inspiration

Jeri Chua Yang Saya Ingat.

Trans Singapore Ultra.

2011 atau 2012 ya. Duh lupa.

Dan jika tak lupa juga adalah acara lari ultra ratusan km pertama Singapore. Walau berjarak 320km tapi jauh dari kesan gegap- gempita acara2 lari ultra jaman now 😀
Tak berhadiah, sponsorpun tak jelas.

Di inisiasi oleh pelari2 lokal Singapore yg sudah pasti pelari2 jauh, pesertanya hanya belasan.

walau Singapore dekat, tak sampai 3 jam penerbangan dari Jakarta tetaplah keluar.

Harus dengan pesawat. Harus tinggal berhari- hari.

Masih terngiang kalimat sang sahabat.

Continue reading

Advertisements
Standard
inspiration

Alon- Alon Asal ke Boston

image

Suatu ketika, di Bandung, awal- awal 2010.

Terengah- engah, menapaki trek disisi timur Taman Hutan Raya. Di utara Bandung.
Entah seperti apa gaya pelari  pemula yang lain. Saya? Menahan tak menurunkan kecepatan saat papasan  dengan pengunjung- pengunjung taman, yang hampir semua berjalan kaki. Dan.. seketika melambat begitu sudah diluar pandangan mereka, jika tak dikatakan berhenti. Hah heh hoh  😉
Sang teman tak juga membalas sms saya.
Kesal campur  senang. Kesal yang membuat bingung.
Sekian jauhkah saya tertinggal?
Senang, seperti yang diingatkan kembali, lari- lari di kehijauan luar- biasa sekali.
Nyaris sampai Maribaya sms sang temanpun muncul.
” waks sorry Ki, meeting lom beres”.
“?”.
Hadeuh.
Hari- hari setelahnya suka- suka saya berlari di kehijauan semakin menjadi- jadi.
Lari- lari saya yang semula adalah keliling lapang bola dikomplek, kemudian dijalan- jalan keliling komplek, sempat dua bulan di gym( jika hujan), setelahnya  ternyata berlari dijalan- jalan kota  jauh lebih menarik dan mengasyikan.
Dan puncaknya adalah lari start Jayagiri kepuncak  Tangkubanparahu. Sedikit menurun kearah bibir kawah Ratu. Dan kembali ke Jayagiri.
Sendiri dan seringkali.
Memang terlambat sekali saya sadari. Tapi, tak sedikitpun disesali.
Jika saja ada yang pantas disebut keberhasilan dalam hidup, bagi saya barangkali adalah, maaf, semoga tak terkesan melebihkan, berat dan bentuk badan yang sejak menikah 36 tahun lalu terjaga; yang semula selama lebih dari dua puluhan tahun perokok berat( dua bungkus tanpa filter plus tembakau lintingan 50 gram yang habis dalam dua hari),  di  1995 berhenti seketika, tanpa harus itu- ini; dan.. akhirnya, setelah puluhan tahun berhasil bisa berlari 😉
Ups, niatnya bukan tulisan mengenai saya, tapi tentang sang teman yang karena meetingnya yang tak selesai- selesai, mengesalkan tapi bersyukur membuat saya semakin jatuh- cinta akan lari.
Sang teman yang menginspirasi.
Sang teman yang punya andil  besar dalam hal ‘keberhasilan’ saya terakhir tadi.
Sang teman yang entah dikesempatan mana pernah berseloroh, ” Alon- Alon Asal ke Boston”.
Dan ternyata selorohnya menjadi kenyataan.
Dengan waktu lebih cepat dari 3 jam 10 menit 58 detik untuk full marathonnya, 42,195km, sang teman mendapat kualifikasi keikut- sertaannya di Boston Marathon 2015. 19 april mendatang ini.
Ajang lomba lari marathon bergengsi dunia.
Selamat Bang Muara Robin Sianturi.

Doa saya, semoga yang terbaik.
Terimakasih telah menginspirasi.

Bandung, Maret 2015.

Standard
adventure, event, inspiration

Percuma Teriak- Teriak Di Sosmed Juga, Ga Kan Didengerin..

6633

courtesy of wwwdot6633ultradotcom

8 manusia- manusia gilak, penamat lari dikutub utara. Sejauh 533km. Dengan batas waktu 191 jam.

salah- satunya adalah Hendra Wijaya, Indonesia. Kedua dari kanan..

Pagi ini ada yg sms saya, berbaik- hati menawarkan diri, membantu, agar keikut- sertaan kita di lomba2 ultra dunia bisa dibantu/ dibiayai  pemerintah( kemenpora).
Kata beliau( yang juga mengaku punya kedekatan dengan siapa2 dipemerintahan), percuma buang ongkos mahal2, teriak2 di sosmed, ga kan didengerin pemerintah.
Saya balas pendek saja.
Kami lakukan ini semua, sebagian yg turut serta diberbagai kejuaraan dluar- negeri, berlari- lari mulai sendiri, beberapa sekedar suka2, sampai di lomba2 tanah- air, justru karena memang sudah tak didengar, jadi ya kami lakukan semampu- mampu kami, memajukan dunia lari trel tanah- air.
Lebih baik ngesot perlahan tapi pasti dengan kemampuan kami apa adanya, daripada mungkin saja wus wus wus tapi harus mengemis- ngemis, merengek- rengek minta diongkosin/ dibantu.
Beruntung orang luar malah yang lebih punya perhatian.( Eh ternyata panjang deng balasan saya 😛 )

Tambahan dari saya. Aneh ya, jaman segala informasi bisa didapat dengan sekedar sentuhan jari, pemerintah koq ya seperti kesulitan menemukan potensi yg ada. Tak usah bicara ‘ menciptakan’.

Saya tak sedang mendewakan siapapun teman2 saya atau mengagungkan Lari Trel Tanah- air.
Tapi tak bisa saya pungkiri, mereka ini luar- biasa.
Demi majunya lari- trel, yang satu tak sungkan2 menghabiskan biaya dan waktu yang tak sedikit.
Lainnya lagi berlatih giat, mengadakan lomba sampai patungan untuk bisa turut ambil bagian di lomba2 tanah- air maupun mancanegara.
Beberapa lomba sudah diakui dunia. Beberapa pelari sudah  juga menjadi penamat, bersanding dengan penamat-2 luar- negeri.
Dua tahun lalu ‘sulit’ mendapatkan peserta. Kini, rasanya ‘tak mudah’ atur lomba mana yg akan diadakan atau diikuti.
Padahal lari- trel tanah air belumlah seusia kebanyakan negara2 lain.

Luar- biasa pertama.

Alam indonesia yang luar- biasa.
Lari trel bisa dilakukan dimana saja.  Lari trel tak mesti lari gunung. Di pantai. Bahkan dikebun tetangga 🙂
Begitu pijakan bukan lagi aspal atau sejenis, ya sudah lari trel namanya.
Kenyataan bahwa kita punya gunung yg banyak sekali , menjadikan lari trel tak jauh2 dari gunung. Paling tidak lerengnya.
Negara tetangga, saking sedikitnya punya gunung, bukitpun disebut gunung.
Nah kita, saking banyak gunung, gunungpun sering disebut bukit.

Luar- biasa yang kedua.
Juga bisa dilakukan siapa saja. Penduduknya yang super banyak. Cukup 1% saja yang melakukan, se asia tengggara habis diborong.

Luar- biasa yang ketiga.
Kapan saja. 365 hari dalam setahun, tak terputus musim ini itu.

Artinya potensi luar- biasa kita, bisa berkiprah dikancah dunia.
Sudah pasti menjadi daya tarik wisata mancanegara.

Gambarannya.
Siapapun yg akan ikut di UTMB( salah- satu lomba lari trel ultra bergengsi dunia. 170km, melintasi 3 negara. Swiss, Itali & Perancis), harus mendapatkan 8 poin. Yang didapat dari keikut- sertaannya di lomba2 dimanapun yg sudah mendapat kualifikasi UTMB.
Sudah ada beberapa lomba dunia yg mendapatkan kualifikasi yg dimaksud.
Dimanapun selain di Indonesia.
Nah sekarang sudah ada 5( lima) lomba tanah- air yang sudah mendapatkan kualifikasi ini. Mulai dari 1 poin sampai 4 poin.
Dipastikan akan menyusul beberapa lagi yang akan mendapatkan kualifikasi UTMB ini.
Artinya, besar kemungkinan lomba2 tanah- air menjadi pilihan utama untuk mendapatkan poinn2 ini. Ya ga sih?
Coba pikir.
Alamnya ya ampun okeh pisan.
Ongkosnya, jika pun bukan yang termurah, pasti tak lebih mahal.
Medannya? ( Biasa, bagi kaum pelari2 trel gilak, semakin hardcore medannya semakin maknyussss), jangan tanya. Terkadang setelah melihat merasakan medan di kita, ditempat lain bisa- bisa terkesan seperti Disneyland 😉

Selamat siang, selamat hari senin 🙂

Standard

image

bakti sosial, berbagi, biking, cerita, cycling, fit, healthy, inspiration, komunitas, motivation, olahraga, renungan, running, sehat, sepeda, sketchup, sport, story, transportasi

Peduli Atas Bumi Yang Hanya Satu Ini

Image
adventure, cerita, inspiration

Hendra Buitenzorg

6633ultrahwfinish

Hendra Buitenzorg.
saya lupa tepatnya, rasa2nya pertengahan 2010.
Tak berhasil menemuinya di kesempatan pertama, saya sengaja berlari dari Bintaro ke Bogor hanya ingin bertemu beliau, saya ulangi di bulan berikutnya.
Alhamdullillah akhirnya. Setelah menempuh jalur tengkorak Depok, parung, Bogor, sepiring besar kepiting saos padang, udang dan ikan bakar, habis saya lalap bersama beliau. ehem, maksudnya, saat itu saya lebih banyak.
Beberapa bulan berikutnya, beliau ajak saya berlari di Tangkubanparahu.

Batur
Jadi, ini adalah kali pertama saya berlari bersama beliau.
Yang semula saya kira adalah start di Jayagiri, muncak, lantas lanjut muncak Burangrang, ya hampun, menjadi start kota di jalan Sukajadi, naik ke Tahura, Maribaya, Lembang, Masturi, terus kearah barat, Cisarua, muncak Burangrang, turun, cari2 akses ke Tangkubanparahu.
2 jam pun berlalu hanya untuk cari2 jalan kepuncak, dari arah sisi Burangrang.
Mau nangis rasanya.
Sebelumnya saya sudah beberapa kali lari2 jauh. Sendiri.
Berdua? Dan dengan beliau?Ampun, aslinya neraka.

Rinjani
Coba bayangkan.
Setiap ada warung, saya pikir kami akan berhenti minum. Saya ya. Beliau?
Ternyata dia sudah siapkan beberapa lembar 5an ribu, lipat2 kecil.
Setiap ada warung dan perlu minum, cukup simpan lipatan 5an ribunya,ambil botol air kemasannya. Lanjut.
Saya? Sudah ketebak kan?
Hah heh hoh. Duduk dulu. Minum, ngemil,beberapa menit baru lanjut.
Gusti Nu Maha Suci. Kenapa lari trel koq ya tiba2 menjadi sedemikian beratnya ya?
Jadi? Ya iya lah, ketinggalan wae 😦
Bagi dia, waktu adalah lari.
Bagi saya mah, ngaso we.
Setelahnya adalah lari2 bersama.
Seolah, jika dia ajak saya tak menolak. Begitupun kebalikannya.
Lari Gunung Nusantara adalah ide beliau.
gagasannya adalah berlari di banyak gunung ditanah- air.
Mulai dari Salak, Gede Pangrango, sampai puncak Cartensz di Papua.
Mengenalkan lari- berlari. Utamanya lari trel. Ditanah- air, dan penuh percaya diri, juga dunia.
Terimakasih untuk Garmin Indonesia​ yang sudah dukung acara2 ini di beberapa kesempatan awal.
Dari hanya sekedar lari2 berdua, kemudian kami, bersama Bang Nefo Ginting​( terimakasih Bang, sudah ajak kami sejak awal, bergabung di Trail Runners Indonesia) adakan Mt. MOUNT RINJANI ULTRA​.

Bang Nefo yang berkat beliau lah saya akhirnya bisa muncak Gunung Rinjani.

Selanjutnya dan selanjutnya adalah seperti yang sama- sama kita tahu bersama.
Beliau- beliau diatas adalah dua dari beberapa pahlawan- pahlawan saya.
Tak selalu akur, kamipun suka berbeda pendapat. Saling ejekpun bukan hal aneh.
Saling membuat kesal dan menyebalkan? Ya iya lah.

Tapi diatas semuanya, walau saya yang tertua dari bertiga, saya menaruh hormat kepada beliau2 ini.
Saya banyak belajar dari mereka.
Bicara lari trel tanah- air tak mungkin lepas dari andil mereka.

Dan tentu saja andil dari semua teman- teman pencinta dan penggiat lari trel.Anda semua.

Bravo Lari Trel Tanah- air, Bravo kita semua  🙂

Standard
berbagi, event, inspiration, komunitas, olahraga, renungan, running, sport, story, tulisan

BandungJakartaRun4Leukemia

wpid-p6130011.jpg

Awal 80an berangan- angan, sekali seumur- hidup turut dalam lomba lari 10k. Kekaguman saya akan olahraga lari mengalahkan kekaguman saya akan olahraga2 lain, apapun yang menggunakan alat.
Apa daya, asma & bronkhitis bawaan sejak lahir menjadi penghalang. Setidaknya begitu yang saya fahami selama itu.
Awal 2010 adalah lari ‘serius’ saya pertama.
Selanjutnya, kecintaan saya akan lari semakin besar. Dan ‘mengalahkan’ penghalang saya.
Sepertinya kapanpun saya siap untuk berlari puluh bahkan ratus kilo.
Haruskah? Tak mesti tentunya.

wpid-p6130022.jpg
10-30 menit berlari dalam sehari sudah ‘memenuhi’ untuk sehat.
Tak hanya untuk sehat sendiri, berlari ternyata bisa untuk banyak hal positif lainnya.
Misalnya, seperti yang dilakukan teman2 yg baru saja semalam, 13 juni 2014 lalu, memulai lari bandung- Jakartanya. Berlari untuk adik2 penderita Leukemia.
Diharapkan finish menemui adik- adik kita pada tanggal 15 juninya.

wpid-p6130031.jpg
Berlari sebagai bentuk kepedulian mereka akan penderitaan adik2 ini. Akan orang2 disekitar adik2 ini.
Berlari sebagai bentuk kepedulian terhadap sesama. Adik2 kita diantaranya.
Semangat teman2. Tetap sehat. Selamat sampai tujuan. Dan kembali ke Bandung.
Terimakasih tim pesepeda, motor & mobil pendukung. Terimakasih League, PocariID, SAB. Terimakasih semua teman- teman komunitas lari tanah- air.
#bdgjktrun4leukemia

wpid-p6130051.jpg

wpid-p6130065.jpg

wpid-p6130070.jpg

Standard
design, inspiration, interior, sketchup, tangga, tempat tinggal, tulisan

Small Is The New Big

 

HowSmallCanYouGo?2

 

Tak basah dan menggigil saat hujan. Hangat saat cuaca dingin diluar. Dan sejuk tanpa harus memicingkan mata dan perpeluh keringat saat terik matahari siang.
Tempat beristirahat cukup dikala malam menjelang. Dan kehangatan pagi hari, memulai kehidupan dengan sarapan pagi. Sendiri, dengan pasangan atau bersama suami atau istri. Juga putra- putri.
Besar dengan ruangan- ruangannya yang luas bagi sebagian orang. Cukupan bagi sebagian lain.
Masing- masing dengan pilihannya.
Selain sandang dan pangan, papan adalah kebutuhan primer kita berikut.
Ada yang saya perhatikan berkenaan dengan rumah- tinggal.
Semakin besar rumah koq ya seperti yang semakin banyak ruang yang terbuang. Semakin sulit untuk dijaga bersih. Dan ujung- ujungnya semakin menyita waktu dan uang untuk pemeliharaannya.
Sepertinya juga semakin membuat si penghuni, maaf, kikir.
Karena selalu merasa ada ruang, barang/ perabotan yang entah kapan mau dipakainya, selalu merasa sayang untuk dikeluarkan.
Akhirnya sang perabotan menjadi penghuni abadi sekian meter persegi bangunan dan tentunya kavling yang entah berapa juta harganya.
Sempatkan menghitung, berapa luas kavling dan bangunan yang kita punya. Perhatikan, berapa meter persegi bangunan dan lahan/ kavling yang benar- benar terpakainya.
Kita akan terkejut.
Sambil tunggu teman- teman menghitung, saya akan lanjut dengan, apa yang saya maksud dengan “jika saya berbicara tentang rumah”.
Rumah yang menurut saya harus minimalis dalam artian yang sebenarnya. Sesuai dengan jaman, ketersediaan, kemampuan dan kebutuhan sekarang.
image

Kebutuhan macam ruang.
Kita akan batasi dengan hanya :
Kamar tidur utama, kamar tidur kedua( anak atau tamu), kamar mandi, dapur/ pantry, ruang makan dan duduk keluarga. Serta teras.

image

Ukuran Kamar Tidur.
Diibaratkan calon penghuni rumah masa depan ini adalah pasangan muda. Dengan dua anak- anak balita.
Pasangan suami- istri cukup dengan luasan 3m x 3,6m. 3m adalah lebar dari sebelah kiri tempat tidur kekanannya.
3,60m adalah dari kepala tempat tidur kearah ujung kaki tempat tidur.
Dengan lebar 1,80 cm bed king size, masih tersisa masing- masing 60cm dikiri kanan untuk side table/ meja samping tempat tidur. Tempat kita menaruh lampu baca/ malam dan bacaannya.
LampuBaca

Lampu Baca.
Bandingkan dua kamar tidur berbeda. Yang satu luas, terang, rapih, bersih tertata. Dibangunnya pun rapih. Terlihat dari sudut dinding yang lurus. Berfurnitur lengkap, kecuali lampu baca.  Sementara satu kamar yang lain sebaliknya. Lebih kecil. tak terlalu terang, karena penerangannya hanya dari lampu baca, bangunannya boleh jadi tak begitu rapih. Furniturnya pun  minimalis.
Saya berani bertaruh. Yang tampil lebih homy, nyaman, hangat adalah yang terakhir.
Ya, bukan dimana- mana atau apanya, kecuali bahwa yang terakhir berlampu baca.

Sekarang kita lihat kearah kaki tempat tidur.
Dengan ukuran panjang 3,6m, setelah terpakai panjang bed yang 2m tersisa 1,6m. 0.6m digunakan untuk dalamnya lemari pakaian dan atau rak buku/ tv. Sisa 1m cukup lebar untuk dilalui. 1 m adalah jarak antara kaki/ ujung bed ke lemari pakaian.
Tak sempitkan?

 

VilaKayuKamarAnak

Kamar Anak- Anak.

Dengan ukuran 3 m x 3 m sudah lebih dari cukup untuk 2( dua) bed ukuran dewasa sekalipun.
Dengan lebar 90 cm( single) x 2 bed, diposisikan dimasing- masing sisi kamar berseberangan, masih tersisa jarak 120 cm diantaranya.
Seperti juga di kamar tidur utama( pasangan), lemari pakaian anak2 dan meja belajar/ main mereka diposisikan satu baris, yaitu di dinding seberang dari bed.

 

KamarMandi

Kamar mandi.

Berukuran 1,80cm x 2 m sudah cukup untuk 1 monoblok( closet), wastafel dan shower tray. Tanpa bak tentunya.

 

Dapur:Pantry

Dapur/ Pantry.

Dapur/ pantry kita adalah dapur/ pantry saja. Bukan dapur bersih yang sedemikian bersih dijaga, sampai- sampai merasa sayang untuk dipakai. Juga bukan dapur kotor, yang memang karena disiapkan sedemikian rupa peruntukannya, dan ya biasanya sedemikian kotornya sampai- sampai enggan kita memakainya. Dengan kata- lain: urusan Bibi.

1,5 m x 3 m sudah mencukupi untuk ditempati bak cuci dobel dengan ukuran maksimal, kompor 4 tungku dan kulkas. Bahkan mesin cuci.

 

DudukMakanMasakTeras

Ruang Makan & Ruang Duduk Keluarga.

Kita coba dengan ukuran 3 m x 4,5 m. Bayangkan ukuran standar garasi yang 3 m x 5 m.

Tampak dari kiri ke kanan adalah ruang duduk keluarga, makan, dapur/ pantry. Dan sedikit ‘kemewahan’ adalah teras.

Total luas 2 kamar tidur, 1 kamar mandi, ruang duduk, makan, dapur/ pantry dan teras kita ini adalah 6,6 m x 7,8 m —>52 meter persegi saja.

 

RuangPeletakan

Pengelolaan ruang, penempatan bukaan( pintu/ jendela).

Dengan penempatan kamar mandi diantara dua kamar tidur dan berada dibagian sisi lain memudahkan akses dari kamar tidur( dekat), sedikit menjauh dari ruang- ruang lain( lebih privat). Juga tak memunculkan ruang lain yang terbuang. Ya kan?
Begitu juga dengan urutan penempatan teras( paling depan dari rumah), dapur/ pantry, makan dan ruang duduk dalam satu baris yang jelas.

Ohya, sampai saat ini kita bicara satu lantai saja. Jadi abaikan dahulu tampak dua lantainya.
Posisi tangga yang terlihat berlaku nanti jika ada rezeki lebih, kita buat lantai duanya. Aamiin 🙂
Sementara di posisi ini adalah ruang makan.

 

PintuPosisi

Detil Penempatan Pintu.

Pada gambar kiri adalah pintu yang biasanya  ditempatkan disudut ruang. Sementara pada gambar kanan( rumah kita) pintu posisinya digeser 60 cm kearah tengah.
Jelas sekali, digambar kiri, lemari tak bisa sepenuhnya sepanjang dinding. Karena ya posisi pintu tadi yang menghalangi.  Sementara dirumah kita, dengan digesernya kusen pintu 60cm kearah tengah, lemari  kan bisa dari ujung ke ujung. Kita hanya harus menambah 1( satu) kolom praktis saja.
Digambar kiri  kusen pintu dipasang pada kolom utama( sudut), sementara di rumah kita, dengan digesernya pintu dari kolom utama( sudut), maka diperlukan kolom praktis,sebagai pengganti dudukan sang kusennya.
Lebih mahal 1 kolom praktis 🙂  .

Storage( atau menyimpan dengan smart).

Belanja kelengkapan/ perabotan rumah tak pernah tak mengasyikan. Hanya akan menjadi masalah jika berujung pada kelebihan. Sekian banyak perabotan cantik menggemaskan,saat terkumpul disatu rumah bisa jadi malah menyebalkan.
Tak boleh terjadi di ‘rumah idaman’ kita.

Idenya adalah, bukan menempatkan perabotan/ kelengkapan diruang kosong, tapi mencari ruang yang ada yang “tak terpakai” menjadi  storage kita.
Yuk kita cari, ada dimana saja mereka.

– lemari pakaian sudah tadi kan? Yang kita pasang dari dinding ke dinding. Penuh.

BedDgnLaci2

– ‘Kolong’ bawah tempat tidur.
Yang biasanya spring bed dengan box alas, kali ini kita hilangkan. Jadi di posisi box alas adalah laci- laci( besar atau kecil, tergantung kebutuhannya).

 

 

LaciDibawahPijakanTangga

Laci- laci dibawah pijakan tangga( alat- alat/ kunci- kunci pertukangan/ plumbing/ instalasi dan atau sepatu).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Standard
cerita, cerita, kisah, renungan, inspiration, kisah, motivation, olahraga, renungan, running, sport, story

Lebih Baik…. Lari

Belum terlalu siang, beberapa tahun lalu. Baru selesai lari dapat kabar ayah saya masuk ICU. Bandung diakhir minggu, macetnya, seperti yg sama2 kita tahu, ga lucu.
Menunggu yang lain mau berangkat sama2 koq rasanya seperti keabadian.
Tak pikir panjang saya lari ke Borromeus. Ya berlari.
Saat sampai dan melihat sanak- saudara berkumpul, saya baru sadar, ya ampun, saya pasti kena omel, gerutu dan omongan. Berulang- ulang, setiap mereka melihat saya berkostum lari.
” Hati- hati Kang, ingat umur”.
“Jangan maksain”.
“Jalan aja jalan. Lari mah atlet kali”.
Dan banyak lagi.
Itu satu. Dan baru sadar berikutnya adalah, apa kata Ayah nanti?.
“Duh ti- ati Ei( panggilan sayang Ayah ke saya). Harus ingat keselamatan. Umur kita kan sudah ga muda lagi”. Dan entah apalagi.
Perkiraan saya akan seperti itu.
Tapi, ya itu tadi, nasi sudah menjadi bubur. Kalau kata Aa Gym, jgn disesali, lebih baik buburnya kasih saja cakue.
Saya sudah melangkah masuk ke ruang icu, tak ada waktu lagi berfikir itu- ini.
Saya: “Salam Pak”.
Bapak: “Eh Ei. Abis lari?”.
Saya : ” Eu eu iya Pak. Anu.. dikit, bentar aja. Tadi .. eu buru2..”.
Bapak : ” Ya asal ati- ati aja. Semoga Bapak ga apa2 ni. Tapi kalo bisa milih, memang lebih keren mati karena lari daripada mati karena penyakit”.
Saya : ” ???????”.
Semoga Bapak selalu diberkahi sehat dan bahagia. Aamiin.

Standard
cerita, event, inspiration, kisah, komunitas, motivation, renungan, story

Belajar Menulis Dan Belajar Berbagi

Tak sedikit kisah2 yang luar- biasa, menyenangkan( sudah pasti), dan mengharukan sepanjang berkegiatan di komunitas yang saya ikuti.
BatagorDotNet salah- satunya.
Tak hanya tempat dimana saya belajar tulis- menulis. Tapi juga tempat saya belajar berbagi.
Mulai dari Bebersih Bandung Yuk, acara pungut- pungut sampah. Jilid satu sampai kalau tak salah sampai sembilan.
Bergantian di beberapa titik lokasi dikota.
Buka puasa bersama saudara- saudara kita yang kurang beruntung.
Kunjungan ke adik- adik Sekolah Luar Biasa di Banjaran. Sambil juga berbagi kebutuhan/ keperluan mereka. Buku- tulis, bacaan , alat musik dan beberapa komputer desktop.
Berbagi ke korban banjir Bale Endah.
Makan siang dan bagi2 buku tulis/ bacaan bersama 32, seratus, dua ratus adik2 dari berbagai Rumah/ Yayasan Yatim- piatu.

Bedah Gubug, bantuan membangun rumah- tinggal seluas 41m2 dua lantai untuk seorang penjaga kebersihan makam serabutan. Dengan 1 istri dan 1 anak usia SMK.
Dibangun mulai dari nol.
Alhamdullillah, walau namanya Bedah Gubug, adalah rumah permanen berdinding tembok dilantai dasar. Dan dinding fibercement dilantai atas.
2 kamar mandi, 1 dapur kecil dan 3 kamar tidur.
Satu kamar dilantai atas untuk si Bapak dan Ibu. Satu kamar, juga diatas untuk sang anak . Dan satu kamar dilantai dasar untuk dikontrakan. Diharapkan bisa membantu memenuhi kebutuhan hidup hari- hari.
Dibangun selama 3 bulan. Mulai dari beberapa ratus ribu rupiah, sampai akhirnya rumah selesai mencapai 21 juta rupiah

Bersambung….

Standard
cerita, inspiration, kisah, motivation, olahraga, renungan, running, sport, story, trail running

Yuk kawan, kita lari

image

Tentu saja Nadine tahu sekali bagaimana mengikat tali sepatu trelnya dengan benar. Seperti yang selalu dengan penuh semangat Nadine ingatkan ke siapapun, yang kedapatan tali sepatunya lepas.
Lipat masuk simpul tali sepatu yang sebelah kanan kedalam bulatan simpul tali pertama. Sekarang lipat, masukan juga lagi simpul tali kirinya. Tarik perlahan sampai benar- benar terikat kuat.
Demikian yang Nadine ingat dari yang pernah dia baca dan lihat disalah-satu majalah lari.
Simpul tali sepatu yang tak mudah lepas untuk lari- lari agak sedikit jauh. Bahkan lari trel sekalipun.
Sekali lagi dia periksa, apa- apa yang mungkin belum ada. Setelah sebelumnya sedikit lap- lap badan ala cowboy, makan dan minum sekedarnya, sikat gigi. Mematut- matut diri dicermin kamar.
Lipatan uang sepuluh ribu dan telpon selularnya sudah di saku tas dipinggangnya. Beberapa potong coklat kacang sebagai bekal disiapkan. Juga botol plastik air ramah lingkungannya.
Sebagai penyuka kegiatan luar- ruang tentunya pantas jika lebih lagi peduli lingkungan.
Sekali lagi tersungging senyum dibibirnya. Bangga akan kepeduliannya. Walau mungkin baru sedikit yang dia tahu soal isu lingkungan.
Tak apa. Toh sudah dimulai.
Seperti biasa Nadine memakai celana lari pendek dan atasan yang menurutnya nyaman dan berwarna cerah.
Nadine membiasakan untuk tak terlalu tebal berpakaian.
Kali inipun tanpa jacket. Cukup dengan mulai menggerakan badan, hangatpun didapat.
Tiba- tiba teringat nasehat sang paman. ” Nneng hati- hati. Jangan jauh- jauh. Jangan banyak- banyak larinya, pakai jacket”.
Seperti biasa, Nadin tersenyum saat menjawab,” ya Mang, nuhun”.
Ah si Mmang baik- hati ini. Jangan- jangan harusnya lebih menghawatirkan dirinya sendiri. Makan tak kenal pantangan. Apapun disikat. Jeroan, gorengan. Sate kambing yang selalu harus bergajih. Jangan ditanya kalau sudah mendapatkan gulai kepala kambing. Utuh. Ya utuh sekepala. Asyik- masyuk, sampai- sampai tak lagi dapat dibedakan mana kepala kambing dan mana kepala si Mmang. Dan tentu saja nasi putih yang banyak. Sementara tak pernah sekalipun terlihat berolah- tubuh.
Semoga Mmang selalu sehat.
Udara dibulan januari memang agak dingin. Terkadang pagi- pagi hujanpun sudah menjelang.
Satu lagi godaan yang tak kecil untuk tetap ditempat tidur.
“Tidak!, saya harus menang. Saya harus bisa mengalahkan kemalasan ini”. Demikian Nadine seringkali meyakinkan diri- sendiri.
Semakin besar godaannya semakin besar dia melawan.
Jalan kaki keluar komplek rumahnya. Beberapa ratus meter. Kemudian belasan menit dengan angkutan umum kearah utara kota.
Gerbang kawasan wisata alam di utara ini memang tempat Nadine memulai lari- lari trelnya.
Sepuluh menit pemanasan sebelum mulai tak lupa dilakukan.
Pemanasan tak kalah penting. Lagi- lagi Nadine mengingatkan diri- sendiri.
” Nneng geulis, lumpat deui?”. Si bibi pemilik warung dengan sapaannya yang lucu dan menyenangkan.
” Sumuhun Bi. Mangga”.
Tanah licin mengawali trek lari trelnya. Sisa- sisa hujan semalam cukup membuat Nadine melangkah lebih hati- hati lagi.
Baru beberapa puluh ayunan kaki dingin pagi sudah tak terasa lagi. Sebaliknya, keringat mulai menetes dari dahi dan sekujur badannya.
Agak terengah juga diawal- awal. Tapi sudah selalu semakin baik dari sebelum- sebelumnya.
Trek lari ditengah kehijauan hutan pinus selalu menyenangkan. Tak pernah membuat bosan. Sepertinya setiap langkah adalah hal yang selalu baru. Berapa kalipun diulang.
Mata yang selalu harus awas melihat kemana kaki melangkah. Pijakan mana yang dipilih. Pada saat yang sama harus juga awas akan batangan atau dahan pohon yang melintang tepat seketinggian kepala.
Lebih- lebih lagi diturunan. Beberapa langkah berikutnya harus sudah diperhitungkan.
Satu kali terpleset dipijakan pertama kerap diikuti oleh terpeleset dipijakan berikutnya.
Apalagi dibebatuan yang licin.
Beruntung jika hanya goresan kecil pendek dikaki.
2km sudah. Seperti yang dia lihat di jam lari bergpsnya. Berarti 3km lagi sampai puncak.
Trek semakin menanjak. Semakin membuatnya terengah- engah.
Sesekali Nadine minum dari botol airnya.
Tak mesti banyak sekaligus.
Nadine lebih memilih beberapa teguk setiap lima- belas menit. Tak banyak. Sekedar tak dehydrasi.
Sedikit berlebih minum air menyebabkan bengkak dikaki.
Hutan pinus sudah lama terlewati.
Sudah mulai vegetasi khas punggungan gunung berkawah.
Bau belerangpun sudah mulai tercium.

Ketukan dipintu kamarnya menghentikan tulis-menulisnya.
“Itcha, sudah bangun sayang?”
“Ya Mama”.
“Mau Mama mandikan sekarang?”
“Sebentar lagi Mama”.
Itcha menghela nafas.
Termenung. Memandangi kedua kakinya yang kecil karena memang lama tak bisa digerakan.
Demam tinggi di usia balita adalah penyebab kelumpuhannya.
Seperti setiap pagi di hari- hari sebelumnya, adalah saat- saat menyenangkan baginya untuk menulis.
Menulis, kegiatan sejak beberapa tahun lalu. Sejak sebelumnya mengikuti dunia lari- berlari dikotanya.
Berlari belakangan memang sedang menjadi
trend. Tak hanya di ibukota. Juga di kota- kota lain.
Lomba lari sudah hampir setiap bulan diadakan.
Dan tentang lari- berlarilah kebanyakan tulisan- tulisannya.
Itcha kembali ke Note 8nya. Sedikit melanjutkan tulisannya.
Membayangkan, bagaimana indah dan menyenangkannya, berlari dikesejukan hutan pinus. Saat jutaan yang lain masih tertidur lelap.
Dunia seakan hanya miliknya sendiri.
Berbagai inspirasi menari lincah dalam benaknya. Seperti yang tak berkesudahan.
Pada saat yang sama mata yang harus awas mengawasi setiap pijakan kakinya.

Beberapa tahun belakangan Itcha tak lagi bersedih dengan keadaannya.
Itcha percaya, semua hal di dunia tentu ada maksudnya. Begitu juga dengan kelumpuhannya.
Jika kebahagian bagi yang lain adalah harta yang banyak, kesehatan jasmani, putra- putri yang sehat menggemaskan dan lain sebagainya.
Kebahagian bagi dirinya adalah menerima dan bisa berdamai dengan kelumpuhannya. Menerima ketidak- mampuannya untuk berlari.
Seperti yang pernah menjadi impiannya, sekali dalam seumur- hidup mengikuti lomba lari 10 k.
Kebahagian baginya yang lain adalah mendapatkan cara untuk mengingatkan siapapun untuk tak menyia- nyiakan kesempatan yang ada.
Dengan menulis.
” Saat berlari menjadi impian yang tak pernah terwujud bagi orang- orang seperti aku, jangan sampai terjadi bagi orang- orang yang lebih beruntung”.
Tak berolah- tubuh padahal ingin, tapi tak kesampaian karena hambatan adalah kewajaran.
Tak berolah- tubuh karena kemalasan padahal bisa dan di mungkinkan adalah kebodohan.

Standard
adventure, event, inspiration, motivation, olahraga, running, sport, story, trail running

Berlari Trel Membelah Pulau Jawa

image

Jauh dan ajrut2an.Perjalanan panjang yg mengesalkan dan melelahkan. Hanya untuk sampai penginapan. Berlanjut esok hari nya ke titik start. Treknya sendiri adalah berjalan dan berlari nyeker sepanjang puluhan km. Melalui aspal panas, tanah dan rumputan becek penuh duri dan ranting tajam. Sungai sedalam pinggang tanpa jembatan. Jikapun ada adalah berpijakan hanya bbrpa batang bambu yg sebagian sudah lapuk. Dengan pegangan yg sulit dari jangkauan.
Tentu saja pada akhirnya adalah pantai selatan yg indah memukau. Dengan deburan ombaknya yg tinggi dan membahana.
Menyempurnakan pengalaman ngetrel, membelah pulau jawa, yang indah yang pada akhirnya luar- biasa menyenangkan dan tak terlupakan.
Tapi, Jejak2 badak yg kami temukan menyadarkan kami akan perjuangan teman2 relawan di konservasi badak Ujungkulon.
Ribuan hari yg mereka dedikasikan untuk  Ujungkulon dan badaknya. Dikenal di dunia sebagai World Heritage Site.
Aksi2 kami menjadi seperti tidak ada apa2nya dibanding apa yang sudah sekian lama mereka lakukan. Dan berlanjut sampai saat ini.
Apa2 yg kami lakukan, yg entah kapan lagi dilakukan, adalah keseharian mereka. Dengan segala keterbatasan. Keterbatasan sarana. Keterbatasan dukungan dari pihak penyelenggara negeri ini.
Semangat teman2 Ujungkulon!

Standard
inspiration, motivation, story

Ki, Selamat Ulang- Tahun :) by Bang Aswi

“Ehhh … aku lari tuh mulai 2010, awal 2010. Jadi awalnya Jumat, sebetulnya sudah lama tahu bahwa lari itu olahraga yang mau banget aku lakuin. Cuma karena tahu ada asma dan bronchitis, dan sebelumnya pernah coba lari-lari kecil atau segala macam atau waktu aku sekolah … kayaknya cepet capek. Dari situ saya tahu saya pikir saya udah nggak ada peluang untuk lari. Nah, 2010 itu saya coba konsultasi ke dokter sebelumnya, alhamdulillah ya tersendat sih memang tapi sebulan pertama udah lumayanlah ada progres ya. Yang tadinya seratus meter udah sesak kali ini udah satu kilo dua kilo. Dua bulan kemudian udah bisa lari sepuluh….”

“Check up semua, apa jantung dah, apa tekanan darah dan segala macam, euhhh dokter bilang oke. Tapi belakangan saya tahu bahwa yang dimaksud di pengertian okenya itu bahwa saya larinya emang lari-lari pelan bukan seperti lari-lari yang saya lakuin belakangan ini. Sempet kaget juga tuh si dokternya. Nah itu awal-awal saya lari….”

Di titik ini jemari sosok itu berhenti. Sosok itu mencoba membayangkan apa yang dilakukan salah seorang sahabat dan guru kehidupannya, Aki Niaki . Kata-kata di atas adalah ucapan Aki di awal wawancara sosok itu di sebuah kafe di jalan Burangrang. Masih ada 40 menit lagi hasil wawancara yang belum diselesaikan tentang pengalaman Aki berlari. Masih ada ribuan jam kehidupan Aki yang belum tereksplor untuk dijadikan inspirasi bagi masyarakat luas, tidak hanya bagi yang ingin berlari. Masih banyak rahasia lagi tentang semangatnya untuk mengkampanyekan olahraga lari dan (juga) ngetrel.

Jujur, sosok itu juga punya asma. Jadi dirinya tahu bagaimana rasanya takbisa bernapas dengan wajar. Bagaimana rasanya ‘megap-megap’ saat baru lari beberapa puluh meter. Bagaimana rasanya tersiksa di saat jutaan orang menikmati nyenyaknya tidur. Bagaimana rasanya batuk-batuk hanya dengan melihat embun pada gelas yang dingin. Bagaimana rasanya menjadi orang yang tidak berharga untuk turut membantu kerja bakti (meski hanya sekadar di rumah sendiri) membersihkan debu karena nantinya akan batuk dan kemudian sesak napas. Sakit hati ini mengetahui itu semua.

Sosok itu dikenal ‘sport freak’ saat SMA dan mahasiswa. Basket, volley, sepakbola, bulutangkis, renang, hingga mengenal sepeda dan lari. Gila olahraga karena tahu bahwa inilah salah satu cara agar asmanya tidak sering kambuh dan menjadi beban bagi orang lain. Sepedalah yang dipilihnya kemudian saat sudah berkeluarga dan bekerja. Sampai kemudian dirinya mengenal Aki di pertengahan 2008, di komunitas Blogger Bandung—Batagor. Saat itu dirinya tidak tahu Aki itu pengidap asma. Saat itu dirinya tidak tahu apa agama Aki (maaf). Saat itu Aki belum berlari. Saat itu dirinya melihat Aki yang penuh semangat meski untuk beberapa kegiatan fisik tidak maksimal. Aki selalu aktif di tengah-tengah anak muda yang mayoritas masih mahasiswa. Tapi kemana-mana selalu naik motor.

Hingga kini, semangat Aki tetap sama dan bahkan jauh lebih berkobar lagi. Kegiatan fisiknya semakin maksimal dan prima. Kemana-mana selalu berlari dan tidak lagi kelihatan naik motor. Kondisi fisiknya kini jauh lebih bugar dan segar jika dibandingkan sosok itu di awal perkenalan. Aki bagaikan magnet bagi orang-orang yang ada di sekelilingnya, baik itu di komunitas blogger maupun di komunitas larinya. Aki semacam suri teladan. Padahal dia sudah berprestasi dan terkenal. Namun sikap hidupnya selalu ‘down to earth’. Penuh senyum. Penuh gairah. Penuh rasa kekeluargaan. Pokoknya ada perasaan nyaman saat dekat dengan dirinya. Perasaan yang tidak ingin berpisah. Entah mengapa.

Sampai saat ini sosok itu belum berkesempatan dapat berlari bersama dengan Aki. Usahanya berlari mengalami maju mundur, bahkan lebih banyak mundurnya. Belum satu kilometer tetapi sudah menyerah untuk berhenti. Selalu lari sendiri karena malu kalau harus lari bersama. Aki-lah yang memberi semangat pada diri sosok itu. Aki-lah yang memompa diri sosok itu hingga akhirnya memberanikan diri untuk mau bersepeda sendiri dari Bandung ke Jakarta. Jauh setelah Aki berlari dari Bandung ke Jakarta. Aki tidak tahu akan hal ini. Semangat untuk mencoba lebih berani. Semangat yang membuat dirinya kembali mendekati Aki karena ada satu ‘keajaiban’ di dalam dirinya yang seharusnya bisa dinikmati oleh lebih banyak orang lagi. Keajaiban untuk menjadi inspirasi.

Di depan mata, ada mimpi sosok itu untuk bisa bersama Aki menaklukkan 57 gunung. Entah itu berlari bersama. Entah itu bersepeda bersama. Atau hanya sekadar menyaksikan Aki berlari dengan penuh kebanggaan dan keharuan. Pokoknya ingin menjadi saksi pertama. Sebuah perasaan yang hanya bisa dikeluarkan kalau sudah mengenal siapa Aki sebenarnya. Saat berdiskusi bersama. Saat berkegiatan bersama. Saat shalat bersama. Saat melihat bola matanya yang berembun saat menceritakan masa kecilnya yang penuh perjuangan. Ada banyak cerita yang harus diolah tentang kehidupan Aki agar menjadi buku yang utuh. Buku yang bisa jadi belum dapat menceritakan diri Aki yang sebenarnya. Diri Aki yang kini menapaki usia ke-57 dan terus … dan terus menginspirasi orang-orang yang mengenalnya (atau bahkan belum mengenalnya).

Ki, selamat ulang tahun. Teruslah menginspirasi kami semua…. #pelukerat

Standard
event, inspiration, motivation, mountain running, review, running, sport, story, trail running, ultra running, ultra trail running

CATATAN SEORANG NEWBIE TRAIL RUNNER DI BromoTenggerSemeru100Ultra oleh Ina Budiyarni

InaMaggie001InaMartinTju InaAnwarSurahman001InaDianNdaruPurwanti hak gambar ada pada Maggie Kim Hong Yeo, Martin Tju, Anwar Surahman & Dian Ndaru Purwanti.
Tak pernah terlintas dalam pikiran saya sebelumnya, saya akan menjadi finisher Bts100Ultra 50k dengan waktu 11 jam 12 menit. Di bawah Cut Off Time yang 12 jam.
Senang dan bangga bercampur jadi satu, karena saya bisa melawan ketakutan dalam diri saya.. Takut di hutan sendirian..
Seketika saya buka foto album ‘RUN’ dalam Facebook saya yang berisi foto-foto sebagian lelarian saya di tahun 2013 ini. Tahun 2012 saya baru sanggup lari 5k dan 10k dalam race, itupun seperti keong..
Tahun 2013 saya banyak bertemu dengan orang-orang hebat yang menginspirasi saya dalam lelarian. Juga kompor-kompor yang akhirnya membuat saya melakukan my 1st 21k Half Marathon di awal tahun 2013 dan my 1st 42k Full Marathon di tengah tahun 2013.
Tapi tidak dengan trail run.. Trail run pertama saya adalah 10k Tahura trail run. Setelah itu boro-boro mau ikut trail lagi. Yang ada di otak saya trail itu gear nya ribet dan menghabiskan banyak waktu. Karena harus seharian, dari pagi sampai sore.
Sebagai seorang single mother, yang terfikir adalah, lari di akhir minggu cukup hanya lari dijalan saja. Setelahnya lebih baik menghabiskan waktu dengan anak, yang adalah segalanya bagi saya.
Saya menghitung berapa banyak foto dan mengingat kronologi trail run saya, sebelum akhirnya nekat mengikuti BTS100Ultra 50k. Dan ternyata secara total baru 7x trail run yang saya ikuti sepanjang hidup saya. Untuk selanjutnya ikut BTS Ultra 50 dengan track yang gilaaa..
Di antara padatnya aktifitas saya berkantor, mengurus anak & aktifitas-aktifitas lainnya, di akhir minggu, di minggu-minggu trakhir menjelang race, saya luangkan waktu untuk latihan ngetrel. Dengan jarak puluhan km di Sentul bersama dengan teman-teman yang hebat..
Teman-teman saya yang bukan pelari menanyakan, ” Apa sih yang kamu cari dengan ikut race 50k naik turun gunung?’”.
Mungkin saat itu saya belum tahu pasti dan belum bisa menjawab atas pertanyaan itu. Yang saya tahu hanya, ada keinginan yang kuat sekali untuk turut serta di BTS Ultra 50.
Walaupun saya masih newbie trail runner, saya hanya berfikir jika orang lain bisa, mengapa saya tidak bisa? Jika orang lain berani, mengapa saya tidak berani? Jika juga orang lain nekat, mengapa juga saya tidak nekat?
Sudah banyak tempaan dalam hidup saya sebagai seorang single parent. Dan inilah saatnya tempaan di indahnya alam ciptaan Tuhan. Yang membuat saya merasa sangat kecil di dalamnya..
Dengan mendapat restu dari anak saya, berangkatlah saya menjadi salah satu orang ‘gila’ di BTS Ultra. Dengan bangganya anak saya bercerita ke setiap orang bahwa Bundanya akan berlari 50k naik turun gunung. Bahkan sampai juga bercerita kepada guru ngajinya.
Maka semakin semangatlah saya untuk berusaha sekuat tenaga agar bisa finish sebelum Cut Off Time.
Begitu berbedanya aura di Ranupane saat menjelang start ultra trail, dibandingkan dengan start road race. Walaupun jumlah pesertanya jauh lebih sedikit dibandingkan dengan peserta race jalanan, tapi serunya di start line mengalahkan start race-race saya sebelumnya.
Sebagai newbie trail runner sudah pasti larinya saya adalah alon-alon asal kelakon. Sambil menikmati pemandangan dan foto-foto sana sini yang tidak mungkin saya lewatkan. Berkat camera yang selalu ada dalam genggaman saya sepanjang lari 50k.
Ternyata apa yang tidak saya dapatkan di road race, saya dapatkan disini.. Pemandangan yang spektakuler sepanjang rute, yang buat saya serasa dalam mimpi. Karena selama ini hanya saya lihat di foto, gambar atau kalender.
Danau Ranukumbolo yang begitu mempesona dari jarak jauh dan dekat. Puncak Semeru dari kejauhan. Hamparan pasir berbisik Bromo. Kawah Bromo dan bukit-bukit pasir, yang masih melekat di ingatan saya sampai sekarang..
Capek, sudah pasti.. Ngos-ngosan apalagi.. Tapi indahnya alam membuat saya tidak terlalu merasakan gempornya betis & paha ini.
Tanjakan yang seperti tak berakhir di tanjakan cinta Ranukumbolo ( entah sampai sekarang saya tidak tahu mengapa dinamakan Tanjakan Cinta. jika saja Tanjakan Cinta nya sudah seperti begitu, akan seperti apa ya Tanjakan Putus Cinta nya ?). Ayek-ayek, jalur pipa, bukit pasir Bromo.. Ditambah sepanjang perjalanan, ingatan akan anak saya. Dan bahwa saya tidak mau mengecewakannya..
Serta keinginan akan membuat anak saya bangga mempunyai Bunda seorang Ultramom..
Tanjakan, turunan, dingin, panas, angin, gerimis, pasir, haus, letih, lelah.Semua silih berganti .. Tanjakan-tanjakan sadiis, turunan-turunan cadas, walaupun berat tapi entah mengapa begitu senang saya menjalaninya.. Gerutuan yang tak henti- henti, ” Gilak tanjakannya!”, tapi kaki ini tetap semangat melangkah. Bahkan saat mendapat tanjakan yang tidak lazim, sehingga harus merayap seperti layaknya spiderman. Dan turunan sumur tegak lurus yang membuat banyak peserta perosotan seperti layaknya anak kecil. Teman-teman peserta pun semua tampak seru dengan segala tingkah lakunya.. Walaupun capek tapi semua happy..
Saya baru merasakan ternyata beratnya lari Full Marathon 42km di jalanan tidak ada apa-apanya dibanding ultra trail run di BTS..
Fisik dan mental benar-benar diuji.. Fisik sudah pasti terkuras untuk lari naik turun gunung belasan jam, mental pun diuji berkali-kali ketika ada ojek & kuda lewat.. Beruntung saya tidak tergoda sedikitpun.
Yang membuat saya tergoda justru menjelang km 35. Saat bladder sudah habis, water station jemplang tidak jua tampak, dan jalanan yang walaupun aspal namun adalah tanjakan tiada akhir. Saat sepeda motor penjual ice cream lewat, yang langsung di serbu semua peserta. Ice cream terenak di dunia saat itu, hahaha..
Jam garmin sudah menunjukkan km 40. Yess tinggal 10km lagi, dan di depan mata adalah padang pasir Bromo. Yang sepertinya tidak terlalu sulit untuk mengakhiri race ini di km50.. Tapi ternyataaa.. surpriseeee… Ternyata finishnya di kanan atas sementara kami dibelokan ke kiri ke gundukan pasir naik turun tiada akhir.. Dan.. belum cukup sampai disitu, kami harus naik tangga ke bibir kawah untuk mengambil gelang kuning, kemudian turun lagi. Haha hebat sekali si pembuat rute.. 5 km terakhir yang amat sangat berkesan di hati dan di kaki..
Saya melihat ke garmin saya. Sudah hampir 11 jam saya berlari.. Artinya waktu saya tinggal 1 jam lagi untuk bisa finish di bawah Cut Off Time.. Akhirnya dengan sisa tenaga yang ada, lari lah saya.. Tetapi begitu sampai jalan aspal, hah ternyata lagi-lagi tanjakan. Berarti, jalan lagi. Begitu sampai di atas tanjakan, banyak orang-orang yang bilang ‘tinggal sedikit lagi mbak finish’.. Tanpa basa basi larilah saya dengan perasaan campur- aduk antara senang dan terharu..
Begitu tulisan FINISH tampak didepan saya, rasa harupun kembali tak terelakan. Saya tahan airmata yang hampir menetes. Karena ,” masa macho-macho pelari ultra mewek”.
Begitu saya menginjakkan kaki di finish line, kata ‘Alhamdulillah’ yang tiada habisnya terus terucap di hati saya.. Yeayy saya berhasil menjadi ULTRA RUNNER, finish my 1st Ultra trail 50k dengan waktu 11 jam 12 menit!!
What an amazing race, amazing route, amazing view, amazing people.. Thank you committee for a beautiful race & I will come back next year!!

Standard
inspiration, motivation, mountain running, running, sport, story, trail running, ultra running, ultra trail running

Age is just a number……. by Dewi Satriyani

Age is just a number…….

November 26, 2013 at 3:33pm

Usia itu cuma angka, dan akhirnya yang membedakan tua dan muda itu akhirnya berpulang pada semangat setiap manusianya, dan saya menemukannya pada opa,sahabat,teman dan guru saya yang akrab disapa Aki. Sampai saat saya menulis notes inipun saya bahkan tidak mengetahui nama aslinya.

Belum terlalu lama saya mengenal beliau, tapi banyak pengalaman berharga dan moment berkesan yang sempat saya lewati. Yang saya dengar selama ini beliau adalah orang yang cukup disegani di kalangan pelari, mungkin layak juga kalau disebut trendsetter, tapi lepas dari semua popularitasnya saya sungguh tidak melihat Aki sebagai pelari ataupun selebritis yang untouchable.

Saya bukan pelari mahir, boro-boro mahir, belum 1 KM aja kadang suka udah nyerah, dari kecil juga saya nggak punya mimpi bisa masuk hutan, ikutan trel apalagi mendaki bukit. Jaman kecil, anti sama yang namanya Pramuka, kemah juga sekalipun belum pernah ngrasain. Sampai akhirnya Aki mengajak saya untuk ikutan ngetrail. Belagak gila, tawaran itupun saya terima. Dan benar saja, trail pertama saya ada di barisan terakhir, terpisah tak terlalu jauh, tapi lebih sering berhenti dibanding berlari. Tapi aki sangat telaten mendampingi saya, memegang tangan saya erat ketika menemui medan yang licin dan terjal, ataupun saat menapaki tanjakan dengan jalan setapak yang kalau dilihat kanan kiri udah pingin muntah. Trail paling berkesan saat di Bukit Tunggul, sepertinya cuma sepuluh kilo katanya, tapi elevasinya itu bikin ngilu, terutama buat saya pemula.

Aki tidak pernah menakuti orang yang ingin mencoba trail, meskipun kalau dipikir2 kaya berasa dijorokin sama Aki, karena beliau selalu bilang ini track buat beginner. Begitu sampai venuenya sempet mewek juga.

But on top of that, dari beliau saya belajar mengalahkan rasa takut, terutama takut masuk hutan dan berlari di perbukitan. Saya juga belajar betapa siapapun punya kemungkinan yang sama untuk merasakan nikmatnya nge trail seminim apapun kemampuan kita untuk berlari dan berapapun usia Anda.

Semangat Aki luar biasa, terutama untuk memasyarakatkan trail. Dia orang gila yang menurut saya suka nekad dalam artian positif. Mungkin sedikit banyak bisa dibilang risk taker sejati. Aki mengubah apa yang dirasa tidak mungkin menjadi potensi luar biasa.

dan saya masih menunggu beliau mewujudkan mimpi mengencani 57 gunung sebelum pertambahan usianya nanti. Siapapun pasti akan bangga untuk mendampingi beliau menyelesaikan ekspedisinya.

Dirgahayu Opa, semoga kamu tidak pernah lelah menjadi inspirasi untuk kita semua.

Sehat dan panjang umur selalu.

Standard
adventure, event, inspiration, motivation, mountain running, sport, story, trail running

Mt. Salak Trail Run. Yuk Ngetrel, Go Trail, Go Outdoor

gotrail

     

Mengapa lari trel?
Seperti juga lari di lintasan, dijalan, atau di gym, tentunya banyak manfaat yang didapat. Rasanya tidak usah lagi saya sebut.
Plus…ya betul. Suasana, udara dan pemandangan yg berbeda dari hari2 yang biasa kita dapat.
Ngetrel bisa dilakukan siapapun. Kapanpun. Sejauh waktu, kesempatan dan cuaca memang memungkinkan.
Jika tidak ya usahakan untuk dimungkinkan. Ya kan?

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Ngetrel bukan juga hanya milik pelari trel elit. Seorang yang baru mulaipun sudah layak menyandang gelar pelari trel.

Sejauh bukan landasan keras, rata buatan, ya trel namanya. Bisa dipematang sawah, jalan setapak antar kampung. Atau kerindangan kebun tetangga dengan kontur naik- turunnya.

Apalagi tentu saja dikehijauan pebukitan, pegunungan. Bahkan pantai.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Bersukur sudah banyak yang mulai lari ngetrel di tanah- air.

Bahkan salah- satu teman komunitas lari lintas alam POLA86 di bandung sudah mulai sejak 1986. Setiap rabu sore. Sampai saat ini. Hebat ya?

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Acara lomba lari trelpun sudah beberapa kali diadakan.

Kedepan ini ada Bromo TenggerSemeru 100 Ultra dengan 3 kategori, 50k, 102k dan 165k.

Tahura trail race 17k  juga sudah didepan mata. Yang digagas teman2 Indonesia Biking Adventure.

Universal Trail Race, MesaStila Ultra, MesaStila Challenge dan banyak lagi. Dan tentunya Mt. Rinjani Ultra.

Bukan hal yg utopis jika tanah- air menjadi kiblat lari trel/ lari trel ultra dunia.

Semuanya tersedia. Mau trek, bukit, gunung yang seperti apa. Semua ada.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Beberapa teman2 lari trel kemarin- kemarin ini berlari trel di gunung Salak.

Salah- satu trek menarik. Juga buat pemula.

Jarak yang relatif pendek, trek yang juga aman tapi luar- biasa heboh.

Trek mulai dari Pasir Reungit sampai Kawah Ratu yang tidak begitu menanjak. Yang kurang- lebih hanya 5-6km.

Seperti biasa, hijau vegetasi khas lereng gunung.

Dengan sungai kecil disamping trek. Memotong dibeberapa tempat.

Dan Kawah Ratu yang memukau.

Kita bisa berlari diatas area kawah. Ada sungai lebar dengan airnya yang jernih. Luar- biasa.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Yuk, kami- kami sudah mulai. Anda kapan?
Sederhana koq, dengan mantra “berjalan saat menanjak, berlari saat menurun” siapapun bisa mulai, menambah jarak dan kecepatan sedikit demi sedikit.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Awal2 ratus meter, bukan hal mustahil dalam hitungan kurang dari setahun Anda sudah bisa lakukan lari trel ultra.

YukNgetrel, GoTrail, GoOutdoor

Salam,

Standard
inspiration, motivation, running, sport, story

Tulisan yang menginspirasi. Dari seorang teman lari. Luar- biasa 🙂

Ini keder pisan postingnya, tapi kubulatkan nyali karena niatnya semata berbagi Dari tadi malem getoooh menjalin kata2 dan menguatkan hati … tsaaaaaahhhhhhh….

Mei 2013 : Obesitas (Penyebabnya banyak lahhhh), berat badan gue 73kg (tinggi 163), kolesterol tinggi, jalan cepet ngos2an dan ya jelas ga kepikir / ga minat lari. Di gue yang nampol adalah hasil cek darah yg nunjukin kolesterol tinggi itu. Apa aja ituuuuu yg udah gue biarin masuk ke badan gue and who am I to ruin this body that God created? Keinget semua obrolan dgn seorang temen yang sangat baik bernama Dewandra Djelantik tentang pola hidup sehat yang sesungguhnya sama sekali tidak berat.
So malem harinya setelah foto itu diambil, gue putuskan untuk ke gym, nyadar badan ini perlu dilatih dan mental ini perlu dihormati. Keinget juga seorang temen yang kece bernama Mia Salim yang terbukti mampu mengalahkan excuses dan kembali fit setelah berbadan dua. I want to be healthy for me and for my hubby, Verno Nitiprodjo. That May 2013, the battle royale, the battle between me and my excuses, finally began. It was gruesome.

Seiring waktu, mindset terbentuk, dan tentunya lemak hilang melalui pola makan yg benar + clean eating, olahraga yg ikhlas (kal0 ga ikhlas jadinya kalah mulu ma alesan2) dengan tetap menjalankan keseharian yang sibuk, seru dan gila… hahahaha, istirahat dengan cukup (6 jam sehari,deep sleep karena olahraga memungkinkan gue deep sleep).

SiskaLalu seiring dgn badan makin enteng, otot2 fungsional mulai bekerja, personal trainer gue, namanya Andreas Susilo, mulai “mempercepat” langkah gue di treadmill ke arah jogging. Berat gue 65 waktu mulai jogging. Awalnya 15 menit dan lama2 sejam. Jadi ya gak langsung lari. Jalan dululah. Makin lama, makin dicepetin pace nya dan jadi lari, dengan waktu dan kilometer yang lebih panjang. Dengan mindset yang juga terus dilatih.

Oktober 2013 : I, 36 yrs old, never been athletic, finish my first 5k race. Not an easy one, but definitely a happy one. I did not run for a medal. I ran for me, with the love of my life. I run to celebrate this life and be thankful to Him. That, wud always be my goals in running.

November 2013: I’m still trying to shred 5kg of fat and gain muscle mass for the sake of being h e a l t h y. And preparing to finish a 10 K next month

Gue masih dan akan tetep banyak nanya ke Dewandra, Mia dan tunduk pada arahan Andreas saat latian. Dalam hal lari, akan selalu berguru pada pelari senior yg gue temui. I can not do this alone. Support paling besar tentunya dari si ganteng Verno.

I know some people out there, prolly my dear friends and family, are in or starting their battle royale. No matter what happened, don’t give up. You are precious. You are strong.

Siska Ws. Nitiprodjo

No matter what happened, don’t give up. You are precious. You are strong.

Aside

Kalem We Lah 😛

design, inspiration, motivation, sketchup

Kalem We Lah :P

Image