cerita

Banyak Lari Dan Gowes Yang Tak Membuat Bisa Ngeles Dari Koles

Bangunan tak mewah. Tak juga terlalu luas. Yang pasti asri dan bersih.
Letaknyapun tak dijalan utama Sedikit agak masuk jalan kecil. Cukup dua kendaraan berpapasan.
Rumah- sakit Jantung Hasna Medika. Salah- satu sponsor kami.
Matahari masih dengan sinarnya yang kuat. Padahal sudah lebih dekat ke magrib daripada ashar.
Sambutan hangat teman- teman dokter membuat lelah- lelah gowes dari Bandung kami tak lagi terasa.
Sebentar bersihkan diri tak lama kami sudah berkumpul diruang pertemuan. Setelah sebelumnya berkeliling melihat berbagai ruang dan fasilitas Hasna Medika.

Sempat melirik hidangan yang disediakan. Dimeja saji disalah- satu sisi dinding ruangan.
Hmm khas masakan Cirebon. Mulai dari sega jamblang, nasi lengko dan penganan/ cemilan lain. Menggugah selera sudah pasti.

Entah, mengapa sega jamblang dan nasi lengko. Padahal sega ya nasi 🙂

Obrolan hangat. Banyak info bermanfaat yang didapat.

Mulai dari ruang- ruang pasien kelas  tiga rasa VIP, ber AC 24 jam, alat- alat medis lengkap dan canggih, sampai pelayanan yang prima dan manusiawi.
Biaya yang seluruhnya ditanggung asuransi/ bpjs.

Pagi keesokan hari dimulai dengan drama.

Salah- satu teman talent pesepeda ngambek tak mau lakukan pengecekan jantung.

Ups maaf, besok- besok saya sambung 🙂

 

Standard
cerita

ILHAM SANG PETUALANG

 

gain-100Rinjani100-2017-100-CPRinjani100-2017-100-MapLTrek 100km di Rinjani. Pastinya tak main- main.

Padahal 52km saat awal MRU( Mount Rinjani Ultra), 2013 jika tak salah, sudah membuat ampun- ampun tak hanya pelari- pelari lokal, mancanegarapun dibuat mutung, kesal dan ambek.

Ah apa juga yg perlu ku khawatirkan. Toh jikapun tak finish aku sudah mencoba. Itukan yg penting?
Did Not Finish selalu lebih baik daripada Did Not Start. Entah dimana pernah kudengar seperti itu.

Ya, aku tahu sebelumnya. Beberapa jawara- jawara ada disini. Kecil kemungkinan bisa dapatkan podium. Tapi? Tunggu dulu. Rasa- rasanya aku melihat peluang di podium 3.
Mereka boleh jawara- jawara, tapi trek panjang dan trel? Dan di Rinjani? Siapa takut. Seorang saya, pengalaman boleh sedikit, usiapun tak lagi terbilang muda. Tapi semangatku  boleh di adu.
Podium 3 kan juga berhadiah. Niat belikan dan bagi- bagikan sembako di desaku, dari hadiah nanti adalah api semangatku yang luar- biasa. AKU BISA!

Dan..dengan biaya dari sang istri untuk menutupi semua biaya dan kelengkapan lari trel sederhanaku, terimakasih Istriku sayang 🙂 , akupun hadir diantara yang start di Senaru, di kategori 100.
Bergabung bersama beberapa pelari- pelari lain, lokal maupun mancanegara, ber gear ya ampun, walau ada satu- dua sesederhana aku, tapi sisanya adalah hmm apik rek 🙂 .

Bismillah.
Trek awal Senaru – Senaru Rim(WS 1, km 10,5/ ) mudah- mudah saja. Begitu juga trek berikut, sampai Sembalun Rim(WS2, km 18 ). Continue reading

Standard
cerita, tulisan

NYARIS SAJA.

Hujan lebat, selalunya mengingatkan saya akan suatu peristiwa naas yang menimpa salah satu penghuni rumah sebelah.

beberapa tahun lalu.

Sejak siang sampai adzan magrib berkumandang, hujan tak juga berhenti. Sebelumnya malah dengan angin kencang.

Saat melihat air diparit samping rumah, parit buangan kedepan, yang ‘luber’, saya segera ke depan. Pastimya tersumbat di salah- satu penggalan selokan depan rumah. Entah dimana. Karena sejak rumah paling timur sampai rumah kami( tiga rumah) selokannya terbuka. Setelahnya kearah barat nyaris tertutup.

Betul saja, air sudah penuh hampir rata dengan permukaan jalan.

Masuk kembali,keluar saya sudah siap dengan linggis, dorong apapun yang mungkin menyumbat.

Tiba2″ Om!! Jangan Om!. Ada kabel listrik yang jatuh ke selokan!”.

Walau agak temaram magrib, Saya mengenalinya sebagai salah- satu dari tiga atau empat Akang2 pemelihara taman rumah sebelah.

Rumah persis sebelah timur saya. Yang taman depan dan belakang rumahnya paling cantik sekomplek.

Seketika saya berhenti. Melihat keatas. Ya ada kabel yang jauh ke selokan. Tapi terlihat bukan dari tiang listrik, melainkan dari tiang telpon.

Artinya bukan kabel listrik tapi kabel telpon yg setahu saya tak beraliran listrik.

setelah yakin dengan apa yang saya lihat, alih- alih mau ‘sodok’ cari- cari yang menyumbat melalui salah satu bak kontrolnya, saya malah mau ‘pindahkan’ sang kabel yang menjuntai dan jatuh ke selokan dengan linggis saya.

“Om!!!!, Stop Om!!. Ini ada yg mati disini kena strom!!!”

Seketika saya lepas linggisnya.

Astagfirulloh.

Hujan dan angin kecang mendorong tiang listrik hingga kabel terputus.

Ujung satu entah dimana, ujung satunya lagi adalah yg jatuh persis diantara rumah kami.

Tak sengaja terpegang oleh salah- satu Akang pemelihara taman tadi, terlihat oleh dua lainnya, untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak, walau sudah dengan usaha keras dua temannya, Akang ini meninggal seketika. Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi Rojiun.

Kejadiannya berselang hanya tiga puluhan menit sebelum saya nyaris ‘bersentuhan’ dengan sang kabel maut.

Sang kabel maut yang saya kira kabel telpon, yang ternyata adalah kabel listrik yang terputus, jatuh dulu kekabel- kabel telpon, kemudian ke selokan.

Semoga almarhum diampuni segala dosa dan kesalahannya dan diterima disisi Alloh SWT. Aamiin YRA.

Standard
cerita

Saya Oh Saya..

Beruntung saya sadar bahwa saya memang pelupa. Jadi sejak semalam saya siapkan tak terburu. Cek cek & cek.
Setelah dirasa aman saya kembali menggantung di hammock tersayang.
Bada subuh saya mulai lagi perlahan. Cek cek & cek lagi semua. Rasanya lagi2 aman.
Tak ada yg tertinggal. Pesan go-jek, via kemacetan Cihampelas yg Na’Uzubillah menuju stasiun kereta- api Kebon Kawung.
Tapi karena sudah disiapkan cukup waktu, saya santai.
Sampai di stasiun, tak terburu- buru saya hampiri mesin otomatis pencetak tiket.
Alhamdullillah semua tertera dengan benar.
Masih 30 menit sebelum keberangkatan saya putuskan naik saja. Toh gerbongnya sudah ada.
Lagi- lagi2 santai saya tanya petugas, pastikan saya di rangkaian yg benar.
Tanya lagi sebelah mana gerbong 5 saya.
Alhamdullillah, hanya beberapa gerbong saya sudah sampai ke gerbong 5.
Naik perlahan, lagi- lagi dengan gagah dan penuh percaya diri saya masuk dan siap ke nomor duduk saya.
Santai dan pasti saya lihat.
Berulang- ulang.
Ternyata bernomor belasan. Saya masuk di pintu gerbong sebelah timur, mulai dari 1.
Ok berarti tadi salah masuk pintu.
Tak mengapa, sedikit jalan lagi, sampai keujung sekalipun bukanlah jarak yg tak berakhir.
Perlahan lagi saya menuju kearah depan.
1, 2, 3, 4 dan… lho nomor berakhir di 13 ABC. Hah????
Saya cek lagi, betul, saya lihat adalah nomor 18.
Cek cek dan cek lagi, tetap no 18.
Saya berusaha tenang. Mungkin mesin cetak tadi bermasalah. Atau petugas yang salah input.
Astagfirrulloh.
Tiba- tiba saya merasa menyesal. Lain kali berapapun dapat nomornya saya harus cek memang adakah nomornya.
Nasi sudah menjadi bubur. Mungkin lebih baik tambahkan cakue saja daripada dibawa pusing. Apalagi saya sedang batuk- batuk sesak.
Beruntung gerbong belum penuh. 1 2 hanya ber 7.
Saya masih termenung diujung gerbong dengan sisa sedikit penyesalan. Sebelum saya putuskan kembali ke petugas untuk masalah saya, tak sengaja tiket terlepas dan segera saya pungut.
Ya Alloh Ya Robbie Ya Rakhim, nomor saya tiba- tiba berubah menjadi IB..
Mata oh mata saya…
Salam selamat pagi, tut tut tut doakan semoga perjalanan kami menjadi kebaikan bagi kita semua. Paling tidak saya. Aamiin YRA
😊 #satuharisatutulisan #yuknaikkereta #menjelangenampuluh
Standard
bacaan, berbagi, cerita, cerita, kisah, renungan

Saya, Kami, Kita, Tak Hanya Sunda Dan Islam

Terlahir di Bandung, konon kota yang dijuluki Parijs Van Java, Kota Kembang, Kota berhawa sejuk, 60 tahun lalu, yang saya tahu hanyalah ‘kota’ seukuran sepanjang jalan Cigereleng, Mohamad Toha sampai Rumah- Sakit Advent.

Tentunya termasuk jalan Mohamad Toha sampai perempatan Pungkur, bersambung dengan jalan Balonggede, Alun- Alun selatan, Asia- Afrika, Braga dan  Cihampelas.

jalan- jalan yang dulu masih dua arah.

Sepertinya rute kompromi Bapak( saya panggil Ayahanda Bapak) mengantar saya periksa rutin dan berobat karena Asma dan bronkhitis bawaan saya.

Antara rute yang pendek dan sebisa- bisanya agar saya sekaligus bisa mengenal/ menikmati jalan- jalan dikota.

Sejak divonis dokter asma dan bronkhitis bawaan yang di usia tiga bulan nyaris tewas, saya tak boleh keluar halaman rumah sama sekali jika bukan karena ke Advent.

Alhasil sampai usia 5 tahun di Bandung pastinya tak banyak ‘main- main’ dan pengetahuan saya tentang banyak hal.

Saat anak2 sebaya saya main kejar- kejaran  atau dikejar betulan oleh pemilik empang yang empangnya dipancing tanpa ijin, saya hanya bisa main mobil- mobilan atau apapun hanya didalam rumah atau pelataran teras. Itupun tak lama.

Tapi ada hal yang barangkali tak mereka punyai.

Dirumah kami ada empat pemuda seberang yang kos.

entah mereka ini kuliah atau bekerja.

yang pasti saya punya lebih empat orang lagi dirumah yang membuat saya ‘ lebih kaya’ dari teman- teman sebaya saya.

Dari mereka saya ‘ pandai ‘ menyanyikan lagu- lagu Batak. Dari mereka pengetahuan saya tak lagi sekitar Alun- Alun, Rumah- Sakit Advent, mobil- mobil panjang station wagon dokter- dokter Amerika di Advent, Cigereleng, sawah dan empangnya, tap juga ada pulau besar selain Jawa. Ada kota- kota lain selain Bandung. Ada danau Toba selain Situ Aksan dan Patenggang.

Saya boleh iri dengan kisah- kisah teman- teman sebaya saya  main layangan, seru- serunya main bola. Tapi saya pun boleh bangga dengan nyanyi- nyanyi Butet dan Dainang, dengan cerita saya tentang pulau Samosir ditengah danau Toba. Dan banyak lagi cerita- cerita seru lainnya.

Dihari pertama Sekolah Dasar saya di SDN Kemanggisan Jakarta, guru dan teman- teman saya pastinya terheran- heran bercampur geli, saat kami bergiliran menyanyikan lagu daerah kami masing- masing, alih- alih lagu Manuk Dadali atau Neng Geulis yang saya nyanyikan ya Dainang tadi 🙂

Menjelang usia SD kami pindah ke Jakarta. Bapak memang sejak saya masih diBandung sudah bekerja di Jakarta.

Tiba- tiba saja saya punya lebih banyak lagi teman. Berbatas sungai Kemanggisan adalah Kampung tempat tinggal teman- teman sekolah Kampung Kemanggisan. Dideretan rumah  kearah utara adalah Dika orang Kuningan, persis belakang adalah Benny yang dari Ambon. Dan beberapa lagi teman, sobat bermain saya.

Berlawanan dengan saran dokter, sejak saya di jakarta Bapak malah putuskan saya harus  bermain. Tak lagi mesti dirumah saja.

Seperti di tulisan saya terdahulu, sepertinya bagi Bapak, lebih baik saya, jika memang pendek usia( tak diharapkan tentu saja) tapi bisa mengenyam masa- masa kanak- kanak saya sebaik mungkin daripada panjang usia tapi selamanya diam dirumah.

Diluar waktu- waktu sekolah adalah penjelajahan. Menjelajah dari ujung komplek Slipi di selatan sampai ujung utaranya.

Teman- temanpun semakin banyak dan beragam latar- belakang, suku dan agamanya.

Terlahir dari keluarga Ibunda yang asli Garut dan Bapak yang Jepara dan Banten, saya tak ada Bandung- Bandungnya ternyata. hanya kebetulan saja terlahir di Bandung.

Tapi yang pasti solat dan ngaji sudah diharuskan sejak kecil.
Kakek- kakek dari Ibunda dan Bapak yang Ajengan dan Kyai Haji, sudah pasti mengharuskan saya lebih lagi.

Berkaitan dengan ibadah, Bapak tak memaksakan banyak hal. Cukup solat lima waktu dan mengaji.

Puasa masih boleh saya lewat. Apalagi saat saya seringnya berpura- pura tak kuat 🙂

Tak jauh dari rumah, adalah rumah tetangga yang sering digunakan kebaktian. Ditengah- tengah kami bermain, sekali- sekali kami mampir dan  ikut hadir. Hal yang pasti menarik bagi saya karena oh ada hal lain lagi yang berbeda.

Semakin lama, dari hanya sekedar melihat- lihat, kemudian sepenuhnya menyimak sampai turut membaca kitab.

Tak sedikit pertanyaan yang muncul, tapi saya yakin sedikitpun tak merubah akidah saya.

Menjadi tambahan pengetahuan saya bahwa ada iman dan kepercayaann yang lain.

Saya tetap bermain dengan siapapun dari suku, agama dan kepercayaan manapun.

Saya tetap solat dan mengaji.

Kepindahan kami berikutnya ke Pasar Minggu, ke komplek Garuda, persis setelah kenaikan kelas ke kelas  5.

Lagi- lagi tak hanya kami temui tetangga- tetangga berbeda suku dan agama, tapi juga dekat.

Persis depan rumah adalah dua kakak beradik Tante Lily dan Liana.

Dua bersaudara pekerja yang selalu mengajak saya untuk ikut mobil mereka setiap pagi sekolah.

SDN Duren Tiga sekolah saya memang terlewati arah ketempat mereka kerja.

Masa- masa suka dan senang saya pun berlanjut saat setelah kenaikan kelas ke kelas enam.

Kembali ke Bandung.

Dandanan main saya  tak berubah,  celana pendek yang seringnya berwarna lebih gelap dari hemd lengan pendek saya. Hemd yang tak pernah terlewat, terkancing sampai lubang kancing teratas 😊.

Hanya sekarang selalunya ditambahkan pullover agak tebal. Bermotif jika tak garis- menyamping atau kotak kotak.

Akhir tahun lalu Alhamdullillah saya berkesempatan bertemu dengan salah- satu anak keluarga Tionghoa, keluarga pengusaha industri rumahan tas- tas kerja dan sekolah.

Tetangga sederetan. Hanya terhalang dua rumah.

Dirumah keluarga mereka yang sama, dan usahanyapun masih yang sama.

Jalan Taman Siswa atau dikenal juga dengan jalan Bonteng

Rumah usaha mereka tempat kami anak- anak usia sekolah, salah- satu tempat kami ngabuburit saat ramadhan dengan melihat tukang- tukang bekerja. Seringkali kamipun ikut mengerjakan bagian- bagian yang mudahnya.

Masih dijalan yang sama, berseberangan, adalah keluarga Sigarlagi. Teman sekaligus nyaris  lawan bsrkelahi saya 😊.

Saat mereka pindah ke Gegerkalong akhir enampuluhan saya sempat mengantar.

Terasa jauh tak sampai- sampai. Siapa nyana puluhan tahun berikutnya kembali menjadi tetangga lagi di Gegerkalong.

Masa- masa indah kami.

Tak kami pusingkan, suku atau agama dan kepercayaan apapun.

Bandung, juni 2017
 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Bersambung..

Standard
cerita, kisah, story, tulisan

SEPENGGAL KISAH MASA KECIL SAYA

Dunia saya adalah main, main dan main disana – sini.
Dunia saya tak pernah sepi.
Kemanapun pergi, selalu ada siapa- siapa dikanan dan dikiri.

Berkelahi? Selalunya saya hindari. Tapi jika mesti, walau awalnya ragu akhirnya pasti saya hadapi.

SEPENGGAL KISAH MASA KECIL SAYA.

Sejak usia belum sekolah saya sudah suka sekali berteman. Terutama dengan perempuan:).
Tunggu dulu.
Bukan berarti genit atau keperempuan- perempuanan.
Bagi saya mereka tampil tak kasar, tak temperamen. Tak suka berkelahi.
Walau kenyataannya, tak jarang kebalikannya.
Saat tinggal dirumah petak di Batujajar Jakarta dulu, saat pemukiman dibelakang Grand Indonesia masih kampung, lebih sering mendengar si Tante sebelah rumah yang mencak- mencak entah karena apa daripada si Om suaminya.
Lebih sering terlihat si Mbok penjual sayur keliling ngomel- ngomel dibanding Bapak- Bapak tukang becak yng suka mangkal di gang keluar kampung kami.
Saat smp saya malah punya ‘bodyguard’ perempuan.
Siapapun yang ganggu saya, laki- laki pastinya, harus berhadapan dengannya.
Dan selalunya, segagah apapun laki- lakinya ciut dihadapannya.
Ohya, sang ‘ bodyguard’ ini hanya satu dari sedemikian banyak teman- teman perempuan yang suka dengan saya. Stop! Bukan saya maksud saya yang ter ini ter itu, tapi karena mereka menganggap saya.. apa ya, lucu barangkali. Perawakan saya mungil jika tak dikatakan lebih pendek dari kebanyakan se usia saya.
Jadi tampil imut.
Mereka tak sungkan peluk- peluk saya.
Ya itu tadi, barangkali saya dianggap boneka hidup.
Saya? Antara suka dan tak suka. Suka, karena ya dipeluk- peluk itu tadi. Perawakan boleh imut, mungil. Hati kan hati se dewasa mereka:). Tak suka, karena, ya bagaimana saya bisa jadikan salah- satu dari mereka pacar saya? Semua menganggap saya tak lebih dari teman ‘kecil’ yang menyenangkan.
Beruntung, porsi keinginan bermain saya tak kalah besar dengan porsi keinginan punya pacar:).

Jadi, pada akhirmya tetap saja saya lebih suka bersahabat dengan mereka.
Sahabat- sahabat saya sejak kecil sampai usia sma selalunya lebih banyak perempuan.
Bahkan Ibunya anak- anak adalah satu dari dua mantan sahabat saya sma 🙂
Walau tak banyak, beberapa adalah sahabat laki- laki.
Yang pasti teman- teman bermain usia sd saya banyak sekali.
Dari ujung komplek di utara sampai selatan.
Teman- teman main perang- perangan, pedang, bola. Sampai sekali- sekali mancing di sungai dikampung seberang.
Untuk yang terakhir saya lebih sebagai penonton.
Saya tak beruntung dengan urusan mancing- memancing.
Teman- teman sudah belasan ikan didapat, saya tak satupun.
Setali tiga uang dengan urusan adu layangan. Layang- layang mereka bisa berlama- lama lenggak- lenggok di udara sambil putuskan layang- layang lawan, saya selalunya menjadi disisi yang tak pernah lama. Begitu naik ssst putus. Layangan saya. Bukan lawan.
Tapi jika urusan mencari dan banyak  teman, entah laki- laki atau perempuan, rasa- rasanya saya lebih jagoan:).
Rentang usia teman- teman saya dua- tiga tahun kebawah dan keatas. Artinya, saat usia kelas tiga smp misalnya, mereka adalah di usia kelas satu smp sampai yang baru kuliah.
Dunia saya adalah main, main dan main disana- sini.
Dunia saya tak pernah sepi.
Kemanapun pergi, selalu ada siapa- siapa dikanan dan dikiri.
Seperti yang saya pernah ceritakan, Mmak dan Bapak tak pernah keberatan dengan hal ini.
Yang penting setelah solat dan ngaji.
Ditambah lagi saya tak bermasalah dengan urusan sekolah.
Masuk sekolah siang, pulang sekolah saat sore, langsung saya selesaikan semua pe er- pe er sekolah.
Sering kali malah saya selesaikan lebih dari yang semestinya.
Kadang empat sampai lima halaman lebihnya.
Setelahnya selalunya saya mandi, pakai hemd lengan pendek bermotif kotak- kotak, kebanyakannya, terkancing sampai keleher, saya siap pergi main. Tak pernah terlewat, bersepatu:).
Berkelahi? Selalunya saya hindari. Tapi jika mesti, walau awalnya ragu akhirnya pasti saya hadapi.
Pernah suatu kali, seorang teman, mungkin sebab iri- hati akan entah hal apa, berulang- ulang mengganggu saya. Apapun dilakukan untuk memancing emosi saya.
Bagian yang paling menyebalkannya bukan gangguannya, tapi bahwa dia berperawakan jauh lebih besar dari saya dan.. selalunya dia lakukan dihadapan banyak teman- teman yang lain.
Serba salah. Dibiarkan, tak nyaman juga, karena jadi bahan olok- olok yang lain. Dilawan? Tampang dan perawakannya saja sudah mengintimidasi.
Akhirnya, keputusan harus dilakukan. Saya hampiri dia, setengah berbisik saya katakan,” yuk, ga usah koar- koar, mari kita berdua kelapang”.
Dengan perhitungan dan harapan, pertama, siapa tahu gertak saya efektif, membuat dia berfikir lain tentang saya. Kedua, tak lupa berdoa yang banyak, setelah  beberapa kali pukulan dia terhadap saya, yang kemungkinan terbesar tak bisa saya elakan, teman- teman lain sudah merelainya. Semoga, Aamiin.
Perhitungan ketiga, saya akan ambil posisi dimana ada batu sedikit besar atau apapun dalam jangkauan saya, dan siap saya gunakan saat terjepit.
Saya akan hantamkan semampu saya. Sepertinya akan cukup sekali jika bisa ke kepalanya.Seperti yang suka saya lihat di film- film india di layar tancap.
Diluar dugaan, mendengar ‘tantangan’ saya dia tampak kaget.
Tiba- tiba saya melihat hal lain.
Tampak jelas keyakinannya mendadak surut, berbanding terbalik dengan kepercayaan diri saya.
Dan akhirnya ‘perkelahian’ kami berakhir dengan keduanya terjerembab di selokan bau dipinggir lapangan. Penonton kecewa, tak ada adegan pukulan tak berakhir dari sang lawan dan tak ada juga hantaman batu yang mematikan dari saya.
Sebaliknya saya  bahagia:)

Bandung,kamis dinihari, november 2015.
Sepenggal kisah masa kecil saya.
Ditulis saat terbangun dari ketiduran sejak selewat magrib kemarin.

Standard

image

bakti sosial, berbagi, biking, cerita, cycling, fit, healthy, inspiration, komunitas, motivation, olahraga, renungan, running, sehat, sepeda, sketchup, sport, story, transportasi

Peduli Atas Bumi Yang Hanya Satu Ini

Image
adventure, cerita, inspiration

Hendra Buitenzorg

6633ultrahwfinish

Hendra Buitenzorg.
saya lupa tepatnya, rasa2nya pertengahan 2010.
Tak berhasil menemuinya di kesempatan pertama, saya sengaja berlari dari Bintaro ke Bogor hanya ingin bertemu beliau, saya ulangi di bulan berikutnya.
Alhamdullillah akhirnya. Setelah menempuh jalur tengkorak Depok, parung, Bogor, sepiring besar kepiting saos padang, udang dan ikan bakar, habis saya lalap bersama beliau. ehem, maksudnya, saat itu saya lebih banyak.
Beberapa bulan berikutnya, beliau ajak saya berlari di Tangkubanparahu.

Batur
Jadi, ini adalah kali pertama saya berlari bersama beliau.
Yang semula saya kira adalah start di Jayagiri, muncak, lantas lanjut muncak Burangrang, ya hampun, menjadi start kota di jalan Sukajadi, naik ke Tahura, Maribaya, Lembang, Masturi, terus kearah barat, Cisarua, muncak Burangrang, turun, cari2 akses ke Tangkubanparahu.
2 jam pun berlalu hanya untuk cari2 jalan kepuncak, dari arah sisi Burangrang.
Mau nangis rasanya.
Sebelumnya saya sudah beberapa kali lari2 jauh. Sendiri.
Berdua? Dan dengan beliau?Ampun, aslinya neraka.

Rinjani
Coba bayangkan.
Setiap ada warung, saya pikir kami akan berhenti minum. Saya ya. Beliau?
Ternyata dia sudah siapkan beberapa lembar 5an ribu, lipat2 kecil.
Setiap ada warung dan perlu minum, cukup simpan lipatan 5an ribunya,ambil botol air kemasannya. Lanjut.
Saya? Sudah ketebak kan?
Hah heh hoh. Duduk dulu. Minum, ngemil,beberapa menit baru lanjut.
Gusti Nu Maha Suci. Kenapa lari trel koq ya tiba2 menjadi sedemikian beratnya ya?
Jadi? Ya iya lah, ketinggalan wae 😦
Bagi dia, waktu adalah lari.
Bagi saya mah, ngaso we.
Setelahnya adalah lari2 bersama.
Seolah, jika dia ajak saya tak menolak. Begitupun kebalikannya.
Lari Gunung Nusantara adalah ide beliau.
gagasannya adalah berlari di banyak gunung ditanah- air.
Mulai dari Salak, Gede Pangrango, sampai puncak Cartensz di Papua.
Mengenalkan lari- berlari. Utamanya lari trel. Ditanah- air, dan penuh percaya diri, juga dunia.
Terimakasih untuk Garmin Indonesia​ yang sudah dukung acara2 ini di beberapa kesempatan awal.
Dari hanya sekedar lari2 berdua, kemudian kami, bersama Bang Nefo Ginting​( terimakasih Bang, sudah ajak kami sejak awal, bergabung di Trail Runners Indonesia) adakan Mt. MOUNT RINJANI ULTRA​.

Bang Nefo yang berkat beliau lah saya akhirnya bisa muncak Gunung Rinjani.

Selanjutnya dan selanjutnya adalah seperti yang sama- sama kita tahu bersama.
Beliau- beliau diatas adalah dua dari beberapa pahlawan- pahlawan saya.
Tak selalu akur, kamipun suka berbeda pendapat. Saling ejekpun bukan hal aneh.
Saling membuat kesal dan menyebalkan? Ya iya lah.

Tapi diatas semuanya, walau saya yang tertua dari bertiga, saya menaruh hormat kepada beliau2 ini.
Saya banyak belajar dari mereka.
Bicara lari trel tanah- air tak mungkin lepas dari andil mereka.

Dan tentu saja andil dari semua teman- teman pencinta dan penggiat lari trel.Anda semua.

Bravo Lari Trel Tanah- air, Bravo kita semua  🙂

Standard
adventure, cerita

Lari Gambung – Cileunca – Banjaran, Dan Monster Steak

Tak menunggu lama sang monster steakpun tersaji.

Iyalah, wong medium rare. Disamping memang sudah liwat jam- jam makan siang juga.
1, ya satu, kilogram has dalam tergolek cantik manis menggoda di.. piring sih, tapi berbentuk pipih segi empat, berukuran tak biasa, selebar serbet makan  berbahan damas. Diatas meja didepan saya.
Sementara si akang waiter seperti yang sudah saya duga, terheran- heran.
Pendampingnya kentang  & salad. Agak tak biasa, kentangnya dibuat kripik, bukan tumbuk atau frenchfries.
Di salah- satu resto dari yang banyak berderet sepanjang jalan Riau.
Dan salah- satu menunya adalah Monster Steak.
Asli 1 kilogram has dalam. Jika mau mereka bisa timbangkan dulu sebelum disiapkan.
Persis beberapa saat, sebelum perlahan tapi pasti, akhirnya sampai ke potongan terakhir monster steak saya, Akang manager tiba- tiba muncul didepan saya.
“Damang Kang?”
“Alhamdullilah Kang, moga sama juga”..
Sapaan ramahnya berlanjut dengan,” Kang, anak- anak( maksudnya waiters) pada taruhan, Akang bisa ngabisin ga ..”.
” 🙂 “.

salah- satu dari beberapa menu lainnya yang monster- monster juga, biasa dipesan untuk 4 orang.

Itupun masih 250 gram per orangnya.

Pagi hari sebelumnya saya memulai lari- lari sendiri saya. Start di ketinggian 1400m Kampung Gambung. Dilereng Gunung Tilu. Masuk kabupaten Ciwidey. 35km selatan Bandung.

Trek melipir dikaki gunung Tilu. Arah danau Cileunca. Kemudian lanjut menurun kearah Banjaran.
60an k.
Hanya sedikit porsi disiapkan untuk sang monster ini setiap harinya..
Salah- satu dari promo mereka.
Harganya super murah untuk seukuran  raksasa ini.Berkualitas baik. Saya tahu sekali.
Jika disatu tempat saya ragu dengan daging steaknya saya cukup pesan blue rare atau rare. Minta hanya di marinade sebelumnya dengan garam laut, sedikit merica dan oregano. Mutlak saus dipisah. Jika menolak, artinya daging mereka jelek. Jika ya, boleh berharap baik 😉 .
Tak sedikit yang mengharuskan kita merogoh kocek sampai nyaris 100an ribu untuk 125 gram steak .  Bukan has luar. Apalagi has dalam. Padahal dikelas Warung Steak biasa.
Dengan banyak lemak disana sini.
Cukup mereka marinade lama sebelumnya dengan bermacam- macam bumbu. Semakin semarak, semakin aneh, semakin ‘tertutup’ jeleknya sang daging.
Istilah saya untuk ini adalah ‘ Daging bumbu’.
Tak berarti tak ‘enak’. Sebaliknya. Buktinya banyak warung- warung steak( yang sekarang sudah menyebut diri Steak Resto atau ada yang berani dengan Steak House) laku. Selalu penuh.
Padahal ya daging bumbu tadi. Daging yang bukan ‘daging’. Jadi yang ‘enak’ adalah bumbu- bumbunya. Dan sang daging hanyalah sekedar media.

Dikita, asal pedas, panas, di goreng atau bakar, apapun bisa jadi enak. Sekedar aci( tepung tapioka) pun diburu. Cireng kan?
Sekali waktu saya antar seorang klien, yang minta dibuatkan resto & cafe, coba menu steak ke beberapa tempat di Jakarta. Mulai dari kelas Warung Steak sampai Steak House sekelas O*tb@ck.
Disalah- satu, lokal, amat sangat terkenal, kami pesan 3 ( tiga ) menu steak, dengan tingkat kematangan berbeda( rare, medium, well done), lokal, US & NZ. Seperti tertera di menu.
Kami temui, ketiganya dari bagian sapi yang sama dan lokal. Disiapkannya saja yang berbeda. Jangan- jangan dari satu sapi yang sama.
Ditambah adegan mencelatnya garpu saya 😛 .
Harganya? Tahun 2004an, 75rb sampai 125rb, umtuk 125 gram? tak sepadan.

Bersambung

Standard
cerita, motivation

PERUT RATA DAN BOKONG YANG SEDIKIT ADA

perutrata

Sejak menikah 35 tahun lalu, berat badan saya tak berubah sama sekali.

Dengan tinggi badan yang sayangnya tak sampai 170cm kurang sedikit( sengaja saya tulis sedikit, agar terkesan dekat ke 170cm 😛 ), berat badan saya tetap di 58kg.

Agak kurang untuk disebut ideal.

Tapi saya cukup sehat dan senang- senang saja. Bahkan merasa selalu bisa bergerak lincah.

Rasa- rasanya demikian juga dengan perut dan    bokong saya.

Merasa ‘gendut’ jika baru saja makan agak banyak. Dan bokong? Tak istimewa bak peragawan, tapi yaa ada sedikitlah, tak rata- rata amat.

Candaan diri kesukaan saya adalah ‘ badan harus menghadap kedepan’. Yang saya maksud adalah perut rata, bokong sedikit ada. Karena jika perut ada dan bokong rata, artinya kan sebaliknya, saya merasa berdiri menghadap kebelakang( just kidding 😛 ).

Maaf saya tak berniat menyinggung siapapun.

Tadi malam, kebetulan saya harus selesai duluan dengan lari- lari malam saya di Eiger Thursday Night Run.

Tak sengaja ada beberapa teman wiraniaga di resto sebelah- sebelah  yang bertanya kepada saya, bagaimana caranya punya perut rata.

Jaman apa- apa bisa bertanya ke Mbah Google, saking banyaknya mungkin membuat bingung mana yang dipilih.

Saran saya, sambil menunggu menemukan yang diinginkan, yang sesuai, barangkali beberapa hal yang sudah dan masih saja saya lakukan bisa dicoba.

1. Gerak, gerak dan gerak.

Keputusan saya dan nyonya untuk sejak menikah mengerjakan semua urusan/ kerjaan ruman, anak dan tetek- bengeknya sendiri membantu sekali untuk hal ini.Sapu, ngepel, bersih- bersih. Sampai- sampai saking seringnya bergantian menggendong nina- bobo anak2 kami saat kecil, membuat saya, jika berdiripun goyang- goyang sendiri, bergerak seolah  saya sedang menina- bobokan anak saya 😛

Menghindari menggunakan mobil sendiri jika memungkinkan.

Jika ya, selalunya tak terganggu dengan parkir mobil yang jauh dari kemana kami harus berada.

Menghindari lift/ eskalator semampu- mampunya.

Saat anak- anak di usia ‘ bisa dimintai tolong ambil itu ini’ seringnya saya lakukan sendiri.

Saya bukan tipikal suami yang harus selalu dilayani. Walau sang nyonya selalu siap dan senang hati lakukannya.

Sekedar buatkan suguhan untuk tamu saya, tak mesti minta tolong orang rumah. Apalagi untuk sendiri.

Dapur saya tak mahal. Tapi husband friendly 😉

Saya bisa nyaman siapkan teh atau kopi, cuci- cuci sampai siapkan sendiri sarapan pagi.

Walau selalumya sudah keduluan sang istri.

2. Urusan asupan saya tak punya pantangan. Semua suka. Bahkan sukaaaa sekali.

Tapi tak satupun yang menjadi keharusan.

Saya bisa tahunan tak makan nasi. Saya bisa diet apapun jika harus.

Berusaha tak sering-sering tentu saja goreng- gorengan, jeroan, yang terlalu berlemak, manis- manis dan bumbu yang terlalu tajam, kecuali pedas.

3. Berusaha sesering- seringnya bepergian.

Sering bepergian tak berarti tak betahan diam dirumah.

Saya suka dengan ungkapan “Selalu semangat pergi meninggalkan rumah, karena akan banyak mengalami/ menemukan banyak hal- hal baru.

Dan tak kalah semangatnya saat akan pulang, karena akan bisa ‘ istirahat’ sesuka dan senyaman suasana rumah sendiri”.

4. Persoalan dan masalah? Siapa sih yang tak punya sama sekali?

Tentunya saya tak terkecuali.

Saya tak membiarkan untuk memikirkan 1 persoalan/ masalah saya di waktu 24 jam saya dalam sehari.

Masih banyak hal itu- ini yg harus saya bagi.

Jadi, jika ada 1 hal tak juga kunjung selesai secara membuat saya happy, ya biar besok2 aja lagi.Toh dipikirin terus juga tetep we gitu lagi gitu lagi.

5. Sejak 5 tahun lalu saya tambahkan dengan berlari trel.

Larinya sendiri kita semua tahu manfaatnya. Lari trel?

Gerakan naik/ turun( turunan dan tanjakan), kaki yang banyak diangkat lebih tinggi,membuat otot perut banyak dirangsang untuk menjadi kencang. Suasana dan pemandangan yang hijau, udara lebih bersih, semua- semuanya adalah hal- hal mudah dan indah yang membuat lebih cepat lagi ke “PERUT RATA DAN BOKONG YANG SEDIKIT ADA”.

Eh sudah waktunya sepedahan dan lari pagi sambil pungut2 sampah ini.

Yuk atuh,

Selamat  pagi, selamat hari jumat 🙂

Standard
cerita, renungan, story, tulisan

Bapak

Untuk se usia 84 tahun, Bapak terhitung sehat.

Padahal lama sudah tak lagi banyak jalan kaki, seperti terakhir 1995an.

Menata taman dan lingkungan seluas 32 Ha enteng- enteng saja. Selalu berjalan kaki. Dibantu belasan tukang taman.

Sejak matahari menjelang, sampai sebelum magrib. Berhenti hanya saat makan siang dan minum teh sore dan waktu- waktu solatnya.

Luar- biasa suka- suka Bapak akan taman, desain rumah/ bangunan. Padahal Bapak tak bisa menggambar sama- sekali.

Tapi kerap bisa berdiskusi seru untuk urusan desain rumah/ bangunan dan taman serta banyak hal yg berhubungan.

Sejak Bapak di diagnosa ada gangguan jantung, Bapak tak boleh lagi ‘capek- capek’.

Entah memang sedemikian ‘parah’nya atau memang Bapak yg tiba2 saja ‘ malas’ jalan kaki lagi.

Hari- hari Bapak tak banyak berubah, kecuali minus jalan kaki jalan kakinya.

Keluar kamar pertama setiap harinya Bapak selalu sudah terlihat rapih. Selalu sudah mandi. Berhemd lengan pendek/ polo hemd. Polos atau bermotif garis- garis atau kotak- kotak kecil. Yang pasti berwarna cerah. Tak pernah lusuh ataupun kumel.

Celana pendek selutut atau panjang.

Sarapan, baca koran dan berita pagi di tv.

Satu dari banyak hal yang saya suka dari Bapak.

Selalu tampak rapih. Walau seharian dirumah.

Seminggu dua minggu sekali bersama Mmak( panggilan Ibunda) keluar kota. Sekedar nengok salah- satu anak2nya.

Atau bersama teman se usianya, bernostalgia ke perkebunan- perkebunan di jawa barat. Sekali- sekali sampai ke Jawa tengah jawa timur.

Seperti saya, Bapak tak punya pantangan makan. Tapi cukup rapih. Tak kebanyakan menyukai itu- itu saja. Terhitung apik.

Seumur- umur bukan perokok. Apalagi peminum alkohol.

Bapak hanya kenal air putih dan teh hangat tawar.

Bapak yang saya ingat. Jika sekarang, ‘cool’ barangkali adalah ungkapan yang nyaris pantas.

Sejak dulu.

Di usia sudah Bapak- bapak, tahun 75an. Berarti bapak di usia 44an.

Tahun- tahun itu, usia sekian kan biasanya tampil lebih ‘tua’ dibanding sekarang- sekarang.

Bapak- bapak lain biasanya berambut terpangkas rapih. Bapak ikal dengan sedikit lebih panjang.

Umum saat itu banyak keluarga bermobil model sedan, jeep. Bermuatan banyak.

Bapak pakai fiat 850 sport dua pintu.

Maunya malah mini cooper.

Padahal kami anak- anak sudah bertujuh.

Kaka terbesar usia 18an, terkecil 6 tahun.

Lucunya, kami semua, Mmak dan anak- anak mendukungnya.

Bukan karena Bapak ‘memanjakan diri’. Tapi ya memang kami semua suka seperti itu.

Kami semua dekat satu sama lain. Tapii tak berarti sering pergi bersama. Jika ya pastinya dengan kendaraan umum atau yang lebih besar. Sewaan.

Jadi mobil yang sport berpintu dua dan hanya satu- satunya sama sekali tak ‘mengganggu’. Bahkan ya itu tadi, cool 😉 .

” mana lebih seru, 1 mobil yg bisa banyakan, besar, tampil kebanyakan, tapi seringnya dipake cuma Bapak sendiri, atau berdua Mmak, atau paling Kang Denny( kakak laki- laki tertua), atau, mobil kecil, sport 2 pintu yg lucu?”. Pertanyaan Bapak yang tak sulit dijawab oleh semua seisi rumah.

Keesokan harinya sang sport berpintu dua menjadi satu- satunya dikota kami.

 

Tujuh anak, tujuh cara berbeda Bapak menghadapinya.

Setiap orang- tua selalunya akan bersikukuh, tak membeda- bedakan anak- anaknya.

Bagi saya? Rasanya si Bapak lebih deh ke saya.

Apapun.

Bagi Bapak, saya ter. Saya paling tertib, paling pandai. Dan ada saat- saat saya paling nakal, paling bandel. Pastinya ada saat saat saya paling mengesalkan.

 

Sejak kecil saya adalah teman Bapak.

Paling suka sarapan bareng Bapak. Paling suka habiskan makanan Bapak yang karena terburu- buru, tak sempat.

Paling suka menjadi teman Bapak baca koran. Atau mendengar cerita- cerita Bapak dikantor, dijalan.

Mendengar kisah- kisah Bapak jaman baheulanya.

Bapak yang selalu semangat mengajari saya apapun.

Jauh sebelum usia sekolah, saya sudah pandai tulis, baca, bahkan beberapa kalimat inggris dan belanda.

Menggambar apalagi. Yang terakhir bukan Bapak, tapi kaka sepupu saya yang ajari. Pastinya dengan dorongan Bapak.

Tak berkecukupan pada saatnya tak menghalangi Bapak untuk selalu berusaha agar saya mendapatkan apapun yang sebaiknya saya miliki.

Sampai.. saat saya lulus sma,” Ei, Bapak hanya bisa belikan tiket sekali jalan dan sedikit uang untuk makan beberapa minggu. Bapak percaya Ei bisa atasi apapun disana”.

 

Belakangan saya jarang tengok Bapak. Padahal saya lah dari tujuh bersaudara yang tinggal paling dekat dengan Bapak.

 

Saat ini Bapak masih opnam di rumah- sakit.

Jantungnya baik. Asam uratnya pun tak mengkhawatirkan.

Yang di deritanya ‘hanya’ gatal2 sebadan. Merah- merah. Disebagian tangan dan kaki malah seperti melepuh.

Dokter bilang Bapak kekurangan albumin. Mungkin Bapak terlalu ‘Apik’ makannya. Sampai- sampai asupan gizinya jauh berkurang.

Ditambah lagi banyak obat yang diminum. Untuk jantungnya, asam uratnya dan saraf. Bapak belum berapa lama terkena parkinson.

 

Kembali ke saya dan Bapak.

Tak saya maksudkan bahwa Bapak adalah Bapak terbaik di dunia.

Bapak, seperti juga mungkin beberapa Bapak- Bapak lain di manapun, pastinya tak luput dari salah. Tak lepas dari keliru.

Hal- hal yang manusiawi.

Tapi yang pasti, apa yang sudah, sedang dan pasti akan Bapak berikan kepada saya, tak akan pernah terukur.

Ibarat tulisan kisah/ cerita fiksi India, Mahabarata atau Jodha Akbar. Tak akan berakhir sampai ajal menjelang.

Sementara saya ke Bapak, mungkin tak lebih dari satu goresan kecil. Itupun pendek.

Ajal menyapa, tak hanya saat tua, tapi juga saat muda. Tak hanya saat sakit, begitupun saat sehat, gagah nan perkasa. Hanya Tuhan yang tahu..

 

Saya berdoa, semoga Alloh memberikan yang terbaik bagi Bapak. Aamiin.

Saya bukan sedang mendayu- dayu.

Saya ingin mengingatkan diri saya sendiri dan barangkali siapapun.

Saya tak ingin, saat Bapak, jika memang sudah menjadi kehendak Alloh, dijemputNya, tak tiba- tiba menangis meraung- raung sampai terdengar keujung jalan. Menyesali banyak hal. Menyesal tak memberikan apa yang mampu, bahkan jika ya seisi dunia. Padahal saat Bapak masih ada, tak segorespun yang diberikan kepada Bapak.

Pastinya saya akan bersedih. Sedikit terisak mungkin.

 

” Bapak ga usah khawatir lagi. Ei yg selalunya dimata Bapak adalah Ei kecil,yg suka megap- megap saat anfal asma, dulu, duluuu sekali, sudah lama sehat koq. Sudah bisa lari2 lama. Kadang berhari- hari. Sudah bisa lari jauh, bahkan ratus- ratus kilo”.

“Sampai nanti sore lagi ya Pak”.

 

Bandung, Advent pagi hari.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Standard
cerita, cerita, kisah, renungan, renungan, story, tulisan

Bandung- Depok, Obrolan, Pilpres dan Harapan Saya

Jangan2 Akang supir travel ga pake rem. Bandung Depok, tepatnya nyampe stasion Lenteng Agung masa iya cuma 2 jam.
Lom kenyang rasanya tidur.
Seperti biasa, urusan cari2 alamat ga pernah bikin pusing.
Tinggal tanya siapa aja. Toh masih di indonesia indonesia juga. Masih bisa pake bahasa yang gw bisa.
Yg pertama ditanya ga tau ya tanya lagi aja yang laen.
Apalagi temen2 Derby, Depok Running Buddie baek banget, pake mo jemput segala.
Ga ah, buat gw, cari alamat, nyasar ga nyasar adalah juga ‘ petualangan’.
Langsung nyampe Alhamdullillah, nyasar ya juga berkah.
Liat dipeta ternyata ga jauh2 amat ke tkp.
Ga lama turun, langsung cegat taxi. Kebeneran si burung biru. Yg selama ini buat gw paling ok, karena hampir ga pernah nemu yg bau rokok.
” Selamat sore Pak”.
” ohya, selamat sore Pak”.
Beda dengan kalo massage, yg males kalo diajak ngobrol ma yg massagenya( semakin murah tempatnya biasanya semakin banyak ngajak ngobrolnya), di taxi seringnya nikmatin ngobrol ma Kang/ mas/ pak supir taxi.
Kalo ditempat massage, selalunya langsung bilang,” 90 menit ya Pak. Maaf saya pake earphone ya Pak”.
Selalunya sukses ga diajak ngobrol. Walau kenyataannya ga pake earphone juga.
Ohya, yang gw maksud massagenya di panti pijat tuna- netra.
Serius gw lebih duluin massage disini, karena menurut gw mereka emang lebih bisa. Dan kalau juga cari yg setara, biasanya ya harganya 2- 3 kalinya.
Satu lagi, gw bisa bebas ber’ekspresi’. Kan kadang gw gelian. Nah gw pikir gw jadi bebas bertampang aneh karena geli ato meringis- ringis kesakitan tanpa ketauan. Rasanya.
Tapi sekali waktu kejadiannya beda. Masih di panti pijat tuna- netra.
” 90 menit ya. Dan saya mau sambil tiduran”.
” Ya Pak”.
Kali ini ibu2 yg massagenya.
Berapa saat tiba2 si ibu bilang,” Katanya mau tiduran. Koq sms an?”.
“??????”.

Eh dimana kita tadi? Ohya di taxi ya.
Gw mulai nanya.
” bapak sudah punya pilihan?”.
” Saya masih bingung Pak”.
Tadinya gw berharap kang supir dah punya pilihan dan gw pengen aja denger alasannya. Titik.
” Kalau Bapak?”. Doi balik nanya.
Tiba2 aja gw keinget masa2 kecil gw.
1962. Umur gw baru 6 tahun. Sekali waktu gw liat ratusan orang beratribut salah- satu partai. Tereakin yel- yel.. ya partai lah ya.
Kapan lagi tiba2 rumah gw penuh ma ratusan orang beratribut partai lain.
Ya ampun, pada mo apa sih ni orang2?.
Ga tau kenapa, banyak orang di satu tempat, koq yg keinget ato yg gw rasain adalah aura kekerasan.
Pastinya gw salah. Tapi ya itu yg gw rasain.
1965. Babe balik ngantor ribut2,” waduh, jendral2 pada dibunuh!”.
1968. Lagi dimobil, lewat Glodok, abis jemput babe yang pulang naek kereta dari bandung. Tiba2 gw liat anggota tentara lari ngejar orang, terus nyambit belati kearah tu orang.
Untung ga kena.
Ga lama gw liat kakek2 tionghoa jongkok dipojokan nangis2. Muka ma badannya berlumuran darah.
Haduh merinding dan ketakutan yg gw rasain.
Babe gw nenangin, “Ga pa2, kita aman”.
Berikutnya gw liat sepasukan lagi baru turun dari truk. Pada loncat. Tampang garang.
Tau- tau banyak orang pada lari blingsatan ga karuan, dikejar- kejar tentara- tentara.
1969. Gw kelas 6 sd di bandung.
Naek sepeda dijalan Malabar. Masih sepi. Jarang mobil. Palingan sepeda, becak.
Ga tau gw ngelamun ato becak yg salah arah, tiba2 aja ada becak kearah gw. Dan ga tau gimana tau2 der aja tabrakan.
Yg pertama gw pikir cuman, gw kudu pura2 pingsan.
Bukan apa2. Penumpangnya tentara.
Eh ternyata gw salah duga. Doi malah samperin gw, angkat gw ati2,” Ga pa2 Dek?”.
Lah iya lah ga pa2. Emang gw cuma ketakutan aja bakal dihajar abis.
Legaaa.
Oh ada lagi yg kelewat.
Kejadiannya sebelumnya, masih di jakarta.
Berempat ma temen2, balik maen dari nyebur2. Bahasa kerennya renang, di empang bekas galian tanah, sebelahan rumah Bu Haryati, salah- satu istri Bung Karno.
Masuk komplek perumahan, pas lewatin plang bekas. Lupa plang apa. Ga tau siapa yg mulai, tau2 kita pada ambil batu2, lempar ke plang.
Perasaan si jauh dari rumah2.
Eh tiba2 aja ada bapak2 tereak2.
“Hei!Kurang ajar kamu!. Sini!!!”
Wahaha kaget banget.
Sementara gw bingung, temen2 gw pada kabur.
Tinggal gw sendirian. Asli masi bingung.
Dan jleg aja doi dah depan gw. Muka merah. Mencak2.
“Goblog kamu!”.
” lempar2 rumah orang”.
“Ee.. anu.. maaf Om, ga lempar rumah Om. Lempar plang itu Om”.
” plang plang apa?. Rumah saya itu tau?!!”.
Halah nasib, abis ni gw pikir.
Ga diapa- apain si. Tapi gw dibawa kerumahnya. Dinaekin kemobil pick up. Yang baknya pake atap terpal. Gw disuruh duduk dibak.
Pick up berlambang salah- satu angkatan. Di pintunya yg gw liat si.
Trus dibawa ke rumah gw.
Halah mampus lah gw.
Bakal dobel kena omel.
Singkat cerita nyampe depan rumah gw.
Gw ga bole turun. Doi masuk rumah.
Tau2 babe ma nyak gw keluar. Dan ya iyalah, tetangga pada ngerubung.
Asli berasa pesakitan.
” Ei, ayo turun..”.
Ga bisa ditahan lagi, gw nangis.
Masuk kerumah.
Sementara babe ribut ma tu mister galak diluar.
Banyak benernya pengalaman2 gw mirip2 begini.
Tapi satu lagi aja deh.
2011an kalo ga salah.
Makan mie ayam di tb. Ismail Bandung.
Tempat duduknya emang terbuka.
2 meja depan gw ada 2 cewek makan juga.
Ga lama datang 1 pemuda. Gagah. Gw langsung ngira, mesti ni angkatan. Dan berpangkat cukupan. Paling ngga lulusan akabri lah.
Ga gw perhatiin lagi si sampe doi tau2 ngerokok.
Kepikiran usil. Ni orang ga sopan banget, ngerokok didepan 2 temennya yg masi pada makan.
Tapi terus gw lupa2in. Lah temen2nya aja keliatan ga keganggu. Yowis.
Tpi pas doi buang2 abu rokok kelantai, gw berasa terusik.
Ni orang koq ga punya rasa ya. Kan gampang aja minta asbak lah.
Ah tapi gw berusaha ga pusingin.
Tapi terus gw kepikiran. Pokoknya tau2 gw celingak- celinguk cari asbak. Ada lah pas banget dimeja sebelahan doi.
Gw ambil, terus gw sodorin baek2.
“Ini mas, asbaknya”.
Sambil kaget, ” Oh.. ee makasi”..
Bersukur gw bisa ga berasa apa2. Aman2 aja. Ga pake sinis, ga pake gimana. Rasanya tulus.
Tau2 bubarlah mereka.
Selang berapa menit mister gagah nan ganteng balik lagi. Nyamperin gw.
“Tadi maksudnya apa?”
“?????”.
” Iyaa! Tadi maksudnya apppaaaa???”.
Waks, mampuslah awak.
Tau2 plak!!! Mukul pala gw. Tapi gw tangkis.
” Ayo! Situ apa saya? Ini urusan hidup dan mati!!!”.
” Saya angkatan, saya ga terima ini!”.
Doi berusaha geret gw keluar.
Itu Mamang2 tukang dagang ma tamu laen pada ga ada yg misahin.
Halah nasib2. Urusan beginian lagi beginian lagi.
Asli bingung gw, urusan ngasih asbak jadi urusan hidup dan mati.
Gw minta maaf aja ga digubris.
Beruntung, kali dalam situasi kejepit, gw yg biasanya ga bisa ngomong, kali ini jawab terus tapi hati2 jgn sampe juga bikin doi tambah naek pitam, tambah panik tau2 jleb aja gw ditusuk ato apa.
Sambil mikir juga, gimana keluar dari neraka ini.
Oh, kalo ga sala si, gw sempet jawab, ga usah bawa2 angkatan, gw juga keluarga angkatan. Maksud gw kali2 aja jadi melemah.
Ealah malah bikin doi semakin galak.
” Bohong! Mana coba saya lihat buktinya?”.
Gw keluarin lah ktp ato sim gitu.
Jreng!! Tau2 doi melongo.
Terus, ” Aduh maaap Pak, saya koq ngomel2in, bentak2 orang- tua. Maap ya Pak”. Gitu terus berulang- ulang.
Hadeuh..

Eits kelamaan ni keingetannya, soalnya tau2 kelewat jauh tuh tekape.
Sambil cari puter balik, gw sambung jawaban gw.
“Mas, saya sudah punya pilihan. Jauh2 saya sudah punya pilihan. Pilihan saya adalah harapan saya.
Mutlak tentu saja hanya yg diatas yang tau”.
” Doa saya bukan, semoga pilihan saya lah yang terpilih nanti. Tapi semoga yg lebih baik buat bangsa ini yang terpilih.
Nomor satu atau nomor dua, tentunya masing2 punya kelebihan dan kekurangannya.
Siapa pilih siapa pastinya sah- sah saja.
Saya hanya punya harapan sederhana, bahwa kedepan, siapapun yang terpilih, bisa membuat orang2 kecil dan sederhana seperti saya ini merasa aman dan nyaman jika ada/ dekat dengan aparat. Bukan seperti sekarang. Berurusan dengan aparat malah sebaliknya.
Senggolan mobil ato motor ga sengaja dengan aparat malah cari penyakit.
Salah tegur dengan aparat ya sami mawon.
Jadi hal- hal ‘ kecil’ ini saja harapan saya.
Harapan besar2 lainnya biarlah teman2 saya, tetangga2 saya, dan saudara2 saya yg lain saja yg lebih pandai yang punya”.
Pastinya tak semua aparat/ angkatan seburuk seperti cerita saya. Saya yakin sekali.
Tak berniat pamer atau melebih- lebihkan apa2 milik sendiri, gambaran rasa aman yg saya maksud barangkali tak juga berlebihan seperti yang tercermin dibawah ini.
Almarhum mertua saya, saat kami sama2 tinggal di Cirebon, awal tinggal di rumah dinas, masuk ke jalan pas satu mobil, di lingkungan pengusaha2 pasar/ toko etnis Tionghoa.
Mobil dinasnya toyota land cruiser hardtop. Tentunya berwarna dan beratribut/ tanda angkatan.
Sudah menjadi kebiasaan sepertinya, tetangga2 ini berusaha bersikap baik dengan memberi apa2 yg bisa diberikan ke keluarga almarhum mertua. Saya yakin kita makfum yg dimaksud.
Dengan sopan sang almarhum mertua selalu menolak setiap pemberian tetangga.
Sambil berkata, bahwa sama2 saling melindungi adalah kewajiban kita semua. Sipil maupun militer.
Dalam artian melindungi yg benar.

Saat di jatiwaringin mendapat rumah dinas berkamar 4, beliau tukar dengan rumah dinas berkamar 2, jatah seorang lain berpangkat lebih rendah.
Alasannya karena toh beliau tinggali hanya berdua dengan almarhumah mertua perempuan. Sementara seorang lain ini lebih muda dan tinggal lengkap dengan beberapa putra- putrinya.
Saat putri keduanya, di usia mahasiswi baru masuk, meninggal terjatuh dari angkot, dekat rumah. Saat sang supir angkot datang setelah mengantar korban ke ugd, dan mengabarkan berita duka, diluar dugaan kami semua, dengan berusaha tetap tegar, Bapak mertua almarhum memaafkan sang supir dan meminta dengan tegas kepada siapapun yang hadir untuk tak menyentuh sang supir seujung rambutpun .
Padahal tetangga sekomplek, apalagi anak2 mudanya, sepertinya sudah siap2 menelan sang supir angkot.

Harta yg dimiliki adalah sebenar- benarnya dari slip gajihnya. Saat almarhum meninggal, yang ditinggalkan adalah rumah titipan/ dinas dan uang tak seberapa dari tabungannya.
Sekali lagi, semoga yang lebih baik buat bangsa inilah yg terpilih nanti.
Dan semoga almarhum dan almarhumah mertua saya mendapat tempat yg layak disisiNya. Dan diampuni segala dosa dan kesalahannya. Aamiin.

Standard
cerita, story

Passion For Adventure. Versi kami.

” Gawat, ga dapet ijin”. Berarti ga ada duit juga.
Hening sesaat.
” Udahlah, seadanya duit aja”.
” Pangandaran?”.
” Kurang”.
” Jogja?.
” Apalagi atuh”
” Bali bali”.
” Hah?”.
” yuk!”.
” Yuk!”.
” yuk!”.
” Duit?”.
” Wah..”.
” Gw palingan… dua ratus..”.
” Tiga ratus lima puluh,..”.
Terkumpul kurang- lebih seribu rupiah, obrolan di warung Bi Dar, tempat kami, berempat,  jajan dan sembunyi- sembunyi merokok, berlanjut dengan pertanyaan- pertanyaan, “naik apa?”.
Menit- menit berikut kami ancang- ancang melenggang ke stasion kereta- api.
Idenya adalah dengan seadanya uang disaku, naik kereta- api barang kemanapun, kearah timur.
Pikiran cetek, tak ada satupun yg berfikir, kan harus makan.
Stasion Cirebon sebenarnya dekat saja dari komplek tempat sebagian dari kami tinggal.
Masalahnya adalah, dari rumah ke stasion artinya melalui kampung musuh kami.
Masalah yang tak main- main. Bisa- bisa babak- belur kami yang hanya berempat. Sementara mereka bisa terkumpul puluhan dalam sekejap.
Ide yang akhirnya kami anggap paling cemerlang adalah.. naik kereta barang dari sebelum masuk kota. Karena kereta barang sering melambat saat memasuki kota. Seringnya. Semoga.
Dan jarak yang lima kali lipatnya pun kami tempuh demi terhindarnya dari pukulan dan lemparan batu. Amit- amit.
Naik kereta barangnya sukses. Tujuan ke arah timur yang tidak.
Kereta barang berhenti di stasion Cirebon.
Jadi, jalan kaki sejauh lima kalinya, melompat naik kereta barang, untuk jarak yang juga sama, dan sampai stasion menemui kenyataan bahwa kampung sang musuh ternyata sepi. Fiuh.
Berangkat ke timur berarti kami akan melalui persimpangan kereta jalan Kartini.
Jalan paling ramai dikota kami. Dan.. paling banyak dilalui teman2.
Hah, ternyata kami berempat ini tak hanya sok berpetualang tapi juga tak cukup percaya diri untuk terlihat naik gerbong barang.
Mencoba masuk ke gerbong tentu saja tak mungkin. Semua terkunci.
Karena tak seorangpun dari kami yang sukarela untuk berdiri dikiri atau kanan terluar, ya itu tadi, malu terlihat oleh siapapun nanti diperempatan saat kami melintas, akhirnya undianlah cara satu- satunya.
Dan seperti biasa undian tak pernah berpihak kepada saya.
10 menit.. 30 menit. Sudah 1 jam lebih kereta tak juga berangkat.
Saat kami tanyakan kepada seorang petugas, jawabannya sungguh diluar dugaan,” berangkatnya 3- 4 hari lagi”.
Petualangan di kehidupan nyata berjalan tak semulus seperti di film- film.
Bunyi peluit lokomotif uap mengakhiri debat kami atas dilanjutkannya atau tidak rencana sok petualangan ini.
Kedatangannya yang serasa tiba- tiba seperti menyemangati kami.
Kali ini kami berfikir sedikit lebih pintar. Saat akhirnya rangkaian kereta api berhenti, kami datangi sang masinis. Menanyakan apakah keretanya juga berhenti beberapa hari atau lanjut kearah timur.
” 2 jam lagi berangkat”.
” Naik disini saja. Jangan di gerbong”.
Yang dimaksud adalah, kami naik di ruang masinis, membayar 100 rupiah setiap stasion kepada masinis, dan siap2 kabur sebelum dipergoki petugas di stasion yang akan kami lewati.
Kalau sekarang saya melihat orang- orang yang menumpang kereta api dengan cara duduk diatapnya, komentarnya tak jauh- jauh dari, maaf, ” Dasar tolol”. Nah seperti itulah kami.
Bukan diatas atap memang, tapi sama- sama tak pakai otak.
Berpegangan satu tangan pada apapun yang bisa. Satu kaki berpijak, tangan dan kaki lain seenaknya melambai dan mengayun bebas, menantang angin yang menerpa.
Bahagia itu sederhana. Dan berbahaya.
Udara panas dari pembakaran batubara, angin kencang, dan terik matahari. Dan tentu saja muka coreng- moreng campuran debu dan kotoran udara lainnya. Mengawali sok petualangan kami kali ini.
Sama hebohnya dengan saat 3 tahun sebelumnya, Pangandaran- Cirebon, diatas atap bus.
Penyesalan teramat – sangat, padahal baru beberapa menit naik keatap bus. Tapi gengsi juga yang membuat kami bertahan.

Berjalan diatas rel, hanya menimbulkan goncangan tak berarti kearah samping. Pantas saja, siapapun bisa berlari kencang diatas atap kereta yang juga melaju kencang.
Stasion demi stasion kami liwati. Bersukur tak ada petugas yang melihat kami. Bersembunyi adalah salah- satu keakhlian kami.
Masuk waktu isha kami sampai di stasion jogja.  Rangkaian kereta hanya sampai disini.

Karena saat itu tak ada lagi kereta yang kearah timur, entah esok harinya, kami putuskan lanjut dengan mencoba naik mobil. Apapun.
Jalan kaki adalah satu2nya pilihan. Dan spbu target start kami berikut.

Sisa uang setelah dikurangi beberapa kali 100 rupiah setiap stasion masih mencukupi untuk sekali makan. Setelahnya adalah nol.
Ohya, selama kami naik kereta, makan kami adalah sisa jajanan yang kami beli sebelumnya diwarung Bi Dar. Masih ingatkan warung kami ini?

Setelah sekian lama berjalan, lelah dan lapar lah  yang lebih cepat menghampiri kami dibanding kami menemukan spbu.

Ditambah tak sebatang rokokpun lengkap sudah penderitaan kami. Kami bertiga. Karena satu teman kami tak merokok. Dan yang paling kami sesali adalah karena kami sepakat mempercayakan uang saku dipegang oleh sang kawan satu ini. Percuma saja,merengekpun tak kan dibelikannya, walau hanya sebatang.

Satu dari sekian truk yang kami hampiri berbaik hati memberi kami tumpangan. Tentu saja di bak. Dikabin depan sudah ada 2 ibu2 penjual sayur.  Dan pak supir tentunya. Keneknya bersama kami dibelakang.

Sudah lewat waktu isha, saat truk mulai melaju.
Pastinya karena lelah dan lapar, kali ini kami lebih banyak diam daripada seperti biasanya ramai.
Tak ada lagi canda dan saling ejek.
Kami duduk diantara bakul- bakul sayuran. Ditutup terpal tebal.
Udara dingin malam dan angin yang kencang lebih memaksa kami mencari posisi senyaman mungkin.
Lebih tepat barangkali sesedikit mungkin tersiksa.
Bersandar kedinding bak truk yang kerasnya Na’Uzubillah. Duduk beralaskan apapun yang agak membantu terhindar dari ya juga kerasnya lantai bak truk.
Kali ini ada hal lain yang melintas di fikiran saya.
Tiba- tiba teringat hangatnya kamar tidur saya. Satu dari lima kamar tidur di rumah tinggal kami.
Rumah tinggal dengan arsitektur amerika tahun 50an.
Berdiri terpisah dari rumah- rumah tetangga lain. Kiri dan kanan masih lahan kosong.
Apalagi karena sudah ketetapan dinas tata kota, bahwa di deretan sebelah barat, ya deretan rumah kami, tak boleh lagi dibangun rumah- tinggal. Peruntukannya untuk kantoran.
Membuat rumah kami satu- satunya rumah- tinggal.
Selainnya adalah perkantoran. Itupun masih jarang sekali. Tak berderet- deret seperti sekarang.
Kamar tidur saya tak mewah. Tempat tidur biasa.
Yang paling saya suka adalah, lemari- lemari built- in dan pintu- pintu kamar tidur yang semua menghadap kehalaman belakang. Jadi bukan menghadap kedalam ruang keluarga, seperti pada umumnya.
Semua pintu dan jendela adalah dobel. Satu pintu biasa yang membuka kedalam. Dan satu pintu berkasa nyamuk yang membuka keluar.
Mahal? Tak sama sekali. Rumah yang dibeli Bapak seharga satu setengah juta rupiah.
Dihindari oleh yang lain, menjadi keberuntungan bagi kami.
Konon katanya rumah berhantu. Lama tak ditinggali.
Padahal desain rumahnya sudah modern sekali pada jamannya.
Tak pernah diceritakan Bapak tentunya soal rumah berhantu ini sebelumnya.
Saya baru menyadari lama setelahnya, bahwa awal- awal teman- teman yang suka main kerumah, jarang sekali sampai lewat magrib.
Sejak tinggal dirumah ini saat tidur seringkali saya mengalami kena eureup- eureup. Apa ya bahasanya. Saat tidur tiba- tiba merasa seperti ada yang menindih. Berasa sesak tak bisa bergerak.
Orang bilang, harus segera dibangunkan. Jika tidak, akan tak bangun- bangun. Selamanya.
Ah tak sedikitpun saya percaya.
Selalunya jika tidur telentang.
Hal yang mudah untuk dihindari sebenarnya. Ya tidur tengkurap saja.
Masalahnya saya sering lupa. Tidur terlentang lagi terlentang lagi.
Dan pelupa saya parah.
Jadi kalau sekarang saya ini pelupa, bukan karena faktor usia, tapi memang bawaan. Haha.

Ya, tiba- tiba saya mengimpikan berada dikamar saya. Kamar di rumah yang konon berhantu. Tapi pastinya hanya setarikan nafas saja untuk sampai ke dapur dan sapu- habis apapun yang bisa dimakan. Dan rebahan setelahnya dikamar. Selama dan sekehendak saya.
Bukan kedinginan dengan perut lapar dan kelelahan teramat- sangat.

Alih- alih bisa melalui malam- malam yang menyiksa dengan mengantuk dan tidur, tetesan- tetesan air melalui bolong- bolong kecil sang terpal dan dinginnya tenda yang menempel kepala dan sebagian bahu kami membuat kami sebaliknya.

Hujan turun cukup deras. Karena terpal tak terpasang terbentang kencang dengan dudukan tinggi seperti harusnya. Tapi tergelar seadanya menutupi kami dan bakul- bakul sayur, tak ayal genanganpun ada dimana- mana diatas terpal, tepat di kepala kami. Sempurna sudah penderitaan ini.

Satu dari empat sok petualang ini meneteskan airmata. Sedih dan kesal.
Kelak saya tahu, ternyata yang lainpun sama. 😛 .

Bersambung 😉

Cirebon, 1974.

Standard
cerita, running, story, trail running, tulisan, ultra running, ultra trail running

kehidupan yang warna- warni, lari dan asma abadi

WaistPack

jika perjalanan hidup adalah kumpulan dari hal2 yang baik, hebat, menyenangkan, berkelebihan dan keberhasilan. Barangkali bisa di ibaratkan seperti berlari dari start sampai finish dengan pace yg cepat menakjubkan, tanpa lelah sedikitpun. Di trek yg super mulus, udara bagus dan tanpa sedikitpun lapar dan haus.

Ada saat- saat  bisa pergi  main dari pagi sampai sore tanpa larangan orang- tua. Ada saat- saat tak boleh keluar rumah bertahun- tahun karena anjuran dokter.  Juara kelas berturut- turut dalam satu kurun waktu.  Saat lain raport tampil menyala dengan 8 angka merah.
Disaat yang satu rajin mengaji rajin belajar, sampai lupa padahal sedang libur. Disaat lain menjadi biang kerok perkelahian antar kampung.
Sebagian saat- saat sma adalah saat- saat tertawa lepas dalam keseharian bersama teman2. Sebagian lain adalah buru- buru menjauh dari kerumunan, menyembunyikan batuk asma yang sama sekali tak indah didengar.
Berlari mengajarkan kepada saya, bagaimana suatu minus, keburukan, kekurangan atau kerugian sepanjang hidup, yang hampir seperti kutukan, bisa menjadi sebaliknya. Bisa berdamai dengannya.
Asma saya  bisa jadi abadi, tak hilang sepanjang hayat saya.
Tapi dengan berlari, saya belajar mengendalikannya. Belajar bagaimana mengurangi pencetusnya.

Bagi teman2 pengidap asma seperti saya, tak usah kecil hati. Yuk kita coba untuk berlari.
Bisa jadi lari2nya saat ini bercampur  dengan berhenti berulang- kali. Tapi, sedikit demi sedikit tapi pasti , kita akan sampai pada titik ” Yes! i did it!” . Akhirnya bisa lari2 rutin sekian puluh menit setiap hari. Atau jika diinginkan bahkan sampai berlari trel ultra muncak Rinjani.
Selamat pagiiii 🙂

 

 

 

Standard
adventure, berbagi, cerita, cerita, kisah, renungan, event, olahraga, running, sport, trail running, tulisan

Lomba Yang Bisa Dimenangkan Oleh Siapapun Kita

Kamojang-

6 bulan pertama usia lari, saya tak cukup percaya diri untuk ikut lomba. Sampai Kang Rama Nusjirwan mengatakan,” Harus coba Ki, bagus untuk tahu dan tingkatkan kemampuan”.
Berikutnya adalah sibuk2 siapkan mental dgn sekian tanya- jawab sendiri, bagaimana kalau begini, bagaimana kalau begitu. Intip2 di hasil lomba yg sdh berjalan, kira2 saya akan ada di posisi mana. Akankah saya paling buncit?.
Belum cukup yakin saya putuskan daftar di Milo 10k 2010. Setelahnya adalah dag-dig-dug tak karuan.
Perasaan menyesal timbul. Peserta akan ribuan, dan mereka akan melihat orang setua saya lari terseok- seok atau gagal finish. Konyol sekali.
Ditengah- kegalauan saya, tiba2 saja Bang Muara Sianturi telpon,” Ki, jadi ikut Milo 10k?. Lo ikut Lomba Lintas Alam Kamojang aja, trel tuh”.
Pucuk dicinta ulam entah kemana eh si ulamnya tiba.
Yes. Selamat saya dari yg saya khawatirkan.
Kamojang, entah dimana, pastinya pesertanya tak ribuan. Venuenya dialam, banyak bukit dan pohon. Akan banyak tempat sembunyi jika kegagalan yg akan saya alami.
Tiba2 ada perasaan lain. Entah kenapa, saya merasa ada skenario yg dibuat si Abang ini.
Sampai2 beliaupun mau ikut lomba Kamojang ini.
Yg pasti dgn gagah percaya diri saya daftar.
Apalagi ternyata peserta kategori kecepatan( kita sebut lari trel kan)pesertanya hanya berlima. Haha. Sebelum2nya sampai 20-30an.
Hari H. Kami berlima, saya, Pendaki Liar, 1 peserta lokal, Bang Anwar rekan Pendaki Liar( saya dengar belasan kali berturut-turut juara lomba ini, mantan atlet lari halang- rintang 3000m) dan Bang Muara Sianturi.
Tak ada perasaan ragu, grogi atau apapun. Tak setetes keringat dinginpun saya rasakan.
Santai, seolah- olah sudah belasan puluhan kali ikut lomba.
Dari awal saya sudah ketinggalan. Yang tak pernah meninggalkan saya adalah asma saya. Selalu setia menemani  🙂 .
Dan percaya- diri yg entah darimana koq ya saya punyai.
Belasan km pertama, etape pertama adalah 25km, peserta lokal saya susul, juga Kang Pendaki Liar yg cidera. Kemudian lagi Bang Muara yg mengaku cidera. Berarti tinggal Bang Anwar didepan saya.
Singkat cerita saya finish 15 menit dibelakang beliau. Senang? Tentu saja. Aneh? Ya juga. Tapi saya tak ambil pusing. Saya nikmati saja dulu saat2 ini.
Kapan lagi saya merasakan saat2 kemenangan seperti ini. Seumur- umur lomba, hanya pernah juara di lomba balap… karung. Saat kelas 4 SD.
Itupun drama. Karena sempat diprotes peserta lain. Menurut mereka saya curang. Masa bukan loncat2 tapi melangkah. Sebelum lomba saya dibisiki kakak, “jangan loncat, ujung2 kaki posisikan keujung kiri kanan karung, dan melangkah jalan cepat” 😛 .
Bang Muara kembali ke Bandung malam itu juga. Artinya tak berlanjut dgn etape kedua esok harinya.
Esoknya saya lebih santai lagi, karena juara dua sudah ditangan. Kembali ke start 18km, dgn trek berbeda.
Saat magrib saya menerima piala juara dua setinggi 70 cm. Ga level dgn kemenangan Nadal & Schumacher, tapi perasaan mah beda2 tifis lah.
Sampai saat ini Bang Muara tak pernah mengakuinya. Tapi saya tetap percaya, beliau sengaja membuat saya ikut lomba ini. Membuat saya percaya diri dgn keikut-sertaannya dan membiarkan saya berlari menuju juara dgn tak melanjutkan lombanya.
Jika mau tentu saja trek yg ‘ hanya’ 25km disikat habis beliau. Seorang yg hanya perlu waktu 3jam 5 menit untuk 42.195 km.
Kisah diatas, gambaran betapa konyolnya saya, yg tak cukup percaya diri untuk ikut lomba atau memulai lari- berlari, tak harus diulang oleh siapapun.
Yang dilakukan seorang Bang Muara terhadap saya ingin saya tiru. Dengan cara yg berbeda yg saya mampu.
Dibantu dengan banyak teman2 lari trel yg luar- biasa, saya ingin, setelah ikut “Food, Fashion & trailFunrun. Sukawana” lalu dan “Food, Fashion & trailFunrun. Sawarna” 4 mei nanti, juga acara2 serupa selanjutnya, siapapun pemula tak lagi ragu untuk mulai lari, mulai ikut lomba. Tanpa dibebani dgn harus cepat, harus finish, harus podium, harus sempurna.
Lomba kita adalah lomba mengalahkan berbagai macam penghalang untuk hidup sehat dan nyaman. Lomba yg pasti bisa dimenangkan oleh siapapun kita. Pemula atau yang sudah lama.
Terimakasih Bang Muara, Kang Rama, dan semua teman2 yg selalu saling mendukung. Salam, selamat pagi, selamat hari jumat 🙂

Bandung, Maret 2014.

Standard
cerita, cerita, kisah, renungan, inspiration, kisah, motivation, olahraga, renungan, running, sport, story

Lebih Baik…. Lari

Belum terlalu siang, beberapa tahun lalu. Baru selesai lari dapat kabar ayah saya masuk ICU. Bandung diakhir minggu, macetnya, seperti yg sama2 kita tahu, ga lucu.
Menunggu yang lain mau berangkat sama2 koq rasanya seperti keabadian.
Tak pikir panjang saya lari ke Borromeus. Ya berlari.
Saat sampai dan melihat sanak- saudara berkumpul, saya baru sadar, ya ampun, saya pasti kena omel, gerutu dan omongan. Berulang- ulang, setiap mereka melihat saya berkostum lari.
” Hati- hati Kang, ingat umur”.
“Jangan maksain”.
“Jalan aja jalan. Lari mah atlet kali”.
Dan banyak lagi.
Itu satu. Dan baru sadar berikutnya adalah, apa kata Ayah nanti?.
“Duh ti- ati Ei( panggilan sayang Ayah ke saya). Harus ingat keselamatan. Umur kita kan sudah ga muda lagi”. Dan entah apalagi.
Perkiraan saya akan seperti itu.
Tapi, ya itu tadi, nasi sudah menjadi bubur. Kalau kata Aa Gym, jgn disesali, lebih baik buburnya kasih saja cakue.
Saya sudah melangkah masuk ke ruang icu, tak ada waktu lagi berfikir itu- ini.
Saya: “Salam Pak”.
Bapak: “Eh Ei. Abis lari?”.
Saya : ” Eu eu iya Pak. Anu.. dikit, bentar aja. Tadi .. eu buru2..”.
Bapak : ” Ya asal ati- ati aja. Semoga Bapak ga apa2 ni. Tapi kalo bisa milih, memang lebih keren mati karena lari daripada mati karena penyakit”.
Saya : ” ???????”.
Semoga Bapak selalu diberkahi sehat dan bahagia. Aamiin.

Standard
cerita, event, inspiration, kisah, komunitas, motivation, renungan, story

Belajar Menulis Dan Belajar Berbagi

Tak sedikit kisah2 yang luar- biasa, menyenangkan( sudah pasti), dan mengharukan sepanjang berkegiatan di komunitas yang saya ikuti.
BatagorDotNet salah- satunya.
Tak hanya tempat dimana saya belajar tulis- menulis. Tapi juga tempat saya belajar berbagi.
Mulai dari Bebersih Bandung Yuk, acara pungut- pungut sampah. Jilid satu sampai kalau tak salah sampai sembilan.
Bergantian di beberapa titik lokasi dikota.
Buka puasa bersama saudara- saudara kita yang kurang beruntung.
Kunjungan ke adik- adik Sekolah Luar Biasa di Banjaran. Sambil juga berbagi kebutuhan/ keperluan mereka. Buku- tulis, bacaan , alat musik dan beberapa komputer desktop.
Berbagi ke korban banjir Bale Endah.
Makan siang dan bagi2 buku tulis/ bacaan bersama 32, seratus, dua ratus adik2 dari berbagai Rumah/ Yayasan Yatim- piatu.

Bedah Gubug, bantuan membangun rumah- tinggal seluas 41m2 dua lantai untuk seorang penjaga kebersihan makam serabutan. Dengan 1 istri dan 1 anak usia SMK.
Dibangun mulai dari nol.
Alhamdullillah, walau namanya Bedah Gubug, adalah rumah permanen berdinding tembok dilantai dasar. Dan dinding fibercement dilantai atas.
2 kamar mandi, 1 dapur kecil dan 3 kamar tidur.
Satu kamar dilantai atas untuk si Bapak dan Ibu. Satu kamar, juga diatas untuk sang anak . Dan satu kamar dilantai dasar untuk dikontrakan. Diharapkan bisa membantu memenuhi kebutuhan hidup hari- hari.
Dibangun selama 3 bulan. Mulai dari beberapa ratus ribu rupiah, sampai akhirnya rumah selesai mencapai 21 juta rupiah

Bersambung….

Standard
cerita, inspiration, kisah, motivation, olahraga, renungan, running, sport, story, trail running

Yuk kawan, kita lari

image

Tentu saja Nadine tahu sekali bagaimana mengikat tali sepatu trelnya dengan benar. Seperti yang selalu dengan penuh semangat Nadine ingatkan ke siapapun, yang kedapatan tali sepatunya lepas.
Lipat masuk simpul tali sepatu yang sebelah kanan kedalam bulatan simpul tali pertama. Sekarang lipat, masukan juga lagi simpul tali kirinya. Tarik perlahan sampai benar- benar terikat kuat.
Demikian yang Nadine ingat dari yang pernah dia baca dan lihat disalah-satu majalah lari.
Simpul tali sepatu yang tak mudah lepas untuk lari- lari agak sedikit jauh. Bahkan lari trel sekalipun.
Sekali lagi dia periksa, apa- apa yang mungkin belum ada. Setelah sebelumnya sedikit lap- lap badan ala cowboy, makan dan minum sekedarnya, sikat gigi. Mematut- matut diri dicermin kamar.
Lipatan uang sepuluh ribu dan telpon selularnya sudah di saku tas dipinggangnya. Beberapa potong coklat kacang sebagai bekal disiapkan. Juga botol plastik air ramah lingkungannya.
Sebagai penyuka kegiatan luar- ruang tentunya pantas jika lebih lagi peduli lingkungan.
Sekali lagi tersungging senyum dibibirnya. Bangga akan kepeduliannya. Walau mungkin baru sedikit yang dia tahu soal isu lingkungan.
Tak apa. Toh sudah dimulai.
Seperti biasa Nadine memakai celana lari pendek dan atasan yang menurutnya nyaman dan berwarna cerah.
Nadine membiasakan untuk tak terlalu tebal berpakaian.
Kali inipun tanpa jacket. Cukup dengan mulai menggerakan badan, hangatpun didapat.
Tiba- tiba teringat nasehat sang paman. ” Nneng hati- hati. Jangan jauh- jauh. Jangan banyak- banyak larinya, pakai jacket”.
Seperti biasa, Nadin tersenyum saat menjawab,” ya Mang, nuhun”.
Ah si Mmang baik- hati ini. Jangan- jangan harusnya lebih menghawatirkan dirinya sendiri. Makan tak kenal pantangan. Apapun disikat. Jeroan, gorengan. Sate kambing yang selalu harus bergajih. Jangan ditanya kalau sudah mendapatkan gulai kepala kambing. Utuh. Ya utuh sekepala. Asyik- masyuk, sampai- sampai tak lagi dapat dibedakan mana kepala kambing dan mana kepala si Mmang. Dan tentu saja nasi putih yang banyak. Sementara tak pernah sekalipun terlihat berolah- tubuh.
Semoga Mmang selalu sehat.
Udara dibulan januari memang agak dingin. Terkadang pagi- pagi hujanpun sudah menjelang.
Satu lagi godaan yang tak kecil untuk tetap ditempat tidur.
“Tidak!, saya harus menang. Saya harus bisa mengalahkan kemalasan ini”. Demikian Nadine seringkali meyakinkan diri- sendiri.
Semakin besar godaannya semakin besar dia melawan.
Jalan kaki keluar komplek rumahnya. Beberapa ratus meter. Kemudian belasan menit dengan angkutan umum kearah utara kota.
Gerbang kawasan wisata alam di utara ini memang tempat Nadine memulai lari- lari trelnya.
Sepuluh menit pemanasan sebelum mulai tak lupa dilakukan.
Pemanasan tak kalah penting. Lagi- lagi Nadine mengingatkan diri- sendiri.
” Nneng geulis, lumpat deui?”. Si bibi pemilik warung dengan sapaannya yang lucu dan menyenangkan.
” Sumuhun Bi. Mangga”.
Tanah licin mengawali trek lari trelnya. Sisa- sisa hujan semalam cukup membuat Nadine melangkah lebih hati- hati lagi.
Baru beberapa puluh ayunan kaki dingin pagi sudah tak terasa lagi. Sebaliknya, keringat mulai menetes dari dahi dan sekujur badannya.
Agak terengah juga diawal- awal. Tapi sudah selalu semakin baik dari sebelum- sebelumnya.
Trek lari ditengah kehijauan hutan pinus selalu menyenangkan. Tak pernah membuat bosan. Sepertinya setiap langkah adalah hal yang selalu baru. Berapa kalipun diulang.
Mata yang selalu harus awas melihat kemana kaki melangkah. Pijakan mana yang dipilih. Pada saat yang sama harus juga awas akan batangan atau dahan pohon yang melintang tepat seketinggian kepala.
Lebih- lebih lagi diturunan. Beberapa langkah berikutnya harus sudah diperhitungkan.
Satu kali terpleset dipijakan pertama kerap diikuti oleh terpeleset dipijakan berikutnya.
Apalagi dibebatuan yang licin.
Beruntung jika hanya goresan kecil pendek dikaki.
2km sudah. Seperti yang dia lihat di jam lari bergpsnya. Berarti 3km lagi sampai puncak.
Trek semakin menanjak. Semakin membuatnya terengah- engah.
Sesekali Nadine minum dari botol airnya.
Tak mesti banyak sekaligus.
Nadine lebih memilih beberapa teguk setiap lima- belas menit. Tak banyak. Sekedar tak dehydrasi.
Sedikit berlebih minum air menyebabkan bengkak dikaki.
Hutan pinus sudah lama terlewati.
Sudah mulai vegetasi khas punggungan gunung berkawah.
Bau belerangpun sudah mulai tercium.

Ketukan dipintu kamarnya menghentikan tulis-menulisnya.
“Itcha, sudah bangun sayang?”
“Ya Mama”.
“Mau Mama mandikan sekarang?”
“Sebentar lagi Mama”.
Itcha menghela nafas.
Termenung. Memandangi kedua kakinya yang kecil karena memang lama tak bisa digerakan.
Demam tinggi di usia balita adalah penyebab kelumpuhannya.
Seperti setiap pagi di hari- hari sebelumnya, adalah saat- saat menyenangkan baginya untuk menulis.
Menulis, kegiatan sejak beberapa tahun lalu. Sejak sebelumnya mengikuti dunia lari- berlari dikotanya.
Berlari belakangan memang sedang menjadi
trend. Tak hanya di ibukota. Juga di kota- kota lain.
Lomba lari sudah hampir setiap bulan diadakan.
Dan tentang lari- berlarilah kebanyakan tulisan- tulisannya.
Itcha kembali ke Note 8nya. Sedikit melanjutkan tulisannya.
Membayangkan, bagaimana indah dan menyenangkannya, berlari dikesejukan hutan pinus. Saat jutaan yang lain masih tertidur lelap.
Dunia seakan hanya miliknya sendiri.
Berbagai inspirasi menari lincah dalam benaknya. Seperti yang tak berkesudahan.
Pada saat yang sama mata yang harus awas mengawasi setiap pijakan kakinya.

Beberapa tahun belakangan Itcha tak lagi bersedih dengan keadaannya.
Itcha percaya, semua hal di dunia tentu ada maksudnya. Begitu juga dengan kelumpuhannya.
Jika kebahagian bagi yang lain adalah harta yang banyak, kesehatan jasmani, putra- putri yang sehat menggemaskan dan lain sebagainya.
Kebahagian bagi dirinya adalah menerima dan bisa berdamai dengan kelumpuhannya. Menerima ketidak- mampuannya untuk berlari.
Seperti yang pernah menjadi impiannya, sekali dalam seumur- hidup mengikuti lomba lari 10 k.
Kebahagian baginya yang lain adalah mendapatkan cara untuk mengingatkan siapapun untuk tak menyia- nyiakan kesempatan yang ada.
Dengan menulis.
” Saat berlari menjadi impian yang tak pernah terwujud bagi orang- orang seperti aku, jangan sampai terjadi bagi orang- orang yang lebih beruntung”.
Tak berolah- tubuh padahal ingin, tapi tak kesampaian karena hambatan adalah kewajaran.
Tak berolah- tubuh karena kemalasan padahal bisa dan di mungkinkan adalah kebodohan.

Standard
cerita, motivation, olahraga, running, story

Just like you and me

Bertengger di lima baris pertama urutan virtual run. Sejak akhir 2009.
Bukan semakin berkurang malah semakin banyak yang datang.
Dengan ribuan km lari tentunya.
Yang lainnya, penamat tri dibeberapa lomba. Dari kelas Sprint sampai olimpiade lengkap ada.
Ironman sampai metaman sudah ada beberapa.
Podium dibeberapa lomba lari sudah pasti. Bahkan ada yang berkali- kali.
5k, 10k, half dan full marathon lari?. Jangankan dinegeri sendiri, diluar- negeripun dicari.
Lari ultra puluh- puluh sampai ratusan km sudah bukan lagi satu- dua yang lakukan, tapi belasan. Bahkan puluhan.
Belakangan banyak teman2 yang tak hanya lari on road, tetapi juga off road.
Lombanya pun ada.
Dengan jarak belasan, puluhan sampai ratusan.
Rasanya baru kemarin- kemarin sang teman ini( mahmud abas, mama muda anak baru satu), bertanya,” Kang, aku bisa ga ya ikut lomba lari trel ultra?”. Ternyata? Lari 24jam dengan 92kmpun bukan hal mustahil bagi dia.
Kisah lainpun tak kalah luar- biasa.
Belum setahun usia lari- berlarinya. Pengalaman lari trelnyapun belum lebih dari dua. Lagi2 seorang mahmud abas jakarta tiba- tiba saja menjadi penamat di 50k trel ultra.
Tak bisa lagi dihitung dengan jari, teman2 yang beberapa waktu lalu masih berpakaian xxl barangkali, sekarang tampil lebih lagi percaya diri. Karena ukuran sudah berganti.
Banyak lagi kisah2, cerita2 yang seperti ini.
Hebat? Sudah pasti.
Adakah mereka punya kiat? Yuk kita cari.
Mereka- mereka ini, teman- teman kita ini, adalah seperti juga siapapun yang kita temukan hari- hari. Just like you and me.
Makan siang, malam dan sarapan pagi. Persis sama. Sayuran, buah, susu. Dengan roti atau nasi.
Tidur, istirahatpun ya persis sama. Dari malam sampai pagi.
Jadi? Apa yg membedakan dengan kita- kita ini?
Niat dan semangatnya yang luar- biasa kuat.
Berlari, melakukan kegiatan sehat bersama- sama dengan yang lain sudah pasti lebih baik.tak diragukan sedikitpun. Bagi mereka ditambah lagi dengan,’ jika perlu sendiri sekalipun’.
Cuaca sejuk sudah pasti menggoda bagi kita. Bagi mereka?, ‘sedikit panas atau sedikit hujan tak ada salahnya dicoba’. 🙂
Bagi kita,’ ya ampun, baru 5k’. Padahal target hanya 10k. Bagi mereka ‘ Alhamdullillah sudah 5k’. Sementara target mungkin masih belasan bahkan half.
Tak dimaksudkan sama sekali bahwa kita harus berkegiatan atau berlari luar- biasa seperti mereka.
Olah- tubuh atau berlari, 10-30 menit setiap sore atau pagi, asal memang setiap hari, standar sehat sudah cukup terpenuhi.
Hanya, jika kita memang mempunyai keinginan diri. Apapun. Mulai dari ikut tri, lomba lari gunung muncak rinjani. Sampai hanya sekedar mau mulai lari, ya niat dan semangatnya itu tadi.
Tak boleh sekedar, ‘ah besok mah asli mo narik kaki bangun pagi, tapi kenyataannya tarik selimut lagi tarik selimut lagi. Setiap hari berulang kali. Tahu- tahu tahunpun berganti.
Teman- teman lain sudah kesana- kesini, tinggallah diri ini.
Apalagi kalau bukan merenungi diri- sendiri, ‘ duh iraha deui atuh ya mulai? Meuni hese gini?
Selamat pagiiiii Eh udah mau jumatan lagi…

Standard
adventure, cerita, kisah, mountain running, olahraga, running, sport, story, trail running, tulisan, ultra running, ultra trail running

Teman- teman Saya Yang Hebat

26 November.
Lapar dan haus teramat- sangat. Tak ada lagi yg bisa dimakan & diminum. Jikapun ada pastinya seketika itu juga keluar lagi. Maaf, dimuntahkan.
Asam lambung sudah kadung naik.
Lemas tak tersisa tenaga sedikitpun.
Duduk letih dan  lemah.bersandar dipohon yg tak lagi bisa menahan curah hujan. Sendiri.
Di ketinggian Plawangan, Tempat pendaki bermalam sebelum muncak Rinjani.
Beberapa saat tadi baru turun dari muncak Rinjani. Belasan menit setelah Kang Hendra. Dan lebih lama lagi setelah Kang Rudy.
Kang Rudy tak tahu lagi entah dimana.
Kang Hendra katanya antara Plawangan dan Segara Anak.
Pasrah. Tak ada lagi yg bisa diperbuat.
Belokan turun ke Segara Anak tak juga ditemukan. Sudah belasan kali dicoba,
Sampai, ya sampai tak kuat lagi melangkah.
Dering telpon Kang Hendra ada sekali2.
Pastinya karena signal yang kadang ada kadang tidak. Menanyakan apakah belokannya sudah ditemukan.
Setelah sekian kali dijawab belum, akhirnya jawaban saya terakhir adalah sudah.
Hanya agar Kang Hendra tak lagi mengkhawatirkan saya, dan, sungguh menjawab telponpun sudah tak kuat.
Selang beberapa puluh menit masuk sms/ bbm teman2 mengucapkan selamat ulang- tahun.
Satu, dua, beberapa sekaligus. Belas, dan ya ampun, seperti tersadarkan, bahwa saya punya banyak teman. Banyak sekali.
Tak saya sadari, saya menitikan airmata.
Setelahnya adalah isakan.
Isakan bahagia, karena entah bagaimana mulainya tiba2 saya merasa tidak sendiri lagi.
Tiba2 tersadar bahwa sepertinya ada banyak teman2 yg menunggu seperti apapun kisah2 lari2 gunung saya. Jika ya begitu maka tak boleh diri ini menyerah.
Tiba2 saja saya mempunyai kekuatan lagi.
Kekuatan yg saya yakin cukup untuk bangun, dan memulai pencarian belokan ke Segara Anak.
Ternyata belokan yang dicari hanyalah belasan meter arah utara dari tempat saya semula tadi.
Selanjutnya beberapa jam kami bertiga sudah berkumpul di Segara Anak. Selamat, tanpa kurang suatu apa. Alhamdullillah.
Dua tahun kemudian, beberapa hari kemarin teman2 saya bukan lagi sekedar berlari gunung, tapi berlomba berlari di gunung.
Artinya ada batas waktu yang harus mereka perhitungkan.
Dengan jarak 50km, 102km dan 165km.
Dengan berbagai tingkat pengalaman dan kemampuan.
Dari yang pemula sekali. Sampai yang sudah beberapa kali penamat lomba2 lari trel ultra dimanapun.
Padahal kisah saya diatas hanyalah 30an km saja.
Saya yakin, tantangan, hambatan dan perjuangan mereka pastinya lebih lagi dari saya.
Biaya, waktu, persiapan, cuaca, medan yang sulit dan berbahaya. Tidur yang kurang. Makan dan minum yang mungkin berbeda dengan biasanya.
Tapi begitu besar niat dan keinginan mereka untuk turut di hajatan ini.
Bersukur acaranya selesai dengan, semoga saya tidak salah, berhasil dan selamat.
Teman2, kalian sungguh luar- biasa. Tamat atau tidak tamat kalian telah membuat sejarah.
Langkah menuju Indonesia sebagai salah- satu tujuan hajatan lari trel ultra dunia sudah dimulai.
Tak bisa lagi dihalangi.
Dengan kenyataan bahwa kita mempunyai ratusan gunung, pebukitan dan medan trel dimana- mana, bukan hal yg mustahil berikutnya adalah menjadikan tanah-air sebagai kiblat lari trel ultra maupun non ultra dunia.
Saya yakin dan percaya sekali.
Terimakasih teman- teman, kalian dan apa yang baru saja kalian lakukan merupakan hadiah termanis dan terindah diulang- tahun saya..
Tak terlupakan juga doa dan dukungan dari teman2 yang lain.

Salam,

Standard