event

Tambora Challenge

TamboraChallenge2018

Terengah sampai juga dibukitan kecil yang tak seberapa tinggi. Tapi terik matahari Sumbawa tak hanya membuat lemas dan badan yang basah kuyup oleh keringat, tapi juga seolah berlari kepuncak bukit berketinggian ratusan meter.

Sinyal telfon selular yang semakin kecil dan akhirnya hilang membuat saya berlari kearah posisi yang paling tinggi, berharap semoga saja mendapat sinyal.

Agar bisa melanjutkan update posisi terakhir pelari- pelari.
” Siapa saja Kang, yang sudah sampai di check point 1?”.
” Panas atau hujan Kang?” .Dan sekian pertanyaan- pertanyaan lain yang masuk.

Sumbawa barat sudah lewat. Tinggal lagi Sumbawa Besar dan Dompu.

Dengan batas waktu total 72 jam, 50 pelari harus menyelesaikan jarak sejauh 320 km.

Sendiri 320 km atau berdua, relay, masing- masing separuhnya.

Dan separuhnya saja adalah nyaris empat kali full marathon.

320 km trek lari aspal panas disiang hari, angin kering dan kesunyian malam harinya.

Tambora, letusan dahsyat april 203 tahun lalu. Letusan yang mengubur 3 kerajaan dilerengnya, Tambora, Sanggar dan Pekat, beserta seluruh penduduknya.

Tambora, letusan yang menimbulkan Tsunami yang menyapu Jawa Timur sampai Kepulauan Maluku.
Letusan yang membuat musim semi 1815 di langit Eropa berbeda. Adanya hujan disertai badai, yang biasanya tak ditemui ketika akan memasuki musim semi.
Tambora adalah juga 50 pelari yang akan bertekad berlari ultra ratusan kilometer, start di Sumbawa Barat, terus kearah timur dan finish di Doro Ncanga, lereng Tambora.

Tekad yang menunjukan kekaguman akan dahsyatnya kekuatan alam Tambora.

Sampai jumpa di garis start.

Standard
adventure, event, mountain running

UTMB.

Bandung, 1987.Angan2 terkesan muluk. Sekali seumur hidup bisa menamatkan 10k dilomba lari manapun. Sudah pasti tak peduli podium. Bahkan tak pusing jikapun beberapa jam terlewat waktu Cut Off Timenya. Selama tak sampai berganti hari.

Bandung 2010.

Mencoba mulai berlari.

Kandas di 1km pertama. Menangispun bukan lagi dibuat- buat atau kiasan.

Plawangan Sembalun, 26 november 2012.

Nyaris tewas. Sendirian, tak menemukan jalan ke Segara Anak, tujuan berikut dimana Kang Hendra dan Kang Rudy Ansyah mestinya sudah sampai.

Dehidrasi dan kelelahan teramat- sangat.

Angan- angan berikut bahwa suatu saat saya akan melihat lomba lari trel disini rupanya harus tetap sekedar angan- angan.

Continue reading

Standard
design, event

IMPIAN YANG ( SEMOGA) TERWUJUD

Some people say “Two Wheels Good, Three Wheels Better” 🙂

Disebut sebagai posisi bersepeda paling nyaman, atau paling tidak lebih nyaman dibanding sepeda biasa beroda dua, Trike( roda tiga) berjenis recumbent dan tadpole ini juga adalah lebih aman dan mudah.

Posisi mengendarainya yang bersandar kebelakang( recumbent) lebih aerodimanis dibanding posisi pada sepeda biasa, yang malah melawan angin.

Titik berat yang jauh lebih rendah juga. Bandingkan posisi duduk recumbent yang hanya 25 – 35 cm dengan sepeda yang diatas 100 cm.

Tak diharapkan, bilapun terjatuh, dari ketinggian yang hanya seperempatnya sepeda biasa, pastinya ‘sakit dan luka’nya pun hanya sebagian dibandingkan sepeda biasa.

Ya kan? 🙂

Continue reading

Standard
event

SOME RUNNING IS GOOD, MORE IS BETTER, TOO MUCH IS JUST ENOUGH

Aki Niaki's photo.
Aki Niaki's photo.
Aki Niaki's photo.
Aki Niaki's photo.
Aki Niaki's photo.

Suatu waktu di 2012.
Idenya adalah berlari membelah pulau Jawa.
Start 5:30 sabtu pagi di Tongas, Pantai utara Pulau Jawa, Probolinggo.
Tak muluk bagi teman- teman lain, cukup muluk bagi saya, berharap finish dipantai selatan pulau Jawa di Mbambang.
Trek awal adalah aspal mulus menanjak dari ketinggian 0 mdpl, sepanjang 40an km sampai Cemorolawang di ketinggian 2200 mdpl.
Semua serba pertama kali bagi saya.
Menanjak yang tak henti- henti, alam yang berbeda. Yang pasti indah luar- biasa.
Tiba- tiba saja, Bromo dan lautan pasirnya dihadapan mata. Gagah dan indah sekaligus tiada tara.
Memang tak serta- merta membuat lelah dan letih yang teramat sangat tiba- tiba hilang tapi bagai suntikan obat dewa membuat kami bergegas melanjutkan lari- lari kami menghampiri Bromo dan lautan pasirnya. Yang seperti menanti kami dengan anggunnya.
Selanjutnya adalah Ranupane, tersasar beberapa kali, kedinginan menjelang magrib karena pakaian ganti yang terbawa porter entah kemana. Dan dikedinginan -minus 4 ° C Ranupane esok pagi harinya lanjut berlari dengan berselimutkan sarung dan handuk pinjaman pemilik penginapan. Tempat kami terpaksa bermalam.
Senin dini hari pukul 2:30 jika tak salah kami sampai dipantai selatan Mbambang.
Alhamdullillah.
Sedikit kisah yang sedikit banyak melatar- belakangi Perhelatan Lomba lari Trel Bromo Tengger Semeru setahun setelahnya, 2013 dan tahun- tahun berikutnya.
Tak sampai seminggu lagi adalah Perhelatannya yang ke empat. Mulai 4 November 2016.
Saya percaya, teman- teman penggagas, teman- teman penyelenggara akan bersungguh- sungguh, sepenuh hati dengan acaranya. Sejak persiapan sampai acara dan setelahnya.
Disamping tentu saja ditambah pengalaman- pengalaman mereka yang terus bertambah, menjadikan perhelatan BtsUltra2016 ini perhelatan yang semestinya.

Semangat! Teman- teman peserta,
Rasakan dan nikmati treknya, dikategori manapun. Di 30km, 70, 102 atau bahkan di 170km.
Tak banyak tempat lari- berlari di dunia yang menyuguhkan sekaligus trek kehijauan, tanjakan seperti yang tak berakhir, lautan pasir yang indah namun melelahkan, dan… godaan asongan ojek- ojek nakal yang merangsek lebih seperti memaksa dibanding menawarkan.
Dikeheningan dan kegelapan Bromo Tengger Semeru.
Hanya Tuhan dan nurani yang tahu.
Semangat! Teman- teman penggagas dan penyelenggara.
Jadikan perhelatan ini perhelatan apik tak terlupakan.
Terimakasih Kang Hendra Wijaya, Bang Nefo Ginting, Bang Hendricus Mutter, Kang Jeffri Ricardo, Kang Rudy Rohmansyah, Bli Nyoman Suka Ada, Mas Data Pela, Kang Eja, Mas Ladi dan banyak lagi. Mohon maaf jika terlewat.
Doa terbaik saya untuk BtsUltra2016.
Salam 😊

Standard
event, Jalan- jalan, tulisan

CIHAPIT TAK LAGI ‘SEMPIT’

screenshot_2016-10-19-14-21-39-1

Apa yang ada dalam ingatan mendengar Cihapit?
Nama Pasar? Nama Jalan? Pasar loak jalanan?
Bagi saya, tahun 69an, usia sekolah kelas 6 SD adalah juga tempat saya menjual pakaian bekas saya yang sudah kekecilan untuk kemudian dipakai membayar sewa naik kuda di jalan Ganesha ITB.
Tempat saya setahun sekali membeli tas sekolah, usia sekolah smp sma  disalah satu toko sisi luar pasar Cihapit.
Salah- satu toko kota bandung yang barang- barangnya bagi saya selalu terbaru pada jamannya.
Surga kuliner puluhan tahun, dari nasi rames Ma Eha, yang konon seorang Bondan Winarno saja sampai tiga kali gagal mencicipinya karena selalu kehabisan.
“Kurang pagi datangnya Kang..” 😀
Lotek cihapit, gorengan cihapit, sampai awug. Penganan khas Jawa barat, berbahan tepung beras, gula merah, garam dan parutan kelapa dengan cara dikukus.

screenshot_2016-10-19-14-25-48-1

Surga pencinta buku- buku lama,cassette atau piringan hitam lagu- lagu lama musisi- musisi bandung, nusantara dan mancanegara era non digital. Anda generasinya Dara Puspita, Zainal Combo? Siapa tahu beruntung.

Car audio mahal di toko asesoris mobil? Datang ke jalan Cihapit. Tukar- tambahpun dengan senang- hati 🙂

screenshot_2016-10-19-14-27-11-1

Mundur lagi jauh kebelakang, Cihapit adalah lingkungan hunian yang dibangun belanda dengan konsep lingkungan sehat. Komplek perumahan lengkap dengan pasar, pertokoan,taman dan ruang terbuka.

Tak heran jika 1920 Cihapit mendapat predikat Contoh Lingkungan Pemukiman Sehat kota Bandung. Dihuni oleh golongan menengah pribumi dan belanda.

Jaman kelampun dialami Cihapit.

screenshot_2016-10-19-14-29-03-1

1942 – 1946, masa pendudukan Jepang, komplek perumahan Cihapit dijadikan interniran.

Kamp konsentrasi tawanan wanita dan anak- anak  pribumi dan belanda.

screenshot_2016-10-19-14-28-02-1

Cihapit sekarang Alhamdullillah masih surga kuliner, buku- buku, lama, cassette lagu- lagu baheula dan barang- kelontong lainnya.

Dan Toko TIDAR jalan Sabang  yang legendarispun masih ada.

Berdiri 1960, yang semula hanya menjual buku dan stationery, 1970 mengkhususkan ke kelengkapan Seni dan desain.

screenshot_2016-10-19-14-25-02-1

Cihapit, pasar Cihapit kini, giat berbenah menuju  Pasar Rakyat yang ramah lingkungan, bersih, ‘nyaman’ dan humanis di kota Bandung.

screenshot_2016-10-19-14-22-36-1

Saya melihat kesungguhan pengelola dan masyarakat pedagangnya berusaha kearah sana.

Sedikit ornamen ditambah disana- sini. Tak gemerlap tapi tak juga gelap.

Berlantai keramik tak lagi pengunjung harus berbecek- becek.

screenshot_2016-10-19-14-24-11-2

Pasar rakyat tak lagi sekedar tujuan belanja asal murah. Pasar rakyat yang bisa kembali menjadi pasar tempat berinteraksi. Tak sekedar tempat belanja, tapi talkshow dan pagelaran musikpun siapa takut?

Penasaran? Yuk ameng ka Pasar Cihapit 🙂

“nyaman’? Ohya, saya masih berharap semua hal baik- baiknya akan ditambah dengan “bebas asap rokok” dan parkiran sepeda 🙂

Sumber: https://komunitasaleut.com/2012/03/01/cihapit-surga-dan-masa-yang-kelam-bandung/

http://www.thejakartapost.com/news/2010/07/25/tidar-a-onestop-art-and-design-shopping-destination.html

Standard
adventure, event, inspiration

Percuma Teriak- Teriak Di Sosmed Juga, Ga Kan Didengerin..

6633

courtesy of wwwdot6633ultradotcom

8 manusia- manusia gilak, penamat lari dikutub utara. Sejauh 533km. Dengan batas waktu 191 jam.

salah- satunya adalah Hendra Wijaya, Indonesia. Kedua dari kanan..

Pagi ini ada yg sms saya, berbaik- hati menawarkan diri, membantu, agar keikut- sertaan kita di lomba2 ultra dunia bisa dibantu/ dibiayai  pemerintah( kemenpora).
Kata beliau( yang juga mengaku punya kedekatan dengan siapa2 dipemerintahan), percuma buang ongkos mahal2, teriak2 di sosmed, ga kan didengerin pemerintah.
Saya balas pendek saja.
Kami lakukan ini semua, sebagian yg turut serta diberbagai kejuaraan dluar- negeri, berlari- lari mulai sendiri, beberapa sekedar suka2, sampai di lomba2 tanah- air, justru karena memang sudah tak didengar, jadi ya kami lakukan semampu- mampu kami, memajukan dunia lari trel tanah- air.
Lebih baik ngesot perlahan tapi pasti dengan kemampuan kami apa adanya, daripada mungkin saja wus wus wus tapi harus mengemis- ngemis, merengek- rengek minta diongkosin/ dibantu.
Beruntung orang luar malah yang lebih punya perhatian.( Eh ternyata panjang deng balasan saya 😛 )

Tambahan dari saya. Aneh ya, jaman segala informasi bisa didapat dengan sekedar sentuhan jari, pemerintah koq ya seperti kesulitan menemukan potensi yg ada. Tak usah bicara ‘ menciptakan’.

Saya tak sedang mendewakan siapapun teman2 saya atau mengagungkan Lari Trel Tanah- air.
Tapi tak bisa saya pungkiri, mereka ini luar- biasa.
Demi majunya lari- trel, yang satu tak sungkan2 menghabiskan biaya dan waktu yang tak sedikit.
Lainnya lagi berlatih giat, mengadakan lomba sampai patungan untuk bisa turut ambil bagian di lomba2 tanah- air maupun mancanegara.
Beberapa lomba sudah diakui dunia. Beberapa pelari sudah  juga menjadi penamat, bersanding dengan penamat-2 luar- negeri.
Dua tahun lalu ‘sulit’ mendapatkan peserta. Kini, rasanya ‘tak mudah’ atur lomba mana yg akan diadakan atau diikuti.
Padahal lari- trel tanah air belumlah seusia kebanyakan negara2 lain.

Luar- biasa pertama.

Alam indonesia yang luar- biasa.
Lari trel bisa dilakukan dimana saja.  Lari trel tak mesti lari gunung. Di pantai. Bahkan dikebun tetangga 🙂
Begitu pijakan bukan lagi aspal atau sejenis, ya sudah lari trel namanya.
Kenyataan bahwa kita punya gunung yg banyak sekali , menjadikan lari trel tak jauh2 dari gunung. Paling tidak lerengnya.
Negara tetangga, saking sedikitnya punya gunung, bukitpun disebut gunung.
Nah kita, saking banyak gunung, gunungpun sering disebut bukit.

Luar- biasa yang kedua.
Juga bisa dilakukan siapa saja. Penduduknya yang super banyak. Cukup 1% saja yang melakukan, se asia tengggara habis diborong.

Luar- biasa yang ketiga.
Kapan saja. 365 hari dalam setahun, tak terputus musim ini itu.

Artinya potensi luar- biasa kita, bisa berkiprah dikancah dunia.
Sudah pasti menjadi daya tarik wisata mancanegara.

Gambarannya.
Siapapun yg akan ikut di UTMB( salah- satu lomba lari trel ultra bergengsi dunia. 170km, melintasi 3 negara. Swiss, Itali & Perancis), harus mendapatkan 8 poin. Yang didapat dari keikut- sertaannya di lomba2 dimanapun yg sudah mendapat kualifikasi UTMB.
Sudah ada beberapa lomba dunia yg mendapatkan kualifikasi yg dimaksud.
Dimanapun selain di Indonesia.
Nah sekarang sudah ada 5( lima) lomba tanah- air yang sudah mendapatkan kualifikasi ini. Mulai dari 1 poin sampai 4 poin.
Dipastikan akan menyusul beberapa lagi yang akan mendapatkan kualifikasi UTMB ini.
Artinya, besar kemungkinan lomba2 tanah- air menjadi pilihan utama untuk mendapatkan poinn2 ini. Ya ga sih?
Coba pikir.
Alamnya ya ampun okeh pisan.
Ongkosnya, jika pun bukan yang termurah, pasti tak lebih mahal.
Medannya? ( Biasa, bagi kaum pelari2 trel gilak, semakin hardcore medannya semakin maknyussss), jangan tanya. Terkadang setelah melihat merasakan medan di kita, ditempat lain bisa- bisa terkesan seperti Disneyland 😉

Selamat siang, selamat hari senin 🙂

Standard
berbagi, event, inspiration, komunitas, olahraga, renungan, running, sport, story, tulisan

BandungJakartaRun4Leukemia

wpid-p6130011.jpg

Awal 80an berangan- angan, sekali seumur- hidup turut dalam lomba lari 10k. Kekaguman saya akan olahraga lari mengalahkan kekaguman saya akan olahraga2 lain, apapun yang menggunakan alat.
Apa daya, asma & bronkhitis bawaan sejak lahir menjadi penghalang. Setidaknya begitu yang saya fahami selama itu.
Awal 2010 adalah lari ‘serius’ saya pertama.
Selanjutnya, kecintaan saya akan lari semakin besar. Dan ‘mengalahkan’ penghalang saya.
Sepertinya kapanpun saya siap untuk berlari puluh bahkan ratus kilo.
Haruskah? Tak mesti tentunya.

wpid-p6130022.jpg
10-30 menit berlari dalam sehari sudah ‘memenuhi’ untuk sehat.
Tak hanya untuk sehat sendiri, berlari ternyata bisa untuk banyak hal positif lainnya.
Misalnya, seperti yang dilakukan teman2 yg baru saja semalam, 13 juni 2014 lalu, memulai lari bandung- Jakartanya. Berlari untuk adik2 penderita Leukemia.
Diharapkan finish menemui adik- adik kita pada tanggal 15 juninya.

wpid-p6130031.jpg
Berlari sebagai bentuk kepedulian mereka akan penderitaan adik2 ini. Akan orang2 disekitar adik2 ini.
Berlari sebagai bentuk kepedulian terhadap sesama. Adik2 kita diantaranya.
Semangat teman2. Tetap sehat. Selamat sampai tujuan. Dan kembali ke Bandung.
Terimakasih tim pesepeda, motor & mobil pendukung. Terimakasih League, PocariID, SAB. Terimakasih semua teman- teman komunitas lari tanah- air.
#bdgjktrun4leukemia

wpid-p6130051.jpg

wpid-p6130065.jpg

wpid-p6130070.jpg

Standard
event, Hash, komunitas, mountain running, olahraga, running, sport, trail running

Lari- Larinya Teman Senior Kita di Universal Hash House Harrier

InaAnwarSurahman001

Sedikiiit saja kembali ke UniversalHash HouseHarrier Trail Running Race 2014, minggu lalu.
Awal 80an saya kenal beberapa kelompok pegiat lari lintas- alam( seperti kita sekarang, lari trel) dikota Bandung.
BHHH( Bandung Hash House Harrier), yang sering diplesetkan menjadi Bandung Hah Heh Hoh, Pelita( Pelari Lintas Alam), Pola86( Penggemar Olahraga Lintas Alam). 86, percaya atau tidak, teman2 senior nan kencang2 ini,sejak 1986 sampai rabu lalu tak pernah terputus lari setiap hari rabu sorenya.
Virgo( lupa singkatannya apa). Dan beberapa lagi. Jika tak salah malah ada belasan.
Jadi, kami di Bandung, punya banyak sekali pilihan. Belasan kali dalam seminggu. Setiap pagi dan sore,mulai senin sampai minggu.
Dan bisa terjadi ada beberapa komunitas dengan masing2 treknya di waktu yang sama.
Kebanyakan dari mereka bahkan adalah pelanggan2 saya menginap.
Jadi sabtu c/i. Minggu pagi mereka berlari.
Dulu.
Sayang sekali saat itu saya belum bisa berlari 😦 .
Ups, kembali ke yang saya maksud.
Konon komunitas lari seperti Universal HHH ini berasal dari Malaysia.
Trek lari yg ditandai sebelumnya dengan potongan2 kertas atau bubuk kapur.
Yang melakukan taburan ini disebut Hare.
Kita- kita, pelarinya disebut Hounds. Pelari yang mencari dan mengikuti jejak yang dibuat oleh sang Hare tadi. Biasanya dilakukan sehari sebelumnya.
Start/ finishnya adalah Beer Truck( Ah pantas, sebagian masih pertahankan tradisi ini).
Nah Universal Trail Running Race 2014 kemarin ini adalah kurang- lebih cara teman2 senior kita memperkenalkan lari- lari mereka.
Medannya? Ya seperti yang kita lalui kemarin ini. Semak2, blusukan. Naik- turun. Dan secara horor.
Jadi jika kita temukan tanda2 arah kemarin ini, ya adalah bonus. Karena biasanya mereka benar2 mengandalkan hanya taburan kertas saja.
Keamanannya hanya, adanya tim sapu- bersih 🙂 .

Mohon maaf jika kemarin ini membuat sebagian teman2 kesal, jengkel dan ngambek dengan treknya yg tak ‘sopan’.
Tapi percaya lah, tak ada maksud lain, selain sama- sama mengajak siapapun untuk mencintai lari.

Oh ada tambahan sedikit lagi untuk kita ketahui soal Hah Heh eh HHH ini.
– On On:
a. Nada tinggi panjang, terus menurun : tanda awal untuk memulai kegiatan Run, diteriakkan oleh Hash Master.
b. Bersemangat, nada tinggi pendek-turun : tanda Hound telah menemukan jejak kawul yang benar.
c. Nada naik turun pendek : salam persahabatan antar Hasher saat berpapasan di jalan.
d. Nada rendah pendek : minum-minum di senja hari setalah selesai Hash Run.
– Down Down:
Seni meminum habis segelas penuh bir dengan sekali teguk dengan iringan lagu Down Down dari para Hasher. Jika tidak habis, sisa bir harus di guyurkan di kepala. Down Down diberikan oleh Hash Master/Mistress atau R.A. sebagai suatu tanda penghargaan (an axclusive honour) yang boleh di protes tapi tidak dapat di tolak, apapun juga alasannya.
– Harriete: Sebutan bagi seorang Hasher wanita.
– Puppy: Hasher kecil berusia antara 3 – 12 tahun.
– On Sec: Hasher yang bertugas melaksanakan pencatatan semua data kegiatan Hash Club,administrasi/surat menyurat, statistik, keuangan, penerbitan Hasheet dll.
– Hash Liaison: Hasher yang bertugas menghubungi sponsor dan menjamin adanya beer & minuman lainnya baik di Regular Run Site maupun didalam kegiatan Hash lainnya (Party, Picnic Run Dll).
– Hash Flash: Hasher yang bertugas mengabadikan semua peristiwa Hash dalam Photo/slide/film/video.
Jadi kemarin ini saya sedikiiiit membantu melakukan sebagian pekerjaan2 sebagai Hash Liaison dan Hash Flash 🙂
Sampai jumpa di On On tahun depan. Salam

 

Sumber: http://kobahash.blogspot.com/2012/06/daftar-istilah-hash.html

Standard
adventure, event, mountain running, olahraga, running, sport, trail running, tulisan, ultra running, ultra trail running

Mengenal Medan Berlari Trel

runLimitless

Pantai Pendawa Bali. Garmin Photo Session.

Hak gambar ada pada Patricia Heny.

Mengenal medan lari trel yang ada di kita. Dan bagaimana kita ‘menikmatinya’. Atau: mempersiapkan diri untuk sebagian. Sebagian lain biarlah kejutan 🙂 .
Sepertinya kita sepakat, bahwa lari trel adalah lari  selain dijalan yang menarik sekali. Menyehatkan, menenangkan, menghibur. dan biasanya menyenangkan. Terkadang saja menyebalkan.

Banyak hal menarik yang ada di lari- lari trel tanah- air. Yang mungkin tak ada ditempat lain.
Do’s & don’ts ditempat lain bisa jadi berbeda atau bahkan  tak berlaku di kita.
Ditempat lain mungkin ya bisa berlaku, “Usahakan jangan  berlari sendiri ditempat yang baru”. Ditempat lain yang sudah sedemikian membudayanya berlari. Tak sulit mencari teman.
Apalagi lari muncak gunung. ” pelajari dahulu trek yang akan dilalui.Beri tahu orang terdekat, kapan kita berangkat dan kapan perkiraan turun”.
Tentu saja berlaku juga di kita.
Atau, seringkalinya malah setelah beres muncak sendirian, lebih dulu saya sampai dirumah ketimbang whatsapp saya terbaca orang rumah 🙂 .

Trek1- trek2-

Lereng Gunung Burangrang. Atau di perkampungan dipinggiran kotapun mirip- mirip seperti ini kan? 🙂

Kiri: Trek di Gunung Burangrang. Kanan: Tangkubanparahu.

Satu.
Kita mulai dari yang termudah. Dengan trek seperti diatas. #newbiefriendly .

Kelengkapan: sepatu trel dan atasan bawahan jersey jika ada. Jika tidak asal cukup nyaman saja.

Yang dibawa: satu botol minuman cukup.

Trek yang bukan aspal. Tak jauh dari tempat tinggal.
Rerumputan atau tanah di halaman disekitar pemukiman. Datar2 saja atau dengan sedikit naik dan turun yang landai.

Trek terbuka. Tak terhalang alang- alang atau tumbuhan, karena sering dilalui.

Tak perlu banyak2 yang dipersiapkan. Cukup handheld bottle saja. Satupun cukup.

Pijakan tak sulit, karena hampir rata saja. Baik tanah maupun rumput.

Dua.

Berikutnya adalah, jika start  yang agak jauh dari rumah.jadi mesti dicapai dahulu sekian waktu #newbiefriendly .

kelimutu=BRomo-

Kiri: Danau Tiga Warna Kelimutu. Kanan: Bukit Pasir Bromo.

Yang dibawa: air dan makanan tergantung jarak dan ada tidaknya warung/ toko tempat kita beli sesuatu yg diperlukan.
Handheld bottle atau hydropack. Kamdig jika ada.
Semisal Sentul bagi teman2 Jakarta, Bogor dan Tangerang. Perkebunan teh Sukawana bagi Bandung dan sekitarnya.
Medannyapun beragam.
Ada yang bisa dengan santai sambil update status,( hati2 kepala terbentur batang/ dahan pohon yg melintang seketinggian kepala. Kecuali pakai helm dan siap trombophop),  karena tak perlu harus ngesot2 atau berpegangan pada apapun, atau dengan sedikit2 pegang sana- sini karena turunan yang lumayan curam. Walaupun mungkin hanya beberapa meter saja.
Semuanya berlaku, Berlari trel, artinya pemandangannya lebih hijau, lebih indah dan nyaman, tak hiruk- pikuk lalu- lalang kendaraan dan asapnya.

Disini sebotol minuman kita harus ditambah dengan lain2nya lagi. Cemilan dan uang secukupnya. Sarung tangan mulai diperlukan. Cukup sarung tangan wool seharga 5 ribuan.

KawahRatu- TamanJayaSungai-

Kiri: Sungai air hangat di Kawah Ratu Gunung Salak. Kanan: Muara sungai di TamanJaya Ujungkulon.

3. Trek yang sama, tetapi berbonus istimewa,semisal kawah dan sungai yang bisa dilalui/ dicapai. Seperti Pasir Alit ke Kawah Ratu Gunung Salak. Atau start parkiran atas Tangkubanparahu, memutar kebalikan arah jarum jam, mengelilingi Kawah Ratu Tangkubanparahu. Sampai sebelum panjatan. Dan kembali. #newbiefriendly.
Yang dibawa: setelan ganti untuk yang ada acara basah2an disungainya. Kamdig cenderung wajib 🙂 .

4. Berikutnya adalah medan yang termasuk hutan, lereng gunung. Yang berpotensi untuk tersesat. Bahaya kelelahan, kedinginan dan dehidrasi.
Pemula sebaiknya disertai pelari trel yang sudah berpengalaman.
Kelengkapan: rain coat ringan( cukup yg 10an ribu, windbreaker, sepatu yang lebih sesuai, untuk kesiapan menghadapi segala medan trek, seperti pasir, batuan licin, tanah becek dan sungai. Jam bergps jika ada. Pluit, headlamp kecil, Sarung tangan, atasan jersey berwarna cerah. Obat2an pribadi, betadine dan plester penutup luka. Bandana serbaguna( banyak yang murah. 40an ribu,buatan Bandung), telfon genggam murah( bukan smartphone, berbattery tahan lama).

Penting sebelumnya untuk diketahui, provider mana yang paling kuat di area ini.

Karena tak semua gunung dilintasi banyak pengguna, harus diantisipasi trek yang agak tertutup semak2, dahan ranting melintang. Artinya ada kemungkinan tergores.
Sila pakai bagi yang nyaman memakai semacam bawahan panjang/ compression.

GarminPhotoShoot0750TamanJayaPantai-

Kiri: Pantai Pendawa, Bali. Kanan: Pantai Taman Jaya, Ujung Kulon.

Langkah kaki dan pijakan.
Perhatikan pijakan kita disini. Terutama saat menurun.
Menurun dengan perlahan. Tentu saja cenderung lebih aman. Tapi lebih mudah lelah/ berat pada paha dan betis, karena menahan  grafitasi.
Jika memungkinkan adalah turun dengan sedikit lebih cepat.
Hanya, seperti dalam catur, beberapa langkah/ pijakan sudah harus diperhitungkan. Karena pijakan yang salah diawal akan diikuti oleh pijakan2 salah di yang berikutnya.

Batuan2 tajam injak dengan bagian telapak tengah. Menghindari tergelincir kedepan atau kebelakang. Pijakan diusahakan tak membuat sudut dengan sol bawah sepatu. Jadi hampir sejajar( lagi- lagi kemungkinan tergelincir).

Semakin tegak lurus pijakan dengan arah turun kita semakin baik. Semakin besar peluang kita untuk lebih cepat. Berlari dengan cara  melompat kebagian- bagian tegak lurus ini.

Semakin cepat kita turun, harus semakin condong badan kita kedepan. Menghindari  terjerembab kebelakang saat terpeleset.

Mata yang jangan hanya terpaku kebawah, memperhatikan kemana dan apa pijakan kita, tapi juga kedepan. Tak jarang ada batang dan dahan pohon yang melintang seketinggian kepala.

 

wpid-2014-02-01-05-18-46.png

Menjelang Jembatan Setan Gunung Merbabu.
Yang terpenting untuk semua adalah, kesiapan yang baik.
1. Biasakan hari- hari untuk tak terlalu ‘memanjakan’ tubuh dengan terlalu mudah memakai pakaian2 tebal, agar saat kita berada di cuaca dingin( dihutan pegunungan/ ketinggian) kita masih bisa cukup hangat dengan 1 jacket.

Bisa dibayangkan, jika hari2 saja dikota kita berjacket, apa lagi yang akan dipakai saat kita diketinggian. Ya kan?

2. Biasakan selalu bergerak. hindari duduk atau diam berlama- lama. Gerak, gerak dan gerak. Sebadan.  Jadi jangan hanya telunjuk saja yang bergerak.

3. Semua sepatu trel semestinya cukup baik. Dengan waktu dan jam terbang lari ngetrel kita, kita akan lebih pasti lagi mengetahui brand, type mana yang paling sesuai untuk kaki kita.

Yang penting bukan sepatu mana sesuai dengan medan yang mana, tetapi sepatu dengan peruntukan yang jelas yang sesuai dengan kaki kita. Setelahnya adalah kaki dan sepatu yang menyatu, yang seperti mempunyai mata dan perasaan, menyesuaikan gerak langkah dan pijakan. Apapun medannya.

4. Persiapan yang baik adalah persiapan yang tak mesti baik, sempurna.. Bingung? Jangan 🙂 . Tak mesti semuanya siap baru ngetrel. jika ya begitu, entah kapan kita ngetrelnya.
Jadi sisakan sedikit untuk kejutan. Kejutan yang mungkin mengesalkan bahkan menyebalkan, tapi setelahnya adalah kisah cerita seru yang membuat kita lebih cepat lagi terlatih.

Kapan- kapan saya sambung dengan trek- trek lainnya.Semoga bermanfaat.

Salam,

Yuk Ngetrel 🙂

 

 

Standard
adventure, berbagi, cerita, cerita, kisah, renungan, event, olahraga, running, sport, trail running, tulisan

Lomba Yang Bisa Dimenangkan Oleh Siapapun Kita

Kamojang-

6 bulan pertama usia lari, saya tak cukup percaya diri untuk ikut lomba. Sampai Kang Rama Nusjirwan mengatakan,” Harus coba Ki, bagus untuk tahu dan tingkatkan kemampuan”.
Berikutnya adalah sibuk2 siapkan mental dgn sekian tanya- jawab sendiri, bagaimana kalau begini, bagaimana kalau begitu. Intip2 di hasil lomba yg sdh berjalan, kira2 saya akan ada di posisi mana. Akankah saya paling buncit?.
Belum cukup yakin saya putuskan daftar di Milo 10k 2010. Setelahnya adalah dag-dig-dug tak karuan.
Perasaan menyesal timbul. Peserta akan ribuan, dan mereka akan melihat orang setua saya lari terseok- seok atau gagal finish. Konyol sekali.
Ditengah- kegalauan saya, tiba2 saja Bang Muara Sianturi telpon,” Ki, jadi ikut Milo 10k?. Lo ikut Lomba Lintas Alam Kamojang aja, trel tuh”.
Pucuk dicinta ulam entah kemana eh si ulamnya tiba.
Yes. Selamat saya dari yg saya khawatirkan.
Kamojang, entah dimana, pastinya pesertanya tak ribuan. Venuenya dialam, banyak bukit dan pohon. Akan banyak tempat sembunyi jika kegagalan yg akan saya alami.
Tiba2 ada perasaan lain. Entah kenapa, saya merasa ada skenario yg dibuat si Abang ini.
Sampai2 beliaupun mau ikut lomba Kamojang ini.
Yg pasti dgn gagah percaya diri saya daftar.
Apalagi ternyata peserta kategori kecepatan( kita sebut lari trel kan)pesertanya hanya berlima. Haha. Sebelum2nya sampai 20-30an.
Hari H. Kami berlima, saya, Pendaki Liar, 1 peserta lokal, Bang Anwar rekan Pendaki Liar( saya dengar belasan kali berturut-turut juara lomba ini, mantan atlet lari halang- rintang 3000m) dan Bang Muara Sianturi.
Tak ada perasaan ragu, grogi atau apapun. Tak setetes keringat dinginpun saya rasakan.
Santai, seolah- olah sudah belasan puluhan kali ikut lomba.
Dari awal saya sudah ketinggalan. Yang tak pernah meninggalkan saya adalah asma saya. Selalu setia menemani  🙂 .
Dan percaya- diri yg entah darimana koq ya saya punyai.
Belasan km pertama, etape pertama adalah 25km, peserta lokal saya susul, juga Kang Pendaki Liar yg cidera. Kemudian lagi Bang Muara yg mengaku cidera. Berarti tinggal Bang Anwar didepan saya.
Singkat cerita saya finish 15 menit dibelakang beliau. Senang? Tentu saja. Aneh? Ya juga. Tapi saya tak ambil pusing. Saya nikmati saja dulu saat2 ini.
Kapan lagi saya merasakan saat2 kemenangan seperti ini. Seumur- umur lomba, hanya pernah juara di lomba balap… karung. Saat kelas 4 SD.
Itupun drama. Karena sempat diprotes peserta lain. Menurut mereka saya curang. Masa bukan loncat2 tapi melangkah. Sebelum lomba saya dibisiki kakak, “jangan loncat, ujung2 kaki posisikan keujung kiri kanan karung, dan melangkah jalan cepat” 😛 .
Bang Muara kembali ke Bandung malam itu juga. Artinya tak berlanjut dgn etape kedua esok harinya.
Esoknya saya lebih santai lagi, karena juara dua sudah ditangan. Kembali ke start 18km, dgn trek berbeda.
Saat magrib saya menerima piala juara dua setinggi 70 cm. Ga level dgn kemenangan Nadal & Schumacher, tapi perasaan mah beda2 tifis lah.
Sampai saat ini Bang Muara tak pernah mengakuinya. Tapi saya tetap percaya, beliau sengaja membuat saya ikut lomba ini. Membuat saya percaya diri dgn keikut-sertaannya dan membiarkan saya berlari menuju juara dgn tak melanjutkan lombanya.
Jika mau tentu saja trek yg ‘ hanya’ 25km disikat habis beliau. Seorang yg hanya perlu waktu 3jam 5 menit untuk 42.195 km.
Kisah diatas, gambaran betapa konyolnya saya, yg tak cukup percaya diri untuk ikut lomba atau memulai lari- berlari, tak harus diulang oleh siapapun.
Yang dilakukan seorang Bang Muara terhadap saya ingin saya tiru. Dengan cara yg berbeda yg saya mampu.
Dibantu dengan banyak teman2 lari trel yg luar- biasa, saya ingin, setelah ikut “Food, Fashion & trailFunrun. Sukawana” lalu dan “Food, Fashion & trailFunrun. Sawarna” 4 mei nanti, juga acara2 serupa selanjutnya, siapapun pemula tak lagi ragu untuk mulai lari, mulai ikut lomba. Tanpa dibebani dgn harus cepat, harus finish, harus podium, harus sempurna.
Lomba kita adalah lomba mengalahkan berbagai macam penghalang untuk hidup sehat dan nyaman. Lomba yg pasti bisa dimenangkan oleh siapapun kita. Pemula atau yang sudah lama.
Terimakasih Bang Muara, Kang Rama, dan semua teman2 yg selalu saling mendukung. Salam, selamat pagi, selamat hari jumat 🙂

Bandung, Maret 2014.

Standard
cerita, event, inspiration, kisah, komunitas, motivation, renungan, story

Belajar Menulis Dan Belajar Berbagi

Tak sedikit kisah2 yang luar- biasa, menyenangkan( sudah pasti), dan mengharukan sepanjang berkegiatan di komunitas yang saya ikuti.
BatagorDotNet salah- satunya.
Tak hanya tempat dimana saya belajar tulis- menulis. Tapi juga tempat saya belajar berbagi.
Mulai dari Bebersih Bandung Yuk, acara pungut- pungut sampah. Jilid satu sampai kalau tak salah sampai sembilan.
Bergantian di beberapa titik lokasi dikota.
Buka puasa bersama saudara- saudara kita yang kurang beruntung.
Kunjungan ke adik- adik Sekolah Luar Biasa di Banjaran. Sambil juga berbagi kebutuhan/ keperluan mereka. Buku- tulis, bacaan , alat musik dan beberapa komputer desktop.
Berbagi ke korban banjir Bale Endah.
Makan siang dan bagi2 buku tulis/ bacaan bersama 32, seratus, dua ratus adik2 dari berbagai Rumah/ Yayasan Yatim- piatu.

Bedah Gubug, bantuan membangun rumah- tinggal seluas 41m2 dua lantai untuk seorang penjaga kebersihan makam serabutan. Dengan 1 istri dan 1 anak usia SMK.
Dibangun mulai dari nol.
Alhamdullillah, walau namanya Bedah Gubug, adalah rumah permanen berdinding tembok dilantai dasar. Dan dinding fibercement dilantai atas.
2 kamar mandi, 1 dapur kecil dan 3 kamar tidur.
Satu kamar dilantai atas untuk si Bapak dan Ibu. Satu kamar, juga diatas untuk sang anak . Dan satu kamar dilantai dasar untuk dikontrakan. Diharapkan bisa membantu memenuhi kebutuhan hidup hari- hari.
Dibangun selama 3 bulan. Mulai dari beberapa ratus ribu rupiah, sampai akhirnya rumah selesai mencapai 21 juta rupiah

Bersambung….

Standard
adventure, event, komunitas, olahraga, running, sport, trail running

Pojok Komunitas di Eiger Adventure Store Bandung

image

Halo- Halo Bandung!
Acara lari Kamis Malam di Eiger Adventure Store jalan Sumatra hanyalah salah- satu kegiatan yang di fasilitasi oleh teman2 di Eiger.  Sebagai persembahan untuk masyarakat kota Bandung atau kota lain yg kebetulan sedang di Bandung. Akan kegiatan yg sehat dan bermanfaat. Dan ramah lingkungan.
Tanpa syarat & kewajiban apa2.
Untuk lebih mengenalkan/ mengingatkan lagi kegiatan luar- ruang, tentunya tidak hanya untuk kegiatan lari- berlari. Semisal komunitas penyuka jalan santai, pesepeda, fotografi, blogger, pendaki, panjat tebing, canoeing, river boarding.
Terbuka bagi siapa saja, komunitas apa saja. Untuk tempat berkumpul, membuat acara. Atau sekedar silaturahmi dalam komunitas atau lintas komunitas. Atau bagi siapa saja yang ingin tahu, ingin  mengenal kegiatan2 luar- ruang.
Tak hanya di kamis malam, tapi dari senin sampai minggu, 365 hari dalam setahun.
Juga tak bertujuan menjadikan ini (Pojok Komunitas) sebagai satu2nya tempat, tetapi diharapkan akan lebih banyak lagi bermunculan ditempat- tempat lain.
Oleh, untuk dan bagi siapapun.
Disamping taman2 kota yang semakin banyak kita punya.
Yang penting Bandung lebih lagi beraktifitas luar- ruang. Bandung yang lebih sehat dan bermanfaat.
Salam 🙂

Standard
adventure, event, inspiration, motivation, olahraga, running, sport, story, trail running

Berlari Trel Membelah Pulau Jawa

image

Jauh dan ajrut2an.Perjalanan panjang yg mengesalkan dan melelahkan. Hanya untuk sampai penginapan. Berlanjut esok hari nya ke titik start. Treknya sendiri adalah berjalan dan berlari nyeker sepanjang puluhan km. Melalui aspal panas, tanah dan rumputan becek penuh duri dan ranting tajam. Sungai sedalam pinggang tanpa jembatan. Jikapun ada adalah berpijakan hanya bbrpa batang bambu yg sebagian sudah lapuk. Dengan pegangan yg sulit dari jangkauan.
Tentu saja pada akhirnya adalah pantai selatan yg indah memukau. Dengan deburan ombaknya yg tinggi dan membahana.
Menyempurnakan pengalaman ngetrel, membelah pulau jawa, yang indah yang pada akhirnya luar- biasa menyenangkan dan tak terlupakan.
Tapi, Jejak2 badak yg kami temukan menyadarkan kami akan perjuangan teman2 relawan di konservasi badak Ujungkulon.
Ribuan hari yg mereka dedikasikan untuk  Ujungkulon dan badaknya. Dikenal di dunia sebagai World Heritage Site.
Aksi2 kami menjadi seperti tidak ada apa2nya dibanding apa yang sudah sekian lama mereka lakukan. Dan berlanjut sampai saat ini.
Apa2 yg kami lakukan, yg entah kapan lagi dilakukan, adalah keseharian mereka. Dengan segala keterbatasan. Keterbatasan sarana. Keterbatasan dukungan dari pihak penyelenggara negeri ini.
Semangat teman2 Ujungkulon!

Standard
event, inspiration, motivation, mountain running, review, running, sport, story, trail running, ultra running, ultra trail running

CATATAN SEORANG NEWBIE TRAIL RUNNER DI BromoTenggerSemeru100Ultra oleh Ina Budiyarni

InaMaggie001InaMartinTju InaAnwarSurahman001InaDianNdaruPurwanti hak gambar ada pada Maggie Kim Hong Yeo, Martin Tju, Anwar Surahman & Dian Ndaru Purwanti.
Tak pernah terlintas dalam pikiran saya sebelumnya, saya akan menjadi finisher Bts100Ultra 50k dengan waktu 11 jam 12 menit. Di bawah Cut Off Time yang 12 jam.
Senang dan bangga bercampur jadi satu, karena saya bisa melawan ketakutan dalam diri saya.. Takut di hutan sendirian..
Seketika saya buka foto album ‘RUN’ dalam Facebook saya yang berisi foto-foto sebagian lelarian saya di tahun 2013 ini. Tahun 2012 saya baru sanggup lari 5k dan 10k dalam race, itupun seperti keong..
Tahun 2013 saya banyak bertemu dengan orang-orang hebat yang menginspirasi saya dalam lelarian. Juga kompor-kompor yang akhirnya membuat saya melakukan my 1st 21k Half Marathon di awal tahun 2013 dan my 1st 42k Full Marathon di tengah tahun 2013.
Tapi tidak dengan trail run.. Trail run pertama saya adalah 10k Tahura trail run. Setelah itu boro-boro mau ikut trail lagi. Yang ada di otak saya trail itu gear nya ribet dan menghabiskan banyak waktu. Karena harus seharian, dari pagi sampai sore.
Sebagai seorang single mother, yang terfikir adalah, lari di akhir minggu cukup hanya lari dijalan saja. Setelahnya lebih baik menghabiskan waktu dengan anak, yang adalah segalanya bagi saya.
Saya menghitung berapa banyak foto dan mengingat kronologi trail run saya, sebelum akhirnya nekat mengikuti BTS100Ultra 50k. Dan ternyata secara total baru 7x trail run yang saya ikuti sepanjang hidup saya. Untuk selanjutnya ikut BTS Ultra 50 dengan track yang gilaaa..
Di antara padatnya aktifitas saya berkantor, mengurus anak & aktifitas-aktifitas lainnya, di akhir minggu, di minggu-minggu trakhir menjelang race, saya luangkan waktu untuk latihan ngetrel. Dengan jarak puluhan km di Sentul bersama dengan teman-teman yang hebat..
Teman-teman saya yang bukan pelari menanyakan, ” Apa sih yang kamu cari dengan ikut race 50k naik turun gunung?’”.
Mungkin saat itu saya belum tahu pasti dan belum bisa menjawab atas pertanyaan itu. Yang saya tahu hanya, ada keinginan yang kuat sekali untuk turut serta di BTS Ultra 50.
Walaupun saya masih newbie trail runner, saya hanya berfikir jika orang lain bisa, mengapa saya tidak bisa? Jika orang lain berani, mengapa saya tidak berani? Jika juga orang lain nekat, mengapa juga saya tidak nekat?
Sudah banyak tempaan dalam hidup saya sebagai seorang single parent. Dan inilah saatnya tempaan di indahnya alam ciptaan Tuhan. Yang membuat saya merasa sangat kecil di dalamnya..
Dengan mendapat restu dari anak saya, berangkatlah saya menjadi salah satu orang ‘gila’ di BTS Ultra. Dengan bangganya anak saya bercerita ke setiap orang bahwa Bundanya akan berlari 50k naik turun gunung. Bahkan sampai juga bercerita kepada guru ngajinya.
Maka semakin semangatlah saya untuk berusaha sekuat tenaga agar bisa finish sebelum Cut Off Time.
Begitu berbedanya aura di Ranupane saat menjelang start ultra trail, dibandingkan dengan start road race. Walaupun jumlah pesertanya jauh lebih sedikit dibandingkan dengan peserta race jalanan, tapi serunya di start line mengalahkan start race-race saya sebelumnya.
Sebagai newbie trail runner sudah pasti larinya saya adalah alon-alon asal kelakon. Sambil menikmati pemandangan dan foto-foto sana sini yang tidak mungkin saya lewatkan. Berkat camera yang selalu ada dalam genggaman saya sepanjang lari 50k.
Ternyata apa yang tidak saya dapatkan di road race, saya dapatkan disini.. Pemandangan yang spektakuler sepanjang rute, yang buat saya serasa dalam mimpi. Karena selama ini hanya saya lihat di foto, gambar atau kalender.
Danau Ranukumbolo yang begitu mempesona dari jarak jauh dan dekat. Puncak Semeru dari kejauhan. Hamparan pasir berbisik Bromo. Kawah Bromo dan bukit-bukit pasir, yang masih melekat di ingatan saya sampai sekarang..
Capek, sudah pasti.. Ngos-ngosan apalagi.. Tapi indahnya alam membuat saya tidak terlalu merasakan gempornya betis & paha ini.
Tanjakan yang seperti tak berakhir di tanjakan cinta Ranukumbolo ( entah sampai sekarang saya tidak tahu mengapa dinamakan Tanjakan Cinta. jika saja Tanjakan Cinta nya sudah seperti begitu, akan seperti apa ya Tanjakan Putus Cinta nya ?). Ayek-ayek, jalur pipa, bukit pasir Bromo.. Ditambah sepanjang perjalanan, ingatan akan anak saya. Dan bahwa saya tidak mau mengecewakannya..
Serta keinginan akan membuat anak saya bangga mempunyai Bunda seorang Ultramom..
Tanjakan, turunan, dingin, panas, angin, gerimis, pasir, haus, letih, lelah.Semua silih berganti .. Tanjakan-tanjakan sadiis, turunan-turunan cadas, walaupun berat tapi entah mengapa begitu senang saya menjalaninya.. Gerutuan yang tak henti- henti, ” Gilak tanjakannya!”, tapi kaki ini tetap semangat melangkah. Bahkan saat mendapat tanjakan yang tidak lazim, sehingga harus merayap seperti layaknya spiderman. Dan turunan sumur tegak lurus yang membuat banyak peserta perosotan seperti layaknya anak kecil. Teman-teman peserta pun semua tampak seru dengan segala tingkah lakunya.. Walaupun capek tapi semua happy..
Saya baru merasakan ternyata beratnya lari Full Marathon 42km di jalanan tidak ada apa-apanya dibanding ultra trail run di BTS..
Fisik dan mental benar-benar diuji.. Fisik sudah pasti terkuras untuk lari naik turun gunung belasan jam, mental pun diuji berkali-kali ketika ada ojek & kuda lewat.. Beruntung saya tidak tergoda sedikitpun.
Yang membuat saya tergoda justru menjelang km 35. Saat bladder sudah habis, water station jemplang tidak jua tampak, dan jalanan yang walaupun aspal namun adalah tanjakan tiada akhir. Saat sepeda motor penjual ice cream lewat, yang langsung di serbu semua peserta. Ice cream terenak di dunia saat itu, hahaha..
Jam garmin sudah menunjukkan km 40. Yess tinggal 10km lagi, dan di depan mata adalah padang pasir Bromo. Yang sepertinya tidak terlalu sulit untuk mengakhiri race ini di km50.. Tapi ternyataaa.. surpriseeee… Ternyata finishnya di kanan atas sementara kami dibelokan ke kiri ke gundukan pasir naik turun tiada akhir.. Dan.. belum cukup sampai disitu, kami harus naik tangga ke bibir kawah untuk mengambil gelang kuning, kemudian turun lagi. Haha hebat sekali si pembuat rute.. 5 km terakhir yang amat sangat berkesan di hati dan di kaki..
Saya melihat ke garmin saya. Sudah hampir 11 jam saya berlari.. Artinya waktu saya tinggal 1 jam lagi untuk bisa finish di bawah Cut Off Time.. Akhirnya dengan sisa tenaga yang ada, lari lah saya.. Tetapi begitu sampai jalan aspal, hah ternyata lagi-lagi tanjakan. Berarti, jalan lagi. Begitu sampai di atas tanjakan, banyak orang-orang yang bilang ‘tinggal sedikit lagi mbak finish’.. Tanpa basa basi larilah saya dengan perasaan campur- aduk antara senang dan terharu..
Begitu tulisan FINISH tampak didepan saya, rasa harupun kembali tak terelakan. Saya tahan airmata yang hampir menetes. Karena ,” masa macho-macho pelari ultra mewek”.
Begitu saya menginjakkan kaki di finish line, kata ‘Alhamdulillah’ yang tiada habisnya terus terucap di hati saya.. Yeayy saya berhasil menjadi ULTRA RUNNER, finish my 1st Ultra trail 50k dengan waktu 11 jam 12 menit!!
What an amazing race, amazing route, amazing view, amazing people.. Thank you committee for a beautiful race & I will come back next year!!

Standard
adventure, event, mountain running, review, running, sport, story, trail running, ultra running, ultra trail running

I Did It! Bromo Tengger Semeru 100 Ultra 2013 by Maggie Kim hong Yeo

Maggie001 Maggie002 Maggie003 Maggie004 Maggie005 Maggie006It was meant to be. I was to run the 50 km after tossing and turning about whether I should run longer or not. Afterall, I have just completed a full marathon on the week before on 17 November 2013.Arrived at Surabaya 2 days earlier was great. Coz I for the first time a long time felt I am on holiday. And this trip is my birthday holiday. Met up with Chris Paul Kawinda who kindly checked me into a local hotel coz I arrived real late in the nite. Unfortunately, I had a fall and hurted my left knee after I had a shower on the slippery floor…The next day, we went off to Fitri Ismiyanti place where I stayed the nite at this wonderfully happy spirited lady, a very motiviated and enthusiatic runner. We had such wonderful time laughing eating and even went to meet up with some Indo Runners that evening.So the next morning off we went to Bromo in 2 MPVs and we arrive Lava View Hotel (this is the startline of 100km and 165 km events). Such a lovely view indeed as the hotel name said. Weather was great, cool and calm.Got my racepack, took heaps of photos and met so many other runners.

At 4 am, we were transported to Ranepane, where the startline of 50 km event.

At 5 am sharp, the race begin, and by then the sun has broken into this beautiful mountain. I decided to take off my headlight and put on my cap instead.

After running for about 5 km, my Garmin watch decided to die on me coz I must have accidentally press on the start button while it was in my luggage. Lesson learn, next time I must wear it on my wrist while on the way to race event. Also, I forgot to bring along the charger.

Anyhow I felt great with or without my garmin watch, coz my motive for this event is to graduate into being not just an ultra runner, but to be a real mountain trail ultra runner, so time is no essence…

Shortly after my garmin watch died, I managed to push myself through to lead the ladies pack.

From then on, I was happily running, power walking, through the forest, through the mountain slopes, indeed I was happy, so many has cheered me on. It was unbelievable how many called on to my name. I dont think I can remember all of them. Yet these callings brings such joy to me.

One of the runners, Stefan Knudsen from Denmark decided to tag along and we were happily moving on passing a great number of runners. Along the way, I am unable to remember all names, if you remember, please tag yourself here.

From Ranupane 2100 m down and up to Ranu Kombolo 2400 m W3 station where I decided not to refill anything. Just kept on going to Kalimati 2700 m and had my first drink up of my Fitliine Performance sachet and very quickly making my way to Ranu Kumbolo W4 station. Had a another quick drink of the Fitline Performance sachet and again quickly left the station of W3. These are all beautiful sub tropical not quite tropical, coz the weather is pretty cool, cant tell you the temperature unfortunately, but very comfortable feel and not sweating. Love the view and trees the climb.

Shortly after I arrive at km 25, I came to a junction with 3 ribbons, this was where I got lost. Both me and Stefan decided to turn left and after plodding for a while, we notice there was no more ribbons. Aaagh, we stopped, hesitated and decided to u-turn to get back to the original ribbon. By this time the sun was getting rather fierce.

We ran back unfortunate, we notice the ribbon did tell us to run to the left! And off we got back to the left again and ran all the way to the next junction and this was where we met Rizal Hakeem, we had a chat and told him we have already done this turn and if we run it again, we will be doing our second time on this loop. Nevertheless, there was no other choice but to do the loop one more time.

Then we got to the same junction again and then we turn right instead and then came to the ribbon where we had to go down the very steep hill… yes, here we had lotsa fun… I tried to run down with much difficulties. Finally after less than 5 minutes, I decided to sit on my butt and just let nature take its course… I slide down all the way while the rest of the runners were watching unbelievably at what I was doing. I bet they all did the same after that!!

So I managed to turn something rather dangerouss into something rather fun!! Reminded me of the times when I was liviing In New Zealand when in the summer we often take our flatten cardboxes and go down Mt Victoria at Devonport at the North Shore of Auckland with my kids.

By then I was of course actually hurrying coz I have lost a good 30 minutes too, thats why I decided to slide down… I had to catch up with lost time. Some of the runners have mentioned to me there were quite a few female runners who had passed. So my lead has vanished, alas..

Suddenly from the heat and the weakness, I had 2 energy bars and got back to being strong again. It is amazing to note here, when ones heart decided to get strong, the brain will just follow…

My journey at BTS, became stronger and stronger again….

At some stage here, Stefan who has been faithfully following right behind me deided that he had no more water in the Platypus and get left behind.

I on the other hand had started the next incline to Jempalang. Oh dear, what can I say, this never ending climb took forever.. km 30 just about towards km 35 are the hardest. Because in a marathon, km 35 we start to hit the wall. But I refused to let this never ending incline to give me the negative feeling. I took my Fitline Performance sachet again and kept on going.

Trust me, there were so many Ojek, motorbikers that shouted to to ask if I wanna a lift.. Haha, I have a running bib. No thanks. Along the way, also passed many other runners. So I know I was doing really well in this incline being able to pass others.

So passed W5A station 2400m. And then the down started, I rushed through these broken cement slabs, passing Hui Mathews and her husband along the way, I just ran as I did when I did the Bromo Marathon.. the feeling was great.

Then suddenly, the facade was to change…

The sand start to appear! Wow, the scenery was amazing, beautiful, but the soft sand will be yet another challenge. The savannah look and waves of the sand.. just unbeatable!

I ran along passing yet another lady runner and then I caught up with Handy Trisakti and told him I will try to tag along with him, coz I saw how he walked at an amazing pace. I shall try to keep as close to him as possible.

Coz here, I am starting to feel the lethargic of my legs. After some major running downhill. I was surprised by my own want of my heart. Indeed, I managed to keep up with him.

Shortly after, another set of beautifully made sand dunes started to show. Wow! That was in my mind. This is where I started to eat my Korma, dried dates and sip my drinks.

Beautiful and how am I going to conquer these never ending sand dunes, with the sand storms blowing very often. At some stage Handy had sand in his mouth!!! Full of them, he was complaining, by then I had my glasses on. But I decided I did not need the buff as I was too lazy to take it out from my bag and it will slow me down as well. But the glasses was really good, coz it protected my eyes…

Both of us kept going up and down and up and down those dunes. Soft as they were, beautiful as they were, if u are not careful, you will step wrongly and will roll down these tiny hills and then climbing up again will be a great bother!!

Finally we managed to catch up with another 2 more runners and we were in a pack of 4. We just kept on going and I and Handy managed to take over and got to the next station where I decided to take off my shoes unload the sand (not wearing the gaiter from the start was a great mistake, I should have but I did not). So finally, refill my drinks and had a cafeine gel coz I ran out of my Fitline Performance sachet.

As we started to move I saw Jane Djuarahadi, from the top yelling down as she moved off to complete her run. Both me and Handy went up the steps and down again. Hurrying down, and shortly after that I saw the girl in her hijap again, running infront of me. I was like, hmm where did she come from. I didnt see her passing me at all…

Nevertheless, she was just ahead of me by not much. Then we came to another incline. This is the final incline before we reach Lava View Hotel where the finish line is.

The finish was at 2240m..
The finish was exhilarating…
The finish was an accomplishment to me..
The finish graduated me into a true Mountain Trail Ultra runner…

Something I have been dreaming of since I DNF at Mt MOUNT RINJANI ULTRA!!

I did it! I did my 50 km in 10 hours 8 minutes…

Standard
adventure, event, inspiration, motivation, mountain running, sport, story, trail running

Mt. Salak Trail Run. Yuk Ngetrel, Go Trail, Go Outdoor

gotrail

     

Mengapa lari trel?
Seperti juga lari di lintasan, dijalan, atau di gym, tentunya banyak manfaat yang didapat. Rasanya tidak usah lagi saya sebut.
Plus…ya betul. Suasana, udara dan pemandangan yg berbeda dari hari2 yang biasa kita dapat.
Ngetrel bisa dilakukan siapapun. Kapanpun. Sejauh waktu, kesempatan dan cuaca memang memungkinkan.
Jika tidak ya usahakan untuk dimungkinkan. Ya kan?

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Ngetrel bukan juga hanya milik pelari trel elit. Seorang yang baru mulaipun sudah layak menyandang gelar pelari trel.

Sejauh bukan landasan keras, rata buatan, ya trel namanya. Bisa dipematang sawah, jalan setapak antar kampung. Atau kerindangan kebun tetangga dengan kontur naik- turunnya.

Apalagi tentu saja dikehijauan pebukitan, pegunungan. Bahkan pantai.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Bersukur sudah banyak yang mulai lari ngetrel di tanah- air.

Bahkan salah- satu teman komunitas lari lintas alam POLA86 di bandung sudah mulai sejak 1986. Setiap rabu sore. Sampai saat ini. Hebat ya?

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Acara lomba lari trelpun sudah beberapa kali diadakan.

Kedepan ini ada Bromo TenggerSemeru 100 Ultra dengan 3 kategori, 50k, 102k dan 165k.

Tahura trail race 17k  juga sudah didepan mata. Yang digagas teman2 Indonesia Biking Adventure.

Universal Trail Race, MesaStila Ultra, MesaStila Challenge dan banyak lagi. Dan tentunya Mt. Rinjani Ultra.

Bukan hal yg utopis jika tanah- air menjadi kiblat lari trel/ lari trel ultra dunia.

Semuanya tersedia. Mau trek, bukit, gunung yang seperti apa. Semua ada.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Beberapa teman2 lari trel kemarin- kemarin ini berlari trel di gunung Salak.

Salah- satu trek menarik. Juga buat pemula.

Jarak yang relatif pendek, trek yang juga aman tapi luar- biasa heboh.

Trek mulai dari Pasir Reungit sampai Kawah Ratu yang tidak begitu menanjak. Yang kurang- lebih hanya 5-6km.

Seperti biasa, hijau vegetasi khas lereng gunung.

Dengan sungai kecil disamping trek. Memotong dibeberapa tempat.

Dan Kawah Ratu yang memukau.

Kita bisa berlari diatas area kawah. Ada sungai lebar dengan airnya yang jernih. Luar- biasa.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Yuk, kami- kami sudah mulai. Anda kapan?
Sederhana koq, dengan mantra “berjalan saat menanjak, berlari saat menurun” siapapun bisa mulai, menambah jarak dan kecepatan sedikit demi sedikit.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Awal2 ratus meter, bukan hal mustahil dalam hitungan kurang dari setahun Anda sudah bisa lakukan lari trel ultra.

YukNgetrel, GoTrail, GoOutdoor

Salam,

Standard
event, motivation, running, sport, story

Proudly Asthma Runner by Gita Ayu Pratiwi

 

Image

Menjalani hobi berlari sungguh tidak pernah terlintas di benak saya dulu, maksud saya sebelum 3 bulan lalu. Saat itu saya baru melahirkan dengan parut luka caesar di perut. Bayi saya usia 3 bulan dan masih kuat-kuatnya menyusu asi. Mau jogging cepat sedikit saja, rasanya ngeri sekali. Takut jaitan lepas, kata saya. Tapi sejatinya, jogging justru membantu luka caesar saya cepat pulih dan kondisi rahim kembali sehat pelan-pelan. Ya, apa sih pengaruh buruk olahraga? Sepertinya tidak ada.

Hari-hari jogging saya ternyata berbarengan dengan kesukaan baru suami. Bukan gadget, bukan pertandingan bola. Entah darimana asalnya, tiba-tiba suami saya jadi sangat hobi sekali berlari. Saya pikir ini hanya euphoria semata. Seperti hobi-hobi kagetan dia sebelumnya, sebentar datang sebentar pergi. Ya karena sayang suami, saya dukunglah hobi berlarinya ini. Maka melangkahlah kami bersama tiap ada waktu luang. Saya diseret-seret untuk menapaki jarak 2 kilometer minimalnya sehari. Akhirnya saya sendiri yang kecanduan. Tidak perlu ada dia, 2 kilo saya kunyah sendiri. Tentu saja dengan kaki saya. Hehe…

Berlari yang awalnya saya lakukan hanya di selingkaran rumah, akhirnya meluas ke lomba-lomba lari. Agak nekad memang. Karena saya biasanya cuma lari 2 km, sementara lomba-lomba lari memasang target 5 km sebagai batas minimal. Perlu diketahui, saya ini mengidap asma akut. Dan saya juga seorang yang penakut. Artinya, mau apa-apa minder. Belum ikut lomba aja galaunya udah nggak juntrung. Tapi partner saya memang lebih “sakit” sih daripada saya. Saya belum kasih jawaban bersedia ikut atau tidak, suami saya malah sudah daftar. Dan pulang-pulang dia sudah bawa race pack untuk 2 orang. Nah kan, saya diseret-seret kan?

Lomba pertama kami adalah lomba gratisan dari Istana Negara, acara 17-an. 8 km target jarak yang ditentukan. Beberapa hari sebelumnya kami berlatih, semacam gladi resik. Hebatnya, saya kuat berlari 10 km dengan interval di komplek kampus Universitas Indonesia-Depok, seminggu sebelum hari H. Tugas terberat suami saya seminggu terakhir itu adalah memdorong saya supaya tetap mau ikut lomba itu. Bukan untuk menjadi pemenang, katanya, tapi untuk membuktikan bahwa kita bisa. Yaah, betapapun saya menolak, tetap saja dia bawa saya ke lomba itu.

Mau tak mau, larilah juga kaki saya ini. Dimulai dengan start yang berduyun-duyun dengan ratusan orang lainnya. Konon, acara lari gratisan ini diikuti oleh 45.000 peserta dari segala macam kalangan. Lebih mirip seperti “jalan sehat” perasaan saya saat itu. Karena saya juga tidak diliputi perasaan berkompetisi. Langkah saya baik-baik saja, hanya nafas yang kadang tersengal.

Track Istana-Sudirman-Monas akhirnya berhasil kami selesaikan dengan tenang dan damai. Tidak ada medali, karena medali hanya untuk 1000 finisher pertama. Jelas, kapasitas speed saya masih belum mumpuni untuk sebuah lomba lari 8 km. Tapi tidak apa, saya cukup senang. Masih ada pisang gratis dan air putih, loh bukan, maksudnya saya bangga karena saya berhasil finish hari itu. Paling tidak saya tidak berhenti di tengah jalan dan minta pulang.

Di depan mata sudah terpampang jadwal lomba lari selanjutnya. Tertulislah King Of The Road 2013. King Of The Road adalah kejuaraan lari yang diadakan di Asia Tenggara. Diselenggarakan di 5 negara yaitu Thailand, Singapore, Indonesia, Phillipines, dan Malaysia. Tracknya dijalankan di area kota. Di Indonesia diadakan di pemukiman elit BSD, Tangerang, Banten.

Galau saya kambuh. Stres datang. Saya sampai masuk Rumah Sakit karena anxiety saya. Bukan, bukan karena takut tidak jadi juara King Of The Road (KOTR). Tapi karena keluarga saya ditimpa masalah yang membuat saya shock dan trauma berat. Untuk hal ini, saya menggantungkan kejiwaan saya pada obat penenang resep dokter. Saya sempat maju mundur tentang KOTR. Padahal tenggat waktunya tidak sampai sebulan. Saya merasa hati saya belum sembuh, dan bagaimana mungkin saya bisa lari kalau hati saya masih berdarah-darah.

2 minggu menuju KOTR dan saya tidak ada persiapan matang. Saya makin sering diserang asma. Insomnia, anxiety masih menghantui. Race pack sudah tiba. Tapi boleh percaya atau tidak, dengan hanya melihat race pack saja, hati saya membungah pelan-pelan. Saya penasaran lagi sama yang namanya lari. Lagipula kaki yang saya pakai lari sama sekali tidak ada hubungannya dengan hati, pikir saya. Ya nanti kalau mau galau lagi setelah lari, bolehlah. Tapi larilah dulu! Ini event besar, nikmatilah! Begitu suara dalam diri saya.

Mas Suami juga tak henti menyemangati. Katanya momen berlari ini adalah untuk mengukuhkan kemesraan kembali dengan istrinya, yang tak lain adalah saya. Gombal sih, tapi ya sudahlah. Saya tak ada daya upaya ketika Minggu, 29 Sptember 2013 pukul 4.45 dini hari itu kami bergerak menuju BSD, menjawab tantangan KOTR.

Kami tiba di kawasan parkir 1 menit sebelum mulai. Dan baru kami sadari tempat kami parkir berjarak kurang lebih 1 km dari start line. Tergopoh-gopohlah kami demi melihat peserta-peserta lain sudah berlarian. Asma saya mulai mengganggu. Badan saya seperti kaget. Tidak stretching, tidak pemanasan. Tapi hasrat, ternyata masih menyala-nyala.

Sepertinya kami mulai 5 menit lebih lambat dari waktu yang ditentukan. Begitu melewati garis start, pertarungan saya dengan diri saya sendiri dimulai. Semua anxiety saya hilang entah kemana. Kilo per kilo, saya lebih banyak berlari dengan menatap aspal. Saya merasa memasuki diri saya lebih dalam, saya merasakan banyak hal. Entah apa. Galau itu hilang semua. Tapi serangan asma, seperti sejuta kali memukul dada saya. Untung saja senjata inhaler saya masih ampuh melawan.

Interval lari dengan perbandingan 1:1, yaitu 1 menit berlari non stop kemudian 1 menit berjalan, sering kali saya langgar. Menuju 5 km saya mulai payah. Saya bisikkan semua kata-kata sakti untuk mendorong diri saya maju lagi. Tawaran berhenti sudah keluar beberapa kali dari mulut suami. Tapi, saya tidak datang sejauh ini untuk berhenti dan selesai tanpa usai.

Di sekeliling saya, banyak juga yang sedang kepayahan. Macam-macam cara mereka memotivasi diri. Ada yang nyanyi sambil teriak-teriak, ada yang lari dengan langkah kecil tapi “nyeruntul” terus alias tidak berhenti, ada juga yang berhenti sesekali untuk memijit kakinya. Banyak lagi. Saya sudah seharusnya tidak egois dan menyerah begitu saja. Bukan hanya saya yang sedang diuji kekuatannya. Setiap orang punya masalah masing-masing dan belum tentu masalah mereka tidak lebih berat daripada saya. Begitu juga kehidupan ini.

Setelah titik 8 km, saya mulai deg-degan sendiri. Dagdigdug karena saya hampir tidak kenal diri saya lagi. Saya sudah lari 8 km! Siapa tuh?! Saya? Haha! Yap, saya tidak datang untuk menjadi peserta yang disebut-sebut berhenti di jalan karena menyerah. Saya tidak datang untuk menjadi peserta yang diantar pulang dengan ambulans karena asmanya parah. Saya datang untuk memenangkan diri saya dari asma dan sesak saya. Saya mau dikenal sebagai peserta yang berhasil masuk garis finish meskipun asma. Dan meskipun saya punya segudang galau dan gundah.

Maka saya tidak berhenti sama sekali. Saya tidak mengizinkan kaki saya untuk berhenti melangkah. Walaupun itu langkah lelah, tapi saya pastikan saya tidak kalah. Menatap lagi ke bawah, melihat lebih jauh lagi ke dalam diri saya. Ya, saya memang berlari untuk melarikan diri saya. Tapi semata bukan untuk pergi. Tapi untuk menguatkan kaki-kaki saya lagi, menguatkan diri saya lagi, dan kemudian mengembalikan kepercayaan diri saya untuk kembali. Bahwa saya bisa, saya mampu.

1 km terakhir, medan menjadi terasa amat berat karena pergelangan kaki mulai teriak minta tolong. Belum, belum saatnya berhenti, bisik saya. Gapura finish sudah terlihat. Ini yang saya cari dari tadi. Pendekatan 10 km hanya untuk melihat si gapura cantik ini. Berlari 10 km hanya untuk menembus garis finish yang manis ini.

Lari saya tak henti. Saya genjot kaki saya yang perih. Ada tangis dalam hati. Tangis bahagia. Tangis bersyukur yang air matapun enggan tumpah. Mata saya terpejam. Tak sanggup saya lihat sekeliling. Ini adalah momen saya, yang saya tak mampu beli dimanapun, tak tergantikan oleh apapun.

Tiba-tiba sebuah tangan meraih jemari tangan saya. Dia, Mas Suami. Yang darinya berasal rasa senang sekaligus sakit. Dialah guru besar saya. Yang menjatuhkan saya, kemudian membangkitkan saya kembali. Bersamanya saya lewati garis finish. Saya, dengan asma saya, alhamdulillah berhasil melewati garis finish setelah berlari 10 km. Sungguh, tak terperi.

Medali melingkar di leher. Bangga sekali. Saya pulang dengan senyum yang tak henti mengembang. Tersipu-sipu pada diri saya sendiri. Malu rasanya, selama ini mengeluh. Malu rasanya, selama ini selalu bilang “Nggak mungkin.”  Lebih malu lagi waktu Mas Suami menunjukkan hasil record time kami yang dikirimkan panitia KOTR via email. Saya ada di peringkat 1003 dengan catatan waktu 1 jam 40 menit.

Saya mungkin bukan juara KOTR. Ya, saya tidak naik podium. Saya juga tidak tergabung dengan club lari manapun. Saya berlari bukan untuk mengalahkan siapapun. Ada musuh yang lebih besar dalam diri saya. Asma dan anxiety. Dan selama nafas ini masih menempel di jiwa raga, saya tidak akan berhenti.

Image

Gita Ayu Pratiwi

Standard

Eigers 2nd Test W120

adventure, event, mountain running, running, sport, trail running, ultra running, ultra trail running

A dream you dream alone is only a dream. A dream you dream together is reality John Lennon

bts100ultrablog

The world has 7 summits. We already have 7 summits of indonesia.
Cartenz Pyramid, the highest top of papua island.
Mt. Binaiya, the highest top of maluku.
Rantemario in Latimojong, the highest top of Sulawesi.
Mt. Bukit Raya, the highest top of Kalimantan.
Rinjani, the highest top of Nusa Tenggara & Bali island.
Mahameru, the highest top of jawa.
Indrapura, mt. Kerinci, the highest top of Sumatra.

Mt. Rinjani Ultra, Indonesian sports event the Mount Rinjani Ultra Race is set to start on August 17, featuring two running categories: The 52km & 21km race) has just been qualified for 2 points for UTMB ( Mountain race, with numerous passages in high altitude (>2500m), in difficult weather conditions (night, wind, cold, rain or snow), that needs a very good training, adapted equipment and a real capacity of personal autonomy). Bromo Tengger Semeru 100 Ultra will be on 22-24th of November 2013.
Hopefully the next series will get the other 5 tops of indonesia.

A dream you dream alone is only a dream. A dream you dream together is reality – John Lennon

Standard