrolan santai yang semula tak saya niatkan untuk mengganggu pekerjaannya pun mengalir menjadi ealah ternyata agak- agak serius juga.
 
Obrolan bertema lari dan gowes( apalagi atuh ah ), dari soal aktifitas saya ajak- ajak siapapun untuk gowes dan lari ke , ” Kang, ngomong- ngomong, anak- anak ikut lari ngga?”, ” Kang Aki berasa sering sekali pergi- pergi untuk gowes dan lari- larinya, apa ga….( pasti sudah tahu kelanjutannya kaaaaan? )..terusss sampai,” Iya ni Kang, rasanya bukan saya saja yang penasaran, tapi sudah ‘viral’ kenapa Kang Aki ga pernah cerita, posting tentang anak- anak atau semua ‘orang rumah’”🙂
 
Masa siii? Iya ya..
 
Dan jawaban demi jawaban sayapun mengalir.
 
Pertama sekali.. ya betul, saya harus akui saya bukan Ayah dan suami ideal. Jauh dari itu.
 
Cinta, perhatian dan kasih- sayang atas orang rumah? Ya iyalah, Kadarnya? Relatif.
Entah saya yang mana tapi yang pasti tak masuk dalam kelompok Ayah atau suami super apa- apanya.
 
Jangan- jangan malah masuk kelompok dibawah rata- rata🙂
 
Anak- anak kan buah- hati. Selalu yang ‘ter’ bagi siapapun ayahnya.
Termasuk anak- anak saya.
 
Siapa bilang saya tak suka dengan ide berbagi apapun baik- baiknya , lucu- lucunya, keren- kerennya anak- anak kita?
 
Yang biasa- biasa saja dimata orang lain, selalunya lucu- lucu, keren- keren dimata kita. Apalagi jika ya memang yang beneran keren- kerennya. Semisal nilai- nilai bagus di sekolah, saat anak- anak sudah pintar baca tulis dan mengaji atau rajin ke rumah ibadah, masih muda sudah pintar cari uang. Dan banyak lagi. Ya kan?
Tak terkecuali saya.
 
Mereka seringkali menjadi hal yang indah- indah dan menyenangkan.
 
Sekali- sekali membuat jengkel dan mengesalkan🙂
 
Bagi saya, tak terkecuali anak- anak saya, rasanya tak sedikit yang ingin saya ‘pamerkan’.
Jangankan yang keren- keren, yang hebat- hebat seperti yang saya tulis diatas, yang sedikit- sedikit bagus saja atau bahkan bagi orang lain ‘tak lucu’, bagi saya , anak- anak selalu lucu. Apalagi anak- anak sendiri.
 
Rasanya saya pernah tulis ini entah kapan.
Saat anak kedua saya di usia belum sekolah membakar kasur di gudang kecil rumah tetangga sebelah karena jengkel ditegur sang tuan rumah tetangga,karena katanya corat- coret dinding pembatas antar rumah kita disisi rumahnya, bagi saya maaf, memang salah, dan sudah pasti saya kaget dan saya tegur dia. Tapi juga bagi saya adalah bahwa anak saya sudah bisa bersikap.
Bagi sang tetangga adalah corat- coret anak nakal yang tak pernah ‘diajari’ orang- tuanya, bagi anak saya,siapa tau adalah karya maestronya🙂.
Sampai- sampai satu anak saya ini mendapat julukan teroris.
Diantaranya ‘menteror’ Ibu- Ibu pengajian dirumah tetangga yang sandal- sandalnya satu-satu dibuang sang anak keselokan saat mereka khusuk mengaji. Astagfirullah, anaknya Pak Herry.
 
Dan masih ada lbanyak lagi cerita- cerita lain.
 
Jika saya tak banyak menulis tentang mereka, saya kira saya sedang belajar ‘menghargai’ privasi mereka.
Kisah- kisah mereka yang pastinya selalu indah bagi saya jangan- jangan adalah kisah- kisah yang bagi mereka ‘biar buat Ayah Ibu aja’.
 
Bersyukur tak kurang- kurang postingan- postingan indah, keren- keren tentang anak- anak, putra- putri yang dilakukan teman- teman atau siapapun yang lain.
 
Saya merasakan hal yang sama dan saya turut kagum dan bangga akan semua anak- anak kita.
Jadi rasanya tak salah jika saya cukupi saja dari melihat postingan- postingan orang- tua orang tua yang lain 🙂
 
Dalam mencari periuk nasi orang serumah, beruntung bagi saya, barangkali tidak bagi yang lain, tak mengharuskan saya ‘ngantor’ dengan waktu yang mengikat.
Waktu saya agak lebih bebas.
 
Sekali lagi saya bukanlah Ayah dan Suami ideal. Jauh dari itu.
Siapa tahu tak sedikit hal yang luput dari perhatian saya akan mereka karena ‘sibuk- sibuk’ saya.
Hanya barangkali cara saya agak berbeda.
 
 
Saya bisa berhari- hari tak ditengah- tengah mereka. Tapi begitupun juga, bisa berhari- hari berturut- turut ada bersama mereka.
Satu minggu tak melihat anak istri, di minggu berikutnya bisa jadi hanya berdua istri spontan saat pergi sekedar beli cemilan,” Yah, ke Cirebon yuk”. Dan tanpa tapi tanpa ‘gimana kalo gitu gimana kalo gini’ ajakan ke Cirebon menjadi jalan- jalan kuliner sampai Yogya. Anak- anak? ” Sok ajalah Yah, Bu. Masih inget kan nomor rekening kita?🙂 .
 
Dan petatah- petitih petuah kami hanya, ” Tolong liat- liat kalo ujan”, ” Pergi- perginya ati- ati, gantian ya, biar ada orang dirumah”. Yang tak selalu juga mereka turuti.
 
Saya, Ayah yang masih saja Ayah yang belum bisa ‘membahagiakan’ anak- anak dan istri dengan rumah dan mobil seorang satu, kirim mereka sekolah diluar negeri, intan- berlian di jari, leher dan lengan sang istri, yang kata orang sunda, reunceum, berjejer rapat padat dari pergelangan kesiku.
 
Tapi memang bukan juga cita- cita saya.
 
Saya, hanya Ayah yang menjadi orang pertama yang melihat mereka saat ketiganya hadir kedunia, selain dokter dan suster yang membantu kelahiran mereka.
 
Saya, yang walau tak selalu dengan muka berseri penuh senyum 🙂 , selain pastinya lebih banyak istri saya, juga buat susu mereka, ganti popok mereka, gendong mereka, antar jemput sekolah mereka, kenal dengan guru- guru mereka, aktif di sekolah mereka.
 
Sampai mereka kuliahpun saya masih sering beurusan dengan kampus mereka.
 
Bukan tak percaya anak- anak atau tak ingin mengajari anak- anak mandiri, tapi ada hal yang tak ingin saya tertinggal.
 
Berada di saat, di waktu- waktu mereka kecil, main, sekolah dan masa pertumbuhan, bukanlah hal yang bisa diulang. Saat- saat sekali seumur hidup.
 
Tiga puluh tujuh tahun kumpul kami adalah tiga puluh tujuh tahun tanpa pembantu.
Ngepel dan sapu- sapu bagi saya bukanlah tabu.
 
Tak selalu, tapi seringkalinya malah seru.
 
Saya tahu benda apapun dirumah dan tempatnya dimana.
Saya tak mesti teriak- teriak ke siapapun dirumah menanyakan apa dimana.
 
Saya tak pernah menganggap anak istri adalah remote control saya.
Siapkan sarapan dan sekedar buat kopi dan banyak hal lain lagi saya bisa dan seringkalinya lakukan sendiri.
 
Walau tak selalu berujung pada keberhasilan( ya da ga gampang atuh…) inisiatif saya atau permintaan sang istri, perbaikan apapun dirumah selalu saya coba lakukan sendiri.
Tahukan kisah naik- naik genting saya? Beneran lho, bukan hoax🙂
 
Pergi- pergi saya, lari- lari dan gowes- gowes saya bisa jadi sekali- sekali membuat kesal anak- anak dan istri.
 
Tapi mestinya tak dipungkiri, salah- satu keinginan anak- anak bahwa ” Ayah mah jangan tua- tua ya, Segini-gini aja” rasanya sudah terpenuhi.
 
Mandi pagi, dandan rapi dan sapu2 ngepel sekali- sekali sebelum bangunnya anak- istri, baru pergi lanjut gowes dan lari , rasa- rasanya si oke sekali🙂.
 
Tetap fit dan sehat( Alhamdullillah) sambil juga jaga berat badan dan penampilan adalah bentuk penghargaan saya kepada seisi rumah.
 
Salam dan selamat pagi🙂

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Standard
tulisan

Selamat Ulang- Tahun Kamu

Tak sulit mencari ungkapan terbaik di satu hari ulang- tahunmu.
karena semua ada pada apapun yg kamu lakukan setiap waktu.

Tiada hari tanpa senyum yg menenangkan dan menyenangkan  bagi siapapun yg kamu jumpai.

Tak seharipun terlewat tanpa perhatian atas sekitarmu dan dirimu sendiri.

Hari demi hari adalah hari hari  curahan kasih- sayangmu kepada orang- orang terdekatmu, bahkan bagi siapapun juga yang datang dan pergi.

Selamat Ulang- Tahun Kamu.
Tetaplah menjadi dirimu dan biarkan seisi dunia mengikuti.

Bamdung, 13 desember 2016

 

Standard
biking, cycling, design

TRIKE

Trike.jpg

Kondisi jalan dihampir kebanyakan kota di tanah- air  ‘memaksa’ saya pada awalnya mendesain Trike dengan wheel track( jarak antar as kedua roda depan) lebih dari 100 cm. Padahal bertentangan juga dengan ‘kebutuhan’ manuver di, lagi- lagi kondisi jalan alias kemacetan, dalam kota. Kebutuhan Trike yang tak terlalu lebar agar mudah ‘meliku- liuk’ ditengah kemacetan.

Uji- coba ratusan km Bandung- Lampung lalu dan beberapa kali setelahnya ditrek yang berbeda, trek naik- turun Curug Cimahi, kemacetan Na’Uzubillah Cisarua Lembang, Cihideung, Sersan Bajuri di hari minggu, sampai trek potong kompas berpacu menuju IGD Advent, akhirnya mengharuskan saya mendesain ulang beberapa dimensinya. Diantaranya ya wheel track tadi.

Beberapa penyesuaian pada desain Trike saya berikutnya.

Frame dan geometri.

– Bahan aluminium atau carbon untuk mengejar bobot total maksimal 17 kg.

 – Pilihan wheel track yang mendekati ideal antara 70cm( banyak pada Trike di Eropa dan Amerika yang mempunyai rata- rata jalan- jalan kota yang halus, rata, minus lubang- lubang yang menjebak), sampai 75 cm, cukup stabil, tak mudah terguling, lincah dan masuk disela- sela kendaraan lain ditengah kemacetan kota tanah- air.

Dan tak kalah penting, masuk ke ‘lawang’ pintu rumah 🙂 .

Komponen.

–  Desain ulang rak belakang dengan dudukan pannier yang lebih rendah lagi yang artinya rak belakang( juga tetap sebagai tempat battery) dengan dudukan untuk tas- tas sepeda( panniers) yang lebih lebar. Lebih lebar dari lebar as belakang.

– Lampu- lampu sorot depan dan belakang  yang terang dengan tenaga sendiri.

– Rem cakram depan dan belakang hidrolik.

– Arm belakang model garpu( standar sepeda) atau monoarm.

– Dengan atau tanpa Canopy yang tergulung saat tak dipakai dan cukup dengan satu tarikan ringan jika diperlukan.

– Dudukan  teleskopik Hammock stand depan dan belakang.

– Teleskopik Hammock stand yang ringan dan mudah cabut- pasang, terpasang disamping       kiri- kanan main frame.

– Usb guna isi ulang gadget.

– Dudukan gadget pada handlebar kiri, lengkap dengan colokan usb gadget. Dan tahan air.

Masih bersambung…

Salam 🙂

#desainbaru #eigersignature #custom #eigertropicaladventure #enjoylifewithoutaroof #trektownbike #etrike

Standard
gowes, review

LOGR Java, Sang Onthel Elektrik

 

img_1540img_1542img_1543

 

img_1552Tak seperti beberapa Sepeda Elektrik yang terlihat  ‘dipaksakan’ menyerupai sepeda motor, Onthel Elektrik ini tampil ‘biasa’ seperti sepeda kayuh, tapi sepeda kayuh yang rapih, cantik nan ciamik.

Dinamo penggerak roda depan yang juga hub  depan cukup kecil. Tak mencolok.

Berframe kokoh( steel), dengan bobot seperti umumnya Onthel.

img_1541
Rak depan yang unik, amat sangat mencolok, dengan finishing rapih, berbahan aluminum.
img_1553

Selain tuas rem belakang pada handle bar kiri adalah kontrol On/Off, +/- torsi/ tenaga, tampilan Kecepatan, tampilan Torsi( 1-5) dan indikator lampu belakang.

img_1555
Di handle bar kanan, tuas rem depan, throttle( tuas gas), gear shifter belakang( 1-3) model tromol.

 

img_1556

Battery berkapasitas 11 ampere( 250 watt), 36 Volt ‘tersembunyi’ di rak belakang. Akan lebih tak terlihat lagi jika pannier belakang terpasang.

Pengisian mudah, bisa langsung pada posisi terpasang atau dicabut jika terminal jauh dari sepeda.

Cukup 2-3 jam untuk pengisian penuh, memenuhi kebutuhan 30 – 50 km.

Pada battery adalah tombol cek kapasitas battery, indikator battery dan tombol On/ Off lampu belakang.

Rak belakang ini seperti juga peruntukannya adalah tempat ‘digantung’kannya sepasang pannier( tas sepeda) atau satu saja disalah- satu sisi . Sekaligus ditempatkannya lampu belakang dan reflektor.
Sayangnya hanya satu moda lampu. Tak ada moda lampu blink. Daya diambil dari battery.
Dan akan lebih baik lagi jiga dilengkapi dengan  lampu depan dan Kring- Kring, agar saya tak perlu selalu berteriak. “Awas awas, numpang lewat! ” 🙂

Test ride?
Karena peruntukannya memang bukan untuk ‘diangkat- angkat’ berselfie seperti umumnya yang ber roadbike, bobotnya tak menjadi masalah.

Handling  bagus, kayuhan standar Onthel memang tak seringan roadbike, tapi masih ramah dengkul untuk wara- wiri dalam kota.
Kejutan manis saat elektrik dinyalakan.
Ber pedal assist, dinamo digerakan tak hanya oleh tuas throttle( gas), tapi juga oleh kayuhan.

Semakin kuat mengayuh dinamo akan semakin kuat memutar roda depan.
Secara singkatnya saya gambarkan ‘bantuan’ elektrik ini seperti jika kita mengayuh dan ada yang bantu dorong dari belakang.

Onthel atau sepeda jenis manapun ber elektrik amat saya sarankan untuk siapa saja. Terutama untuk Anda yang ingin bertransisi dari kendaraan berbahan bakar fosil ke elektrik, dan kemudian ke sepeda berkayuh.
Tak ada lagi masalah terlalu berkeringat dan terengah- engah saat masuk kantor  atau ruang kuliah.

Pada moda tenaga battery sepenuhnya, cukup kedua kaki diam saja di pedal dan sila dorong tuas throttel( gas) dengan jempol tangan kanan.
Dan.. bukan Anda yang harus heran, tapi biarkan kanan kiri belakang Anda yang terheran- heran, melihat satu Onthel bersosok besar gagah melaju ringan di tanjakan Cipaganti atau Dago atas dengan kayuhan penuh senyum, atau bahkan tanpa satu kayuhanpun  🙂

Salam BOSEH, Bike On the Street Everybody Happy 🙂

Ohya, dengan IDR 14.000.000 tentu saja sudah dapat Anda peroleh 1 sepeda motor baru bertenaga berlipat- ganda dengan kecepatan maksimal sampai diatas 100km/ jam.
Hanya jika Anda lebih peduli kesehatan diri dan lingkungan, dan juga keamanan, Sepeda elektrik ini ada pilihan yang lebih bijak, smart dan berwawasan. Ya kan?

Atau mau rasakan sensasi sepeda elektrik dengan lebih murah lagi? Bawa sepeda Anda jenis apapun yang ada, pilihan ebike kit, hub depan, belakang atau middrive merubah Gowes Hah Heh Hoh Anda menjadi Gowes Cantik, Apik, Ciamik Banyak Dilirik 🙂

https://trektownbike.com/

 

 

 

 

 

Standard
adventure, bacaan

60 Adalah 60. Bukan 50 atau 40, apalagi 30

 

Why 60 is SOOO Not The New 40 – The Huffington Post.

“Saat 30 atau 40 lari adalah tabu.

Saat 50 dan sampai kini 60, lari adalah the dream come true”.

———————————–

“Cinta saya saat muda adalah cinta yang malu- malu.

Cinta saya kini adalah cinta yang menggebu”.

————————————

Agak berbeda dengan tradisi pada tanggal- tanggal kelahiran teman- teman usia sekolah SD; termos, misting makan, baju- baju hangat atau pullover adalah benda- benda yang kerap saya terima ditanggal- tanggal saya. Kado ulang- tahun saya dari Mmak dan Bapak.

Kadonya pengidap asma dan bronkhitis. Yang tak boleh kedinginan dan minum yang harus hangat 🙂

‘Nasi tumpeng’nya sup ayam dan perkedel kentang.

Waktu berlalu, jaman berganti, seragam sekolah sudah berganti putih dan biru, asma tak juga kunjung pergi.

Hari- hari tetap dengan kemunculan asma sekali- sekali. Tapi tak menghalangi aktifitas bermain saya. Bahkan semakin menjadi- jadi.

Saya yang semula tak boleh/ bisa bermain, masa- masa sekolah adalah masa- masa penuh dengan bermain dan pergi- pergi. Atau barangkali kata ‘nakal’ lebih tepat 🙂

SD, bersama kakak tertua dan paman, saya kerap sudah berjalan kaki dari slipi ke Senayan demi menonton pagelaran musik atau hiburan apapun lainnya.

SMP, tiduran dengan berpegangan pada besi pinggiran rak barang diatas bus Cirebon – Pangandaran bukan lagi hal aneh bagi saya.

SMA, bersama tiga sahabat- sahabat, Cirebon sampai Bali, nyaris tak berbekal apapun, menumpang berdiri berpegangan diruang sempit lokomotif uap, truk sayuran dan apapun yang serba ‘menumpang’.

Masa- masa kuliah saya diantaranya adalah masa- masa pungut- pungut sepeda atau barang- barang bekas atau sedikit rusak, yang saya coba perbaiki semampu saya, yang kemudian saya jual dengan harga mahasiswa keteman- teman kuliah atau tetangga.

Eh hidup ternyata tak hanya sesak dan batuk- batuk asma 🙂

Hidup saya yang pernuh warna. Hidup saya tak hanya kumpulan dari potongan- potongan kisah ‘tak boleh kemana- mana’, diam dirumah mencoba bernafas dengan usaha keras, tapi juga teman bermain dikomplek tempat tinggal dan hampir dibanyak kampung tetangga. Dan petualangan petualangan seru didalamnya.

‘Masa Kecil Kurang Bahagia’ tak tepat bagi saya. Ya kan?

Masa- masa dewasa, pun adalah masa- masa penuh dengan ‘petualangan’.

Usia boleh bertambah. Petualangan demi petualangan bukan berkurang eh koq malah tak sudah- sudah.

Semangat saya untuk tetap bergerak tak pernah kunjung berhenti. Semangat saya untuk tetap melakukan aktifitas sehat, agar keinginan saya untuk lebih banyak tahu ini- itu, melihat dan merasakan indahnya negeri ini, bisa saya lakukan selama yang saya mampu.

Hidup saya adalah petualangan. Setiap bepergian saya adalah petualangan. Sedekat atau sesingkat apapun.

Pergi bukanlah sekedar berpindah dari satu tempat ketempat lain, dengan hanya dua titik lokasi pergi dan sampai. Tapi juga adalah rentang waktu dan pengalaman diantara keduanya.

Sebentar lagi Inshaa Alloh akan ada ucapan- ucapan selamat yang menghibur. Diantaranya adalah. ” Selamat ya Kang. Tetap semangat! 60 is the new 40″.

Terkesan seperti walau sudah 60, dengan apa’ apa yang tak lagi seperti 40, tapi sama bahagianya koq.

Terimakasih Teteh- Teteh, Akang- Akang 🙂

Tapi saya lebih menyukai ” 60 adalah 60″. 40 tentu saja indah. Apalagi 30.

Tapi 60 saya pun punya indah dan menariknya sendiri.

Kapanpun lembaran tahun kehidupan saya yang lalu- lalu, adalah lembaran kehidupan yang selalu saya nikmati. Dengan sekian duka dan suka yang tak pernah saya sesali.

Tapi saya tak ingin kembali ke 50, ke 40 atau bahkan 30.

Saya tak ingin kembali menjadi 50, 40 atau bahkan 30 tadi.

Lembaran setiap angka tahun adalah lembaran baru. Lembaran kehidupan yang punya tak hanya pilu, haru bahkan sendu, tapi juga dengan pasti banyak tawa, canda, dan kebahagiaan dan petualangan seru.

Saat 30 atau 40 lari adalah tabu.

Saat 50 dan sampai kini 60, lari adalah the dream come true.

Saat 30 sepeda bagi saya adalah bingkai sepeda dan komponen indah, ringan dan mahal yang lebih banyak di elus- elus daripada dipakainya.

Saat menjelang 60an sepeda bagi saya adalah treadmil ajaib, yang tak mesti indah, ringan dan mahal, yang memenuhi kebutuhan cardio saya hari- hari, dan pada saat yang sama bisa mengantar saya kemanapun saya mau.

Benarkan ajaib? 🙂

Cinta saya saat muda adalah cinta yang malu- malu.

Cinta saya kini adalah cinta yang menggebu.

(Sama siapa hayoooo 🙂 )

Cinta saya akan hidup sehat, cinta saya untuk mengajak siapapun untuk juga berpola hidup sehat.

Cinta saya akan kota saya, yang tak dipungkiri masih dengan masalah yang tak sedikit. Tapi terus bergerak berbenah menuju ke kota yang lebih baik.

Cinta saya untuk terus bergerak, tak tinggal duduk manis berpangku- tangan sekedar menyaksikan apapun sekedar datang dan pergi, tanpa saya terlibat didalamnya.

Cinta saya untuk mengajak generasi setelah saya untuk sama seperti saya. Bergerak lintas batas, lintas pulau, sampaikan kebaikan, sampaikan apapun tentang kota. Kota yang sedang berbenah.

Pagi nanti, start di Pendopo, rumah dinas Kang Emil, jam 10:00, dengan sepeda yang saya desain sendiri, dibantu dan dibuat, dirancang didukung perjalanannya oleh teman- teman saya dengan penuh cinta dan doa, sejauh 400km, kearah barat jawa, melintasi selat sunda ke Lampung, adalah bentuk lain kado ulang- tahun saya ke 60 selain termos, misting makanan dan pullover saat saya kecil dahulu.

Selamat Ulang- Tahun ke Enam- puluh Saya..

Terimakasih teman- teman dan salam 🙂

Standard
cerita, tulisan

NYARIS SAJA.

Hujan lebat, selalunya mengingatkan saya akan suatu peristiwa naas yang menimpa salah satu penghuni rumah sebelah.

beberapa tahun lalu.

Sejak siang sampai adzan magrib berkumandang, hujan tak juga berhenti. Sebelumnya malah dengan angin kencang.

Saat melihat air diparit samping rumah, parit buangan kedepan, yang ‘luber’, saya segera ke depan. Pastimya tersumbat di salah- satu penggalan selokan depan rumah. Entah dimana. Karena sejak rumah paling timur sampai rumah kami( tiga rumah) selokannya terbuka. Setelahnya kearah barat nyaris tertutup.

Betul saja, air sudah penuh hampir rata dengan permukaan jalan.

Masuk kembali,keluar saya sudah siap dengan linggis, dorong apapun yang mungkin menyumbat.

Tiba2″ Om!! Jangan Om!. Ada kabel listrik yang jatuh ke selokan!”.

Walau agak temaram magrib, Saya mengenalinya sebagai salah- satu dari tiga atau empat Akang2 pemelihara taman rumah sebelah.

Rumah persis sebelah timur saya. Yang taman depan dan belakang rumahnya paling cantik sekomplek.

Seketika saya berhenti. Melihat keatas. Ya ada kabel yang jauh ke selokan. Tapi terlihat bukan dari tiang listrik, melainkan dari tiang telpon.

Artinya bukan kabel listrik tapi kabel telpon yg setahu saya tak beraliran listrik.

setelah yakin dengan apa yang saya lihat, alih- alih mau ‘sodok’ cari- cari yang menyumbat melalui salah satu bak kontrolnya, saya malah mau ‘pindahkan’ sang kabel yang menjuntai dan jatuh ke selokan dengan linggis saya.

“Om!!!!, Stop Om!!. Ini ada yg mati disini kena strom!!!”

Seketika saya lepas linggisnya.

Astagfirulloh.

Hujan dan angin kecang mendorong tiang listrik hingga kabel terputus.

Ujung satu entah dimana, ujung satunya lagi adalah yg jatuh persis diantara rumah kami.

Tak sengaja terpegang oleh salah- satu Akang pemelihara taman tadi, terlihat oleh dua lainnya, untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak, walau sudah dengan usaha keras dua temannya, Akang ini meninggal seketika. Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi Rojiun.

Kejadiannya berselang hanya tiga puluhan menit sebelum saya nyaris ‘bersentuhan’ dengan sang kabel maut.

Sang kabel maut yang saya kira kabel telpon, yang ternyata adalah kabel listrik yang terputus, jatuh dulu kekabel- kabel telpon, kemudian ke selokan.

Semoga almarhum diampuni segala dosa dan kesalahannya dan diterima disisi Alloh SWT. Aamiin YRA.

Standard
cerita

Saya Oh Saya..

Beruntung saya sadar bahwa saya memang pelupa. Jadi sejak semalam saya siapkan tak terburu. Cek cek & cek.
Setelah dirasa aman saya kembali menggantung di hammock tersayang.
Bada subuh saya mulai lagi perlahan. Cek cek & cek lagi semua. Rasanya lagi2 aman.
Tak ada yg tertinggal. Pesan go-jek, via kemacetan Cihampelas yg Na’Uzubillah menuju stasiun kereta- api Kebon Kawung.
Tapi karena sudah disiapkan cukup waktu, saya santai.
Sampai di stasiun, tak terburu- buru saya hampiri mesin otomatis pencetak tiket.
Alhamdullillah semua tertera dengan benar.
Masih 30 menit sebelum keberangkatan saya putuskan naik saja. Toh gerbongnya sudah ada.
Lagi- lagi2 santai saya tanya petugas, pastikan saya di rangkaian yg benar.
Tanya lagi sebelah mana gerbong 5 saya.
Alhamdullillah, hanya beberapa gerbong saya sudah sampai ke gerbong 5.
Naik perlahan, lagi- lagi dengan gagah dan penuh percaya diri saya masuk dan siap ke nomor duduk saya.
Santai dan pasti saya lihat.
Berulang- ulang.
Ternyata bernomor belasan. Saya masuk di pintu gerbong sebelah timur, mulai dari 1.
Ok berarti tadi salah masuk pintu.
Tak mengapa, sedikit jalan lagi, sampai keujung sekalipun bukanlah jarak yg tak berakhir.
Perlahan lagi saya menuju kearah depan.
1, 2, 3, 4 dan… lho nomor berakhir di 13 ABC. Hah????
Saya cek lagi, betul, saya lihat adalah nomor 18.
Cek cek dan cek lagi, tetap no 18.
Saya berusaha tenang. Mungkin mesin cetak tadi bermasalah. Atau petugas yang salah input.
Astagfirrulloh.
Tiba- tiba saya merasa menyesal. Lain kali berapapun dapat nomornya saya harus cek memang adakah nomornya.
Nasi sudah menjadi bubur. Mungkin lebih baik tambahkan cakue saja daripada dibawa pusing. Apalagi saya sedang batuk- batuk sesak.
Beruntung gerbong belum penuh. 1 2 hanya ber 7.
Saya masih termenung diujung gerbong dengan sisa sedikit penyesalan. Sebelum saya putuskan kembali ke petugas untuk masalah saya, tak sengaja tiket terlepas dan segera saya pungut.
Ya Alloh Ya Robbie Ya Rakhim, nomor saya tiba- tiba berubah menjadi IB..
Mata oh mata saya…
Salam selamat pagi, tut tut tut doakan semoga perjalanan kami menjadi kebaikan bagi kita semua. Paling tidak saya. Aamiin YRA
😊 #satuharisatutulisan #yuknaikkereta #menjelangenampuluh
Standard
design, event

IMPIAN YANG ( SEMOGA) TERWUJUD

Some people say “Two Wheels Good, Three Wheels Better” 🙂

Disebut sebagai posisi bersepeda paling nyaman, atau paling tidak lebih nyaman dibanding sepeda biasa beroda dua, Trike( roda tiga) berjenis recumbent dan tadpole ini juga adalah lebih aman dan mudah.

Posisi mengendarainya yang bersandar kebelakang( recumbent) lebih aerodimanis dibanding posisi pada sepeda biasa, yang malah melawan angin.

Titik berat yang jauh lebih rendah juga. Bandingkan posisi duduk recumbent yang hanya 25 – 35 cm dengan sepeda yang diatas 100 cm.

Tak diharapkan, bilapun terjatuh, dari ketinggian yang hanya seperempatnya sepeda biasa, pastinya ‘sakit dan luka’nya pun hanya sebagian dibandingkan sepeda biasa.

Ya kan? 🙂

Continue reading

Standard
event

SOME RUNNING IS GOOD, MORE IS BETTER, TOO MUCH IS JUST ENOUGH

Aki Niaki's photo.
Aki Niaki's photo.
Aki Niaki's photo.
Aki Niaki's photo.
Aki Niaki's photo.

Suatu waktu di 2012.
Idenya adalah berlari membelah pulau Jawa.
Start 5:30 sabtu pagi di Tongas, Pantai utara Pulau Jawa, Probolinggo.
Tak muluk bagi teman- teman lain, cukup muluk bagi saya, berharap finish dipantai selatan pulau Jawa di Mbambang.
Trek awal adalah aspal mulus menanjak dari ketinggian 0 mdpl, sepanjang 40an km sampai Cemorolawang di ketinggian 2200 mdpl.
Semua serba pertama kali bagi saya.
Menanjak yang tak henti- henti, alam yang berbeda. Yang pasti indah luar- biasa.
Tiba- tiba saja, Bromo dan lautan pasirnya dihadapan mata. Gagah dan indah sekaligus tiada tara.
Memang tak serta- merta membuat lelah dan letih yang teramat sangat tiba- tiba hilang tapi bagai suntikan obat dewa membuat kami bergegas melanjutkan lari- lari kami menghampiri Bromo dan lautan pasirnya. Yang seperti menanti kami dengan anggunnya.
Selanjutnya adalah Ranupane, tersasar beberapa kali, kedinginan menjelang magrib karena pakaian ganti yang terbawa porter entah kemana. Dan dikedinginan -minus 4 ° C Ranupane esok pagi harinya lanjut berlari dengan berselimutkan sarung dan handuk pinjaman pemilik penginapan. Tempat kami terpaksa bermalam.
Senin dini hari pukul 2:30 jika tak salah kami sampai dipantai selatan Mbambang.
Alhamdullillah.
Sedikit kisah yang sedikit banyak melatar- belakangi Perhelatan Lomba lari Trel Bromo Tengger Semeru setahun setelahnya, 2013 dan tahun- tahun berikutnya.
Tak sampai seminggu lagi adalah Perhelatannya yang ke empat. Mulai 4 November 2016.
Saya percaya, teman- teman penggagas, teman- teman penyelenggara akan bersungguh- sungguh, sepenuh hati dengan acaranya. Sejak persiapan sampai acara dan setelahnya.
Disamping tentu saja ditambah pengalaman- pengalaman mereka yang terus bertambah, menjadikan perhelatan BtsUltra2016 ini perhelatan yang semestinya.

Semangat! Teman- teman peserta,
Rasakan dan nikmati treknya, dikategori manapun. Di 30km, 70, 102 atau bahkan di 170km.
Tak banyak tempat lari- berlari di dunia yang menyuguhkan sekaligus trek kehijauan, tanjakan seperti yang tak berakhir, lautan pasir yang indah namun melelahkan, dan… godaan asongan ojek- ojek nakal yang merangsek lebih seperti memaksa dibanding menawarkan.
Dikeheningan dan kegelapan Bromo Tengger Semeru.
Hanya Tuhan dan nurani yang tahu.
Semangat! Teman- teman penggagas dan penyelenggara.
Jadikan perhelatan ini perhelatan apik tak terlupakan.
Terimakasih Kang Hendra Wijaya, Bang Nefo Ginting, Bang Hendricus Mutter, Kang Jeffri Ricardo, Kang Rudy Rohmansyah, Bli Nyoman Suka Ada, Mas Data Pela, Kang Eja, Mas Ladi dan banyak lagi. Mohon maaf jika terlewat.
Doa terbaik saya untuk BtsUltra2016.
Salam 😊

Standard
event, Jalan- jalan, tulisan

CIHAPIT TAK LAGI ‘SEMPIT’

screenshot_2016-10-19-14-21-39-1

Apa yang ada dalam ingatan mendengar Cihapit?
Nama Pasar? Nama Jalan? Pasar loak jalanan?
Bagi saya, tahun 69an, usia sekolah kelas 6 SD adalah juga tempat saya menjual pakaian bekas saya yang sudah kekecilan untuk kemudian dipakai membayar sewa naik kuda di jalan Ganesha ITB.
Tempat saya setahun sekali membeli tas sekolah, usia sekolah smp sma  disalah satu toko sisi luar pasar Cihapit.
Salah- satu toko kota bandung yang barang- barangnya bagi saya selalu terbaru pada jamannya.
Surga kuliner puluhan tahun, dari nasi rames Ma Eha, yang konon seorang Bondan Winarno saja sampai tiga kali gagal mencicipinya karena selalu kehabisan.
“Kurang pagi datangnya Kang..” 😀
Lotek cihapit, gorengan cihapit, sampai awug. Penganan khas Jawa barat, berbahan tepung beras, gula merah, garam dan parutan kelapa dengan cara dikukus.

screenshot_2016-10-19-14-25-48-1

Surga pencinta buku- buku lama,cassette atau piringan hitam lagu- lagu lama musisi- musisi bandung, nusantara dan mancanegara era non digital. Anda generasinya Dara Puspita, Zainal Combo? Siapa tahu beruntung.

Car audio mahal di toko asesoris mobil? Datang ke jalan Cihapit. Tukar- tambahpun dengan senang- hati 🙂

screenshot_2016-10-19-14-27-11-1

Mundur lagi jauh kebelakang, Cihapit adalah lingkungan hunian yang dibangun belanda dengan konsep lingkungan sehat. Komplek perumahan lengkap dengan pasar, pertokoan,taman dan ruang terbuka.

Tak heran jika 1920 Cihapit mendapat predikat Contoh Lingkungan Pemukiman Sehat kota Bandung. Dihuni oleh golongan menengah pribumi dan belanda.

Jaman kelampun dialami Cihapit.

screenshot_2016-10-19-14-29-03-1

1942 – 1946, masa pendudukan Jepang, komplek perumahan Cihapit dijadikan interniran.

Kamp konsentrasi tawanan wanita dan anak- anak  pribumi dan belanda.

screenshot_2016-10-19-14-28-02-1

Cihapit sekarang Alhamdullillah masih surga kuliner, buku- buku, lama, cassette lagu- lagu baheula dan barang- kelontong lainnya.

Dan Toko TIDAR jalan Sabang  yang legendarispun masih ada.

Berdiri 1960, yang semula hanya menjual buku dan stationery, 1970 mengkhususkan ke kelengkapan Seni dan desain.

screenshot_2016-10-19-14-25-02-1

Cihapit, pasar Cihapit kini, giat berbenah menuju  Pasar Rakyat yang ramah lingkungan, bersih, ‘nyaman’ dan humanis di kota Bandung.

screenshot_2016-10-19-14-22-36-1

Saya melihat kesungguhan pengelola dan masyarakat pedagangnya berusaha kearah sana.

Sedikit ornamen ditambah disana- sini. Tak gemerlap tapi tak juga gelap.

Berlantai keramik tak lagi pengunjung harus berbecek- becek.

screenshot_2016-10-19-14-24-11-2

Pasar rakyat tak lagi sekedar tujuan belanja asal murah. Pasar rakyat yang bisa kembali menjadi pasar tempat berinteraksi. Tak sekedar tempat belanja, tapi talkshow dan pagelaran musikpun siapa takut?

Penasaran? Yuk ameng ka Pasar Cihapit 🙂

“nyaman’? Ohya, saya masih berharap semua hal baik- baiknya akan ditambah dengan “bebas asap rokok” dan parkiran sepeda 🙂

Sumber: https://komunitasaleut.com/2012/03/01/cihapit-surga-dan-masa-yang-kelam-bandung/

http://www.thejakartapost.com/news/2010/07/25/tidar-a-onestop-art-and-design-shopping-destination.html

Standard