image

Advertisements
bakti sosial, berbagi, biking, cerita, cycling, fit, healthy, inspiration, komunitas, motivation, olahraga, renungan, running, sehat, sepeda, sketchup, sport, story, transportasi

Peduli Atas Bumi Yang Hanya Satu Ini

Image
cerita, renungan, story, tulisan

Bapak

Untuk se usia 84 tahun, Bapak terhitung sehat.

Padahal lama sudah tak lagi banyak jalan kaki, seperti terakhir 1995an.

Menata taman dan lingkungan seluas 32 Ha enteng- enteng saja. Selalu berjalan kaki. Dibantu belasan tukang taman.

Sejak matahari menjelang, sampai sebelum magrib. Berhenti hanya saat makan siang dan minum teh sore dan waktu- waktu solatnya.

Luar- biasa suka- suka Bapak akan taman, desain rumah/ bangunan. Padahal Bapak tak bisa menggambar sama- sekali.

Tapi kerap bisa berdiskusi seru untuk urusan desain rumah/ bangunan dan taman serta banyak hal yg berhubungan.

Sejak Bapak di diagnosa ada gangguan jantung, Bapak tak boleh lagi ‘capek- capek’.

Entah memang sedemikian ‘parah’nya atau memang Bapak yg tiba2 saja ‘ malas’ jalan kaki lagi.

Hari- hari Bapak tak banyak berubah, kecuali minus jalan kaki jalan kakinya.

Keluar kamar pertama setiap harinya Bapak selalu sudah terlihat rapih. Selalu sudah mandi. Berhemd lengan pendek/ polo hemd. Polos atau bermotif garis- garis atau kotak- kotak kecil. Yang pasti berwarna cerah. Tak pernah lusuh ataupun kumel.

Celana pendek selutut atau panjang.

Sarapan, baca koran dan berita pagi di tv.

Satu dari banyak hal yang saya suka dari Bapak.

Selalu tampak rapih. Walau seharian dirumah.

Seminggu dua minggu sekali bersama Mmak( panggilan Ibunda) keluar kota. Sekedar nengok salah- satu anak2nya.

Atau bersama teman se usianya, bernostalgia ke perkebunan- perkebunan di jawa barat. Sekali- sekali sampai ke Jawa tengah jawa timur.

Seperti saya, Bapak tak punya pantangan makan. Tapi cukup rapih. Tak kebanyakan menyukai itu- itu saja. Terhitung apik.

Seumur- umur bukan perokok. Apalagi peminum alkohol.

Bapak hanya kenal air putih dan teh hangat tawar.

Bapak yang saya ingat. Jika sekarang, ‘cool’ barangkali adalah ungkapan yang nyaris pantas.

Sejak dulu.

Di usia sudah Bapak- bapak, tahun 75an. Berarti bapak di usia 44an.

Tahun- tahun itu, usia sekian kan biasanya tampil lebih ‘tua’ dibanding sekarang- sekarang.

Bapak- bapak lain biasanya berambut terpangkas rapih. Bapak ikal dengan sedikit lebih panjang.

Umum saat itu banyak keluarga bermobil model sedan, jeep. Bermuatan banyak.

Bapak pakai fiat 850 sport dua pintu.

Maunya malah mini cooper.

Padahal kami anak- anak sudah bertujuh.

Kaka terbesar usia 18an, terkecil 6 tahun.

Lucunya, kami semua, Mmak dan anak- anak mendukungnya.

Bukan karena Bapak ‘memanjakan diri’. Tapi ya memang kami semua suka seperti itu.

Kami semua dekat satu sama lain. Tapii tak berarti sering pergi bersama. Jika ya pastinya dengan kendaraan umum atau yang lebih besar. Sewaan.

Jadi mobil yang sport berpintu dua dan hanya satu- satunya sama sekali tak ‘mengganggu’. Bahkan ya itu tadi, cool 😉 .

” mana lebih seru, 1 mobil yg bisa banyakan, besar, tampil kebanyakan, tapi seringnya dipake cuma Bapak sendiri, atau berdua Mmak, atau paling Kang Denny( kakak laki- laki tertua), atau, mobil kecil, sport 2 pintu yg lucu?”. Pertanyaan Bapak yang tak sulit dijawab oleh semua seisi rumah.

Keesokan harinya sang sport berpintu dua menjadi satu- satunya dikota kami.

 

Tujuh anak, tujuh cara berbeda Bapak menghadapinya.

Setiap orang- tua selalunya akan bersikukuh, tak membeda- bedakan anak- anaknya.

Bagi saya? Rasanya si Bapak lebih deh ke saya.

Apapun.

Bagi Bapak, saya ter. Saya paling tertib, paling pandai. Dan ada saat- saat saya paling nakal, paling bandel. Pastinya ada saat saat saya paling mengesalkan.

 

Sejak kecil saya adalah teman Bapak.

Paling suka sarapan bareng Bapak. Paling suka habiskan makanan Bapak yang karena terburu- buru, tak sempat.

Paling suka menjadi teman Bapak baca koran. Atau mendengar cerita- cerita Bapak dikantor, dijalan.

Mendengar kisah- kisah Bapak jaman baheulanya.

Bapak yang selalu semangat mengajari saya apapun.

Jauh sebelum usia sekolah, saya sudah pandai tulis, baca, bahkan beberapa kalimat inggris dan belanda.

Menggambar apalagi. Yang terakhir bukan Bapak, tapi kaka sepupu saya yang ajari. Pastinya dengan dorongan Bapak.

Tak berkecukupan pada saatnya tak menghalangi Bapak untuk selalu berusaha agar saya mendapatkan apapun yang sebaiknya saya miliki.

Sampai.. saat saya lulus sma,” Ei, Bapak hanya bisa belikan tiket sekali jalan dan sedikit uang untuk makan beberapa minggu. Bapak percaya Ei bisa atasi apapun disana”.

 

Belakangan saya jarang tengok Bapak. Padahal saya lah dari tujuh bersaudara yang tinggal paling dekat dengan Bapak.

 

Saat ini Bapak masih opnam di rumah- sakit.

Jantungnya baik. Asam uratnya pun tak mengkhawatirkan.

Yang di deritanya ‘hanya’ gatal2 sebadan. Merah- merah. Disebagian tangan dan kaki malah seperti melepuh.

Dokter bilang Bapak kekurangan albumin. Mungkin Bapak terlalu ‘Apik’ makannya. Sampai- sampai asupan gizinya jauh berkurang.

Ditambah lagi banyak obat yang diminum. Untuk jantungnya, asam uratnya dan saraf. Bapak belum berapa lama terkena parkinson.

 

Kembali ke saya dan Bapak.

Tak saya maksudkan bahwa Bapak adalah Bapak terbaik di dunia.

Bapak, seperti juga mungkin beberapa Bapak- Bapak lain di manapun, pastinya tak luput dari salah. Tak lepas dari keliru.

Hal- hal yang manusiawi.

Tapi yang pasti, apa yang sudah, sedang dan pasti akan Bapak berikan kepada saya, tak akan pernah terukur.

Ibarat tulisan kisah/ cerita fiksi India, Mahabarata atau Jodha Akbar. Tak akan berakhir sampai ajal menjelang.

Sementara saya ke Bapak, mungkin tak lebih dari satu goresan kecil. Itupun pendek.

Ajal menyapa, tak hanya saat tua, tapi juga saat muda. Tak hanya saat sakit, begitupun saat sehat, gagah nan perkasa. Hanya Tuhan yang tahu..

 

Saya berdoa, semoga Alloh memberikan yang terbaik bagi Bapak. Aamiin.

Saya bukan sedang mendayu- dayu.

Saya ingin mengingatkan diri saya sendiri dan barangkali siapapun.

Saya tak ingin, saat Bapak, jika memang sudah menjadi kehendak Alloh, dijemputNya, tak tiba- tiba menangis meraung- raung sampai terdengar keujung jalan. Menyesali banyak hal. Menyesal tak memberikan apa yang mampu, bahkan jika ya seisi dunia. Padahal saat Bapak masih ada, tak segorespun yang diberikan kepada Bapak.

Pastinya saya akan bersedih. Sedikit terisak mungkin.

 

” Bapak ga usah khawatir lagi. Ei yg selalunya dimata Bapak adalah Ei kecil,yg suka megap- megap saat anfal asma, dulu, duluuu sekali, sudah lama sehat koq. Sudah bisa lari2 lama. Kadang berhari- hari. Sudah bisa lari jauh, bahkan ratus- ratus kilo”.

“Sampai nanti sore lagi ya Pak”.

 

Bandung, Advent pagi hari.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Standard
cerita, cerita, kisah, renungan, renungan, story, tulisan

Bandung- Depok, Obrolan, Pilpres dan Harapan Saya

Jangan2 Akang supir travel ga pake rem. Bandung Depok, tepatnya nyampe stasion Lenteng Agung masa iya cuma 2 jam.
Lom kenyang rasanya tidur.
Seperti biasa, urusan cari2 alamat ga pernah bikin pusing.
Tinggal tanya siapa aja. Toh masih di indonesia indonesia juga. Masih bisa pake bahasa yang gw bisa.
Yg pertama ditanya ga tau ya tanya lagi aja yang laen.
Apalagi temen2 Derby, Depok Running Buddie baek banget, pake mo jemput segala.
Ga ah, buat gw, cari alamat, nyasar ga nyasar adalah juga ‘ petualangan’.
Langsung nyampe Alhamdullillah, nyasar ya juga berkah.
Liat dipeta ternyata ga jauh2 amat ke tkp.
Ga lama turun, langsung cegat taxi. Kebeneran si burung biru. Yg selama ini buat gw paling ok, karena hampir ga pernah nemu yg bau rokok.
” Selamat sore Pak”.
” ohya, selamat sore Pak”.
Beda dengan kalo massage, yg males kalo diajak ngobrol ma yg massagenya( semakin murah tempatnya biasanya semakin banyak ngajak ngobrolnya), di taxi seringnya nikmatin ngobrol ma Kang/ mas/ pak supir taxi.
Kalo ditempat massage, selalunya langsung bilang,” 90 menit ya Pak. Maaf saya pake earphone ya Pak”.
Selalunya sukses ga diajak ngobrol. Walau kenyataannya ga pake earphone juga.
Ohya, yang gw maksud massagenya di panti pijat tuna- netra.
Serius gw lebih duluin massage disini, karena menurut gw mereka emang lebih bisa. Dan kalau juga cari yg setara, biasanya ya harganya 2- 3 kalinya.
Satu lagi, gw bisa bebas ber’ekspresi’. Kan kadang gw gelian. Nah gw pikir gw jadi bebas bertampang aneh karena geli ato meringis- ringis kesakitan tanpa ketauan. Rasanya.
Tapi sekali waktu kejadiannya beda. Masih di panti pijat tuna- netra.
” 90 menit ya. Dan saya mau sambil tiduran”.
” Ya Pak”.
Kali ini ibu2 yg massagenya.
Berapa saat tiba2 si ibu bilang,” Katanya mau tiduran. Koq sms an?”.
“??????”.

Eh dimana kita tadi? Ohya di taxi ya.
Gw mulai nanya.
” bapak sudah punya pilihan?”.
” Saya masih bingung Pak”.
Tadinya gw berharap kang supir dah punya pilihan dan gw pengen aja denger alasannya. Titik.
” Kalau Bapak?”. Doi balik nanya.
Tiba2 aja gw keinget masa2 kecil gw.
1962. Umur gw baru 6 tahun. Sekali waktu gw liat ratusan orang beratribut salah- satu partai. Tereakin yel- yel.. ya partai lah ya.
Kapan lagi tiba2 rumah gw penuh ma ratusan orang beratribut partai lain.
Ya ampun, pada mo apa sih ni orang2?.
Ga tau kenapa, banyak orang di satu tempat, koq yg keinget ato yg gw rasain adalah aura kekerasan.
Pastinya gw salah. Tapi ya itu yg gw rasain.
1965. Babe balik ngantor ribut2,” waduh, jendral2 pada dibunuh!”.
1968. Lagi dimobil, lewat Glodok, abis jemput babe yang pulang naek kereta dari bandung. Tiba2 gw liat anggota tentara lari ngejar orang, terus nyambit belati kearah tu orang.
Untung ga kena.
Ga lama gw liat kakek2 tionghoa jongkok dipojokan nangis2. Muka ma badannya berlumuran darah.
Haduh merinding dan ketakutan yg gw rasain.
Babe gw nenangin, “Ga pa2, kita aman”.
Berikutnya gw liat sepasukan lagi baru turun dari truk. Pada loncat. Tampang garang.
Tau- tau banyak orang pada lari blingsatan ga karuan, dikejar- kejar tentara- tentara.
1969. Gw kelas 6 sd di bandung.
Naek sepeda dijalan Malabar. Masih sepi. Jarang mobil. Palingan sepeda, becak.
Ga tau gw ngelamun ato becak yg salah arah, tiba2 aja ada becak kearah gw. Dan ga tau gimana tau2 der aja tabrakan.
Yg pertama gw pikir cuman, gw kudu pura2 pingsan.
Bukan apa2. Penumpangnya tentara.
Eh ternyata gw salah duga. Doi malah samperin gw, angkat gw ati2,” Ga pa2 Dek?”.
Lah iya lah ga pa2. Emang gw cuma ketakutan aja bakal dihajar abis.
Legaaa.
Oh ada lagi yg kelewat.
Kejadiannya sebelumnya, masih di jakarta.
Berempat ma temen2, balik maen dari nyebur2. Bahasa kerennya renang, di empang bekas galian tanah, sebelahan rumah Bu Haryati, salah- satu istri Bung Karno.
Masuk komplek perumahan, pas lewatin plang bekas. Lupa plang apa. Ga tau siapa yg mulai, tau2 kita pada ambil batu2, lempar ke plang.
Perasaan si jauh dari rumah2.
Eh tiba2 aja ada bapak2 tereak2.
“Hei!Kurang ajar kamu!. Sini!!!”
Wahaha kaget banget.
Sementara gw bingung, temen2 gw pada kabur.
Tinggal gw sendirian. Asli masi bingung.
Dan jleg aja doi dah depan gw. Muka merah. Mencak2.
“Goblog kamu!”.
” lempar2 rumah orang”.
“Ee.. anu.. maaf Om, ga lempar rumah Om. Lempar plang itu Om”.
” plang plang apa?. Rumah saya itu tau?!!”.
Halah nasib, abis ni gw pikir.
Ga diapa- apain si. Tapi gw dibawa kerumahnya. Dinaekin kemobil pick up. Yang baknya pake atap terpal. Gw disuruh duduk dibak.
Pick up berlambang salah- satu angkatan. Di pintunya yg gw liat si.
Trus dibawa ke rumah gw.
Halah mampus lah gw.
Bakal dobel kena omel.
Singkat cerita nyampe depan rumah gw.
Gw ga bole turun. Doi masuk rumah.
Tau2 babe ma nyak gw keluar. Dan ya iyalah, tetangga pada ngerubung.
Asli berasa pesakitan.
” Ei, ayo turun..”.
Ga bisa ditahan lagi, gw nangis.
Masuk kerumah.
Sementara babe ribut ma tu mister galak diluar.
Banyak benernya pengalaman2 gw mirip2 begini.
Tapi satu lagi aja deh.
2011an kalo ga salah.
Makan mie ayam di tb. Ismail Bandung.
Tempat duduknya emang terbuka.
2 meja depan gw ada 2 cewek makan juga.
Ga lama datang 1 pemuda. Gagah. Gw langsung ngira, mesti ni angkatan. Dan berpangkat cukupan. Paling ngga lulusan akabri lah.
Ga gw perhatiin lagi si sampe doi tau2 ngerokok.
Kepikiran usil. Ni orang ga sopan banget, ngerokok didepan 2 temennya yg masi pada makan.
Tapi terus gw lupa2in. Lah temen2nya aja keliatan ga keganggu. Yowis.
Tpi pas doi buang2 abu rokok kelantai, gw berasa terusik.
Ni orang koq ga punya rasa ya. Kan gampang aja minta asbak lah.
Ah tapi gw berusaha ga pusingin.
Tapi terus gw kepikiran. Pokoknya tau2 gw celingak- celinguk cari asbak. Ada lah pas banget dimeja sebelahan doi.
Gw ambil, terus gw sodorin baek2.
“Ini mas, asbaknya”.
Sambil kaget, ” Oh.. ee makasi”..
Bersukur gw bisa ga berasa apa2. Aman2 aja. Ga pake sinis, ga pake gimana. Rasanya tulus.
Tau2 bubarlah mereka.
Selang berapa menit mister gagah nan ganteng balik lagi. Nyamperin gw.
“Tadi maksudnya apa?”
“?????”.
” Iyaa! Tadi maksudnya apppaaaa???”.
Waks, mampuslah awak.
Tau2 plak!!! Mukul pala gw. Tapi gw tangkis.
” Ayo! Situ apa saya? Ini urusan hidup dan mati!!!”.
” Saya angkatan, saya ga terima ini!”.
Doi berusaha geret gw keluar.
Itu Mamang2 tukang dagang ma tamu laen pada ga ada yg misahin.
Halah nasib2. Urusan beginian lagi beginian lagi.
Asli bingung gw, urusan ngasih asbak jadi urusan hidup dan mati.
Gw minta maaf aja ga digubris.
Beruntung, kali dalam situasi kejepit, gw yg biasanya ga bisa ngomong, kali ini jawab terus tapi hati2 jgn sampe juga bikin doi tambah naek pitam, tambah panik tau2 jleb aja gw ditusuk ato apa.
Sambil mikir juga, gimana keluar dari neraka ini.
Oh, kalo ga sala si, gw sempet jawab, ga usah bawa2 angkatan, gw juga keluarga angkatan. Maksud gw kali2 aja jadi melemah.
Ealah malah bikin doi semakin galak.
” Bohong! Mana coba saya lihat buktinya?”.
Gw keluarin lah ktp ato sim gitu.
Jreng!! Tau2 doi melongo.
Terus, ” Aduh maaap Pak, saya koq ngomel2in, bentak2 orang- tua. Maap ya Pak”. Gitu terus berulang- ulang.
Hadeuh..

Eits kelamaan ni keingetannya, soalnya tau2 kelewat jauh tuh tekape.
Sambil cari puter balik, gw sambung jawaban gw.
“Mas, saya sudah punya pilihan. Jauh2 saya sudah punya pilihan. Pilihan saya adalah harapan saya.
Mutlak tentu saja hanya yg diatas yang tau”.
” Doa saya bukan, semoga pilihan saya lah yang terpilih nanti. Tapi semoga yg lebih baik buat bangsa ini yang terpilih.
Nomor satu atau nomor dua, tentunya masing2 punya kelebihan dan kekurangannya.
Siapa pilih siapa pastinya sah- sah saja.
Saya hanya punya harapan sederhana, bahwa kedepan, siapapun yang terpilih, bisa membuat orang2 kecil dan sederhana seperti saya ini merasa aman dan nyaman jika ada/ dekat dengan aparat. Bukan seperti sekarang. Berurusan dengan aparat malah sebaliknya.
Senggolan mobil ato motor ga sengaja dengan aparat malah cari penyakit.
Salah tegur dengan aparat ya sami mawon.
Jadi hal- hal ‘ kecil’ ini saja harapan saya.
Harapan besar2 lainnya biarlah teman2 saya, tetangga2 saya, dan saudara2 saya yg lain saja yg lebih pandai yang punya”.
Pastinya tak semua aparat/ angkatan seburuk seperti cerita saya. Saya yakin sekali.
Tak berniat pamer atau melebih- lebihkan apa2 milik sendiri, gambaran rasa aman yg saya maksud barangkali tak juga berlebihan seperti yang tercermin dibawah ini.
Almarhum mertua saya, saat kami sama2 tinggal di Cirebon, awal tinggal di rumah dinas, masuk ke jalan pas satu mobil, di lingkungan pengusaha2 pasar/ toko etnis Tionghoa.
Mobil dinasnya toyota land cruiser hardtop. Tentunya berwarna dan beratribut/ tanda angkatan.
Sudah menjadi kebiasaan sepertinya, tetangga2 ini berusaha bersikap baik dengan memberi apa2 yg bisa diberikan ke keluarga almarhum mertua. Saya yakin kita makfum yg dimaksud.
Dengan sopan sang almarhum mertua selalu menolak setiap pemberian tetangga.
Sambil berkata, bahwa sama2 saling melindungi adalah kewajiban kita semua. Sipil maupun militer.
Dalam artian melindungi yg benar.

Saat di jatiwaringin mendapat rumah dinas berkamar 4, beliau tukar dengan rumah dinas berkamar 2, jatah seorang lain berpangkat lebih rendah.
Alasannya karena toh beliau tinggali hanya berdua dengan almarhumah mertua perempuan. Sementara seorang lain ini lebih muda dan tinggal lengkap dengan beberapa putra- putrinya.
Saat putri keduanya, di usia mahasiswi baru masuk, meninggal terjatuh dari angkot, dekat rumah. Saat sang supir angkot datang setelah mengantar korban ke ugd, dan mengabarkan berita duka, diluar dugaan kami semua, dengan berusaha tetap tegar, Bapak mertua almarhum memaafkan sang supir dan meminta dengan tegas kepada siapapun yang hadir untuk tak menyentuh sang supir seujung rambutpun .
Padahal tetangga sekomplek, apalagi anak2 mudanya, sepertinya sudah siap2 menelan sang supir angkot.

Harta yg dimiliki adalah sebenar- benarnya dari slip gajihnya. Saat almarhum meninggal, yang ditinggalkan adalah rumah titipan/ dinas dan uang tak seberapa dari tabungannya.
Sekali lagi, semoga yang lebih baik buat bangsa inilah yg terpilih nanti.
Dan semoga almarhum dan almarhumah mertua saya mendapat tempat yg layak disisiNya. Dan diampuni segala dosa dan kesalahannya. Aamiin.

Standard
berbagi, event, inspiration, komunitas, olahraga, renungan, running, sport, story, tulisan

BandungJakartaRun4Leukemia

wpid-p6130011.jpg

Awal 80an berangan- angan, sekali seumur- hidup turut dalam lomba lari 10k. Kekaguman saya akan olahraga lari mengalahkan kekaguman saya akan olahraga2 lain, apapun yang menggunakan alat.
Apa daya, asma & bronkhitis bawaan sejak lahir menjadi penghalang. Setidaknya begitu yang saya fahami selama itu.
Awal 2010 adalah lari ‘serius’ saya pertama.
Selanjutnya, kecintaan saya akan lari semakin besar. Dan ‘mengalahkan’ penghalang saya.
Sepertinya kapanpun saya siap untuk berlari puluh bahkan ratus kilo.
Haruskah? Tak mesti tentunya.

wpid-p6130022.jpg
10-30 menit berlari dalam sehari sudah ‘memenuhi’ untuk sehat.
Tak hanya untuk sehat sendiri, berlari ternyata bisa untuk banyak hal positif lainnya.
Misalnya, seperti yang dilakukan teman2 yg baru saja semalam, 13 juni 2014 lalu, memulai lari bandung- Jakartanya. Berlari untuk adik2 penderita Leukemia.
Diharapkan finish menemui adik- adik kita pada tanggal 15 juninya.

wpid-p6130031.jpg
Berlari sebagai bentuk kepedulian mereka akan penderitaan adik2 ini. Akan orang2 disekitar adik2 ini.
Berlari sebagai bentuk kepedulian terhadap sesama. Adik2 kita diantaranya.
Semangat teman2. Tetap sehat. Selamat sampai tujuan. Dan kembali ke Bandung.
Terimakasih tim pesepeda, motor & mobil pendukung. Terimakasih League, PocariID, SAB. Terimakasih semua teman- teman komunitas lari tanah- air.
#bdgjktrun4leukemia

wpid-p6130051.jpg

wpid-p6130065.jpg

wpid-p6130070.jpg

Standard
cerita, cerita, kisah, renungan, inspiration, kisah, motivation, olahraga, renungan, running, sport, story

Lebih Baik…. Lari

Belum terlalu siang, beberapa tahun lalu. Baru selesai lari dapat kabar ayah saya masuk ICU. Bandung diakhir minggu, macetnya, seperti yg sama2 kita tahu, ga lucu.
Menunggu yang lain mau berangkat sama2 koq rasanya seperti keabadian.
Tak pikir panjang saya lari ke Borromeus. Ya berlari.
Saat sampai dan melihat sanak- saudara berkumpul, saya baru sadar, ya ampun, saya pasti kena omel, gerutu dan omongan. Berulang- ulang, setiap mereka melihat saya berkostum lari.
” Hati- hati Kang, ingat umur”.
“Jangan maksain”.
“Jalan aja jalan. Lari mah atlet kali”.
Dan banyak lagi.
Itu satu. Dan baru sadar berikutnya adalah, apa kata Ayah nanti?.
“Duh ti- ati Ei( panggilan sayang Ayah ke saya). Harus ingat keselamatan. Umur kita kan sudah ga muda lagi”. Dan entah apalagi.
Perkiraan saya akan seperti itu.
Tapi, ya itu tadi, nasi sudah menjadi bubur. Kalau kata Aa Gym, jgn disesali, lebih baik buburnya kasih saja cakue.
Saya sudah melangkah masuk ke ruang icu, tak ada waktu lagi berfikir itu- ini.
Saya: “Salam Pak”.
Bapak: “Eh Ei. Abis lari?”.
Saya : ” Eu eu iya Pak. Anu.. dikit, bentar aja. Tadi .. eu buru2..”.
Bapak : ” Ya asal ati- ati aja. Semoga Bapak ga apa2 ni. Tapi kalo bisa milih, memang lebih keren mati karena lari daripada mati karena penyakit”.
Saya : ” ???????”.
Semoga Bapak selalu diberkahi sehat dan bahagia. Aamiin.

Standard
cerita, event, inspiration, kisah, komunitas, motivation, renungan, story

Belajar Menulis Dan Belajar Berbagi

Tak sedikit kisah2 yang luar- biasa, menyenangkan( sudah pasti), dan mengharukan sepanjang berkegiatan di komunitas yang saya ikuti.
BatagorDotNet salah- satunya.
Tak hanya tempat dimana saya belajar tulis- menulis. Tapi juga tempat saya belajar berbagi.
Mulai dari Bebersih Bandung Yuk, acara pungut- pungut sampah. Jilid satu sampai kalau tak salah sampai sembilan.
Bergantian di beberapa titik lokasi dikota.
Buka puasa bersama saudara- saudara kita yang kurang beruntung.
Kunjungan ke adik- adik Sekolah Luar Biasa di Banjaran. Sambil juga berbagi kebutuhan/ keperluan mereka. Buku- tulis, bacaan , alat musik dan beberapa komputer desktop.
Berbagi ke korban banjir Bale Endah.
Makan siang dan bagi2 buku tulis/ bacaan bersama 32, seratus, dua ratus adik2 dari berbagai Rumah/ Yayasan Yatim- piatu.

Bedah Gubug, bantuan membangun rumah- tinggal seluas 41m2 dua lantai untuk seorang penjaga kebersihan makam serabutan. Dengan 1 istri dan 1 anak usia SMK.
Dibangun mulai dari nol.
Alhamdullillah, walau namanya Bedah Gubug, adalah rumah permanen berdinding tembok dilantai dasar. Dan dinding fibercement dilantai atas.
2 kamar mandi, 1 dapur kecil dan 3 kamar tidur.
Satu kamar dilantai atas untuk si Bapak dan Ibu. Satu kamar, juga diatas untuk sang anak . Dan satu kamar dilantai dasar untuk dikontrakan. Diharapkan bisa membantu memenuhi kebutuhan hidup hari- hari.
Dibangun selama 3 bulan. Mulai dari beberapa ratus ribu rupiah, sampai akhirnya rumah selesai mencapai 21 juta rupiah

Bersambung….

Standard
cerita, inspiration, kisah, motivation, olahraga, renungan, running, sport, story, trail running

Yuk kawan, kita lari

image

Tentu saja Nadine tahu sekali bagaimana mengikat tali sepatu trelnya dengan benar. Seperti yang selalu dengan penuh semangat Nadine ingatkan ke siapapun, yang kedapatan tali sepatunya lepas.
Lipat masuk simpul tali sepatu yang sebelah kanan kedalam bulatan simpul tali pertama. Sekarang lipat, masukan juga lagi simpul tali kirinya. Tarik perlahan sampai benar- benar terikat kuat.
Demikian yang Nadine ingat dari yang pernah dia baca dan lihat disalah-satu majalah lari.
Simpul tali sepatu yang tak mudah lepas untuk lari- lari agak sedikit jauh. Bahkan lari trel sekalipun.
Sekali lagi dia periksa, apa- apa yang mungkin belum ada. Setelah sebelumnya sedikit lap- lap badan ala cowboy, makan dan minum sekedarnya, sikat gigi. Mematut- matut diri dicermin kamar.
Lipatan uang sepuluh ribu dan telpon selularnya sudah di saku tas dipinggangnya. Beberapa potong coklat kacang sebagai bekal disiapkan. Juga botol plastik air ramah lingkungannya.
Sebagai penyuka kegiatan luar- ruang tentunya pantas jika lebih lagi peduli lingkungan.
Sekali lagi tersungging senyum dibibirnya. Bangga akan kepeduliannya. Walau mungkin baru sedikit yang dia tahu soal isu lingkungan.
Tak apa. Toh sudah dimulai.
Seperti biasa Nadine memakai celana lari pendek dan atasan yang menurutnya nyaman dan berwarna cerah.
Nadine membiasakan untuk tak terlalu tebal berpakaian.
Kali inipun tanpa jacket. Cukup dengan mulai menggerakan badan, hangatpun didapat.
Tiba- tiba teringat nasehat sang paman. ” Nneng hati- hati. Jangan jauh- jauh. Jangan banyak- banyak larinya, pakai jacket”.
Seperti biasa, Nadin tersenyum saat menjawab,” ya Mang, nuhun”.
Ah si Mmang baik- hati ini. Jangan- jangan harusnya lebih menghawatirkan dirinya sendiri. Makan tak kenal pantangan. Apapun disikat. Jeroan, gorengan. Sate kambing yang selalu harus bergajih. Jangan ditanya kalau sudah mendapatkan gulai kepala kambing. Utuh. Ya utuh sekepala. Asyik- masyuk, sampai- sampai tak lagi dapat dibedakan mana kepala kambing dan mana kepala si Mmang. Dan tentu saja nasi putih yang banyak. Sementara tak pernah sekalipun terlihat berolah- tubuh.
Semoga Mmang selalu sehat.
Udara dibulan januari memang agak dingin. Terkadang pagi- pagi hujanpun sudah menjelang.
Satu lagi godaan yang tak kecil untuk tetap ditempat tidur.
“Tidak!, saya harus menang. Saya harus bisa mengalahkan kemalasan ini”. Demikian Nadine seringkali meyakinkan diri- sendiri.
Semakin besar godaannya semakin besar dia melawan.
Jalan kaki keluar komplek rumahnya. Beberapa ratus meter. Kemudian belasan menit dengan angkutan umum kearah utara kota.
Gerbang kawasan wisata alam di utara ini memang tempat Nadine memulai lari- lari trelnya.
Sepuluh menit pemanasan sebelum mulai tak lupa dilakukan.
Pemanasan tak kalah penting. Lagi- lagi Nadine mengingatkan diri- sendiri.
” Nneng geulis, lumpat deui?”. Si bibi pemilik warung dengan sapaannya yang lucu dan menyenangkan.
” Sumuhun Bi. Mangga”.
Tanah licin mengawali trek lari trelnya. Sisa- sisa hujan semalam cukup membuat Nadine melangkah lebih hati- hati lagi.
Baru beberapa puluh ayunan kaki dingin pagi sudah tak terasa lagi. Sebaliknya, keringat mulai menetes dari dahi dan sekujur badannya.
Agak terengah juga diawal- awal. Tapi sudah selalu semakin baik dari sebelum- sebelumnya.
Trek lari ditengah kehijauan hutan pinus selalu menyenangkan. Tak pernah membuat bosan. Sepertinya setiap langkah adalah hal yang selalu baru. Berapa kalipun diulang.
Mata yang selalu harus awas melihat kemana kaki melangkah. Pijakan mana yang dipilih. Pada saat yang sama harus juga awas akan batangan atau dahan pohon yang melintang tepat seketinggian kepala.
Lebih- lebih lagi diturunan. Beberapa langkah berikutnya harus sudah diperhitungkan.
Satu kali terpleset dipijakan pertama kerap diikuti oleh terpeleset dipijakan berikutnya.
Apalagi dibebatuan yang licin.
Beruntung jika hanya goresan kecil pendek dikaki.
2km sudah. Seperti yang dia lihat di jam lari bergpsnya. Berarti 3km lagi sampai puncak.
Trek semakin menanjak. Semakin membuatnya terengah- engah.
Sesekali Nadine minum dari botol airnya.
Tak mesti banyak sekaligus.
Nadine lebih memilih beberapa teguk setiap lima- belas menit. Tak banyak. Sekedar tak dehydrasi.
Sedikit berlebih minum air menyebabkan bengkak dikaki.
Hutan pinus sudah lama terlewati.
Sudah mulai vegetasi khas punggungan gunung berkawah.
Bau belerangpun sudah mulai tercium.

Ketukan dipintu kamarnya menghentikan tulis-menulisnya.
“Itcha, sudah bangun sayang?”
“Ya Mama”.
“Mau Mama mandikan sekarang?”
“Sebentar lagi Mama”.
Itcha menghela nafas.
Termenung. Memandangi kedua kakinya yang kecil karena memang lama tak bisa digerakan.
Demam tinggi di usia balita adalah penyebab kelumpuhannya.
Seperti setiap pagi di hari- hari sebelumnya, adalah saat- saat menyenangkan baginya untuk menulis.
Menulis, kegiatan sejak beberapa tahun lalu. Sejak sebelumnya mengikuti dunia lari- berlari dikotanya.
Berlari belakangan memang sedang menjadi
trend. Tak hanya di ibukota. Juga di kota- kota lain.
Lomba lari sudah hampir setiap bulan diadakan.
Dan tentang lari- berlarilah kebanyakan tulisan- tulisannya.
Itcha kembali ke Note 8nya. Sedikit melanjutkan tulisannya.
Membayangkan, bagaimana indah dan menyenangkannya, berlari dikesejukan hutan pinus. Saat jutaan yang lain masih tertidur lelap.
Dunia seakan hanya miliknya sendiri.
Berbagai inspirasi menari lincah dalam benaknya. Seperti yang tak berkesudahan.
Pada saat yang sama mata yang harus awas mengawasi setiap pijakan kakinya.

Beberapa tahun belakangan Itcha tak lagi bersedih dengan keadaannya.
Itcha percaya, semua hal di dunia tentu ada maksudnya. Begitu juga dengan kelumpuhannya.
Jika kebahagian bagi yang lain adalah harta yang banyak, kesehatan jasmani, putra- putri yang sehat menggemaskan dan lain sebagainya.
Kebahagian bagi dirinya adalah menerima dan bisa berdamai dengan kelumpuhannya. Menerima ketidak- mampuannya untuk berlari.
Seperti yang pernah menjadi impiannya, sekali dalam seumur- hidup mengikuti lomba lari 10 k.
Kebahagian baginya yang lain adalah mendapatkan cara untuk mengingatkan siapapun untuk tak menyia- nyiakan kesempatan yang ada.
Dengan menulis.
” Saat berlari menjadi impian yang tak pernah terwujud bagi orang- orang seperti aku, jangan sampai terjadi bagi orang- orang yang lebih beruntung”.
Tak berolah- tubuh padahal ingin, tapi tak kesampaian karena hambatan adalah kewajaran.
Tak berolah- tubuh karena kemalasan padahal bisa dan di mungkinkan adalah kebodohan.

Standard