berbagi, fit, healthy, running, sehat, sport, trail running, tulisan, ultra running, ultra trail running

I’m Saving My Life

image

Satu tahun kemudian lari2 setiap hari masih sebagai therapi asma saya.
Artinya jika dijalankan Alhamdullillah asma tak menyapa.
Asthma controller pun bisa dikesampingkan.
Sebaliknya, jika tak dilakukan rutin, seperti yg saya coba belakangan ini, dgn niat agar tak terlalu bergantung pada lari- berlari, Alhamdullillah ketemu lagi:)
Dan asthma controllerpun ambil alih kendali.
Tak ketinggalan sang inhaler urun rembug untuk setiap serangan yg ‘berhasil’ lolos dari sang asthma controller.
Serangan yang lumayan menguras tenaga. Serangan yang meluluh- lantakan pertahanan diri.
Saluran nafas yg menyempit, menyesakkan dada, amat sangat dekat pada  cekikan yang mematikan.
Seringkali membuat saya heran dan takjub; anak- anak pengidap asma. Bagaimana usia- usia kanak- kanak mengatasinya, jika se usia ‘dewasa’ saya saja sudah dibuat repot.
Sedikit berbeda , dan harus saya syukuri, jika tak dikatakan ‘kemajuan’ adalah, sekarang saya bisa kurangi porsi larinya ke separuhnya. Jadi dari yang selalunya 10k, menjadi 5k setiap hari. Alhamdullillah.
Artinya saya tak terlalu tergantung sekali dgn angka 10k.
Tak berarti saya tak suka banyak- banyak lari.
Sebaliknya malah.
Saya sukaaa sekali lari. Saya jatuh cinta kepada lari.
Lari, olah tubuh, aktifitas luar ruang, yg, pada dasarnya mengandalkan hanya badan/ tubuh kita saja.
Keren.
Lari.
Saat saat saya merasa ‘peduli’ dengan jiwa dan raga saya. Saat saat saya pribadi. Me time.
Saat saat saya menemukan ilham, ide, inspirasi. Hal- hal yang mencerahkan.
Saya rindu akan lari- lari jauh saya. Sendiri atau bersama yang lain.
Belasan k, half atau bahkan fullmarathon.
Apalagi lari- lari ultra.
Spontan lari keluar kota. Lari- lari muncak gunung. Atau membelah pulau, dari pantai diujung yang satu, ke pantai diujung seberangnya.
Jadi saya beruntung sekali. Jika memang lari adalah therapi asma saya, maka dengan amat sangat senang sekali saya lakukannya.
Rupanya ada hal lain yang harus saya pelajari.
Belajar untuk tetap terhindar dari kambuhnya asma tanpa terlalu bergantung kepada lari- berlari.
Jadi jika pun toh saya lakukan lari- berlari saya, memang karena menjaga sehat dan suka saya.
Bukan karena hanya menghindari kambuhnya asma.
Semoga saya dimudahkan untuk mencoba tetap bisa berlari, sampai tak mungkin lagi.
Aamiin.
Salam:)

Advertisements
Standard
event, Hash, komunitas, mountain running, olahraga, running, sport, trail running

Lari- Larinya Teman Senior Kita di Universal Hash House Harrier

InaAnwarSurahman001

Sedikiiit saja kembali ke UniversalHash HouseHarrier Trail Running Race 2014, minggu lalu.
Awal 80an saya kenal beberapa kelompok pegiat lari lintas- alam( seperti kita sekarang, lari trel) dikota Bandung.
BHHH( Bandung Hash House Harrier), yang sering diplesetkan menjadi Bandung Hah Heh Hoh, Pelita( Pelari Lintas Alam), Pola86( Penggemar Olahraga Lintas Alam). 86, percaya atau tidak, teman2 senior nan kencang2 ini,sejak 1986 sampai rabu lalu tak pernah terputus lari setiap hari rabu sorenya.
Virgo( lupa singkatannya apa). Dan beberapa lagi. Jika tak salah malah ada belasan.
Jadi, kami di Bandung, punya banyak sekali pilihan. Belasan kali dalam seminggu. Setiap pagi dan sore,mulai senin sampai minggu.
Dan bisa terjadi ada beberapa komunitas dengan masing2 treknya di waktu yang sama.
Kebanyakan dari mereka bahkan adalah pelanggan2 saya menginap.
Jadi sabtu c/i. Minggu pagi mereka berlari.
Dulu.
Sayang sekali saat itu saya belum bisa berlari 😦 .
Ups, kembali ke yang saya maksud.
Konon komunitas lari seperti Universal HHH ini berasal dari Malaysia.
Trek lari yg ditandai sebelumnya dengan potongan2 kertas atau bubuk kapur.
Yang melakukan taburan ini disebut Hare.
Kita- kita, pelarinya disebut Hounds. Pelari yang mencari dan mengikuti jejak yang dibuat oleh sang Hare tadi. Biasanya dilakukan sehari sebelumnya.
Start/ finishnya adalah Beer Truck( Ah pantas, sebagian masih pertahankan tradisi ini).
Nah Universal Trail Running Race 2014 kemarin ini adalah kurang- lebih cara teman2 senior kita memperkenalkan lari- lari mereka.
Medannya? Ya seperti yang kita lalui kemarin ini. Semak2, blusukan. Naik- turun. Dan secara horor.
Jadi jika kita temukan tanda2 arah kemarin ini, ya adalah bonus. Karena biasanya mereka benar2 mengandalkan hanya taburan kertas saja.
Keamanannya hanya, adanya tim sapu- bersih 🙂 .

Mohon maaf jika kemarin ini membuat sebagian teman2 kesal, jengkel dan ngambek dengan treknya yg tak ‘sopan’.
Tapi percaya lah, tak ada maksud lain, selain sama- sama mengajak siapapun untuk mencintai lari.

Oh ada tambahan sedikit lagi untuk kita ketahui soal Hah Heh eh HHH ini.
– On On:
a. Nada tinggi panjang, terus menurun : tanda awal untuk memulai kegiatan Run, diteriakkan oleh Hash Master.
b. Bersemangat, nada tinggi pendek-turun : tanda Hound telah menemukan jejak kawul yang benar.
c. Nada naik turun pendek : salam persahabatan antar Hasher saat berpapasan di jalan.
d. Nada rendah pendek : minum-minum di senja hari setalah selesai Hash Run.
– Down Down:
Seni meminum habis segelas penuh bir dengan sekali teguk dengan iringan lagu Down Down dari para Hasher. Jika tidak habis, sisa bir harus di guyurkan di kepala. Down Down diberikan oleh Hash Master/Mistress atau R.A. sebagai suatu tanda penghargaan (an axclusive honour) yang boleh di protes tapi tidak dapat di tolak, apapun juga alasannya.
– Harriete: Sebutan bagi seorang Hasher wanita.
– Puppy: Hasher kecil berusia antara 3 – 12 tahun.
– On Sec: Hasher yang bertugas melaksanakan pencatatan semua data kegiatan Hash Club,administrasi/surat menyurat, statistik, keuangan, penerbitan Hasheet dll.
– Hash Liaison: Hasher yang bertugas menghubungi sponsor dan menjamin adanya beer & minuman lainnya baik di Regular Run Site maupun didalam kegiatan Hash lainnya (Party, Picnic Run Dll).
– Hash Flash: Hasher yang bertugas mengabadikan semua peristiwa Hash dalam Photo/slide/film/video.
Jadi kemarin ini saya sedikiiiit membantu melakukan sebagian pekerjaan2 sebagai Hash Liaison dan Hash Flash 🙂
Sampai jumpa di On On tahun depan. Salam

 

Sumber: http://kobahash.blogspot.com/2012/06/daftar-istilah-hash.html

Standard
adventure, event, mountain running, olahraga, running, sport, trail running, tulisan, ultra running, ultra trail running

Mengenal Medan Berlari Trel

runLimitless

Pantai Pendawa Bali. Garmin Photo Session.

Hak gambar ada pada Patricia Heny.

Mengenal medan lari trel yang ada di kita. Dan bagaimana kita ‘menikmatinya’. Atau: mempersiapkan diri untuk sebagian. Sebagian lain biarlah kejutan 🙂 .
Sepertinya kita sepakat, bahwa lari trel adalah lari  selain dijalan yang menarik sekali. Menyehatkan, menenangkan, menghibur. dan biasanya menyenangkan. Terkadang saja menyebalkan.

Banyak hal menarik yang ada di lari- lari trel tanah- air. Yang mungkin tak ada ditempat lain.
Do’s & don’ts ditempat lain bisa jadi berbeda atau bahkan  tak berlaku di kita.
Ditempat lain mungkin ya bisa berlaku, “Usahakan jangan  berlari sendiri ditempat yang baru”. Ditempat lain yang sudah sedemikian membudayanya berlari. Tak sulit mencari teman.
Apalagi lari muncak gunung. ” pelajari dahulu trek yang akan dilalui.Beri tahu orang terdekat, kapan kita berangkat dan kapan perkiraan turun”.
Tentu saja berlaku juga di kita.
Atau, seringkalinya malah setelah beres muncak sendirian, lebih dulu saya sampai dirumah ketimbang whatsapp saya terbaca orang rumah 🙂 .

Trek1- trek2-

Lereng Gunung Burangrang. Atau di perkampungan dipinggiran kotapun mirip- mirip seperti ini kan? 🙂

Kiri: Trek di Gunung Burangrang. Kanan: Tangkubanparahu.

Satu.
Kita mulai dari yang termudah. Dengan trek seperti diatas. #newbiefriendly .

Kelengkapan: sepatu trel dan atasan bawahan jersey jika ada. Jika tidak asal cukup nyaman saja.

Yang dibawa: satu botol minuman cukup.

Trek yang bukan aspal. Tak jauh dari tempat tinggal.
Rerumputan atau tanah di halaman disekitar pemukiman. Datar2 saja atau dengan sedikit naik dan turun yang landai.

Trek terbuka. Tak terhalang alang- alang atau tumbuhan, karena sering dilalui.

Tak perlu banyak2 yang dipersiapkan. Cukup handheld bottle saja. Satupun cukup.

Pijakan tak sulit, karena hampir rata saja. Baik tanah maupun rumput.

Dua.

Berikutnya adalah, jika start  yang agak jauh dari rumah.jadi mesti dicapai dahulu sekian waktu #newbiefriendly .

kelimutu=BRomo-

Kiri: Danau Tiga Warna Kelimutu. Kanan: Bukit Pasir Bromo.

Yang dibawa: air dan makanan tergantung jarak dan ada tidaknya warung/ toko tempat kita beli sesuatu yg diperlukan.
Handheld bottle atau hydropack. Kamdig jika ada.
Semisal Sentul bagi teman2 Jakarta, Bogor dan Tangerang. Perkebunan teh Sukawana bagi Bandung dan sekitarnya.
Medannyapun beragam.
Ada yang bisa dengan santai sambil update status,( hati2 kepala terbentur batang/ dahan pohon yg melintang seketinggian kepala. Kecuali pakai helm dan siap trombophop),  karena tak perlu harus ngesot2 atau berpegangan pada apapun, atau dengan sedikit2 pegang sana- sini karena turunan yang lumayan curam. Walaupun mungkin hanya beberapa meter saja.
Semuanya berlaku, Berlari trel, artinya pemandangannya lebih hijau, lebih indah dan nyaman, tak hiruk- pikuk lalu- lalang kendaraan dan asapnya.

Disini sebotol minuman kita harus ditambah dengan lain2nya lagi. Cemilan dan uang secukupnya. Sarung tangan mulai diperlukan. Cukup sarung tangan wool seharga 5 ribuan.

KawahRatu- TamanJayaSungai-

Kiri: Sungai air hangat di Kawah Ratu Gunung Salak. Kanan: Muara sungai di TamanJaya Ujungkulon.

3. Trek yang sama, tetapi berbonus istimewa,semisal kawah dan sungai yang bisa dilalui/ dicapai. Seperti Pasir Alit ke Kawah Ratu Gunung Salak. Atau start parkiran atas Tangkubanparahu, memutar kebalikan arah jarum jam, mengelilingi Kawah Ratu Tangkubanparahu. Sampai sebelum panjatan. Dan kembali. #newbiefriendly.
Yang dibawa: setelan ganti untuk yang ada acara basah2an disungainya. Kamdig cenderung wajib 🙂 .

4. Berikutnya adalah medan yang termasuk hutan, lereng gunung. Yang berpotensi untuk tersesat. Bahaya kelelahan, kedinginan dan dehidrasi.
Pemula sebaiknya disertai pelari trel yang sudah berpengalaman.
Kelengkapan: rain coat ringan( cukup yg 10an ribu, windbreaker, sepatu yang lebih sesuai, untuk kesiapan menghadapi segala medan trek, seperti pasir, batuan licin, tanah becek dan sungai. Jam bergps jika ada. Pluit, headlamp kecil, Sarung tangan, atasan jersey berwarna cerah. Obat2an pribadi, betadine dan plester penutup luka. Bandana serbaguna( banyak yang murah. 40an ribu,buatan Bandung), telfon genggam murah( bukan smartphone, berbattery tahan lama).

Penting sebelumnya untuk diketahui, provider mana yang paling kuat di area ini.

Karena tak semua gunung dilintasi banyak pengguna, harus diantisipasi trek yang agak tertutup semak2, dahan ranting melintang. Artinya ada kemungkinan tergores.
Sila pakai bagi yang nyaman memakai semacam bawahan panjang/ compression.

GarminPhotoShoot0750TamanJayaPantai-

Kiri: Pantai Pendawa, Bali. Kanan: Pantai Taman Jaya, Ujung Kulon.

Langkah kaki dan pijakan.
Perhatikan pijakan kita disini. Terutama saat menurun.
Menurun dengan perlahan. Tentu saja cenderung lebih aman. Tapi lebih mudah lelah/ berat pada paha dan betis, karena menahan  grafitasi.
Jika memungkinkan adalah turun dengan sedikit lebih cepat.
Hanya, seperti dalam catur, beberapa langkah/ pijakan sudah harus diperhitungkan. Karena pijakan yang salah diawal akan diikuti oleh pijakan2 salah di yang berikutnya.

Batuan2 tajam injak dengan bagian telapak tengah. Menghindari tergelincir kedepan atau kebelakang. Pijakan diusahakan tak membuat sudut dengan sol bawah sepatu. Jadi hampir sejajar( lagi- lagi kemungkinan tergelincir).

Semakin tegak lurus pijakan dengan arah turun kita semakin baik. Semakin besar peluang kita untuk lebih cepat. Berlari dengan cara  melompat kebagian- bagian tegak lurus ini.

Semakin cepat kita turun, harus semakin condong badan kita kedepan. Menghindari  terjerembab kebelakang saat terpeleset.

Mata yang jangan hanya terpaku kebawah, memperhatikan kemana dan apa pijakan kita, tapi juga kedepan. Tak jarang ada batang dan dahan pohon yang melintang seketinggian kepala.

 

wpid-2014-02-01-05-18-46.png

Menjelang Jembatan Setan Gunung Merbabu.
Yang terpenting untuk semua adalah, kesiapan yang baik.
1. Biasakan hari- hari untuk tak terlalu ‘memanjakan’ tubuh dengan terlalu mudah memakai pakaian2 tebal, agar saat kita berada di cuaca dingin( dihutan pegunungan/ ketinggian) kita masih bisa cukup hangat dengan 1 jacket.

Bisa dibayangkan, jika hari2 saja dikota kita berjacket, apa lagi yang akan dipakai saat kita diketinggian. Ya kan?

2. Biasakan selalu bergerak. hindari duduk atau diam berlama- lama. Gerak, gerak dan gerak. Sebadan.  Jadi jangan hanya telunjuk saja yang bergerak.

3. Semua sepatu trel semestinya cukup baik. Dengan waktu dan jam terbang lari ngetrel kita, kita akan lebih pasti lagi mengetahui brand, type mana yang paling sesuai untuk kaki kita.

Yang penting bukan sepatu mana sesuai dengan medan yang mana, tetapi sepatu dengan peruntukan yang jelas yang sesuai dengan kaki kita. Setelahnya adalah kaki dan sepatu yang menyatu, yang seperti mempunyai mata dan perasaan, menyesuaikan gerak langkah dan pijakan. Apapun medannya.

4. Persiapan yang baik adalah persiapan yang tak mesti baik, sempurna.. Bingung? Jangan 🙂 . Tak mesti semuanya siap baru ngetrel. jika ya begitu, entah kapan kita ngetrelnya.
Jadi sisakan sedikit untuk kejutan. Kejutan yang mungkin mengesalkan bahkan menyebalkan, tapi setelahnya adalah kisah cerita seru yang membuat kita lebih cepat lagi terlatih.

Kapan- kapan saya sambung dengan trek- trek lainnya.Semoga bermanfaat.

Salam,

Yuk Ngetrel 🙂

 

 

Standard
mountain running, olahraga, running, sport, trail running, tulisan

Berlatih Lari Di Ketinggian

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Pada dasarnya , berlari di ketinggian adalah berlari di udara yang lebih tipis(  hypoxia).
Jika dilakukan lebih sering, bahkan banyak dilakukan oleh atlet dalam rentang waktu tertentu( salah- satu tempat berlatih atlet lari nomor 1 indonesia, Agus Prayogo,  adalah Pangalengan. Altitude training).
Yang terjadi adalah tubuh akan berusaha memproduksi sejumlah energi yang dibutuhkan akan tetapi dalam kondisi  keterbatasan oksigen. Usaha inilah, jika dilakukan sering, yg memicu meningkatkan sistem kerja respitori tubuh, cardiovascular dan utilisasi oksigen yang lebih effisien.

Ada pendapat lain. Live high, train low. Yang lebih penting adalah tinggalnya di ketinggian. Sementara berlatihnya yang tak mesti. Yang tentunya sebagian besar ‘bernafas’ nya yang justru di ketinggian.

Sampai- sampai untuk ini bahkan ada simulatornya. Mulai dari tenda, kamar tidur dan kelengkapan berlatih dengan masker yang bisa mensimulasikan keterbatasan oksigen sampai seperti di ketinggian 6400 meter.

Jadi tak mesti ke ketinggian yang sebenarnya.

Aman? Sesuai jugakah altitude training ini bagi kita, pelari2 trel sekedar cantik suka2? Tentu saja. Sejauh bertahap dan hati- hati.

Ada hal lain yang bisa kita dapat dari altitude training. Ya, betul. Semakin tinggi  tempat kita berlari, relatif semakin bersih udaranya, semakin indah pemandangannya.Semakin nyaman dan semakin bahagia tentunya.
Yang saya maksud adalah,semakin tinggi,semakin menjauhi kota.

Live high, train high yang sebenarnya? Tak lain dan tak bukan Sang jawara lari trel ultra/ gunung Killian Jornet 🙂
Yuk Ngetrel! Maenkan!

 

 

The main reason runners head for the hills is because high-altitude air contains less oxygen than sea-level air, a situation that forces the body to compensate in a variety of ways conducive to improved distance-running performance.
Read more at http://running.competitor.com/2013/06/training/whats-the-real-story-with-altitude-training_30368#SdjfIsm4LwhQ2MHX.99
The main reason runners head for the hills is because high-altitude air contains less oxygen than sea-level air, a situation that forces the body to compensate in a variety of ways conducive to improved distance-running performance.
Read more at http://running.competitor.com/2013/06/training/whats-the-real-story-with-altitude-training_30368#SdjfIsm4LwhQ2MHX.99
The main reason runners head for the hills is because high-altitude air contains less oxygen than sea-level air, a situation that forces the body to compensate in a variety of ways conducive to improved distance-running performance.
Read more at http://running.competitor.com/2013/06/training/whats-the-real-story-with-altitude-training_30368#SdjfIsm4LwhQ2MHX.99
The main reason runners head for the hills is because high-altitude air contains less oxygen than sea-level air, a situation that forces the body to compensate in a variety of ways conducive to improved distance-running performance.
Read more at http://running.competitor.com/2013/06/training/whats-the-real-story-with-altitude-training_30368#SdjfIsm4LwhQ2MHX.99
Standard
cerita, running, story, trail running, tulisan, ultra running, ultra trail running

kehidupan yang warna- warni, lari dan asma abadi

WaistPack

jika perjalanan hidup adalah kumpulan dari hal2 yang baik, hebat, menyenangkan, berkelebihan dan keberhasilan. Barangkali bisa di ibaratkan seperti berlari dari start sampai finish dengan pace yg cepat menakjubkan, tanpa lelah sedikitpun. Di trek yg super mulus, udara bagus dan tanpa sedikitpun lapar dan haus.

Ada saat- saat  bisa pergi  main dari pagi sampai sore tanpa larangan orang- tua. Ada saat- saat tak boleh keluar rumah bertahun- tahun karena anjuran dokter.  Juara kelas berturut- turut dalam satu kurun waktu.  Saat lain raport tampil menyala dengan 8 angka merah.
Disaat yang satu rajin mengaji rajin belajar, sampai lupa padahal sedang libur. Disaat lain menjadi biang kerok perkelahian antar kampung.
Sebagian saat- saat sma adalah saat- saat tertawa lepas dalam keseharian bersama teman2. Sebagian lain adalah buru- buru menjauh dari kerumunan, menyembunyikan batuk asma yang sama sekali tak indah didengar.
Berlari mengajarkan kepada saya, bagaimana suatu minus, keburukan, kekurangan atau kerugian sepanjang hidup, yang hampir seperti kutukan, bisa menjadi sebaliknya. Bisa berdamai dengannya.
Asma saya  bisa jadi abadi, tak hilang sepanjang hayat saya.
Tapi dengan berlari, saya belajar mengendalikannya. Belajar bagaimana mengurangi pencetusnya.

Bagi teman2 pengidap asma seperti saya, tak usah kecil hati. Yuk kita coba untuk berlari.
Bisa jadi lari2nya saat ini bercampur  dengan berhenti berulang- kali. Tapi, sedikit demi sedikit tapi pasti , kita akan sampai pada titik ” Yes! i did it!” . Akhirnya bisa lari2 rutin sekian puluh menit setiap hari. Atau jika diinginkan bahkan sampai berlari trel ultra muncak Rinjani.
Selamat pagiiii 🙂

 

 

 

Standard
adventure, berbagi, cerita, cerita, kisah, renungan, event, olahraga, running, sport, trail running, tulisan

Lomba Yang Bisa Dimenangkan Oleh Siapapun Kita

Kamojang-

6 bulan pertama usia lari, saya tak cukup percaya diri untuk ikut lomba. Sampai Kang Rama Nusjirwan mengatakan,” Harus coba Ki, bagus untuk tahu dan tingkatkan kemampuan”.
Berikutnya adalah sibuk2 siapkan mental dgn sekian tanya- jawab sendiri, bagaimana kalau begini, bagaimana kalau begitu. Intip2 di hasil lomba yg sdh berjalan, kira2 saya akan ada di posisi mana. Akankah saya paling buncit?.
Belum cukup yakin saya putuskan daftar di Milo 10k 2010. Setelahnya adalah dag-dig-dug tak karuan.
Perasaan menyesal timbul. Peserta akan ribuan, dan mereka akan melihat orang setua saya lari terseok- seok atau gagal finish. Konyol sekali.
Ditengah- kegalauan saya, tiba2 saja Bang Muara Sianturi telpon,” Ki, jadi ikut Milo 10k?. Lo ikut Lomba Lintas Alam Kamojang aja, trel tuh”.
Pucuk dicinta ulam entah kemana eh si ulamnya tiba.
Yes. Selamat saya dari yg saya khawatirkan.
Kamojang, entah dimana, pastinya pesertanya tak ribuan. Venuenya dialam, banyak bukit dan pohon. Akan banyak tempat sembunyi jika kegagalan yg akan saya alami.
Tiba2 ada perasaan lain. Entah kenapa, saya merasa ada skenario yg dibuat si Abang ini.
Sampai2 beliaupun mau ikut lomba Kamojang ini.
Yg pasti dgn gagah percaya diri saya daftar.
Apalagi ternyata peserta kategori kecepatan( kita sebut lari trel kan)pesertanya hanya berlima. Haha. Sebelum2nya sampai 20-30an.
Hari H. Kami berlima, saya, Pendaki Liar, 1 peserta lokal, Bang Anwar rekan Pendaki Liar( saya dengar belasan kali berturut-turut juara lomba ini, mantan atlet lari halang- rintang 3000m) dan Bang Muara Sianturi.
Tak ada perasaan ragu, grogi atau apapun. Tak setetes keringat dinginpun saya rasakan.
Santai, seolah- olah sudah belasan puluhan kali ikut lomba.
Dari awal saya sudah ketinggalan. Yang tak pernah meninggalkan saya adalah asma saya. Selalu setia menemani  🙂 .
Dan percaya- diri yg entah darimana koq ya saya punyai.
Belasan km pertama, etape pertama adalah 25km, peserta lokal saya susul, juga Kang Pendaki Liar yg cidera. Kemudian lagi Bang Muara yg mengaku cidera. Berarti tinggal Bang Anwar didepan saya.
Singkat cerita saya finish 15 menit dibelakang beliau. Senang? Tentu saja. Aneh? Ya juga. Tapi saya tak ambil pusing. Saya nikmati saja dulu saat2 ini.
Kapan lagi saya merasakan saat2 kemenangan seperti ini. Seumur- umur lomba, hanya pernah juara di lomba balap… karung. Saat kelas 4 SD.
Itupun drama. Karena sempat diprotes peserta lain. Menurut mereka saya curang. Masa bukan loncat2 tapi melangkah. Sebelum lomba saya dibisiki kakak, “jangan loncat, ujung2 kaki posisikan keujung kiri kanan karung, dan melangkah jalan cepat” 😛 .
Bang Muara kembali ke Bandung malam itu juga. Artinya tak berlanjut dgn etape kedua esok harinya.
Esoknya saya lebih santai lagi, karena juara dua sudah ditangan. Kembali ke start 18km, dgn trek berbeda.
Saat magrib saya menerima piala juara dua setinggi 70 cm. Ga level dgn kemenangan Nadal & Schumacher, tapi perasaan mah beda2 tifis lah.
Sampai saat ini Bang Muara tak pernah mengakuinya. Tapi saya tetap percaya, beliau sengaja membuat saya ikut lomba ini. Membuat saya percaya diri dgn keikut-sertaannya dan membiarkan saya berlari menuju juara dgn tak melanjutkan lombanya.
Jika mau tentu saja trek yg ‘ hanya’ 25km disikat habis beliau. Seorang yg hanya perlu waktu 3jam 5 menit untuk 42.195 km.
Kisah diatas, gambaran betapa konyolnya saya, yg tak cukup percaya diri untuk ikut lomba atau memulai lari- berlari, tak harus diulang oleh siapapun.
Yang dilakukan seorang Bang Muara terhadap saya ingin saya tiru. Dengan cara yg berbeda yg saya mampu.
Dibantu dengan banyak teman2 lari trel yg luar- biasa, saya ingin, setelah ikut “Food, Fashion & trailFunrun. Sukawana” lalu dan “Food, Fashion & trailFunrun. Sawarna” 4 mei nanti, juga acara2 serupa selanjutnya, siapapun pemula tak lagi ragu untuk mulai lari, mulai ikut lomba. Tanpa dibebani dgn harus cepat, harus finish, harus podium, harus sempurna.
Lomba kita adalah lomba mengalahkan berbagai macam penghalang untuk hidup sehat dan nyaman. Lomba yg pasti bisa dimenangkan oleh siapapun kita. Pemula atau yang sudah lama.
Terimakasih Bang Muara, Kang Rama, dan semua teman2 yg selalu saling mendukung. Salam, selamat pagi, selamat hari jumat 🙂

Bandung, Maret 2014.

Standard
adventure, event, komunitas, olahraga, running, sport, trail running

Pojok Komunitas di Eiger Adventure Store Bandung

image

Halo- Halo Bandung!
Acara lari Kamis Malam di Eiger Adventure Store jalan Sumatra hanyalah salah- satu kegiatan yang di fasilitasi oleh teman2 di Eiger.  Sebagai persembahan untuk masyarakat kota Bandung atau kota lain yg kebetulan sedang di Bandung. Akan kegiatan yg sehat dan bermanfaat. Dan ramah lingkungan.
Tanpa syarat & kewajiban apa2.
Untuk lebih mengenalkan/ mengingatkan lagi kegiatan luar- ruang, tentunya tidak hanya untuk kegiatan lari- berlari. Semisal komunitas penyuka jalan santai, pesepeda, fotografi, blogger, pendaki, panjat tebing, canoeing, river boarding.
Terbuka bagi siapa saja, komunitas apa saja. Untuk tempat berkumpul, membuat acara. Atau sekedar silaturahmi dalam komunitas atau lintas komunitas. Atau bagi siapa saja yang ingin tahu, ingin  mengenal kegiatan2 luar- ruang.
Tak hanya di kamis malam, tapi dari senin sampai minggu, 365 hari dalam setahun.
Juga tak bertujuan menjadikan ini (Pojok Komunitas) sebagai satu2nya tempat, tetapi diharapkan akan lebih banyak lagi bermunculan ditempat- tempat lain.
Oleh, untuk dan bagi siapapun.
Disamping taman2 kota yang semakin banyak kita punya.
Yang penting Bandung lebih lagi beraktifitas luar- ruang. Bandung yang lebih sehat dan bermanfaat.
Salam 🙂

Standard
adventure, design, review, sport, trail running

Garmin virb elite. Sport action camera

image

Ber-wifi dan ber- gps.
Betul, seperti yang kita duga, artinya disamping mempunyai viewfinder sendiri, juga dapat kita lihat dilayar device manapun yg ber-wifi.
Dan juga tak salah, ber-gps artinya mempunyai kemampuan bernavigasi layaknya device ber- gps.
Data seperti koordinat, ketinggian, kecepatan, jarak dan waktu sudah barang tentu ada.
Membawa virb elite tak ubahnya membawa sport action camera tahan air dan device gps sekaligus.
Bahkan bisa terkoneksi ke termometer eksternal, cadence( sensor penghitung putaran pedal pada sepeda), dan beberapa lagi lainnya.
Sebelum semakin wow dengan segabruk kebisaannya dan kelengkapannya, saya mulai dengan spek sebagai berikut:
– micro memorycard sampai 64 Gb. Terbaik mulai dengan class 10 keatas.
– battery lithium- ion berkapasitas 2000 mAH untuk penggunaan sampai 3 jam. Didukung dengan kemungkinan menggunakan eksternal battery( powerbank).
– berlayar lcd sebagai viewfinder dan tampilan multi informasi.
– 16 MP foto. Dgn burstspeed 3 gambar 16 MP/detik, 5 gambar 12MP/detik dan 10 gambar 8MP/detik.
– HD 1080 video/30fps.
– Field of View ( Luasan bidang yg tercover oleh sensor film) yg bisa di set wide, zoom2 & zoom4.
– Flip orientation. Seting untuk membalik lensa saat vibr dipasang terbalik, misal agar layar menghadap kebawah.

Yuk kita mulai kupas.
Yang paling mengesankan adalah penggunaan tombol2 menu yang logis sekali. Jadi mirip dengan fenix, rasanya tanpa membaca buku petunjuk cepatnya sekalipun siapa saja bisa langsung menggunakannya.
Tombol geser besar disamping untuk rekam video. Beberapa tombol tekan disamping lainnya untuk Mode, Ok ( yg juga tombol shutter untuk foto), kedepan/keatas, kebelakang/kebawah dan power.

Menarik sekali, kita dapat mengambil gambar ( foto) saat rekaman video sedang berjalan.  Jadi saat merekam video, ya tinggal tekan2 saja tombol Oknya 🙂

 

 
Bersambung 🙂

Standard
cerita, inspiration, kisah, motivation, olahraga, renungan, running, sport, story, trail running

Yuk kawan, kita lari

image

Tentu saja Nadine tahu sekali bagaimana mengikat tali sepatu trelnya dengan benar. Seperti yang selalu dengan penuh semangat Nadine ingatkan ke siapapun, yang kedapatan tali sepatunya lepas.
Lipat masuk simpul tali sepatu yang sebelah kanan kedalam bulatan simpul tali pertama. Sekarang lipat, masukan juga lagi simpul tali kirinya. Tarik perlahan sampai benar- benar terikat kuat.
Demikian yang Nadine ingat dari yang pernah dia baca dan lihat disalah-satu majalah lari.
Simpul tali sepatu yang tak mudah lepas untuk lari- lari agak sedikit jauh. Bahkan lari trel sekalipun.
Sekali lagi dia periksa, apa- apa yang mungkin belum ada. Setelah sebelumnya sedikit lap- lap badan ala cowboy, makan dan minum sekedarnya, sikat gigi. Mematut- matut diri dicermin kamar.
Lipatan uang sepuluh ribu dan telpon selularnya sudah di saku tas dipinggangnya. Beberapa potong coklat kacang sebagai bekal disiapkan. Juga botol plastik air ramah lingkungannya.
Sebagai penyuka kegiatan luar- ruang tentunya pantas jika lebih lagi peduli lingkungan.
Sekali lagi tersungging senyum dibibirnya. Bangga akan kepeduliannya. Walau mungkin baru sedikit yang dia tahu soal isu lingkungan.
Tak apa. Toh sudah dimulai.
Seperti biasa Nadine memakai celana lari pendek dan atasan yang menurutnya nyaman dan berwarna cerah.
Nadine membiasakan untuk tak terlalu tebal berpakaian.
Kali inipun tanpa jacket. Cukup dengan mulai menggerakan badan, hangatpun didapat.
Tiba- tiba teringat nasehat sang paman. ” Nneng hati- hati. Jangan jauh- jauh. Jangan banyak- banyak larinya, pakai jacket”.
Seperti biasa, Nadin tersenyum saat menjawab,” ya Mang, nuhun”.
Ah si Mmang baik- hati ini. Jangan- jangan harusnya lebih menghawatirkan dirinya sendiri. Makan tak kenal pantangan. Apapun disikat. Jeroan, gorengan. Sate kambing yang selalu harus bergajih. Jangan ditanya kalau sudah mendapatkan gulai kepala kambing. Utuh. Ya utuh sekepala. Asyik- masyuk, sampai- sampai tak lagi dapat dibedakan mana kepala kambing dan mana kepala si Mmang. Dan tentu saja nasi putih yang banyak. Sementara tak pernah sekalipun terlihat berolah- tubuh.
Semoga Mmang selalu sehat.
Udara dibulan januari memang agak dingin. Terkadang pagi- pagi hujanpun sudah menjelang.
Satu lagi godaan yang tak kecil untuk tetap ditempat tidur.
“Tidak!, saya harus menang. Saya harus bisa mengalahkan kemalasan ini”. Demikian Nadine seringkali meyakinkan diri- sendiri.
Semakin besar godaannya semakin besar dia melawan.
Jalan kaki keluar komplek rumahnya. Beberapa ratus meter. Kemudian belasan menit dengan angkutan umum kearah utara kota.
Gerbang kawasan wisata alam di utara ini memang tempat Nadine memulai lari- lari trelnya.
Sepuluh menit pemanasan sebelum mulai tak lupa dilakukan.
Pemanasan tak kalah penting. Lagi- lagi Nadine mengingatkan diri- sendiri.
” Nneng geulis, lumpat deui?”. Si bibi pemilik warung dengan sapaannya yang lucu dan menyenangkan.
” Sumuhun Bi. Mangga”.
Tanah licin mengawali trek lari trelnya. Sisa- sisa hujan semalam cukup membuat Nadine melangkah lebih hati- hati lagi.
Baru beberapa puluh ayunan kaki dingin pagi sudah tak terasa lagi. Sebaliknya, keringat mulai menetes dari dahi dan sekujur badannya.
Agak terengah juga diawal- awal. Tapi sudah selalu semakin baik dari sebelum- sebelumnya.
Trek lari ditengah kehijauan hutan pinus selalu menyenangkan. Tak pernah membuat bosan. Sepertinya setiap langkah adalah hal yang selalu baru. Berapa kalipun diulang.
Mata yang selalu harus awas melihat kemana kaki melangkah. Pijakan mana yang dipilih. Pada saat yang sama harus juga awas akan batangan atau dahan pohon yang melintang tepat seketinggian kepala.
Lebih- lebih lagi diturunan. Beberapa langkah berikutnya harus sudah diperhitungkan.
Satu kali terpleset dipijakan pertama kerap diikuti oleh terpeleset dipijakan berikutnya.
Apalagi dibebatuan yang licin.
Beruntung jika hanya goresan kecil pendek dikaki.
2km sudah. Seperti yang dia lihat di jam lari bergpsnya. Berarti 3km lagi sampai puncak.
Trek semakin menanjak. Semakin membuatnya terengah- engah.
Sesekali Nadine minum dari botol airnya.
Tak mesti banyak sekaligus.
Nadine lebih memilih beberapa teguk setiap lima- belas menit. Tak banyak. Sekedar tak dehydrasi.
Sedikit berlebih minum air menyebabkan bengkak dikaki.
Hutan pinus sudah lama terlewati.
Sudah mulai vegetasi khas punggungan gunung berkawah.
Bau belerangpun sudah mulai tercium.

Ketukan dipintu kamarnya menghentikan tulis-menulisnya.
“Itcha, sudah bangun sayang?”
“Ya Mama”.
“Mau Mama mandikan sekarang?”
“Sebentar lagi Mama”.
Itcha menghela nafas.
Termenung. Memandangi kedua kakinya yang kecil karena memang lama tak bisa digerakan.
Demam tinggi di usia balita adalah penyebab kelumpuhannya.
Seperti setiap pagi di hari- hari sebelumnya, adalah saat- saat menyenangkan baginya untuk menulis.
Menulis, kegiatan sejak beberapa tahun lalu. Sejak sebelumnya mengikuti dunia lari- berlari dikotanya.
Berlari belakangan memang sedang menjadi
trend. Tak hanya di ibukota. Juga di kota- kota lain.
Lomba lari sudah hampir setiap bulan diadakan.
Dan tentang lari- berlarilah kebanyakan tulisan- tulisannya.
Itcha kembali ke Note 8nya. Sedikit melanjutkan tulisannya.
Membayangkan, bagaimana indah dan menyenangkannya, berlari dikesejukan hutan pinus. Saat jutaan yang lain masih tertidur lelap.
Dunia seakan hanya miliknya sendiri.
Berbagai inspirasi menari lincah dalam benaknya. Seperti yang tak berkesudahan.
Pada saat yang sama mata yang harus awas mengawasi setiap pijakan kakinya.

Beberapa tahun belakangan Itcha tak lagi bersedih dengan keadaannya.
Itcha percaya, semua hal di dunia tentu ada maksudnya. Begitu juga dengan kelumpuhannya.
Jika kebahagian bagi yang lain adalah harta yang banyak, kesehatan jasmani, putra- putri yang sehat menggemaskan dan lain sebagainya.
Kebahagian bagi dirinya adalah menerima dan bisa berdamai dengan kelumpuhannya. Menerima ketidak- mampuannya untuk berlari.
Seperti yang pernah menjadi impiannya, sekali dalam seumur- hidup mengikuti lomba lari 10 k.
Kebahagian baginya yang lain adalah mendapatkan cara untuk mengingatkan siapapun untuk tak menyia- nyiakan kesempatan yang ada.
Dengan menulis.
” Saat berlari menjadi impian yang tak pernah terwujud bagi orang- orang seperti aku, jangan sampai terjadi bagi orang- orang yang lebih beruntung”.
Tak berolah- tubuh padahal ingin, tapi tak kesampaian karena hambatan adalah kewajaran.
Tak berolah- tubuh karena kemalasan padahal bisa dan di mungkinkan adalah kebodohan.

Standard
adventure, event, inspiration, motivation, olahraga, running, sport, story, trail running

Berlari Trel Membelah Pulau Jawa

image

Jauh dan ajrut2an.Perjalanan panjang yg mengesalkan dan melelahkan. Hanya untuk sampai penginapan. Berlanjut esok hari nya ke titik start. Treknya sendiri adalah berjalan dan berlari nyeker sepanjang puluhan km. Melalui aspal panas, tanah dan rumputan becek penuh duri dan ranting tajam. Sungai sedalam pinggang tanpa jembatan. Jikapun ada adalah berpijakan hanya bbrpa batang bambu yg sebagian sudah lapuk. Dengan pegangan yg sulit dari jangkauan.
Tentu saja pada akhirnya adalah pantai selatan yg indah memukau. Dengan deburan ombaknya yg tinggi dan membahana.
Menyempurnakan pengalaman ngetrel, membelah pulau jawa, yang indah yang pada akhirnya luar- biasa menyenangkan dan tak terlupakan.
Tapi, Jejak2 badak yg kami temukan menyadarkan kami akan perjuangan teman2 relawan di konservasi badak Ujungkulon.
Ribuan hari yg mereka dedikasikan untuk  Ujungkulon dan badaknya. Dikenal di dunia sebagai World Heritage Site.
Aksi2 kami menjadi seperti tidak ada apa2nya dibanding apa yang sudah sekian lama mereka lakukan. Dan berlanjut sampai saat ini.
Apa2 yg kami lakukan, yg entah kapan lagi dilakukan, adalah keseharian mereka. Dengan segala keterbatasan. Keterbatasan sarana. Keterbatasan dukungan dari pihak penyelenggara negeri ini.
Semangat teman2 Ujungkulon!

Standard
event, inspiration, motivation, mountain running, review, running, sport, story, trail running, ultra running, ultra trail running

CATATAN SEORANG NEWBIE TRAIL RUNNER DI BromoTenggerSemeru100Ultra oleh Ina Budiyarni

InaMaggie001InaMartinTju InaAnwarSurahman001InaDianNdaruPurwanti hak gambar ada pada Maggie Kim Hong Yeo, Martin Tju, Anwar Surahman & Dian Ndaru Purwanti.
Tak pernah terlintas dalam pikiran saya sebelumnya, saya akan menjadi finisher Bts100Ultra 50k dengan waktu 11 jam 12 menit. Di bawah Cut Off Time yang 12 jam.
Senang dan bangga bercampur jadi satu, karena saya bisa melawan ketakutan dalam diri saya.. Takut di hutan sendirian..
Seketika saya buka foto album ‘RUN’ dalam Facebook saya yang berisi foto-foto sebagian lelarian saya di tahun 2013 ini. Tahun 2012 saya baru sanggup lari 5k dan 10k dalam race, itupun seperti keong..
Tahun 2013 saya banyak bertemu dengan orang-orang hebat yang menginspirasi saya dalam lelarian. Juga kompor-kompor yang akhirnya membuat saya melakukan my 1st 21k Half Marathon di awal tahun 2013 dan my 1st 42k Full Marathon di tengah tahun 2013.
Tapi tidak dengan trail run.. Trail run pertama saya adalah 10k Tahura trail run. Setelah itu boro-boro mau ikut trail lagi. Yang ada di otak saya trail itu gear nya ribet dan menghabiskan banyak waktu. Karena harus seharian, dari pagi sampai sore.
Sebagai seorang single mother, yang terfikir adalah, lari di akhir minggu cukup hanya lari dijalan saja. Setelahnya lebih baik menghabiskan waktu dengan anak, yang adalah segalanya bagi saya.
Saya menghitung berapa banyak foto dan mengingat kronologi trail run saya, sebelum akhirnya nekat mengikuti BTS100Ultra 50k. Dan ternyata secara total baru 7x trail run yang saya ikuti sepanjang hidup saya. Untuk selanjutnya ikut BTS Ultra 50 dengan track yang gilaaa..
Di antara padatnya aktifitas saya berkantor, mengurus anak & aktifitas-aktifitas lainnya, di akhir minggu, di minggu-minggu trakhir menjelang race, saya luangkan waktu untuk latihan ngetrel. Dengan jarak puluhan km di Sentul bersama dengan teman-teman yang hebat..
Teman-teman saya yang bukan pelari menanyakan, ” Apa sih yang kamu cari dengan ikut race 50k naik turun gunung?’”.
Mungkin saat itu saya belum tahu pasti dan belum bisa menjawab atas pertanyaan itu. Yang saya tahu hanya, ada keinginan yang kuat sekali untuk turut serta di BTS Ultra 50.
Walaupun saya masih newbie trail runner, saya hanya berfikir jika orang lain bisa, mengapa saya tidak bisa? Jika orang lain berani, mengapa saya tidak berani? Jika juga orang lain nekat, mengapa juga saya tidak nekat?
Sudah banyak tempaan dalam hidup saya sebagai seorang single parent. Dan inilah saatnya tempaan di indahnya alam ciptaan Tuhan. Yang membuat saya merasa sangat kecil di dalamnya..
Dengan mendapat restu dari anak saya, berangkatlah saya menjadi salah satu orang ‘gila’ di BTS Ultra. Dengan bangganya anak saya bercerita ke setiap orang bahwa Bundanya akan berlari 50k naik turun gunung. Bahkan sampai juga bercerita kepada guru ngajinya.
Maka semakin semangatlah saya untuk berusaha sekuat tenaga agar bisa finish sebelum Cut Off Time.
Begitu berbedanya aura di Ranupane saat menjelang start ultra trail, dibandingkan dengan start road race. Walaupun jumlah pesertanya jauh lebih sedikit dibandingkan dengan peserta race jalanan, tapi serunya di start line mengalahkan start race-race saya sebelumnya.
Sebagai newbie trail runner sudah pasti larinya saya adalah alon-alon asal kelakon. Sambil menikmati pemandangan dan foto-foto sana sini yang tidak mungkin saya lewatkan. Berkat camera yang selalu ada dalam genggaman saya sepanjang lari 50k.
Ternyata apa yang tidak saya dapatkan di road race, saya dapatkan disini.. Pemandangan yang spektakuler sepanjang rute, yang buat saya serasa dalam mimpi. Karena selama ini hanya saya lihat di foto, gambar atau kalender.
Danau Ranukumbolo yang begitu mempesona dari jarak jauh dan dekat. Puncak Semeru dari kejauhan. Hamparan pasir berbisik Bromo. Kawah Bromo dan bukit-bukit pasir, yang masih melekat di ingatan saya sampai sekarang..
Capek, sudah pasti.. Ngos-ngosan apalagi.. Tapi indahnya alam membuat saya tidak terlalu merasakan gempornya betis & paha ini.
Tanjakan yang seperti tak berakhir di tanjakan cinta Ranukumbolo ( entah sampai sekarang saya tidak tahu mengapa dinamakan Tanjakan Cinta. jika saja Tanjakan Cinta nya sudah seperti begitu, akan seperti apa ya Tanjakan Putus Cinta nya ?). Ayek-ayek, jalur pipa, bukit pasir Bromo.. Ditambah sepanjang perjalanan, ingatan akan anak saya. Dan bahwa saya tidak mau mengecewakannya..
Serta keinginan akan membuat anak saya bangga mempunyai Bunda seorang Ultramom..
Tanjakan, turunan, dingin, panas, angin, gerimis, pasir, haus, letih, lelah.Semua silih berganti .. Tanjakan-tanjakan sadiis, turunan-turunan cadas, walaupun berat tapi entah mengapa begitu senang saya menjalaninya.. Gerutuan yang tak henti- henti, ” Gilak tanjakannya!”, tapi kaki ini tetap semangat melangkah. Bahkan saat mendapat tanjakan yang tidak lazim, sehingga harus merayap seperti layaknya spiderman. Dan turunan sumur tegak lurus yang membuat banyak peserta perosotan seperti layaknya anak kecil. Teman-teman peserta pun semua tampak seru dengan segala tingkah lakunya.. Walaupun capek tapi semua happy..
Saya baru merasakan ternyata beratnya lari Full Marathon 42km di jalanan tidak ada apa-apanya dibanding ultra trail run di BTS..
Fisik dan mental benar-benar diuji.. Fisik sudah pasti terkuras untuk lari naik turun gunung belasan jam, mental pun diuji berkali-kali ketika ada ojek & kuda lewat.. Beruntung saya tidak tergoda sedikitpun.
Yang membuat saya tergoda justru menjelang km 35. Saat bladder sudah habis, water station jemplang tidak jua tampak, dan jalanan yang walaupun aspal namun adalah tanjakan tiada akhir. Saat sepeda motor penjual ice cream lewat, yang langsung di serbu semua peserta. Ice cream terenak di dunia saat itu, hahaha..
Jam garmin sudah menunjukkan km 40. Yess tinggal 10km lagi, dan di depan mata adalah padang pasir Bromo. Yang sepertinya tidak terlalu sulit untuk mengakhiri race ini di km50.. Tapi ternyataaa.. surpriseeee… Ternyata finishnya di kanan atas sementara kami dibelokan ke kiri ke gundukan pasir naik turun tiada akhir.. Dan.. belum cukup sampai disitu, kami harus naik tangga ke bibir kawah untuk mengambil gelang kuning, kemudian turun lagi. Haha hebat sekali si pembuat rute.. 5 km terakhir yang amat sangat berkesan di hati dan di kaki..
Saya melihat ke garmin saya. Sudah hampir 11 jam saya berlari.. Artinya waktu saya tinggal 1 jam lagi untuk bisa finish di bawah Cut Off Time.. Akhirnya dengan sisa tenaga yang ada, lari lah saya.. Tetapi begitu sampai jalan aspal, hah ternyata lagi-lagi tanjakan. Berarti, jalan lagi. Begitu sampai di atas tanjakan, banyak orang-orang yang bilang ‘tinggal sedikit lagi mbak finish’.. Tanpa basa basi larilah saya dengan perasaan campur- aduk antara senang dan terharu..
Begitu tulisan FINISH tampak didepan saya, rasa harupun kembali tak terelakan. Saya tahan airmata yang hampir menetes. Karena ,” masa macho-macho pelari ultra mewek”.
Begitu saya menginjakkan kaki di finish line, kata ‘Alhamdulillah’ yang tiada habisnya terus terucap di hati saya.. Yeayy saya berhasil menjadi ULTRA RUNNER, finish my 1st Ultra trail 50k dengan waktu 11 jam 12 menit!!
What an amazing race, amazing route, amazing view, amazing people.. Thank you committee for a beautiful race & I will come back next year!!

Standard
inspiration, motivation, mountain running, running, sport, story, trail running, ultra running, ultra trail running

Age is just a number……. by Dewi Satriyani

Age is just a number…….

November 26, 2013 at 3:33pm

Usia itu cuma angka, dan akhirnya yang membedakan tua dan muda itu akhirnya berpulang pada semangat setiap manusianya, dan saya menemukannya pada opa,sahabat,teman dan guru saya yang akrab disapa Aki. Sampai saat saya menulis notes inipun saya bahkan tidak mengetahui nama aslinya.

Belum terlalu lama saya mengenal beliau, tapi banyak pengalaman berharga dan moment berkesan yang sempat saya lewati. Yang saya dengar selama ini beliau adalah orang yang cukup disegani di kalangan pelari, mungkin layak juga kalau disebut trendsetter, tapi lepas dari semua popularitasnya saya sungguh tidak melihat Aki sebagai pelari ataupun selebritis yang untouchable.

Saya bukan pelari mahir, boro-boro mahir, belum 1 KM aja kadang suka udah nyerah, dari kecil juga saya nggak punya mimpi bisa masuk hutan, ikutan trel apalagi mendaki bukit. Jaman kecil, anti sama yang namanya Pramuka, kemah juga sekalipun belum pernah ngrasain. Sampai akhirnya Aki mengajak saya untuk ikutan ngetrail. Belagak gila, tawaran itupun saya terima. Dan benar saja, trail pertama saya ada di barisan terakhir, terpisah tak terlalu jauh, tapi lebih sering berhenti dibanding berlari. Tapi aki sangat telaten mendampingi saya, memegang tangan saya erat ketika menemui medan yang licin dan terjal, ataupun saat menapaki tanjakan dengan jalan setapak yang kalau dilihat kanan kiri udah pingin muntah. Trail paling berkesan saat di Bukit Tunggul, sepertinya cuma sepuluh kilo katanya, tapi elevasinya itu bikin ngilu, terutama buat saya pemula.

Aki tidak pernah menakuti orang yang ingin mencoba trail, meskipun kalau dipikir2 kaya berasa dijorokin sama Aki, karena beliau selalu bilang ini track buat beginner. Begitu sampai venuenya sempet mewek juga.

But on top of that, dari beliau saya belajar mengalahkan rasa takut, terutama takut masuk hutan dan berlari di perbukitan. Saya juga belajar betapa siapapun punya kemungkinan yang sama untuk merasakan nikmatnya nge trail seminim apapun kemampuan kita untuk berlari dan berapapun usia Anda.

Semangat Aki luar biasa, terutama untuk memasyarakatkan trail. Dia orang gila yang menurut saya suka nekad dalam artian positif. Mungkin sedikit banyak bisa dibilang risk taker sejati. Aki mengubah apa yang dirasa tidak mungkin menjadi potensi luar biasa.

dan saya masih menunggu beliau mewujudkan mimpi mengencani 57 gunung sebelum pertambahan usianya nanti. Siapapun pasti akan bangga untuk mendampingi beliau menyelesaikan ekspedisinya.

Dirgahayu Opa, semoga kamu tidak pernah lelah menjadi inspirasi untuk kita semua.

Sehat dan panjang umur selalu.

Standard
adventure, cerita, kisah, mountain running, olahraga, running, sport, story, trail running, tulisan, ultra running, ultra trail running

Teman- teman Saya Yang Hebat

26 November.
Lapar dan haus teramat- sangat. Tak ada lagi yg bisa dimakan & diminum. Jikapun ada pastinya seketika itu juga keluar lagi. Maaf, dimuntahkan.
Asam lambung sudah kadung naik.
Lemas tak tersisa tenaga sedikitpun.
Duduk letih dan  lemah.bersandar dipohon yg tak lagi bisa menahan curah hujan. Sendiri.
Di ketinggian Plawangan, Tempat pendaki bermalam sebelum muncak Rinjani.
Beberapa saat tadi baru turun dari muncak Rinjani. Belasan menit setelah Kang Hendra. Dan lebih lama lagi setelah Kang Rudy.
Kang Rudy tak tahu lagi entah dimana.
Kang Hendra katanya antara Plawangan dan Segara Anak.
Pasrah. Tak ada lagi yg bisa diperbuat.
Belokan turun ke Segara Anak tak juga ditemukan. Sudah belasan kali dicoba,
Sampai, ya sampai tak kuat lagi melangkah.
Dering telpon Kang Hendra ada sekali2.
Pastinya karena signal yang kadang ada kadang tidak. Menanyakan apakah belokannya sudah ditemukan.
Setelah sekian kali dijawab belum, akhirnya jawaban saya terakhir adalah sudah.
Hanya agar Kang Hendra tak lagi mengkhawatirkan saya, dan, sungguh menjawab telponpun sudah tak kuat.
Selang beberapa puluh menit masuk sms/ bbm teman2 mengucapkan selamat ulang- tahun.
Satu, dua, beberapa sekaligus. Belas, dan ya ampun, seperti tersadarkan, bahwa saya punya banyak teman. Banyak sekali.
Tak saya sadari, saya menitikan airmata.
Setelahnya adalah isakan.
Isakan bahagia, karena entah bagaimana mulainya tiba2 saya merasa tidak sendiri lagi.
Tiba2 tersadar bahwa sepertinya ada banyak teman2 yg menunggu seperti apapun kisah2 lari2 gunung saya. Jika ya begitu maka tak boleh diri ini menyerah.
Tiba2 saja saya mempunyai kekuatan lagi.
Kekuatan yg saya yakin cukup untuk bangun, dan memulai pencarian belokan ke Segara Anak.
Ternyata belokan yang dicari hanyalah belasan meter arah utara dari tempat saya semula tadi.
Selanjutnya beberapa jam kami bertiga sudah berkumpul di Segara Anak. Selamat, tanpa kurang suatu apa. Alhamdullillah.
Dua tahun kemudian, beberapa hari kemarin teman2 saya bukan lagi sekedar berlari gunung, tapi berlomba berlari di gunung.
Artinya ada batas waktu yang harus mereka perhitungkan.
Dengan jarak 50km, 102km dan 165km.
Dengan berbagai tingkat pengalaman dan kemampuan.
Dari yang pemula sekali. Sampai yang sudah beberapa kali penamat lomba2 lari trel ultra dimanapun.
Padahal kisah saya diatas hanyalah 30an km saja.
Saya yakin, tantangan, hambatan dan perjuangan mereka pastinya lebih lagi dari saya.
Biaya, waktu, persiapan, cuaca, medan yang sulit dan berbahaya. Tidur yang kurang. Makan dan minum yang mungkin berbeda dengan biasanya.
Tapi begitu besar niat dan keinginan mereka untuk turut di hajatan ini.
Bersukur acaranya selesai dengan, semoga saya tidak salah, berhasil dan selamat.
Teman2, kalian sungguh luar- biasa. Tamat atau tidak tamat kalian telah membuat sejarah.
Langkah menuju Indonesia sebagai salah- satu tujuan hajatan lari trel ultra dunia sudah dimulai.
Tak bisa lagi dihalangi.
Dengan kenyataan bahwa kita mempunyai ratusan gunung, pebukitan dan medan trel dimana- mana, bukan hal yg mustahil berikutnya adalah menjadikan tanah-air sebagai kiblat lari trel ultra maupun non ultra dunia.
Saya yakin dan percaya sekali.
Terimakasih teman- teman, kalian dan apa yang baru saja kalian lakukan merupakan hadiah termanis dan terindah diulang- tahun saya..
Tak terlupakan juga doa dan dukungan dari teman2 yang lain.

Salam,

Standard
adventure, event, mountain running, review, running, sport, story, trail running, ultra running, ultra trail running

I Did It! Bromo Tengger Semeru 100 Ultra 2013 by Maggie Kim hong Yeo

Maggie001 Maggie002 Maggie003 Maggie004 Maggie005 Maggie006It was meant to be. I was to run the 50 km after tossing and turning about whether I should run longer or not. Afterall, I have just completed a full marathon on the week before on 17 November 2013.Arrived at Surabaya 2 days earlier was great. Coz I for the first time a long time felt I am on holiday. And this trip is my birthday holiday. Met up with Chris Paul Kawinda who kindly checked me into a local hotel coz I arrived real late in the nite. Unfortunately, I had a fall and hurted my left knee after I had a shower on the slippery floor…The next day, we went off to Fitri Ismiyanti place where I stayed the nite at this wonderfully happy spirited lady, a very motiviated and enthusiatic runner. We had such wonderful time laughing eating and even went to meet up with some Indo Runners that evening.So the next morning off we went to Bromo in 2 MPVs and we arrive Lava View Hotel (this is the startline of 100km and 165 km events). Such a lovely view indeed as the hotel name said. Weather was great, cool and calm.Got my racepack, took heaps of photos and met so many other runners.

At 4 am, we were transported to Ranepane, where the startline of 50 km event.

At 5 am sharp, the race begin, and by then the sun has broken into this beautiful mountain. I decided to take off my headlight and put on my cap instead.

After running for about 5 km, my Garmin watch decided to die on me coz I must have accidentally press on the start button while it was in my luggage. Lesson learn, next time I must wear it on my wrist while on the way to race event. Also, I forgot to bring along the charger.

Anyhow I felt great with or without my garmin watch, coz my motive for this event is to graduate into being not just an ultra runner, but to be a real mountain trail ultra runner, so time is no essence…

Shortly after my garmin watch died, I managed to push myself through to lead the ladies pack.

From then on, I was happily running, power walking, through the forest, through the mountain slopes, indeed I was happy, so many has cheered me on. It was unbelievable how many called on to my name. I dont think I can remember all of them. Yet these callings brings such joy to me.

One of the runners, Stefan Knudsen from Denmark decided to tag along and we were happily moving on passing a great number of runners. Along the way, I am unable to remember all names, if you remember, please tag yourself here.

From Ranupane 2100 m down and up to Ranu Kombolo 2400 m W3 station where I decided not to refill anything. Just kept on going to Kalimati 2700 m and had my first drink up of my Fitliine Performance sachet and very quickly making my way to Ranu Kumbolo W4 station. Had a another quick drink of the Fitline Performance sachet and again quickly left the station of W3. These are all beautiful sub tropical not quite tropical, coz the weather is pretty cool, cant tell you the temperature unfortunately, but very comfortable feel and not sweating. Love the view and trees the climb.

Shortly after I arrive at km 25, I came to a junction with 3 ribbons, this was where I got lost. Both me and Stefan decided to turn left and after plodding for a while, we notice there was no more ribbons. Aaagh, we stopped, hesitated and decided to u-turn to get back to the original ribbon. By this time the sun was getting rather fierce.

We ran back unfortunate, we notice the ribbon did tell us to run to the left! And off we got back to the left again and ran all the way to the next junction and this was where we met Rizal Hakeem, we had a chat and told him we have already done this turn and if we run it again, we will be doing our second time on this loop. Nevertheless, there was no other choice but to do the loop one more time.

Then we got to the same junction again and then we turn right instead and then came to the ribbon where we had to go down the very steep hill… yes, here we had lotsa fun… I tried to run down with much difficulties. Finally after less than 5 minutes, I decided to sit on my butt and just let nature take its course… I slide down all the way while the rest of the runners were watching unbelievably at what I was doing. I bet they all did the same after that!!

So I managed to turn something rather dangerouss into something rather fun!! Reminded me of the times when I was liviing In New Zealand when in the summer we often take our flatten cardboxes and go down Mt Victoria at Devonport at the North Shore of Auckland with my kids.

By then I was of course actually hurrying coz I have lost a good 30 minutes too, thats why I decided to slide down… I had to catch up with lost time. Some of the runners have mentioned to me there were quite a few female runners who had passed. So my lead has vanished, alas..

Suddenly from the heat and the weakness, I had 2 energy bars and got back to being strong again. It is amazing to note here, when ones heart decided to get strong, the brain will just follow…

My journey at BTS, became stronger and stronger again….

At some stage here, Stefan who has been faithfully following right behind me deided that he had no more water in the Platypus and get left behind.

I on the other hand had started the next incline to Jempalang. Oh dear, what can I say, this never ending climb took forever.. km 30 just about towards km 35 are the hardest. Because in a marathon, km 35 we start to hit the wall. But I refused to let this never ending incline to give me the negative feeling. I took my Fitline Performance sachet again and kept on going.

Trust me, there were so many Ojek, motorbikers that shouted to to ask if I wanna a lift.. Haha, I have a running bib. No thanks. Along the way, also passed many other runners. So I know I was doing really well in this incline being able to pass others.

So passed W5A station 2400m. And then the down started, I rushed through these broken cement slabs, passing Hui Mathews and her husband along the way, I just ran as I did when I did the Bromo Marathon.. the feeling was great.

Then suddenly, the facade was to change…

The sand start to appear! Wow, the scenery was amazing, beautiful, but the soft sand will be yet another challenge. The savannah look and waves of the sand.. just unbeatable!

I ran along passing yet another lady runner and then I caught up with Handy Trisakti and told him I will try to tag along with him, coz I saw how he walked at an amazing pace. I shall try to keep as close to him as possible.

Coz here, I am starting to feel the lethargic of my legs. After some major running downhill. I was surprised by my own want of my heart. Indeed, I managed to keep up with him.

Shortly after, another set of beautifully made sand dunes started to show. Wow! That was in my mind. This is where I started to eat my Korma, dried dates and sip my drinks.

Beautiful and how am I going to conquer these never ending sand dunes, with the sand storms blowing very often. At some stage Handy had sand in his mouth!!! Full of them, he was complaining, by then I had my glasses on. But I decided I did not need the buff as I was too lazy to take it out from my bag and it will slow me down as well. But the glasses was really good, coz it protected my eyes…

Both of us kept going up and down and up and down those dunes. Soft as they were, beautiful as they were, if u are not careful, you will step wrongly and will roll down these tiny hills and then climbing up again will be a great bother!!

Finally we managed to catch up with another 2 more runners and we were in a pack of 4. We just kept on going and I and Handy managed to take over and got to the next station where I decided to take off my shoes unload the sand (not wearing the gaiter from the start was a great mistake, I should have but I did not). So finally, refill my drinks and had a cafeine gel coz I ran out of my Fitline Performance sachet.

As we started to move I saw Jane Djuarahadi, from the top yelling down as she moved off to complete her run. Both me and Handy went up the steps and down again. Hurrying down, and shortly after that I saw the girl in her hijap again, running infront of me. I was like, hmm where did she come from. I didnt see her passing me at all…

Nevertheless, she was just ahead of me by not much. Then we came to another incline. This is the final incline before we reach Lava View Hotel where the finish line is.

The finish was at 2240m..
The finish was exhilarating…
The finish was an accomplishment to me..
The finish graduated me into a true Mountain Trail Ultra runner…

Something I have been dreaming of since I DNF at Mt MOUNT RINJANI ULTRA!!

I did it! I did my 50 km in 10 hours 8 minutes…

Standard
adventure, event, inspiration, motivation, mountain running, sport, story, trail running

Mt. Salak Trail Run. Yuk Ngetrel, Go Trail, Go Outdoor

gotrail

     

Mengapa lari trel?
Seperti juga lari di lintasan, dijalan, atau di gym, tentunya banyak manfaat yang didapat. Rasanya tidak usah lagi saya sebut.
Plus…ya betul. Suasana, udara dan pemandangan yg berbeda dari hari2 yang biasa kita dapat.
Ngetrel bisa dilakukan siapapun. Kapanpun. Sejauh waktu, kesempatan dan cuaca memang memungkinkan.
Jika tidak ya usahakan untuk dimungkinkan. Ya kan?

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Ngetrel bukan juga hanya milik pelari trel elit. Seorang yang baru mulaipun sudah layak menyandang gelar pelari trel.

Sejauh bukan landasan keras, rata buatan, ya trel namanya. Bisa dipematang sawah, jalan setapak antar kampung. Atau kerindangan kebun tetangga dengan kontur naik- turunnya.

Apalagi tentu saja dikehijauan pebukitan, pegunungan. Bahkan pantai.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Bersukur sudah banyak yang mulai lari ngetrel di tanah- air.

Bahkan salah- satu teman komunitas lari lintas alam POLA86 di bandung sudah mulai sejak 1986. Setiap rabu sore. Sampai saat ini. Hebat ya?

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Acara lomba lari trelpun sudah beberapa kali diadakan.

Kedepan ini ada Bromo TenggerSemeru 100 Ultra dengan 3 kategori, 50k, 102k dan 165k.

Tahura trail race 17k  juga sudah didepan mata. Yang digagas teman2 Indonesia Biking Adventure.

Universal Trail Race, MesaStila Ultra, MesaStila Challenge dan banyak lagi. Dan tentunya Mt. Rinjani Ultra.

Bukan hal yg utopis jika tanah- air menjadi kiblat lari trel/ lari trel ultra dunia.

Semuanya tersedia. Mau trek, bukit, gunung yang seperti apa. Semua ada.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Beberapa teman2 lari trel kemarin- kemarin ini berlari trel di gunung Salak.

Salah- satu trek menarik. Juga buat pemula.

Jarak yang relatif pendek, trek yang juga aman tapi luar- biasa heboh.

Trek mulai dari Pasir Reungit sampai Kawah Ratu yang tidak begitu menanjak. Yang kurang- lebih hanya 5-6km.

Seperti biasa, hijau vegetasi khas lereng gunung.

Dengan sungai kecil disamping trek. Memotong dibeberapa tempat.

Dan Kawah Ratu yang memukau.

Kita bisa berlari diatas area kawah. Ada sungai lebar dengan airnya yang jernih. Luar- biasa.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Yuk, kami- kami sudah mulai. Anda kapan?
Sederhana koq, dengan mantra “berjalan saat menanjak, berlari saat menurun” siapapun bisa mulai, menambah jarak dan kecepatan sedikit demi sedikit.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Awal2 ratus meter, bukan hal mustahil dalam hitungan kurang dari setahun Anda sudah bisa lakukan lari trel ultra.

YukNgetrel, GoTrail, GoOutdoor

Salam,

Standard

Eigers 2nd Test W120

adventure, mountain running, running, sport, story, trail running, ultra running, ultra trail running

The Interview

My answers to one of many interviews i’ve had.

Mengapa lari (dan bukan sepeda, nge gym, triathlon)?

Running has always been one of my dream.
It’s a pretty cool sport, where you have only your own body to depend on. with no extra help, unlike biking, swimming in a pool or any other certain physical activities.
You can pretty much do it anywhere, anytime. By yourself or with anyone else.
The reason i only got to do it now is solely because of that i was worried i wouldn’t’ve been able to do it.
I was born with asthma and bronchytis.
It was so overwhelming that at the tender age of 3 months, they claimed i was helpless.

Kapan mulai lari, dan sejak saat itu apa beda yang anda rasakan (dari segala sisi kehidupan, feel free to answer from any, or all, aspect)?

I actually tried running on 2000. I happened to see a couple of people did it on the tennis field (which i happen to not do anymore for 6 years).
It only lasted for a year ( a slow jog for 20 laps everyday). It was probably due to exhaustion (both tennis and my lack of dietery knowledge) tha i got hep. A.
I stayed in the hospital for 11 days.
It wan’t until 2010 that i got myself to do it again.
I made sure to consult on my health to a doctor this time.
I felt okay before. Normal. But after i did it a couple of times, i found myself to be in a way better condition than i’ve been before.
I rarely cough, nor have any asthma episode, i could even drink iced water.
It only gotten better after i started trail running for a couple of months.
Then even though i’m not exactly one of those gym bunnies, i can at least claim that i have a pretty good physique.
I fell in love with running. Mountain running. Especially when i’m by myself, like having a true me-time.
I get to be with my thoughts when i run. And at the same time i could think of planning of my next steps in life ahead of time.
This goes along really well with my job as a house planner, where i get strokes of ideas when i run.
I even sometimes think to myself “why didn’t i thought of that before?”.

I was perfectly happy before, but thankfully gotten even way happier after running.
Like for instance, i stopped and think how awesome it is to marvel at the wondrous nature and surrounding at a short period amount of time.
Instant mountain hopping, one day climbing. I went on the morning and got home by the evening.
Pretty cool, with little to no fuzz, like any hiking normally would be.

How many ultra runs (di atas 42.2km) and what’s the longest run, you’ve participated in, and can you share what went through your mind for such a long journey, and were there any point in which it was particularly challenging?

I do a lot of ultra runs by myself.
It started from my love and running and the realization that i’m not exactly young anymore. At the age of 54, i’m not able to do any routine training (as much as i probably should have), probably not a good thing to follow either.
I do ultra runs to accelerate. Meaning after 3 months of running, i did approximately 50-70k of long runs. By the 5th month, i’ve done about 80-100 k.
I remember during Bintaro- Bogor- Bintaro, i have the urge to meet with Kang Hendra Wijaya.
I had to do it twice, cause he couldn’t make it at first (97k).
Bintaro- Muara Angke- Bintaro, 66km.
– Bintaro-  Tangerang- Karawaci- BSD.95km.
– Sukabumi- Ujunggenteng, 126km,
-Pangalengan- Rancabuaya, 88km,
-The North Face Singapore trail race, 50km( 2nd trail run race).
-Kamojang, Jawa- Barat Trail Race. 25 +18km(2 etappe). Yes it’s only local, but i feel like i should include it.
This means the most to me, cause it’s my very 1st race. And i got 2nd place, of only 5 runners.Haha..
1st place (by 15 minutes at the 1st ettape, 25 k) was a 40 year old former athlete.
The 3rd place was a runner who’s started running longer than i had, also in his 40’s, presumably also a former athlete.
The track was unbelievable. There’s one that was about 1 km across a 50 cm deep river with a pretty rough stream, while the surrounding trees are so low that forced us to run while slightly bending over every now and then.
I have to thank Muara Sianturi, who also participated. Not for deciding to not join the ettape the next day, but for convincing me to join the race at all.
And i’m pretty sure he let me won 2nd place, which he could totally have won if he wanted to.
He was one of my mentors, along with Jerry Karundeng and a few others.

– Went on a power trail to 3 mountains, Salak, Gede, Pangrango, 65k with Kang Hendra Wijaya, Rudy Ansyah, Djawa, and some few others.
– Coast2Coast ( BromoTenggerSemeru). Running from the North coast of Java to the South coast of Java, through Bromo, Ranupane, Ranukumbolo. 134k
– Bandung- Cianjur- Bandung, 99k. At the Run & Roses event with Hendra Wijaya, Bugi. I picked Bugi up who ran from Bogor to Bandung, to give roses for his girlfriend who lives in Bandung.
– Bandung Karawang, 92k at the Allianz event.
– Kawahputih- Cidaun- Sindangbarang- Agrabinta, 159k with Hendra Wijaya & Rudy Ansyah.

– Bandung- Tasikmalaya, 99k.

How many long distance event have you participated in, and which one is most memorable, and why?

The North Face Singapore was the only long run event i’ve ever participated in.
But the most memorable one was probably the Kinabalu Climbathlon that wasn’t a long trail race.
With a name that majestic, it’s also notorious as the toughest mountain trail run event in the world.
Of course everyone was more than eager to conquer it. Especially for me, who is more than thankful for being able to partake at this age.
And i finished it at a normal pace. The COT was 3hrs 30 mins to the top (the veteran group).
During a couple of km left to the top (forgot when exactly), i found a couple of racers to be overwhelmed by it. Like they were starving and thirsty. Some were helping others by bringing them food and drinks till everyone managed to get back on their feet.
I was caught off guard for a while realizing how little my experience i had was.
So instead of continuing the race, i just stopped and overthink everything that could go wrong. Like what if that happened to me?
I didn’t realize how long i was stopping. After dusting myself off i continued the race.
At 3850 mdpl (The Kinabalu top is 4052 mdpl) i arrived at just the time limit (COT) of 3 hours 30 mins.
Which means i’m DNF.
But for some reason i feel no regrets whatsoever. Eventhough i longed to win it at first.
I felt like i was more than content.
Sure i didn’t get the medal i could show off to people. But the validation that i could finish the race was enough for me.
I didn’t participate in any race eversince.

After the last Kinabalu event i mostly do local trail run events, and i decided to just do so. Which turned out to be more challenging for me, a lot more fun and more beautiful.
I also feel the responsibility to re-introduce my country to people outside.

What is your biggest running achievement (does’t have to be race related)?

I think every experience was a great achievement for me.

How do you keep yourself motivated, to continue running?

Sport is an invesment to our health for now and in the future. And to me running is the best.
I think of running as the lowest form of a high health insurance. Not only that, t also make me feel good, and happier.
Sounds exaggerating but that’s how i feel.

What would be your most important advise, to beginner runners?

It’s so simple to just start with very much benefits. If you ever have any doubts of starting something, be my guest. But if it’s running,
Just run, once it is done, the rest is addiction.

What is your running goal, race wise? What is your running goal, in general?

My goal is to take tiny steps but faster and further everytime. Hopefully by the end of 2014 i could join the triathlon.

Who’s your favorite runner, and why?

My favorite runners are the new ones wo just started but already have high spirits. They’re the ones who motivate me to do more.
Because no matter how simple running is, getting started is the hardest part.

Describe your favorite shoe (bisa imajinasi, bisa yg sudah ada di pasaran)?

Barefoot shoes or anything with thin soles. laceless for practicallity. As for dangerous terrains such as cliffs, steep steps i go with Salomon S-Lab… and.. err Eiger for sure 🙂 . For average category i choose Teva and New Balance.

Standard

Eiger, The Real Adventure GearOLYMPUS DIGITAL CAMERA OLYMPUS DIGITAL CAMERA OLYMPUS DIGITAL CAMERA OLYMPUS DIGITAL CAMERA OLYMPUS DIGITAL CAMERAOLYMPUS DIGITAL CAMERA OLYMPUS DIGITAL CAMERA OLYMPUS DIGITAL CAMERA OLYMPUS DIGITAL CAMERA OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Just Me And My Eiger

review, running, sport, story, trail running, ultra running, ultra trail running

Eiger, The Real Adventure Gear

Image
adventure, mountain running, photo shoot, review, running, sport, trail running, ultra running, ultra trail running

There are lots of tracks around the world you name it. BromoTenggerSemeru100Ultra is one of the prettiest

bts50kDistancebts50course  Bts50Elevationbts100ultraOLYMPUS DIGITAL CAMERA OLYMPUS DIGITAL CAMERA OLYMPUS DIGITAL CAMERA OLYMPUS DIGITAL CAMERA OLYMPUS DIGITAL CAMERAcourtesy of Nefo Ginting bts100ultra001 bts100ultra002 bts100ultra003 bts100ultra004

EAST JAVA – INDONESIA – The Mount Bromo Tengger Semeru Ultra Run race is a unique event that aims to challenge your inner spirit and physical state, as well as to provide race participants with magnificent natural beauty and environment of Bromo Tengger Semeru National Park in East Java – Indonesia at various altitude level.

Running at the high altitude region of Bromo Tengger Semeru National Park, you will experience tracks filled with various scenery, such as sea of volcanic sand (2.200 masl) with low temperature and strong wind. Then you will be running through rural back roads, forest path and prairie with a distant magnificent view of the highest mountain in Java, Mount Semeru (3.676 masl) and the tranquility of Lake Ranu Kumbolo (2.400 masl).

At last, this Bromo Tengger Semeru Ultra Run race will challenged you through 3 different distances, 160 km, 100 km and 50 km, in comfortable weather conditions and a very scenic route.

There are three race categories within the Bromo Tengger Semeru 100 Ultra with total distance of 160Km, 100Km, and 50Km

RACE ORGANIZER

Bromo Tengger Semeru 100 Ultra Committee (Trail Runner Indonesia Community (a Non-Profit Organization))

BACKED BY

Bromo Tengger Semeru National Park (TNBTS) Ministry of Indonesian Tourism Agency, Goverment of Malang Regency, Government of Probolinggo Regency, Government of Lumajang Regency, Government of Pasuruan Regency, Trail Runners Indonesia (TRI), FORAKSI, Young Pioneer (YEPE) Malang, MAPALA Tursina Malang

RACE DATES

Friday, November 22, 2013

Bromo-Tengger-Semeru100 Ultra
DATE Friday, November 22, 2013. Starts at 03:00 pm
DISTANCE 160K
CUMULATIVE ALTITUDE GAIN
TIME LIMIT 46 hours
START / FINISH
Bromo-Tengger-Semeru100 Ultra
DATE Friday, November 22, 2013. Starts at 03:00 pm
DISTANCE 100K
CUMULATIVE ALTITUDE GAIN
TIME LIMIT 32 hours
START/FINISH
Bromo-Tengger-Semeru100 Ultra
DATE Saturday, November 23, 2013. Starts at 05:00 am
DISTANCE 50K
CUMULATIVE ALTITUDE GAIN
TIME LIMIT 12 hours
START/FINISH

CONDITIONS TO PARTICIPATE IN THIS RACE

  1. You understand the unique nature and requirements of competing in an ultra-long distance trail running race. You will be running in the dark of early morning and all day through mountainous terrain and have undertaken the necessary training to compete in such a race.
  2. You will be responsible for yourself and have the ability to deal with any problems that may be encountered during the race.
  3. You are able to deal with, on your own without assistance, deteriorating weather conditions (low temperatures, strong winds, and rain) and other troubles expected when traveling across mountainous terrain.
  4. You are able to deal with extreme fatigue, internal organ and digestive problems, muscle pain, mild physical injuries and psychological problems on your own.
  5. You fully understand that you are responsible for overcoming the above conditions 1 to 4 on your own and that it is not the responsibility of the race organization.
  6. You are fully aware that when participating in an outdoor activity such as this race, your safety depends on your own skills and abilities.
  7. Video/television footage, photos, articles, race results, etc. may be used and/or shown in newspapers, television, magazines, internet, pamphlets, etc. You understand and agree that these rights belong to the race organization and may be used for these purposes.

If during the 2013 race, you do not meet the above race conditions, your entry to the 2014 race may be declined

QUALIFIER

For participant who will enter 160K should had experience at least once in 100K ultra trail race and proof the event name, time record and send by email to BTS100Ultra@yahoo.com

RACE ENTRY FEES

160Km
FOREIGNER US$ 150 / runner
INDONESIAN US$ 100 / runner or IDR 1000000 / runner
100Km
FOREIGNER US$ 125 / runner
INDONESIAN US$ 75 / runner or IDR 750000 / runner
50Km
FOREIGNER US$ 75 / runner
INDONESIAN US$ 50 / runner or IDR 500000 / runner

Registration for Bromo Tengger Semeru 100 Ultra (BTS 100 Ultra) will due on OCTOBER 31st 2013. The Race Organizer WILL NOT accept any more participant after the due date.

*The Entry Fee is not refundable

There are lots of tracks around the world you name it. Bromo Tengger Semeru 100 Ultra is one of the prettiest.

From start to finish we’ll be treated with some marvelous  view.

Dirt track, rocks and sands of bromo are just waiting to be explored.

50k, 100k or 160k the choice is yours.

http://www.bromotenggersemeru100ultra.com

Standard
running, sport, story, trail running, ultra running, ultra trail running

Thing About Breathing

ThingAboutBreathingI have a hard time trying to practice several theories on breathing. Not that i’m unconvinced or anything, because they’re mostly based on experiences. Maybe cause i have asthma & bronchitis, i found them hard to do. Whichever theory i tried, i only end up doing the normal or the basic way. The faster or better my running goes, the need for oxygen income is getting more important, therefore i need to adapt to the pace.Eventually i do a lot more breathing through the mouth. And that’s what i normally do to this point.My point is our breathing mechanism will adapt to its need eventually.As time goes by, we will find our own way

Standard