bacaan, berbagi, cerita, cerita, kisah, renungan

Saya, Kami, Kita, Tak Hanya Sunda Dan Islam

Terlahir di Bandung, konon kota yang dijuluki Parijs Van Java, Kota Kembang, Kota berhawa sejuk, 60 tahun lalu, yang saya tahu hanyalah ‘kota’ seukuran sepanjang jalan Cigereleng, Mohamad Toha sampai Rumah- Sakit Advent.

Tentunya termasuk jalan Mohamad Toha sampai perempatan Pungkur, bersambung dengan jalan Balonggede, Alun- Alun selatan, Asia- Afrika, Braga dan Cihampelas.

jalan- jalan yang dulu masih dua arah.

Sepertinya rute kompromi Bapak, panggilan kami terhadap Ayahanda, mengantar saya periksa rutin dan berobat karena Asma dan bronkhitis bawaan saya.

Antara rute yang pendek dan sebisa- bisanya agar saya sekaligus bisa mengenal/ menikmati jalan- jalan dikota.

Sejak divonis dokter asma dan bronkhitis bawaan yang di usia tiga bulan nyaris tewas, saya tak boleh keluar halaman rumah sama sekali jika bukan karena ke Advent.

Alhasil sampai usia 5 tahun di Bandung pastinya tak banyak ‘main- main’ dan pengetahuan saya tentang banyak hal.

Saat anak2 sebaya saya main kejar- kejaran atau dikejar betulan oleh pemilik empang yang empangnya dipancing tanpa ijin, saya hanya bisa main mobil- mobilan atau apapun hanya didalam rumah atau pelataran teras. Itupun tak lama.

Tapi ada hal yang barangkali tak mereka punyai.

Dirumah kami ada empat pemuda seberang yang kos.

entah mereka ini kuliah atau bekerja.

yang pasti saya punya lebih empat orang lagi dirumah yang membuat saya ‘ lebih kaya’ dari teman- teman sebaya saya.

Dari mereka saya ‘ pandai ‘ menyanyikan lagu- lagu Batak. Dari mereka pengetahuan saya tak lagi sekitar Alun- Alun, Rumah- Sakit Advent, mobil- mobil panjang station wagon dokter- dokter Amerika di Advent, Cigereleng, sawah dan empangnya, tap juga ada pulau besar selain Jawa. Ada kota- kota lain selain Bandung. Ada danau Toba selain Situ Aksan dan Patenggang.

Saya boleh iri dengan kisah- kisah teman- teman sebaya saya main layangan, seru- serunya main bola. Tapi saya pantas berbangga diri dengan nyanyi- nyanyi Butet dan Dainang, dengan cerita saya tentang pulau Samosir ditengah danau Toba. Dan banyak lagi cerita- cerita seru lainnya.

Dihari pertama Sekolah Dasar saya di SDN Kemanggisan Jakarta, guru dan teman- teman saya pastinya terheran- heran bercampur geli, saat kami bergiliran menyanyikan lagu daerah kami masing- masing, alih- alih lagu Manuk Dadali atau Neng Geulis yang saya nyanyikan ya Dainang tadi 🙂

Menjelang usia SD kami pindah ke Jakarta. Bapak memang sejak saya masih di Bandung sudah bekerja di Jakarta.

Tiba- tiba saja saya punya lebih banyak lagi teman. Berbatas sungai Kemanggisan adalah Kampung tempat tinggal teman- teman sekolah Kampung Kemanggisan. Dideretan rumah kearah utara adalah Dika orang Kuningan, persis belakang adalah Benny yang dari Ambon. Dan beberapa lagi teman, sobat bermain saya.

Berlawanan dengan saran dokter, sejak saya di jakarta Bapak malah putuskan saya harus bermain. Tak lagi mesti dirumah saja.

Seperti di tulisan saya terdahulu, sepertinya bagi Bapak, lebih baik saya, jika memang pendek usia, tak diharapkan tentu saja, tapi bisa mengenyam masa- masa kanak- kanak saya sebaik mungkin daripada panjang usia tapi selamanya diam dirumah.

Diluar waktu- waktu sekolah adalah penjelajahan. Menjelajah dari ujung komplek Slipi di selatan sampai ujung utaranya.

Teman- temanpun semakin banyak dan beragam latar- belakang, suku dan agamanya.

Terlahir dari keluarga Ibunda yang asli Garut dan Bapak yang Jepara dan Banten, saya tak ada Bandung- Bandungnya ternyata. hanya kebetulan saja terlahir di Bandung.

Tapi yang pasti solat dan ngaji sudah diharuskan sejak kecil.
Kakek- kakek dari Ibunda dan Bapak yang Ajengan dan Kyai Haji, sudah pasti mengharuskan saya lebih lagi.

Berkaitan dengan ibadah, Bapak tak memaksakan banyak hal. Cukup solat lima waktu dan mengaji.

Puasa masih boleh saya lewat. Apalagi saat saya seringnya berpura- pura tak kuat 🙂

Tak jauh dari rumah, adalah rumah tetangga yang sering digunakan kebaktian. Ditengah- tengah kami bermain, sekali- sekali kami mampir dan ikut hadir. Hal yang pasti menarik bagi saya karena oh ada hal lain lagi yang berbeda.

Semakin lama, dari hanya sekedar melihat- lihat, kemudian sepenuhnya menyimak sampai turut membaca kitab.

Tak sedikit pertanyaan yang muncul, tapi saya yakin sedikitpun tak merubah akidah saya.

Menjadi tambahan pengetahuan saya bahwa ada iman dan kepercayaann yang lain.

Saya tetap bermain dengan siapapun dari suku, agama dan kepercayaan manapun.

Saya tetap solat dan mengaji.

Kepindahan kami berikutnya ke Pasar Minggu, ke komplek Garuda, persis setelah kenaikan kelas ke kelas 5.

Lagi- lagi yang kami temui tak hanya tetangga- tetangga berbeda suku dan agama, tapi juga bahwa hubungan kami dekat.

Persis depan rumah adalah dua kakak beradik Tante Lily dan Liana.

Dua bersaudara pekerja yang selalu mengajak saya untuk ikut mobil mereka setiap pagi sekolah.

SDN Duren Tiga sekolah saya memang terlewati arah ketempat mereka kerja.

Masa- masa suka dan senang saya pun berlanjut saat setelah kenaikan kelas ke kelas enam.

Kembali ke Bandung.

Dandanan main saya tak berubah, celana pendek yang seringnya berwarna lebih gelap dari hemd lengan pendek saya. Hemd yang tak pernah terlewat, terkancing sampai lubang kancing teratas 😊.

Hanya sekarang selalunya ditambahkan pullover agak tebal. Bermotif jika tak garis- menyamping atau kotak kotak.

Akhir tahun lalu Alhamdullillah saya berkesempatan bertemu dengan salah- satu anak keluarga Tionghoa, keluarga pengusaha industri rumahan tas- tas kerja dan sekolah.

Tetangga sederetan. Hanya terhalang dua rumah.

Dirumah keluarga mereka yang sama, dan usahanyapun masih yang sama.

Jalan Taman Siswa atau dikenal juga dengan jalan Bonteng

Rumah usaha mereka tempat kami anak- anak usia sekolah, salah- satu tempat kami ngabuburit saat ramadhan dengan melihat tukang- tukang bekerja. Seringkali kamipun ikut mengerjakan bagian- bagian yang mudahnya.

Masih dijalan yang sama, berseberangan, adalah keluarga Sigarlagi. Teman sekaligus nyaris lawan bsrkelahi saya 😊.

Saat mereka pindah ke Gegerkalong akhir enampuluhan saya sempat mengantar.

Terasa jauh tak sampai- sampai. Siapa nyana puluhan tahun berikutnya kembali menjadi tetangga lagi di Gegerkalong.

Masa- masa indah kami.

Tak kami pusingkan, suku atau agama dan kepercayaan apapun.

Bandung, juni 2017

Bersambung..

Advertisements
Standard
cerita, kisah, renungan

In Running We Trust

Setiap pertanyaan, ” kalo ga lari ga enak ya. Kaya ada yg ilang ato ga enak badan gitu?”.
Selalunya saya jawab, ” Ga koq. Biasa aja. Sukaaa banget lari. Tapi kalo lagi ngga ya biasa aja”.
Sekarang harus saya tambah dengan penjelasan, bahwa kalau tak rutin lari setiap hari, dan tak sampai  10an k, ” Selamat datang asma”..

Seingat saya, selama usia saya berlari, sejak awal 2010, bisa dihitung dengan jari serangan asma saya.
Kalaupun ya, cukup dengan mulai lari, hitungan belasan menit sudah dadah dadah asma.
Seberat apapun serangannya, tak pernah saya gunakan inhaler.
Awal 2012 jika tak salah, serangan asma, setelah flu berat. Di Singapura. Pertama kalinya sang dokter di singapore menuliskan inhaler pada resepnya.
‘Beruntung’ tak pandai menggunakannya. Jadi sama sekali tak saya gunakan, karena tak semudah menggunakan ventolin, seperti yang saya tahu dari anak saya, mantan ‘pengguna’.
Sekian tahun berlalu lagi. Lagi tanpa kehadiran asma dan ventolinnya tentu saja.
Sampai… 2-3 bulan lalu. Entah dengan alasan apa, padahal sibuk- sibuk sekalipun tidak, lari- berlari saya  bolong- bolong. Sering hanya kisaran 5an k. Lari- lari jauh pun jauh berkurang.
Saya mulai agak sering batuk- batuk. Yang ujung- ujungnya apalagi kalau bukan sesak.
Biasanya menjelang berangkat tidur sesak- sesaknya mulai.
Keluar kamar, duduk 30- 60 menit, setelah reda baru kembali kekamar.
Mulai dari  2- 3 hari sekali, akhirnya setiap malam begitu.
Minggu pertama puasa saya putuskan periksa dokter. Kali ini saya terfikir mau gunakan ventolin.
Kejutan yang luar- biasa menyenangkan.
Srotttt lenyap seketika sesak2nya.
Semoga yang menemukan masuk surga. Aamiin.
Jadi, isi kantong atas backpack hari2 saya bertambah.

Hari demi hari berlalu. Ndilalah serangan asma semakin laju.
Dari yang semula  sehari satu, lah koq ini malah semakin seru?

Tadi malam rupanya ventolin sudah final tak mau lagi bekerja sama.
Ga ngaruh kalau teman2 bilang.
Tidur bukan lagi sulit tapi mustahil.
Sesak semakin menggila.
Pukul 2 dini hari, sendiri saya putuskan ke UGD.
Berusaha tenang, karena pastinya akan ada dokter yang bisa tanganinya.
Ohya, soal UGD ini, saya tak pernah sulit.
Di lari2 jauh saya, saya selalu siap untuk cari UGD terdekat. Jika darurat kelelahan atau apapun lainnya.
Daftar, nama, alamat. Duduk, zap! Masker nebulizerpun terpasang. Setelah tarikan pertamapun sudah terasa plong. Alhamdullillah.
Kembali ke kamar dengan dua macam obat. Anti alergi dan anti radang.
Sampai dikamar, setelah sempat belasan menit tidur bangun tidur bangun,  rupanya sesak- sesaknya berulang.

Jam 6 kembali saya putuskan ke UGD lagi.
Persis sama dengan sebelumnya. Kali ini ditambah suntik dan.. setelah saya ceritakan riwayat asma saya, ditambah juga tanya- jawab seperti ini,

Saya, ” Dok, jadi, obat atau terapi apa yang sesuai bagi saya?”.
Dokter,” jika ada, aktifitas apa yang paling membuat Bapak nyaman, tenang dan menyenangkan?”.
Saya, “???.. Lari trel Dok”.
Dokter, ” Case closed!”.

Standard
cerita, cerita, kisah, renungan, renungan, story, tulisan

Bandung- Depok, Obrolan, Pilpres dan Harapan Saya

Jangan2 Akang supir travel ga pake rem. Bandung Depok, tepatnya nyampe stasion Lenteng Agung masa iya cuma 2 jam.
Lom kenyang rasanya tidur.
Seperti biasa, urusan cari2 alamat ga pernah bikin pusing.
Tinggal tanya siapa aja. Toh masih di indonesia indonesia juga. Masih bisa pake bahasa yang gw bisa.
Yg pertama ditanya ga tau ya tanya lagi aja yang laen.
Apalagi temen2 Derby, Depok Running Buddie baek banget, pake mo jemput segala.
Ga ah, buat gw, cari alamat, nyasar ga nyasar adalah juga ‘ petualangan’.
Langsung nyampe Alhamdullillah, nyasar ya juga berkah.
Liat dipeta ternyata ga jauh2 amat ke tkp.
Ga lama turun, langsung cegat taxi. Kebeneran si burung biru. Yg selama ini buat gw paling ok, karena hampir ga pernah nemu yg bau rokok.
” Selamat sore Pak”.
” ohya, selamat sore Pak”.
Beda dengan kalo massage, yg males kalo diajak ngobrol ma yg massagenya( semakin murah tempatnya biasanya semakin banyak ngajak ngobrolnya), di taxi seringnya nikmatin ngobrol ma Kang/ mas/ pak supir taxi.
Kalo ditempat massage, selalunya langsung bilang,” 90 menit ya Pak. Maaf saya pake earphone ya Pak”.
Selalunya sukses ga diajak ngobrol. Walau kenyataannya ga pake earphone juga.
Ohya, yang gw maksud massagenya di panti pijat tuna- netra.
Serius gw lebih duluin massage disini, karena menurut gw mereka emang lebih bisa. Dan kalau juga cari yg setara, biasanya ya harganya 2- 3 kalinya.
Satu lagi, gw bisa bebas ber’ekspresi’. Kan kadang gw gelian. Nah gw pikir gw jadi bebas bertampang aneh karena geli ato meringis- ringis kesakitan tanpa ketauan. Rasanya.
Tapi sekali waktu kejadiannya beda. Masih di panti pijat tuna- netra.
” 90 menit ya. Dan saya mau sambil tiduran”.
” Ya Pak”.
Kali ini ibu2 yg massagenya.
Berapa saat tiba2 si ibu bilang,” Katanya mau tiduran. Koq sms an?”.
“??????”.

Eh dimana kita tadi? Ohya di taxi ya.
Gw mulai nanya.
” bapak sudah punya pilihan?”.
” Saya masih bingung Pak”.
Tadinya gw berharap kang supir dah punya pilihan dan gw pengen aja denger alasannya. Titik.
” Kalau Bapak?”. Doi balik nanya.
Tiba2 aja gw keinget masa2 kecil gw.
1962. Umur gw baru 6 tahun. Sekali waktu gw liat ratusan orang beratribut salah- satu partai. Tereakin yel- yel.. ya partai lah ya.
Kapan lagi tiba2 rumah gw penuh ma ratusan orang beratribut partai lain.
Ya ampun, pada mo apa sih ni orang2?.
Ga tau kenapa, banyak orang di satu tempat, koq yg keinget ato yg gw rasain adalah aura kekerasan.
Pastinya gw salah. Tapi ya itu yg gw rasain.
1965. Babe balik ngantor ribut2,” waduh, jendral2 pada dibunuh!”.
1968. Lagi dimobil, lewat Glodok, abis jemput babe yang pulang naek kereta dari bandung. Tiba2 gw liat anggota tentara lari ngejar orang, terus nyambit belati kearah tu orang.
Untung ga kena.
Ga lama gw liat kakek2 tionghoa jongkok dipojokan nangis2. Muka ma badannya berlumuran darah.
Haduh merinding dan ketakutan yg gw rasain.
Babe gw nenangin, “Ga pa2, kita aman”.
Berikutnya gw liat sepasukan lagi baru turun dari truk. Pada loncat. Tampang garang.
Tau- tau banyak orang pada lari blingsatan ga karuan, dikejar- kejar tentara- tentara.
1969. Gw kelas 6 sd di bandung.
Naek sepeda dijalan Malabar. Masih sepi. Jarang mobil. Palingan sepeda, becak.
Ga tau gw ngelamun ato becak yg salah arah, tiba2 aja ada becak kearah gw. Dan ga tau gimana tau2 der aja tabrakan.
Yg pertama gw pikir cuman, gw kudu pura2 pingsan.
Bukan apa2. Penumpangnya tentara.
Eh ternyata gw salah duga. Doi malah samperin gw, angkat gw ati2,” Ga pa2 Dek?”.
Lah iya lah ga pa2. Emang gw cuma ketakutan aja bakal dihajar abis.
Legaaa.
Oh ada lagi yg kelewat.
Kejadiannya sebelumnya, masih di jakarta.
Berempat ma temen2, balik maen dari nyebur2. Bahasa kerennya renang, di empang bekas galian tanah, sebelahan rumah Bu Haryati, salah- satu istri Bung Karno.
Masuk komplek perumahan, pas lewatin plang bekas. Lupa plang apa. Ga tau siapa yg mulai, tau2 kita pada ambil batu2, lempar ke plang.
Perasaan si jauh dari rumah2.
Eh tiba2 aja ada bapak2 tereak2.
“Hei!Kurang ajar kamu!. Sini!!!”
Wahaha kaget banget.
Sementara gw bingung, temen2 gw pada kabur.
Tinggal gw sendirian. Asli masi bingung.
Dan jleg aja doi dah depan gw. Muka merah. Mencak2.
“Goblog kamu!”.
” lempar2 rumah orang”.
“Ee.. anu.. maaf Om, ga lempar rumah Om. Lempar plang itu Om”.
” plang plang apa?. Rumah saya itu tau?!!”.
Halah nasib, abis ni gw pikir.
Ga diapa- apain si. Tapi gw dibawa kerumahnya. Dinaekin kemobil pick up. Yang baknya pake atap terpal. Gw disuruh duduk dibak.
Pick up berlambang salah- satu angkatan. Di pintunya yg gw liat si.
Trus dibawa ke rumah gw.
Halah mampus lah gw.
Bakal dobel kena omel.
Singkat cerita nyampe depan rumah gw.
Gw ga bole turun. Doi masuk rumah.
Tau2 babe ma nyak gw keluar. Dan ya iyalah, tetangga pada ngerubung.
Asli berasa pesakitan.
” Ei, ayo turun..”.
Ga bisa ditahan lagi, gw nangis.
Masuk kerumah.
Sementara babe ribut ma tu mister galak diluar.
Banyak benernya pengalaman2 gw mirip2 begini.
Tapi satu lagi aja deh.
2011an kalo ga salah.
Makan mie ayam di tb. Ismail Bandung.
Tempat duduknya emang terbuka.
2 meja depan gw ada 2 cewek makan juga.
Ga lama datang 1 pemuda. Gagah. Gw langsung ngira, mesti ni angkatan. Dan berpangkat cukupan. Paling ngga lulusan akabri lah.
Ga gw perhatiin lagi si sampe doi tau2 ngerokok.
Kepikiran usil. Ni orang ga sopan banget, ngerokok didepan 2 temennya yg masi pada makan.
Tapi terus gw lupa2in. Lah temen2nya aja keliatan ga keganggu. Yowis.
Tpi pas doi buang2 abu rokok kelantai, gw berasa terusik.
Ni orang koq ga punya rasa ya. Kan gampang aja minta asbak lah.
Ah tapi gw berusaha ga pusingin.
Tapi terus gw kepikiran. Pokoknya tau2 gw celingak- celinguk cari asbak. Ada lah pas banget dimeja sebelahan doi.
Gw ambil, terus gw sodorin baek2.
“Ini mas, asbaknya”.
Sambil kaget, ” Oh.. ee makasi”..
Bersukur gw bisa ga berasa apa2. Aman2 aja. Ga pake sinis, ga pake gimana. Rasanya tulus.
Tau2 bubarlah mereka.
Selang berapa menit mister gagah nan ganteng balik lagi. Nyamperin gw.
“Tadi maksudnya apa?”
“?????”.
” Iyaa! Tadi maksudnya apppaaaa???”.
Waks, mampuslah awak.
Tau2 plak!!! Mukul pala gw. Tapi gw tangkis.
” Ayo! Situ apa saya? Ini urusan hidup dan mati!!!”.
” Saya angkatan, saya ga terima ini!”.
Doi berusaha geret gw keluar.
Itu Mamang2 tukang dagang ma tamu laen pada ga ada yg misahin.
Halah nasib2. Urusan beginian lagi beginian lagi.
Asli bingung gw, urusan ngasih asbak jadi urusan hidup dan mati.
Gw minta maaf aja ga digubris.
Beruntung, kali dalam situasi kejepit, gw yg biasanya ga bisa ngomong, kali ini jawab terus tapi hati2 jgn sampe juga bikin doi tambah naek pitam, tambah panik tau2 jleb aja gw ditusuk ato apa.
Sambil mikir juga, gimana keluar dari neraka ini.
Oh, kalo ga sala si, gw sempet jawab, ga usah bawa2 angkatan, gw juga keluarga angkatan. Maksud gw kali2 aja jadi melemah.
Ealah malah bikin doi semakin galak.
” Bohong! Mana coba saya lihat buktinya?”.
Gw keluarin lah ktp ato sim gitu.
Jreng!! Tau2 doi melongo.
Terus, ” Aduh maaap Pak, saya koq ngomel2in, bentak2 orang- tua. Maap ya Pak”. Gitu terus berulang- ulang.
Hadeuh..

Eits kelamaan ni keingetannya, soalnya tau2 kelewat jauh tuh tekape.
Sambil cari puter balik, gw sambung jawaban gw.
“Mas, saya sudah punya pilihan. Jauh2 saya sudah punya pilihan. Pilihan saya adalah harapan saya.
Mutlak tentu saja hanya yg diatas yang tau”.
” Doa saya bukan, semoga pilihan saya lah yang terpilih nanti. Tapi semoga yg lebih baik buat bangsa ini yang terpilih.
Nomor satu atau nomor dua, tentunya masing2 punya kelebihan dan kekurangannya.
Siapa pilih siapa pastinya sah- sah saja.
Saya hanya punya harapan sederhana, bahwa kedepan, siapapun yang terpilih, bisa membuat orang2 kecil dan sederhana seperti saya ini merasa aman dan nyaman jika ada/ dekat dengan aparat. Bukan seperti sekarang. Berurusan dengan aparat malah sebaliknya.
Senggolan mobil ato motor ga sengaja dengan aparat malah cari penyakit.
Salah tegur dengan aparat ya sami mawon.
Jadi hal- hal ‘ kecil’ ini saja harapan saya.
Harapan besar2 lainnya biarlah teman2 saya, tetangga2 saya, dan saudara2 saya yg lain saja yg lebih pandai yang punya”.
Pastinya tak semua aparat/ angkatan seburuk seperti cerita saya. Saya yakin sekali.
Tak berniat pamer atau melebih- lebihkan apa2 milik sendiri, gambaran rasa aman yg saya maksud barangkali tak juga berlebihan seperti yang tercermin dibawah ini.
Almarhum mertua saya, saat kami sama2 tinggal di Cirebon, awal tinggal di rumah dinas, masuk ke jalan pas satu mobil, di lingkungan pengusaha2 pasar/ toko etnis Tionghoa.
Mobil dinasnya toyota land cruiser hardtop. Tentunya berwarna dan beratribut/ tanda angkatan.
Sudah menjadi kebiasaan sepertinya, tetangga2 ini berusaha bersikap baik dengan memberi apa2 yg bisa diberikan ke keluarga almarhum mertua. Saya yakin kita makfum yg dimaksud.
Dengan sopan sang almarhum mertua selalu menolak setiap pemberian tetangga.
Sambil berkata, bahwa sama2 saling melindungi adalah kewajiban kita semua. Sipil maupun militer.
Dalam artian melindungi yg benar.

Saat di jatiwaringin mendapat rumah dinas berkamar 4, beliau tukar dengan rumah dinas berkamar 2, jatah seorang lain berpangkat lebih rendah.
Alasannya karena toh beliau tinggali hanya berdua dengan almarhumah mertua perempuan. Sementara seorang lain ini lebih muda dan tinggal lengkap dengan beberapa putra- putrinya.
Saat putri keduanya, di usia mahasiswi baru masuk, meninggal terjatuh dari angkot, dekat rumah. Saat sang supir angkot datang setelah mengantar korban ke ugd, dan mengabarkan berita duka, diluar dugaan kami semua, dengan berusaha tetap tegar, Bapak mertua almarhum memaafkan sang supir dan meminta dengan tegas kepada siapapun yang hadir untuk tak menyentuh sang supir seujung rambutpun .
Padahal tetangga sekomplek, apalagi anak2 mudanya, sepertinya sudah siap2 menelan sang supir angkot.

Harta yg dimiliki adalah sebenar- benarnya dari slip gajihnya. Saat almarhum meninggal, yang ditinggalkan adalah rumah titipan/ dinas dan uang tak seberapa dari tabungannya.
Sekali lagi, semoga yang lebih baik buat bangsa inilah yg terpilih nanti.
Dan semoga almarhum dan almarhumah mertua saya mendapat tempat yg layak disisiNya. Dan diampuni segala dosa dan kesalahannya. Aamiin.

Standard
adventure, berbagi, cerita, cerita, kisah, renungan, event, olahraga, running, sport, trail running, tulisan

Lomba Yang Bisa Dimenangkan Oleh Siapapun Kita

Kamojang-

6 bulan pertama usia lari, saya tak cukup percaya diri untuk ikut lomba. Sampai Kang Rama Nusjirwan mengatakan,” Harus coba Ki, bagus untuk tahu dan tingkatkan kemampuan”.
Berikutnya adalah sibuk2 siapkan mental dgn sekian tanya- jawab sendiri, bagaimana kalau begini, bagaimana kalau begitu. Intip2 di hasil lomba yg sdh berjalan, kira2 saya akan ada di posisi mana. Akankah saya paling buncit?.
Belum cukup yakin saya putuskan daftar di Milo 10k 2010. Setelahnya adalah dag-dig-dug tak karuan.
Perasaan menyesal timbul. Peserta akan ribuan, dan mereka akan melihat orang setua saya lari terseok- seok atau gagal finish. Konyol sekali.
Ditengah- kegalauan saya, tiba2 saja Bang Muara Sianturi telpon,” Ki, jadi ikut Milo 10k?. Lo ikut Lomba Lintas Alam Kamojang aja, trel tuh”.
Pucuk dicinta ulam entah kemana eh si ulamnya tiba.
Yes. Selamat saya dari yg saya khawatirkan.
Kamojang, entah dimana, pastinya pesertanya tak ribuan. Venuenya dialam, banyak bukit dan pohon. Akan banyak tempat sembunyi jika kegagalan yg akan saya alami.
Tiba2 ada perasaan lain. Entah kenapa, saya merasa ada skenario yg dibuat si Abang ini.
Sampai2 beliaupun mau ikut lomba Kamojang ini.
Yg pasti dgn gagah percaya diri saya daftar.
Apalagi ternyata peserta kategori kecepatan( kita sebut lari trel kan)pesertanya hanya berlima. Haha. Sebelum2nya sampai 20-30an.
Hari H. Kami berlima, saya, Pendaki Liar, 1 peserta lokal, Bang Anwar rekan Pendaki Liar( saya dengar belasan kali berturut-turut juara lomba ini, mantan atlet lari halang- rintang 3000m) dan Bang Muara Sianturi.
Tak ada perasaan ragu, grogi atau apapun. Tak setetes keringat dinginpun saya rasakan.
Santai, seolah- olah sudah belasan puluhan kali ikut lomba.
Dari awal saya sudah ketinggalan. Yang tak pernah meninggalkan saya adalah asma saya. Selalu setia menemani  🙂 .
Dan percaya- diri yg entah darimana koq ya saya punyai.
Belasan km pertama, etape pertama adalah 25km, peserta lokal saya susul, juga Kang Pendaki Liar yg cidera. Kemudian lagi Bang Muara yg mengaku cidera. Berarti tinggal Bang Anwar didepan saya.
Singkat cerita saya finish 15 menit dibelakang beliau. Senang? Tentu saja. Aneh? Ya juga. Tapi saya tak ambil pusing. Saya nikmati saja dulu saat2 ini.
Kapan lagi saya merasakan saat2 kemenangan seperti ini. Seumur- umur lomba, hanya pernah juara di lomba balap… karung. Saat kelas 4 SD.
Itupun drama. Karena sempat diprotes peserta lain. Menurut mereka saya curang. Masa bukan loncat2 tapi melangkah. Sebelum lomba saya dibisiki kakak, “jangan loncat, ujung2 kaki posisikan keujung kiri kanan karung, dan melangkah jalan cepat” 😛 .
Bang Muara kembali ke Bandung malam itu juga. Artinya tak berlanjut dgn etape kedua esok harinya.
Esoknya saya lebih santai lagi, karena juara dua sudah ditangan. Kembali ke start 18km, dgn trek berbeda.
Saat magrib saya menerima piala juara dua setinggi 70 cm. Ga level dgn kemenangan Nadal & Schumacher, tapi perasaan mah beda2 tifis lah.
Sampai saat ini Bang Muara tak pernah mengakuinya. Tapi saya tetap percaya, beliau sengaja membuat saya ikut lomba ini. Membuat saya percaya diri dgn keikut-sertaannya dan membiarkan saya berlari menuju juara dgn tak melanjutkan lombanya.
Jika mau tentu saja trek yg ‘ hanya’ 25km disikat habis beliau. Seorang yg hanya perlu waktu 3jam 5 menit untuk 42.195 km.
Kisah diatas, gambaran betapa konyolnya saya, yg tak cukup percaya diri untuk ikut lomba atau memulai lari- berlari, tak harus diulang oleh siapapun.
Yang dilakukan seorang Bang Muara terhadap saya ingin saya tiru. Dengan cara yg berbeda yg saya mampu.
Dibantu dengan banyak teman2 lari trel yg luar- biasa, saya ingin, setelah ikut “Food, Fashion & trailFunrun. Sukawana” lalu dan “Food, Fashion & trailFunrun. Sawarna” 4 mei nanti, juga acara2 serupa selanjutnya, siapapun pemula tak lagi ragu untuk mulai lari, mulai ikut lomba. Tanpa dibebani dgn harus cepat, harus finish, harus podium, harus sempurna.
Lomba kita adalah lomba mengalahkan berbagai macam penghalang untuk hidup sehat dan nyaman. Lomba yg pasti bisa dimenangkan oleh siapapun kita. Pemula atau yang sudah lama.
Terimakasih Bang Muara, Kang Rama, dan semua teman2 yg selalu saling mendukung. Salam, selamat pagi, selamat hari jumat 🙂

Bandung, Maret 2014.

Standard
cerita, cerita, kisah, renungan, inspiration, kisah, motivation, olahraga, renungan, running, sport, story

Lebih Baik…. Lari

Belum terlalu siang, beberapa tahun lalu. Baru selesai lari dapat kabar ayah saya masuk ICU. Bandung diakhir minggu, macetnya, seperti yg sama2 kita tahu, ga lucu.
Menunggu yang lain mau berangkat sama2 koq rasanya seperti keabadian.
Tak pikir panjang saya lari ke Borromeus. Ya berlari.
Saat sampai dan melihat sanak- saudara berkumpul, saya baru sadar, ya ampun, saya pasti kena omel, gerutu dan omongan. Berulang- ulang, setiap mereka melihat saya berkostum lari.
” Hati- hati Kang, ingat umur”.
“Jangan maksain”.
“Jalan aja jalan. Lari mah atlet kali”.
Dan banyak lagi.
Itu satu. Dan baru sadar berikutnya adalah, apa kata Ayah nanti?.
“Duh ti- ati Ei( panggilan sayang Ayah ke saya). Harus ingat keselamatan. Umur kita kan sudah ga muda lagi”. Dan entah apalagi.
Perkiraan saya akan seperti itu.
Tapi, ya itu tadi, nasi sudah menjadi bubur. Kalau kata Aa Gym, jgn disesali, lebih baik buburnya kasih saja cakue.
Saya sudah melangkah masuk ke ruang icu, tak ada waktu lagi berfikir itu- ini.
Saya: “Salam Pak”.
Bapak: “Eh Ei. Abis lari?”.
Saya : ” Eu eu iya Pak. Anu.. dikit, bentar aja. Tadi .. eu buru2..”.
Bapak : ” Ya asal ati- ati aja. Semoga Bapak ga apa2 ni. Tapi kalo bisa milih, memang lebih keren mati karena lari daripada mati karena penyakit”.
Saya : ” ???????”.
Semoga Bapak selalu diberkahi sehat dan bahagia. Aamiin.

Standard