kisah, story, tulisan

The Power of Kerokan Or Karma

Kerokan

Pijat, apalagi kerokan, gigi emas, jatuh terjengkang atau apapun yang tampak konyol adalah sebagian dari beberapa hal yang bisa menjauhkan saya dari minat saya kepada perempuan yang sedang saya dekati 😉

Dulu.

Sekarang, artis, selebriti dunia banyak bergigi emas.

Awal 1970an, usia- usia sma, saya, seperti juga kebanyakan usia- usia kami dijamannya adalah penyuka bermotor cepat. Ngebut.

HondaS901973-2

Tak peduli motor kami hanya honda S90 keluaran 1969( memang ditahun- tahun yang sama, berkapasitas mesin 90cc( ya iyalah), siapapun didepan, ratusan cc sekalipun, pantang berhenti sebelum terkejar.

Bagaimanapun caranya.

Minus saat makan dan tidur atau berkumpul, waktu- waktu kami adalah diatas sadel motor.

Tak berhelm, tak berjacket. Jangan sebut lagi pelindung lutut dan siku tangan. Helm hanya kami kenal di poster- poster iklan motor atau poster- poster lomba motor dunia.

Poster- poster cantik yang biasanya terpasang di toko- toko onderdil motor.

Bermotor tak hanya dikota, sekali sekali  keluar kota.

Tetap tanpa helm dan jacket. Tetap tolol.

Suatu saat, dalam perjalanan Cirebon Semarang.

Dalam kota Pekalongan.

Berdua berboncengan dengan salah- satu sahabat bermotor saya.

motor kami mendekati motor yang    ditumpangi dua remaja perempuan.

Saat akhirnya beriringan, sapaan, obrolan, senyuman dan saat senyuman dengan tampak sederetan gigi, salah- satu bergigi emas, kami pun pamit 😉

Itu tadi gigi emas.

Kerokan sering saya lihat di perkampungan, yang penduduknya terbiasa bertelanjang dada. Tampak tak hanya dipunggung pria, pada ibu- ibu tuapun kerap saya jumpai. ibu- ibu tua yang maaf hanya ber beha. Memang biasa seperti itu.

Dikota pun sama. Hanya karena dikota lebih banyak berpakaian, jadi tak tampak.

Garis- garis merah menyamping dari tengah kearah kedua sisi. Terkadang sampai menghitam disekujur punggung. Tak indah sama sekali.

Begitu juga dengan pijat, massage. Seperti mengada- ada.

Pijat pertama saya.

Tak diniatkan tak direncanakan. Badan serasa remuk setelah berkendaraan dari Bandung ke Solo.

Bibi, sang tuan rumah, sepertinya sudah biasa, menawarkan jasa pijat Si Mbok, tetangganya, kepada siapapun tamu dekatnya yang datang dari jauh.

” Coba dulu, jangan bilang ga suka ga suka”. Begitu katanya.

Tak ingin mengecewakan dan menyinggung keramah-tamahan sang  Shohibul Bait, kamipun mengiyakan. Saya dan nyonya.

Beruntung sang nyonya lebih avonturir dibanding saya.
Jadi dia terlebih dahulu.

Saya tinggal tunggu hasilnya 😉

 

Selang lebih dari satu jam saya lihat sang nyonya seperti yang baru bangun tidur.

Rupanya memang tertidur.

” Enak lho, ga kerasa. Tau- tau ngantuk. Bangun- bangun rasanya koq enteng-enteng deh badan”.

” Seperti yang disirep”, demikian dia tambahkan.

Dan berikutnya, apa yang terjadi pada sang nyonya saya alami juga.

Si Mbok hampir tak bersuara sedikitpun, kecuali menyuruh saya telungkup.

setelahnya adalah baluran campuran minyak kelapa dan entah apalagi lainnya.

Pijatan- pijatan lembut di awal telapak kaki, ke betis, paha, punggung dan pijatan- pijatan yang semakin kuat berikutnya.

Tahu- tahu saya tertidur.

Tak terasa sakit apalagi geli.

Sirep? Wallahu Alam.

Anggapan saya terhadap pijat harus dirubah rupanya.

Setelahnya, seperti diduga, bukan alasan tak enak badan, tapi agar badan lebih terasa enak, pijat yang dicari 😉

Walau sampai sekarang belum lagi bertemu dengan pijatan se juara Si Mbok.

Dari beberapa tempat pijat, salah- satu yang saya sukai adalah pijat tuna- netra.

Menurut saya mereka lebih bisa memijat. Tak asalan.
Dan yang lebih saya sukai lagi adalah, karena saya bisa berekspresi semau saya, saat menahan sakit atau geli tanpa, maaf, terlihat mereka.

Saya kira.

Hal yang tak saya sukai adalah, lagi- lagi maaf, usaha bersikap ramah dan sopan mereka.

Begitu berbaring, mereka langsung mulai dengan berbagai pertanyaan.

Seringkah datang, dimana tinggal, sudah berkeluarga ,dan banyak lagi.
Diperparah lagi dengan sahutan kebanyakan tamunya.
Alih- alih mau dipijat sambil rest yang ada adalah suasana seperti diruang tamu. Ramai.

Seringnya saya siasati dengan, ” Maaf ya Pak atau Bu, saya mau sambil tiduran”.

Suatu kali jawaban seorang Ibu pemijat adalah.” Lah katanya Bapak mau sambil tidur, koq smsan?”

“?????”

Jadi, jangan- jangan selama ini mereka bisa tahu ekspresi saya saat menahan sakit dan geli, tanpa harus bisa melihat.

Tinggal di Bandung, kami sering mengunjungi atau dikunjungi keluarga dekat.

Rupanya hal diatas berkaitan dengan semakin seringnya pijat memijat  dan kerokan. Dan sang nyonyapun sudah semakin bertambah jam terbangnya. Bukan me- tapi di- pijatnya 😉

Batuk, flu, agak sesak dan demam yang biasanya datang sendiri- sendiri, suatu ketika datang bersamaan.

Setelah berbagai obat dirasa tak mempan, akhirnya saya merelakan punggung err mulus saya dikerok. Setelah sebelumnya dipijat sang nyonya.

Ohya, masih jauh dari pijatan juaranya Si Mbok, tapi lumayan ;-).

Maaf ya Bu 😉

Kerokannya? Entah kebetulan entah tidak, atau karena sebab dan faktor lain, menyembuhkan. Alhamdullillah.

Saya tak perlu repot- repot dahulu mencari pembuktian medis atau membaca jurnal kedokteran untuk hal- hal seperti ini.

Sejauh bukan hal yang terlalu aneh, berisiko atau terlalu tak masuk akal.

Seperti juga kolang- kaling atau cangkaleng, banyak disebut belakangan oleh teman- teman sesama pelari sebagai yang dianjurkan untuk keluhan pada lutut dan persendian.

Tak mengiyakan, tak juga menolak mengakuinya.
Bersyukur sekali jika ya. Jika tidak, paling tidak enak rasanya. Dan sudah sejak lama saya konsumsi. Berawal dari sajian pembuka puasa. Selanjutnya sering tersaji dimeja makan.

Pembuktian medis suatu ketika bisa jadi terpatahkan/ terbantahkan dengan pembuktian medis yang lebih baru. Demikian seterusnya.

Jadi… jangan anggap enteng The Power of Kerokan 😉

Karma?

Oh ada satu lagi yang harus saya tambahkan.

Mengingat begitu tak sukanya saya melihat orang berpunggung kerokan.

Tak indah dan norak.

Suatu hari, saya memulai lari- lari pagi saya.

Seperti biasa dengan short dan singlet lari saya.

Kali ini dengan lebih banyak semangat lagi, karena akan ada  yang menemani saya berlari.

Entah saya yang kepagian atau sudah tertinggal, karena tak seorang pun tampak.

Tiba- tiba ada yang menepuk bahu saya. Dan sapaannya adalah. ” Abis kerokan ya…”

Hastagah, sudah pasti ada yang terlupakan.

Saya amat sangat berharap, detik itu juga saya ditelan bumi..

Bandung, 8 Desember 2015. Menjelang magrib

#whereareyou?

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements
Standard
cerita, kisah, story, tulisan

SEPENGGAL KISAH MASA KECIL SAYA

Dunia saya adalah main, main dan main disana – sini.
Dunia saya tak pernah sepi.
Kemanapun pergi, selalu ada siapa- siapa dikanan dan dikiri.

Berkelahi? Selalunya saya hindari. Tapi jika mesti, walau awalnya ragu akhirnya pasti saya hadapi.

SEPENGGAL KISAH MASA KECIL SAYA.

Sejak usia belum sekolah saya sudah suka sekali berteman. Terutama dengan perempuan:).
Tunggu dulu.
Bukan berarti genit atau keperempuan- perempuanan.
Bagi saya mereka tampil tak kasar, tak temperamen. Tak suka berkelahi.
Walau kenyataannya, tak jarang kebalikannya.
Saat tinggal dirumah petak di Batujajar Jakarta dulu, saat pemukiman dibelakang Grand Indonesia masih kampung, lebih sering mendengar si Tante sebelah rumah yang mencak- mencak entah karena apa daripada si Om suaminya.
Lebih sering terlihat si Mbok penjual sayur keliling ngomel- ngomel dibanding Bapak- Bapak tukang becak yng suka mangkal di gang keluar kampung kami.
Saat smp saya malah punya ‘bodyguard’ perempuan.
Siapapun yang ganggu saya, laki- laki pastinya, harus berhadapan dengannya.
Dan selalunya, segagah apapun laki- lakinya ciut dihadapannya.
Ohya, sang ‘ bodyguard’ ini hanya satu dari sedemikian banyak teman- teman perempuan yang suka dengan saya. Stop! Bukan saya maksud saya yang ter ini ter itu, tapi karena mereka menganggap saya.. apa ya, lucu barangkali. Perawakan saya mungil jika tak dikatakan lebih pendek dari kebanyakan se usia saya.
Jadi tampil imut.
Mereka tak sungkan peluk- peluk saya.
Ya itu tadi, barangkali saya dianggap boneka hidup.
Saya? Antara suka dan tak suka. Suka, karena ya dipeluk- peluk itu tadi. Perawakan boleh imut, mungil. Hati kan hati se dewasa mereka:). Tak suka, karena, ya bagaimana saya bisa jadikan salah- satu dari mereka pacar saya? Semua menganggap saya tak lebih dari teman ‘kecil’ yang menyenangkan.
Beruntung, porsi keinginan bermain saya tak kalah besar dengan porsi keinginan punya pacar:).

Jadi, pada akhirmya tetap saja saya lebih suka bersahabat dengan mereka.
Sahabat- sahabat saya sejak kecil sampai usia sma selalunya lebih banyak perempuan.
Bahkan Ibunya anak- anak adalah satu dari dua mantan sahabat saya sma 🙂
Walau tak banyak, beberapa adalah sahabat laki- laki.
Yang pasti teman- teman bermain usia sd saya banyak sekali.
Dari ujung komplek di utara sampai selatan.
Teman- teman main perang- perangan, pedang, bola. Sampai sekali- sekali mancing di sungai dikampung seberang.
Untuk yang terakhir saya lebih sebagai penonton.
Saya tak beruntung dengan urusan mancing- memancing.
Teman- teman sudah belasan ikan didapat, saya tak satupun.
Setali tiga uang dengan urusan adu layangan. Layang- layang mereka bisa berlama- lama lenggak- lenggok di udara sambil putuskan layang- layang lawan, saya selalunya menjadi disisi yang tak pernah lama. Begitu naik ssst putus. Layangan saya. Bukan lawan.
Tapi jika urusan mencari dan banyak  teman, entah laki- laki atau perempuan, rasa- rasanya saya lebih jagoan:).
Rentang usia teman- teman saya dua- tiga tahun kebawah dan keatas. Artinya, saat usia kelas tiga smp misalnya, mereka adalah di usia kelas satu smp sampai yang baru kuliah.
Dunia saya adalah main, main dan main disana- sini.
Dunia saya tak pernah sepi.
Kemanapun pergi, selalu ada siapa- siapa dikanan dan dikiri.
Seperti yang saya pernah ceritakan, Mmak dan Bapak tak pernah keberatan dengan hal ini.
Yang penting setelah solat dan ngaji.
Ditambah lagi saya tak bermasalah dengan urusan sekolah.
Masuk sekolah siang, pulang sekolah saat sore, langsung saya selesaikan semua pe er- pe er sekolah.
Sering kali malah saya selesaikan lebih dari yang semestinya.
Kadang empat sampai lima halaman lebihnya.
Setelahnya selalunya saya mandi, pakai hemd lengan pendek bermotif kotak- kotak, kebanyakannya, terkancing sampai keleher, saya siap pergi main. Tak pernah terlewat, bersepatu:).
Berkelahi? Selalunya saya hindari. Tapi jika mesti, walau awalnya ragu akhirnya pasti saya hadapi.
Pernah suatu kali, seorang teman, mungkin sebab iri- hati akan entah hal apa, berulang- ulang mengganggu saya. Apapun dilakukan untuk memancing emosi saya.
Bagian yang paling menyebalkannya bukan gangguannya, tapi bahwa dia berperawakan jauh lebih besar dari saya dan.. selalunya dia lakukan dihadapan banyak teman- teman yang lain.
Serba salah. Dibiarkan, tak nyaman juga, karena jadi bahan olok- olok yang lain. Dilawan? Tampang dan perawakannya saja sudah mengintimidasi.
Akhirnya, keputusan harus dilakukan. Saya hampiri dia, setengah berbisik saya katakan,” yuk, ga usah koar- koar, mari kita berdua kelapang”.
Dengan perhitungan dan harapan, pertama, siapa tahu gertak saya efektif, membuat dia berfikir lain tentang saya. Kedua, tak lupa berdoa yang banyak, setelah  beberapa kali pukulan dia terhadap saya, yang kemungkinan terbesar tak bisa saya elakan, teman- teman lain sudah merelainya. Semoga, Aamiin.
Perhitungan ketiga, saya akan ambil posisi dimana ada batu sedikit besar atau apapun dalam jangkauan saya, dan siap saya gunakan saat terjepit.
Saya akan hantamkan semampu saya. Sepertinya akan cukup sekali jika bisa ke kepalanya.Seperti yang suka saya lihat di film- film india di layar tancap.
Diluar dugaan, mendengar ‘tantangan’ saya dia tampak kaget.
Tiba- tiba saya melihat hal lain.
Tampak jelas keyakinannya mendadak surut, berbanding terbalik dengan kepercayaan diri saya.
Dan akhirnya ‘perkelahian’ kami berakhir dengan keduanya terjerembab di selokan bau dipinggir lapangan. Penonton kecewa, tak ada adegan pukulan tak berakhir dari sang lawan dan tak ada juga hantaman batu yang mematikan dari saya.
Sebaliknya saya  bahagia:)

Bandung,kamis dinihari, november 2015.
Sepenggal kisah masa kecil saya.
Ditulis saat terbangun dari ketiduran sejak selewat magrib kemarin.

Standard

image

bakti sosial, berbagi, biking, cerita, cycling, fit, healthy, inspiration, komunitas, motivation, olahraga, renungan, running, sehat, sepeda, sketchup, sport, story, transportasi

Peduli Atas Bumi Yang Hanya Satu Ini

Image
cerita, renungan, story, tulisan

Bapak

Untuk se usia 84 tahun, Bapak terhitung sehat.

Padahal lama sudah tak lagi banyak jalan kaki, seperti terakhir 1995an.

Menata taman dan lingkungan seluas 32 Ha enteng- enteng saja. Selalu berjalan kaki. Dibantu belasan tukang taman.

Sejak matahari menjelang, sampai sebelum magrib. Berhenti hanya saat makan siang dan minum teh sore dan waktu- waktu solatnya.

Luar- biasa suka- suka Bapak akan taman, desain rumah/ bangunan. Padahal Bapak tak bisa menggambar sama- sekali.

Tapi kerap bisa berdiskusi seru untuk urusan desain rumah/ bangunan dan taman serta banyak hal yg berhubungan.

Sejak Bapak di diagnosa ada gangguan jantung, Bapak tak boleh lagi ‘capek- capek’.

Entah memang sedemikian ‘parah’nya atau memang Bapak yg tiba2 saja ‘ malas’ jalan kaki lagi.

Hari- hari Bapak tak banyak berubah, kecuali minus jalan kaki jalan kakinya.

Keluar kamar pertama setiap harinya Bapak selalu sudah terlihat rapih. Selalu sudah mandi. Berhemd lengan pendek/ polo hemd. Polos atau bermotif garis- garis atau kotak- kotak kecil. Yang pasti berwarna cerah. Tak pernah lusuh ataupun kumel.

Celana pendek selutut atau panjang.

Sarapan, baca koran dan berita pagi di tv.

Satu dari banyak hal yang saya suka dari Bapak.

Selalu tampak rapih. Walau seharian dirumah.

Seminggu dua minggu sekali bersama Mmak( panggilan Ibunda) keluar kota. Sekedar nengok salah- satu anak2nya.

Atau bersama teman se usianya, bernostalgia ke perkebunan- perkebunan di jawa barat. Sekali- sekali sampai ke Jawa tengah jawa timur.

Seperti saya, Bapak tak punya pantangan makan. Tapi cukup rapih. Tak kebanyakan menyukai itu- itu saja. Terhitung apik.

Seumur- umur bukan perokok. Apalagi peminum alkohol.

Bapak hanya kenal air putih dan teh hangat tawar.

Bapak yang saya ingat. Jika sekarang, ‘cool’ barangkali adalah ungkapan yang nyaris pantas.

Sejak dulu.

Di usia sudah Bapak- bapak, tahun 75an. Berarti bapak di usia 44an.

Tahun- tahun itu, usia sekian kan biasanya tampil lebih ‘tua’ dibanding sekarang- sekarang.

Bapak- bapak lain biasanya berambut terpangkas rapih. Bapak ikal dengan sedikit lebih panjang.

Umum saat itu banyak keluarga bermobil model sedan, jeep. Bermuatan banyak.

Bapak pakai fiat 850 sport dua pintu.

Maunya malah mini cooper.

Padahal kami anak- anak sudah bertujuh.

Kaka terbesar usia 18an, terkecil 6 tahun.

Lucunya, kami semua, Mmak dan anak- anak mendukungnya.

Bukan karena Bapak ‘memanjakan diri’. Tapi ya memang kami semua suka seperti itu.

Kami semua dekat satu sama lain. Tapii tak berarti sering pergi bersama. Jika ya pastinya dengan kendaraan umum atau yang lebih besar. Sewaan.

Jadi mobil yang sport berpintu dua dan hanya satu- satunya sama sekali tak ‘mengganggu’. Bahkan ya itu tadi, cool 😉 .

” mana lebih seru, 1 mobil yg bisa banyakan, besar, tampil kebanyakan, tapi seringnya dipake cuma Bapak sendiri, atau berdua Mmak, atau paling Kang Denny( kakak laki- laki tertua), atau, mobil kecil, sport 2 pintu yg lucu?”. Pertanyaan Bapak yang tak sulit dijawab oleh semua seisi rumah.

Keesokan harinya sang sport berpintu dua menjadi satu- satunya dikota kami.

 

Tujuh anak, tujuh cara berbeda Bapak menghadapinya.

Setiap orang- tua selalunya akan bersikukuh, tak membeda- bedakan anak- anaknya.

Bagi saya? Rasanya si Bapak lebih deh ke saya.

Apapun.

Bagi Bapak, saya ter. Saya paling tertib, paling pandai. Dan ada saat- saat saya paling nakal, paling bandel. Pastinya ada saat saat saya paling mengesalkan.

 

Sejak kecil saya adalah teman Bapak.

Paling suka sarapan bareng Bapak. Paling suka habiskan makanan Bapak yang karena terburu- buru, tak sempat.

Paling suka menjadi teman Bapak baca koran. Atau mendengar cerita- cerita Bapak dikantor, dijalan.

Mendengar kisah- kisah Bapak jaman baheulanya.

Bapak yang selalu semangat mengajari saya apapun.

Jauh sebelum usia sekolah, saya sudah pandai tulis, baca, bahkan beberapa kalimat inggris dan belanda.

Menggambar apalagi. Yang terakhir bukan Bapak, tapi kaka sepupu saya yang ajari. Pastinya dengan dorongan Bapak.

Tak berkecukupan pada saatnya tak menghalangi Bapak untuk selalu berusaha agar saya mendapatkan apapun yang sebaiknya saya miliki.

Sampai.. saat saya lulus sma,” Ei, Bapak hanya bisa belikan tiket sekali jalan dan sedikit uang untuk makan beberapa minggu. Bapak percaya Ei bisa atasi apapun disana”.

 

Belakangan saya jarang tengok Bapak. Padahal saya lah dari tujuh bersaudara yang tinggal paling dekat dengan Bapak.

 

Saat ini Bapak masih opnam di rumah- sakit.

Jantungnya baik. Asam uratnya pun tak mengkhawatirkan.

Yang di deritanya ‘hanya’ gatal2 sebadan. Merah- merah. Disebagian tangan dan kaki malah seperti melepuh.

Dokter bilang Bapak kekurangan albumin. Mungkin Bapak terlalu ‘Apik’ makannya. Sampai- sampai asupan gizinya jauh berkurang.

Ditambah lagi banyak obat yang diminum. Untuk jantungnya, asam uratnya dan saraf. Bapak belum berapa lama terkena parkinson.

 

Kembali ke saya dan Bapak.

Tak saya maksudkan bahwa Bapak adalah Bapak terbaik di dunia.

Bapak, seperti juga mungkin beberapa Bapak- Bapak lain di manapun, pastinya tak luput dari salah. Tak lepas dari keliru.

Hal- hal yang manusiawi.

Tapi yang pasti, apa yang sudah, sedang dan pasti akan Bapak berikan kepada saya, tak akan pernah terukur.

Ibarat tulisan kisah/ cerita fiksi India, Mahabarata atau Jodha Akbar. Tak akan berakhir sampai ajal menjelang.

Sementara saya ke Bapak, mungkin tak lebih dari satu goresan kecil. Itupun pendek.

Ajal menyapa, tak hanya saat tua, tapi juga saat muda. Tak hanya saat sakit, begitupun saat sehat, gagah nan perkasa. Hanya Tuhan yang tahu..

 

Saya berdoa, semoga Alloh memberikan yang terbaik bagi Bapak. Aamiin.

Saya bukan sedang mendayu- dayu.

Saya ingin mengingatkan diri saya sendiri dan barangkali siapapun.

Saya tak ingin, saat Bapak, jika memang sudah menjadi kehendak Alloh, dijemputNya, tak tiba- tiba menangis meraung- raung sampai terdengar keujung jalan. Menyesali banyak hal. Menyesal tak memberikan apa yang mampu, bahkan jika ya seisi dunia. Padahal saat Bapak masih ada, tak segorespun yang diberikan kepada Bapak.

Pastinya saya akan bersedih. Sedikit terisak mungkin.

 

” Bapak ga usah khawatir lagi. Ei yg selalunya dimata Bapak adalah Ei kecil,yg suka megap- megap saat anfal asma, dulu, duluuu sekali, sudah lama sehat koq. Sudah bisa lari2 lama. Kadang berhari- hari. Sudah bisa lari jauh, bahkan ratus- ratus kilo”.

“Sampai nanti sore lagi ya Pak”.

 

Bandung, Advent pagi hari.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Standard
cerita, cerita, kisah, renungan, renungan, story, tulisan

Bandung- Depok, Obrolan, Pilpres dan Harapan Saya

Jangan2 Akang supir travel ga pake rem. Bandung Depok, tepatnya nyampe stasion Lenteng Agung masa iya cuma 2 jam.
Lom kenyang rasanya tidur.
Seperti biasa, urusan cari2 alamat ga pernah bikin pusing.
Tinggal tanya siapa aja. Toh masih di indonesia indonesia juga. Masih bisa pake bahasa yang gw bisa.
Yg pertama ditanya ga tau ya tanya lagi aja yang laen.
Apalagi temen2 Derby, Depok Running Buddie baek banget, pake mo jemput segala.
Ga ah, buat gw, cari alamat, nyasar ga nyasar adalah juga ‘ petualangan’.
Langsung nyampe Alhamdullillah, nyasar ya juga berkah.
Liat dipeta ternyata ga jauh2 amat ke tkp.
Ga lama turun, langsung cegat taxi. Kebeneran si burung biru. Yg selama ini buat gw paling ok, karena hampir ga pernah nemu yg bau rokok.
” Selamat sore Pak”.
” ohya, selamat sore Pak”.
Beda dengan kalo massage, yg males kalo diajak ngobrol ma yg massagenya( semakin murah tempatnya biasanya semakin banyak ngajak ngobrolnya), di taxi seringnya nikmatin ngobrol ma Kang/ mas/ pak supir taxi.
Kalo ditempat massage, selalunya langsung bilang,” 90 menit ya Pak. Maaf saya pake earphone ya Pak”.
Selalunya sukses ga diajak ngobrol. Walau kenyataannya ga pake earphone juga.
Ohya, yang gw maksud massagenya di panti pijat tuna- netra.
Serius gw lebih duluin massage disini, karena menurut gw mereka emang lebih bisa. Dan kalau juga cari yg setara, biasanya ya harganya 2- 3 kalinya.
Satu lagi, gw bisa bebas ber’ekspresi’. Kan kadang gw gelian. Nah gw pikir gw jadi bebas bertampang aneh karena geli ato meringis- ringis kesakitan tanpa ketauan. Rasanya.
Tapi sekali waktu kejadiannya beda. Masih di panti pijat tuna- netra.
” 90 menit ya. Dan saya mau sambil tiduran”.
” Ya Pak”.
Kali ini ibu2 yg massagenya.
Berapa saat tiba2 si ibu bilang,” Katanya mau tiduran. Koq sms an?”.
“??????”.

Eh dimana kita tadi? Ohya di taxi ya.
Gw mulai nanya.
” bapak sudah punya pilihan?”.
” Saya masih bingung Pak”.
Tadinya gw berharap kang supir dah punya pilihan dan gw pengen aja denger alasannya. Titik.
” Kalau Bapak?”. Doi balik nanya.
Tiba2 aja gw keinget masa2 kecil gw.
1962. Umur gw baru 6 tahun. Sekali waktu gw liat ratusan orang beratribut salah- satu partai. Tereakin yel- yel.. ya partai lah ya.
Kapan lagi tiba2 rumah gw penuh ma ratusan orang beratribut partai lain.
Ya ampun, pada mo apa sih ni orang2?.
Ga tau kenapa, banyak orang di satu tempat, koq yg keinget ato yg gw rasain adalah aura kekerasan.
Pastinya gw salah. Tapi ya itu yg gw rasain.
1965. Babe balik ngantor ribut2,” waduh, jendral2 pada dibunuh!”.
1968. Lagi dimobil, lewat Glodok, abis jemput babe yang pulang naek kereta dari bandung. Tiba2 gw liat anggota tentara lari ngejar orang, terus nyambit belati kearah tu orang.
Untung ga kena.
Ga lama gw liat kakek2 tionghoa jongkok dipojokan nangis2. Muka ma badannya berlumuran darah.
Haduh merinding dan ketakutan yg gw rasain.
Babe gw nenangin, “Ga pa2, kita aman”.
Berikutnya gw liat sepasukan lagi baru turun dari truk. Pada loncat. Tampang garang.
Tau- tau banyak orang pada lari blingsatan ga karuan, dikejar- kejar tentara- tentara.
1969. Gw kelas 6 sd di bandung.
Naek sepeda dijalan Malabar. Masih sepi. Jarang mobil. Palingan sepeda, becak.
Ga tau gw ngelamun ato becak yg salah arah, tiba2 aja ada becak kearah gw. Dan ga tau gimana tau2 der aja tabrakan.
Yg pertama gw pikir cuman, gw kudu pura2 pingsan.
Bukan apa2. Penumpangnya tentara.
Eh ternyata gw salah duga. Doi malah samperin gw, angkat gw ati2,” Ga pa2 Dek?”.
Lah iya lah ga pa2. Emang gw cuma ketakutan aja bakal dihajar abis.
Legaaa.
Oh ada lagi yg kelewat.
Kejadiannya sebelumnya, masih di jakarta.
Berempat ma temen2, balik maen dari nyebur2. Bahasa kerennya renang, di empang bekas galian tanah, sebelahan rumah Bu Haryati, salah- satu istri Bung Karno.
Masuk komplek perumahan, pas lewatin plang bekas. Lupa plang apa. Ga tau siapa yg mulai, tau2 kita pada ambil batu2, lempar ke plang.
Perasaan si jauh dari rumah2.
Eh tiba2 aja ada bapak2 tereak2.
“Hei!Kurang ajar kamu!. Sini!!!”
Wahaha kaget banget.
Sementara gw bingung, temen2 gw pada kabur.
Tinggal gw sendirian. Asli masi bingung.
Dan jleg aja doi dah depan gw. Muka merah. Mencak2.
“Goblog kamu!”.
” lempar2 rumah orang”.
“Ee.. anu.. maaf Om, ga lempar rumah Om. Lempar plang itu Om”.
” plang plang apa?. Rumah saya itu tau?!!”.
Halah nasib, abis ni gw pikir.
Ga diapa- apain si. Tapi gw dibawa kerumahnya. Dinaekin kemobil pick up. Yang baknya pake atap terpal. Gw disuruh duduk dibak.
Pick up berlambang salah- satu angkatan. Di pintunya yg gw liat si.
Trus dibawa ke rumah gw.
Halah mampus lah gw.
Bakal dobel kena omel.
Singkat cerita nyampe depan rumah gw.
Gw ga bole turun. Doi masuk rumah.
Tau2 babe ma nyak gw keluar. Dan ya iyalah, tetangga pada ngerubung.
Asli berasa pesakitan.
” Ei, ayo turun..”.
Ga bisa ditahan lagi, gw nangis.
Masuk kerumah.
Sementara babe ribut ma tu mister galak diluar.
Banyak benernya pengalaman2 gw mirip2 begini.
Tapi satu lagi aja deh.
2011an kalo ga salah.
Makan mie ayam di tb. Ismail Bandung.
Tempat duduknya emang terbuka.
2 meja depan gw ada 2 cewek makan juga.
Ga lama datang 1 pemuda. Gagah. Gw langsung ngira, mesti ni angkatan. Dan berpangkat cukupan. Paling ngga lulusan akabri lah.
Ga gw perhatiin lagi si sampe doi tau2 ngerokok.
Kepikiran usil. Ni orang ga sopan banget, ngerokok didepan 2 temennya yg masi pada makan.
Tapi terus gw lupa2in. Lah temen2nya aja keliatan ga keganggu. Yowis.
Tpi pas doi buang2 abu rokok kelantai, gw berasa terusik.
Ni orang koq ga punya rasa ya. Kan gampang aja minta asbak lah.
Ah tapi gw berusaha ga pusingin.
Tapi terus gw kepikiran. Pokoknya tau2 gw celingak- celinguk cari asbak. Ada lah pas banget dimeja sebelahan doi.
Gw ambil, terus gw sodorin baek2.
“Ini mas, asbaknya”.
Sambil kaget, ” Oh.. ee makasi”..
Bersukur gw bisa ga berasa apa2. Aman2 aja. Ga pake sinis, ga pake gimana. Rasanya tulus.
Tau2 bubarlah mereka.
Selang berapa menit mister gagah nan ganteng balik lagi. Nyamperin gw.
“Tadi maksudnya apa?”
“?????”.
” Iyaa! Tadi maksudnya apppaaaa???”.
Waks, mampuslah awak.
Tau2 plak!!! Mukul pala gw. Tapi gw tangkis.
” Ayo! Situ apa saya? Ini urusan hidup dan mati!!!”.
” Saya angkatan, saya ga terima ini!”.
Doi berusaha geret gw keluar.
Itu Mamang2 tukang dagang ma tamu laen pada ga ada yg misahin.
Halah nasib2. Urusan beginian lagi beginian lagi.
Asli bingung gw, urusan ngasih asbak jadi urusan hidup dan mati.
Gw minta maaf aja ga digubris.
Beruntung, kali dalam situasi kejepit, gw yg biasanya ga bisa ngomong, kali ini jawab terus tapi hati2 jgn sampe juga bikin doi tambah naek pitam, tambah panik tau2 jleb aja gw ditusuk ato apa.
Sambil mikir juga, gimana keluar dari neraka ini.
Oh, kalo ga sala si, gw sempet jawab, ga usah bawa2 angkatan, gw juga keluarga angkatan. Maksud gw kali2 aja jadi melemah.
Ealah malah bikin doi semakin galak.
” Bohong! Mana coba saya lihat buktinya?”.
Gw keluarin lah ktp ato sim gitu.
Jreng!! Tau2 doi melongo.
Terus, ” Aduh maaap Pak, saya koq ngomel2in, bentak2 orang- tua. Maap ya Pak”. Gitu terus berulang- ulang.
Hadeuh..

Eits kelamaan ni keingetannya, soalnya tau2 kelewat jauh tuh tekape.
Sambil cari puter balik, gw sambung jawaban gw.
“Mas, saya sudah punya pilihan. Jauh2 saya sudah punya pilihan. Pilihan saya adalah harapan saya.
Mutlak tentu saja hanya yg diatas yang tau”.
” Doa saya bukan, semoga pilihan saya lah yang terpilih nanti. Tapi semoga yg lebih baik buat bangsa ini yang terpilih.
Nomor satu atau nomor dua, tentunya masing2 punya kelebihan dan kekurangannya.
Siapa pilih siapa pastinya sah- sah saja.
Saya hanya punya harapan sederhana, bahwa kedepan, siapapun yang terpilih, bisa membuat orang2 kecil dan sederhana seperti saya ini merasa aman dan nyaman jika ada/ dekat dengan aparat. Bukan seperti sekarang. Berurusan dengan aparat malah sebaliknya.
Senggolan mobil ato motor ga sengaja dengan aparat malah cari penyakit.
Salah tegur dengan aparat ya sami mawon.
Jadi hal- hal ‘ kecil’ ini saja harapan saya.
Harapan besar2 lainnya biarlah teman2 saya, tetangga2 saya, dan saudara2 saya yg lain saja yg lebih pandai yang punya”.
Pastinya tak semua aparat/ angkatan seburuk seperti cerita saya. Saya yakin sekali.
Tak berniat pamer atau melebih- lebihkan apa2 milik sendiri, gambaran rasa aman yg saya maksud barangkali tak juga berlebihan seperti yang tercermin dibawah ini.
Almarhum mertua saya, saat kami sama2 tinggal di Cirebon, awal tinggal di rumah dinas, masuk ke jalan pas satu mobil, di lingkungan pengusaha2 pasar/ toko etnis Tionghoa.
Mobil dinasnya toyota land cruiser hardtop. Tentunya berwarna dan beratribut/ tanda angkatan.
Sudah menjadi kebiasaan sepertinya, tetangga2 ini berusaha bersikap baik dengan memberi apa2 yg bisa diberikan ke keluarga almarhum mertua. Saya yakin kita makfum yg dimaksud.
Dengan sopan sang almarhum mertua selalu menolak setiap pemberian tetangga.
Sambil berkata, bahwa sama2 saling melindungi adalah kewajiban kita semua. Sipil maupun militer.
Dalam artian melindungi yg benar.

Saat di jatiwaringin mendapat rumah dinas berkamar 4, beliau tukar dengan rumah dinas berkamar 2, jatah seorang lain berpangkat lebih rendah.
Alasannya karena toh beliau tinggali hanya berdua dengan almarhumah mertua perempuan. Sementara seorang lain ini lebih muda dan tinggal lengkap dengan beberapa putra- putrinya.
Saat putri keduanya, di usia mahasiswi baru masuk, meninggal terjatuh dari angkot, dekat rumah. Saat sang supir angkot datang setelah mengantar korban ke ugd, dan mengabarkan berita duka, diluar dugaan kami semua, dengan berusaha tetap tegar, Bapak mertua almarhum memaafkan sang supir dan meminta dengan tegas kepada siapapun yang hadir untuk tak menyentuh sang supir seujung rambutpun .
Padahal tetangga sekomplek, apalagi anak2 mudanya, sepertinya sudah siap2 menelan sang supir angkot.

Harta yg dimiliki adalah sebenar- benarnya dari slip gajihnya. Saat almarhum meninggal, yang ditinggalkan adalah rumah titipan/ dinas dan uang tak seberapa dari tabungannya.
Sekali lagi, semoga yang lebih baik buat bangsa inilah yg terpilih nanti.
Dan semoga almarhum dan almarhumah mertua saya mendapat tempat yg layak disisiNya. Dan diampuni segala dosa dan kesalahannya. Aamiin.

Standard
berbagi, event, inspiration, komunitas, olahraga, renungan, running, sport, story, tulisan

BandungJakartaRun4Leukemia

wpid-p6130011.jpg

Awal 80an berangan- angan, sekali seumur- hidup turut dalam lomba lari 10k. Kekaguman saya akan olahraga lari mengalahkan kekaguman saya akan olahraga2 lain, apapun yang menggunakan alat.
Apa daya, asma & bronkhitis bawaan sejak lahir menjadi penghalang. Setidaknya begitu yang saya fahami selama itu.
Awal 2010 adalah lari ‘serius’ saya pertama.
Selanjutnya, kecintaan saya akan lari semakin besar. Dan ‘mengalahkan’ penghalang saya.
Sepertinya kapanpun saya siap untuk berlari puluh bahkan ratus kilo.
Haruskah? Tak mesti tentunya.

wpid-p6130022.jpg
10-30 menit berlari dalam sehari sudah ‘memenuhi’ untuk sehat.
Tak hanya untuk sehat sendiri, berlari ternyata bisa untuk banyak hal positif lainnya.
Misalnya, seperti yang dilakukan teman2 yg baru saja semalam, 13 juni 2014 lalu, memulai lari bandung- Jakartanya. Berlari untuk adik2 penderita Leukemia.
Diharapkan finish menemui adik- adik kita pada tanggal 15 juninya.

wpid-p6130031.jpg
Berlari sebagai bentuk kepedulian mereka akan penderitaan adik2 ini. Akan orang2 disekitar adik2 ini.
Berlari sebagai bentuk kepedulian terhadap sesama. Adik2 kita diantaranya.
Semangat teman2. Tetap sehat. Selamat sampai tujuan. Dan kembali ke Bandung.
Terimakasih tim pesepeda, motor & mobil pendukung. Terimakasih League, PocariID, SAB. Terimakasih semua teman- teman komunitas lari tanah- air.
#bdgjktrun4leukemia

wpid-p6130051.jpg

wpid-p6130065.jpg

wpid-p6130070.jpg

Standard
cerita, story

Passion For Adventure. Versi kami.

” Gawat, ga dapet ijin”. Berarti ga ada duit juga.
Hening sesaat.
” Udahlah, seadanya duit aja”.
” Pangandaran?”.
” Kurang”.
” Jogja?.
” Apalagi atuh”
” Bali bali”.
” Hah?”.
” yuk!”.
” Yuk!”.
” yuk!”.
” Duit?”.
” Wah..”.
” Gw palingan… dua ratus..”.
” Tiga ratus lima puluh,..”.
Terkumpul kurang- lebih seribu rupiah, obrolan di warung Bi Dar, tempat kami, berempat,  jajan dan sembunyi- sembunyi merokok, berlanjut dengan pertanyaan- pertanyaan, “naik apa?”.
Menit- menit berikut kami ancang- ancang melenggang ke stasion kereta- api.
Idenya adalah dengan seadanya uang disaku, naik kereta- api barang kemanapun, kearah timur.
Pikiran cetek, tak ada satupun yg berfikir, kan harus makan.
Stasion Cirebon sebenarnya dekat saja dari komplek tempat sebagian dari kami tinggal.
Masalahnya adalah, dari rumah ke stasion artinya melalui kampung musuh kami.
Masalah yang tak main- main. Bisa- bisa babak- belur kami yang hanya berempat. Sementara mereka bisa terkumpul puluhan dalam sekejap.
Ide yang akhirnya kami anggap paling cemerlang adalah.. naik kereta barang dari sebelum masuk kota. Karena kereta barang sering melambat saat memasuki kota. Seringnya. Semoga.
Dan jarak yang lima kali lipatnya pun kami tempuh demi terhindarnya dari pukulan dan lemparan batu. Amit- amit.
Naik kereta barangnya sukses. Tujuan ke arah timur yang tidak.
Kereta barang berhenti di stasion Cirebon.
Jadi, jalan kaki sejauh lima kalinya, melompat naik kereta barang, untuk jarak yang juga sama, dan sampai stasion menemui kenyataan bahwa kampung sang musuh ternyata sepi. Fiuh.
Berangkat ke timur berarti kami akan melalui persimpangan kereta jalan Kartini.
Jalan paling ramai dikota kami. Dan.. paling banyak dilalui teman2.
Hah, ternyata kami berempat ini tak hanya sok berpetualang tapi juga tak cukup percaya diri untuk terlihat naik gerbong barang.
Mencoba masuk ke gerbong tentu saja tak mungkin. Semua terkunci.
Karena tak seorangpun dari kami yang sukarela untuk berdiri dikiri atau kanan terluar, ya itu tadi, malu terlihat oleh siapapun nanti diperempatan saat kami melintas, akhirnya undianlah cara satu- satunya.
Dan seperti biasa undian tak pernah berpihak kepada saya.
10 menit.. 30 menit. Sudah 1 jam lebih kereta tak juga berangkat.
Saat kami tanyakan kepada seorang petugas, jawabannya sungguh diluar dugaan,” berangkatnya 3- 4 hari lagi”.
Petualangan di kehidupan nyata berjalan tak semulus seperti di film- film.
Bunyi peluit lokomotif uap mengakhiri debat kami atas dilanjutkannya atau tidak rencana sok petualangan ini.
Kedatangannya yang serasa tiba- tiba seperti menyemangati kami.
Kali ini kami berfikir sedikit lebih pintar. Saat akhirnya rangkaian kereta api berhenti, kami datangi sang masinis. Menanyakan apakah keretanya juga berhenti beberapa hari atau lanjut kearah timur.
” 2 jam lagi berangkat”.
” Naik disini saja. Jangan di gerbong”.
Yang dimaksud adalah, kami naik di ruang masinis, membayar 100 rupiah setiap stasion kepada masinis, dan siap2 kabur sebelum dipergoki petugas di stasion yang akan kami lewati.
Kalau sekarang saya melihat orang- orang yang menumpang kereta api dengan cara duduk diatapnya, komentarnya tak jauh- jauh dari, maaf, ” Dasar tolol”. Nah seperti itulah kami.
Bukan diatas atap memang, tapi sama- sama tak pakai otak.
Berpegangan satu tangan pada apapun yang bisa. Satu kaki berpijak, tangan dan kaki lain seenaknya melambai dan mengayun bebas, menantang angin yang menerpa.
Bahagia itu sederhana. Dan berbahaya.
Udara panas dari pembakaran batubara, angin kencang, dan terik matahari. Dan tentu saja muka coreng- moreng campuran debu dan kotoran udara lainnya. Mengawali sok petualangan kami kali ini.
Sama hebohnya dengan saat 3 tahun sebelumnya, Pangandaran- Cirebon, diatas atap bus.
Penyesalan teramat – sangat, padahal baru beberapa menit naik keatap bus. Tapi gengsi juga yang membuat kami bertahan.

Berjalan diatas rel, hanya menimbulkan goncangan tak berarti kearah samping. Pantas saja, siapapun bisa berlari kencang diatas atap kereta yang juga melaju kencang.
Stasion demi stasion kami liwati. Bersukur tak ada petugas yang melihat kami. Bersembunyi adalah salah- satu keakhlian kami.
Masuk waktu isha kami sampai di stasion jogja.  Rangkaian kereta hanya sampai disini.

Karena saat itu tak ada lagi kereta yang kearah timur, entah esok harinya, kami putuskan lanjut dengan mencoba naik mobil. Apapun.
Jalan kaki adalah satu2nya pilihan. Dan spbu target start kami berikut.

Sisa uang setelah dikurangi beberapa kali 100 rupiah setiap stasion masih mencukupi untuk sekali makan. Setelahnya adalah nol.
Ohya, selama kami naik kereta, makan kami adalah sisa jajanan yang kami beli sebelumnya diwarung Bi Dar. Masih ingatkan warung kami ini?

Setelah sekian lama berjalan, lelah dan lapar lah  yang lebih cepat menghampiri kami dibanding kami menemukan spbu.

Ditambah tak sebatang rokokpun lengkap sudah penderitaan kami. Kami bertiga. Karena satu teman kami tak merokok. Dan yang paling kami sesali adalah karena kami sepakat mempercayakan uang saku dipegang oleh sang kawan satu ini. Percuma saja,merengekpun tak kan dibelikannya, walau hanya sebatang.

Satu dari sekian truk yang kami hampiri berbaik hati memberi kami tumpangan. Tentu saja di bak. Dikabin depan sudah ada 2 ibu2 penjual sayur.  Dan pak supir tentunya. Keneknya bersama kami dibelakang.

Sudah lewat waktu isha, saat truk mulai melaju.
Pastinya karena lelah dan lapar, kali ini kami lebih banyak diam daripada seperti biasanya ramai.
Tak ada lagi canda dan saling ejek.
Kami duduk diantara bakul- bakul sayuran. Ditutup terpal tebal.
Udara dingin malam dan angin yang kencang lebih memaksa kami mencari posisi senyaman mungkin.
Lebih tepat barangkali sesedikit mungkin tersiksa.
Bersandar kedinding bak truk yang kerasnya Na’Uzubillah. Duduk beralaskan apapun yang agak membantu terhindar dari ya juga kerasnya lantai bak truk.
Kali ini ada hal lain yang melintas di fikiran saya.
Tiba- tiba teringat hangatnya kamar tidur saya. Satu dari lima kamar tidur di rumah tinggal kami.
Rumah tinggal dengan arsitektur amerika tahun 50an.
Berdiri terpisah dari rumah- rumah tetangga lain. Kiri dan kanan masih lahan kosong.
Apalagi karena sudah ketetapan dinas tata kota, bahwa di deretan sebelah barat, ya deretan rumah kami, tak boleh lagi dibangun rumah- tinggal. Peruntukannya untuk kantoran.
Membuat rumah kami satu- satunya rumah- tinggal.
Selainnya adalah perkantoran. Itupun masih jarang sekali. Tak berderet- deret seperti sekarang.
Kamar tidur saya tak mewah. Tempat tidur biasa.
Yang paling saya suka adalah, lemari- lemari built- in dan pintu- pintu kamar tidur yang semua menghadap kehalaman belakang. Jadi bukan menghadap kedalam ruang keluarga, seperti pada umumnya.
Semua pintu dan jendela adalah dobel. Satu pintu biasa yang membuka kedalam. Dan satu pintu berkasa nyamuk yang membuka keluar.
Mahal? Tak sama sekali. Rumah yang dibeli Bapak seharga satu setengah juta rupiah.
Dihindari oleh yang lain, menjadi keberuntungan bagi kami.
Konon katanya rumah berhantu. Lama tak ditinggali.
Padahal desain rumahnya sudah modern sekali pada jamannya.
Tak pernah diceritakan Bapak tentunya soal rumah berhantu ini sebelumnya.
Saya baru menyadari lama setelahnya, bahwa awal- awal teman- teman yang suka main kerumah, jarang sekali sampai lewat magrib.
Sejak tinggal dirumah ini saat tidur seringkali saya mengalami kena eureup- eureup. Apa ya bahasanya. Saat tidur tiba- tiba merasa seperti ada yang menindih. Berasa sesak tak bisa bergerak.
Orang bilang, harus segera dibangunkan. Jika tidak, akan tak bangun- bangun. Selamanya.
Ah tak sedikitpun saya percaya.
Selalunya jika tidur telentang.
Hal yang mudah untuk dihindari sebenarnya. Ya tidur tengkurap saja.
Masalahnya saya sering lupa. Tidur terlentang lagi terlentang lagi.
Dan pelupa saya parah.
Jadi kalau sekarang saya ini pelupa, bukan karena faktor usia, tapi memang bawaan. Haha.

Ya, tiba- tiba saya mengimpikan berada dikamar saya. Kamar di rumah yang konon berhantu. Tapi pastinya hanya setarikan nafas saja untuk sampai ke dapur dan sapu- habis apapun yang bisa dimakan. Dan rebahan setelahnya dikamar. Selama dan sekehendak saya.
Bukan kedinginan dengan perut lapar dan kelelahan teramat- sangat.

Alih- alih bisa melalui malam- malam yang menyiksa dengan mengantuk dan tidur, tetesan- tetesan air melalui bolong- bolong kecil sang terpal dan dinginnya tenda yang menempel kepala dan sebagian bahu kami membuat kami sebaliknya.

Hujan turun cukup deras. Karena terpal tak terpasang terbentang kencang dengan dudukan tinggi seperti harusnya. Tapi tergelar seadanya menutupi kami dan bakul- bakul sayur, tak ayal genanganpun ada dimana- mana diatas terpal, tepat di kepala kami. Sempurna sudah penderitaan ini.

Satu dari empat sok petualang ini meneteskan airmata. Sedih dan kesal.
Kelak saya tahu, ternyata yang lainpun sama. 😛 .

Bersambung 😉

Cirebon, 1974.

Standard
cerita, running, story, trail running, tulisan, ultra running, ultra trail running

kehidupan yang warna- warni, lari dan asma abadi

WaistPack

jika perjalanan hidup adalah kumpulan dari hal2 yang baik, hebat, menyenangkan, berkelebihan dan keberhasilan. Barangkali bisa di ibaratkan seperti berlari dari start sampai finish dengan pace yg cepat menakjubkan, tanpa lelah sedikitpun. Di trek yg super mulus, udara bagus dan tanpa sedikitpun lapar dan haus.

Ada saat- saat  bisa pergi  main dari pagi sampai sore tanpa larangan orang- tua. Ada saat- saat tak boleh keluar rumah bertahun- tahun karena anjuran dokter.  Juara kelas berturut- turut dalam satu kurun waktu.  Saat lain raport tampil menyala dengan 8 angka merah.
Disaat yang satu rajin mengaji rajin belajar, sampai lupa padahal sedang libur. Disaat lain menjadi biang kerok perkelahian antar kampung.
Sebagian saat- saat sma adalah saat- saat tertawa lepas dalam keseharian bersama teman2. Sebagian lain adalah buru- buru menjauh dari kerumunan, menyembunyikan batuk asma yang sama sekali tak indah didengar.
Berlari mengajarkan kepada saya, bagaimana suatu minus, keburukan, kekurangan atau kerugian sepanjang hidup, yang hampir seperti kutukan, bisa menjadi sebaliknya. Bisa berdamai dengannya.
Asma saya  bisa jadi abadi, tak hilang sepanjang hayat saya.
Tapi dengan berlari, saya belajar mengendalikannya. Belajar bagaimana mengurangi pencetusnya.

Bagi teman2 pengidap asma seperti saya, tak usah kecil hati. Yuk kita coba untuk berlari.
Bisa jadi lari2nya saat ini bercampur  dengan berhenti berulang- kali. Tapi, sedikit demi sedikit tapi pasti , kita akan sampai pada titik ” Yes! i did it!” . Akhirnya bisa lari2 rutin sekian puluh menit setiap hari. Atau jika diinginkan bahkan sampai berlari trel ultra muncak Rinjani.
Selamat pagiiii 🙂

 

 

 

Standard
cerita, cerita, kisah, renungan, inspiration, kisah, motivation, olahraga, renungan, running, sport, story

Lebih Baik…. Lari

Belum terlalu siang, beberapa tahun lalu. Baru selesai lari dapat kabar ayah saya masuk ICU. Bandung diakhir minggu, macetnya, seperti yg sama2 kita tahu, ga lucu.
Menunggu yang lain mau berangkat sama2 koq rasanya seperti keabadian.
Tak pikir panjang saya lari ke Borromeus. Ya berlari.
Saat sampai dan melihat sanak- saudara berkumpul, saya baru sadar, ya ampun, saya pasti kena omel, gerutu dan omongan. Berulang- ulang, setiap mereka melihat saya berkostum lari.
” Hati- hati Kang, ingat umur”.
“Jangan maksain”.
“Jalan aja jalan. Lari mah atlet kali”.
Dan banyak lagi.
Itu satu. Dan baru sadar berikutnya adalah, apa kata Ayah nanti?.
“Duh ti- ati Ei( panggilan sayang Ayah ke saya). Harus ingat keselamatan. Umur kita kan sudah ga muda lagi”. Dan entah apalagi.
Perkiraan saya akan seperti itu.
Tapi, ya itu tadi, nasi sudah menjadi bubur. Kalau kata Aa Gym, jgn disesali, lebih baik buburnya kasih saja cakue.
Saya sudah melangkah masuk ke ruang icu, tak ada waktu lagi berfikir itu- ini.
Saya: “Salam Pak”.
Bapak: “Eh Ei. Abis lari?”.
Saya : ” Eu eu iya Pak. Anu.. dikit, bentar aja. Tadi .. eu buru2..”.
Bapak : ” Ya asal ati- ati aja. Semoga Bapak ga apa2 ni. Tapi kalo bisa milih, memang lebih keren mati karena lari daripada mati karena penyakit”.
Saya : ” ???????”.
Semoga Bapak selalu diberkahi sehat dan bahagia. Aamiin.

Standard
cerita, event, inspiration, kisah, komunitas, motivation, renungan, story

Belajar Menulis Dan Belajar Berbagi

Tak sedikit kisah2 yang luar- biasa, menyenangkan( sudah pasti), dan mengharukan sepanjang berkegiatan di komunitas yang saya ikuti.
BatagorDotNet salah- satunya.
Tak hanya tempat dimana saya belajar tulis- menulis. Tapi juga tempat saya belajar berbagi.
Mulai dari Bebersih Bandung Yuk, acara pungut- pungut sampah. Jilid satu sampai kalau tak salah sampai sembilan.
Bergantian di beberapa titik lokasi dikota.
Buka puasa bersama saudara- saudara kita yang kurang beruntung.
Kunjungan ke adik- adik Sekolah Luar Biasa di Banjaran. Sambil juga berbagi kebutuhan/ keperluan mereka. Buku- tulis, bacaan , alat musik dan beberapa komputer desktop.
Berbagi ke korban banjir Bale Endah.
Makan siang dan bagi2 buku tulis/ bacaan bersama 32, seratus, dua ratus adik2 dari berbagai Rumah/ Yayasan Yatim- piatu.

Bedah Gubug, bantuan membangun rumah- tinggal seluas 41m2 dua lantai untuk seorang penjaga kebersihan makam serabutan. Dengan 1 istri dan 1 anak usia SMK.
Dibangun mulai dari nol.
Alhamdullillah, walau namanya Bedah Gubug, adalah rumah permanen berdinding tembok dilantai dasar. Dan dinding fibercement dilantai atas.
2 kamar mandi, 1 dapur kecil dan 3 kamar tidur.
Satu kamar dilantai atas untuk si Bapak dan Ibu. Satu kamar, juga diatas untuk sang anak . Dan satu kamar dilantai dasar untuk dikontrakan. Diharapkan bisa membantu memenuhi kebutuhan hidup hari- hari.
Dibangun selama 3 bulan. Mulai dari beberapa ratus ribu rupiah, sampai akhirnya rumah selesai mencapai 21 juta rupiah

Bersambung….

Standard
cerita, inspiration, kisah, motivation, olahraga, renungan, running, sport, story, trail running

Yuk kawan, kita lari

image

Tentu saja Nadine tahu sekali bagaimana mengikat tali sepatu trelnya dengan benar. Seperti yang selalu dengan penuh semangat Nadine ingatkan ke siapapun, yang kedapatan tali sepatunya lepas.
Lipat masuk simpul tali sepatu yang sebelah kanan kedalam bulatan simpul tali pertama. Sekarang lipat, masukan juga lagi simpul tali kirinya. Tarik perlahan sampai benar- benar terikat kuat.
Demikian yang Nadine ingat dari yang pernah dia baca dan lihat disalah-satu majalah lari.
Simpul tali sepatu yang tak mudah lepas untuk lari- lari agak sedikit jauh. Bahkan lari trel sekalipun.
Sekali lagi dia periksa, apa- apa yang mungkin belum ada. Setelah sebelumnya sedikit lap- lap badan ala cowboy, makan dan minum sekedarnya, sikat gigi. Mematut- matut diri dicermin kamar.
Lipatan uang sepuluh ribu dan telpon selularnya sudah di saku tas dipinggangnya. Beberapa potong coklat kacang sebagai bekal disiapkan. Juga botol plastik air ramah lingkungannya.
Sebagai penyuka kegiatan luar- ruang tentunya pantas jika lebih lagi peduli lingkungan.
Sekali lagi tersungging senyum dibibirnya. Bangga akan kepeduliannya. Walau mungkin baru sedikit yang dia tahu soal isu lingkungan.
Tak apa. Toh sudah dimulai.
Seperti biasa Nadine memakai celana lari pendek dan atasan yang menurutnya nyaman dan berwarna cerah.
Nadine membiasakan untuk tak terlalu tebal berpakaian.
Kali inipun tanpa jacket. Cukup dengan mulai menggerakan badan, hangatpun didapat.
Tiba- tiba teringat nasehat sang paman. ” Nneng hati- hati. Jangan jauh- jauh. Jangan banyak- banyak larinya, pakai jacket”.
Seperti biasa, Nadin tersenyum saat menjawab,” ya Mang, nuhun”.
Ah si Mmang baik- hati ini. Jangan- jangan harusnya lebih menghawatirkan dirinya sendiri. Makan tak kenal pantangan. Apapun disikat. Jeroan, gorengan. Sate kambing yang selalu harus bergajih. Jangan ditanya kalau sudah mendapatkan gulai kepala kambing. Utuh. Ya utuh sekepala. Asyik- masyuk, sampai- sampai tak lagi dapat dibedakan mana kepala kambing dan mana kepala si Mmang. Dan tentu saja nasi putih yang banyak. Sementara tak pernah sekalipun terlihat berolah- tubuh.
Semoga Mmang selalu sehat.
Udara dibulan januari memang agak dingin. Terkadang pagi- pagi hujanpun sudah menjelang.
Satu lagi godaan yang tak kecil untuk tetap ditempat tidur.
“Tidak!, saya harus menang. Saya harus bisa mengalahkan kemalasan ini”. Demikian Nadine seringkali meyakinkan diri- sendiri.
Semakin besar godaannya semakin besar dia melawan.
Jalan kaki keluar komplek rumahnya. Beberapa ratus meter. Kemudian belasan menit dengan angkutan umum kearah utara kota.
Gerbang kawasan wisata alam di utara ini memang tempat Nadine memulai lari- lari trelnya.
Sepuluh menit pemanasan sebelum mulai tak lupa dilakukan.
Pemanasan tak kalah penting. Lagi- lagi Nadine mengingatkan diri- sendiri.
” Nneng geulis, lumpat deui?”. Si bibi pemilik warung dengan sapaannya yang lucu dan menyenangkan.
” Sumuhun Bi. Mangga”.
Tanah licin mengawali trek lari trelnya. Sisa- sisa hujan semalam cukup membuat Nadine melangkah lebih hati- hati lagi.
Baru beberapa puluh ayunan kaki dingin pagi sudah tak terasa lagi. Sebaliknya, keringat mulai menetes dari dahi dan sekujur badannya.
Agak terengah juga diawal- awal. Tapi sudah selalu semakin baik dari sebelum- sebelumnya.
Trek lari ditengah kehijauan hutan pinus selalu menyenangkan. Tak pernah membuat bosan. Sepertinya setiap langkah adalah hal yang selalu baru. Berapa kalipun diulang.
Mata yang selalu harus awas melihat kemana kaki melangkah. Pijakan mana yang dipilih. Pada saat yang sama harus juga awas akan batangan atau dahan pohon yang melintang tepat seketinggian kepala.
Lebih- lebih lagi diturunan. Beberapa langkah berikutnya harus sudah diperhitungkan.
Satu kali terpleset dipijakan pertama kerap diikuti oleh terpeleset dipijakan berikutnya.
Apalagi dibebatuan yang licin.
Beruntung jika hanya goresan kecil pendek dikaki.
2km sudah. Seperti yang dia lihat di jam lari bergpsnya. Berarti 3km lagi sampai puncak.
Trek semakin menanjak. Semakin membuatnya terengah- engah.
Sesekali Nadine minum dari botol airnya.
Tak mesti banyak sekaligus.
Nadine lebih memilih beberapa teguk setiap lima- belas menit. Tak banyak. Sekedar tak dehydrasi.
Sedikit berlebih minum air menyebabkan bengkak dikaki.
Hutan pinus sudah lama terlewati.
Sudah mulai vegetasi khas punggungan gunung berkawah.
Bau belerangpun sudah mulai tercium.

Ketukan dipintu kamarnya menghentikan tulis-menulisnya.
“Itcha, sudah bangun sayang?”
“Ya Mama”.
“Mau Mama mandikan sekarang?”
“Sebentar lagi Mama”.
Itcha menghela nafas.
Termenung. Memandangi kedua kakinya yang kecil karena memang lama tak bisa digerakan.
Demam tinggi di usia balita adalah penyebab kelumpuhannya.
Seperti setiap pagi di hari- hari sebelumnya, adalah saat- saat menyenangkan baginya untuk menulis.
Menulis, kegiatan sejak beberapa tahun lalu. Sejak sebelumnya mengikuti dunia lari- berlari dikotanya.
Berlari belakangan memang sedang menjadi
trend. Tak hanya di ibukota. Juga di kota- kota lain.
Lomba lari sudah hampir setiap bulan diadakan.
Dan tentang lari- berlarilah kebanyakan tulisan- tulisannya.
Itcha kembali ke Note 8nya. Sedikit melanjutkan tulisannya.
Membayangkan, bagaimana indah dan menyenangkannya, berlari dikesejukan hutan pinus. Saat jutaan yang lain masih tertidur lelap.
Dunia seakan hanya miliknya sendiri.
Berbagai inspirasi menari lincah dalam benaknya. Seperti yang tak berkesudahan.
Pada saat yang sama mata yang harus awas mengawasi setiap pijakan kakinya.

Beberapa tahun belakangan Itcha tak lagi bersedih dengan keadaannya.
Itcha percaya, semua hal di dunia tentu ada maksudnya. Begitu juga dengan kelumpuhannya.
Jika kebahagian bagi yang lain adalah harta yang banyak, kesehatan jasmani, putra- putri yang sehat menggemaskan dan lain sebagainya.
Kebahagian bagi dirinya adalah menerima dan bisa berdamai dengan kelumpuhannya. Menerima ketidak- mampuannya untuk berlari.
Seperti yang pernah menjadi impiannya, sekali dalam seumur- hidup mengikuti lomba lari 10 k.
Kebahagian baginya yang lain adalah mendapatkan cara untuk mengingatkan siapapun untuk tak menyia- nyiakan kesempatan yang ada.
Dengan menulis.
” Saat berlari menjadi impian yang tak pernah terwujud bagi orang- orang seperti aku, jangan sampai terjadi bagi orang- orang yang lebih beruntung”.
Tak berolah- tubuh padahal ingin, tapi tak kesampaian karena hambatan adalah kewajaran.
Tak berolah- tubuh karena kemalasan padahal bisa dan di mungkinkan adalah kebodohan.

Standard
cerita, motivation, olahraga, running, story

Just like you and me

Bertengger di lima baris pertama urutan virtual run. Sejak akhir 2009.
Bukan semakin berkurang malah semakin banyak yang datang.
Dengan ribuan km lari tentunya.
Yang lainnya, penamat tri dibeberapa lomba. Dari kelas Sprint sampai olimpiade lengkap ada.
Ironman sampai metaman sudah ada beberapa.
Podium dibeberapa lomba lari sudah pasti. Bahkan ada yang berkali- kali.
5k, 10k, half dan full marathon lari?. Jangankan dinegeri sendiri, diluar- negeripun dicari.
Lari ultra puluh- puluh sampai ratusan km sudah bukan lagi satu- dua yang lakukan, tapi belasan. Bahkan puluhan.
Belakangan banyak teman2 yang tak hanya lari on road, tetapi juga off road.
Lombanya pun ada.
Dengan jarak belasan, puluhan sampai ratusan.
Rasanya baru kemarin- kemarin sang teman ini( mahmud abas, mama muda anak baru satu), bertanya,” Kang, aku bisa ga ya ikut lomba lari trel ultra?”. Ternyata? Lari 24jam dengan 92kmpun bukan hal mustahil bagi dia.
Kisah lainpun tak kalah luar- biasa.
Belum setahun usia lari- berlarinya. Pengalaman lari trelnyapun belum lebih dari dua. Lagi2 seorang mahmud abas jakarta tiba- tiba saja menjadi penamat di 50k trel ultra.
Tak bisa lagi dihitung dengan jari, teman2 yang beberapa waktu lalu masih berpakaian xxl barangkali, sekarang tampil lebih lagi percaya diri. Karena ukuran sudah berganti.
Banyak lagi kisah2, cerita2 yang seperti ini.
Hebat? Sudah pasti.
Adakah mereka punya kiat? Yuk kita cari.
Mereka- mereka ini, teman- teman kita ini, adalah seperti juga siapapun yang kita temukan hari- hari. Just like you and me.
Makan siang, malam dan sarapan pagi. Persis sama. Sayuran, buah, susu. Dengan roti atau nasi.
Tidur, istirahatpun ya persis sama. Dari malam sampai pagi.
Jadi? Apa yg membedakan dengan kita- kita ini?
Niat dan semangatnya yang luar- biasa kuat.
Berlari, melakukan kegiatan sehat bersama- sama dengan yang lain sudah pasti lebih baik.tak diragukan sedikitpun. Bagi mereka ditambah lagi dengan,’ jika perlu sendiri sekalipun’.
Cuaca sejuk sudah pasti menggoda bagi kita. Bagi mereka?, ‘sedikit panas atau sedikit hujan tak ada salahnya dicoba’. 🙂
Bagi kita,’ ya ampun, baru 5k’. Padahal target hanya 10k. Bagi mereka ‘ Alhamdullillah sudah 5k’. Sementara target mungkin masih belasan bahkan half.
Tak dimaksudkan sama sekali bahwa kita harus berkegiatan atau berlari luar- biasa seperti mereka.
Olah- tubuh atau berlari, 10-30 menit setiap sore atau pagi, asal memang setiap hari, standar sehat sudah cukup terpenuhi.
Hanya, jika kita memang mempunyai keinginan diri. Apapun. Mulai dari ikut tri, lomba lari gunung muncak rinjani. Sampai hanya sekedar mau mulai lari, ya niat dan semangatnya itu tadi.
Tak boleh sekedar, ‘ah besok mah asli mo narik kaki bangun pagi, tapi kenyataannya tarik selimut lagi tarik selimut lagi. Setiap hari berulang kali. Tahu- tahu tahunpun berganti.
Teman- teman lain sudah kesana- kesini, tinggallah diri ini.
Apalagi kalau bukan merenungi diri- sendiri, ‘ duh iraha deui atuh ya mulai? Meuni hese gini?
Selamat pagiiiii Eh udah mau jumatan lagi…

Standard
berhenti merokok, ketergantungan, kebiasaan buruk, story

Ketergantungan Yang Tak Mesti.

image

Entah siapa yg mulai tiba- tiba saja temanya menjadi ‘ berhenti merokok’.
Didalam mobil berkapasitas empat- belas penumpang. Saat berhenti menunggu satu bus lain rombongan kami. Yang tengah dalam perjalanan kesalah- satu acara lari- berlari bersama beberapa teman bandung dan Jakarta.
Saya dibarisan depan. Disebelah Kang supir tentu saja. Dan dua teman dibarisan belakang.
Rupanya sang teman kami, yang wanita ini, seperti juga Kang supir dan satu teman disebelahnya adalah perokok.
” Duh koq susahnya ya mau berenti merokok itu”.
Bersambung dengan kalimat- kalimat lain dari kedua teman yang lain. Kalimat- kalimat berbeda namun yang dimaksud adalah sama.
Karena pertanyaannya juga ditujukan ke saya, tentunya saya tidak menyia- nyiakan kesempatan ini.
Saya selalu penuh semangat untuk urusan satu ini.
Menjawab, menceritaan sebagian pengalaman saya. Dalam hal berhenti merokok.
Dan mulailah saya dengan kalimat, ” sehari tak kurang dari dua bungkus rokok berbeda merk”. Dan bersambung dengan, “Satu kretek tanpa filter isi dua- belas. Dan,” Satu lagi rokok putih, juga tanpa filter”.
Dan.. tak ketinggalan saya sebut juga satu bungkus tembakau linting lima- puluh gram yang selalu saya kantongi.
Yup, bukan jumlah yang sedikit.
Dan saya bersikeras bahwa merokok saya saat itu tentunya bukan sekadar iseng.
Dan cerita saya selanjutnya adalah;
Suatu hari, saat hendak berangkat kerja, agak terburu- buru, tiba- tiba saja saya merasa direpotkan sekali dengan urusan rokok ini.
Mencari- cari entah dimana terakhir saya taruh. Sedemikian repot karena selalunya saya simpan ditempat yang berbeda. Dimana saja tempat yang pertama dirumah yang saya hampiri.
Juga karena pelupa saya.
Setelahnya, saya direpotkan lagi dengan saku- saku celana yang tampak menggelembung terisi bungkus- bungkus rokok.
Tidak indah sama sekali.
Seketika saya merasa diperbudak sekali oleh urusan rokok ini.
Bukan perasaan nyaman dan tenang yang saya peroleh, karena ada rokok disaku- saku celana saya. Tapi sebaliknya. Perasaan disepelekan. Perasaan dipecundangi oleh benda- benda ini.
Lebih parah lagi saya koq ya merasa terhina sekali.
Nyaris semua kehidupan saya sepertinya tergantung pada urusan ini.
Bangun pagi, yang pertama dicari adalah rokok. Dengan dalih perasaan tenang yang didapat jika ternyata memang ada. Walaupun bukan berarti merokok yang memulai kegiatan hari- hari.
Setelahnya, selalunya minum kopi dan merokok sebelum sarapan.
Seringkali malah sarapan yang tak sempat. Sementara merokok tak pernah terlewat.
Uang atau seisi dompet boleh tertinggal sekali- sekali. Tapi jangan sampai jika rokok, si penenang hati.
Berikutnya adalah, saya ambil semua rokok yang sebelumnya saya masukan kesaku celana. Taruh dimeja makan. Dan berangkat.
Berikutnya lagi, beruntung sekali, bukan perasaan menyesal yang ada, tetapi perasaan kemenangan yang luar- biasa.
Akhirnya sang rokok bisa saya kalahkan.
Ternyata berhenti merokok tak sesulit yang saya percaya selama ini.
Hari- hari selanjutnya adalah hari- hari yang saya nikmati sebagai hari- hari kemenangan saya atas rokok.
Tak ada satu hal pun yang saya lakukan sebagai pengganti tidak merokok saya.
Tak cemilan yang manis- manis tak juga makan atau minum yang berlebihan. Seperti yang sering saya dengar.
Saat stres merokok itu menenangkan. Begitu kata perokok. Padahal saat tidak strespun ya merokok juga.
Saat tidak tahu apa yang harus atau mau dilakukan, merokok sangat membantu. Padahal saat sebaliknya ya merokok merokok juga.
Bersukur tidak kedua- duanya saya alami. Artinya, jikapun saya mengalami stres ataupun saat tidak tahu apa yang harus atau mau dilakukan, bukan merokok jawabannya.
Tidak saya maksudkan bahwa saya lebih baik dari yang lain. Bukan itu.
Tidak juga dimaksud bahwa saya antipati kepada perokok.
Sejauh sama- sama tahu diri.
Sebagian teman- teman sayapun perokok.
Saya hanya mau mencoba sampaikan bagi teman- teman yang perokok dan punya niatan untuk berhenti.
Merokok, seperti yang sama- sama kita sadari dan akui dan terbukti secara ilmiah, merusak kesehatan.
Tak seorangpun dari kita yang tak berharap akan kesehatan diri dan orang- orang terdekatnya.
Yang lebih terasa lagi saat sakit menghampiri. Mulai dari sakit ringan seperti flu, sedikit masuk angin. Sampai sakit yang berat. Seperti gangguan fungsi paru- paru, ginjal, jantung, sampai kanker.
Semakin berat sakitnya tentunya semakin serius, semakin khusuk kita berdoa dan berusaha untuk
Kesembuhannya.
Hal yang menggelikan sekali. Setiap hari kita berdoa dan berusaha meminta kesehatan. Pada saat yang sama kita merusaknya. Dengan merokok.
Mungkin Tuhan akan berkata,” Yah elo..”.
Ada hal- hal yang saya yakini. Pendidikan, pangkat, jabatan boleh tinggi. Tapi jika untuk berhenti merokok saja tak cukup percaya diri, mestinya ada yang salah sekali disini.
Seperti yang pernah saya katakan. Saya bukan orang yang religius sekali.
Tapi jika ya kita punya ketergantungan. Saya yakin hanya kepada yang diataslah sepantasnya kita bergantung.
Bukan kepada rokok. Bukan kepada, ” Ga enak euy kalo makan ga pake sambel”. Jadi kudu ada sambal.
“Minum kopi ya bikinan nyonya dong”. Baik sekali jika tak minum kopi karena memang sang nyonya sedang tak ada, dan kita tetap nyaman- nyaman saja.
Tak baik jika kenyataannya malah seperti yang mati gaya.
Teramat sayang pada anak- anak dan istri/ suami, teramat dekat dengan orang- orang dekat dikanan- kiri, sudah pasti baik sekali. Tapi jika menjadi suatu ketergantungan, sampai- sampai lebih baik mati (amit- amit) daripada ditinggal sendiri, ya juga sama- sama bentuk ketergantungan yang lain lagi.
Maaf, barangkali yang barusan agak berlebihan. Sekedar contoh saja.
Jikapun itu sebaiknya tidak, ya apalagi kalau sekedar menahan diri untuk tidak merokok.

Lari- berlari bagi saya, disamping memang sebagai terapi asma dan bronkhitis saya, juga hal yang amat sangat menyenangkan.
Berfikir terasa lebih jernih saat berlari. Ide- ide sering saya peroleh saat melakukan aktifitas ini. Me time sayapun seringkalinya saya temukan/ rasakan yang terbaiknya ya saat berlari.
Nyaris bisa dibilang, belahan jiwa kesekian saya.
Tapi kembali ke masalah ketergantungan atau bukan.
Sebaiknya ya jangan juga sampai menjadi keharusan.
Harus, kalau tidak akan sakit- sakit badan.
Harus, kalau tidak akan tak bisa berfikir atau tak akan ada ide- ide baik yang akan muncul.
Jangankan hanya sekedar sakit- sakit badan atau berfikir jernih atau ide- ide baik. Untuk terapi asma dan bronkhitis sayapun sebaiknya ya sambil berjalan diupayakan untuk tidak menjadi ketergantungan selamanya.
Sesehat, sefitnya jiwa dan raga saya. Hanya yang diatas yang tahu. Entah besok entah lusa. Entah sebulan atau belas tahun lagi. Apakah saya masih bisa lari- berlari.
Jadi, bagaimanapun sukanya saya akan lari- berlari. Tetap saja tak boleh juga menjadi ketergantungan.
Nah selama kita bisa yakin bahwa ketergantungan akan apapun, selain kepada yang diatas adalah tidak baik, berhenti merokok adalah hal yang paling mudah, paling sederhana untuk dilakukan. Segera!.
Tak harus menunggu nanti. Apalagi berhari- hari. Orang sunda bilang, teungteuingeun mun kudu mangtaun- taun deui 🙂
Jauuuh lebih mudah dibanding bersekolah tinggi- tinggi. Dibanding dengan bekerja menumpuk harta sampai hampir mati. Kaki jadi kepala, kepala jadi kaki.
Dibanding dengan lari- berlari berhari- hari, dari pagi sampai ke pagi lagi.
Cukup berhenti detik ini. Tak hanya diri- sendiri, anak- istri/ suami, tetangga kanan- kiri so pasti turut bersuka – hati.
Saya masih dan akan selalu ingat, bagaimana enaknya merokok.
Tetapi tidak merokok ternyata jauh lebih enak lagi. Sejak delapan- belas tahun lalu.
Salam,

Standard
adventure, event, inspiration, motivation, olahraga, running, sport, story, trail running

Berlari Trel Membelah Pulau Jawa

image

Jauh dan ajrut2an.Perjalanan panjang yg mengesalkan dan melelahkan. Hanya untuk sampai penginapan. Berlanjut esok hari nya ke titik start. Treknya sendiri adalah berjalan dan berlari nyeker sepanjang puluhan km. Melalui aspal panas, tanah dan rumputan becek penuh duri dan ranting tajam. Sungai sedalam pinggang tanpa jembatan. Jikapun ada adalah berpijakan hanya bbrpa batang bambu yg sebagian sudah lapuk. Dengan pegangan yg sulit dari jangkauan.
Tentu saja pada akhirnya adalah pantai selatan yg indah memukau. Dengan deburan ombaknya yg tinggi dan membahana.
Menyempurnakan pengalaman ngetrel, membelah pulau jawa, yang indah yang pada akhirnya luar- biasa menyenangkan dan tak terlupakan.
Tapi, Jejak2 badak yg kami temukan menyadarkan kami akan perjuangan teman2 relawan di konservasi badak Ujungkulon.
Ribuan hari yg mereka dedikasikan untuk  Ujungkulon dan badaknya. Dikenal di dunia sebagai World Heritage Site.
Aksi2 kami menjadi seperti tidak ada apa2nya dibanding apa yang sudah sekian lama mereka lakukan. Dan berlanjut sampai saat ini.
Apa2 yg kami lakukan, yg entah kapan lagi dilakukan, adalah keseharian mereka. Dengan segala keterbatasan. Keterbatasan sarana. Keterbatasan dukungan dari pihak penyelenggara negeri ini.
Semangat teman2 Ujungkulon!

Standard
inspiration, motivation, story

Ki, Selamat Ulang- Tahun :) by Bang Aswi

“Ehhh … aku lari tuh mulai 2010, awal 2010. Jadi awalnya Jumat, sebetulnya sudah lama tahu bahwa lari itu olahraga yang mau banget aku lakuin. Cuma karena tahu ada asma dan bronchitis, dan sebelumnya pernah coba lari-lari kecil atau segala macam atau waktu aku sekolah … kayaknya cepet capek. Dari situ saya tahu saya pikir saya udah nggak ada peluang untuk lari. Nah, 2010 itu saya coba konsultasi ke dokter sebelumnya, alhamdulillah ya tersendat sih memang tapi sebulan pertama udah lumayanlah ada progres ya. Yang tadinya seratus meter udah sesak kali ini udah satu kilo dua kilo. Dua bulan kemudian udah bisa lari sepuluh….”

“Check up semua, apa jantung dah, apa tekanan darah dan segala macam, euhhh dokter bilang oke. Tapi belakangan saya tahu bahwa yang dimaksud di pengertian okenya itu bahwa saya larinya emang lari-lari pelan bukan seperti lari-lari yang saya lakuin belakangan ini. Sempet kaget juga tuh si dokternya. Nah itu awal-awal saya lari….”

Di titik ini jemari sosok itu berhenti. Sosok itu mencoba membayangkan apa yang dilakukan salah seorang sahabat dan guru kehidupannya, Aki Niaki . Kata-kata di atas adalah ucapan Aki di awal wawancara sosok itu di sebuah kafe di jalan Burangrang. Masih ada 40 menit lagi hasil wawancara yang belum diselesaikan tentang pengalaman Aki berlari. Masih ada ribuan jam kehidupan Aki yang belum tereksplor untuk dijadikan inspirasi bagi masyarakat luas, tidak hanya bagi yang ingin berlari. Masih banyak rahasia lagi tentang semangatnya untuk mengkampanyekan olahraga lari dan (juga) ngetrel.

Jujur, sosok itu juga punya asma. Jadi dirinya tahu bagaimana rasanya takbisa bernapas dengan wajar. Bagaimana rasanya ‘megap-megap’ saat baru lari beberapa puluh meter. Bagaimana rasanya tersiksa di saat jutaan orang menikmati nyenyaknya tidur. Bagaimana rasanya batuk-batuk hanya dengan melihat embun pada gelas yang dingin. Bagaimana rasanya menjadi orang yang tidak berharga untuk turut membantu kerja bakti (meski hanya sekadar di rumah sendiri) membersihkan debu karena nantinya akan batuk dan kemudian sesak napas. Sakit hati ini mengetahui itu semua.

Sosok itu dikenal ‘sport freak’ saat SMA dan mahasiswa. Basket, volley, sepakbola, bulutangkis, renang, hingga mengenal sepeda dan lari. Gila olahraga karena tahu bahwa inilah salah satu cara agar asmanya tidak sering kambuh dan menjadi beban bagi orang lain. Sepedalah yang dipilihnya kemudian saat sudah berkeluarga dan bekerja. Sampai kemudian dirinya mengenal Aki di pertengahan 2008, di komunitas Blogger Bandung—Batagor. Saat itu dirinya tidak tahu Aki itu pengidap asma. Saat itu dirinya tidak tahu apa agama Aki (maaf). Saat itu Aki belum berlari. Saat itu dirinya melihat Aki yang penuh semangat meski untuk beberapa kegiatan fisik tidak maksimal. Aki selalu aktif di tengah-tengah anak muda yang mayoritas masih mahasiswa. Tapi kemana-mana selalu naik motor.

Hingga kini, semangat Aki tetap sama dan bahkan jauh lebih berkobar lagi. Kegiatan fisiknya semakin maksimal dan prima. Kemana-mana selalu berlari dan tidak lagi kelihatan naik motor. Kondisi fisiknya kini jauh lebih bugar dan segar jika dibandingkan sosok itu di awal perkenalan. Aki bagaikan magnet bagi orang-orang yang ada di sekelilingnya, baik itu di komunitas blogger maupun di komunitas larinya. Aki semacam suri teladan. Padahal dia sudah berprestasi dan terkenal. Namun sikap hidupnya selalu ‘down to earth’. Penuh senyum. Penuh gairah. Penuh rasa kekeluargaan. Pokoknya ada perasaan nyaman saat dekat dengan dirinya. Perasaan yang tidak ingin berpisah. Entah mengapa.

Sampai saat ini sosok itu belum berkesempatan dapat berlari bersama dengan Aki. Usahanya berlari mengalami maju mundur, bahkan lebih banyak mundurnya. Belum satu kilometer tetapi sudah menyerah untuk berhenti. Selalu lari sendiri karena malu kalau harus lari bersama. Aki-lah yang memberi semangat pada diri sosok itu. Aki-lah yang memompa diri sosok itu hingga akhirnya memberanikan diri untuk mau bersepeda sendiri dari Bandung ke Jakarta. Jauh setelah Aki berlari dari Bandung ke Jakarta. Aki tidak tahu akan hal ini. Semangat untuk mencoba lebih berani. Semangat yang membuat dirinya kembali mendekati Aki karena ada satu ‘keajaiban’ di dalam dirinya yang seharusnya bisa dinikmati oleh lebih banyak orang lagi. Keajaiban untuk menjadi inspirasi.

Di depan mata, ada mimpi sosok itu untuk bisa bersama Aki menaklukkan 57 gunung. Entah itu berlari bersama. Entah itu bersepeda bersama. Atau hanya sekadar menyaksikan Aki berlari dengan penuh kebanggaan dan keharuan. Pokoknya ingin menjadi saksi pertama. Sebuah perasaan yang hanya bisa dikeluarkan kalau sudah mengenal siapa Aki sebenarnya. Saat berdiskusi bersama. Saat berkegiatan bersama. Saat shalat bersama. Saat melihat bola matanya yang berembun saat menceritakan masa kecilnya yang penuh perjuangan. Ada banyak cerita yang harus diolah tentang kehidupan Aki agar menjadi buku yang utuh. Buku yang bisa jadi belum dapat menceritakan diri Aki yang sebenarnya. Diri Aki yang kini menapaki usia ke-57 dan terus … dan terus menginspirasi orang-orang yang mengenalnya (atau bahkan belum mengenalnya).

Ki, selamat ulang tahun. Teruslah menginspirasi kami semua…. #pelukerat

Standard
event, inspiration, motivation, mountain running, review, running, sport, story, trail running, ultra running, ultra trail running

CATATAN SEORANG NEWBIE TRAIL RUNNER DI BromoTenggerSemeru100Ultra oleh Ina Budiyarni

InaMaggie001InaMartinTju InaAnwarSurahman001InaDianNdaruPurwanti hak gambar ada pada Maggie Kim Hong Yeo, Martin Tju, Anwar Surahman & Dian Ndaru Purwanti.
Tak pernah terlintas dalam pikiran saya sebelumnya, saya akan menjadi finisher Bts100Ultra 50k dengan waktu 11 jam 12 menit. Di bawah Cut Off Time yang 12 jam.
Senang dan bangga bercampur jadi satu, karena saya bisa melawan ketakutan dalam diri saya.. Takut di hutan sendirian..
Seketika saya buka foto album ‘RUN’ dalam Facebook saya yang berisi foto-foto sebagian lelarian saya di tahun 2013 ini. Tahun 2012 saya baru sanggup lari 5k dan 10k dalam race, itupun seperti keong..
Tahun 2013 saya banyak bertemu dengan orang-orang hebat yang menginspirasi saya dalam lelarian. Juga kompor-kompor yang akhirnya membuat saya melakukan my 1st 21k Half Marathon di awal tahun 2013 dan my 1st 42k Full Marathon di tengah tahun 2013.
Tapi tidak dengan trail run.. Trail run pertama saya adalah 10k Tahura trail run. Setelah itu boro-boro mau ikut trail lagi. Yang ada di otak saya trail itu gear nya ribet dan menghabiskan banyak waktu. Karena harus seharian, dari pagi sampai sore.
Sebagai seorang single mother, yang terfikir adalah, lari di akhir minggu cukup hanya lari dijalan saja. Setelahnya lebih baik menghabiskan waktu dengan anak, yang adalah segalanya bagi saya.
Saya menghitung berapa banyak foto dan mengingat kronologi trail run saya, sebelum akhirnya nekat mengikuti BTS100Ultra 50k. Dan ternyata secara total baru 7x trail run yang saya ikuti sepanjang hidup saya. Untuk selanjutnya ikut BTS Ultra 50 dengan track yang gilaaa..
Di antara padatnya aktifitas saya berkantor, mengurus anak & aktifitas-aktifitas lainnya, di akhir minggu, di minggu-minggu trakhir menjelang race, saya luangkan waktu untuk latihan ngetrel. Dengan jarak puluhan km di Sentul bersama dengan teman-teman yang hebat..
Teman-teman saya yang bukan pelari menanyakan, ” Apa sih yang kamu cari dengan ikut race 50k naik turun gunung?’”.
Mungkin saat itu saya belum tahu pasti dan belum bisa menjawab atas pertanyaan itu. Yang saya tahu hanya, ada keinginan yang kuat sekali untuk turut serta di BTS Ultra 50.
Walaupun saya masih newbie trail runner, saya hanya berfikir jika orang lain bisa, mengapa saya tidak bisa? Jika orang lain berani, mengapa saya tidak berani? Jika juga orang lain nekat, mengapa juga saya tidak nekat?
Sudah banyak tempaan dalam hidup saya sebagai seorang single parent. Dan inilah saatnya tempaan di indahnya alam ciptaan Tuhan. Yang membuat saya merasa sangat kecil di dalamnya..
Dengan mendapat restu dari anak saya, berangkatlah saya menjadi salah satu orang ‘gila’ di BTS Ultra. Dengan bangganya anak saya bercerita ke setiap orang bahwa Bundanya akan berlari 50k naik turun gunung. Bahkan sampai juga bercerita kepada guru ngajinya.
Maka semakin semangatlah saya untuk berusaha sekuat tenaga agar bisa finish sebelum Cut Off Time.
Begitu berbedanya aura di Ranupane saat menjelang start ultra trail, dibandingkan dengan start road race. Walaupun jumlah pesertanya jauh lebih sedikit dibandingkan dengan peserta race jalanan, tapi serunya di start line mengalahkan start race-race saya sebelumnya.
Sebagai newbie trail runner sudah pasti larinya saya adalah alon-alon asal kelakon. Sambil menikmati pemandangan dan foto-foto sana sini yang tidak mungkin saya lewatkan. Berkat camera yang selalu ada dalam genggaman saya sepanjang lari 50k.
Ternyata apa yang tidak saya dapatkan di road race, saya dapatkan disini.. Pemandangan yang spektakuler sepanjang rute, yang buat saya serasa dalam mimpi. Karena selama ini hanya saya lihat di foto, gambar atau kalender.
Danau Ranukumbolo yang begitu mempesona dari jarak jauh dan dekat. Puncak Semeru dari kejauhan. Hamparan pasir berbisik Bromo. Kawah Bromo dan bukit-bukit pasir, yang masih melekat di ingatan saya sampai sekarang..
Capek, sudah pasti.. Ngos-ngosan apalagi.. Tapi indahnya alam membuat saya tidak terlalu merasakan gempornya betis & paha ini.
Tanjakan yang seperti tak berakhir di tanjakan cinta Ranukumbolo ( entah sampai sekarang saya tidak tahu mengapa dinamakan Tanjakan Cinta. jika saja Tanjakan Cinta nya sudah seperti begitu, akan seperti apa ya Tanjakan Putus Cinta nya ?). Ayek-ayek, jalur pipa, bukit pasir Bromo.. Ditambah sepanjang perjalanan, ingatan akan anak saya. Dan bahwa saya tidak mau mengecewakannya..
Serta keinginan akan membuat anak saya bangga mempunyai Bunda seorang Ultramom..
Tanjakan, turunan, dingin, panas, angin, gerimis, pasir, haus, letih, lelah.Semua silih berganti .. Tanjakan-tanjakan sadiis, turunan-turunan cadas, walaupun berat tapi entah mengapa begitu senang saya menjalaninya.. Gerutuan yang tak henti- henti, ” Gilak tanjakannya!”, tapi kaki ini tetap semangat melangkah. Bahkan saat mendapat tanjakan yang tidak lazim, sehingga harus merayap seperti layaknya spiderman. Dan turunan sumur tegak lurus yang membuat banyak peserta perosotan seperti layaknya anak kecil. Teman-teman peserta pun semua tampak seru dengan segala tingkah lakunya.. Walaupun capek tapi semua happy..
Saya baru merasakan ternyata beratnya lari Full Marathon 42km di jalanan tidak ada apa-apanya dibanding ultra trail run di BTS..
Fisik dan mental benar-benar diuji.. Fisik sudah pasti terkuras untuk lari naik turun gunung belasan jam, mental pun diuji berkali-kali ketika ada ojek & kuda lewat.. Beruntung saya tidak tergoda sedikitpun.
Yang membuat saya tergoda justru menjelang km 35. Saat bladder sudah habis, water station jemplang tidak jua tampak, dan jalanan yang walaupun aspal namun adalah tanjakan tiada akhir. Saat sepeda motor penjual ice cream lewat, yang langsung di serbu semua peserta. Ice cream terenak di dunia saat itu, hahaha..
Jam garmin sudah menunjukkan km 40. Yess tinggal 10km lagi, dan di depan mata adalah padang pasir Bromo. Yang sepertinya tidak terlalu sulit untuk mengakhiri race ini di km50.. Tapi ternyataaa.. surpriseeee… Ternyata finishnya di kanan atas sementara kami dibelokan ke kiri ke gundukan pasir naik turun tiada akhir.. Dan.. belum cukup sampai disitu, kami harus naik tangga ke bibir kawah untuk mengambil gelang kuning, kemudian turun lagi. Haha hebat sekali si pembuat rute.. 5 km terakhir yang amat sangat berkesan di hati dan di kaki..
Saya melihat ke garmin saya. Sudah hampir 11 jam saya berlari.. Artinya waktu saya tinggal 1 jam lagi untuk bisa finish di bawah Cut Off Time.. Akhirnya dengan sisa tenaga yang ada, lari lah saya.. Tetapi begitu sampai jalan aspal, hah ternyata lagi-lagi tanjakan. Berarti, jalan lagi. Begitu sampai di atas tanjakan, banyak orang-orang yang bilang ‘tinggal sedikit lagi mbak finish’.. Tanpa basa basi larilah saya dengan perasaan campur- aduk antara senang dan terharu..
Begitu tulisan FINISH tampak didepan saya, rasa harupun kembali tak terelakan. Saya tahan airmata yang hampir menetes. Karena ,” masa macho-macho pelari ultra mewek”.
Begitu saya menginjakkan kaki di finish line, kata ‘Alhamdulillah’ yang tiada habisnya terus terucap di hati saya.. Yeayy saya berhasil menjadi ULTRA RUNNER, finish my 1st Ultra trail 50k dengan waktu 11 jam 12 menit!!
What an amazing race, amazing route, amazing view, amazing people.. Thank you committee for a beautiful race & I will come back next year!!

Standard
perkawinan, story

Tiga Puluh Empat Tahun

” Mau balik Bandung lo? Ngapain? Kawin? Emang berani? Ngaca dong?”. Tanya seorang teman.
Sempat kaget. Apa maksudnya.
Jawabannya ada dihadapan saya beberapa saat kemudian.
Tampak pantulan saya dicermin wastafel tempat saya kerja paruh waktu.
Rambut jabrik sedikit melampaui bahu tak terawat. Pipi tembam. Pun sama tak pernah tersentuh apa- apa selain air dan keringat.
Kacamata.. saya yakin kacamata bagus dan tidak juga murah. Tapi tiba2 baru saya sadari, seperti benda aneh yang jauh dari disebut pantas diwajah saya.
Saya merenung. Mendadak hilang semangat.
Ya ampun. Pastinya tak ada satupun yang saya lakukan untuk penampilan saya.
Tak pernah terfikir kearah sana.
Saya hanya tahu, penampilan baik hanya sesuai sampai masa- masa sma.
Masa kuliah adalah masa- masa serba terbatas.
Tinggal dikosan,sendiri atau berbagi kamar dengan seorang teman. Mencukupi kebutuhan hidupnya dengan kerja paruh- waktu saat libur kuliah. Perangkat audio adalah radio baheula model roti besar seukuran tv lawas 17 inch.
Fruehlingsrolle( lumpia) adalah sarapan atau cemilan mewah.
Selalunya biskuit entah apa mereknya.
Beberapa hari kemudian saya sudah duduk manis dikursi tempat potong rambut yg untuk kantong kuliahan saya jauh dari terjangkau.
Rupanya kesadaran saya untuk punya tampilan ‘normal’ lebih kuat dari keraguan saya memasuki salah satu tempat potong rambut terbaik dikota.
Untuk setiap lembar yang saya bayar tentunya saya mengharapkan yang terbaik.
Jadi ya saya serahkan sepenuhnya kepada mereka.
Alhamdullillah, bukan saja tidak mengecewakan tapi ya ampun terkaget- kaget sendiri. Haha.
Bersamaan dengan itu saya mulai lebih banyak lagi berjalan, lari2 pendek,karena asma saya yang menghambat, renang, asupan yang lebih lagi terkontrol selama  beberapa bulan sebelum pulang menikah.
Pulang, menikah, dan hari- hari selanjutnya hal- hal biasa yang mengikuti setelah pernikahan.
Ada hal yang membuat saya merenung lagi.
Banyak yang bilang, saat pernikahan dan saat- saat setelahnya adalah tahapan- tahapan kehidupan yang membuat orang lebih bahagia lagi.
Ditandai dengan wajah- wajah yang selalunya sumringah dan… sebagian dengan penampilan yang kali ini tidak lagi dengan usaha terbaik seperti saat sebelum menikah.
Kerap kali saya melihat, semakin lama usia pernikahan, semakin tak karuan penampilan dan  pakaian rumah sang pasangan.
Hilir- mudik dengan daster/ pakaian tidur atau kaos oblong dengan maaf robekan disana- sini. Bahkan sarung.
Terkadang malah sampai melewati waktu siang.
Rasanya seperti, dandan hanya saat masih sendiri. Saat belum mendapat pasangan. Setelahnya? Ah kan saya sudah laku. Ah kan dia sudah menjadi milik saya.
Entah bagi yang lain. Bagi saya? Seperti yang tidak menghargai.
Tentunya banyak cara seseorang menghargai pasangannya. Sebanyak manusianya itu sendiri.
Saya, seperti juga yang lain, tentunya ingin mempunyai pilihan, cara yang mana yang terbaik.
Sampai saat inipun saya tidak pernah tahu, cara yang mana yang paling baik yang saya ambil.
Jangan jangan malah tak pernah juga ada satupun yang saya punyai.
Apalagi jika ditambah lagi dengan sssst.. sekian banyak hal yang saya lakukan, sengaja ataupun tidak, yang mungkin malah menambah kekecewaan sang pasangan.
Jika ya, ditengah- tengah keluguan saya memasuki masa pernikahan, barangkali paling tidak ada satu yang saya usahakan sejak hari pertama pernikahan saya. Saya ingin bisa mempertahankan  penampilan saya tidak terkesan terlalu semaunya. Jauh dari gagah- perkasa, tapi bukan  cerminan dari pola hidup yang seenaknya.
58kg adalah berat badan saya saat ini, seperti juga sejak 34 tahun lalu lebih  seminggu. Tak kurang dan tak lebih 1 ons pun.
Bukan hal yang istimewa tentunya. Tapi seperti saya sebutkan diatas tadi, setidaknya ada satu yang saya usahakan.
Selamat hari jadi untuk saya dan pasangan hidup saya.

Standard
inspiration, motivation, mountain running, running, sport, story, trail running, ultra running, ultra trail running

Age is just a number……. by Dewi Satriyani

Age is just a number…….

November 26, 2013 at 3:33pm

Usia itu cuma angka, dan akhirnya yang membedakan tua dan muda itu akhirnya berpulang pada semangat setiap manusianya, dan saya menemukannya pada opa,sahabat,teman dan guru saya yang akrab disapa Aki. Sampai saat saya menulis notes inipun saya bahkan tidak mengetahui nama aslinya.

Belum terlalu lama saya mengenal beliau, tapi banyak pengalaman berharga dan moment berkesan yang sempat saya lewati. Yang saya dengar selama ini beliau adalah orang yang cukup disegani di kalangan pelari, mungkin layak juga kalau disebut trendsetter, tapi lepas dari semua popularitasnya saya sungguh tidak melihat Aki sebagai pelari ataupun selebritis yang untouchable.

Saya bukan pelari mahir, boro-boro mahir, belum 1 KM aja kadang suka udah nyerah, dari kecil juga saya nggak punya mimpi bisa masuk hutan, ikutan trel apalagi mendaki bukit. Jaman kecil, anti sama yang namanya Pramuka, kemah juga sekalipun belum pernah ngrasain. Sampai akhirnya Aki mengajak saya untuk ikutan ngetrail. Belagak gila, tawaran itupun saya terima. Dan benar saja, trail pertama saya ada di barisan terakhir, terpisah tak terlalu jauh, tapi lebih sering berhenti dibanding berlari. Tapi aki sangat telaten mendampingi saya, memegang tangan saya erat ketika menemui medan yang licin dan terjal, ataupun saat menapaki tanjakan dengan jalan setapak yang kalau dilihat kanan kiri udah pingin muntah. Trail paling berkesan saat di Bukit Tunggul, sepertinya cuma sepuluh kilo katanya, tapi elevasinya itu bikin ngilu, terutama buat saya pemula.

Aki tidak pernah menakuti orang yang ingin mencoba trail, meskipun kalau dipikir2 kaya berasa dijorokin sama Aki, karena beliau selalu bilang ini track buat beginner. Begitu sampai venuenya sempet mewek juga.

But on top of that, dari beliau saya belajar mengalahkan rasa takut, terutama takut masuk hutan dan berlari di perbukitan. Saya juga belajar betapa siapapun punya kemungkinan yang sama untuk merasakan nikmatnya nge trail seminim apapun kemampuan kita untuk berlari dan berapapun usia Anda.

Semangat Aki luar biasa, terutama untuk memasyarakatkan trail. Dia orang gila yang menurut saya suka nekad dalam artian positif. Mungkin sedikit banyak bisa dibilang risk taker sejati. Aki mengubah apa yang dirasa tidak mungkin menjadi potensi luar biasa.

dan saya masih menunggu beliau mewujudkan mimpi mengencani 57 gunung sebelum pertambahan usianya nanti. Siapapun pasti akan bangga untuk mendampingi beliau menyelesaikan ekspedisinya.

Dirgahayu Opa, semoga kamu tidak pernah lelah menjadi inspirasi untuk kita semua.

Sehat dan panjang umur selalu.

Standard
adventure, cerita, kisah, mountain running, olahraga, running, sport, story, trail running, tulisan, ultra running, ultra trail running

Teman- teman Saya Yang Hebat

26 November.
Lapar dan haus teramat- sangat. Tak ada lagi yg bisa dimakan & diminum. Jikapun ada pastinya seketika itu juga keluar lagi. Maaf, dimuntahkan.
Asam lambung sudah kadung naik.
Lemas tak tersisa tenaga sedikitpun.
Duduk letih dan  lemah.bersandar dipohon yg tak lagi bisa menahan curah hujan. Sendiri.
Di ketinggian Plawangan, Tempat pendaki bermalam sebelum muncak Rinjani.
Beberapa saat tadi baru turun dari muncak Rinjani. Belasan menit setelah Kang Hendra. Dan lebih lama lagi setelah Kang Rudy.
Kang Rudy tak tahu lagi entah dimana.
Kang Hendra katanya antara Plawangan dan Segara Anak.
Pasrah. Tak ada lagi yg bisa diperbuat.
Belokan turun ke Segara Anak tak juga ditemukan. Sudah belasan kali dicoba,
Sampai, ya sampai tak kuat lagi melangkah.
Dering telpon Kang Hendra ada sekali2.
Pastinya karena signal yang kadang ada kadang tidak. Menanyakan apakah belokannya sudah ditemukan.
Setelah sekian kali dijawab belum, akhirnya jawaban saya terakhir adalah sudah.
Hanya agar Kang Hendra tak lagi mengkhawatirkan saya, dan, sungguh menjawab telponpun sudah tak kuat.
Selang beberapa puluh menit masuk sms/ bbm teman2 mengucapkan selamat ulang- tahun.
Satu, dua, beberapa sekaligus. Belas, dan ya ampun, seperti tersadarkan, bahwa saya punya banyak teman. Banyak sekali.
Tak saya sadari, saya menitikan airmata.
Setelahnya adalah isakan.
Isakan bahagia, karena entah bagaimana mulainya tiba2 saya merasa tidak sendiri lagi.
Tiba2 tersadar bahwa sepertinya ada banyak teman2 yg menunggu seperti apapun kisah2 lari2 gunung saya. Jika ya begitu maka tak boleh diri ini menyerah.
Tiba2 saja saya mempunyai kekuatan lagi.
Kekuatan yg saya yakin cukup untuk bangun, dan memulai pencarian belokan ke Segara Anak.
Ternyata belokan yang dicari hanyalah belasan meter arah utara dari tempat saya semula tadi.
Selanjutnya beberapa jam kami bertiga sudah berkumpul di Segara Anak. Selamat, tanpa kurang suatu apa. Alhamdullillah.
Dua tahun kemudian, beberapa hari kemarin teman2 saya bukan lagi sekedar berlari gunung, tapi berlomba berlari di gunung.
Artinya ada batas waktu yang harus mereka perhitungkan.
Dengan jarak 50km, 102km dan 165km.
Dengan berbagai tingkat pengalaman dan kemampuan.
Dari yang pemula sekali. Sampai yang sudah beberapa kali penamat lomba2 lari trel ultra dimanapun.
Padahal kisah saya diatas hanyalah 30an km saja.
Saya yakin, tantangan, hambatan dan perjuangan mereka pastinya lebih lagi dari saya.
Biaya, waktu, persiapan, cuaca, medan yang sulit dan berbahaya. Tidur yang kurang. Makan dan minum yang mungkin berbeda dengan biasanya.
Tapi begitu besar niat dan keinginan mereka untuk turut di hajatan ini.
Bersukur acaranya selesai dengan, semoga saya tidak salah, berhasil dan selamat.
Teman2, kalian sungguh luar- biasa. Tamat atau tidak tamat kalian telah membuat sejarah.
Langkah menuju Indonesia sebagai salah- satu tujuan hajatan lari trel ultra dunia sudah dimulai.
Tak bisa lagi dihalangi.
Dengan kenyataan bahwa kita mempunyai ratusan gunung, pebukitan dan medan trel dimana- mana, bukan hal yg mustahil berikutnya adalah menjadikan tanah-air sebagai kiblat lari trel ultra maupun non ultra dunia.
Saya yakin dan percaya sekali.
Terimakasih teman- teman, kalian dan apa yang baru saja kalian lakukan merupakan hadiah termanis dan terindah diulang- tahun saya..
Tak terlupakan juga doa dan dukungan dari teman2 yang lain.

Salam,

Standard
adventure, event, mountain running, review, running, sport, story, trail running, ultra running, ultra trail running

I Did It! Bromo Tengger Semeru 100 Ultra 2013 by Maggie Kim hong Yeo

Maggie001 Maggie002 Maggie003 Maggie004 Maggie005 Maggie006It was meant to be. I was to run the 50 km after tossing and turning about whether I should run longer or not. Afterall, I have just completed a full marathon on the week before on 17 November 2013.Arrived at Surabaya 2 days earlier was great. Coz I for the first time a long time felt I am on holiday. And this trip is my birthday holiday. Met up with Chris Paul Kawinda who kindly checked me into a local hotel coz I arrived real late in the nite. Unfortunately, I had a fall and hurted my left knee after I had a shower on the slippery floor…The next day, we went off to Fitri Ismiyanti place where I stayed the nite at this wonderfully happy spirited lady, a very motiviated and enthusiatic runner. We had such wonderful time laughing eating and even went to meet up with some Indo Runners that evening.So the next morning off we went to Bromo in 2 MPVs and we arrive Lava View Hotel (this is the startline of 100km and 165 km events). Such a lovely view indeed as the hotel name said. Weather was great, cool and calm.Got my racepack, took heaps of photos and met so many other runners.

At 4 am, we were transported to Ranepane, where the startline of 50 km event.

At 5 am sharp, the race begin, and by then the sun has broken into this beautiful mountain. I decided to take off my headlight and put on my cap instead.

After running for about 5 km, my Garmin watch decided to die on me coz I must have accidentally press on the start button while it was in my luggage. Lesson learn, next time I must wear it on my wrist while on the way to race event. Also, I forgot to bring along the charger.

Anyhow I felt great with or without my garmin watch, coz my motive for this event is to graduate into being not just an ultra runner, but to be a real mountain trail ultra runner, so time is no essence…

Shortly after my garmin watch died, I managed to push myself through to lead the ladies pack.

From then on, I was happily running, power walking, through the forest, through the mountain slopes, indeed I was happy, so many has cheered me on. It was unbelievable how many called on to my name. I dont think I can remember all of them. Yet these callings brings such joy to me.

One of the runners, Stefan Knudsen from Denmark decided to tag along and we were happily moving on passing a great number of runners. Along the way, I am unable to remember all names, if you remember, please tag yourself here.

From Ranupane 2100 m down and up to Ranu Kombolo 2400 m W3 station where I decided not to refill anything. Just kept on going to Kalimati 2700 m and had my first drink up of my Fitliine Performance sachet and very quickly making my way to Ranu Kumbolo W4 station. Had a another quick drink of the Fitline Performance sachet and again quickly left the station of W3. These are all beautiful sub tropical not quite tropical, coz the weather is pretty cool, cant tell you the temperature unfortunately, but very comfortable feel and not sweating. Love the view and trees the climb.

Shortly after I arrive at km 25, I came to a junction with 3 ribbons, this was where I got lost. Both me and Stefan decided to turn left and after plodding for a while, we notice there was no more ribbons. Aaagh, we stopped, hesitated and decided to u-turn to get back to the original ribbon. By this time the sun was getting rather fierce.

We ran back unfortunate, we notice the ribbon did tell us to run to the left! And off we got back to the left again and ran all the way to the next junction and this was where we met Rizal Hakeem, we had a chat and told him we have already done this turn and if we run it again, we will be doing our second time on this loop. Nevertheless, there was no other choice but to do the loop one more time.

Then we got to the same junction again and then we turn right instead and then came to the ribbon where we had to go down the very steep hill… yes, here we had lotsa fun… I tried to run down with much difficulties. Finally after less than 5 minutes, I decided to sit on my butt and just let nature take its course… I slide down all the way while the rest of the runners were watching unbelievably at what I was doing. I bet they all did the same after that!!

So I managed to turn something rather dangerouss into something rather fun!! Reminded me of the times when I was liviing In New Zealand when in the summer we often take our flatten cardboxes and go down Mt Victoria at Devonport at the North Shore of Auckland with my kids.

By then I was of course actually hurrying coz I have lost a good 30 minutes too, thats why I decided to slide down… I had to catch up with lost time. Some of the runners have mentioned to me there were quite a few female runners who had passed. So my lead has vanished, alas..

Suddenly from the heat and the weakness, I had 2 energy bars and got back to being strong again. It is amazing to note here, when ones heart decided to get strong, the brain will just follow…

My journey at BTS, became stronger and stronger again….

At some stage here, Stefan who has been faithfully following right behind me deided that he had no more water in the Platypus and get left behind.

I on the other hand had started the next incline to Jempalang. Oh dear, what can I say, this never ending climb took forever.. km 30 just about towards km 35 are the hardest. Because in a marathon, km 35 we start to hit the wall. But I refused to let this never ending incline to give me the negative feeling. I took my Fitline Performance sachet again and kept on going.

Trust me, there were so many Ojek, motorbikers that shouted to to ask if I wanna a lift.. Haha, I have a running bib. No thanks. Along the way, also passed many other runners. So I know I was doing really well in this incline being able to pass others.

So passed W5A station 2400m. And then the down started, I rushed through these broken cement slabs, passing Hui Mathews and her husband along the way, I just ran as I did when I did the Bromo Marathon.. the feeling was great.

Then suddenly, the facade was to change…

The sand start to appear! Wow, the scenery was amazing, beautiful, but the soft sand will be yet another challenge. The savannah look and waves of the sand.. just unbeatable!

I ran along passing yet another lady runner and then I caught up with Handy Trisakti and told him I will try to tag along with him, coz I saw how he walked at an amazing pace. I shall try to keep as close to him as possible.

Coz here, I am starting to feel the lethargic of my legs. After some major running downhill. I was surprised by my own want of my heart. Indeed, I managed to keep up with him.

Shortly after, another set of beautifully made sand dunes started to show. Wow! That was in my mind. This is where I started to eat my Korma, dried dates and sip my drinks.

Beautiful and how am I going to conquer these never ending sand dunes, with the sand storms blowing very often. At some stage Handy had sand in his mouth!!! Full of them, he was complaining, by then I had my glasses on. But I decided I did not need the buff as I was too lazy to take it out from my bag and it will slow me down as well. But the glasses was really good, coz it protected my eyes…

Both of us kept going up and down and up and down those dunes. Soft as they were, beautiful as they were, if u are not careful, you will step wrongly and will roll down these tiny hills and then climbing up again will be a great bother!!

Finally we managed to catch up with another 2 more runners and we were in a pack of 4. We just kept on going and I and Handy managed to take over and got to the next station where I decided to take off my shoes unload the sand (not wearing the gaiter from the start was a great mistake, I should have but I did not). So finally, refill my drinks and had a cafeine gel coz I ran out of my Fitline Performance sachet.

As we started to move I saw Jane Djuarahadi, from the top yelling down as she moved off to complete her run. Both me and Handy went up the steps and down again. Hurrying down, and shortly after that I saw the girl in her hijap again, running infront of me. I was like, hmm where did she come from. I didnt see her passing me at all…

Nevertheless, she was just ahead of me by not much. Then we came to another incline. This is the final incline before we reach Lava View Hotel where the finish line is.

The finish was at 2240m..
The finish was exhilarating…
The finish was an accomplishment to me..
The finish graduated me into a true Mountain Trail Ultra runner…

Something I have been dreaming of since I DNF at Mt MOUNT RINJANI ULTRA!!

I did it! I did my 50 km in 10 hours 8 minutes…

Standard
adventure, event, inspiration, motivation, mountain running, sport, story, trail running

Mt. Salak Trail Run. Yuk Ngetrel, Go Trail, Go Outdoor

gotrail

     

Mengapa lari trel?
Seperti juga lari di lintasan, dijalan, atau di gym, tentunya banyak manfaat yang didapat. Rasanya tidak usah lagi saya sebut.
Plus…ya betul. Suasana, udara dan pemandangan yg berbeda dari hari2 yang biasa kita dapat.
Ngetrel bisa dilakukan siapapun. Kapanpun. Sejauh waktu, kesempatan dan cuaca memang memungkinkan.
Jika tidak ya usahakan untuk dimungkinkan. Ya kan?

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Ngetrel bukan juga hanya milik pelari trel elit. Seorang yang baru mulaipun sudah layak menyandang gelar pelari trel.

Sejauh bukan landasan keras, rata buatan, ya trel namanya. Bisa dipematang sawah, jalan setapak antar kampung. Atau kerindangan kebun tetangga dengan kontur naik- turunnya.

Apalagi tentu saja dikehijauan pebukitan, pegunungan. Bahkan pantai.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Bersukur sudah banyak yang mulai lari ngetrel di tanah- air.

Bahkan salah- satu teman komunitas lari lintas alam POLA86 di bandung sudah mulai sejak 1986. Setiap rabu sore. Sampai saat ini. Hebat ya?

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Acara lomba lari trelpun sudah beberapa kali diadakan.

Kedepan ini ada Bromo TenggerSemeru 100 Ultra dengan 3 kategori, 50k, 102k dan 165k.

Tahura trail race 17k  juga sudah didepan mata. Yang digagas teman2 Indonesia Biking Adventure.

Universal Trail Race, MesaStila Ultra, MesaStila Challenge dan banyak lagi. Dan tentunya Mt. Rinjani Ultra.

Bukan hal yg utopis jika tanah- air menjadi kiblat lari trel/ lari trel ultra dunia.

Semuanya tersedia. Mau trek, bukit, gunung yang seperti apa. Semua ada.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Beberapa teman2 lari trel kemarin- kemarin ini berlari trel di gunung Salak.

Salah- satu trek menarik. Juga buat pemula.

Jarak yang relatif pendek, trek yang juga aman tapi luar- biasa heboh.

Trek mulai dari Pasir Reungit sampai Kawah Ratu yang tidak begitu menanjak. Yang kurang- lebih hanya 5-6km.

Seperti biasa, hijau vegetasi khas lereng gunung.

Dengan sungai kecil disamping trek. Memotong dibeberapa tempat.

Dan Kawah Ratu yang memukau.

Kita bisa berlari diatas area kawah. Ada sungai lebar dengan airnya yang jernih. Luar- biasa.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Yuk, kami- kami sudah mulai. Anda kapan?
Sederhana koq, dengan mantra “berjalan saat menanjak, berlari saat menurun” siapapun bisa mulai, menambah jarak dan kecepatan sedikit demi sedikit.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Awal2 ratus meter, bukan hal mustahil dalam hitungan kurang dari setahun Anda sudah bisa lakukan lari trel ultra.

YukNgetrel, GoTrail, GoOutdoor

Salam,

Standard