adventure, bacaan

60 Adalah 60. Bukan 50 atau 40, apalagi 30

 

Why 60 is SOOO Not The New 40 – The Huffington Post.

“Saat 30 atau 40 lari adalah tabu.

Saat 50 dan sampai kini 60, lari adalah the dream come true”.

———————————–

“Cinta saya saat muda adalah cinta yang malu- malu.

Cinta saya kini adalah cinta yang menggebu”.

————————————

Agak berbeda dengan tradisi pada tanggal- tanggal kelahiran teman- teman usia sekolah SD; termos, misting makan, baju- baju hangat atau pullover adalah benda- benda yang kerap saya terima ditanggal- tanggal saya. Kado ulang- tahun saya dari Mmak dan Bapak.

Kadonya pengidap asma dan bronkhitis. Yang tak boleh kedinginan dan minum yang harus hangat 🙂

‘Nasi tumpeng’nya sup ayam dan perkedel kentang.

Waktu berlalu, jaman berganti, seragam sekolah sudah berganti putih dan biru, asma tak juga kunjung pergi.

Hari- hari tetap dengan kemunculan asma sekali- sekali. Tapi tak menghalangi aktifitas bermain saya. Bahkan semakin menjadi- jadi.

Saya yang semula tak boleh/ bisa bermain, masa- masa sekolah adalah masa- masa penuh dengan bermain dan pergi- pergi. Atau barangkali kata ‘nakal’ lebih tepat 🙂

SD, bersama kakak tertua dan paman, saya kerap sudah berjalan kaki dari slipi ke Senayan demi menonton pagelaran musik atau hiburan apapun lainnya.

SMP, tiduran dengan berpegangan pada besi pinggiran rak barang diatas bus Cirebon – Pangandaran bukan lagi hal aneh bagi saya.

SMA, bersama tiga sahabat- sahabat, Cirebon sampai Bali, nyaris tak berbekal apapun, menumpang berdiri berpegangan diruang sempit lokomotif uap, truk sayuran dan apapun yang serba ‘menumpang’.

Masa- masa kuliah saya diantaranya adalah masa- masa pungut- pungut sepeda atau barang- barang bekas atau sedikit rusak, yang saya coba perbaiki semampu saya, yang kemudian saya jual dengan harga mahasiswa keteman- teman kuliah atau tetangga.

Eh hidup ternyata tak hanya sesak dan batuk- batuk asma 🙂

Hidup saya yang pernuh warna. Hidup saya tak hanya kumpulan dari potongan- potongan kisah ‘tak boleh kemana- mana’, diam dirumah mencoba bernafas dengan usaha keras, tapi juga teman bermain dikomplek tempat tinggal dan hampir dibanyak kampung tetangga. Dan petualangan petualangan seru didalamnya.

‘Masa Kecil Kurang Bahagia’ tak tepat bagi saya. Ya kan?

Masa- masa dewasa, pun adalah masa- masa penuh dengan ‘petualangan’.

Usia boleh bertambah. Petualangan demi petualangan bukan berkurang eh koq malah tak sudah- sudah.

Semangat saya untuk tetap bergerak tak pernah kunjung berhenti. Semangat saya untuk tetap melakukan aktifitas sehat, agar keinginan saya untuk lebih banyak tahu ini- itu, melihat dan merasakan indahnya negeri ini, bisa saya lakukan selama yang saya mampu.

Hidup saya adalah petualangan. Setiap bepergian saya adalah petualangan. Sedekat atau sesingkat apapun.

Pergi bukanlah sekedar berpindah dari satu tempat ketempat lain, dengan hanya dua titik lokasi pergi dan sampai. Tapi juga adalah rentang waktu dan pengalaman diantara keduanya.

Sebentar lagi Inshaa Alloh akan ada ucapan- ucapan selamat yang menghibur. Diantaranya adalah. ” Selamat ya Kang. Tetap semangat! 60 is the new 40″.

Terkesan seperti walau sudah 60, dengan apa’ apa yang tak lagi seperti 40, tapi sama bahagianya koq.

Terimakasih Teteh- Teteh, Akang- Akang 🙂

Tapi saya lebih menyukai ” 60 adalah 60″. 40 tentu saja indah. Apalagi 30.

Tapi 60 saya pun punya indah dan menariknya sendiri.

Kapanpun lembaran tahun kehidupan saya yang lalu- lalu, adalah lembaran kehidupan yang selalu saya nikmati. Dengan sekian duka dan suka yang tak pernah saya sesali.

Tapi saya tak ingin kembali ke 50, ke 40 atau bahkan 30.

Saya tak ingin kembali menjadi 50, 40 atau bahkan 30 tadi.

Lembaran setiap angka tahun adalah lembaran baru. Lembaran kehidupan yang punya tak hanya pilu, haru bahkan sendu, tapi juga dengan pasti banyak tawa, canda, dan kebahagiaan dan petualangan seru.

Saat 30 atau 40 lari adalah tabu.

Saat 50 dan sampai kini 60, lari adalah the dream come true.

Saat 30 sepeda bagi saya adalah bingkai sepeda dan komponen indah, ringan dan mahal yang lebih banyak di elus- elus daripada dipakainya.

Saat menjelang 60an sepeda bagi saya adalah treadmil ajaib, yang tak mesti indah, ringan dan mahal, yang memenuhi kebutuhan cardio saya hari- hari, dan pada saat yang sama bisa mengantar saya kemanapun saya mau.

Benarkan ajaib? 🙂

Cinta saya saat muda adalah cinta yang malu- malu.

Cinta saya kini adalah cinta yang menggebu.

(Sama siapa hayoooo 🙂 )

Cinta saya akan hidup sehat, cinta saya untuk mengajak siapapun untuk juga berpola hidup sehat.

Cinta saya akan kota saya, yang tak dipungkiri masih dengan masalah yang tak sedikit. Tapi terus bergerak berbenah menuju ke kota yang lebih baik.

Cinta saya untuk terus bergerak, tak tinggal duduk manis berpangku- tangan sekedar menyaksikan apapun sekedar datang dan pergi, tanpa saya terlibat didalamnya.

Cinta saya untuk mengajak generasi setelah saya untuk sama seperti saya. Bergerak lintas batas, lintas pulau, sampaikan kebaikan, sampaikan apapun tentang kota. Kota yang sedang berbenah.

Pagi nanti, start di Pendopo, rumah dinas Kang Emil, jam 10:00, dengan sepeda yang saya desain sendiri, dibantu dan dibuat, dirancang didukung perjalanannya oleh teman- teman saya dengan penuh cinta dan doa, sejauh 400km, kearah barat jawa, melintasi selat sunda ke Lampung, adalah bentuk lain kado ulang- tahun saya ke 60 selain termos, misting makanan dan pullover saat saya kecil dahulu.

Selamat Ulang- Tahun ke Enam- puluh Saya..

Terimakasih teman- teman dan salam 🙂

Standard
adventure

Hidup Hanya Sekali, Yuk Gowes Yang Jauh Sekali- Sekali :-)

screenshot_2016-09-21-06-01-55-1

Menggantung dibawah atap Saung di Pantai Sawarna

Hujan dan angin kencang semalam sempat membuat saya lebih mengkhawatirkan ambruknya saung ketimbang  terjatuh dari hammock.
Alhamdullillah saung yg hanya berstruktur balok2 kayu kecil dengan atap rumbia yg sudah tak lagi tampak bagus kokoh berdiri. Dan tak kurang pentingnya lagi tak bocor.

Menjelang magrib Hammock saya  pasang didalam saung. Khawatir jika hujan. Sementara memang belum saya lengkapi dengan Tarp atau Flysheet. Kap berbahan tenda berbentuk segi empat atau belah ketupat, sebagai pelindung hujan.
Dibentang diatas tali( tak mesti prusik 7mm, bisa yang lebih kecil). Keempat ujungnya ditarik ketanah dan dipasak.

Saat cerah Hammock saya gantung pada salah- satu kolom saung dan pohon terdekatnya.

screenshot_2016-09-20-07-43-01-1

Hari ini saya rencanakan kembali ke Bandung dengan menumpang mobil bak, truk atau apapun.

Gowesnya saya cukupi Bandung – Sawarna saja. Kembalinya? No thanks 😊

Cukup sekali merasakan tanjakan- tanjakan neraka Sawarna. Entah jika kapan- kapan lagi..

Continue reading

Standard
adventure

Eiger Solo Tent. Vagabond

IMG_0189 IMG_0188 IMG_0187 IMG_0184

 

Berbahan

Fly : 190T Polyster PU 3000mm
Inner : 190T Breathable Polyster & Mesh
Floor : 210D P/OXF PU 5000mm
Pole : Fiberglass flash-touch pole system/Alu,

Berukuran terpasang 230x[40+80+40]x90cm,

dalam kantong kemasan bergaris tangah 15cm, panjang 70cm.

Dan berat tak sampai 2 kg  tenda tipe Dome ini  tak sulit dibawa saat rideNfly. Saat di pannier sepeda atau dibawa masuk ke kabin pesawat.

Nyaman untuk sendiri. Darurat berduapun bisa 🙂

Kuat dan mudah dilepas/ pasang.

Sebelumnya selalu saya bawa kemanapun pergi yang harus menginap.

Saat lebih dari dua orang dalam satu kamar hotel, semisal ramai- ramai  di satu acara lari- berlari,  saya lebih memilih memasang Vagabond ini dalam kamar dibanding tidur di salah- satu bednya.

Numpang menginap di handai- taulan? Sama, saya lebih suka pasang sang Vagabond disalah- satu sudut ruang atau bahkan di halaman rumah sang pemilik rumah daripada merepotkan disiapkan khusus satu kamar untuk saya.

Salam gowes dan camping 🙂

 

 

 

Standard
adventure, biking, cycling, gowes, Jalan- jalan, sepeda, trip, tulisan

Bandung Mentawai RideNFly

 

BikeFlyBikeRumah-Hussein

 

A friend called me the other day, right before Isya. he asked me to go to Mentawai. Which is one of my few dream destinations. It’s not really that far but who hasn’t heard about Mentawai. It’s an island located in the Western part of Sumatra, with its traditional Mentawai tribe inhabitants. Which some may still have animism as their belief. With a canoe-like boat as their method of transportation. One of the most beautiful beach in the world where you can surf, snorkel dan even fishing. Wit its white sandy beach.
More than half of its animal population are endemic. Such as Joja or Mentawai Langur (Presbitys Potenziano), which is a unique species of apes, where they either live in pairs or in a more complex harem group.
Another one is Bokkoi or Kloss Gibbon (Hylobates Klossii) the most primitive kind of gibbons which ironically has a nice voice…or noise, more likely.
With its short and stubby nose and a pig-like tail and two colored body, the Simakebu or Snubnosed Langur (Simias Concolor) is a fast-growing kind of ape.
The event itself is a training for 40 of Mentawaian students who are aspiring to be travel guides. It is an event held by both Mentawai Tourism Board and one of Bandung’s School of Hospitality.
They took this event seriously, not only from the Tourism Board, the Regent himself came all the way to Bandung. They determine to make full use of its tourism instead of only relying in its oil palm produce.
Where do i come in in the picture? My background is in architecture, particylarly home and resort designing. And running of course.
We were planning on staying for a week. The training itself only went for 3 days. we spent most of the early days on travelling. And it should be noted that Mentawai doesn’t only offer pretty waves to be surfed on. Mentawai isn’t only about the traditional people.
We departed by the start of June. My 2 lecturer friends went on a Jakarta-Padang roadtrip for two days because they didn’t want to spend a lot of time in Padang.
As for myself, i’ve been planning to go Bike-Fly-Bike for this trip. I don’t know what the correct term yet, but i’ll keep using it for now.
I bike daily so i’m getting pretty used to it by now so it wasn’t that hard for me to bike all the way from home to the airport. I went for a Bandung-padang flight. I didn’t bring a lot of stuff because i wanted to stay fuss-free during this trip. I used a light daypack. I also didn’t use any bigger bags like that of a pannier. While with Pannier you can store them on the small storage by the wheels. I use a 12 l of daypack.
Unlike what i usually do, where i only pack a couple of short and jerseys for a 7 days biking, i also brought along a trouser and short sleeved shirt while still leaving enough space in the daypack for my gadgets.
I biked from home to the airport and then continued from Padang airport to…pretty much anywhere we were going.
One of the perks of going on a bike is that no traffic will ever be a problem for you. Not to mention it was only 7 km from my house to Bandung airport. So i didn;t have to wake up too early for my flight.
It only took me about 30 minutes to get to the airport. I have an hour to pack up my bike with a wrapping plastic before my flight for me to put into the baggage. I used wrappingplastic because it’s inexpensive and practical. Plus it’s available in every airports. I walk my bike when i’m in the airport. Just make sure to the security person that you will put them in the baggage later. Dismantle the two wheels and then deflate them because their policy doesn’t allow anyone to store inflated things up in the air. And then the two wheels are ready to be wrapped. And then the frames were also wrapped separately. I didn’t take out anything else other than those wheels, except for my camera stand.
My biking days are filled with documented videos and photos. Be it Bandung city views or its more less visited corners.I just rasfered it to my smartphone and then upload them.
I walked my bike all the way to security check while still making sure that the wheels are going to wrapped and put in the bagage. Thankfully they gave me no trouble at all. They even helped me putting it into the baggage, so helpful.
My 48 sized roadbike cost about under Rp. 5.000.000, i wasn’t worry about it. Would’ve been a whole different problem if it cost a whole lot more.
It’s actually safer with a pastic wrap compared to when you use it in a bike box. where people would mistake it for any other box and treat it with no care otherwise.
The wrapping plactic is divided into two, for the complete frame and then the 2 wheels is being wrapped as one. The wrapper is pretty handy when they did it, carefully packig all of the parts and then sealed it with a masking tape.
It only cost about Rp. 100.000 for both wrappings and only weighed about 11,7 kg which is under Lion Air’s 20 kg limit.
Lion Air and Express Air doesn’t charge any extra baggage for the bike, they considered it as the baggage. Garuda wouldn’t even charge us for any sporting equipments. Bikes included of course. Whereas Air Asia would charge us for extra.
With online reservation it went like:
-Domestic for up to 15 kg: Rp. 135.000
-Domestic for up to 20 kg: Rp. 150.000
Domestic for up to 25 kg: Rp. 180.000
Domestic for up to 30 kg: Rp. 240.000
Domestic for up to40 kg: Rp. 390.000
While it would cost more at the airport counter. It’s Rp. 300.000 for up to 15 kg.
The general requirments for you to store your bike in the baggage is:
-1 bike per person
-The bar is positioned along with the frame.
-The pedals need to be dismantle and then wrapped.
-Same goes with the gears.
-The tires need to be deflated.
-Take off the mudguards and then wrap it.
-The pumps, water bottle and other small stuf need to be safely put on the frame.
Not that hard right?
I’ve googled about Sumatran islands way before i went on this trip. We’ve had numerous events in Java, trail runnings in particular.
We’ve only been to Kerinci in Sumatra for these kinds of events. Which is one of the 7 mountain tops in Indonesia. Who knows, in the future Mentawai would be famous not only for its beach destination, but also for the nature trail run.
Alhamdulillah, it didn;t take us too long for finally boarding.
A friend remined me to take up the seat near the window so that i gaze upon the small islands when we land.
But as usual, i forgot to take the seat near the emergency door exit. Thankfully the seats weren’t full so i can just change seat to whichever one i wanted. Alhamdulillah.
We landed before mid day.
I told everyone i was going to bike from the airport so noone needed to pick me up. It didn’t take me long to fetch my bike from the conveyor belt and inflated the tires back on the spot. It was quite a spectacle to say the least. Before you knew it, i was already on my way from the airport. Don’t forget to throw all of the wrappings in the trash bins.
The second day, on Tuesday morning, we were already ready in the dock. My friends got dropped of by car, while i of course, biked all the way. It was only 2 km from the hotel to the dock. Easy peasy. We had lontong sayur Padang for breakfast, which is a tasty local delicacy of rice cake and vegetable curry.
We got in the boat at 7. I stored my bike on the upper deck and then tied it to be safe.
The boat ride cost about Rp. 250.000 per person. The Mentawai Fast boat could fit in about 200 passengers. And goes for 50 km/h. Pretty fast that it only took us 6.5 hour to go from Siberut-Mentawai. WIth a 2 hour stop at Sikabaluan, Mentawai.
The waves were gentle. Can’t wait to see a real wave, the ones in southern part of Siberut, which many considered as the prettiest. As well in Roniki Island, Karangmajat, Mosokut, SIbege, SIbarubaru dan some other places.
The waves are also sort of uniquely named. Waves like Ombak Ular Left, Ombak Tikus Left, Beach Break Left & Right, and Bang Bang Left, etc.
The Mentawai Fast boat was pretty clean. And most importantly all of the rooms are non smoking rooms. Alhamdulillah.Since i quit 20 years ago, i’ve grown no tolerance for cigarette smokes. I’d have asthma even when i inhale them.
Mentawai Fast doesn’t allow any passenger to go to the upper deck. The deck is opened, except for the one in the far back which has a roof but is opened on the side.
Which is suitable for them who can’t go on a day without smoking, Or those who has sea sick. Fortunately the other decks are comfortably air conditioned.
From the Muara Padang deck we took a short stop at SIkabaluan, Mentawai. We waited for 2 hrs for the passengers from here.
It tool 1,5 hrs from Sikabaluan-Muara Siberut.
The waves were still gentle, not unlike those of river, eventough it’s already in the sea. The weather was typical island hot.
The Mentawai island is surrounded by tropical rain forests. From the primary forest, mixed primary forest, to the swamp forest. Each islands with its own flora.
Mentawai is the traditional life of its inhabintans. Also has the oldest tattoo tradition in the world. I am especially interested in their plan of only relying on its tourism and not on its palm oil export anymore. I instantly said yes when the offered to take a sight-seeing trip. 
For them to compeletely maximize the tourism they need to fix their infra-structure elements first. The road needs to be well travelled, same goes with the road lights and electricity throughout the island.
As of today the only communication access is only available in the island’s capital region, Sipora Island, on the Southern part of Siberut Island, the biggest island in Mentawai.
Some location in Siberut are already facilitated with communication access.
As for the road, it was indecent to say the least. The concrete were holed and many were damaged and the road could only fit 2 cars from the opposite directions. The rest could only fit for 2 wheeled vehicles.
But a lot can be done to set itself as the cleanest tourism destination while waiting for them to fis the infra-structure elements. Clean and Bike-friendly Mentawai could be the main tourism destination in the country. Not to mention with many of its beach focused events, like surfing, running and biking.

So that’s it from me. See you at another RideNFly, in Malino, Bira Beach South Sulawesi.
With Pannier in the back on each sides of course.
See you then.
 

 

Standard
adventure, gowes, trip

RideNFly.. Gowes Ke dan dari Bandara

BikeFlyBike2

Flying with a bike or flying with a bicycle in a plastic wrap or..

menjadi menarik sekali ketika gowes bisa juga dilakukan ke dan dari bandara.

Idenya adalah gowes dari rumah ke bandara. Dan dari bandara tujuan kembali gowes ke.. manapun tujuan kita.

PlasticWrapping1

Plastic wrapping yang ada di hampir semua bandara.

Beruntung hal ini bukan kekhawatiran saya.

Polygon, Helios F1, yang saya peruntukan untuk transportasi hari2 saya di Bandung.Seharga dibawah IDR. 5.000.000,-

Bawaan adalah 1 buah backpack 25 liter. Cukup untuk setelan ganti selama 1 minggu. (dominan jersey, t-shirts & shorts). Backpack yang masih nyaman dipakai dipunggung atau di tas sepeda belakang.

BikeFlyBikeRumah-Hussein

Trek rumah ke bandara.

Tentu saja kita melupakan penggunakan hardcase yang besar dan mahal tersebut.

BikeFlyBikeBongkar

Bongkar plastic wrap di bandara tujuan.

Syarat lain? Bisa jadi sepeda yang relatif tak mahal adalah salah- satu syarat disini. Tentunya kita tak ingin kenyamanan terbang kita terganggu dengan perasaan khawatir ‘rusak’, ‘tergores’nya sang sepeda.

BikeFlyBikeNgurahRai-SunsetRoad

Trek Bandara ke tujuan dikota.

1. Pastikan bahwa maskapai kita memang memperbolehkan membawa sepeda kedalam bagasi secara seperti ini.Dibungkus hanya dengan plastic wrap yang umum ada di bandara.

Pengalaman dengan 3 maskapai penerbangan lokal, Lion Air, Bandung – Denpasar pp, Express Air, Bandung – Padang. Dan terakhir Garuda Indonesia, Padang – Bandung. Lancar dan berjalan mulus sekali.

Garuda, yang membebaskan bagasi berupa kelengkapan olahraga, tak ada yg harus dilakukan khusus. Bagasi seperti sepeda kita ini dengan sendirinya sudah tak dihitung beratnya.
Lion Air memperhitungkan sebagai bagasi biasa dgn maksimal 20kg. Selebihnya dianggap kelebihan bagasi biasa dengan harga tertentu.

Express Air, sama dengan Lion Air.
2. Lepas kedua roda, plastik wrap menjadi satu.

3. Jangan lupa! Kosongkan udaranya terlebih dahulu. Lebih jangan lupa lagi bawa pompanya.

BikeFlyBikePompa

4. Bagian2 yg sebaiknya diberi tambahan pelindung( melindungi bagian2 yg dimaksud dan melindungi bagasi orang lain dari sepeda kita).

– RD, hub, kedua tuas rem, pedal.

Dengan karton atau gulungan2 plastic wrap.

5. Siap di plastic wrap.

Selamat ber RideNFly 🙂

BikeFlyBike

Siap gowes dari bandara ke..manapun dikota tujuan 🙂

Standard
adventure, berbagi, Jalan- jalan

Membuat Rute You Gowes

Membuat peta( course) gowes di Garmin.

ConnectGarmin

Menarik sekali, melihat di peta( google maps atau lainnya), mengira- ngira trek mana saja yg bisa dilalui sambil gowes.
Dan setelahnya memindahkan ke gear( smartphone dgn berbagai aplikasinya).
Selanjutnya yuk gowes dengan mengikuti peta yg sudah ada di gear kita.
Atau salah- satunya adalah dengan jam gps  garmin.

Kita mulai dengan buka https://connect.garmin.com
Jika belum punya, sila buka dan buat akun gratisnya.

GarminConnectGarminCover
Fitur perencanaan rute kita ini namanya Course Creator.
Sekedar membuat rute dan membagikannya secara online tak mesti memiliki jam gps garmin.
Lebih baik tentunya jika ada 🙂
Seperti saya tulis diatas, yuk gowes dengan mengikuti  rute yg sudah tersimpan di jam gps garmin kita.

Ok kita mulai.
Klik di tab Course maka akan tampak peta secara detil.

Klii lagi di “Create a new course” di kanan atas peta.

GarminCreateaCourse-picsay
Seperti yang kita lihat tinggal besar- kecilkan peta, klik klik & tarik/ seret sana- sini ke lokasi start yg diinginkan.

GarminCreateaCourseDeui
Selanjutkan dengan klik- klik berikut menentukan lokasi2 mana saja yg ingin dilalui.
Centang kotak “stay on roads” jika diinginkan untuk tetap mengikuti trek/ rute di jalan.
Pilihan “out and back” untuk rute berangkat dan kembalinya.
Merubah Rute.

Merubah rute bisa dilakukan kapanpun.

Tinggal tarik/ seret rute dimanapun kita ingin inginkan. Semisal semula adalah melalui titik lokasi A, ingin merubah melalui titk B maka tinggal klik & seret titik A ke B. Mudahkan? 😉
Beri nama dan simpan rute yg sudah dibuat. Jika diinginkan bisa dimasukan perkiraan target kecepatannya.
Selanjutnya kotak2 info lain akan terisi dengan sendirinya. Mengacu kepada jarak.

UpiPrwkrta

Rute kita yang sudah jadi. Dengan petunjuk km, yg bisa dihilangkan jika diinginkan.

Info elevasi pastinya sangat membantu untuk penyuka maupun pembenci tanjakan 🙂

Ekspor dan berbagi rute.

Rute yang kita simpan, sesuai setting kita, apakah tertutup atau tidak, bisa kita bagikan ke pengguna lain.
Dan lagi2 seperti yang saya tulis diatas, bisa kita simpan, kirim ke jam gps garmin kita.

Cukup dengan klik kotak “Send to device” hop! Rutepun siap di pergelangan atau duduk manis di bar sepeda kita.

GarminFenix2UpiPrwwkrtaGarminFenix2RuteRute

Sebelumnya tentu saja sang jam gps garmin kita sudah terhubung ke kompi di usb.

GarminSen2Device

Selamat Beredar Tanpa Nyasar 🙂

Sumber: http://gps.about.com/od/gpsmapscharts/a/How-To-Garmin-Connect-Course-Creator.htm?utm_term=best%20maps%20for%20cycling&utm_content=p1-main-7-title&utm_medium=sem-sub&utm_source=msn&utm_campaign=adid-6810a049-9c1f-417c-ab6b-9abc61197f9f-0-ab_msb_ocode-29583&ad=semD&an=msn_s&am=broad&q=best%20maps%20for%20cycling&dqi=&o=29583&l=sem&qsrc=1&askid=6810a049-9c1f-417c-ab6b-9abc61197f9f-0-ab_msb

Standard
adventure, event, inspiration

Percuma Teriak- Teriak Di Sosmed Juga, Ga Kan Didengerin..

6633

courtesy of wwwdot6633ultradotcom

8 manusia- manusia gilak, penamat lari dikutub utara. Sejauh 533km. Dengan batas waktu 191 jam.

salah- satunya adalah Hendra Wijaya, Indonesia. Kedua dari kanan..

Pagi ini ada yg sms saya, berbaik- hati menawarkan diri, membantu, agar keikut- sertaan kita di lomba2 ultra dunia bisa dibantu/ dibiayai  pemerintah( kemenpora).
Kata beliau( yang juga mengaku punya kedekatan dengan siapa2 dipemerintahan), percuma buang ongkos mahal2, teriak2 di sosmed, ga kan didengerin pemerintah.
Saya balas pendek saja.
Kami lakukan ini semua, sebagian yg turut serta diberbagai kejuaraan dluar- negeri, berlari- lari mulai sendiri, beberapa sekedar suka2, sampai di lomba2 tanah- air, justru karena memang sudah tak didengar, jadi ya kami lakukan semampu- mampu kami, memajukan dunia lari trel tanah- air.
Lebih baik ngesot perlahan tapi pasti dengan kemampuan kami apa adanya, daripada mungkin saja wus wus wus tapi harus mengemis- ngemis, merengek- rengek minta diongkosin/ dibantu.
Beruntung orang luar malah yang lebih punya perhatian.( Eh ternyata panjang deng balasan saya 😛 )

Tambahan dari saya. Aneh ya, jaman segala informasi bisa didapat dengan sekedar sentuhan jari, pemerintah koq ya seperti kesulitan menemukan potensi yg ada. Tak usah bicara ‘ menciptakan’.

Saya tak sedang mendewakan siapapun teman2 saya atau mengagungkan Lari Trel Tanah- air.
Tapi tak bisa saya pungkiri, mereka ini luar- biasa.
Demi majunya lari- trel, yang satu tak sungkan2 menghabiskan biaya dan waktu yang tak sedikit.
Lainnya lagi berlatih giat, mengadakan lomba sampai patungan untuk bisa turut ambil bagian di lomba2 tanah- air maupun mancanegara.
Beberapa lomba sudah diakui dunia. Beberapa pelari sudah  juga menjadi penamat, bersanding dengan penamat-2 luar- negeri.
Dua tahun lalu ‘sulit’ mendapatkan peserta. Kini, rasanya ‘tak mudah’ atur lomba mana yg akan diadakan atau diikuti.
Padahal lari- trel tanah air belumlah seusia kebanyakan negara2 lain.

Luar- biasa pertama.

Alam indonesia yang luar- biasa.
Lari trel bisa dilakukan dimana saja.  Lari trel tak mesti lari gunung. Di pantai. Bahkan dikebun tetangga 🙂
Begitu pijakan bukan lagi aspal atau sejenis, ya sudah lari trel namanya.
Kenyataan bahwa kita punya gunung yg banyak sekali , menjadikan lari trel tak jauh2 dari gunung. Paling tidak lerengnya.
Negara tetangga, saking sedikitnya punya gunung, bukitpun disebut gunung.
Nah kita, saking banyak gunung, gunungpun sering disebut bukit.

Luar- biasa yang kedua.
Juga bisa dilakukan siapa saja. Penduduknya yang super banyak. Cukup 1% saja yang melakukan, se asia tengggara habis diborong.

Luar- biasa yang ketiga.
Kapan saja. 365 hari dalam setahun, tak terputus musim ini itu.

Artinya potensi luar- biasa kita, bisa berkiprah dikancah dunia.
Sudah pasti menjadi daya tarik wisata mancanegara.

Gambarannya.
Siapapun yg akan ikut di UTMB( salah- satu lomba lari trel ultra bergengsi dunia. 170km, melintasi 3 negara. Swiss, Itali & Perancis), harus mendapatkan 8 poin. Yang didapat dari keikut- sertaannya di lomba2 dimanapun yg sudah mendapat kualifikasi UTMB.
Sudah ada beberapa lomba dunia yg mendapatkan kualifikasi yg dimaksud.
Dimanapun selain di Indonesia.
Nah sekarang sudah ada 5( lima) lomba tanah- air yang sudah mendapatkan kualifikasi ini. Mulai dari 1 poin sampai 4 poin.
Dipastikan akan menyusul beberapa lagi yang akan mendapatkan kualifikasi UTMB ini.
Artinya, besar kemungkinan lomba2 tanah- air menjadi pilihan utama untuk mendapatkan poinn2 ini. Ya ga sih?
Coba pikir.
Alamnya ya ampun okeh pisan.
Ongkosnya, jika pun bukan yang termurah, pasti tak lebih mahal.
Medannya? ( Biasa, bagi kaum pelari2 trel gilak, semakin hardcore medannya semakin maknyussss), jangan tanya. Terkadang setelah melihat merasakan medan di kita, ditempat lain bisa- bisa terkesan seperti Disneyland 😉

Selamat siang, selamat hari senin 🙂

Standard
adventure, cerita, inspiration

Hendra Buitenzorg

6633ultrahwfinish

Hendra Buitenzorg.
saya lupa tepatnya, rasa2nya pertengahan 2010.
Tak berhasil menemuinya di kesempatan pertama, saya sengaja berlari dari Bintaro ke Bogor hanya ingin bertemu beliau, saya ulangi di bulan berikutnya.
Alhamdullillah akhirnya. Setelah menempuh jalur tengkorak Depok, parung, Bogor, sepiring besar kepiting saos padang, udang dan ikan bakar, habis saya lalap bersama beliau. ehem, maksudnya, saat itu saya lebih banyak.
Beberapa bulan berikutnya, beliau ajak saya berlari di Tangkubanparahu.

Batur
Jadi, ini adalah kali pertama saya berlari bersama beliau.
Yang semula saya kira adalah start di Jayagiri, muncak, lantas lanjut muncak Burangrang, ya hampun, menjadi start kota di jalan Sukajadi, naik ke Tahura, Maribaya, Lembang, Masturi, terus kearah barat, Cisarua, muncak Burangrang, turun, cari2 akses ke Tangkubanparahu.
2 jam pun berlalu hanya untuk cari2 jalan kepuncak, dari arah sisi Burangrang.
Mau nangis rasanya.
Sebelumnya saya sudah beberapa kali lari2 jauh. Sendiri.
Berdua? Dan dengan beliau?Ampun, aslinya neraka.

Rinjani
Coba bayangkan.
Setiap ada warung, saya pikir kami akan berhenti minum. Saya ya. Beliau?
Ternyata dia sudah siapkan beberapa lembar 5an ribu, lipat2 kecil.
Setiap ada warung dan perlu minum, cukup simpan lipatan 5an ribunya,ambil botol air kemasannya. Lanjut.
Saya? Sudah ketebak kan?
Hah heh hoh. Duduk dulu. Minum, ngemil,beberapa menit baru lanjut.
Gusti Nu Maha Suci. Kenapa lari trel koq ya tiba2 menjadi sedemikian beratnya ya?
Jadi? Ya iya lah, ketinggalan wae 😦
Bagi dia, waktu adalah lari.
Bagi saya mah, ngaso we.
Setelahnya adalah lari2 bersama.
Seolah, jika dia ajak saya tak menolak. Begitupun kebalikannya.
Lari Gunung Nusantara adalah ide beliau.
gagasannya adalah berlari di banyak gunung ditanah- air.
Mulai dari Salak, Gede Pangrango, sampai puncak Cartensz di Papua.
Mengenalkan lari- berlari. Utamanya lari trel. Ditanah- air, dan penuh percaya diri, juga dunia.
Terimakasih untuk Garmin Indonesia​ yang sudah dukung acara2 ini di beberapa kesempatan awal.
Dari hanya sekedar lari2 berdua, kemudian kami, bersama Bang Nefo Ginting​( terimakasih Bang, sudah ajak kami sejak awal, bergabung di Trail Runners Indonesia) adakan Mt. MOUNT RINJANI ULTRA​.

Bang Nefo yang berkat beliau lah saya akhirnya bisa muncak Gunung Rinjani.

Selanjutnya dan selanjutnya adalah seperti yang sama- sama kita tahu bersama.
Beliau- beliau diatas adalah dua dari beberapa pahlawan- pahlawan saya.
Tak selalu akur, kamipun suka berbeda pendapat. Saling ejekpun bukan hal aneh.
Saling membuat kesal dan menyebalkan? Ya iya lah.

Tapi diatas semuanya, walau saya yang tertua dari bertiga, saya menaruh hormat kepada beliau2 ini.
Saya banyak belajar dari mereka.
Bicara lari trel tanah- air tak mungkin lepas dari andil mereka.

Dan tentu saja andil dari semua teman- teman pencinta dan penggiat lari trel.Anda semua.

Bravo Lari Trel Tanah- air, Bravo kita semua  🙂

Standard
adventure, cerita

Lari Gambung – Cileunca – Banjaran, Dan Monster Steak

Tak menunggu lama sang monster steakpun tersaji.

Iyalah, wong medium rare. Disamping memang sudah liwat jam- jam makan siang juga.
1, ya satu, kilogram has dalam tergolek cantik manis menggoda di.. piring sih, tapi berbentuk pipih segi empat, berukuran tak biasa, selebar serbet makan  berbahan damas. Diatas meja didepan saya.
Sementara si akang waiter seperti yang sudah saya duga, terheran- heran.
Pendampingnya kentang  & salad. Agak tak biasa, kentangnya dibuat kripik, bukan tumbuk atau frenchfries.
Di salah- satu resto dari yang banyak berderet sepanjang jalan Riau.
Dan salah- satu menunya adalah Monster Steak.
Asli 1 kilogram has dalam. Jika mau mereka bisa timbangkan dulu sebelum disiapkan.
Persis beberapa saat, sebelum perlahan tapi pasti, akhirnya sampai ke potongan terakhir monster steak saya, Akang manager tiba- tiba muncul didepan saya.
“Damang Kang?”
“Alhamdullilah Kang, moga sama juga”..
Sapaan ramahnya berlanjut dengan,” Kang, anak- anak( maksudnya waiters) pada taruhan, Akang bisa ngabisin ga ..”.
” 🙂 “.

salah- satu dari beberapa menu lainnya yang monster- monster juga, biasa dipesan untuk 4 orang.

Itupun masih 250 gram per orangnya.

Pagi hari sebelumnya saya memulai lari- lari sendiri saya. Start di ketinggian 1400m Kampung Gambung. Dilereng Gunung Tilu. Masuk kabupaten Ciwidey. 35km selatan Bandung.

Trek melipir dikaki gunung Tilu. Arah danau Cileunca. Kemudian lanjut menurun kearah Banjaran.
60an k.
Hanya sedikit porsi disiapkan untuk sang monster ini setiap harinya..
Salah- satu dari promo mereka.
Harganya super murah untuk seukuran  raksasa ini.Berkualitas baik. Saya tahu sekali.
Jika disatu tempat saya ragu dengan daging steaknya saya cukup pesan blue rare atau rare. Minta hanya di marinade sebelumnya dengan garam laut, sedikit merica dan oregano. Mutlak saus dipisah. Jika menolak, artinya daging mereka jelek. Jika ya, boleh berharap baik 😉 .
Tak sedikit yang mengharuskan kita merogoh kocek sampai nyaris 100an ribu untuk 125 gram steak .  Bukan has luar. Apalagi has dalam. Padahal dikelas Warung Steak biasa.
Dengan banyak lemak disana sini.
Cukup mereka marinade lama sebelumnya dengan bermacam- macam bumbu. Semakin semarak, semakin aneh, semakin ‘tertutup’ jeleknya sang daging.
Istilah saya untuk ini adalah ‘ Daging bumbu’.
Tak berarti tak ‘enak’. Sebaliknya. Buktinya banyak warung- warung steak( yang sekarang sudah menyebut diri Steak Resto atau ada yang berani dengan Steak House) laku. Selalu penuh.
Padahal ya daging bumbu tadi. Daging yang bukan ‘daging’. Jadi yang ‘enak’ adalah bumbu- bumbunya. Dan sang daging hanyalah sekedar media.

Dikita, asal pedas, panas, di goreng atau bakar, apapun bisa jadi enak. Sekedar aci( tepung tapioka) pun diburu. Cireng kan?
Sekali waktu saya antar seorang klien, yang minta dibuatkan resto & cafe, coba menu steak ke beberapa tempat di Jakarta. Mulai dari kelas Warung Steak sampai Steak House sekelas O*tb@ck.
Disalah- satu, lokal, amat sangat terkenal, kami pesan 3 ( tiga ) menu steak, dengan tingkat kematangan berbeda( rare, medium, well done), lokal, US & NZ. Seperti tertera di menu.
Kami temui, ketiganya dari bagian sapi yang sama dan lokal. Disiapkannya saja yang berbeda. Jangan- jangan dari satu sapi yang sama.
Ditambah adegan mencelatnya garpu saya 😛 .
Harganya? Tahun 2004an, 75rb sampai 125rb, umtuk 125 gram? tak sepadan.

Bersambung

Standard
adventure, biking, motivation, olahraga, sepeda, sport, transportasi, tulisan

CYCLE AND SHOOT!

cycling

Not only does it run smoothly in the middle of traffic, it’s also pretty much boundless. Even motorcycle could be troubled by some neighbourhood portals. The only obstacle you could have is when you have a flat tire. And even then you can just walk it without having to face too much pity looks from people.

image

Gone are the days of having to worry you left your license an registrations or having to queue in a long line for gas. It’s also unquestionably healthier, you’re doing the environment a favor by cutting back on pollution. And that is one of the things that make cycling cool.

VIRB Picture

My daily activities involve a lot of moving around, walking, running, you name it. I only drive once in a little while, when i really have to.

image

Not that i dont like it, and not because i can’t. I’m pretty badass at driving. Just that the traffic’s been a pain in the behind, even more so lately, it takes away all the fun and thrill of driving. It’s just not worth it anymore.

If i may add, whether you’re running or cycling, it would be much more fun if you also take pictures along the way. Be it the sceneries, corners of the town or even some selfies.

But if you’re really into cycling or interested on trying and also happen to have the budget, Garmin Virb could be the right choice. It ranges about 4-5 Mio, with an extra 1-5 mio you could get some more than decent camera. Trust me, it’s worth it.

 

My bike is about 4,7 mio, but i’m lucky enough to endorsed for it, thanks Kang :). It’s a Polygon, flatbar road bike 50 in size, Helios F1.

I have no plans on upgrading it just yet, unless for maintining purposes, such as lamps, pumps etc.

You can just stick a camera on the helmet and you’re ready to capture some moments of your trips. Not only manually, but we can set it in advance, we can even set it with the Time Laps feature. So you don’t have to be connected to any desktops.

virbonbar

You can even pair it with smartphones and other gadgets, i did mine on a Fenix2. I could control it with Fenix2.

image

I could even use my smartphone as the Virb’s viewfinder.

 

it stays on for 3 straight hour. You can bring some powerbank along with you if you think that’s not long enough. Did i mention that it’s waterproof? It could go down to 50m under.

Ok that’s it from me i guess, see you guys

again later. Have a great Monday.

Bahasa.

YUK GOWES, YUK VIDEO & FOTO- FOTO

Tak hanya melaju lancar ditengah kemacetan kota. Tapi juga hampir selalu tak ada rintangan. Motor saja takluk oleh portal.

Saat tak diharapkan ada gangguan, ban kempes/ bocor, selalunya bisa diatasi seketika. Ataupun jika karena satu dan lain hal harus didorong, tak begitu membuat orang lain yang  melihatnya merasa iba.

Tak pusing dengan ‘ketinggalan’ surat- surat kendaraan atau ijin mengemudi, tak kesal dengan antrian di spbu.

Jangan lagi ditanya soal lebih sehatnya, andil dalam mengurangi polusi. Dan banyak lagi. Tak boleh ketinggalan disebut, tampil lebih keren.

Bukan karena merek dan harganya, tapi karena bersepedanya.

Aktifitas saya sehari- hari berurusan banyak dengan bergerak. Jalan, lari, ber ‘angkot’, berkendaraan umum. Sekali- sekali, jika harus, walau selalunya saya hindari,   stir mobil sendiri.

Bukan tak suka. Sampai detik ini saya masih suka dan bisa memacu cepat mobil. Dan yakin masih lincah bermanufer.

Urusan mobil, saya agak- agak lumayan lah. Jika tak dikatakan ‘bisaan euy’ .

Saya bisa mudah dan lincah bermanufer saat parkir. Baik parkir satu baris ditengah- tengah diantara dua mobil. Dengan ruang yang pas.

Atau jika harus melaju mundur. Saya bisa mengemudi lurus mundur berkilo- kilo dengan kecepatan maksimum mundur. Di trek lurus maupun berkelok- kelok.

Soal ngebut? Jangankan saya, Bapak, jika bukan karena larangan yang disebabkan gangguan jantungnya, di tikungan- tikungan Alas Roban, puncak pas, tiga kendaraan didepan disikat dengan sekali injakan pedal gas. Diijalan jalan tol? Ya apalagi.

Urusan rambu- rambu lalulintas? Ijin mengemudi saya dapatkan melalui test teori dan praktek.

Sampai- sampai Ibu- Ibu, Bapak- Bapak polisinya manyun. Yang mereka pikir barangkali,”Ni orang kalo ga  pelit- pelit amat, ya kere. Koq ya mau repot- repot ikut test segala”.

Kemacetan yang semakin menggila dimana- mana tak lagi mengasyikan untuk stir kendaraan sendiri.

Merasa bodoh jika harus gas rem gas rem setiap sekian detik.  Merasa lebih bodoh lagi dengan  mobil bertransmisi manual. Gas kopling rem, gas kopling rem. Amit- amit.

Asyik- asyik dan ga asyik- asyiknya berkendaraan, apapun, sudah cukuplah ya.

Saya mau tambahkan.

Berlari atau kali ini temanya bersepeda, lebih mengasyikan lagi dengan ambil- ambil foto diantaranya.

Entah pemandangan, entah suasana dibeberapa pojokan kota. Selfiepun tak masalah.

Dengan smartphone yang hampir dari kita semua punya tentunya cukup.

Tapi jika, sekali lagi jika, punya anggaran untuk sepeda seharga lebih dari anggaran satu action camera. Semisal Garmin Virb, layak jadi pilihan.

Dikisaran harga 4-5an juta, dengan tambahan 1-5 jutaan lagi, jadi total antara 5 sampai 10 juta, kita sudah bisa gowes beraction camera.

Percayalah, asyik- asyiknya melampaui asyik- asyiknya ‘gowes tok’ beranggaran jauh diatasnya.

sepeda saya, ( beruntung ada yang memfasilitasi, terimakasih Kang 🙂 , berharga 4,7an juta. Polygon, road bike( flatbar) berukuran 50, Helios F1.

saya niatkan untuk tak akan saya tambah atau tingkatkan, kecuali yang memang harus. Semisal lampu, pengaman dan pompa.

Ditempel dengan dudukan berlem kuat( bawaan asli virb), atau dipasang di stang dengan bracket khususnya, atau pada helmetstrap, virb siap mengabadikan laju- laju gowes kita. Atau apapun lainnya.

Video atau foto.

Tak hanya secara manual, tapi bisa dengan interval yang sebelumnya kita setting. Dengan waktu- waktu tertentu. Yang sekaligus adalah fitur time lapsnya. Jadi tak lagi kudu di oprek di desktop.

Bahkan bisa dipasangkan dengan smartphone dan gadget lain, semisal jam bergps. Pada saya adalah Fenix2.

Play/ pause/stop bisa dilakukan di fenix2 saya.

Saat tangan bebas. Berhenti misalnya, dengan sang action camera tetap bertengger di helm sepeda, saya bisa jadikan smartphone saya sebagai  viewfinder sang  virb.

Saya bisa melihat apapun yg dilhat sang virb, dilayar smartphone saya.

Begitu juga dengan play/ pause/ stop dan setting virbnya.

Canggih ya? Iya lah 🙂 .

Berbattery tahan 3an jam, jangan- jangan penggowesnya yang kalah kuat 😉 .

Dirasa kurang? Powerbank berkapasitas belasan ribu miliampere seharga ratus ribu sudah cukup untuk suplai tenaga tak hanya untuk virb kita, tapi juga fenix2 dan smartphone saya sekaligus.

Tak khawatir kehujanan, action camera kita ini tahan air sampai kedalaman 50 meter.

Tanpa casing khusus.

Apalagi ya?

Kapan- kapan saya sambung lagi. Ok?

Terimakasih garmin indonesia , eiger adventure dan siapapun yang telah mendukung lari-lari, gowes- gowes dan video- video/ berfoto- foto saya.

Selamat siang, selamat hari senin.

Salam lari dan gowes 🙂

 

Hak sebagian gambar ada pada http://www.dcrainmaker.com/2013/12/garmin-depth-review.html dan Kang Vincent

Standard
adventure, event, mountain running, olahraga, running, sport, trail running, tulisan, ultra running, ultra trail running

Mengenal Medan Berlari Trel

runLimitless

Pantai Pendawa Bali. Garmin Photo Session.

Hak gambar ada pada Patricia Heny.

Mengenal medan lari trel yang ada di kita. Dan bagaimana kita ‘menikmatinya’. Atau: mempersiapkan diri untuk sebagian. Sebagian lain biarlah kejutan 🙂 .
Sepertinya kita sepakat, bahwa lari trel adalah lari  selain dijalan yang menarik sekali. Menyehatkan, menenangkan, menghibur. dan biasanya menyenangkan. Terkadang saja menyebalkan.

Banyak hal menarik yang ada di lari- lari trel tanah- air. Yang mungkin tak ada ditempat lain.
Do’s & don’ts ditempat lain bisa jadi berbeda atau bahkan  tak berlaku di kita.
Ditempat lain mungkin ya bisa berlaku, “Usahakan jangan  berlari sendiri ditempat yang baru”. Ditempat lain yang sudah sedemikian membudayanya berlari. Tak sulit mencari teman.
Apalagi lari muncak gunung. ” pelajari dahulu trek yang akan dilalui.Beri tahu orang terdekat, kapan kita berangkat dan kapan perkiraan turun”.
Tentu saja berlaku juga di kita.
Atau, seringkalinya malah setelah beres muncak sendirian, lebih dulu saya sampai dirumah ketimbang whatsapp saya terbaca orang rumah 🙂 .

Trek1- trek2-

Lereng Gunung Burangrang. Atau di perkampungan dipinggiran kotapun mirip- mirip seperti ini kan? 🙂

Kiri: Trek di Gunung Burangrang. Kanan: Tangkubanparahu.

Satu.
Kita mulai dari yang termudah. Dengan trek seperti diatas. #newbiefriendly .

Kelengkapan: sepatu trel dan atasan bawahan jersey jika ada. Jika tidak asal cukup nyaman saja.

Yang dibawa: satu botol minuman cukup.

Trek yang bukan aspal. Tak jauh dari tempat tinggal.
Rerumputan atau tanah di halaman disekitar pemukiman. Datar2 saja atau dengan sedikit naik dan turun yang landai.

Trek terbuka. Tak terhalang alang- alang atau tumbuhan, karena sering dilalui.

Tak perlu banyak2 yang dipersiapkan. Cukup handheld bottle saja. Satupun cukup.

Pijakan tak sulit, karena hampir rata saja. Baik tanah maupun rumput.

Dua.

Berikutnya adalah, jika start  yang agak jauh dari rumah.jadi mesti dicapai dahulu sekian waktu #newbiefriendly .

kelimutu=BRomo-

Kiri: Danau Tiga Warna Kelimutu. Kanan: Bukit Pasir Bromo.

Yang dibawa: air dan makanan tergantung jarak dan ada tidaknya warung/ toko tempat kita beli sesuatu yg diperlukan.
Handheld bottle atau hydropack. Kamdig jika ada.
Semisal Sentul bagi teman2 Jakarta, Bogor dan Tangerang. Perkebunan teh Sukawana bagi Bandung dan sekitarnya.
Medannyapun beragam.
Ada yang bisa dengan santai sambil update status,( hati2 kepala terbentur batang/ dahan pohon yg melintang seketinggian kepala. Kecuali pakai helm dan siap trombophop),  karena tak perlu harus ngesot2 atau berpegangan pada apapun, atau dengan sedikit2 pegang sana- sini karena turunan yang lumayan curam. Walaupun mungkin hanya beberapa meter saja.
Semuanya berlaku, Berlari trel, artinya pemandangannya lebih hijau, lebih indah dan nyaman, tak hiruk- pikuk lalu- lalang kendaraan dan asapnya.

Disini sebotol minuman kita harus ditambah dengan lain2nya lagi. Cemilan dan uang secukupnya. Sarung tangan mulai diperlukan. Cukup sarung tangan wool seharga 5 ribuan.

KawahRatu- TamanJayaSungai-

Kiri: Sungai air hangat di Kawah Ratu Gunung Salak. Kanan: Muara sungai di TamanJaya Ujungkulon.

3. Trek yang sama, tetapi berbonus istimewa,semisal kawah dan sungai yang bisa dilalui/ dicapai. Seperti Pasir Alit ke Kawah Ratu Gunung Salak. Atau start parkiran atas Tangkubanparahu, memutar kebalikan arah jarum jam, mengelilingi Kawah Ratu Tangkubanparahu. Sampai sebelum panjatan. Dan kembali. #newbiefriendly.
Yang dibawa: setelan ganti untuk yang ada acara basah2an disungainya. Kamdig cenderung wajib 🙂 .

4. Berikutnya adalah medan yang termasuk hutan, lereng gunung. Yang berpotensi untuk tersesat. Bahaya kelelahan, kedinginan dan dehidrasi.
Pemula sebaiknya disertai pelari trel yang sudah berpengalaman.
Kelengkapan: rain coat ringan( cukup yg 10an ribu, windbreaker, sepatu yang lebih sesuai, untuk kesiapan menghadapi segala medan trek, seperti pasir, batuan licin, tanah becek dan sungai. Jam bergps jika ada. Pluit, headlamp kecil, Sarung tangan, atasan jersey berwarna cerah. Obat2an pribadi, betadine dan plester penutup luka. Bandana serbaguna( banyak yang murah. 40an ribu,buatan Bandung), telfon genggam murah( bukan smartphone, berbattery tahan lama).

Penting sebelumnya untuk diketahui, provider mana yang paling kuat di area ini.

Karena tak semua gunung dilintasi banyak pengguna, harus diantisipasi trek yang agak tertutup semak2, dahan ranting melintang. Artinya ada kemungkinan tergores.
Sila pakai bagi yang nyaman memakai semacam bawahan panjang/ compression.

GarminPhotoShoot0750TamanJayaPantai-

Kiri: Pantai Pendawa, Bali. Kanan: Pantai Taman Jaya, Ujung Kulon.

Langkah kaki dan pijakan.
Perhatikan pijakan kita disini. Terutama saat menurun.
Menurun dengan perlahan. Tentu saja cenderung lebih aman. Tapi lebih mudah lelah/ berat pada paha dan betis, karena menahan  grafitasi.
Jika memungkinkan adalah turun dengan sedikit lebih cepat.
Hanya, seperti dalam catur, beberapa langkah/ pijakan sudah harus diperhitungkan. Karena pijakan yang salah diawal akan diikuti oleh pijakan2 salah di yang berikutnya.

Batuan2 tajam injak dengan bagian telapak tengah. Menghindari tergelincir kedepan atau kebelakang. Pijakan diusahakan tak membuat sudut dengan sol bawah sepatu. Jadi hampir sejajar( lagi- lagi kemungkinan tergelincir).

Semakin tegak lurus pijakan dengan arah turun kita semakin baik. Semakin besar peluang kita untuk lebih cepat. Berlari dengan cara  melompat kebagian- bagian tegak lurus ini.

Semakin cepat kita turun, harus semakin condong badan kita kedepan. Menghindari  terjerembab kebelakang saat terpeleset.

Mata yang jangan hanya terpaku kebawah, memperhatikan kemana dan apa pijakan kita, tapi juga kedepan. Tak jarang ada batang dan dahan pohon yang melintang seketinggian kepala.

 

wpid-2014-02-01-05-18-46.png

Menjelang Jembatan Setan Gunung Merbabu.
Yang terpenting untuk semua adalah, kesiapan yang baik.
1. Biasakan hari- hari untuk tak terlalu ‘memanjakan’ tubuh dengan terlalu mudah memakai pakaian2 tebal, agar saat kita berada di cuaca dingin( dihutan pegunungan/ ketinggian) kita masih bisa cukup hangat dengan 1 jacket.

Bisa dibayangkan, jika hari2 saja dikota kita berjacket, apa lagi yang akan dipakai saat kita diketinggian. Ya kan?

2. Biasakan selalu bergerak. hindari duduk atau diam berlama- lama. Gerak, gerak dan gerak. Sebadan.  Jadi jangan hanya telunjuk saja yang bergerak.

3. Semua sepatu trel semestinya cukup baik. Dengan waktu dan jam terbang lari ngetrel kita, kita akan lebih pasti lagi mengetahui brand, type mana yang paling sesuai untuk kaki kita.

Yang penting bukan sepatu mana sesuai dengan medan yang mana, tetapi sepatu dengan peruntukan yang jelas yang sesuai dengan kaki kita. Setelahnya adalah kaki dan sepatu yang menyatu, yang seperti mempunyai mata dan perasaan, menyesuaikan gerak langkah dan pijakan. Apapun medannya.

4. Persiapan yang baik adalah persiapan yang tak mesti baik, sempurna.. Bingung? Jangan 🙂 . Tak mesti semuanya siap baru ngetrel. jika ya begitu, entah kapan kita ngetrelnya.
Jadi sisakan sedikit untuk kejutan. Kejutan yang mungkin mengesalkan bahkan menyebalkan, tapi setelahnya adalah kisah cerita seru yang membuat kita lebih cepat lagi terlatih.

Kapan- kapan saya sambung dengan trek- trek lainnya.Semoga bermanfaat.

Salam,

Yuk Ngetrel 🙂

 

 

Standard
adventure, berbagi, cerita, cerita, kisah, renungan, event, olahraga, running, sport, trail running, tulisan

Lomba Yang Bisa Dimenangkan Oleh Siapapun Kita

Kamojang-

6 bulan pertama usia lari, saya tak cukup percaya diri untuk ikut lomba. Sampai Kang Rama Nusjirwan mengatakan,” Harus coba Ki, bagus untuk tahu dan tingkatkan kemampuan”.
Berikutnya adalah sibuk2 siapkan mental dgn sekian tanya- jawab sendiri, bagaimana kalau begini, bagaimana kalau begitu. Intip2 di hasil lomba yg sdh berjalan, kira2 saya akan ada di posisi mana. Akankah saya paling buncit?.
Belum cukup yakin saya putuskan daftar di Milo 10k 2010. Setelahnya adalah dag-dig-dug tak karuan.
Perasaan menyesal timbul. Peserta akan ribuan, dan mereka akan melihat orang setua saya lari terseok- seok atau gagal finish. Konyol sekali.
Ditengah- kegalauan saya, tiba2 saja Bang Muara Sianturi telpon,” Ki, jadi ikut Milo 10k?. Lo ikut Lomba Lintas Alam Kamojang aja, trel tuh”.
Pucuk dicinta ulam entah kemana eh si ulamnya tiba.
Yes. Selamat saya dari yg saya khawatirkan.
Kamojang, entah dimana, pastinya pesertanya tak ribuan. Venuenya dialam, banyak bukit dan pohon. Akan banyak tempat sembunyi jika kegagalan yg akan saya alami.
Tiba2 ada perasaan lain. Entah kenapa, saya merasa ada skenario yg dibuat si Abang ini.
Sampai2 beliaupun mau ikut lomba Kamojang ini.
Yg pasti dgn gagah percaya diri saya daftar.
Apalagi ternyata peserta kategori kecepatan( kita sebut lari trel kan)pesertanya hanya berlima. Haha. Sebelum2nya sampai 20-30an.
Hari H. Kami berlima, saya, Pendaki Liar, 1 peserta lokal, Bang Anwar rekan Pendaki Liar( saya dengar belasan kali berturut-turut juara lomba ini, mantan atlet lari halang- rintang 3000m) dan Bang Muara Sianturi.
Tak ada perasaan ragu, grogi atau apapun. Tak setetes keringat dinginpun saya rasakan.
Santai, seolah- olah sudah belasan puluhan kali ikut lomba.
Dari awal saya sudah ketinggalan. Yang tak pernah meninggalkan saya adalah asma saya. Selalu setia menemani  🙂 .
Dan percaya- diri yg entah darimana koq ya saya punyai.
Belasan km pertama, etape pertama adalah 25km, peserta lokal saya susul, juga Kang Pendaki Liar yg cidera. Kemudian lagi Bang Muara yg mengaku cidera. Berarti tinggal Bang Anwar didepan saya.
Singkat cerita saya finish 15 menit dibelakang beliau. Senang? Tentu saja. Aneh? Ya juga. Tapi saya tak ambil pusing. Saya nikmati saja dulu saat2 ini.
Kapan lagi saya merasakan saat2 kemenangan seperti ini. Seumur- umur lomba, hanya pernah juara di lomba balap… karung. Saat kelas 4 SD.
Itupun drama. Karena sempat diprotes peserta lain. Menurut mereka saya curang. Masa bukan loncat2 tapi melangkah. Sebelum lomba saya dibisiki kakak, “jangan loncat, ujung2 kaki posisikan keujung kiri kanan karung, dan melangkah jalan cepat” 😛 .
Bang Muara kembali ke Bandung malam itu juga. Artinya tak berlanjut dgn etape kedua esok harinya.
Esoknya saya lebih santai lagi, karena juara dua sudah ditangan. Kembali ke start 18km, dgn trek berbeda.
Saat magrib saya menerima piala juara dua setinggi 70 cm. Ga level dgn kemenangan Nadal & Schumacher, tapi perasaan mah beda2 tifis lah.
Sampai saat ini Bang Muara tak pernah mengakuinya. Tapi saya tetap percaya, beliau sengaja membuat saya ikut lomba ini. Membuat saya percaya diri dgn keikut-sertaannya dan membiarkan saya berlari menuju juara dgn tak melanjutkan lombanya.
Jika mau tentu saja trek yg ‘ hanya’ 25km disikat habis beliau. Seorang yg hanya perlu waktu 3jam 5 menit untuk 42.195 km.
Kisah diatas, gambaran betapa konyolnya saya, yg tak cukup percaya diri untuk ikut lomba atau memulai lari- berlari, tak harus diulang oleh siapapun.
Yang dilakukan seorang Bang Muara terhadap saya ingin saya tiru. Dengan cara yg berbeda yg saya mampu.
Dibantu dengan banyak teman2 lari trel yg luar- biasa, saya ingin, setelah ikut “Food, Fashion & trailFunrun. Sukawana” lalu dan “Food, Fashion & trailFunrun. Sawarna” 4 mei nanti, juga acara2 serupa selanjutnya, siapapun pemula tak lagi ragu untuk mulai lari, mulai ikut lomba. Tanpa dibebani dgn harus cepat, harus finish, harus podium, harus sempurna.
Lomba kita adalah lomba mengalahkan berbagai macam penghalang untuk hidup sehat dan nyaman. Lomba yg pasti bisa dimenangkan oleh siapapun kita. Pemula atau yang sudah lama.
Terimakasih Bang Muara, Kang Rama, dan semua teman2 yg selalu saling mendukung. Salam, selamat pagi, selamat hari jumat 🙂

Bandung, Maret 2014.

Standard
adventure, event, komunitas, olahraga, running, sport, trail running

Pojok Komunitas di Eiger Adventure Store Bandung

image

Halo- Halo Bandung!
Acara lari Kamis Malam di Eiger Adventure Store jalan Sumatra hanyalah salah- satu kegiatan yang di fasilitasi oleh teman2 di Eiger.  Sebagai persembahan untuk masyarakat kota Bandung atau kota lain yg kebetulan sedang di Bandung. Akan kegiatan yg sehat dan bermanfaat. Dan ramah lingkungan.
Tanpa syarat & kewajiban apa2.
Untuk lebih mengenalkan/ mengingatkan lagi kegiatan luar- ruang, tentunya tidak hanya untuk kegiatan lari- berlari. Semisal komunitas penyuka jalan santai, pesepeda, fotografi, blogger, pendaki, panjat tebing, canoeing, river boarding.
Terbuka bagi siapa saja, komunitas apa saja. Untuk tempat berkumpul, membuat acara. Atau sekedar silaturahmi dalam komunitas atau lintas komunitas. Atau bagi siapa saja yang ingin tahu, ingin  mengenal kegiatan2 luar- ruang.
Tak hanya di kamis malam, tapi dari senin sampai minggu, 365 hari dalam setahun.
Juga tak bertujuan menjadikan ini (Pojok Komunitas) sebagai satu2nya tempat, tetapi diharapkan akan lebih banyak lagi bermunculan ditempat- tempat lain.
Oleh, untuk dan bagi siapapun.
Disamping taman2 kota yang semakin banyak kita punya.
Yang penting Bandung lebih lagi beraktifitas luar- ruang. Bandung yang lebih sehat dan bermanfaat.
Salam 🙂

Standard
adventure, design, review, sport, trail running

Garmin virb elite. Sport action camera

image

Ber-wifi dan ber- gps.
Betul, seperti yang kita duga, artinya disamping mempunyai viewfinder sendiri, juga dapat kita lihat dilayar device manapun yg ber-wifi.
Dan juga tak salah, ber-gps artinya mempunyai kemampuan bernavigasi layaknya device ber- gps.
Data seperti koordinat, ketinggian, kecepatan, jarak dan waktu sudah barang tentu ada.
Membawa virb elite tak ubahnya membawa sport action camera tahan air dan device gps sekaligus.
Bahkan bisa terkoneksi ke termometer eksternal, cadence( sensor penghitung putaran pedal pada sepeda), dan beberapa lagi lainnya.
Sebelum semakin wow dengan segabruk kebisaannya dan kelengkapannya, saya mulai dengan spek sebagai berikut:
– micro memorycard sampai 64 Gb. Terbaik mulai dengan class 10 keatas.
– battery lithium- ion berkapasitas 2000 mAH untuk penggunaan sampai 3 jam. Didukung dengan kemungkinan menggunakan eksternal battery( powerbank).
– berlayar lcd sebagai viewfinder dan tampilan multi informasi.
– 16 MP foto. Dgn burstspeed 3 gambar 16 MP/detik, 5 gambar 12MP/detik dan 10 gambar 8MP/detik.
– HD 1080 video/30fps.
– Field of View ( Luasan bidang yg tercover oleh sensor film) yg bisa di set wide, zoom2 & zoom4.
– Flip orientation. Seting untuk membalik lensa saat vibr dipasang terbalik, misal agar layar menghadap kebawah.

Yuk kita mulai kupas.
Yang paling mengesankan adalah penggunaan tombol2 menu yang logis sekali. Jadi mirip dengan fenix, rasanya tanpa membaca buku petunjuk cepatnya sekalipun siapa saja bisa langsung menggunakannya.
Tombol geser besar disamping untuk rekam video. Beberapa tombol tekan disamping lainnya untuk Mode, Ok ( yg juga tombol shutter untuk foto), kedepan/keatas, kebelakang/kebawah dan power.

Menarik sekali, kita dapat mengambil gambar ( foto) saat rekaman video sedang berjalan.  Jadi saat merekam video, ya tinggal tekan2 saja tombol Oknya 🙂

 

 
Bersambung 🙂

Standard
adventure, event, inspiration, motivation, olahraga, running, sport, story, trail running

Berlari Trel Membelah Pulau Jawa

image

Jauh dan ajrut2an.Perjalanan panjang yg mengesalkan dan melelahkan. Hanya untuk sampai penginapan. Berlanjut esok hari nya ke titik start. Treknya sendiri adalah berjalan dan berlari nyeker sepanjang puluhan km. Melalui aspal panas, tanah dan rumputan becek penuh duri dan ranting tajam. Sungai sedalam pinggang tanpa jembatan. Jikapun ada adalah berpijakan hanya bbrpa batang bambu yg sebagian sudah lapuk. Dengan pegangan yg sulit dari jangkauan.
Tentu saja pada akhirnya adalah pantai selatan yg indah memukau. Dengan deburan ombaknya yg tinggi dan membahana.
Menyempurnakan pengalaman ngetrel, membelah pulau jawa, yang indah yang pada akhirnya luar- biasa menyenangkan dan tak terlupakan.
Tapi, Jejak2 badak yg kami temukan menyadarkan kami akan perjuangan teman2 relawan di konservasi badak Ujungkulon.
Ribuan hari yg mereka dedikasikan untuk  Ujungkulon dan badaknya. Dikenal di dunia sebagai World Heritage Site.
Aksi2 kami menjadi seperti tidak ada apa2nya dibanding apa yang sudah sekian lama mereka lakukan. Dan berlanjut sampai saat ini.
Apa2 yg kami lakukan, yg entah kapan lagi dilakukan, adalah keseharian mereka. Dengan segala keterbatasan. Keterbatasan sarana. Keterbatasan dukungan dari pihak penyelenggara negeri ini.
Semangat teman2 Ujungkulon!

Standard
adventure, cerita, kisah, mountain running, olahraga, running, sport, story, trail running, tulisan, ultra running, ultra trail running

Teman- teman Saya Yang Hebat

26 November.
Lapar dan haus teramat- sangat. Tak ada lagi yg bisa dimakan & diminum. Jikapun ada pastinya seketika itu juga keluar lagi. Maaf, dimuntahkan.
Asam lambung sudah kadung naik.
Lemas tak tersisa tenaga sedikitpun.
Duduk letih dan  lemah.bersandar dipohon yg tak lagi bisa menahan curah hujan. Sendiri.
Di ketinggian Plawangan, Tempat pendaki bermalam sebelum muncak Rinjani.
Beberapa saat tadi baru turun dari muncak Rinjani. Belasan menit setelah Kang Hendra. Dan lebih lama lagi setelah Kang Rudy.
Kang Rudy tak tahu lagi entah dimana.
Kang Hendra katanya antara Plawangan dan Segara Anak.
Pasrah. Tak ada lagi yg bisa diperbuat.
Belokan turun ke Segara Anak tak juga ditemukan. Sudah belasan kali dicoba,
Sampai, ya sampai tak kuat lagi melangkah.
Dering telpon Kang Hendra ada sekali2.
Pastinya karena signal yang kadang ada kadang tidak. Menanyakan apakah belokannya sudah ditemukan.
Setelah sekian kali dijawab belum, akhirnya jawaban saya terakhir adalah sudah.
Hanya agar Kang Hendra tak lagi mengkhawatirkan saya, dan, sungguh menjawab telponpun sudah tak kuat.
Selang beberapa puluh menit masuk sms/ bbm teman2 mengucapkan selamat ulang- tahun.
Satu, dua, beberapa sekaligus. Belas, dan ya ampun, seperti tersadarkan, bahwa saya punya banyak teman. Banyak sekali.
Tak saya sadari, saya menitikan airmata.
Setelahnya adalah isakan.
Isakan bahagia, karena entah bagaimana mulainya tiba2 saya merasa tidak sendiri lagi.
Tiba2 tersadar bahwa sepertinya ada banyak teman2 yg menunggu seperti apapun kisah2 lari2 gunung saya. Jika ya begitu maka tak boleh diri ini menyerah.
Tiba2 saja saya mempunyai kekuatan lagi.
Kekuatan yg saya yakin cukup untuk bangun, dan memulai pencarian belokan ke Segara Anak.
Ternyata belokan yang dicari hanyalah belasan meter arah utara dari tempat saya semula tadi.
Selanjutnya beberapa jam kami bertiga sudah berkumpul di Segara Anak. Selamat, tanpa kurang suatu apa. Alhamdullillah.
Dua tahun kemudian, beberapa hari kemarin teman2 saya bukan lagi sekedar berlari gunung, tapi berlomba berlari di gunung.
Artinya ada batas waktu yang harus mereka perhitungkan.
Dengan jarak 50km, 102km dan 165km.
Dengan berbagai tingkat pengalaman dan kemampuan.
Dari yang pemula sekali. Sampai yang sudah beberapa kali penamat lomba2 lari trel ultra dimanapun.
Padahal kisah saya diatas hanyalah 30an km saja.
Saya yakin, tantangan, hambatan dan perjuangan mereka pastinya lebih lagi dari saya.
Biaya, waktu, persiapan, cuaca, medan yang sulit dan berbahaya. Tidur yang kurang. Makan dan minum yang mungkin berbeda dengan biasanya.
Tapi begitu besar niat dan keinginan mereka untuk turut di hajatan ini.
Bersukur acaranya selesai dengan, semoga saya tidak salah, berhasil dan selamat.
Teman2, kalian sungguh luar- biasa. Tamat atau tidak tamat kalian telah membuat sejarah.
Langkah menuju Indonesia sebagai salah- satu tujuan hajatan lari trel ultra dunia sudah dimulai.
Tak bisa lagi dihalangi.
Dengan kenyataan bahwa kita mempunyai ratusan gunung, pebukitan dan medan trel dimana- mana, bukan hal yg mustahil berikutnya adalah menjadikan tanah-air sebagai kiblat lari trel ultra maupun non ultra dunia.
Saya yakin dan percaya sekali.
Terimakasih teman- teman, kalian dan apa yang baru saja kalian lakukan merupakan hadiah termanis dan terindah diulang- tahun saya..
Tak terlupakan juga doa dan dukungan dari teman2 yang lain.

Salam,

Standard
adventure, event, mountain running, review, running, sport, story, trail running, ultra running, ultra trail running

I Did It! Bromo Tengger Semeru 100 Ultra 2013 by Maggie Kim hong Yeo

Maggie001 Maggie002 Maggie003 Maggie004 Maggie005 Maggie006It was meant to be. I was to run the 50 km after tossing and turning about whether I should run longer or not. Afterall, I have just completed a full marathon on the week before on 17 November 2013.Arrived at Surabaya 2 days earlier was great. Coz I for the first time a long time felt I am on holiday. And this trip is my birthday holiday. Met up with Chris Paul Kawinda who kindly checked me into a local hotel coz I arrived real late in the nite. Unfortunately, I had a fall and hurted my left knee after I had a shower on the slippery floor…The next day, we went off to Fitri Ismiyanti place where I stayed the nite at this wonderfully happy spirited lady, a very motiviated and enthusiatic runner. We had such wonderful time laughing eating and even went to meet up with some Indo Runners that evening.So the next morning off we went to Bromo in 2 MPVs and we arrive Lava View Hotel (this is the startline of 100km and 165 km events). Such a lovely view indeed as the hotel name said. Weather was great, cool and calm.Got my racepack, took heaps of photos and met so many other runners.

At 4 am, we were transported to Ranepane, where the startline of 50 km event.

At 5 am sharp, the race begin, and by then the sun has broken into this beautiful mountain. I decided to take off my headlight and put on my cap instead.

After running for about 5 km, my Garmin watch decided to die on me coz I must have accidentally press on the start button while it was in my luggage. Lesson learn, next time I must wear it on my wrist while on the way to race event. Also, I forgot to bring along the charger.

Anyhow I felt great with or without my garmin watch, coz my motive for this event is to graduate into being not just an ultra runner, but to be a real mountain trail ultra runner, so time is no essence…

Shortly after my garmin watch died, I managed to push myself through to lead the ladies pack.

From then on, I was happily running, power walking, through the forest, through the mountain slopes, indeed I was happy, so many has cheered me on. It was unbelievable how many called on to my name. I dont think I can remember all of them. Yet these callings brings such joy to me.

One of the runners, Stefan Knudsen from Denmark decided to tag along and we were happily moving on passing a great number of runners. Along the way, I am unable to remember all names, if you remember, please tag yourself here.

From Ranupane 2100 m down and up to Ranu Kombolo 2400 m W3 station where I decided not to refill anything. Just kept on going to Kalimati 2700 m and had my first drink up of my Fitliine Performance sachet and very quickly making my way to Ranu Kumbolo W4 station. Had a another quick drink of the Fitline Performance sachet and again quickly left the station of W3. These are all beautiful sub tropical not quite tropical, coz the weather is pretty cool, cant tell you the temperature unfortunately, but very comfortable feel and not sweating. Love the view and trees the climb.

Shortly after I arrive at km 25, I came to a junction with 3 ribbons, this was where I got lost. Both me and Stefan decided to turn left and after plodding for a while, we notice there was no more ribbons. Aaagh, we stopped, hesitated and decided to u-turn to get back to the original ribbon. By this time the sun was getting rather fierce.

We ran back unfortunate, we notice the ribbon did tell us to run to the left! And off we got back to the left again and ran all the way to the next junction and this was where we met Rizal Hakeem, we had a chat and told him we have already done this turn and if we run it again, we will be doing our second time on this loop. Nevertheless, there was no other choice but to do the loop one more time.

Then we got to the same junction again and then we turn right instead and then came to the ribbon where we had to go down the very steep hill… yes, here we had lotsa fun… I tried to run down with much difficulties. Finally after less than 5 minutes, I decided to sit on my butt and just let nature take its course… I slide down all the way while the rest of the runners were watching unbelievably at what I was doing. I bet they all did the same after that!!

So I managed to turn something rather dangerouss into something rather fun!! Reminded me of the times when I was liviing In New Zealand when in the summer we often take our flatten cardboxes and go down Mt Victoria at Devonport at the North Shore of Auckland with my kids.

By then I was of course actually hurrying coz I have lost a good 30 minutes too, thats why I decided to slide down… I had to catch up with lost time. Some of the runners have mentioned to me there were quite a few female runners who had passed. So my lead has vanished, alas..

Suddenly from the heat and the weakness, I had 2 energy bars and got back to being strong again. It is amazing to note here, when ones heart decided to get strong, the brain will just follow…

My journey at BTS, became stronger and stronger again….

At some stage here, Stefan who has been faithfully following right behind me deided that he had no more water in the Platypus and get left behind.

I on the other hand had started the next incline to Jempalang. Oh dear, what can I say, this never ending climb took forever.. km 30 just about towards km 35 are the hardest. Because in a marathon, km 35 we start to hit the wall. But I refused to let this never ending incline to give me the negative feeling. I took my Fitline Performance sachet again and kept on going.

Trust me, there were so many Ojek, motorbikers that shouted to to ask if I wanna a lift.. Haha, I have a running bib. No thanks. Along the way, also passed many other runners. So I know I was doing really well in this incline being able to pass others.

So passed W5A station 2400m. And then the down started, I rushed through these broken cement slabs, passing Hui Mathews and her husband along the way, I just ran as I did when I did the Bromo Marathon.. the feeling was great.

Then suddenly, the facade was to change…

The sand start to appear! Wow, the scenery was amazing, beautiful, but the soft sand will be yet another challenge. The savannah look and waves of the sand.. just unbeatable!

I ran along passing yet another lady runner and then I caught up with Handy Trisakti and told him I will try to tag along with him, coz I saw how he walked at an amazing pace. I shall try to keep as close to him as possible.

Coz here, I am starting to feel the lethargic of my legs. After some major running downhill. I was surprised by my own want of my heart. Indeed, I managed to keep up with him.

Shortly after, another set of beautifully made sand dunes started to show. Wow! That was in my mind. This is where I started to eat my Korma, dried dates and sip my drinks.

Beautiful and how am I going to conquer these never ending sand dunes, with the sand storms blowing very often. At some stage Handy had sand in his mouth!!! Full of them, he was complaining, by then I had my glasses on. But I decided I did not need the buff as I was too lazy to take it out from my bag and it will slow me down as well. But the glasses was really good, coz it protected my eyes…

Both of us kept going up and down and up and down those dunes. Soft as they were, beautiful as they were, if u are not careful, you will step wrongly and will roll down these tiny hills and then climbing up again will be a great bother!!

Finally we managed to catch up with another 2 more runners and we were in a pack of 4. We just kept on going and I and Handy managed to take over and got to the next station where I decided to take off my shoes unload the sand (not wearing the gaiter from the start was a great mistake, I should have but I did not). So finally, refill my drinks and had a cafeine gel coz I ran out of my Fitline Performance sachet.

As we started to move I saw Jane Djuarahadi, from the top yelling down as she moved off to complete her run. Both me and Handy went up the steps and down again. Hurrying down, and shortly after that I saw the girl in her hijap again, running infront of me. I was like, hmm where did she come from. I didnt see her passing me at all…

Nevertheless, she was just ahead of me by not much. Then we came to another incline. This is the final incline before we reach Lava View Hotel where the finish line is.

The finish was at 2240m..
The finish was exhilarating…
The finish was an accomplishment to me..
The finish graduated me into a true Mountain Trail Ultra runner…

Something I have been dreaming of since I DNF at Mt MOUNT RINJANI ULTRA!!

I did it! I did my 50 km in 10 hours 8 minutes…

Standard
adventure, event, inspiration, motivation, mountain running, sport, story, trail running

Mt. Salak Trail Run. Yuk Ngetrel, Go Trail, Go Outdoor

gotrail

     

Mengapa lari trel?
Seperti juga lari di lintasan, dijalan, atau di gym, tentunya banyak manfaat yang didapat. Rasanya tidak usah lagi saya sebut.
Plus…ya betul. Suasana, udara dan pemandangan yg berbeda dari hari2 yang biasa kita dapat.
Ngetrel bisa dilakukan siapapun. Kapanpun. Sejauh waktu, kesempatan dan cuaca memang memungkinkan.
Jika tidak ya usahakan untuk dimungkinkan. Ya kan?

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Ngetrel bukan juga hanya milik pelari trel elit. Seorang yang baru mulaipun sudah layak menyandang gelar pelari trel.

Sejauh bukan landasan keras, rata buatan, ya trel namanya. Bisa dipematang sawah, jalan setapak antar kampung. Atau kerindangan kebun tetangga dengan kontur naik- turunnya.

Apalagi tentu saja dikehijauan pebukitan, pegunungan. Bahkan pantai.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Bersukur sudah banyak yang mulai lari ngetrel di tanah- air.

Bahkan salah- satu teman komunitas lari lintas alam POLA86 di bandung sudah mulai sejak 1986. Setiap rabu sore. Sampai saat ini. Hebat ya?

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Acara lomba lari trelpun sudah beberapa kali diadakan.

Kedepan ini ada Bromo TenggerSemeru 100 Ultra dengan 3 kategori, 50k, 102k dan 165k.

Tahura trail race 17k  juga sudah didepan mata. Yang digagas teman2 Indonesia Biking Adventure.

Universal Trail Race, MesaStila Ultra, MesaStila Challenge dan banyak lagi. Dan tentunya Mt. Rinjani Ultra.

Bukan hal yg utopis jika tanah- air menjadi kiblat lari trel/ lari trel ultra dunia.

Semuanya tersedia. Mau trek, bukit, gunung yang seperti apa. Semua ada.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Beberapa teman2 lari trel kemarin- kemarin ini berlari trel di gunung Salak.

Salah- satu trek menarik. Juga buat pemula.

Jarak yang relatif pendek, trek yang juga aman tapi luar- biasa heboh.

Trek mulai dari Pasir Reungit sampai Kawah Ratu yang tidak begitu menanjak. Yang kurang- lebih hanya 5-6km.

Seperti biasa, hijau vegetasi khas lereng gunung.

Dengan sungai kecil disamping trek. Memotong dibeberapa tempat.

Dan Kawah Ratu yang memukau.

Kita bisa berlari diatas area kawah. Ada sungai lebar dengan airnya yang jernih. Luar- biasa.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Yuk, kami- kami sudah mulai. Anda kapan?
Sederhana koq, dengan mantra “berjalan saat menanjak, berlari saat menurun” siapapun bisa mulai, menambah jarak dan kecepatan sedikit demi sedikit.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Awal2 ratus meter, bukan hal mustahil dalam hitungan kurang dari setahun Anda sudah bisa lakukan lari trel ultra.

YukNgetrel, GoTrail, GoOutdoor

Salam,

Standard