berbagi, fit, healthy, running, sehat, sport, trail running, tulisan, ultra running, ultra trail running

I’m Saving My Life

image

Satu tahun kemudian lari2 setiap hari masih sebagai therapi asma saya.
Artinya jika dijalankan Alhamdullillah asma tak menyapa.
Asthma controller pun bisa dikesampingkan.
Sebaliknya, jika tak dilakukan rutin, seperti yg saya coba belakangan ini, dgn niat agar tak terlalu bergantung pada lari- berlari, Alhamdullillah ketemu lagi:)
Dan asthma controllerpun ambil alih kendali.
Tak ketinggalan sang inhaler urun rembug untuk setiap serangan yg ‘berhasil’ lolos dari sang asthma controller.
Serangan yang lumayan menguras tenaga. Serangan yang meluluh- lantakan pertahanan diri.
Saluran nafas yg menyempit, menyesakkan dada, amat sangat dekat pada  cekikan yang mematikan.
Seringkali membuat saya heran dan takjub; anak- anak pengidap asma. Bagaimana usia- usia kanak- kanak mengatasinya, jika se usia ‘dewasa’ saya saja sudah dibuat repot.
Sedikit berbeda , dan harus saya syukuri, jika tak dikatakan ‘kemajuan’ adalah, sekarang saya bisa kurangi porsi larinya ke separuhnya. Jadi dari yang selalunya 10k, menjadi 5k setiap hari. Alhamdullillah.
Artinya saya tak terlalu tergantung sekali dgn angka 10k.
Tak berarti saya tak suka banyak- banyak lari.
Sebaliknya malah.
Saya sukaaa sekali lari. Saya jatuh cinta kepada lari.
Lari, olah tubuh, aktifitas luar ruang, yg, pada dasarnya mengandalkan hanya badan/ tubuh kita saja.
Keren.
Lari.
Saat saat saya merasa ‘peduli’ dengan jiwa dan raga saya. Saat saat saya pribadi. Me time.
Saat saat saya menemukan ilham, ide, inspirasi. Hal- hal yang mencerahkan.
Saya rindu akan lari- lari jauh saya. Sendiri atau bersama yang lain.
Belasan k, half atau bahkan fullmarathon.
Apalagi lari- lari ultra.
Spontan lari keluar kota. Lari- lari muncak gunung. Atau membelah pulau, dari pantai diujung yang satu, ke pantai diujung seberangnya.
Jadi saya beruntung sekali. Jika memang lari adalah therapi asma saya, maka dengan amat sangat senang sekali saya lakukannya.
Rupanya ada hal lain yang harus saya pelajari.
Belajar untuk tetap terhindar dari kambuhnya asma tanpa terlalu bergantung kepada lari- berlari.
Jadi jika pun toh saya lakukan lari- berlari saya, memang karena menjaga sehat dan suka saya.
Bukan karena hanya menghindari kambuhnya asma.
Semoga saya dimudahkan untuk mencoba tetap bisa berlari, sampai tak mungkin lagi.
Aamiin.
Salam:)

Standard

image

bakti sosial, berbagi, biking, cerita, cycling, fit, healthy, inspiration, komunitas, motivation, olahraga, renungan, running, sehat, sepeda, sketchup, sport, story, transportasi

Peduli Atas Bumi Yang Hanya Satu Ini

Image

image

biking, cycling, fit, healthy, olahraga, sehat, sepeda, sport, tulisan

GoWest!

Image
adventure, biking, motivation, olahraga, sepeda, sport, transportasi, tulisan

CYCLE AND SHOOT!

cycling

Not only does it run smoothly in the middle of traffic, it’s also pretty much boundless. Even motorcycle could be troubled by some neighbourhood portals. The only obstacle you could have is when you have a flat tire. And even then you can just walk it without having to face too much pity looks from people.

image

Gone are the days of having to worry you left your license an registrations or having to queue in a long line for gas. It’s also unquestionably healthier, you’re doing the environment a favor by cutting back on pollution. And that is one of the things that make cycling cool.

VIRB Picture

My daily activities involve a lot of moving around, walking, running, you name it. I only drive once in a little while, when i really have to.

image

Not that i dont like it, and not because i can’t. I’m pretty badass at driving. Just that the traffic’s been a pain in the behind, even more so lately, it takes away all the fun and thrill of driving. It’s just not worth it anymore.

If i may add, whether you’re running or cycling, it would be much more fun if you also take pictures along the way. Be it the sceneries, corners of the town or even some selfies.

But if you’re really into cycling or interested on trying and also happen to have the budget, Garmin Virb could be the right choice. It ranges about 4-5 Mio, with an extra 1-5 mio you could get some more than decent camera. Trust me, it’s worth it.

 

My bike is about 4,7 mio, but i’m lucky enough to endorsed for it, thanks Kang :). It’s a Polygon, flatbar road bike 50 in size, Helios F1.

I have no plans on upgrading it just yet, unless for maintining purposes, such as lamps, pumps etc.

You can just stick a camera on the helmet and you’re ready to capture some moments of your trips. Not only manually, but we can set it in advance, we can even set it with the Time Laps feature. So you don’t have to be connected to any desktops.

virbonbar

You can even pair it with smartphones and other gadgets, i did mine on a Fenix2. I could control it with Fenix2.

image

I could even use my smartphone as the Virb’s viewfinder.

 

it stays on for 3 straight hour. You can bring some powerbank along with you if you think that’s not long enough. Did i mention that it’s waterproof? It could go down to 50m under.

Ok that’s it from me i guess, see you guys

again later. Have a great Monday.

Bahasa.

YUK GOWES, YUK VIDEO & FOTO- FOTO

Tak hanya melaju lancar ditengah kemacetan kota. Tapi juga hampir selalu tak ada rintangan. Motor saja takluk oleh portal.

Saat tak diharapkan ada gangguan, ban kempes/ bocor, selalunya bisa diatasi seketika. Ataupun jika karena satu dan lain hal harus didorong, tak begitu membuat orang lain yang  melihatnya merasa iba.

Tak pusing dengan ‘ketinggalan’ surat- surat kendaraan atau ijin mengemudi, tak kesal dengan antrian di spbu.

Jangan lagi ditanya soal lebih sehatnya, andil dalam mengurangi polusi. Dan banyak lagi. Tak boleh ketinggalan disebut, tampil lebih keren.

Bukan karena merek dan harganya, tapi karena bersepedanya.

Aktifitas saya sehari- hari berurusan banyak dengan bergerak. Jalan, lari, ber ‘angkot’, berkendaraan umum. Sekali- sekali, jika harus, walau selalunya saya hindari,   stir mobil sendiri.

Bukan tak suka. Sampai detik ini saya masih suka dan bisa memacu cepat mobil. Dan yakin masih lincah bermanufer.

Urusan mobil, saya agak- agak lumayan lah. Jika tak dikatakan ‘bisaan euy’ .

Saya bisa mudah dan lincah bermanufer saat parkir. Baik parkir satu baris ditengah- tengah diantara dua mobil. Dengan ruang yang pas.

Atau jika harus melaju mundur. Saya bisa mengemudi lurus mundur berkilo- kilo dengan kecepatan maksimum mundur. Di trek lurus maupun berkelok- kelok.

Soal ngebut? Jangankan saya, Bapak, jika bukan karena larangan yang disebabkan gangguan jantungnya, di tikungan- tikungan Alas Roban, puncak pas, tiga kendaraan didepan disikat dengan sekali injakan pedal gas. Diijalan jalan tol? Ya apalagi.

Urusan rambu- rambu lalulintas? Ijin mengemudi saya dapatkan melalui test teori dan praktek.

Sampai- sampai Ibu- Ibu, Bapak- Bapak polisinya manyun. Yang mereka pikir barangkali,”Ni orang kalo ga  pelit- pelit amat, ya kere. Koq ya mau repot- repot ikut test segala”.

Kemacetan yang semakin menggila dimana- mana tak lagi mengasyikan untuk stir kendaraan sendiri.

Merasa bodoh jika harus gas rem gas rem setiap sekian detik.  Merasa lebih bodoh lagi dengan  mobil bertransmisi manual. Gas kopling rem, gas kopling rem. Amit- amit.

Asyik- asyik dan ga asyik- asyiknya berkendaraan, apapun, sudah cukuplah ya.

Saya mau tambahkan.

Berlari atau kali ini temanya bersepeda, lebih mengasyikan lagi dengan ambil- ambil foto diantaranya.

Entah pemandangan, entah suasana dibeberapa pojokan kota. Selfiepun tak masalah.

Dengan smartphone yang hampir dari kita semua punya tentunya cukup.

Tapi jika, sekali lagi jika, punya anggaran untuk sepeda seharga lebih dari anggaran satu action camera. Semisal Garmin Virb, layak jadi pilihan.

Dikisaran harga 4-5an juta, dengan tambahan 1-5 jutaan lagi, jadi total antara 5 sampai 10 juta, kita sudah bisa gowes beraction camera.

Percayalah, asyik- asyiknya melampaui asyik- asyiknya ‘gowes tok’ beranggaran jauh diatasnya.

sepeda saya, ( beruntung ada yang memfasilitasi, terimakasih Kang 🙂 , berharga 4,7an juta. Polygon, road bike( flatbar) berukuran 50, Helios F1.

saya niatkan untuk tak akan saya tambah atau tingkatkan, kecuali yang memang harus. Semisal lampu, pengaman dan pompa.

Ditempel dengan dudukan berlem kuat( bawaan asli virb), atau dipasang di stang dengan bracket khususnya, atau pada helmetstrap, virb siap mengabadikan laju- laju gowes kita. Atau apapun lainnya.

Video atau foto.

Tak hanya secara manual, tapi bisa dengan interval yang sebelumnya kita setting. Dengan waktu- waktu tertentu. Yang sekaligus adalah fitur time lapsnya. Jadi tak lagi kudu di oprek di desktop.

Bahkan bisa dipasangkan dengan smartphone dan gadget lain, semisal jam bergps. Pada saya adalah Fenix2.

Play/ pause/stop bisa dilakukan di fenix2 saya.

Saat tangan bebas. Berhenti misalnya, dengan sang action camera tetap bertengger di helm sepeda, saya bisa jadikan smartphone saya sebagai  viewfinder sang  virb.

Saya bisa melihat apapun yg dilhat sang virb, dilayar smartphone saya.

Begitu juga dengan play/ pause/ stop dan setting virbnya.

Canggih ya? Iya lah 🙂 .

Berbattery tahan 3an jam, jangan- jangan penggowesnya yang kalah kuat 😉 .

Dirasa kurang? Powerbank berkapasitas belasan ribu miliampere seharga ratus ribu sudah cukup untuk suplai tenaga tak hanya untuk virb kita, tapi juga fenix2 dan smartphone saya sekaligus.

Tak khawatir kehujanan, action camera kita ini tahan air sampai kedalaman 50 meter.

Tanpa casing khusus.

Apalagi ya?

Kapan- kapan saya sambung lagi. Ok?

Terimakasih garmin indonesia , eiger adventure dan siapapun yang telah mendukung lari-lari, gowes- gowes dan video- video/ berfoto- foto saya.

Selamat siang, selamat hari senin.

Salam lari dan gowes 🙂

 

Hak sebagian gambar ada pada http://www.dcrainmaker.com/2013/12/garmin-depth-review.html dan Kang Vincent

Standard
fit, healthy, sehat, sport, transportasi

Saya Dan Sepeda

Gowes

Selain berlari,sudah lama saya menyukai sepeda. Bahkan jauh sebelum suka lari.

Sejak usia kuliah, sepeda tak hanya saya sukai tapi bagi saya koq tampil smart ya. Keren sudah pasti.

Terkesan ‘melek’  lingkungan. Dan ‘melek’ kesehatan.

Saat smp adalah saat saya gunakan sepeda sebagai transportasi. Rumah- sekolah, rumah- sekolah.

Sma sudah tidak lagi.

Kuliah kembali saya bersepeda. Mobil sendiri? Saya sengaja tak buat sim agar saya tak tergoda untuk membelinya. Yang termurah, terbutut sekalipun.

Beruntung, ternyata memang uang sayapun tak pernah cukup untuk itu 😛 .

7, ya tujuh buah sepeda pernah saya miliki ditahun- tahun awal kuliah.

Tunggu dulu, tujuh sepeda saya ini bukan sepeda- sepeda kinclong berharga setara belas, puluh juta sekarang.

Tapi setara seratus- duaratus ribu rupiah masa kini.

Itupun bukan beli tapi hasil memulung di beberapa tempat buangan barang- barang rumah- tangga.

Harga barunya tak lebih dari 1 jutaan nilai sekarang.

Sepeda- sepeda biasa.

Saya sampai punya daftar jadwal ‘buangan’ area/ lokasi mana saja sekota  tempat saya tinggal.

Tak sombong sayapun suka ‘membuang’.

Bedanya, seringkali buangan mereka- mereka rusaknya tak banyak. . Oprek- oprek sedikit, kembali lagi berfungsi.

Sementara buangan saya, lebih banyak rusaknya daripada masih baiknya.

Terkadang dalam hitungan belas menit,barang buangan tetangga  sebelah. ya persis sebelah saya sudah menjadi penghuni baru rumah sewaan saya.

Sedikit ganti kabel rem atau sambung rantai yang putus sepeda- sepeda banyak tadi sudah siap saya jual ke teman- teman kuliah atau tetangga seharga senilai tadi. Apalagi jika mau sedikit repot, semprot warna- warna pastel atau mat, setara 50an ribu rupiah lagi siap saya  kantongi.

Bernilai ekonomis dan menghibur 😉

Setelah dengan tak terlalu serius  tahunan menabung saya berhasil memiliki sepeda idaman. Walau belum seutuhnya. Maksudnya memiliki sebagian dari sepeda idaman saya. Framenya saja. Asli buatan Itali. Dengan ukuran yang sesuai dengan tinggi badan, selangkangan, jangkauan tangan dan ukuran- ukuran lainnya saya.

Road bike. Berwarna merah. Merah sekali. Dengan Seat Tube( batangan vertical persis dibawah sadel) yang tergunting, karena jarak roda( kelak jika sudah bertambah lagi pangkatnya) yang lebih dekat. Peruntukan Time Trial. Triathlon. Kereen.

Lamunan saya naik pangkat. Dari yang semula hanya pandangan yang berulang- ulang pada katalog, kini pada sebuah sep eh frame. Frame sepeda yang sebenarnya.

Frame yang bisa saya sentuh. Bahkan dibawa tidur.

Tak lagi saya harus menanggung malu karena keseringan melihat- melihat tanpa beli.

Beruntung penjaga- penjaga toko sepedanya ramah( atau mungkin kasihan kepada saya?).

Beruntung juga mereka tak kenal ungkapan dari trayek angkot di Bandung,  ” Sukajadi – Kiaracondong, liat- liat dari tadi, beli dong!”

Lebih ramah lagi tentunya setelah akhirnya ada sesuatu yang saya beli.

Saya yakin mereka bernafas lega. Akhirnyaaaa

Cukup lama sampai terbeli lagi bagian- bagian  lainnya. Groupset. Shimano 105 adalah juga groupset idaman saya.

Hub depan belakang( as roda), jari- jari, rim(velg), ban, sadel, stang dan bagian- bagian kecil lainnya pun menyusul.

Alhamdullillah.

Semua saya beli di toko sepeda yang sama, tempat saya melihat- lihat dalam keabadian. Tempat dimana saya akhirnya membeli bagian pertama sepeda idaman saya.

Tak selalu lebih murah dari toko- toko lain. Tapi tak etis melihat- lihatnya disini, belinya koq disana. Ya kan?

Setiap hari, dari berangkat pagi sampai pulang sore. Terkadang malam. Tak terputus saya bersepeda.

Tak tercampur dengan transportasi lain. Kecuali darurat, yang sepeda bisa saya masukan kedalamnya.

Banyak tahun berselang. Bersepeda lagi saat saya banyak di Bsd dan Bintaro. Relatif dekat. Beberapa bulan.

dari pagi puku;l 9 sampai menjelang magrib.

Sepeda pinjaman.

Bsd- Karawang adalah pengalaman bersepeda terjauh saya.

Sudah lama sekali.

Beberapa hari belakangan  saya agak menginginkan bersepeda. Bukan sepedanya, tapi sebagai pengganti transportasi saya sehari- hari.

Selama ini saya nyaman- nyaman saya berangkot. Kecuali jika ada yang merokok, dan jika terburu- buru, macet- macet kotanya.

Jadi kali ini disamping penyebab pertamanya adalah sebagai transportasi hari- hari, bukan hanya digunakan diakhir minggu. Sebenarnya dari senin sampai jumat. Dan bisa jadi sabtu dan minggu juga.

Ada satu hal lagi.

Yang sudah- sudah seperti juga barangkali Anda, saya suka segala yang serba baik, indah, keren. Dan biasanya mahal.

Kali ini ada tantangan yang lebih menggoda.

Jika ya saya putuskan untuk punya sepeda. Maka akan bermerk lokal, semurah mungkin, standar, tak akan saya ganti atau tambah apa- apa kecuali karena rusak atau yang memang harus. Semisal helm, lampu jika belum ada. Pedal tetap akan saya pakai yang bukan clet misalnya. Sepatupun demikian. Harus bisa hanya pakai sepatu lari saya.

Bahkan kostum sepedanyapun akan saya pakai kostum lari saya 😛

Pucuk Dicinta Sepeda Nyamperin.

Tak mimpi tak berfirasat, tiba- tiba ada yang menawari saya untuk memakai sepeda.

Road bike, Lokal. murah, standar.

Koq ya klop semua ya.

Alhamdullillah( lagi).

Jadi…yuk gowes….

Tak hanya diakhir pekan, tapi juga sebagai pengganti sebagian transportasi. Jika mungkin setiap hari.

Terimakasih tak terhingga kepada yang memakaikan saya  sepeda 🙂

Bandung, Maret 2015.

Standard
komunitas, motivation, olahraga, running, sport

Ameng Atuh Ka Bandung..

image

“Ameng Atuh Ka Bandung”..
Tak hanya tempat belanja baju & celana, jalan2 suka2, jalan kaki atau pake sepeda(punya sendiri atau sewa),  kuliner dimana saja( dari kali-lima sampai resto/ cafe yg gaya),  bandungpun ramah bagi yg suka olahraga.
Dari lintasan Pajajaran sampai lapang Saparua. Dari Lapang Upi sampai Sorga
http://www.infobdg.com/v2/6-jogging-track-di-bandung/ #explorebandung #infobandung #pemkotbandung

Standard
berbagi, event, inspiration, komunitas, olahraga, renungan, running, sport, story, tulisan

BandungJakartaRun4Leukemia

wpid-p6130011.jpg

Awal 80an berangan- angan, sekali seumur- hidup turut dalam lomba lari 10k. Kekaguman saya akan olahraga lari mengalahkan kekaguman saya akan olahraga2 lain, apapun yang menggunakan alat.
Apa daya, asma & bronkhitis bawaan sejak lahir menjadi penghalang. Setidaknya begitu yang saya fahami selama itu.
Awal 2010 adalah lari ‘serius’ saya pertama.
Selanjutnya, kecintaan saya akan lari semakin besar. Dan ‘mengalahkan’ penghalang saya.
Sepertinya kapanpun saya siap untuk berlari puluh bahkan ratus kilo.
Haruskah? Tak mesti tentunya.

wpid-p6130022.jpg
10-30 menit berlari dalam sehari sudah ‘memenuhi’ untuk sehat.
Tak hanya untuk sehat sendiri, berlari ternyata bisa untuk banyak hal positif lainnya.
Misalnya, seperti yang dilakukan teman2 yg baru saja semalam, 13 juni 2014 lalu, memulai lari bandung- Jakartanya. Berlari untuk adik2 penderita Leukemia.
Diharapkan finish menemui adik- adik kita pada tanggal 15 juninya.

wpid-p6130031.jpg
Berlari sebagai bentuk kepedulian mereka akan penderitaan adik2 ini. Akan orang2 disekitar adik2 ini.
Berlari sebagai bentuk kepedulian terhadap sesama. Adik2 kita diantaranya.
Semangat teman2. Tetap sehat. Selamat sampai tujuan. Dan kembali ke Bandung.
Terimakasih tim pesepeda, motor & mobil pendukung. Terimakasih League, PocariID, SAB. Terimakasih semua teman- teman komunitas lari tanah- air.
#bdgjktrun4leukemia

wpid-p6130051.jpg

wpid-p6130065.jpg

wpid-p6130070.jpg

Standard
event, Hash, komunitas, mountain running, olahraga, running, sport, trail running

Lari- Larinya Teman Senior Kita di Universal Hash House Harrier

InaAnwarSurahman001

Sedikiiit saja kembali ke UniversalHash HouseHarrier Trail Running Race 2014, minggu lalu.
Awal 80an saya kenal beberapa kelompok pegiat lari lintas- alam( seperti kita sekarang, lari trel) dikota Bandung.
BHHH( Bandung Hash House Harrier), yang sering diplesetkan menjadi Bandung Hah Heh Hoh, Pelita( Pelari Lintas Alam), Pola86( Penggemar Olahraga Lintas Alam). 86, percaya atau tidak, teman2 senior nan kencang2 ini,sejak 1986 sampai rabu lalu tak pernah terputus lari setiap hari rabu sorenya.
Virgo( lupa singkatannya apa). Dan beberapa lagi. Jika tak salah malah ada belasan.
Jadi, kami di Bandung, punya banyak sekali pilihan. Belasan kali dalam seminggu. Setiap pagi dan sore,mulai senin sampai minggu.
Dan bisa terjadi ada beberapa komunitas dengan masing2 treknya di waktu yang sama.
Kebanyakan dari mereka bahkan adalah pelanggan2 saya menginap.
Jadi sabtu c/i. Minggu pagi mereka berlari.
Dulu.
Sayang sekali saat itu saya belum bisa berlari 😦 .
Ups, kembali ke yang saya maksud.
Konon komunitas lari seperti Universal HHH ini berasal dari Malaysia.
Trek lari yg ditandai sebelumnya dengan potongan2 kertas atau bubuk kapur.
Yang melakukan taburan ini disebut Hare.
Kita- kita, pelarinya disebut Hounds. Pelari yang mencari dan mengikuti jejak yang dibuat oleh sang Hare tadi. Biasanya dilakukan sehari sebelumnya.
Start/ finishnya adalah Beer Truck( Ah pantas, sebagian masih pertahankan tradisi ini).
Nah Universal Trail Running Race 2014 kemarin ini adalah kurang- lebih cara teman2 senior kita memperkenalkan lari- lari mereka.
Medannya? Ya seperti yang kita lalui kemarin ini. Semak2, blusukan. Naik- turun. Dan secara horor.
Jadi jika kita temukan tanda2 arah kemarin ini, ya adalah bonus. Karena biasanya mereka benar2 mengandalkan hanya taburan kertas saja.
Keamanannya hanya, adanya tim sapu- bersih 🙂 .

Mohon maaf jika kemarin ini membuat sebagian teman2 kesal, jengkel dan ngambek dengan treknya yg tak ‘sopan’.
Tapi percaya lah, tak ada maksud lain, selain sama- sama mengajak siapapun untuk mencintai lari.

Oh ada tambahan sedikit lagi untuk kita ketahui soal Hah Heh eh HHH ini.
– On On:
a. Nada tinggi panjang, terus menurun : tanda awal untuk memulai kegiatan Run, diteriakkan oleh Hash Master.
b. Bersemangat, nada tinggi pendek-turun : tanda Hound telah menemukan jejak kawul yang benar.
c. Nada naik turun pendek : salam persahabatan antar Hasher saat berpapasan di jalan.
d. Nada rendah pendek : minum-minum di senja hari setalah selesai Hash Run.
– Down Down:
Seni meminum habis segelas penuh bir dengan sekali teguk dengan iringan lagu Down Down dari para Hasher. Jika tidak habis, sisa bir harus di guyurkan di kepala. Down Down diberikan oleh Hash Master/Mistress atau R.A. sebagai suatu tanda penghargaan (an axclusive honour) yang boleh di protes tapi tidak dapat di tolak, apapun juga alasannya.
– Harriete: Sebutan bagi seorang Hasher wanita.
– Puppy: Hasher kecil berusia antara 3 – 12 tahun.
– On Sec: Hasher yang bertugas melaksanakan pencatatan semua data kegiatan Hash Club,administrasi/surat menyurat, statistik, keuangan, penerbitan Hasheet dll.
– Hash Liaison: Hasher yang bertugas menghubungi sponsor dan menjamin adanya beer & minuman lainnya baik di Regular Run Site maupun didalam kegiatan Hash lainnya (Party, Picnic Run Dll).
– Hash Flash: Hasher yang bertugas mengabadikan semua peristiwa Hash dalam Photo/slide/film/video.
Jadi kemarin ini saya sedikiiiit membantu melakukan sebagian pekerjaan2 sebagai Hash Liaison dan Hash Flash 🙂
Sampai jumpa di On On tahun depan. Salam

 

Sumber: http://kobahash.blogspot.com/2012/06/daftar-istilah-hash.html

Standard
adventure, event, mountain running, olahraga, running, sport, trail running, tulisan, ultra running, ultra trail running

Mengenal Medan Berlari Trel

runLimitless

Pantai Pendawa Bali. Garmin Photo Session.

Hak gambar ada pada Patricia Heny.

Mengenal medan lari trel yang ada di kita. Dan bagaimana kita ‘menikmatinya’. Atau: mempersiapkan diri untuk sebagian. Sebagian lain biarlah kejutan 🙂 .
Sepertinya kita sepakat, bahwa lari trel adalah lari  selain dijalan yang menarik sekali. Menyehatkan, menenangkan, menghibur. dan biasanya menyenangkan. Terkadang saja menyebalkan.

Banyak hal menarik yang ada di lari- lari trel tanah- air. Yang mungkin tak ada ditempat lain.
Do’s & don’ts ditempat lain bisa jadi berbeda atau bahkan  tak berlaku di kita.
Ditempat lain mungkin ya bisa berlaku, “Usahakan jangan  berlari sendiri ditempat yang baru”. Ditempat lain yang sudah sedemikian membudayanya berlari. Tak sulit mencari teman.
Apalagi lari muncak gunung. ” pelajari dahulu trek yang akan dilalui.Beri tahu orang terdekat, kapan kita berangkat dan kapan perkiraan turun”.
Tentu saja berlaku juga di kita.
Atau, seringkalinya malah setelah beres muncak sendirian, lebih dulu saya sampai dirumah ketimbang whatsapp saya terbaca orang rumah 🙂 .

Trek1- trek2-

Lereng Gunung Burangrang. Atau di perkampungan dipinggiran kotapun mirip- mirip seperti ini kan? 🙂

Kiri: Trek di Gunung Burangrang. Kanan: Tangkubanparahu.

Satu.
Kita mulai dari yang termudah. Dengan trek seperti diatas. #newbiefriendly .

Kelengkapan: sepatu trel dan atasan bawahan jersey jika ada. Jika tidak asal cukup nyaman saja.

Yang dibawa: satu botol minuman cukup.

Trek yang bukan aspal. Tak jauh dari tempat tinggal.
Rerumputan atau tanah di halaman disekitar pemukiman. Datar2 saja atau dengan sedikit naik dan turun yang landai.

Trek terbuka. Tak terhalang alang- alang atau tumbuhan, karena sering dilalui.

Tak perlu banyak2 yang dipersiapkan. Cukup handheld bottle saja. Satupun cukup.

Pijakan tak sulit, karena hampir rata saja. Baik tanah maupun rumput.

Dua.

Berikutnya adalah, jika start  yang agak jauh dari rumah.jadi mesti dicapai dahulu sekian waktu #newbiefriendly .

kelimutu=BRomo-

Kiri: Danau Tiga Warna Kelimutu. Kanan: Bukit Pasir Bromo.

Yang dibawa: air dan makanan tergantung jarak dan ada tidaknya warung/ toko tempat kita beli sesuatu yg diperlukan.
Handheld bottle atau hydropack. Kamdig jika ada.
Semisal Sentul bagi teman2 Jakarta, Bogor dan Tangerang. Perkebunan teh Sukawana bagi Bandung dan sekitarnya.
Medannyapun beragam.
Ada yang bisa dengan santai sambil update status,( hati2 kepala terbentur batang/ dahan pohon yg melintang seketinggian kepala. Kecuali pakai helm dan siap trombophop),  karena tak perlu harus ngesot2 atau berpegangan pada apapun, atau dengan sedikit2 pegang sana- sini karena turunan yang lumayan curam. Walaupun mungkin hanya beberapa meter saja.
Semuanya berlaku, Berlari trel, artinya pemandangannya lebih hijau, lebih indah dan nyaman, tak hiruk- pikuk lalu- lalang kendaraan dan asapnya.

Disini sebotol minuman kita harus ditambah dengan lain2nya lagi. Cemilan dan uang secukupnya. Sarung tangan mulai diperlukan. Cukup sarung tangan wool seharga 5 ribuan.

KawahRatu- TamanJayaSungai-

Kiri: Sungai air hangat di Kawah Ratu Gunung Salak. Kanan: Muara sungai di TamanJaya Ujungkulon.

3. Trek yang sama, tetapi berbonus istimewa,semisal kawah dan sungai yang bisa dilalui/ dicapai. Seperti Pasir Alit ke Kawah Ratu Gunung Salak. Atau start parkiran atas Tangkubanparahu, memutar kebalikan arah jarum jam, mengelilingi Kawah Ratu Tangkubanparahu. Sampai sebelum panjatan. Dan kembali. #newbiefriendly.
Yang dibawa: setelan ganti untuk yang ada acara basah2an disungainya. Kamdig cenderung wajib 🙂 .

4. Berikutnya adalah medan yang termasuk hutan, lereng gunung. Yang berpotensi untuk tersesat. Bahaya kelelahan, kedinginan dan dehidrasi.
Pemula sebaiknya disertai pelari trel yang sudah berpengalaman.
Kelengkapan: rain coat ringan( cukup yg 10an ribu, windbreaker, sepatu yang lebih sesuai, untuk kesiapan menghadapi segala medan trek, seperti pasir, batuan licin, tanah becek dan sungai. Jam bergps jika ada. Pluit, headlamp kecil, Sarung tangan, atasan jersey berwarna cerah. Obat2an pribadi, betadine dan plester penutup luka. Bandana serbaguna( banyak yang murah. 40an ribu,buatan Bandung), telfon genggam murah( bukan smartphone, berbattery tahan lama).

Penting sebelumnya untuk diketahui, provider mana yang paling kuat di area ini.

Karena tak semua gunung dilintasi banyak pengguna, harus diantisipasi trek yang agak tertutup semak2, dahan ranting melintang. Artinya ada kemungkinan tergores.
Sila pakai bagi yang nyaman memakai semacam bawahan panjang/ compression.

GarminPhotoShoot0750TamanJayaPantai-

Kiri: Pantai Pendawa, Bali. Kanan: Pantai Taman Jaya, Ujung Kulon.

Langkah kaki dan pijakan.
Perhatikan pijakan kita disini. Terutama saat menurun.
Menurun dengan perlahan. Tentu saja cenderung lebih aman. Tapi lebih mudah lelah/ berat pada paha dan betis, karena menahan  grafitasi.
Jika memungkinkan adalah turun dengan sedikit lebih cepat.
Hanya, seperti dalam catur, beberapa langkah/ pijakan sudah harus diperhitungkan. Karena pijakan yang salah diawal akan diikuti oleh pijakan2 salah di yang berikutnya.

Batuan2 tajam injak dengan bagian telapak tengah. Menghindari tergelincir kedepan atau kebelakang. Pijakan diusahakan tak membuat sudut dengan sol bawah sepatu. Jadi hampir sejajar( lagi- lagi kemungkinan tergelincir).

Semakin tegak lurus pijakan dengan arah turun kita semakin baik. Semakin besar peluang kita untuk lebih cepat. Berlari dengan cara  melompat kebagian- bagian tegak lurus ini.

Semakin cepat kita turun, harus semakin condong badan kita kedepan. Menghindari  terjerembab kebelakang saat terpeleset.

Mata yang jangan hanya terpaku kebawah, memperhatikan kemana dan apa pijakan kita, tapi juga kedepan. Tak jarang ada batang dan dahan pohon yang melintang seketinggian kepala.

 

wpid-2014-02-01-05-18-46.png

Menjelang Jembatan Setan Gunung Merbabu.
Yang terpenting untuk semua adalah, kesiapan yang baik.
1. Biasakan hari- hari untuk tak terlalu ‘memanjakan’ tubuh dengan terlalu mudah memakai pakaian2 tebal, agar saat kita berada di cuaca dingin( dihutan pegunungan/ ketinggian) kita masih bisa cukup hangat dengan 1 jacket.

Bisa dibayangkan, jika hari2 saja dikota kita berjacket, apa lagi yang akan dipakai saat kita diketinggian. Ya kan?

2. Biasakan selalu bergerak. hindari duduk atau diam berlama- lama. Gerak, gerak dan gerak. Sebadan.  Jadi jangan hanya telunjuk saja yang bergerak.

3. Semua sepatu trel semestinya cukup baik. Dengan waktu dan jam terbang lari ngetrel kita, kita akan lebih pasti lagi mengetahui brand, type mana yang paling sesuai untuk kaki kita.

Yang penting bukan sepatu mana sesuai dengan medan yang mana, tetapi sepatu dengan peruntukan yang jelas yang sesuai dengan kaki kita. Setelahnya adalah kaki dan sepatu yang menyatu, yang seperti mempunyai mata dan perasaan, menyesuaikan gerak langkah dan pijakan. Apapun medannya.

4. Persiapan yang baik adalah persiapan yang tak mesti baik, sempurna.. Bingung? Jangan 🙂 . Tak mesti semuanya siap baru ngetrel. jika ya begitu, entah kapan kita ngetrelnya.
Jadi sisakan sedikit untuk kejutan. Kejutan yang mungkin mengesalkan bahkan menyebalkan, tapi setelahnya adalah kisah cerita seru yang membuat kita lebih cepat lagi terlatih.

Kapan- kapan saya sambung dengan trek- trek lainnya.Semoga bermanfaat.

Salam,

Yuk Ngetrel 🙂

 

 

Standard
mountain running, olahraga, running, sport, trail running, tulisan

Berlatih Lari Di Ketinggian

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Pada dasarnya , berlari di ketinggian adalah berlari di udara yang lebih tipis(  hypoxia).
Jika dilakukan lebih sering, bahkan banyak dilakukan oleh atlet dalam rentang waktu tertentu( salah- satu tempat berlatih atlet lari nomor 1 indonesia, Agus Prayogo,  adalah Pangalengan. Altitude training).
Yang terjadi adalah tubuh akan berusaha memproduksi sejumlah energi yang dibutuhkan akan tetapi dalam kondisi  keterbatasan oksigen. Usaha inilah, jika dilakukan sering, yg memicu meningkatkan sistem kerja respitori tubuh, cardiovascular dan utilisasi oksigen yang lebih effisien.

Ada pendapat lain. Live high, train low. Yang lebih penting adalah tinggalnya di ketinggian. Sementara berlatihnya yang tak mesti. Yang tentunya sebagian besar ‘bernafas’ nya yang justru di ketinggian.

Sampai- sampai untuk ini bahkan ada simulatornya. Mulai dari tenda, kamar tidur dan kelengkapan berlatih dengan masker yang bisa mensimulasikan keterbatasan oksigen sampai seperti di ketinggian 6400 meter.

Jadi tak mesti ke ketinggian yang sebenarnya.

Aman? Sesuai jugakah altitude training ini bagi kita, pelari2 trel sekedar cantik suka2? Tentu saja. Sejauh bertahap dan hati- hati.

Ada hal lain yang bisa kita dapat dari altitude training. Ya, betul. Semakin tinggi  tempat kita berlari, relatif semakin bersih udaranya, semakin indah pemandangannya.Semakin nyaman dan semakin bahagia tentunya.
Yang saya maksud adalah,semakin tinggi,semakin menjauhi kota.

Live high, train high yang sebenarnya? Tak lain dan tak bukan Sang jawara lari trel ultra/ gunung Killian Jornet 🙂
Yuk Ngetrel! Maenkan!

 

 

The main reason runners head for the hills is because high-altitude air contains less oxygen than sea-level air, a situation that forces the body to compensate in a variety of ways conducive to improved distance-running performance.
Read more at http://running.competitor.com/2013/06/training/whats-the-real-story-with-altitude-training_30368#SdjfIsm4LwhQ2MHX.99
The main reason runners head for the hills is because high-altitude air contains less oxygen than sea-level air, a situation that forces the body to compensate in a variety of ways conducive to improved distance-running performance.
Read more at http://running.competitor.com/2013/06/training/whats-the-real-story-with-altitude-training_30368#SdjfIsm4LwhQ2MHX.99
The main reason runners head for the hills is because high-altitude air contains less oxygen than sea-level air, a situation that forces the body to compensate in a variety of ways conducive to improved distance-running performance.
Read more at http://running.competitor.com/2013/06/training/whats-the-real-story-with-altitude-training_30368#SdjfIsm4LwhQ2MHX.99
The main reason runners head for the hills is because high-altitude air contains less oxygen than sea-level air, a situation that forces the body to compensate in a variety of ways conducive to improved distance-running performance.
Read more at http://running.competitor.com/2013/06/training/whats-the-real-story-with-altitude-training_30368#SdjfIsm4LwhQ2MHX.99
Standard
adventure, berbagi, cerita, cerita, kisah, renungan, event, olahraga, running, sport, trail running, tulisan

Lomba Yang Bisa Dimenangkan Oleh Siapapun Kita

Kamojang-

6 bulan pertama usia lari, saya tak cukup percaya diri untuk ikut lomba. Sampai Kang Rama Nusjirwan mengatakan,” Harus coba Ki, bagus untuk tahu dan tingkatkan kemampuan”.
Berikutnya adalah sibuk2 siapkan mental dgn sekian tanya- jawab sendiri, bagaimana kalau begini, bagaimana kalau begitu. Intip2 di hasil lomba yg sdh berjalan, kira2 saya akan ada di posisi mana. Akankah saya paling buncit?.
Belum cukup yakin saya putuskan daftar di Milo 10k 2010. Setelahnya adalah dag-dig-dug tak karuan.
Perasaan menyesal timbul. Peserta akan ribuan, dan mereka akan melihat orang setua saya lari terseok- seok atau gagal finish. Konyol sekali.
Ditengah- kegalauan saya, tiba2 saja Bang Muara Sianturi telpon,” Ki, jadi ikut Milo 10k?. Lo ikut Lomba Lintas Alam Kamojang aja, trel tuh”.
Pucuk dicinta ulam entah kemana eh si ulamnya tiba.
Yes. Selamat saya dari yg saya khawatirkan.
Kamojang, entah dimana, pastinya pesertanya tak ribuan. Venuenya dialam, banyak bukit dan pohon. Akan banyak tempat sembunyi jika kegagalan yg akan saya alami.
Tiba2 ada perasaan lain. Entah kenapa, saya merasa ada skenario yg dibuat si Abang ini.
Sampai2 beliaupun mau ikut lomba Kamojang ini.
Yg pasti dgn gagah percaya diri saya daftar.
Apalagi ternyata peserta kategori kecepatan( kita sebut lari trel kan)pesertanya hanya berlima. Haha. Sebelum2nya sampai 20-30an.
Hari H. Kami berlima, saya, Pendaki Liar, 1 peserta lokal, Bang Anwar rekan Pendaki Liar( saya dengar belasan kali berturut-turut juara lomba ini, mantan atlet lari halang- rintang 3000m) dan Bang Muara Sianturi.
Tak ada perasaan ragu, grogi atau apapun. Tak setetes keringat dinginpun saya rasakan.
Santai, seolah- olah sudah belasan puluhan kali ikut lomba.
Dari awal saya sudah ketinggalan. Yang tak pernah meninggalkan saya adalah asma saya. Selalu setia menemani  🙂 .
Dan percaya- diri yg entah darimana koq ya saya punyai.
Belasan km pertama, etape pertama adalah 25km, peserta lokal saya susul, juga Kang Pendaki Liar yg cidera. Kemudian lagi Bang Muara yg mengaku cidera. Berarti tinggal Bang Anwar didepan saya.
Singkat cerita saya finish 15 menit dibelakang beliau. Senang? Tentu saja. Aneh? Ya juga. Tapi saya tak ambil pusing. Saya nikmati saja dulu saat2 ini.
Kapan lagi saya merasakan saat2 kemenangan seperti ini. Seumur- umur lomba, hanya pernah juara di lomba balap… karung. Saat kelas 4 SD.
Itupun drama. Karena sempat diprotes peserta lain. Menurut mereka saya curang. Masa bukan loncat2 tapi melangkah. Sebelum lomba saya dibisiki kakak, “jangan loncat, ujung2 kaki posisikan keujung kiri kanan karung, dan melangkah jalan cepat” 😛 .
Bang Muara kembali ke Bandung malam itu juga. Artinya tak berlanjut dgn etape kedua esok harinya.
Esoknya saya lebih santai lagi, karena juara dua sudah ditangan. Kembali ke start 18km, dgn trek berbeda.
Saat magrib saya menerima piala juara dua setinggi 70 cm. Ga level dgn kemenangan Nadal & Schumacher, tapi perasaan mah beda2 tifis lah.
Sampai saat ini Bang Muara tak pernah mengakuinya. Tapi saya tetap percaya, beliau sengaja membuat saya ikut lomba ini. Membuat saya percaya diri dgn keikut-sertaannya dan membiarkan saya berlari menuju juara dgn tak melanjutkan lombanya.
Jika mau tentu saja trek yg ‘ hanya’ 25km disikat habis beliau. Seorang yg hanya perlu waktu 3jam 5 menit untuk 42.195 km.
Kisah diatas, gambaran betapa konyolnya saya, yg tak cukup percaya diri untuk ikut lomba atau memulai lari- berlari, tak harus diulang oleh siapapun.
Yang dilakukan seorang Bang Muara terhadap saya ingin saya tiru. Dengan cara yg berbeda yg saya mampu.
Dibantu dengan banyak teman2 lari trel yg luar- biasa, saya ingin, setelah ikut “Food, Fashion & trailFunrun. Sukawana” lalu dan “Food, Fashion & trailFunrun. Sawarna” 4 mei nanti, juga acara2 serupa selanjutnya, siapapun pemula tak lagi ragu untuk mulai lari, mulai ikut lomba. Tanpa dibebani dgn harus cepat, harus finish, harus podium, harus sempurna.
Lomba kita adalah lomba mengalahkan berbagai macam penghalang untuk hidup sehat dan nyaman. Lomba yg pasti bisa dimenangkan oleh siapapun kita. Pemula atau yang sudah lama.
Terimakasih Bang Muara, Kang Rama, dan semua teman2 yg selalu saling mendukung. Salam, selamat pagi, selamat hari jumat 🙂

Bandung, Maret 2014.

Standard
cerita, cerita, kisah, renungan, inspiration, kisah, motivation, olahraga, renungan, running, sport, story

Lebih Baik…. Lari

Belum terlalu siang, beberapa tahun lalu. Baru selesai lari dapat kabar ayah saya masuk ICU. Bandung diakhir minggu, macetnya, seperti yg sama2 kita tahu, ga lucu.
Menunggu yang lain mau berangkat sama2 koq rasanya seperti keabadian.
Tak pikir panjang saya lari ke Borromeus. Ya berlari.
Saat sampai dan melihat sanak- saudara berkumpul, saya baru sadar, ya ampun, saya pasti kena omel, gerutu dan omongan. Berulang- ulang, setiap mereka melihat saya berkostum lari.
” Hati- hati Kang, ingat umur”.
“Jangan maksain”.
“Jalan aja jalan. Lari mah atlet kali”.
Dan banyak lagi.
Itu satu. Dan baru sadar berikutnya adalah, apa kata Ayah nanti?.
“Duh ti- ati Ei( panggilan sayang Ayah ke saya). Harus ingat keselamatan. Umur kita kan sudah ga muda lagi”. Dan entah apalagi.
Perkiraan saya akan seperti itu.
Tapi, ya itu tadi, nasi sudah menjadi bubur. Kalau kata Aa Gym, jgn disesali, lebih baik buburnya kasih saja cakue.
Saya sudah melangkah masuk ke ruang icu, tak ada waktu lagi berfikir itu- ini.
Saya: “Salam Pak”.
Bapak: “Eh Ei. Abis lari?”.
Saya : ” Eu eu iya Pak. Anu.. dikit, bentar aja. Tadi .. eu buru2..”.
Bapak : ” Ya asal ati- ati aja. Semoga Bapak ga apa2 ni. Tapi kalo bisa milih, memang lebih keren mati karena lari daripada mati karena penyakit”.
Saya : ” ???????”.
Semoga Bapak selalu diberkahi sehat dan bahagia. Aamiin.

Standard
adventure, event, komunitas, olahraga, running, sport, trail running

Pojok Komunitas di Eiger Adventure Store Bandung

image

Halo- Halo Bandung!
Acara lari Kamis Malam di Eiger Adventure Store jalan Sumatra hanyalah salah- satu kegiatan yang di fasilitasi oleh teman2 di Eiger.  Sebagai persembahan untuk masyarakat kota Bandung atau kota lain yg kebetulan sedang di Bandung. Akan kegiatan yg sehat dan bermanfaat. Dan ramah lingkungan.
Tanpa syarat & kewajiban apa2.
Untuk lebih mengenalkan/ mengingatkan lagi kegiatan luar- ruang, tentunya tidak hanya untuk kegiatan lari- berlari. Semisal komunitas penyuka jalan santai, pesepeda, fotografi, blogger, pendaki, panjat tebing, canoeing, river boarding.
Terbuka bagi siapa saja, komunitas apa saja. Untuk tempat berkumpul, membuat acara. Atau sekedar silaturahmi dalam komunitas atau lintas komunitas. Atau bagi siapa saja yang ingin tahu, ingin  mengenal kegiatan2 luar- ruang.
Tak hanya di kamis malam, tapi dari senin sampai minggu, 365 hari dalam setahun.
Juga tak bertujuan menjadikan ini (Pojok Komunitas) sebagai satu2nya tempat, tetapi diharapkan akan lebih banyak lagi bermunculan ditempat- tempat lain.
Oleh, untuk dan bagi siapapun.
Disamping taman2 kota yang semakin banyak kita punya.
Yang penting Bandung lebih lagi beraktifitas luar- ruang. Bandung yang lebih sehat dan bermanfaat.
Salam 🙂

Standard
adventure, design, review, sport, trail running

Garmin virb elite. Sport action camera

image

Ber-wifi dan ber- gps.
Betul, seperti yang kita duga, artinya disamping mempunyai viewfinder sendiri, juga dapat kita lihat dilayar device manapun yg ber-wifi.
Dan juga tak salah, ber-gps artinya mempunyai kemampuan bernavigasi layaknya device ber- gps.
Data seperti koordinat, ketinggian, kecepatan, jarak dan waktu sudah barang tentu ada.
Membawa virb elite tak ubahnya membawa sport action camera tahan air dan device gps sekaligus.
Bahkan bisa terkoneksi ke termometer eksternal, cadence( sensor penghitung putaran pedal pada sepeda), dan beberapa lagi lainnya.
Sebelum semakin wow dengan segabruk kebisaannya dan kelengkapannya, saya mulai dengan spek sebagai berikut:
– micro memorycard sampai 64 Gb. Terbaik mulai dengan class 10 keatas.
– battery lithium- ion berkapasitas 2000 mAH untuk penggunaan sampai 3 jam. Didukung dengan kemungkinan menggunakan eksternal battery( powerbank).
– berlayar lcd sebagai viewfinder dan tampilan multi informasi.
– 16 MP foto. Dgn burstspeed 3 gambar 16 MP/detik, 5 gambar 12MP/detik dan 10 gambar 8MP/detik.
– HD 1080 video/30fps.
– Field of View ( Luasan bidang yg tercover oleh sensor film) yg bisa di set wide, zoom2 & zoom4.
– Flip orientation. Seting untuk membalik lensa saat vibr dipasang terbalik, misal agar layar menghadap kebawah.

Yuk kita mulai kupas.
Yang paling mengesankan adalah penggunaan tombol2 menu yang logis sekali. Jadi mirip dengan fenix, rasanya tanpa membaca buku petunjuk cepatnya sekalipun siapa saja bisa langsung menggunakannya.
Tombol geser besar disamping untuk rekam video. Beberapa tombol tekan disamping lainnya untuk Mode, Ok ( yg juga tombol shutter untuk foto), kedepan/keatas, kebelakang/kebawah dan power.

Menarik sekali, kita dapat mengambil gambar ( foto) saat rekaman video sedang berjalan.  Jadi saat merekam video, ya tinggal tekan2 saja tombol Oknya 🙂

 

 
Bersambung 🙂

Standard
cerita, inspiration, kisah, motivation, olahraga, renungan, running, sport, story, trail running

Yuk kawan, kita lari

image

Tentu saja Nadine tahu sekali bagaimana mengikat tali sepatu trelnya dengan benar. Seperti yang selalu dengan penuh semangat Nadine ingatkan ke siapapun, yang kedapatan tali sepatunya lepas.
Lipat masuk simpul tali sepatu yang sebelah kanan kedalam bulatan simpul tali pertama. Sekarang lipat, masukan juga lagi simpul tali kirinya. Tarik perlahan sampai benar- benar terikat kuat.
Demikian yang Nadine ingat dari yang pernah dia baca dan lihat disalah-satu majalah lari.
Simpul tali sepatu yang tak mudah lepas untuk lari- lari agak sedikit jauh. Bahkan lari trel sekalipun.
Sekali lagi dia periksa, apa- apa yang mungkin belum ada. Setelah sebelumnya sedikit lap- lap badan ala cowboy, makan dan minum sekedarnya, sikat gigi. Mematut- matut diri dicermin kamar.
Lipatan uang sepuluh ribu dan telpon selularnya sudah di saku tas dipinggangnya. Beberapa potong coklat kacang sebagai bekal disiapkan. Juga botol plastik air ramah lingkungannya.
Sebagai penyuka kegiatan luar- ruang tentunya pantas jika lebih lagi peduli lingkungan.
Sekali lagi tersungging senyum dibibirnya. Bangga akan kepeduliannya. Walau mungkin baru sedikit yang dia tahu soal isu lingkungan.
Tak apa. Toh sudah dimulai.
Seperti biasa Nadine memakai celana lari pendek dan atasan yang menurutnya nyaman dan berwarna cerah.
Nadine membiasakan untuk tak terlalu tebal berpakaian.
Kali inipun tanpa jacket. Cukup dengan mulai menggerakan badan, hangatpun didapat.
Tiba- tiba teringat nasehat sang paman. ” Nneng hati- hati. Jangan jauh- jauh. Jangan banyak- banyak larinya, pakai jacket”.
Seperti biasa, Nadin tersenyum saat menjawab,” ya Mang, nuhun”.
Ah si Mmang baik- hati ini. Jangan- jangan harusnya lebih menghawatirkan dirinya sendiri. Makan tak kenal pantangan. Apapun disikat. Jeroan, gorengan. Sate kambing yang selalu harus bergajih. Jangan ditanya kalau sudah mendapatkan gulai kepala kambing. Utuh. Ya utuh sekepala. Asyik- masyuk, sampai- sampai tak lagi dapat dibedakan mana kepala kambing dan mana kepala si Mmang. Dan tentu saja nasi putih yang banyak. Sementara tak pernah sekalipun terlihat berolah- tubuh.
Semoga Mmang selalu sehat.
Udara dibulan januari memang agak dingin. Terkadang pagi- pagi hujanpun sudah menjelang.
Satu lagi godaan yang tak kecil untuk tetap ditempat tidur.
“Tidak!, saya harus menang. Saya harus bisa mengalahkan kemalasan ini”. Demikian Nadine seringkali meyakinkan diri- sendiri.
Semakin besar godaannya semakin besar dia melawan.
Jalan kaki keluar komplek rumahnya. Beberapa ratus meter. Kemudian belasan menit dengan angkutan umum kearah utara kota.
Gerbang kawasan wisata alam di utara ini memang tempat Nadine memulai lari- lari trelnya.
Sepuluh menit pemanasan sebelum mulai tak lupa dilakukan.
Pemanasan tak kalah penting. Lagi- lagi Nadine mengingatkan diri- sendiri.
” Nneng geulis, lumpat deui?”. Si bibi pemilik warung dengan sapaannya yang lucu dan menyenangkan.
” Sumuhun Bi. Mangga”.
Tanah licin mengawali trek lari trelnya. Sisa- sisa hujan semalam cukup membuat Nadine melangkah lebih hati- hati lagi.
Baru beberapa puluh ayunan kaki dingin pagi sudah tak terasa lagi. Sebaliknya, keringat mulai menetes dari dahi dan sekujur badannya.
Agak terengah juga diawal- awal. Tapi sudah selalu semakin baik dari sebelum- sebelumnya.
Trek lari ditengah kehijauan hutan pinus selalu menyenangkan. Tak pernah membuat bosan. Sepertinya setiap langkah adalah hal yang selalu baru. Berapa kalipun diulang.
Mata yang selalu harus awas melihat kemana kaki melangkah. Pijakan mana yang dipilih. Pada saat yang sama harus juga awas akan batangan atau dahan pohon yang melintang tepat seketinggian kepala.
Lebih- lebih lagi diturunan. Beberapa langkah berikutnya harus sudah diperhitungkan.
Satu kali terpleset dipijakan pertama kerap diikuti oleh terpeleset dipijakan berikutnya.
Apalagi dibebatuan yang licin.
Beruntung jika hanya goresan kecil pendek dikaki.
2km sudah. Seperti yang dia lihat di jam lari bergpsnya. Berarti 3km lagi sampai puncak.
Trek semakin menanjak. Semakin membuatnya terengah- engah.
Sesekali Nadine minum dari botol airnya.
Tak mesti banyak sekaligus.
Nadine lebih memilih beberapa teguk setiap lima- belas menit. Tak banyak. Sekedar tak dehydrasi.
Sedikit berlebih minum air menyebabkan bengkak dikaki.
Hutan pinus sudah lama terlewati.
Sudah mulai vegetasi khas punggungan gunung berkawah.
Bau belerangpun sudah mulai tercium.

Ketukan dipintu kamarnya menghentikan tulis-menulisnya.
“Itcha, sudah bangun sayang?”
“Ya Mama”.
“Mau Mama mandikan sekarang?”
“Sebentar lagi Mama”.
Itcha menghela nafas.
Termenung. Memandangi kedua kakinya yang kecil karena memang lama tak bisa digerakan.
Demam tinggi di usia balita adalah penyebab kelumpuhannya.
Seperti setiap pagi di hari- hari sebelumnya, adalah saat- saat menyenangkan baginya untuk menulis.
Menulis, kegiatan sejak beberapa tahun lalu. Sejak sebelumnya mengikuti dunia lari- berlari dikotanya.
Berlari belakangan memang sedang menjadi
trend. Tak hanya di ibukota. Juga di kota- kota lain.
Lomba lari sudah hampir setiap bulan diadakan.
Dan tentang lari- berlarilah kebanyakan tulisan- tulisannya.
Itcha kembali ke Note 8nya. Sedikit melanjutkan tulisannya.
Membayangkan, bagaimana indah dan menyenangkannya, berlari dikesejukan hutan pinus. Saat jutaan yang lain masih tertidur lelap.
Dunia seakan hanya miliknya sendiri.
Berbagai inspirasi menari lincah dalam benaknya. Seperti yang tak berkesudahan.
Pada saat yang sama mata yang harus awas mengawasi setiap pijakan kakinya.

Beberapa tahun belakangan Itcha tak lagi bersedih dengan keadaannya.
Itcha percaya, semua hal di dunia tentu ada maksudnya. Begitu juga dengan kelumpuhannya.
Jika kebahagian bagi yang lain adalah harta yang banyak, kesehatan jasmani, putra- putri yang sehat menggemaskan dan lain sebagainya.
Kebahagian bagi dirinya adalah menerima dan bisa berdamai dengan kelumpuhannya. Menerima ketidak- mampuannya untuk berlari.
Seperti yang pernah menjadi impiannya, sekali dalam seumur- hidup mengikuti lomba lari 10 k.
Kebahagian baginya yang lain adalah mendapatkan cara untuk mengingatkan siapapun untuk tak menyia- nyiakan kesempatan yang ada.
Dengan menulis.
” Saat berlari menjadi impian yang tak pernah terwujud bagi orang- orang seperti aku, jangan sampai terjadi bagi orang- orang yang lebih beruntung”.
Tak berolah- tubuh padahal ingin, tapi tak kesampaian karena hambatan adalah kewajaran.
Tak berolah- tubuh karena kemalasan padahal bisa dan di mungkinkan adalah kebodohan.

Standard
adventure, event, inspiration, motivation, olahraga, running, sport, story, trail running

Berlari Trel Membelah Pulau Jawa

image

Jauh dan ajrut2an.Perjalanan panjang yg mengesalkan dan melelahkan. Hanya untuk sampai penginapan. Berlanjut esok hari nya ke titik start. Treknya sendiri adalah berjalan dan berlari nyeker sepanjang puluhan km. Melalui aspal panas, tanah dan rumputan becek penuh duri dan ranting tajam. Sungai sedalam pinggang tanpa jembatan. Jikapun ada adalah berpijakan hanya bbrpa batang bambu yg sebagian sudah lapuk. Dengan pegangan yg sulit dari jangkauan.
Tentu saja pada akhirnya adalah pantai selatan yg indah memukau. Dengan deburan ombaknya yg tinggi dan membahana.
Menyempurnakan pengalaman ngetrel, membelah pulau jawa, yang indah yang pada akhirnya luar- biasa menyenangkan dan tak terlupakan.
Tapi, Jejak2 badak yg kami temukan menyadarkan kami akan perjuangan teman2 relawan di konservasi badak Ujungkulon.
Ribuan hari yg mereka dedikasikan untuk  Ujungkulon dan badaknya. Dikenal di dunia sebagai World Heritage Site.
Aksi2 kami menjadi seperti tidak ada apa2nya dibanding apa yang sudah sekian lama mereka lakukan. Dan berlanjut sampai saat ini.
Apa2 yg kami lakukan, yg entah kapan lagi dilakukan, adalah keseharian mereka. Dengan segala keterbatasan. Keterbatasan sarana. Keterbatasan dukungan dari pihak penyelenggara negeri ini.
Semangat teman2 Ujungkulon!

Standard
olahraga, running, sport

Lari Barefoot

Berlari nyeker alias tanpa alas sama sekali. Tak ada dalam bayangan saya sama sekali sebelumnya. Kekamar mandi saja pakai alas. Kecuali saat mandi  dibawah shower.
Namun sensasinya saya rasakan betul.
Sekali- sekali. Dan bukan pada saat berlari. Tapi jalan kaki berjarak tak begitu jauh.
3 tahun lalu pertama kali melihat dan langsung tertarik dengan sepatu Vibr*m Five Fingers.
Beralas tipis sekali, dengan bagian depan yang berupa jari- jari. Lucu, membungkus masing2 jari2.
Entah rasanya jika dipakai.
Beberapa waktu kemudian seorang teman baik menghadiahi saya sepasang.
Terimakasih yaa 🙂
Ternyata nyaman sekali. Sedemikian ringan. Sampai- sampai saya berfikir, apakah  mungkin saya akan pakai lagi sepatu bersol ‘normal’.
Dan, ya, setelahnya memang lebih sering model barefoot ini yang saya  pakai.
Me**ell adalah sepatu model barefoot berikutnya yang saya beli kemudian. Menyusul New Ba**ance dengan seri minimusnya.
Semuanya ok dan nyaman sekali.
Entah memang sepatu2nya, atau saya yang beruntung, yang sepertinya memang cocok- cocok saja pakai yang manapun.
Lari2 dijalan dan ngetrel saya berikutnya adalah bersepatu model barefoot.
Lomba lari di Ragunan, pertama kalinya saya pakai barefoot untuk jarak 21k. Luar biasa ringan dan nyaman.
Finish dengan waktu belasan menit lebih cepat dari sebelum2nya. Beberapa langkah setelah garis finish, jalan perlahan, tertatih dan stop! Tak lagi bisa digerakan kedua kaki saya.
Kram. Sampai dipapah kearah mobil yang diparkir.
Lupa, jika sebelumnya belum pernah untuk jarak lebih dari sepuluh- belasan km.
Di lari2 jauh berikut saya pakai me**el. Untuk jarak 160km. Trek aspal  tanah dan batuan.
Kebanyakannya aspal.
Di km 130an ujung2 jari kaki serasa hancur. Terkena sedikit benturan kerikil kecil saja sakit sekali.
Beruntung walau dengan tertatih- tatih di 30k terakhir, bisa terselesaikan juga Lari2 Kawah Putih- Ujunggentengnya( yang harus berubah menjadi Kawah Putih- Argabinta. Karena ternyata masih 50km lagi jika sampai Ujunggenteng).
Nah bagaimana dengan lari nyeker, yg tanpa alas sama sekali?
Ternyata sama- sama nyaman dan menyenangkan.
Sejauh di trek yang tidak keras. Seperti tanah. Apalagi rerumputan.
Beberapa kali saya lakukan muncak Burangrang dengan nyeker.
Berlari belasan km di lintasan tanpa alas( nyeker) juga terasa nyaman, hanya setelahnya muncul bundaran merah ditelapak kaki. Blister.
Mungkin karena semakin lama semakin lelah. Tanpa sadar semakin lama telapak belakang semakin turun, yang akhirnya nyaris bersamaan dengan telapak depan menjejak landasan. Landasan lintasan yang memang keras.

Tulisan saya tidak dimaksudkan untuk menyampaikan bahwa berlari nyeker lebih baik atau sebaliknya dari berlari bersepatu.
Hanya jika teman2 terfikir untuk mencobanya, barangkali ini bisa sedikit membantu.
Kita sudah sekian lama terbiasa  berjalan,lari dengan bersepatu. Bersol tebal.
Jadi berpindah ke tanpa alas alias nyeker tentunya harus dengan tahapan.
Mulai dengan beberapa kali beberapa km, sepuluh, belasan dan selanjutnya.
Juga sebaiknya tidak untuk kapan saja berpindah-pindah antara beralas dan tanpa alas.
Sepatu2 model barefoot seperti yang saya sebut diatas bisa menjadi jembatan antara kedua cara berlari diatas.
Atau, cukup sampai dengan sepatu model barefoot saja.
Mengingat, jika untuk benar- benarnyeker, landasan dikita, bahkan di hutan dilereng Burangrang sekalipun masih suka saya temui pecahan kaca.

Standard
event, inspiration, motivation, mountain running, review, running, sport, story, trail running, ultra running, ultra trail running

CATATAN SEORANG NEWBIE TRAIL RUNNER DI BromoTenggerSemeru100Ultra oleh Ina Budiyarni

InaMaggie001InaMartinTju InaAnwarSurahman001InaDianNdaruPurwanti hak gambar ada pada Maggie Kim Hong Yeo, Martin Tju, Anwar Surahman & Dian Ndaru Purwanti.
Tak pernah terlintas dalam pikiran saya sebelumnya, saya akan menjadi finisher Bts100Ultra 50k dengan waktu 11 jam 12 menit. Di bawah Cut Off Time yang 12 jam.
Senang dan bangga bercampur jadi satu, karena saya bisa melawan ketakutan dalam diri saya.. Takut di hutan sendirian..
Seketika saya buka foto album ‘RUN’ dalam Facebook saya yang berisi foto-foto sebagian lelarian saya di tahun 2013 ini. Tahun 2012 saya baru sanggup lari 5k dan 10k dalam race, itupun seperti keong..
Tahun 2013 saya banyak bertemu dengan orang-orang hebat yang menginspirasi saya dalam lelarian. Juga kompor-kompor yang akhirnya membuat saya melakukan my 1st 21k Half Marathon di awal tahun 2013 dan my 1st 42k Full Marathon di tengah tahun 2013.
Tapi tidak dengan trail run.. Trail run pertama saya adalah 10k Tahura trail run. Setelah itu boro-boro mau ikut trail lagi. Yang ada di otak saya trail itu gear nya ribet dan menghabiskan banyak waktu. Karena harus seharian, dari pagi sampai sore.
Sebagai seorang single mother, yang terfikir adalah, lari di akhir minggu cukup hanya lari dijalan saja. Setelahnya lebih baik menghabiskan waktu dengan anak, yang adalah segalanya bagi saya.
Saya menghitung berapa banyak foto dan mengingat kronologi trail run saya, sebelum akhirnya nekat mengikuti BTS100Ultra 50k. Dan ternyata secara total baru 7x trail run yang saya ikuti sepanjang hidup saya. Untuk selanjutnya ikut BTS Ultra 50 dengan track yang gilaaa..
Di antara padatnya aktifitas saya berkantor, mengurus anak & aktifitas-aktifitas lainnya, di akhir minggu, di minggu-minggu trakhir menjelang race, saya luangkan waktu untuk latihan ngetrel. Dengan jarak puluhan km di Sentul bersama dengan teman-teman yang hebat..
Teman-teman saya yang bukan pelari menanyakan, ” Apa sih yang kamu cari dengan ikut race 50k naik turun gunung?’”.
Mungkin saat itu saya belum tahu pasti dan belum bisa menjawab atas pertanyaan itu. Yang saya tahu hanya, ada keinginan yang kuat sekali untuk turut serta di BTS Ultra 50.
Walaupun saya masih newbie trail runner, saya hanya berfikir jika orang lain bisa, mengapa saya tidak bisa? Jika orang lain berani, mengapa saya tidak berani? Jika juga orang lain nekat, mengapa juga saya tidak nekat?
Sudah banyak tempaan dalam hidup saya sebagai seorang single parent. Dan inilah saatnya tempaan di indahnya alam ciptaan Tuhan. Yang membuat saya merasa sangat kecil di dalamnya..
Dengan mendapat restu dari anak saya, berangkatlah saya menjadi salah satu orang ‘gila’ di BTS Ultra. Dengan bangganya anak saya bercerita ke setiap orang bahwa Bundanya akan berlari 50k naik turun gunung. Bahkan sampai juga bercerita kepada guru ngajinya.
Maka semakin semangatlah saya untuk berusaha sekuat tenaga agar bisa finish sebelum Cut Off Time.
Begitu berbedanya aura di Ranupane saat menjelang start ultra trail, dibandingkan dengan start road race. Walaupun jumlah pesertanya jauh lebih sedikit dibandingkan dengan peserta race jalanan, tapi serunya di start line mengalahkan start race-race saya sebelumnya.
Sebagai newbie trail runner sudah pasti larinya saya adalah alon-alon asal kelakon. Sambil menikmati pemandangan dan foto-foto sana sini yang tidak mungkin saya lewatkan. Berkat camera yang selalu ada dalam genggaman saya sepanjang lari 50k.
Ternyata apa yang tidak saya dapatkan di road race, saya dapatkan disini.. Pemandangan yang spektakuler sepanjang rute, yang buat saya serasa dalam mimpi. Karena selama ini hanya saya lihat di foto, gambar atau kalender.
Danau Ranukumbolo yang begitu mempesona dari jarak jauh dan dekat. Puncak Semeru dari kejauhan. Hamparan pasir berbisik Bromo. Kawah Bromo dan bukit-bukit pasir, yang masih melekat di ingatan saya sampai sekarang..
Capek, sudah pasti.. Ngos-ngosan apalagi.. Tapi indahnya alam membuat saya tidak terlalu merasakan gempornya betis & paha ini.
Tanjakan yang seperti tak berakhir di tanjakan cinta Ranukumbolo ( entah sampai sekarang saya tidak tahu mengapa dinamakan Tanjakan Cinta. jika saja Tanjakan Cinta nya sudah seperti begitu, akan seperti apa ya Tanjakan Putus Cinta nya ?). Ayek-ayek, jalur pipa, bukit pasir Bromo.. Ditambah sepanjang perjalanan, ingatan akan anak saya. Dan bahwa saya tidak mau mengecewakannya..
Serta keinginan akan membuat anak saya bangga mempunyai Bunda seorang Ultramom..
Tanjakan, turunan, dingin, panas, angin, gerimis, pasir, haus, letih, lelah.Semua silih berganti .. Tanjakan-tanjakan sadiis, turunan-turunan cadas, walaupun berat tapi entah mengapa begitu senang saya menjalaninya.. Gerutuan yang tak henti- henti, ” Gilak tanjakannya!”, tapi kaki ini tetap semangat melangkah. Bahkan saat mendapat tanjakan yang tidak lazim, sehingga harus merayap seperti layaknya spiderman. Dan turunan sumur tegak lurus yang membuat banyak peserta perosotan seperti layaknya anak kecil. Teman-teman peserta pun semua tampak seru dengan segala tingkah lakunya.. Walaupun capek tapi semua happy..
Saya baru merasakan ternyata beratnya lari Full Marathon 42km di jalanan tidak ada apa-apanya dibanding ultra trail run di BTS..
Fisik dan mental benar-benar diuji.. Fisik sudah pasti terkuras untuk lari naik turun gunung belasan jam, mental pun diuji berkali-kali ketika ada ojek & kuda lewat.. Beruntung saya tidak tergoda sedikitpun.
Yang membuat saya tergoda justru menjelang km 35. Saat bladder sudah habis, water station jemplang tidak jua tampak, dan jalanan yang walaupun aspal namun adalah tanjakan tiada akhir. Saat sepeda motor penjual ice cream lewat, yang langsung di serbu semua peserta. Ice cream terenak di dunia saat itu, hahaha..
Jam garmin sudah menunjukkan km 40. Yess tinggal 10km lagi, dan di depan mata adalah padang pasir Bromo. Yang sepertinya tidak terlalu sulit untuk mengakhiri race ini di km50.. Tapi ternyataaa.. surpriseeee… Ternyata finishnya di kanan atas sementara kami dibelokan ke kiri ke gundukan pasir naik turun tiada akhir.. Dan.. belum cukup sampai disitu, kami harus naik tangga ke bibir kawah untuk mengambil gelang kuning, kemudian turun lagi. Haha hebat sekali si pembuat rute.. 5 km terakhir yang amat sangat berkesan di hati dan di kaki..
Saya melihat ke garmin saya. Sudah hampir 11 jam saya berlari.. Artinya waktu saya tinggal 1 jam lagi untuk bisa finish di bawah Cut Off Time.. Akhirnya dengan sisa tenaga yang ada, lari lah saya.. Tetapi begitu sampai jalan aspal, hah ternyata lagi-lagi tanjakan. Berarti, jalan lagi. Begitu sampai di atas tanjakan, banyak orang-orang yang bilang ‘tinggal sedikit lagi mbak finish’.. Tanpa basa basi larilah saya dengan perasaan campur- aduk antara senang dan terharu..
Begitu tulisan FINISH tampak didepan saya, rasa harupun kembali tak terelakan. Saya tahan airmata yang hampir menetes. Karena ,” masa macho-macho pelari ultra mewek”.
Begitu saya menginjakkan kaki di finish line, kata ‘Alhamdulillah’ yang tiada habisnya terus terucap di hati saya.. Yeayy saya berhasil menjadi ULTRA RUNNER, finish my 1st Ultra trail 50k dengan waktu 11 jam 12 menit!!
What an amazing race, amazing route, amazing view, amazing people.. Thank you committee for a beautiful race & I will come back next year!!

Standard
inspiration, motivation, mountain running, running, sport, story, trail running, ultra running, ultra trail running

Age is just a number……. by Dewi Satriyani

Age is just a number…….

November 26, 2013 at 3:33pm

Usia itu cuma angka, dan akhirnya yang membedakan tua dan muda itu akhirnya berpulang pada semangat setiap manusianya, dan saya menemukannya pada opa,sahabat,teman dan guru saya yang akrab disapa Aki. Sampai saat saya menulis notes inipun saya bahkan tidak mengetahui nama aslinya.

Belum terlalu lama saya mengenal beliau, tapi banyak pengalaman berharga dan moment berkesan yang sempat saya lewati. Yang saya dengar selama ini beliau adalah orang yang cukup disegani di kalangan pelari, mungkin layak juga kalau disebut trendsetter, tapi lepas dari semua popularitasnya saya sungguh tidak melihat Aki sebagai pelari ataupun selebritis yang untouchable.

Saya bukan pelari mahir, boro-boro mahir, belum 1 KM aja kadang suka udah nyerah, dari kecil juga saya nggak punya mimpi bisa masuk hutan, ikutan trel apalagi mendaki bukit. Jaman kecil, anti sama yang namanya Pramuka, kemah juga sekalipun belum pernah ngrasain. Sampai akhirnya Aki mengajak saya untuk ikutan ngetrail. Belagak gila, tawaran itupun saya terima. Dan benar saja, trail pertama saya ada di barisan terakhir, terpisah tak terlalu jauh, tapi lebih sering berhenti dibanding berlari. Tapi aki sangat telaten mendampingi saya, memegang tangan saya erat ketika menemui medan yang licin dan terjal, ataupun saat menapaki tanjakan dengan jalan setapak yang kalau dilihat kanan kiri udah pingin muntah. Trail paling berkesan saat di Bukit Tunggul, sepertinya cuma sepuluh kilo katanya, tapi elevasinya itu bikin ngilu, terutama buat saya pemula.

Aki tidak pernah menakuti orang yang ingin mencoba trail, meskipun kalau dipikir2 kaya berasa dijorokin sama Aki, karena beliau selalu bilang ini track buat beginner. Begitu sampai venuenya sempet mewek juga.

But on top of that, dari beliau saya belajar mengalahkan rasa takut, terutama takut masuk hutan dan berlari di perbukitan. Saya juga belajar betapa siapapun punya kemungkinan yang sama untuk merasakan nikmatnya nge trail seminim apapun kemampuan kita untuk berlari dan berapapun usia Anda.

Semangat Aki luar biasa, terutama untuk memasyarakatkan trail. Dia orang gila yang menurut saya suka nekad dalam artian positif. Mungkin sedikit banyak bisa dibilang risk taker sejati. Aki mengubah apa yang dirasa tidak mungkin menjadi potensi luar biasa.

dan saya masih menunggu beliau mewujudkan mimpi mengencani 57 gunung sebelum pertambahan usianya nanti. Siapapun pasti akan bangga untuk mendampingi beliau menyelesaikan ekspedisinya.

Dirgahayu Opa, semoga kamu tidak pernah lelah menjadi inspirasi untuk kita semua.

Sehat dan panjang umur selalu.

Standard
adventure, cerita, kisah, mountain running, olahraga, running, sport, story, trail running, tulisan, ultra running, ultra trail running

Teman- teman Saya Yang Hebat

26 November.
Lapar dan haus teramat- sangat. Tak ada lagi yg bisa dimakan & diminum. Jikapun ada pastinya seketika itu juga keluar lagi. Maaf, dimuntahkan.
Asam lambung sudah kadung naik.
Lemas tak tersisa tenaga sedikitpun.
Duduk letih dan  lemah.bersandar dipohon yg tak lagi bisa menahan curah hujan. Sendiri.
Di ketinggian Plawangan, Tempat pendaki bermalam sebelum muncak Rinjani.
Beberapa saat tadi baru turun dari muncak Rinjani. Belasan menit setelah Kang Hendra. Dan lebih lama lagi setelah Kang Rudy.
Kang Rudy tak tahu lagi entah dimana.
Kang Hendra katanya antara Plawangan dan Segara Anak.
Pasrah. Tak ada lagi yg bisa diperbuat.
Belokan turun ke Segara Anak tak juga ditemukan. Sudah belasan kali dicoba,
Sampai, ya sampai tak kuat lagi melangkah.
Dering telpon Kang Hendra ada sekali2.
Pastinya karena signal yang kadang ada kadang tidak. Menanyakan apakah belokannya sudah ditemukan.
Setelah sekian kali dijawab belum, akhirnya jawaban saya terakhir adalah sudah.
Hanya agar Kang Hendra tak lagi mengkhawatirkan saya, dan, sungguh menjawab telponpun sudah tak kuat.
Selang beberapa puluh menit masuk sms/ bbm teman2 mengucapkan selamat ulang- tahun.
Satu, dua, beberapa sekaligus. Belas, dan ya ampun, seperti tersadarkan, bahwa saya punya banyak teman. Banyak sekali.
Tak saya sadari, saya menitikan airmata.
Setelahnya adalah isakan.
Isakan bahagia, karena entah bagaimana mulainya tiba2 saya merasa tidak sendiri lagi.
Tiba2 tersadar bahwa sepertinya ada banyak teman2 yg menunggu seperti apapun kisah2 lari2 gunung saya. Jika ya begitu maka tak boleh diri ini menyerah.
Tiba2 saja saya mempunyai kekuatan lagi.
Kekuatan yg saya yakin cukup untuk bangun, dan memulai pencarian belokan ke Segara Anak.
Ternyata belokan yang dicari hanyalah belasan meter arah utara dari tempat saya semula tadi.
Selanjutnya beberapa jam kami bertiga sudah berkumpul di Segara Anak. Selamat, tanpa kurang suatu apa. Alhamdullillah.
Dua tahun kemudian, beberapa hari kemarin teman2 saya bukan lagi sekedar berlari gunung, tapi berlomba berlari di gunung.
Artinya ada batas waktu yang harus mereka perhitungkan.
Dengan jarak 50km, 102km dan 165km.
Dengan berbagai tingkat pengalaman dan kemampuan.
Dari yang pemula sekali. Sampai yang sudah beberapa kali penamat lomba2 lari trel ultra dimanapun.
Padahal kisah saya diatas hanyalah 30an km saja.
Saya yakin, tantangan, hambatan dan perjuangan mereka pastinya lebih lagi dari saya.
Biaya, waktu, persiapan, cuaca, medan yang sulit dan berbahaya. Tidur yang kurang. Makan dan minum yang mungkin berbeda dengan biasanya.
Tapi begitu besar niat dan keinginan mereka untuk turut di hajatan ini.
Bersukur acaranya selesai dengan, semoga saya tidak salah, berhasil dan selamat.
Teman2, kalian sungguh luar- biasa. Tamat atau tidak tamat kalian telah membuat sejarah.
Langkah menuju Indonesia sebagai salah- satu tujuan hajatan lari trel ultra dunia sudah dimulai.
Tak bisa lagi dihalangi.
Dengan kenyataan bahwa kita mempunyai ratusan gunung, pebukitan dan medan trel dimana- mana, bukan hal yg mustahil berikutnya adalah menjadikan tanah-air sebagai kiblat lari trel ultra maupun non ultra dunia.
Saya yakin dan percaya sekali.
Terimakasih teman- teman, kalian dan apa yang baru saja kalian lakukan merupakan hadiah termanis dan terindah diulang- tahun saya..
Tak terlupakan juga doa dan dukungan dari teman2 yang lain.

Salam,

Standard