berbagi, fit, healthy, tulisan

Usia 60an..

Apa ya, yg mungkin diharapkan atau tak diharapkan terjadi di usia 60an?

Yang tak sekedar kacamata baca, kerut- kerut dan keriput? Atau aroma balsam/ obat gosok yang tercium lebih kuat dari parfum?😊.

Kulit yang semakin rapuh.

Tanda2 penuaan yg semakin banyak.

Kemampuan daya ingat menurun. Reflek melambat. Metabolisme pun sama.

Penuaan, apalagi jika tak dibarengi dengan gaya hidup aktif, mengarah diantaranya  ke keluhan sendi- sendi, otot yang melemah dan banyak lagi lainnya.

Melawan penuaan? Jelas bukan dan tak mungkin.

Memperlambatnya? Rasanya ya.

Jikapun menua paling tidak dengan gaya😊.

Menjaga pola dan gaya hidup aktif serta sehat bisa jadi jawabannya.

Berat badan ideal yang terjaga atau paling tidak  mendekati ideal.

Terlatih dengan strengt training dan angkat beban membuat tulang- tulang kuat dan padat. Ototpun terlihat.

Semua membuat penyakit- penyakitpun tak tergesa mendekat. Syukur- syukur tak pernah menjadi sahabat.
Banyak kita lihat, di usia bahkan jauh diatas 60an penamat lari marathon dengan waktu yang fantastis. Penamat triathlonpun tak kurang- kurang.
Tak mesti seperti yang saya sebut diatas, walaupun jika mau kita bisa.

Sekedar 2- 3km lari 4-5 kali seminggu. 

Dengan pace yang diusahakan baik, bersepeda atau renang, sesering yang kita bisa, sadar maximal detak jantung sendiri( Max. Heart Rate) menjaga detak jantung terendahnya ( Resting Heart Rate)serendah mungkin, dan sekali- sekali memacu detak jantung ke mendekati maksimalnya, rasa- rasanya bisa membuat semburan darah sang jantung tua ini tak jauh- jauh amat dengan jantung- jantung muda😊

Salam..

Advertisements
Standard
garmin, gear, healthy, Uncategorized

Be Smart Like a Vivo

Walau kita semua tahu manfaat olah- tubuh dan asupan yang benar, kenyataannya banyak dari kita yang terkadang atau jangan- jangan malah selalunya ‘menyengajakan menjadi tak tahu’.

Biasanya saat cuaca mendung, situasi dan kondisi lain yang tak mendukung. Terkadang juga saat sedang bingung atau pundung, ups..

Saya tak harus berpanjang- panjang soal diatas.

Yuk kita berganti tema ke ‘apa- apa’ yang bisa membuat kita berharap bisa’ kembali’ ke kebiasaan yang baik diatas.

‘Apa- apa’ yang bisa jadi menambah semangat untuk itu.

Salah- satu dari sekian banyaknya adalah gearnya.

 

Dan yang saya maksud adalah Vivosmart.
Sudah banyak teman- teman amin( anak garmin) yang pernah mengulasnya. Informatif sekali.

Jadi tulisan saya sekedar mengulang saja. Versi saya 😉

Berdesain cantik, hightech, mungil dan keren, dengan dua ukuran untuk ukuran pergelangan yang berbeda, Vivosmart bisa jadi salah- satu investasi yang smart kearah pola hidup sehat 😉

vivosmart03

Fitness tracker dan smartwatch sekaligus. Tahan keringat, hujan, dipakai saat renang, bahkan mandi dibawah shower sekalipun.

 

Dengan getaran atau tampilan OLEDnya( cukup dengan TAP dan SWIPE), tergantung bagaimana settingnya, mengingatkan saat kita terlalu lama ‘diam’ tak bergerak/ beraktifitas.

Membaca berapa langkah kaki yang sudah diilakukan, jarak  dan kalori yang dibakar.

Koneksi bluetooth dan ant+nya memungkinkan kita membaca data kecepatan bersepeda( dengan tambahan bike sensor), play/ pause, geser playlist di smartphone, notifikasi call/ sms/ email yang masuk/ sinkronisasi/ unggah data ke smartphone, start/ stop foto/ video di garmin virb. secara nirkabel membaca detak jantung( tambahan HRM yang dipasang didada).

Dan pastinya banyak lagi.

vivosmartwearasiandotcom

 

 

vivosmart01

VivoCapturejpg

 

Sinkronisasi ke desktop via kabel usb, sekaligus pengisian batterynya( yang hanya perlu seminggu sekali), atau smartphone via bluetoothnya.

untuk analisa dan berbagi data sesama pengguna secara online serta bergabung di berbagai tantangan yang menarik.

Lebih lengkapnya sila klik disini

Keep Moving!

Bersambung…

 

 

 

 

Standard
berbagi, fit, healthy, running, sehat, sport, trail running, tulisan, ultra running, ultra trail running

I’m Saving My Life

image

Satu tahun kemudian lari2 setiap hari masih sebagai therapi asma saya.
Artinya jika dijalankan Alhamdullillah asma tak menyapa.
Asthma controller pun bisa dikesampingkan.
Sebaliknya, jika tak dilakukan rutin, seperti yg saya coba belakangan ini, dgn niat agar tak terlalu bergantung pada lari- berlari, Alhamdullillah ketemu lagi:)
Dan asthma controllerpun ambil alih kendali.
Tak ketinggalan sang inhaler urun rembug untuk setiap serangan yg ‘berhasil’ lolos dari sang asthma controller.
Serangan yang lumayan menguras tenaga. Serangan yang meluluh- lantakan pertahanan diri.
Saluran nafas yg menyempit, menyesakkan dada, amat sangat dekat pada  cekikan yang mematikan.
Seringkali membuat saya heran dan takjub; anak- anak pengidap asma. Bagaimana usia- usia kanak- kanak mengatasinya, jika se usia ‘dewasa’ saya saja sudah dibuat repot.
Sedikit berbeda , dan harus saya syukuri, jika tak dikatakan ‘kemajuan’ adalah, sekarang saya bisa kurangi porsi larinya ke separuhnya. Jadi dari yang selalunya 10k, menjadi 5k setiap hari. Alhamdullillah.
Artinya saya tak terlalu tergantung sekali dgn angka 10k.
Tak berarti saya tak suka banyak- banyak lari.
Sebaliknya malah.
Saya sukaaa sekali lari. Saya jatuh cinta kepada lari.
Lari, olah tubuh, aktifitas luar ruang, yg, pada dasarnya mengandalkan hanya badan/ tubuh kita saja.
Keren.
Lari.
Saat saat saya merasa ‘peduli’ dengan jiwa dan raga saya. Saat saat saya pribadi. Me time.
Saat saat saya menemukan ilham, ide, inspirasi. Hal- hal yang mencerahkan.
Saya rindu akan lari- lari jauh saya. Sendiri atau bersama yang lain.
Belasan k, half atau bahkan fullmarathon.
Apalagi lari- lari ultra.
Spontan lari keluar kota. Lari- lari muncak gunung. Atau membelah pulau, dari pantai diujung yang satu, ke pantai diujung seberangnya.
Jadi saya beruntung sekali. Jika memang lari adalah therapi asma saya, maka dengan amat sangat senang sekali saya lakukannya.
Rupanya ada hal lain yang harus saya pelajari.
Belajar untuk tetap terhindar dari kambuhnya asma tanpa terlalu bergantung kepada lari- berlari.
Jadi jika pun toh saya lakukan lari- berlari saya, memang karena menjaga sehat dan suka saya.
Bukan karena hanya menghindari kambuhnya asma.
Semoga saya dimudahkan untuk mencoba tetap bisa berlari, sampai tak mungkin lagi.
Aamiin.
Salam:)

Standard

image

bakti sosial, berbagi, biking, cerita, cycling, fit, healthy, inspiration, komunitas, motivation, olahraga, renungan, running, sehat, sepeda, sketchup, sport, story, transportasi

Peduli Atas Bumi Yang Hanya Satu Ini

Image

image

biking, cycling, fit, healthy, olahraga, sehat, sepeda, sport, tulisan

GoWest!

Image
fit, healthy, sehat, sport, transportasi

Saya Dan Sepeda

Gowes

Selain berlari,sudah lama saya menyukai sepeda. Bahkan jauh sebelum suka lari.

Sejak usia kuliah, sepeda tak hanya saya sukai tapi bagi saya koq tampil smart ya. Keren sudah pasti.

Terkesan ‘melek’  lingkungan. Dan ‘melek’ kesehatan.

Saat smp adalah saat saya gunakan sepeda sebagai transportasi. Rumah- sekolah, rumah- sekolah.

Sma sudah tidak lagi.

Kuliah kembali saya bersepeda. Mobil sendiri? Saya sengaja tak buat sim agar saya tak tergoda untuk membelinya. Yang termurah, terbutut sekalipun.

Beruntung, ternyata memang uang sayapun tak pernah cukup untuk itu 😛 .

7, ya tujuh buah sepeda pernah saya miliki ditahun- tahun awal kuliah.

Tunggu dulu, tujuh sepeda saya ini bukan sepeda- sepeda kinclong berharga setara belas, puluh juta sekarang.

Tapi setara seratus- duaratus ribu rupiah masa kini.

Itupun bukan beli tapi hasil memulung di beberapa tempat buangan barang- barang rumah- tangga.

Harga barunya tak lebih dari 1 jutaan nilai sekarang.

Sepeda- sepeda biasa.

Saya sampai punya daftar jadwal ‘buangan’ area/ lokasi mana saja sekota  tempat saya tinggal.

Tak sombong sayapun suka ‘membuang’.

Bedanya, seringkali buangan mereka- mereka rusaknya tak banyak. . Oprek- oprek sedikit, kembali lagi berfungsi.

Sementara buangan saya, lebih banyak rusaknya daripada masih baiknya.

Terkadang dalam hitungan belas menit,barang buangan tetangga  sebelah. ya persis sebelah saya sudah menjadi penghuni baru rumah sewaan saya.

Sedikit ganti kabel rem atau sambung rantai yang putus sepeda- sepeda banyak tadi sudah siap saya jual ke teman- teman kuliah atau tetangga seharga senilai tadi. Apalagi jika mau sedikit repot, semprot warna- warna pastel atau mat, setara 50an ribu rupiah lagi siap saya  kantongi.

Bernilai ekonomis dan menghibur 😉

Setelah dengan tak terlalu serius  tahunan menabung saya berhasil memiliki sepeda idaman. Walau belum seutuhnya. Maksudnya memiliki sebagian dari sepeda idaman saya. Framenya saja. Asli buatan Itali. Dengan ukuran yang sesuai dengan tinggi badan, selangkangan, jangkauan tangan dan ukuran- ukuran lainnya saya.

Road bike. Berwarna merah. Merah sekali. Dengan Seat Tube( batangan vertical persis dibawah sadel) yang tergunting, karena jarak roda( kelak jika sudah bertambah lagi pangkatnya) yang lebih dekat. Peruntukan Time Trial. Triathlon. Kereen.

Lamunan saya naik pangkat. Dari yang semula hanya pandangan yang berulang- ulang pada katalog, kini pada sebuah sep eh frame. Frame sepeda yang sebenarnya.

Frame yang bisa saya sentuh. Bahkan dibawa tidur.

Tak lagi saya harus menanggung malu karena keseringan melihat- melihat tanpa beli.

Beruntung penjaga- penjaga toko sepedanya ramah( atau mungkin kasihan kepada saya?).

Beruntung juga mereka tak kenal ungkapan dari trayek angkot di Bandung,  ” Sukajadi – Kiaracondong, liat- liat dari tadi, beli dong!”

Lebih ramah lagi tentunya setelah akhirnya ada sesuatu yang saya beli.

Saya yakin mereka bernafas lega. Akhirnyaaaa

Cukup lama sampai terbeli lagi bagian- bagian  lainnya. Groupset. Shimano 105 adalah juga groupset idaman saya.

Hub depan belakang( as roda), jari- jari, rim(velg), ban, sadel, stang dan bagian- bagian kecil lainnya pun menyusul.

Alhamdullillah.

Semua saya beli di toko sepeda yang sama, tempat saya melihat- lihat dalam keabadian. Tempat dimana saya akhirnya membeli bagian pertama sepeda idaman saya.

Tak selalu lebih murah dari toko- toko lain. Tapi tak etis melihat- lihatnya disini, belinya koq disana. Ya kan?

Setiap hari, dari berangkat pagi sampai pulang sore. Terkadang malam. Tak terputus saya bersepeda.

Tak tercampur dengan transportasi lain. Kecuali darurat, yang sepeda bisa saya masukan kedalamnya.

Banyak tahun berselang. Bersepeda lagi saat saya banyak di Bsd dan Bintaro. Relatif dekat. Beberapa bulan.

dari pagi puku;l 9 sampai menjelang magrib.

Sepeda pinjaman.

Bsd- Karawang adalah pengalaman bersepeda terjauh saya.

Sudah lama sekali.

Beberapa hari belakangan  saya agak menginginkan bersepeda. Bukan sepedanya, tapi sebagai pengganti transportasi saya sehari- hari.

Selama ini saya nyaman- nyaman saya berangkot. Kecuali jika ada yang merokok, dan jika terburu- buru, macet- macet kotanya.

Jadi kali ini disamping penyebab pertamanya adalah sebagai transportasi hari- hari, bukan hanya digunakan diakhir minggu. Sebenarnya dari senin sampai jumat. Dan bisa jadi sabtu dan minggu juga.

Ada satu hal lagi.

Yang sudah- sudah seperti juga barangkali Anda, saya suka segala yang serba baik, indah, keren. Dan biasanya mahal.

Kali ini ada tantangan yang lebih menggoda.

Jika ya saya putuskan untuk punya sepeda. Maka akan bermerk lokal, semurah mungkin, standar, tak akan saya ganti atau tambah apa- apa kecuali karena rusak atau yang memang harus. Semisal helm, lampu jika belum ada. Pedal tetap akan saya pakai yang bukan clet misalnya. Sepatupun demikian. Harus bisa hanya pakai sepatu lari saya.

Bahkan kostum sepedanyapun akan saya pakai kostum lari saya 😛

Pucuk Dicinta Sepeda Nyamperin.

Tak mimpi tak berfirasat, tiba- tiba ada yang menawari saya untuk memakai sepeda.

Road bike, Lokal. murah, standar.

Koq ya klop semua ya.

Alhamdullillah( lagi).

Jadi…yuk gowes….

Tak hanya diakhir pekan, tapi juga sebagai pengganti sebagian transportasi. Jika mungkin setiap hari.

Terimakasih tak terhingga kepada yang memakaikan saya  sepeda 🙂

Bandung, Maret 2015.

Standard