bacaan, berbagi, cerita, cerita, kisah, renungan

Saya, Kami, Kita, Tak Hanya Sunda Dan Islam

Terlahir di Bandung, konon kota yang dijuluki Parijs Van Java, Kota Kembang, Kota berhawa sejuk, 60 tahun lalu, yang saya tahu hanyalah ‘kota’ seukuran sepanjang jalan Cigereleng, Mohamad Toha sampai Rumah- Sakit Advent.

Tentunya termasuk jalan Mohamad Toha sampai perempatan Pungkur, bersambung dengan jalan Balonggede, Alun- Alun selatan, Asia- Afrika, Braga dan  Cihampelas.

jalan- jalan yang dulu masih dua arah.

Sepertinya rute kompromi Bapak( saya panggil Ayahanda Bapak) mengantar saya periksa rutin dan berobat karena Asma dan bronkhitis bawaan saya.

Antara rute yang pendek dan sebisa- bisanya agar saya sekaligus bisa mengenal/ menikmati jalan- jalan dikota.

Sejak divonis dokter asma dan bronkhitis bawaan yang di usia tiga bulan nyaris tewas, saya tak boleh keluar halaman rumah sama sekali jika bukan karena ke Advent.

Alhasil sampai usia 5 tahun di Bandung pastinya tak banyak ‘main- main’ dan pengetahuan saya tentang banyak hal.

Saat anak2 sebaya saya main kejar- kejaran  atau dikejar betulan oleh pemilik empang yang empangnya dipancing tanpa ijin, saya hanya bisa main mobil- mobilan atau apapun hanya didalam rumah atau pelataran teras. Itupun tak lama.

Tapi ada hal yang barangkali tak mereka punyai.

Dirumah kami ada empat pemuda seberang yang kos.

entah mereka ini kuliah atau bekerja.

yang pasti saya punya lebih empat orang lagi dirumah yang membuat saya ‘ lebih kaya’ dari teman- teman sebaya saya.

Dari mereka saya ‘ pandai ‘ menyanyikan lagu- lagu Batak. Dari mereka pengetahuan saya tak lagi sekitar Alun- Alun, Rumah- Sakit Advent, mobil- mobil panjang station wagon dokter- dokter Amerika di Advent, Cigereleng, sawah dan empangnya, tap juga ada pulau besar selain Jawa. Ada kota- kota lain selain Bandung. Ada danau Toba selain Situ Aksan dan Patenggang.

Saya boleh iri dengan kisah- kisah teman- teman sebaya saya  main layangan, seru- serunya main bola. Tapi saya pun boleh bangga dengan nyanyi- nyanyi Butet dan Dainang, dengan cerita saya tentang pulau Samosir ditengah danau Toba. Dan banyak lagi cerita- cerita seru lainnya.

Dihari pertama Sekolah Dasar saya di SDN Kemanggisan Jakarta, guru dan teman- teman saya pastinya terheran- heran bercampur geli, saat kami bergiliran menyanyikan lagu daerah kami masing- masing, alih- alih lagu Manuk Dadali atau Neng Geulis yang saya nyanyikan ya Dainang tadi ๐Ÿ™‚

Menjelang usia SD kami pindah ke Jakarta. Bapak memang sejak saya masih diBandung sudah bekerja di Jakarta.

Tiba- tiba saja saya punya lebih banyak lagi teman. Berbatas sungai Kemanggisan adalah Kampung tempat tinggal teman- teman sekolah Kampung Kemanggisan. Dideretan rumah  kearah utara adalah Dika orang Kuningan, persis belakang adalah Benny yang dari Ambon. Dan beberapa lagi teman, sobat bermain saya.

Berlawanan dengan saran dokter, sejak saya di jakarta Bapak malah putuskan saya harus  bermain. Tak lagi mesti dirumah saja.

Seperti di tulisan saya terdahulu, sepertinya bagi Bapak, lebih baik saya, jika memang pendek usia( tak diharapkan tentu saja) tapi bisa mengenyam masa- masa kanak- kanak saya sebaik mungkin daripada panjang usia tapi selamanya diam dirumah.

Diluar waktu- waktu sekolah adalah penjelajahan. Menjelajah dari ujung komplek Slipi di selatan sampai ujung utaranya.

Teman- temanpun semakin banyak dan beragam latar- belakang, suku dan agamanya.

Terlahir dari keluarga Ibunda yang asli Garut dan Bapak yang Jepara dan Banten, saya tak ada Bandung- Bandungnya ternyata. hanya kebetulan saja terlahir di Bandung.

Tapi yang pasti solat dan ngaji sudah diharuskan sejak kecil.
Kakek- kakek dari Ibunda dan Bapak yang Ajengan dan Kyai Haji, sudah pasti mengharuskan saya lebih lagi.

Berkaitan dengan ibadah, Bapak tak memaksakan banyak hal. Cukup solat lima waktu dan mengaji.

Puasa masih boleh saya lewat. Apalagi saat saya seringnya berpura- pura tak kuat ๐Ÿ™‚

Tak jauh dari rumah, adalah rumah tetangga yang sering digunakan kebaktian. Ditengah- tengah kami bermain, sekali- sekali kami mampir dan  ikut hadir. Hal yang pasti menarik bagi saya karena oh ada hal lain lagi yang berbeda.

Semakin lama, dari hanya sekedar melihat- lihat, kemudian sepenuhnya menyimak sampai turut membaca kitab.

Tak sedikit pertanyaan yang muncul, tapi saya yakin sedikitpun tak merubah akidah saya.

Menjadi tambahan pengetahuan saya bahwa ada iman dan kepercayaann yang lain.

Saya tetap bermain dengan siapapun dari suku, agama dan kepercayaan manapun.

Saya tetap solat dan mengaji.

Kepindahan kami berikutnya ke Pasar Minggu, ke komplek Garuda, persis setelah kenaikan kelas ke kelas  5.

Lagi- lagi tak hanya kami temui tetangga- tetangga berbeda suku dan agama, tapi juga dekat.

Persis depan rumah adalah dua kakak beradik Tante Lily dan Liana.

Dua bersaudara pekerja yang selalu mengajak saya untuk ikut mobil mereka setiap pagi sekolah.

SDN Duren Tiga sekolah saya memang terlewati arah ketempat mereka kerja.

Masa- masa suka dan senang saya pun berlanjut saat setelah kenaikan kelas ke kelas enam.

Kembali ke Bandung.

Dandanan main saya  tak berubah,  celana pendek yang seringnya berwarna lebih gelap dari hemd lengan pendek saya. Hemd yang tak pernah terlewat, terkancing sampai lubang kancing teratas ๐Ÿ˜Š.

Hanya sekarang selalunya ditambahkan pullover agak tebal. Bermotif jika tak garis- menyamping atau kotak kotak.

Akhir tahun lalu Alhamdullillah saya berkesempatan bertemu dengan salah- satu anak keluarga Tionghoa, keluarga pengusaha industri rumahan tas- tas kerja dan sekolah.

Tetangga sederetan. Hanya terhalang dua rumah.

Dirumah keluarga mereka yang sama, dan usahanyapun masih yang sama.

Jalan Taman Siswa atau dikenal juga dengan jalan Bonteng

Rumah usaha mereka tempat kami anak- anak usia sekolah, salah- satu tempat kami ngabuburit saat ramadhan dengan melihat tukang- tukang bekerja. Seringkali kamipun ikut mengerjakan bagian- bagian yang mudahnya.

Masih dijalan yang sama, berseberangan, adalah keluarga Sigarlagi. Teman sekaligus nyaris  lawan bsrkelahi saya ๐Ÿ˜Š.

Saat mereka pindah ke Gegerkalong akhir enampuluhan saya sempat mengantar.

Terasa jauh tak sampai- sampai. Siapa nyana puluhan tahun berikutnya kembali menjadi tetangga lagi di Gegerkalong.

Masa- masa indah kami.

Tak kami pusingkan, suku atau agama dan kepercayaan apapun.

Bandung, juni 2017
 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Bersambung..

Standard
berbagi, fit, healthy, running, sehat, sport, trail running, tulisan, ultra running, ultra trail running

I’m Saving My Life

image

Satu tahun kemudian lari2 setiap hari masih sebagai therapi asma saya.
Artinya jika dijalankan Alhamdullillah asma tak menyapa.
Asthma controller pun bisa dikesampingkan.
Sebaliknya, jika tak dilakukan rutin, seperti yg saya coba belakangan ini, dgn niat agar tak terlalu bergantung pada lari- berlari, Alhamdullillah ketemu lagi:)
Dan asthma controllerpun ambil alih kendali.
Tak ketinggalan sang inhaler urun rembug untuk setiap serangan yg ‘berhasil’ lolos dari sang asthma controller.
Serangan yang lumayan menguras tenaga. Serangan yang meluluh- lantakan pertahanan diri.
Saluran nafas yg menyempit, menyesakkan dada, amat sangat dekat pada  cekikan yang mematikan.
Seringkali membuat saya heran dan takjub; anak- anak pengidap asma. Bagaimana usia- usia kanak- kanak mengatasinya, jika se usia ‘dewasa’ saya saja sudah dibuat repot.
Sedikit berbeda , dan harus saya syukuri, jika tak dikatakan ‘kemajuan’ adalah, sekarang saya bisa kurangi porsi larinya ke separuhnya. Jadi dari yang selalunya 10k, menjadi 5k setiap hari. Alhamdullillah.
Artinya saya tak terlalu tergantung sekali dgn angka 10k.
Tak berarti saya tak suka banyak- banyak lari.
Sebaliknya malah.
Saya sukaaa sekali lari. Saya jatuh cinta kepada lari.
Lari, olah tubuh, aktifitas luar ruang, yg, pada dasarnya mengandalkan hanya badan/ tubuh kita saja.
Keren.
Lari.
Saat saat saya merasa ‘peduli’ dengan jiwa dan raga saya. Saat saat saya pribadi. Me time.
Saat saat saya menemukan ilham, ide, inspirasi. Hal- hal yang mencerahkan.
Saya rindu akan lari- lari jauh saya. Sendiri atau bersama yang lain.
Belasan k, half atau bahkan fullmarathon.
Apalagi lari- lari ultra.
Spontan lari keluar kota. Lari- lari muncak gunung. Atau membelah pulau, dari pantai diujung yang satu, ke pantai diujung seberangnya.
Jadi saya beruntung sekali. Jika memang lari adalah therapi asma saya, maka dengan amat sangat senang sekali saya lakukannya.
Rupanya ada hal lain yang harus saya pelajari.
Belajar untuk tetap terhindar dari kambuhnya asma tanpa terlalu bergantung kepada lari- berlari.
Jadi jika pun toh saya lakukan lari- berlari saya, memang karena menjaga sehat dan suka saya.
Bukan karena hanya menghindari kambuhnya asma.
Semoga saya dimudahkan untuk mencoba tetap bisa berlari, sampai tak mungkin lagi.
Aamiin.
Salam:)

Standard
adventure, berbagi, Jalan- jalan

Membuat Rute You Gowes

Membuat peta( course) gowes di Garmin.

ConnectGarmin

Menarik sekali, melihat di peta( google maps atau lainnya), mengira- ngira trek mana saja yg bisa dilalui sambil gowes.
Dan setelahnya memindahkan ke gear( smartphone dgn berbagai aplikasinya).
Selanjutnya yuk gowes dengan mengikuti peta yg sudah ada di gear kita.
Atau salah- satunya adalah dengan jam gpsย  garmin.

Kita mulai dengan buka https://connect.garmin.com
Jika belum punya, sila buka dan buat akun gratisnya.

GarminConnectGarminCover
Fitur perencanaan rute kita ini namanya Course Creator.
Sekedar membuat rute dan membagikannya secara online tak mesti memiliki jam gps garmin.
Lebih baik tentunya jika ada ๐Ÿ™‚
Seperti saya tulis diatas, yuk gowes dengan mengikutiย  rute yg sudah tersimpan di jam gps garmin kita.

Ok kita mulai.
Klik di tab Course maka akan tampak peta secara detil.

Klii lagi di “Create a new course” di kanan atas peta.

GarminCreateaCourse-picsay
Seperti yang kita lihat tinggal besar- kecilkan peta, klik klik & tarik/ seret sana- sini ke lokasi start yg diinginkan.

GarminCreateaCourseDeui
Selanjutkan dengan klik- klik berikut menentukan lokasi2 mana saja yg ingin dilalui.
Centang kotak “stay on roads” jika diinginkan untuk tetap mengikuti trek/ rute di jalan.
Pilihan “out and back” untuk rute berangkat dan kembalinya.
Merubah Rute.

Merubah rute bisa dilakukan kapanpun.

Tinggal tarik/ seret rute dimanapun kita ingin inginkan. Semisal semula adalah melalui titik lokasi A, ingin merubah melalui titk B maka tinggal klik & seret titik A ke B. Mudahkan? ๐Ÿ˜‰
Beri nama dan simpan rute yg sudah dibuat. Jika diinginkan bisa dimasukan perkiraan target kecepatannya.
Selanjutnya kotak2 info lain akan terisi dengan sendirinya. Mengacu kepada jarak.

UpiPrwkrta

Rute kita yang sudah jadi. Dengan petunjuk km, yg bisa dihilangkan jika diinginkan.

Info elevasi pastinya sangat membantu untuk penyuka maupun pembenci tanjakan ๐Ÿ™‚

Ekspor dan berbagi rute.

Rute yang kita simpan, sesuai setting kita, apakah tertutup atau tidak, bisa kita bagikan ke pengguna lain.
Dan lagi2 seperti yang saya tulis diatas, bisa kita simpan, kirim ke jam gps garmin kita.

Cukup dengan klik kotak “Send to device” hop! Rutepun siap di pergelangan atau duduk manis di bar sepeda kita.

GarminFenix2UpiPrwwkrtaGarminFenix2RuteRute

Sebelumnya tentu saja sang jam gps garmin kita sudah terhubung ke kompi di usb.

GarminSen2Device

Selamat Beredar Tanpa Nyasar ๐Ÿ™‚

Sumber: http://gps.about.com/od/gpsmapscharts/a/How-To-Garmin-Connect-Course-Creator.htm?utm_term=best%20maps%20for%20cycling&utm_content=p1-main-7-title&utm_medium=sem-sub&utm_source=msn&utm_campaign=adid-6810a049-9c1f-417c-ab6b-9abc61197f9f-0-ab_msb_ocode-29583&ad=semD&an=msn_s&am=broad&q=best%20maps%20for%20cycling&dqi=&o=29583&l=sem&qsrc=1&askid=6810a049-9c1f-417c-ab6b-9abc61197f9f-0-ab_msb

Standard

image

bakti sosial, berbagi, biking, cerita, cycling, fit, healthy, inspiration, komunitas, motivation, olahraga, renungan, running, sehat, sepeda, sketchup, sport, story, transportasi

Peduli Atas Bumi Yang Hanya Satu Ini

Image
berbagi, event, inspiration, komunitas, olahraga, renungan, running, sport, story, tulisan

BandungJakartaRun4Leukemia

wpid-p6130011.jpg

Awal 80an berangan- angan, sekali seumur- hidup turut dalam lomba lari 10k. Kekaguman saya akan olahraga lari mengalahkan kekaguman saya akan olahraga2 lain, apapun yang menggunakan alat.
Apa daya, asma & bronkhitis bawaan sejak lahir menjadi penghalang. Setidaknya begitu yang saya fahami selama itu.
Awal 2010 adalah lari ‘serius’ saya pertama.
Selanjutnya, kecintaan saya akan lari semakin besar. Dan ‘mengalahkan’ penghalang saya.
Sepertinya kapanpun saya siap untuk berlari puluh bahkan ratus kilo.
Haruskah? Tak mesti tentunya.

wpid-p6130022.jpg
10-30 menit berlari dalam sehari sudah ‘memenuhi’ untuk sehat.
Tak hanya untuk sehat sendiri, berlari ternyata bisa untuk banyak hal positif lainnya.
Misalnya, seperti yang dilakukan teman2 yg baru saja semalam, 13 juni 2014 lalu, memulai lari bandung- Jakartanya. Berlari untuk adik2 penderita Leukemia.
Diharapkan finish menemui adik- adik kita pada tanggal 15 juninya.

wpid-p6130031.jpg
Berlari sebagai bentuk kepedulian mereka akan penderitaan adik2 ini. Akan orang2 disekitar adik2 ini.
Berlari sebagai bentuk kepedulian terhadap sesama. Adik2 kita diantaranya.
Semangat teman2. Tetap sehat. Selamat sampai tujuan. Dan kembali ke Bandung.
Terimakasih tim pesepeda, motor & mobil pendukung. Terimakasih League, PocariID, SAB. Terimakasih semua teman- teman komunitas lari tanah- air.
#bdgjktrun4leukemia

wpid-p6130051.jpg

wpid-p6130065.jpg

wpid-p6130070.jpg

Standard
adventure, berbagi, cerita, cerita, kisah, renungan, event, olahraga, running, sport, trail running, tulisan

Lomba Yang Bisa Dimenangkan Oleh Siapapun Kita

Kamojang-

6 bulan pertama usia lari, saya tak cukup percaya diri untuk ikut lomba. Sampai Kang Rama Nusjirwan mengatakan,” Harus coba Ki, bagus untuk tahu dan tingkatkan kemampuan”.
Berikutnya adalah sibuk2 siapkan mental dgn sekian tanya- jawab sendiri, bagaimana kalau begini, bagaimana kalau begitu. Intip2 di hasil lomba yg sdh berjalan, kira2 saya akan ada di posisi mana. Akankah saya paling buncit?.
Belum cukup yakin saya putuskan daftar di Milo 10k 2010. Setelahnya adalah dag-dig-dug tak karuan.
Perasaan menyesal timbul. Peserta akan ribuan, dan mereka akan melihat orang setua saya lari terseok- seok atau gagal finish. Konyol sekali.
Ditengah- kegalauan saya, tiba2 saja Bang Muara Sianturi telpon,” Ki, jadi ikut Milo 10k?. Lo ikut Lomba Lintas Alam Kamojang aja, trel tuh”.
Pucuk dicinta ulam entah kemana eh si ulamnya tiba.
Yes. Selamat saya dari yg saya khawatirkan.
Kamojang, entah dimana, pastinya pesertanya tak ribuan. Venuenya dialam, banyak bukit dan pohon. Akan banyak tempat sembunyi jika kegagalan yg akan saya alami.
Tiba2 ada perasaan lain. Entah kenapa, saya merasa ada skenario yg dibuat si Abang ini.
Sampai2 beliaupun mau ikut lomba Kamojang ini.
Yg pasti dgn gagah percaya diri saya daftar.
Apalagi ternyata peserta kategori kecepatan( kita sebut lari trel kan)pesertanya hanya berlima. Haha. Sebelum2nya sampai 20-30an.
Hari H. Kami berlima, saya, Pendaki Liar, 1 peserta lokal, Bang Anwar rekan Pendaki Liar( saya dengar belasan kali berturut-turut juara lomba ini, mantan atlet lari halang- rintang 3000m) dan Bang Muara Sianturi.
Tak ada perasaan ragu, grogi atau apapun. Tak setetes keringat dinginpun saya rasakan.
Santai, seolah- olah sudah belasan puluhan kali ikut lomba.
Dari awal saya sudah ketinggalan. Yang tak pernah meninggalkan saya adalah asma saya. Selalu setia menemaniย  ๐Ÿ™‚ .
Dan percaya- diri yg entah darimana koq ya saya punyai.
Belasan km pertama, etape pertama adalah 25km, peserta lokal saya susul, juga Kang Pendaki Liar yg cidera. Kemudian lagi Bang Muara yg mengaku cidera. Berarti tinggal Bang Anwar didepan saya.
Singkat cerita saya finish 15 menit dibelakang beliau. Senang? Tentu saja. Aneh? Ya juga. Tapi saya tak ambil pusing. Saya nikmati saja dulu saat2 ini.
Kapan lagi saya merasakan saat2 kemenangan seperti ini. Seumur- umur lomba, hanya pernah juara di lomba balap… karung. Saat kelas 4 SD.
Itupun drama. Karena sempat diprotes peserta lain. Menurut mereka saya curang. Masa bukan loncat2 tapi melangkah. Sebelum lomba saya dibisiki kakak, “jangan loncat, ujung2 kaki posisikan keujung kiri kanan karung, dan melangkah jalan cepat” ๐Ÿ˜› .
Bang Muara kembali ke Bandung malam itu juga. Artinya tak berlanjut dgn etape kedua esok harinya.
Esoknya saya lebih santai lagi, karena juara dua sudah ditangan. Kembali ke start 18km, dgn trek berbeda.
Saat magrib saya menerima piala juara dua setinggi 70 cm. Ga level dgn kemenangan Nadal & Schumacher, tapi perasaan mah beda2 tifis lah.
Sampai saat ini Bang Muara tak pernah mengakuinya. Tapi saya tetap percaya, beliau sengaja membuat saya ikut lomba ini. Membuat saya percaya diri dgn keikut-sertaannya dan membiarkan saya berlari menuju juara dgn tak melanjutkan lombanya.
Jika mau tentu saja trek yg ‘ hanya’ 25km disikat habis beliau. Seorang yg hanya perlu waktu 3jam 5 menit untuk 42.195 km.
Kisah diatas, gambaran betapa konyolnya saya, yg tak cukup percaya diri untuk ikut lomba atau memulai lari- berlari, tak harus diulang oleh siapapun.
Yang dilakukan seorang Bang Muara terhadap saya ingin saya tiru. Dengan cara yg berbeda yg saya mampu.
Dibantu dengan banyak teman2 lari trel yg luar- biasa, saya ingin, setelah ikut “Food, Fashion & trailFunrun. Sukawana” lalu dan “Food, Fashion & trailFunrun. Sawarna” 4 mei nanti, juga acara2 serupa selanjutnya, siapapun pemula tak lagi ragu untuk mulai lari, mulai ikut lomba. Tanpa dibebani dgn harus cepat, harus finish, harus podium, harus sempurna.
Lomba kita adalah lomba mengalahkan berbagai macam penghalang untuk hidup sehat dan nyaman. Lomba yg pasti bisa dimenangkan oleh siapapun kita. Pemula atau yang sudah lama.
Terimakasih Bang Muara, Kang Rama, dan semua teman2 yg selalu saling mendukung. Salam, selamat pagi, selamat hari jumat ๐Ÿ™‚

Bandung, Maret 2014.

Standard