berbagi, fit, healthy, tulisan

Usia 60an..

Apa ya, yg mungkin diharapkan atau tak diharapkan terjadi di usia 60an?

Yang tak sekedar kacamata baca, kerut- kerut dan keriput? Atau aroma balsam/ obat gosok yang tercium lebih kuat dari parfum?😊.

Kulit yang semakin rapuh.

Tanda2 penuaan yg semakin banyak.

Kemampuan daya ingat menurun. Reflek melambat. Metabolisme pun sama.

Penuaan, apalagi jika tak dibarengi dengan gaya hidup aktif, mengarah diantaranya  ke keluhan sendi- sendi, otot yang melemah dan banyak lagi lainnya.

Melawan penuaan? Jelas bukan dan tak mungkin.

Memperlambatnya? Rasanya ya.

Jikapun menua paling tidak dengan gaya😊.

Menjaga pola dan gaya hidup aktif serta sehat bisa jadi jawabannya.

Berat badan ideal yang terjaga atau paling tidak  mendekati ideal.

Terlatih dengan strengt training dan angkat beban membuat tulang- tulang kuat dan padat. Ototpun terlihat.

Semua membuat penyakit- penyakitpun tak tergesa mendekat. Syukur- syukur tak pernah menjadi sahabat.
Banyak kita lihat, di usia bahkan jauh diatas 60an penamat lari marathon dengan waktu yang fantastis. Penamat triathlonpun tak kurang- kurang.
Tak mesti seperti yang saya sebut diatas, walaupun jika mau kita bisa.

Sekedar 2- 3km lari 4-5 kali seminggu. 

Dengan pace yang diusahakan baik, bersepeda atau renang, sesering yang kita bisa, sadar maximal detak jantung sendiri( Max. Heart Rate) menjaga detak jantung terendahnya ( Resting Heart Rate)serendah mungkin, dan sekali- sekali memacu detak jantung ke mendekati maksimalnya, rasa- rasanya bisa membuat semburan darah sang jantung tua ini tak jauh- jauh amat dengan jantung- jantung muda😊

Salam..

Standard
bacaan, review, tulisan

Hotel Malaka Bandung

malakavalkenet

Hak gambar ada pada Sudarsono

 

Jalan Malabar, Halimun, Wayang dan sekitarnya adalah area bermain saya. Bandung tempo akhir 60an.

Cuaca pagi yang masih berembun. Dan pullover pun selalunya menjadi kelengkapan setiap pagi harinya.

Siapa sangka hampir 50 tahun kemudian saya berkesempatan masuk eh bahkan menginap dibangunan yang dahulunya adalah  fabrik roti dan kue Valkenet.  Salah- satu fabrik roti dan kue di kota Bandung, selain Merbaboe, Maison Bogerijen, Maison Vogelpoel, Lux Vincet, dan lain- lain. Didirikan oleh orang Belanda.  Ada juga yang didirikan oleh orang-orang Tionghoa seperti Jap Tek Ho, Khoe Pek Goan, Tan Kim Liang, dan lain- lain.

 

Bangunan fabrik roti dan kue yang dahulunya punya kisah,”Siapapun yang melewatinya dan bisa mencium wangi roti/ kuenya boleh mendapatkannya cuma- cuma”, kini adalah Hotel Malaka.
Bangunan minimalis, di desain oleh arsitek senior kenamaan Tan Tjiang Ay.

Continue reading

Standard
tulisan

Saya, Anak- Anak dan Rumah

 

” Kang Aki berasa sering sekali pergi- pergi untuk gowes dan lari- larinya, apa ga….( pasti sudah tahu kelanjutannya kaaaaan? )…..
 
Bagi sang tetangga adalah corat- coret anak nakal yang tak pernah ‘diajari’ orang- tuanya, bagi anak saya,siapa tau adalah karya maestronya🙂…..
 
Berada di saat, di waktu- waktu mereka kecil, main, sekolah dan masa pertumbuhan, bukanlah hal yang bisa diulang. Saat- saat sekali seumur hidup….
 
———————————————————————————
 
Panas siang- hari yang menghentak yang biasanya tak menjadi penghalang untuk tetap gowes atau lari, kali ini membuat saya agak ‘membiarkan’ untuk ‘mengalah’.
 
Secangkir kopi panas diruang kantor ber ac seorang teman kali ini sudah pasti adalah nikmat lain yang saya dapati.
 
Waktu minum kopi saya atau tepatnya susu dengan sedikit perasa kopi adalah pagi setelah sarapan pertama saya jam enam dirumah dan setelah makan sore jam tiga saya. Dimanapun. Walau juga tak mesti.
 
Sekali- sekali eh rasanya belakangan sering- kali, kopi siang haripun tak lagi saya tolak.
Katanya kopi bagus untuk pengidap asma.
 
Dan..obrolan santai yang semula tak saya niatkan untuk mengganggu pekerjaannya pun mengalir menjadi ealah ternyata agak- agak serius juga.
 
Obrolan bertema lari dan gowes( apalagi atuh ah ), dari soal aktifitas saya ajak- ajak siapapun untuk gowes dan lari ke , ” Kang, ngomong- ngomong, anak- anak ikut lari ngga?”, ” Kang Aki berasa sering sekali pergi- pergi untuk gowes dan lari- larinya, apa ga….( pasti sudah tahu kelanjutannya kaaaaan? )..terusss sampai,” Iya ni Kang, rasanya bukan saya saja yang penasaran, tapi sudah ‘viral’ kenapa Kang Aki ga pernah cerita, posting tentang anak- anak atau semua ‘orang rumah’”🙂
 
Masa siii? Iya ya..
 
Dan jawaban demi jawaban sayapun mengalir.
 
Pertama sekali.. ya betul, saya harus akui saya bukan Ayah dan suami ideal. Jauh dari itu.
 
Cinta, perhatian dan kasih- sayang atas orang rumah? Ya iyalah, Kadarnya? Relatif.
Entah saya yang mana tapi yang pasti tak masuk dalam kelompok Ayah atau suami super apa- apanya.
 
Jangan- jangan malah masuk kelompok dibawah rata- rata🙂
 
Anak- anak kan buah- hati. Selalu yang ‘ter’ bagi siapapun ayahnya.
Termasuk anak- anak saya.
 
Siapa bilang saya tak suka dengan ide berbagi apapun baik- baiknya , lucu- lucunya, keren- kerennya anak- anak kita?
 
Yang biasa- biasa saja dimata orang lain, selalunya lucu- lucu, keren- keren dimata kita. Apalagi jika ya memang yang beneran keren- kerennya. Semisal nilai- nilai bagus di sekolah, saat anak- anak sudah pintar baca tulis dan mengaji atau rajin ke rumah ibadah, masih muda sudah pintar cari uang. Dan banyak lagi. Ya kan?
Tak terkecuali saya.
 
Mereka seringkali menjadi hal yang indah- indah dan menyenangkan.
 
Sekali- sekali membuat jengkel dan mengesalkan🙂
 
Bagi saya, tak terkecuali anak- anak saya, rasanya tak sedikit yang ingin saya ‘pamerkan’.
Jangankan yang keren- keren, yang hebat- hebat seperti yang saya tulis diatas, yang sedikit- sedikit bagus saja atau bahkan bagi orang lain ‘tak lucu’, bagi saya , anak- anak selalu lucu. Apalagi anak- anak sendiri.
 
Rasanya saya pernah tulis ini entah kapan.
Saat anak kedua saya di usia belum sekolah membakar kasur di gudang kecil rumah tetangga sebelah karena jengkel ditegur sang tuan rumah tetangga,karena katanya corat- coret dinding pembatas antar rumah kita disisi rumahnya, bagi saya maaf, memang salah, dan sudah pasti saya kaget dan saya tegur dia. Tapi juga bagi saya adalah bahwa anak saya sudah bisa bersikap.
Bagi sang tetangga adalah corat- coret anak nakal yang tak pernah ‘diajari’ orang- tuanya, bagi anak saya,siapa tau adalah karya maestronya🙂.
Sampai- sampai satu anak saya ini mendapat julukan teroris.
Diantaranya ‘menteror’ Ibu- Ibu pengajian dirumah tetangga yang sandal- sandalnya satu-satu dibuang sang anak keselokan saat mereka khusuk mengaji. Astagfirullah, anaknya Pak Herry.
 
Dan masih ada lbanyak lagi cerita- cerita lain.
 
Jika saya tak banyak menulis tentang mereka, saya kira saya sedang belajar ‘menghargai’ privasi mereka.
Kisah- kisah mereka yang pastinya selalu indah bagi saya jangan- jangan adalah kisah- kisah yang bagi mereka ‘biar buat Ayah Ibu aja’.
 
Bersyukur tak kurang- kurang postingan- postingan indah, keren- keren tentang anak- anak, putra- putri yang dilakukan teman- teman atau siapapun yang lain.
 
Saya merasakan hal yang sama dan saya turut kagum dan bangga akan semua anak- anak kita.
Jadi rasanya tak salah jika saya cukupi saja dari melihat postingan- postingan orang- tua orang tua yang lain 🙂
 
Dalam mencari periuk nasi orang serumah, beruntung bagi saya, barangkali tidak bagi yang lain, tak mengharuskan saya ‘ngantor’ dengan waktu yang mengikat.
Waktu saya agak lebih bebas.
 
Sekali lagi saya bukanlah Ayah dan Suami ideal. Jauh dari itu.
Siapa tahu tak sedikit hal yang luput dari perhatian saya akan mereka karena ‘sibuk- sibuk’ saya.
Hanya barangkali cara saya agak berbeda.
 
 
Saya bisa berhari- hari tak ditengah- tengah mereka. Tapi begitupun juga, bisa berhari- hari berturut- turut ada bersama mereka.
Satu minggu tak melihat anak istri, di minggu berikutnya bisa jadi hanya berdua istri spontan saat pergi sekedar beli cemilan,” Yah, ke Cirebon yuk”. Dan tanpa tapi tanpa ‘gimana kalo gitu gimana kalo gini’ ajakan ke Cirebon menjadi jalan- jalan kuliner sampai Yogya. Anak- anak? ” Sok ajalah Yah, Bu. Masih inget kan nomor rekening kita?🙂 .
 
Dan petatah- petitih petuah kami hanya, ” Tolong liat- liat kalo ujan”, ” Pergi- perginya ati- ati, gantian ya, biar ada orang dirumah”. Yang tak selalu juga mereka turuti.
 
Saya, Ayah yang masih saja Ayah yang belum bisa ‘membahagiakan’ anak- anak dan istri dengan rumah dan mobil seorang satu, kirim mereka sekolah diluar negeri, intan- berlian di jari, leher dan lengan sang istri, yang kata orang sunda, reunceum, berjejer rapat padat dari pergelangan kesiku.
 
Tapi memang bukan juga cita- cita saya.
 
Saya, hanya Ayah yang menjadi orang pertama yang melihat mereka saat ketiganya hadir kedunia, selain dokter dan suster yang membantu kelahiran mereka.
 
Saya, yang walau tak selalu dengan muka berseri penuh senyum 🙂 , selain pastinya lebih banyak istri saya, juga buat susu mereka, ganti popok mereka, gendong mereka, antar jemput sekolah mereka, kenal dengan guru- guru mereka, aktif di sekolah mereka.
 
Sampai mereka kuliahpun saya masih sering beurusan dengan kampus mereka.
 
Bukan tak percaya anak- anak atau tak ingin mengajari anak- anak mandiri, tapi ada hal yang tak ingin saya tertinggal.
 
Berada di saat, di waktu- waktu mereka kecil, main, sekolah dan masa pertumbuhan, bukanlah hal yang bisa diulang. Saat- saat sekali seumur hidup.
 
Tiga puluh tujuh tahun kumpul kami adalah tiga puluh tujuh tahun tanpa pembantu.
Ngepel dan sapu- sapu bagi saya bukanlah tabu.
 
Tak selalu, tapi seringkalinya malah seru.
 
Saya tahu benda apapun dirumah dan tempatnya dimana.
Saya tak mesti teriak- teriak ke siapapun dirumah menanyakan apa dimana.
 
Saya tak pernah menganggap anak istri adalah remote control saya.
Siapkan sarapan dan sekedar buat kopi dan banyak hal lain lagi saya bisa dan seringkalinya lakukan sendiri.
 
Walau tak selalu berujung pada keberhasilan( ya da ga gampang atuh…) inisiatif saya atau permintaan sang istri, perbaikan apapun dirumah selalu saya coba lakukan sendiri.
Tahukan kisah naik- naik genting saya? Beneran lho, bukan hoax🙂
 
Pergi- pergi saya, lari- lari dan gowes- gowes saya bisa jadi sekali- sekali membuat kesal anak- anak dan istri.
 
Tapi mestinya tak dipungkiri, salah- satu keinginan anak- anak bahwa ” Ayah mah jangan tua- tua ya, Segini-gini aja” rasanya sudah terpenuhi.
 
Mandi pagi, dandan rapi dan sapu2 ngepel sekali- sekali sebelum bangunnya anak- istri, baru pergi lanjut gowes dan lari , rasa- rasanya si oke sekali🙂.
 
Tetap fit dan sehat( Alhamdullillah) sambil juga jaga berat badan dan penampilan adalah bentuk penghargaan saya kepada seisi rumah.
 
Salam dan selamat pagi🙂

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Standard
tulisan

Selamat Ulang- Tahun Kamu

Tak sulit mencari ungkapan terbaik di satu hari ulang- tahunmu.
karena semua ada pada apapun yg kamu lakukan setiap waktu.

Tiada hari tanpa senyum yg menenangkan dan menyenangkan  bagi siapapun yg kamu jumpai.

Tak seharipun terlewat tanpa perhatian atas sekitarmu dan dirimu sendiri.

Hari demi hari adalah hari hari  curahan kasih- sayangmu kepada orang- orang terdekatmu, bahkan bagi siapapun juga yang datang dan pergi.

Selamat Ulang- Tahun Kamu.
Tetaplah menjadi dirimu dan biarkan seisi dunia mengikuti.

Bamdung, 13 desember 2016

 

Standard
cerita, tulisan

NYARIS SAJA.

Hujan lebat, selalunya mengingatkan saya akan suatu peristiwa naas yang menimpa salah satu penghuni rumah sebelah.

beberapa tahun lalu.

Sejak siang sampai adzan magrib berkumandang, hujan tak juga berhenti. Sebelumnya malah dengan angin kencang.

Saat melihat air diparit samping rumah, parit buangan kedepan, yang ‘luber’, saya segera ke depan. Pastimya tersumbat di salah- satu penggalan selokan depan rumah. Entah dimana. Karena sejak rumah paling timur sampai rumah kami( tiga rumah) selokannya terbuka. Setelahnya kearah barat nyaris tertutup.

Betul saja, air sudah penuh hampir rata dengan permukaan jalan.

Masuk kembali,keluar saya sudah siap dengan linggis, dorong apapun yang mungkin menyumbat.

Tiba2″ Om!! Jangan Om!. Ada kabel listrik yang jatuh ke selokan!”.

Walau agak temaram magrib, Saya mengenalinya sebagai salah- satu dari tiga atau empat Akang2 pemelihara taman rumah sebelah.

Rumah persis sebelah timur saya. Yang taman depan dan belakang rumahnya paling cantik sekomplek.

Seketika saya berhenti. Melihat keatas. Ya ada kabel yang jauh ke selokan. Tapi terlihat bukan dari tiang listrik, melainkan dari tiang telpon.

Artinya bukan kabel listrik tapi kabel telpon yg setahu saya tak beraliran listrik.

setelah yakin dengan apa yang saya lihat, alih- alih mau ‘sodok’ cari- cari yang menyumbat melalui salah satu bak kontrolnya, saya malah mau ‘pindahkan’ sang kabel yang menjuntai dan jatuh ke selokan dengan linggis saya.

“Om!!!!, Stop Om!!. Ini ada yg mati disini kena strom!!!”

Seketika saya lepas linggisnya.

Astagfirulloh.

Hujan dan angin kecang mendorong tiang listrik hingga kabel terputus.

Ujung satu entah dimana, ujung satunya lagi adalah yg jatuh persis diantara rumah kami.

Tak sengaja terpegang oleh salah- satu Akang pemelihara taman tadi, terlihat oleh dua lainnya, untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak, walau sudah dengan usaha keras dua temannya, Akang ini meninggal seketika. Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi Rojiun.

Kejadiannya berselang hanya tiga puluhan menit sebelum saya nyaris ‘bersentuhan’ dengan sang kabel maut.

Sang kabel maut yang saya kira kabel telpon, yang ternyata adalah kabel listrik yang terputus, jatuh dulu kekabel- kabel telpon, kemudian ke selokan.

Semoga almarhum diampuni segala dosa dan kesalahannya dan diterima disisi Alloh SWT. Aamiin YRA.

Standard
event, Jalan- jalan, tulisan

CIHAPIT TAK LAGI ‘SEMPIT’

screenshot_2016-10-19-14-21-39-1

Apa yang ada dalam ingatan mendengar Cihapit?
Nama Pasar? Nama Jalan? Pasar loak jalanan?
Bagi saya, tahun 69an, usia sekolah kelas 6 SD adalah juga tempat saya menjual pakaian bekas saya yang sudah kekecilan untuk kemudian dipakai membayar sewa naik kuda di jalan Ganesha ITB.
Tempat saya setahun sekali membeli tas sekolah, usia sekolah smp sma  disalah satu toko sisi luar pasar Cihapit.
Salah- satu toko kota bandung yang barang- barangnya bagi saya selalu terbaru pada jamannya.
Surga kuliner puluhan tahun, dari nasi rames Ma Eha, yang konon seorang Bondan Winarno saja sampai tiga kali gagal mencicipinya karena selalu kehabisan.
“Kurang pagi datangnya Kang..” 😀
Lotek cihapit, gorengan cihapit, sampai awug. Penganan khas Jawa barat, berbahan tepung beras, gula merah, garam dan parutan kelapa dengan cara dikukus.

screenshot_2016-10-19-14-25-48-1

Surga pencinta buku- buku lama,cassette atau piringan hitam lagu- lagu lama musisi- musisi bandung, nusantara dan mancanegara era non digital. Anda generasinya Dara Puspita, Zainal Combo? Siapa tahu beruntung.

Car audio mahal di toko asesoris mobil? Datang ke jalan Cihapit. Tukar- tambahpun dengan senang- hati 🙂

screenshot_2016-10-19-14-27-11-1

Mundur lagi jauh kebelakang, Cihapit adalah lingkungan hunian yang dibangun belanda dengan konsep lingkungan sehat. Komplek perumahan lengkap dengan pasar, pertokoan,taman dan ruang terbuka.

Tak heran jika 1920 Cihapit mendapat predikat Contoh Lingkungan Pemukiman Sehat kota Bandung. Dihuni oleh golongan menengah pribumi dan belanda.

Jaman kelampun dialami Cihapit.

screenshot_2016-10-19-14-29-03-1

1942 – 1946, masa pendudukan Jepang, komplek perumahan Cihapit dijadikan interniran.

Kamp konsentrasi tawanan wanita dan anak- anak  pribumi dan belanda.

screenshot_2016-10-19-14-28-02-1

Cihapit sekarang Alhamdullillah masih surga kuliner, buku- buku, lama, cassette lagu- lagu baheula dan barang- kelontong lainnya.

Dan Toko TIDAR jalan Sabang  yang legendarispun masih ada.

Berdiri 1960, yang semula hanya menjual buku dan stationery, 1970 mengkhususkan ke kelengkapan Seni dan desain.

screenshot_2016-10-19-14-25-02-1

Cihapit, pasar Cihapit kini, giat berbenah menuju  Pasar Rakyat yang ramah lingkungan, bersih, ‘nyaman’ dan humanis di kota Bandung.

screenshot_2016-10-19-14-22-36-1

Saya melihat kesungguhan pengelola dan masyarakat pedagangnya berusaha kearah sana.

Sedikit ornamen ditambah disana- sini. Tak gemerlap tapi tak juga gelap.

Berlantai keramik tak lagi pengunjung harus berbecek- becek.

screenshot_2016-10-19-14-24-11-2

Pasar rakyat tak lagi sekedar tujuan belanja asal murah. Pasar rakyat yang bisa kembali menjadi pasar tempat berinteraksi. Tak sekedar tempat belanja, tapi talkshow dan pagelaran musikpun siapa takut?

Penasaran? Yuk ameng ka Pasar Cihapit 🙂

“nyaman’? Ohya, saya masih berharap semua hal baik- baiknya akan ditambah dengan “bebas asap rokok” dan parkiran sepeda 🙂

Sumber: https://komunitasaleut.com/2012/03/01/cihapit-surga-dan-masa-yang-kelam-bandung/

http://www.thejakartapost.com/news/2010/07/25/tidar-a-onestop-art-and-design-shopping-destination.html

Standard
tulisan

Menulis Lagi

 

Entah kapan terakhir menulis disini.

Ternyata ingin saja tak cukup. Terlintas sering. Mulai? Nanti lagi nanti lagi 🙂

Beberapa hari terakhir saya banyak menggambar beberapa macam/ jenis sepeda. Rancangan sendiri ataupun mengambil contoh dari merk/ jenis yang sudah ada.

Kota kami sedang menggalakkan bersepeda. Bercita- cita menjadi kota yang ramah pesepeda. Semoga bukan sekedar angan- angan, kota sepeda.

Kemacetan kota sudah tak lagi ramah.

Kendaraan yang sudah jauh melampaui daya tampung jalan. Transportasi umum yang jauh dari aman dan nyaman.

Diperburuk lagi oleh prilaku berlalu- lintas kebanyakan masyarakat yang jauh dari baik.

Sejak hampir dua tahun saya bersepeda. Sebagai sarana transportasi hari- hari saya. Nyaris tak terputus. Sekali- sekali berangkot dan damri. Hampir tak pernah bermobil atau motor.

 

Tiba- tiba saja terfikir pada Brompton.

Dikenal cantik ciamik dan… ya, tentunya mahal.

 

 

 

 

 

 

Standard
tulisan

mp3cutter

Video musik yang banyak ada di Youtube yang suka kita buat kopinya dalam bentuk file audio ( vid2mp3) seringkali ada bagian muka dan belakang bahkan diantaranya yang tak diinginkan.

Satu dari sekian apps yang bisa dipakai adalah mp3cutter.

Peruntukannya sendiri untuk membuat ringtone. Yang kita comot sebagian dari sepanjang file audio.

Beruntung bisa juga digunakan untuk maksud diawal diatas.

Jadi, ya, saya gunakan untuk menghilangkan  bagian depan dan belakang dari satu file audio.Di kasus saya adalah dialog/ iklan diawal dan kekosongan suara dawal dan atau diakhir.

– Install mp3cutter di PlayStore.

– Buka applikasi.

– Pilih file( audio) yang akan ditrim.

– Geser2 slider tempatkan di posisi dimana file kita mulai dan berakhir.

– Tekan tombol download dikanan bawah.

– Selesai.

Kerenkan?

Standard
tulisan

Sehat tak mesti mahal. Sakit iya :)

image

Ilustrasinya barangkali seperti ini.
Saat sakit, produktifitas terhenti. Ditambah lagi obat2an yg tak pernah murah harus dibeli.
Apalagi lagi jika harus rawat- inap berhari- hari.
Dan…itu- ini itu- ini,  panjanglah kesananya pasti.
Sementara untuk sehat tak sulit dicari.
Asupan dan olah- tubuh sesering kali.
Asupan? Pastinya kita tahu, mana yg baik mana yg seharusnya dihindari.
Olah- tubuh? Bisa sekedar jalan, renang, latihan di gym, atau lari 🙂 #larilagilarilagi
Masih mau ditambah tampil lebih kece lagi?
Aplikasi2 gratisan semacam rittr lab( push ups, sit ups, pull ups, squats) bisa amat sangat membantu sekali( android & iphone)
Tak ubahnya Personal Trainer yg telaten, selalu tampil ramah, on time, tak berbayar,  daaaan minus kekhawatiran dapat yg  genit2 lagi :mrgreen:
Yuk ah semangat untuk tetap sehat dan tampil keceh berseri 🙂
http://www.rittr.com/

Standard
kisah, story, tulisan

The Power of Kerokan Or Karma

Kerokan

Pijat, apalagi kerokan, gigi emas, jatuh terjengkang atau apapun yang tampak konyol adalah sebagian dari beberapa hal yang bisa menjauhkan saya dari minat saya kepada perempuan yang sedang saya dekati 😉

Dulu.

Sekarang, artis, selebriti dunia banyak bergigi emas.

Awal 1970an, usia- usia sma, saya, seperti juga kebanyakan usia- usia kami dijamannya adalah penyuka bermotor cepat. Ngebut.

HondaS901973-2

Tak peduli motor kami hanya honda S90 keluaran 1969( memang ditahun- tahun yang sama, berkapasitas mesin 90cc( ya iyalah), siapapun didepan, ratusan cc sekalipun, pantang berhenti sebelum terkejar.

Bagaimanapun caranya.

Minus saat makan dan tidur atau berkumpul, waktu- waktu kami adalah diatas sadel motor.

Tak berhelm, tak berjacket. Jangan sebut lagi pelindung lutut dan siku tangan. Helm hanya kami kenal di poster- poster iklan motor atau poster- poster lomba motor dunia.

Poster- poster cantik yang biasanya terpasang di toko- toko onderdil motor.

Bermotor tak hanya dikota, sekali sekali  keluar kota.

Tetap tanpa helm dan jacket. Tetap tolol.

Suatu saat, dalam perjalanan Cirebon Semarang.

Dalam kota Pekalongan.

Berdua berboncengan dengan salah- satu sahabat bermotor saya.

motor kami mendekati motor yang    ditumpangi dua remaja perempuan.

Saat akhirnya beriringan, sapaan, obrolan, senyuman dan saat senyuman dengan tampak sederetan gigi, salah- satu bergigi emas, kami pun pamit 😉

Itu tadi gigi emas.

Kerokan sering saya lihat di perkampungan, yang penduduknya terbiasa bertelanjang dada. Tampak tak hanya dipunggung pria, pada ibu- ibu tuapun kerap saya jumpai. ibu- ibu tua yang maaf hanya ber beha. Memang biasa seperti itu.

Dikota pun sama. Hanya karena dikota lebih banyak berpakaian, jadi tak tampak.

Garis- garis merah menyamping dari tengah kearah kedua sisi. Terkadang sampai menghitam disekujur punggung. Tak indah sama sekali.

Begitu juga dengan pijat, massage. Seperti mengada- ada.

Pijat pertama saya.

Tak diniatkan tak direncanakan. Badan serasa remuk setelah berkendaraan dari Bandung ke Solo.

Bibi, sang tuan rumah, sepertinya sudah biasa, menawarkan jasa pijat Si Mbok, tetangganya, kepada siapapun tamu dekatnya yang datang dari jauh.

” Coba dulu, jangan bilang ga suka ga suka”. Begitu katanya.

Tak ingin mengecewakan dan menyinggung keramah-tamahan sang  Shohibul Bait, kamipun mengiyakan. Saya dan nyonya.

Beruntung sang nyonya lebih avonturir dibanding saya.
Jadi dia terlebih dahulu.

Saya tinggal tunggu hasilnya 😉

 

Selang lebih dari satu jam saya lihat sang nyonya seperti yang baru bangun tidur.

Rupanya memang tertidur.

” Enak lho, ga kerasa. Tau- tau ngantuk. Bangun- bangun rasanya koq enteng-enteng deh badan”.

” Seperti yang disirep”, demikian dia tambahkan.

Dan berikutnya, apa yang terjadi pada sang nyonya saya alami juga.

Si Mbok hampir tak bersuara sedikitpun, kecuali menyuruh saya telungkup.

setelahnya adalah baluran campuran minyak kelapa dan entah apalagi lainnya.

Pijatan- pijatan lembut di awal telapak kaki, ke betis, paha, punggung dan pijatan- pijatan yang semakin kuat berikutnya.

Tahu- tahu saya tertidur.

Tak terasa sakit apalagi geli.

Sirep? Wallahu Alam.

Anggapan saya terhadap pijat harus dirubah rupanya.

Setelahnya, seperti diduga, bukan alasan tak enak badan, tapi agar badan lebih terasa enak, pijat yang dicari 😉

Walau sampai sekarang belum lagi bertemu dengan pijatan se juara Si Mbok.

Dari beberapa tempat pijat, salah- satu yang saya sukai adalah pijat tuna- netra.

Menurut saya mereka lebih bisa memijat. Tak asalan.
Dan yang lebih saya sukai lagi adalah, karena saya bisa berekspresi semau saya, saat menahan sakit atau geli tanpa, maaf, terlihat mereka.

Saya kira.

Hal yang tak saya sukai adalah, lagi- lagi maaf, usaha bersikap ramah dan sopan mereka.

Begitu berbaring, mereka langsung mulai dengan berbagai pertanyaan.

Seringkah datang, dimana tinggal, sudah berkeluarga ,dan banyak lagi.
Diperparah lagi dengan sahutan kebanyakan tamunya.
Alih- alih mau dipijat sambil rest yang ada adalah suasana seperti diruang tamu. Ramai.

Seringnya saya siasati dengan, ” Maaf ya Pak atau Bu, saya mau sambil tiduran”.

Suatu kali jawaban seorang Ibu pemijat adalah.” Lah katanya Bapak mau sambil tidur, koq smsan?”

“?????”

Jadi, jangan- jangan selama ini mereka bisa tahu ekspresi saya saat menahan sakit dan geli, tanpa harus bisa melihat.

Tinggal di Bandung, kami sering mengunjungi atau dikunjungi keluarga dekat.

Rupanya hal diatas berkaitan dengan semakin seringnya pijat memijat  dan kerokan. Dan sang nyonyapun sudah semakin bertambah jam terbangnya. Bukan me- tapi di- pijatnya 😉

Batuk, flu, agak sesak dan demam yang biasanya datang sendiri- sendiri, suatu ketika datang bersamaan.

Setelah berbagai obat dirasa tak mempan, akhirnya saya merelakan punggung err mulus saya dikerok. Setelah sebelumnya dipijat sang nyonya.

Ohya, masih jauh dari pijatan juaranya Si Mbok, tapi lumayan ;-).

Maaf ya Bu 😉

Kerokannya? Entah kebetulan entah tidak, atau karena sebab dan faktor lain, menyembuhkan. Alhamdullillah.

Saya tak perlu repot- repot dahulu mencari pembuktian medis atau membaca jurnal kedokteran untuk hal- hal seperti ini.

Sejauh bukan hal yang terlalu aneh, berisiko atau terlalu tak masuk akal.

Seperti juga kolang- kaling atau cangkaleng, banyak disebut belakangan oleh teman- teman sesama pelari sebagai yang dianjurkan untuk keluhan pada lutut dan persendian.

Tak mengiyakan, tak juga menolak mengakuinya.
Bersyukur sekali jika ya. Jika tidak, paling tidak enak rasanya. Dan sudah sejak lama saya konsumsi. Berawal dari sajian pembuka puasa. Selanjutnya sering tersaji dimeja makan.

Pembuktian medis suatu ketika bisa jadi terpatahkan/ terbantahkan dengan pembuktian medis yang lebih baru. Demikian seterusnya.

Jadi… jangan anggap enteng The Power of Kerokan 😉

Karma?

Oh ada satu lagi yang harus saya tambahkan.

Mengingat begitu tak sukanya saya melihat orang berpunggung kerokan.

Tak indah dan norak.

Suatu hari, saya memulai lari- lari pagi saya.

Seperti biasa dengan short dan singlet lari saya.

Kali ini dengan lebih banyak semangat lagi, karena akan ada  yang menemani saya berlari.

Entah saya yang kepagian atau sudah tertinggal, karena tak seorang pun tampak.

Tiba- tiba ada yang menepuk bahu saya. Dan sapaannya adalah. ” Abis kerokan ya…”

Hastagah, sudah pasti ada yang terlupakan.

Saya amat sangat berharap, detik itu juga saya ditelan bumi..

Bandung, 8 Desember 2015. Menjelang magrib

#whereareyou?

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Standard
berbagi, fit, healthy, running, sehat, sport, trail running, tulisan, ultra running, ultra trail running

I’m Saving My Life

image

Satu tahun kemudian lari2 setiap hari masih sebagai therapi asma saya.
Artinya jika dijalankan Alhamdullillah asma tak menyapa.
Asthma controller pun bisa dikesampingkan.
Sebaliknya, jika tak dilakukan rutin, seperti yg saya coba belakangan ini, dgn niat agar tak terlalu bergantung pada lari- berlari, Alhamdullillah ketemu lagi:)
Dan asthma controllerpun ambil alih kendali.
Tak ketinggalan sang inhaler urun rembug untuk setiap serangan yg ‘berhasil’ lolos dari sang asthma controller.
Serangan yang lumayan menguras tenaga. Serangan yang meluluh- lantakan pertahanan diri.
Saluran nafas yg menyempit, menyesakkan dada, amat sangat dekat pada  cekikan yang mematikan.
Seringkali membuat saya heran dan takjub; anak- anak pengidap asma. Bagaimana usia- usia kanak- kanak mengatasinya, jika se usia ‘dewasa’ saya saja sudah dibuat repot.
Sedikit berbeda , dan harus saya syukuri, jika tak dikatakan ‘kemajuan’ adalah, sekarang saya bisa kurangi porsi larinya ke separuhnya. Jadi dari yang selalunya 10k, menjadi 5k setiap hari. Alhamdullillah.
Artinya saya tak terlalu tergantung sekali dgn angka 10k.
Tak berarti saya tak suka banyak- banyak lari.
Sebaliknya malah.
Saya sukaaa sekali lari. Saya jatuh cinta kepada lari.
Lari, olah tubuh, aktifitas luar ruang, yg, pada dasarnya mengandalkan hanya badan/ tubuh kita saja.
Keren.
Lari.
Saat saat saya merasa ‘peduli’ dengan jiwa dan raga saya. Saat saat saya pribadi. Me time.
Saat saat saya menemukan ilham, ide, inspirasi. Hal- hal yang mencerahkan.
Saya rindu akan lari- lari jauh saya. Sendiri atau bersama yang lain.
Belasan k, half atau bahkan fullmarathon.
Apalagi lari- lari ultra.
Spontan lari keluar kota. Lari- lari muncak gunung. Atau membelah pulau, dari pantai diujung yang satu, ke pantai diujung seberangnya.
Jadi saya beruntung sekali. Jika memang lari adalah therapi asma saya, maka dengan amat sangat senang sekali saya lakukannya.
Rupanya ada hal lain yang harus saya pelajari.
Belajar untuk tetap terhindar dari kambuhnya asma tanpa terlalu bergantung kepada lari- berlari.
Jadi jika pun toh saya lakukan lari- berlari saya, memang karena menjaga sehat dan suka saya.
Bukan karena hanya menghindari kambuhnya asma.
Semoga saya dimudahkan untuk mencoba tetap bisa berlari, sampai tak mungkin lagi.
Aamiin.
Salam:)

Standard
cerita, kisah, story, tulisan

SEPENGGAL KISAH MASA KECIL SAYA

Dunia saya adalah main, main dan main disana – sini.
Dunia saya tak pernah sepi.
Kemanapun pergi, selalu ada siapa- siapa dikanan dan dikiri.

Berkelahi? Selalunya saya hindari. Tapi jika mesti, walau awalnya ragu akhirnya pasti saya hadapi.

SEPENGGAL KISAH MASA KECIL SAYA.

Sejak usia belum sekolah saya sudah suka sekali berteman. Terutama dengan perempuan:).
Tunggu dulu.
Bukan berarti genit atau keperempuan- perempuanan.
Bagi saya mereka tampil tak kasar, tak temperamen. Tak suka berkelahi.
Walau kenyataannya, tak jarang kebalikannya.
Saat tinggal dirumah petak di Batujajar Jakarta dulu, saat pemukiman dibelakang Grand Indonesia masih kampung, lebih sering mendengar si Tante sebelah rumah yang mencak- mencak entah karena apa daripada si Om suaminya.
Lebih sering terlihat si Mbok penjual sayur keliling ngomel- ngomel dibanding Bapak- Bapak tukang becak yng suka mangkal di gang keluar kampung kami.
Saat smp saya malah punya ‘bodyguard’ perempuan.
Siapapun yang ganggu saya, laki- laki pastinya, harus berhadapan dengannya.
Dan selalunya, segagah apapun laki- lakinya ciut dihadapannya.
Ohya, sang ‘ bodyguard’ ini hanya satu dari sedemikian banyak teman- teman perempuan yang suka dengan saya. Stop! Bukan saya maksud saya yang ter ini ter itu, tapi karena mereka menganggap saya.. apa ya, lucu barangkali. Perawakan saya mungil jika tak dikatakan lebih pendek dari kebanyakan se usia saya.
Jadi tampil imut.
Mereka tak sungkan peluk- peluk saya.
Ya itu tadi, barangkali saya dianggap boneka hidup.
Saya? Antara suka dan tak suka. Suka, karena ya dipeluk- peluk itu tadi. Perawakan boleh imut, mungil. Hati kan hati se dewasa mereka:). Tak suka, karena, ya bagaimana saya bisa jadikan salah- satu dari mereka pacar saya? Semua menganggap saya tak lebih dari teman ‘kecil’ yang menyenangkan.
Beruntung, porsi keinginan bermain saya tak kalah besar dengan porsi keinginan punya pacar:).

Jadi, pada akhirmya tetap saja saya lebih suka bersahabat dengan mereka.
Sahabat- sahabat saya sejak kecil sampai usia sma selalunya lebih banyak perempuan.
Bahkan Ibunya anak- anak adalah satu dari dua mantan sahabat saya sma 🙂
Walau tak banyak, beberapa adalah sahabat laki- laki.
Yang pasti teman- teman bermain usia sd saya banyak sekali.
Dari ujung komplek di utara sampai selatan.
Teman- teman main perang- perangan, pedang, bola. Sampai sekali- sekali mancing di sungai dikampung seberang.
Untuk yang terakhir saya lebih sebagai penonton.
Saya tak beruntung dengan urusan mancing- memancing.
Teman- teman sudah belasan ikan didapat, saya tak satupun.
Setali tiga uang dengan urusan adu layangan. Layang- layang mereka bisa berlama- lama lenggak- lenggok di udara sambil putuskan layang- layang lawan, saya selalunya menjadi disisi yang tak pernah lama. Begitu naik ssst putus. Layangan saya. Bukan lawan.
Tapi jika urusan mencari dan banyak  teman, entah laki- laki atau perempuan, rasa- rasanya saya lebih jagoan:).
Rentang usia teman- teman saya dua- tiga tahun kebawah dan keatas. Artinya, saat usia kelas tiga smp misalnya, mereka adalah di usia kelas satu smp sampai yang baru kuliah.
Dunia saya adalah main, main dan main disana- sini.
Dunia saya tak pernah sepi.
Kemanapun pergi, selalu ada siapa- siapa dikanan dan dikiri.
Seperti yang saya pernah ceritakan, Mmak dan Bapak tak pernah keberatan dengan hal ini.
Yang penting setelah solat dan ngaji.
Ditambah lagi saya tak bermasalah dengan urusan sekolah.
Masuk sekolah siang, pulang sekolah saat sore, langsung saya selesaikan semua pe er- pe er sekolah.
Sering kali malah saya selesaikan lebih dari yang semestinya.
Kadang empat sampai lima halaman lebihnya.
Setelahnya selalunya saya mandi, pakai hemd lengan pendek bermotif kotak- kotak, kebanyakannya, terkancing sampai keleher, saya siap pergi main. Tak pernah terlewat, bersepatu:).
Berkelahi? Selalunya saya hindari. Tapi jika mesti, walau awalnya ragu akhirnya pasti saya hadapi.
Pernah suatu kali, seorang teman, mungkin sebab iri- hati akan entah hal apa, berulang- ulang mengganggu saya. Apapun dilakukan untuk memancing emosi saya.
Bagian yang paling menyebalkannya bukan gangguannya, tapi bahwa dia berperawakan jauh lebih besar dari saya dan.. selalunya dia lakukan dihadapan banyak teman- teman yang lain.
Serba salah. Dibiarkan, tak nyaman juga, karena jadi bahan olok- olok yang lain. Dilawan? Tampang dan perawakannya saja sudah mengintimidasi.
Akhirnya, keputusan harus dilakukan. Saya hampiri dia, setengah berbisik saya katakan,” yuk, ga usah koar- koar, mari kita berdua kelapang”.
Dengan perhitungan dan harapan, pertama, siapa tahu gertak saya efektif, membuat dia berfikir lain tentang saya. Kedua, tak lupa berdoa yang banyak, setelah  beberapa kali pukulan dia terhadap saya, yang kemungkinan terbesar tak bisa saya elakan, teman- teman lain sudah merelainya. Semoga, Aamiin.
Perhitungan ketiga, saya akan ambil posisi dimana ada batu sedikit besar atau apapun dalam jangkauan saya, dan siap saya gunakan saat terjepit.
Saya akan hantamkan semampu saya. Sepertinya akan cukup sekali jika bisa ke kepalanya.Seperti yang suka saya lihat di film- film india di layar tancap.
Diluar dugaan, mendengar ‘tantangan’ saya dia tampak kaget.
Tiba- tiba saya melihat hal lain.
Tampak jelas keyakinannya mendadak surut, berbanding terbalik dengan kepercayaan diri saya.
Dan akhirnya ‘perkelahian’ kami berakhir dengan keduanya terjerembab di selokan bau dipinggir lapangan. Penonton kecewa, tak ada adegan pukulan tak berakhir dari sang lawan dan tak ada juga hantaman batu yang mematikan dari saya.
Sebaliknya saya  bahagia:)

Bandung,kamis dinihari, november 2015.
Sepenggal kisah masa kecil saya.
Ditulis saat terbangun dari ketiduran sejak selewat magrib kemarin.

Standard
adventure, biking, cycling, gowes, Jalan- jalan, sepeda, trip, tulisan

Bandung Mentawai RideNFly

 

BikeFlyBikeRumah-Hussein

 

A friend called me the other day, right before Isya. he asked me to go to Mentawai. Which is one of my few dream destinations. It’s not really that far but who hasn’t heard about Mentawai. It’s an island located in the Western part of Sumatra, with its traditional Mentawai tribe inhabitants. Which some may still have animism as their belief. With a canoe-like boat as their method of transportation. One of the most beautiful beach in the world where you can surf, snorkel dan even fishing. Wit its white sandy beach.
More than half of its animal population are endemic. Such as Joja or Mentawai Langur (Presbitys Potenziano), which is a unique species of apes, where they either live in pairs or in a more complex harem group.
Another one is Bokkoi or Kloss Gibbon (Hylobates Klossii) the most primitive kind of gibbons which ironically has a nice voice…or noise, more likely.
With its short and stubby nose and a pig-like tail and two colored body, the Simakebu or Snubnosed Langur (Simias Concolor) is a fast-growing kind of ape.
The event itself is a training for 40 of Mentawaian students who are aspiring to be travel guides. It is an event held by both Mentawai Tourism Board and one of Bandung’s School of Hospitality.
They took this event seriously, not only from the Tourism Board, the Regent himself came all the way to Bandung. They determine to make full use of its tourism instead of only relying in its oil palm produce.
Where do i come in in the picture? My background is in architecture, particylarly home and resort designing. And running of course.
We were planning on staying for a week. The training itself only went for 3 days. we spent most of the early days on travelling. And it should be noted that Mentawai doesn’t only offer pretty waves to be surfed on. Mentawai isn’t only about the traditional people.
We departed by the start of June. My 2 lecturer friends went on a Jakarta-Padang roadtrip for two days because they didn’t want to spend a lot of time in Padang.
As for myself, i’ve been planning to go Bike-Fly-Bike for this trip. I don’t know what the correct term yet, but i’ll keep using it for now.
I bike daily so i’m getting pretty used to it by now so it wasn’t that hard for me to bike all the way from home to the airport. I went for a Bandung-padang flight. I didn’t bring a lot of stuff because i wanted to stay fuss-free during this trip. I used a light daypack. I also didn’t use any bigger bags like that of a pannier. While with Pannier you can store them on the small storage by the wheels. I use a 12 l of daypack.
Unlike what i usually do, where i only pack a couple of short and jerseys for a 7 days biking, i also brought along a trouser and short sleeved shirt while still leaving enough space in the daypack for my gadgets.
I biked from home to the airport and then continued from Padang airport to…pretty much anywhere we were going.
One of the perks of going on a bike is that no traffic will ever be a problem for you. Not to mention it was only 7 km from my house to Bandung airport. So i didn;t have to wake up too early for my flight.
It only took me about 30 minutes to get to the airport. I have an hour to pack up my bike with a wrapping plastic before my flight for me to put into the baggage. I used wrappingplastic because it’s inexpensive and practical. Plus it’s available in every airports. I walk my bike when i’m in the airport. Just make sure to the security person that you will put them in the baggage later. Dismantle the two wheels and then deflate them because their policy doesn’t allow anyone to store inflated things up in the air. And then the two wheels are ready to be wrapped. And then the frames were also wrapped separately. I didn’t take out anything else other than those wheels, except for my camera stand.
My biking days are filled with documented videos and photos. Be it Bandung city views or its more less visited corners.I just rasfered it to my smartphone and then upload them.
I walked my bike all the way to security check while still making sure that the wheels are going to wrapped and put in the bagage. Thankfully they gave me no trouble at all. They even helped me putting it into the baggage, so helpful.
My 48 sized roadbike cost about under Rp. 5.000.000, i wasn’t worry about it. Would’ve been a whole different problem if it cost a whole lot more.
It’s actually safer with a pastic wrap compared to when you use it in a bike box. where people would mistake it for any other box and treat it with no care otherwise.
The wrapping plactic is divided into two, for the complete frame and then the 2 wheels is being wrapped as one. The wrapper is pretty handy when they did it, carefully packig all of the parts and then sealed it with a masking tape.
It only cost about Rp. 100.000 for both wrappings and only weighed about 11,7 kg which is under Lion Air’s 20 kg limit.
Lion Air and Express Air doesn’t charge any extra baggage for the bike, they considered it as the baggage. Garuda wouldn’t even charge us for any sporting equipments. Bikes included of course. Whereas Air Asia would charge us for extra.
With online reservation it went like:
-Domestic for up to 15 kg: Rp. 135.000
-Domestic for up to 20 kg: Rp. 150.000
Domestic for up to 25 kg: Rp. 180.000
Domestic for up to 30 kg: Rp. 240.000
Domestic for up to40 kg: Rp. 390.000
While it would cost more at the airport counter. It’s Rp. 300.000 for up to 15 kg.
The general requirments for you to store your bike in the baggage is:
-1 bike per person
-The bar is positioned along with the frame.
-The pedals need to be dismantle and then wrapped.
-Same goes with the gears.
-The tires need to be deflated.
-Take off the mudguards and then wrap it.
-The pumps, water bottle and other small stuf need to be safely put on the frame.
Not that hard right?
I’ve googled about Sumatran islands way before i went on this trip. We’ve had numerous events in Java, trail runnings in particular.
We’ve only been to Kerinci in Sumatra for these kinds of events. Which is one of the 7 mountain tops in Indonesia. Who knows, in the future Mentawai would be famous not only for its beach destination, but also for the nature trail run.
Alhamdulillah, it didn;t take us too long for finally boarding.
A friend remined me to take up the seat near the window so that i gaze upon the small islands when we land.
But as usual, i forgot to take the seat near the emergency door exit. Thankfully the seats weren’t full so i can just change seat to whichever one i wanted. Alhamdulillah.
We landed before mid day.
I told everyone i was going to bike from the airport so noone needed to pick me up. It didn’t take me long to fetch my bike from the conveyor belt and inflated the tires back on the spot. It was quite a spectacle to say the least. Before you knew it, i was already on my way from the airport. Don’t forget to throw all of the wrappings in the trash bins.
The second day, on Tuesday morning, we were already ready in the dock. My friends got dropped of by car, while i of course, biked all the way. It was only 2 km from the hotel to the dock. Easy peasy. We had lontong sayur Padang for breakfast, which is a tasty local delicacy of rice cake and vegetable curry.
We got in the boat at 7. I stored my bike on the upper deck and then tied it to be safe.
The boat ride cost about Rp. 250.000 per person. The Mentawai Fast boat could fit in about 200 passengers. And goes for 50 km/h. Pretty fast that it only took us 6.5 hour to go from Siberut-Mentawai. WIth a 2 hour stop at Sikabaluan, Mentawai.
The waves were gentle. Can’t wait to see a real wave, the ones in southern part of Siberut, which many considered as the prettiest. As well in Roniki Island, Karangmajat, Mosokut, SIbege, SIbarubaru dan some other places.
The waves are also sort of uniquely named. Waves like Ombak Ular Left, Ombak Tikus Left, Beach Break Left & Right, and Bang Bang Left, etc.
The Mentawai Fast boat was pretty clean. And most importantly all of the rooms are non smoking rooms. Alhamdulillah.Since i quit 20 years ago, i’ve grown no tolerance for cigarette smokes. I’d have asthma even when i inhale them.
Mentawai Fast doesn’t allow any passenger to go to the upper deck. The deck is opened, except for the one in the far back which has a roof but is opened on the side.
Which is suitable for them who can’t go on a day without smoking, Or those who has sea sick. Fortunately the other decks are comfortably air conditioned.
From the Muara Padang deck we took a short stop at SIkabaluan, Mentawai. We waited for 2 hrs for the passengers from here.
It tool 1,5 hrs from Sikabaluan-Muara Siberut.
The waves were still gentle, not unlike those of river, eventough it’s already in the sea. The weather was typical island hot.
The Mentawai island is surrounded by tropical rain forests. From the primary forest, mixed primary forest, to the swamp forest. Each islands with its own flora.
Mentawai is the traditional life of its inhabintans. Also has the oldest tattoo tradition in the world. I am especially interested in their plan of only relying on its tourism and not on its palm oil export anymore. I instantly said yes when the offered to take a sight-seeing trip. 
For them to compeletely maximize the tourism they need to fix their infra-structure elements first. The road needs to be well travelled, same goes with the road lights and electricity throughout the island.
As of today the only communication access is only available in the island’s capital region, Sipora Island, on the Southern part of Siberut Island, the biggest island in Mentawai.
Some location in Siberut are already facilitated with communication access.
As for the road, it was indecent to say the least. The concrete were holed and many were damaged and the road could only fit 2 cars from the opposite directions. The rest could only fit for 2 wheeled vehicles.
But a lot can be done to set itself as the cleanest tourism destination while waiting for them to fis the infra-structure elements. Clean and Bike-friendly Mentawai could be the main tourism destination in the country. Not to mention with many of its beach focused events, like surfing, running and biking.

So that’s it from me. See you at another RideNFly, in Malino, Bira Beach South Sulawesi.
With Pannier in the back on each sides of course.
See you then.
 

 

Standard
tulisan

DIA

Ah, perasaan ini lagi yang terkadang ada.

Aku tahu bagaimana dia.

Selalu bersahaja.

Berbalut warna hijau, merah dan coklat tua.

———————————————————

Lembut, hangat. Tajam pada saat yang sama.

Seperti biasa, selalu menggoda.

Lama sudah  tak kusapa.

Adakah dia disana?

———————————————————

#tahugejrotyangkusuka

Standard

image

biking, cycling, fit, healthy, olahraga, sehat, sepeda, sport, tulisan

GoWest!

Image
adventure, biking, motivation, olahraga, sepeda, sport, transportasi, tulisan

CYCLE AND SHOOT!

cycling

Not only does it run smoothly in the middle of traffic, it’s also pretty much boundless. Even motorcycle could be troubled by some neighbourhood portals. The only obstacle you could have is when you have a flat tire. And even then you can just walk it without having to face too much pity looks from people.

image

Gone are the days of having to worry you left your license an registrations or having to queue in a long line for gas. It’s also unquestionably healthier, you’re doing the environment a favor by cutting back on pollution. And that is one of the things that make cycling cool.

VIRB Picture

My daily activities involve a lot of moving around, walking, running, you name it. I only drive once in a little while, when i really have to.

image

Not that i dont like it, and not because i can’t. I’m pretty badass at driving. Just that the traffic’s been a pain in the behind, even more so lately, it takes away all the fun and thrill of driving. It’s just not worth it anymore.

If i may add, whether you’re running or cycling, it would be much more fun if you also take pictures along the way. Be it the sceneries, corners of the town or even some selfies.

But if you’re really into cycling or interested on trying and also happen to have the budget, Garmin Virb could be the right choice. It ranges about 4-5 Mio, with an extra 1-5 mio you could get some more than decent camera. Trust me, it’s worth it.

 

My bike is about 4,7 mio, but i’m lucky enough to endorsed for it, thanks Kang :). It’s a Polygon, flatbar road bike 50 in size, Helios F1.

I have no plans on upgrading it just yet, unless for maintining purposes, such as lamps, pumps etc.

You can just stick a camera on the helmet and you’re ready to capture some moments of your trips. Not only manually, but we can set it in advance, we can even set it with the Time Laps feature. So you don’t have to be connected to any desktops.

virbonbar

You can even pair it with smartphones and other gadgets, i did mine on a Fenix2. I could control it with Fenix2.

image

I could even use my smartphone as the Virb’s viewfinder.

 

it stays on for 3 straight hour. You can bring some powerbank along with you if you think that’s not long enough. Did i mention that it’s waterproof? It could go down to 50m under.

Ok that’s it from me i guess, see you guys

again later. Have a great Monday.

Bahasa.

YUK GOWES, YUK VIDEO & FOTO- FOTO

Tak hanya melaju lancar ditengah kemacetan kota. Tapi juga hampir selalu tak ada rintangan. Motor saja takluk oleh portal.

Saat tak diharapkan ada gangguan, ban kempes/ bocor, selalunya bisa diatasi seketika. Ataupun jika karena satu dan lain hal harus didorong, tak begitu membuat orang lain yang  melihatnya merasa iba.

Tak pusing dengan ‘ketinggalan’ surat- surat kendaraan atau ijin mengemudi, tak kesal dengan antrian di spbu.

Jangan lagi ditanya soal lebih sehatnya, andil dalam mengurangi polusi. Dan banyak lagi. Tak boleh ketinggalan disebut, tampil lebih keren.

Bukan karena merek dan harganya, tapi karena bersepedanya.

Aktifitas saya sehari- hari berurusan banyak dengan bergerak. Jalan, lari, ber ‘angkot’, berkendaraan umum. Sekali- sekali, jika harus, walau selalunya saya hindari,   stir mobil sendiri.

Bukan tak suka. Sampai detik ini saya masih suka dan bisa memacu cepat mobil. Dan yakin masih lincah bermanufer.

Urusan mobil, saya agak- agak lumayan lah. Jika tak dikatakan ‘bisaan euy’ .

Saya bisa mudah dan lincah bermanufer saat parkir. Baik parkir satu baris ditengah- tengah diantara dua mobil. Dengan ruang yang pas.

Atau jika harus melaju mundur. Saya bisa mengemudi lurus mundur berkilo- kilo dengan kecepatan maksimum mundur. Di trek lurus maupun berkelok- kelok.

Soal ngebut? Jangankan saya, Bapak, jika bukan karena larangan yang disebabkan gangguan jantungnya, di tikungan- tikungan Alas Roban, puncak pas, tiga kendaraan didepan disikat dengan sekali injakan pedal gas. Diijalan jalan tol? Ya apalagi.

Urusan rambu- rambu lalulintas? Ijin mengemudi saya dapatkan melalui test teori dan praktek.

Sampai- sampai Ibu- Ibu, Bapak- Bapak polisinya manyun. Yang mereka pikir barangkali,”Ni orang kalo ga  pelit- pelit amat, ya kere. Koq ya mau repot- repot ikut test segala”.

Kemacetan yang semakin menggila dimana- mana tak lagi mengasyikan untuk stir kendaraan sendiri.

Merasa bodoh jika harus gas rem gas rem setiap sekian detik.  Merasa lebih bodoh lagi dengan  mobil bertransmisi manual. Gas kopling rem, gas kopling rem. Amit- amit.

Asyik- asyik dan ga asyik- asyiknya berkendaraan, apapun, sudah cukuplah ya.

Saya mau tambahkan.

Berlari atau kali ini temanya bersepeda, lebih mengasyikan lagi dengan ambil- ambil foto diantaranya.

Entah pemandangan, entah suasana dibeberapa pojokan kota. Selfiepun tak masalah.

Dengan smartphone yang hampir dari kita semua punya tentunya cukup.

Tapi jika, sekali lagi jika, punya anggaran untuk sepeda seharga lebih dari anggaran satu action camera. Semisal Garmin Virb, layak jadi pilihan.

Dikisaran harga 4-5an juta, dengan tambahan 1-5 jutaan lagi, jadi total antara 5 sampai 10 juta, kita sudah bisa gowes beraction camera.

Percayalah, asyik- asyiknya melampaui asyik- asyiknya ‘gowes tok’ beranggaran jauh diatasnya.

sepeda saya, ( beruntung ada yang memfasilitasi, terimakasih Kang 🙂 , berharga 4,7an juta. Polygon, road bike( flatbar) berukuran 50, Helios F1.

saya niatkan untuk tak akan saya tambah atau tingkatkan, kecuali yang memang harus. Semisal lampu, pengaman dan pompa.

Ditempel dengan dudukan berlem kuat( bawaan asli virb), atau dipasang di stang dengan bracket khususnya, atau pada helmetstrap, virb siap mengabadikan laju- laju gowes kita. Atau apapun lainnya.

Video atau foto.

Tak hanya secara manual, tapi bisa dengan interval yang sebelumnya kita setting. Dengan waktu- waktu tertentu. Yang sekaligus adalah fitur time lapsnya. Jadi tak lagi kudu di oprek di desktop.

Bahkan bisa dipasangkan dengan smartphone dan gadget lain, semisal jam bergps. Pada saya adalah Fenix2.

Play/ pause/stop bisa dilakukan di fenix2 saya.

Saat tangan bebas. Berhenti misalnya, dengan sang action camera tetap bertengger di helm sepeda, saya bisa jadikan smartphone saya sebagai  viewfinder sang  virb.

Saya bisa melihat apapun yg dilhat sang virb, dilayar smartphone saya.

Begitu juga dengan play/ pause/ stop dan setting virbnya.

Canggih ya? Iya lah 🙂 .

Berbattery tahan 3an jam, jangan- jangan penggowesnya yang kalah kuat 😉 .

Dirasa kurang? Powerbank berkapasitas belasan ribu miliampere seharga ratus ribu sudah cukup untuk suplai tenaga tak hanya untuk virb kita, tapi juga fenix2 dan smartphone saya sekaligus.

Tak khawatir kehujanan, action camera kita ini tahan air sampai kedalaman 50 meter.

Tanpa casing khusus.

Apalagi ya?

Kapan- kapan saya sambung lagi. Ok?

Terimakasih garmin indonesia , eiger adventure dan siapapun yang telah mendukung lari-lari, gowes- gowes dan video- video/ berfoto- foto saya.

Selamat siang, selamat hari senin.

Salam lari dan gowes 🙂

 

Hak sebagian gambar ada pada http://www.dcrainmaker.com/2013/12/garmin-depth-review.html dan Kang Vincent

Standard
cerita, renungan, story, tulisan

Bapak

Untuk se usia 84 tahun, Bapak terhitung sehat.

Padahal lama sudah tak lagi banyak jalan kaki, seperti terakhir 1995an.

Menata taman dan lingkungan seluas 32 Ha enteng- enteng saja. Selalu berjalan kaki. Dibantu belasan tukang taman.

Sejak matahari menjelang, sampai sebelum magrib. Berhenti hanya saat makan siang dan minum teh sore dan waktu- waktu solatnya.

Luar- biasa suka- suka Bapak akan taman, desain rumah/ bangunan. Padahal Bapak tak bisa menggambar sama- sekali.

Tapi kerap bisa berdiskusi seru untuk urusan desain rumah/ bangunan dan taman serta banyak hal yg berhubungan.

Sejak Bapak di diagnosa ada gangguan jantung, Bapak tak boleh lagi ‘capek- capek’.

Entah memang sedemikian ‘parah’nya atau memang Bapak yg tiba2 saja ‘ malas’ jalan kaki lagi.

Hari- hari Bapak tak banyak berubah, kecuali minus jalan kaki jalan kakinya.

Keluar kamar pertama setiap harinya Bapak selalu sudah terlihat rapih. Selalu sudah mandi. Berhemd lengan pendek/ polo hemd. Polos atau bermotif garis- garis atau kotak- kotak kecil. Yang pasti berwarna cerah. Tak pernah lusuh ataupun kumel.

Celana pendek selutut atau panjang.

Sarapan, baca koran dan berita pagi di tv.

Satu dari banyak hal yang saya suka dari Bapak.

Selalu tampak rapih. Walau seharian dirumah.

Seminggu dua minggu sekali bersama Mmak( panggilan Ibunda) keluar kota. Sekedar nengok salah- satu anak2nya.

Atau bersama teman se usianya, bernostalgia ke perkebunan- perkebunan di jawa barat. Sekali- sekali sampai ke Jawa tengah jawa timur.

Seperti saya, Bapak tak punya pantangan makan. Tapi cukup rapih. Tak kebanyakan menyukai itu- itu saja. Terhitung apik.

Seumur- umur bukan perokok. Apalagi peminum alkohol.

Bapak hanya kenal air putih dan teh hangat tawar.

Bapak yang saya ingat. Jika sekarang, ‘cool’ barangkali adalah ungkapan yang nyaris pantas.

Sejak dulu.

Di usia sudah Bapak- bapak, tahun 75an. Berarti bapak di usia 44an.

Tahun- tahun itu, usia sekian kan biasanya tampil lebih ‘tua’ dibanding sekarang- sekarang.

Bapak- bapak lain biasanya berambut terpangkas rapih. Bapak ikal dengan sedikit lebih panjang.

Umum saat itu banyak keluarga bermobil model sedan, jeep. Bermuatan banyak.

Bapak pakai fiat 850 sport dua pintu.

Maunya malah mini cooper.

Padahal kami anak- anak sudah bertujuh.

Kaka terbesar usia 18an, terkecil 6 tahun.

Lucunya, kami semua, Mmak dan anak- anak mendukungnya.

Bukan karena Bapak ‘memanjakan diri’. Tapi ya memang kami semua suka seperti itu.

Kami semua dekat satu sama lain. Tapii tak berarti sering pergi bersama. Jika ya pastinya dengan kendaraan umum atau yang lebih besar. Sewaan.

Jadi mobil yang sport berpintu dua dan hanya satu- satunya sama sekali tak ‘mengganggu’. Bahkan ya itu tadi, cool 😉 .

” mana lebih seru, 1 mobil yg bisa banyakan, besar, tampil kebanyakan, tapi seringnya dipake cuma Bapak sendiri, atau berdua Mmak, atau paling Kang Denny( kakak laki- laki tertua), atau, mobil kecil, sport 2 pintu yg lucu?”. Pertanyaan Bapak yang tak sulit dijawab oleh semua seisi rumah.

Keesokan harinya sang sport berpintu dua menjadi satu- satunya dikota kami.

 

Tujuh anak, tujuh cara berbeda Bapak menghadapinya.

Setiap orang- tua selalunya akan bersikukuh, tak membeda- bedakan anak- anaknya.

Bagi saya? Rasanya si Bapak lebih deh ke saya.

Apapun.

Bagi Bapak, saya ter. Saya paling tertib, paling pandai. Dan ada saat- saat saya paling nakal, paling bandel. Pastinya ada saat saat saya paling mengesalkan.

 

Sejak kecil saya adalah teman Bapak.

Paling suka sarapan bareng Bapak. Paling suka habiskan makanan Bapak yang karena terburu- buru, tak sempat.

Paling suka menjadi teman Bapak baca koran. Atau mendengar cerita- cerita Bapak dikantor, dijalan.

Mendengar kisah- kisah Bapak jaman baheulanya.

Bapak yang selalu semangat mengajari saya apapun.

Jauh sebelum usia sekolah, saya sudah pandai tulis, baca, bahkan beberapa kalimat inggris dan belanda.

Menggambar apalagi. Yang terakhir bukan Bapak, tapi kaka sepupu saya yang ajari. Pastinya dengan dorongan Bapak.

Tak berkecukupan pada saatnya tak menghalangi Bapak untuk selalu berusaha agar saya mendapatkan apapun yang sebaiknya saya miliki.

Sampai.. saat saya lulus sma,” Ei, Bapak hanya bisa belikan tiket sekali jalan dan sedikit uang untuk makan beberapa minggu. Bapak percaya Ei bisa atasi apapun disana”.

 

Belakangan saya jarang tengok Bapak. Padahal saya lah dari tujuh bersaudara yang tinggal paling dekat dengan Bapak.

 

Saat ini Bapak masih opnam di rumah- sakit.

Jantungnya baik. Asam uratnya pun tak mengkhawatirkan.

Yang di deritanya ‘hanya’ gatal2 sebadan. Merah- merah. Disebagian tangan dan kaki malah seperti melepuh.

Dokter bilang Bapak kekurangan albumin. Mungkin Bapak terlalu ‘Apik’ makannya. Sampai- sampai asupan gizinya jauh berkurang.

Ditambah lagi banyak obat yang diminum. Untuk jantungnya, asam uratnya dan saraf. Bapak belum berapa lama terkena parkinson.

 

Kembali ke saya dan Bapak.

Tak saya maksudkan bahwa Bapak adalah Bapak terbaik di dunia.

Bapak, seperti juga mungkin beberapa Bapak- Bapak lain di manapun, pastinya tak luput dari salah. Tak lepas dari keliru.

Hal- hal yang manusiawi.

Tapi yang pasti, apa yang sudah, sedang dan pasti akan Bapak berikan kepada saya, tak akan pernah terukur.

Ibarat tulisan kisah/ cerita fiksi India, Mahabarata atau Jodha Akbar. Tak akan berakhir sampai ajal menjelang.

Sementara saya ke Bapak, mungkin tak lebih dari satu goresan kecil. Itupun pendek.

Ajal menyapa, tak hanya saat tua, tapi juga saat muda. Tak hanya saat sakit, begitupun saat sehat, gagah nan perkasa. Hanya Tuhan yang tahu..

 

Saya berdoa, semoga Alloh memberikan yang terbaik bagi Bapak. Aamiin.

Saya bukan sedang mendayu- dayu.

Saya ingin mengingatkan diri saya sendiri dan barangkali siapapun.

Saya tak ingin, saat Bapak, jika memang sudah menjadi kehendak Alloh, dijemputNya, tak tiba- tiba menangis meraung- raung sampai terdengar keujung jalan. Menyesali banyak hal. Menyesal tak memberikan apa yang mampu, bahkan jika ya seisi dunia. Padahal saat Bapak masih ada, tak segorespun yang diberikan kepada Bapak.

Pastinya saya akan bersedih. Sedikit terisak mungkin.

 

” Bapak ga usah khawatir lagi. Ei yg selalunya dimata Bapak adalah Ei kecil,yg suka megap- megap saat anfal asma, dulu, duluuu sekali, sudah lama sehat koq. Sudah bisa lari2 lama. Kadang berhari- hari. Sudah bisa lari jauh, bahkan ratus- ratus kilo”.

“Sampai nanti sore lagi ya Pak”.

 

Bandung, Advent pagi hari.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Standard
cerita, cerita, kisah, renungan, renungan, story, tulisan

Bandung- Depok, Obrolan, Pilpres dan Harapan Saya

Jangan2 Akang supir travel ga pake rem. Bandung Depok, tepatnya nyampe stasion Lenteng Agung masa iya cuma 2 jam.
Lom kenyang rasanya tidur.
Seperti biasa, urusan cari2 alamat ga pernah bikin pusing.
Tinggal tanya siapa aja. Toh masih di indonesia indonesia juga. Masih bisa pake bahasa yang gw bisa.
Yg pertama ditanya ga tau ya tanya lagi aja yang laen.
Apalagi temen2 Derby, Depok Running Buddie baek banget, pake mo jemput segala.
Ga ah, buat gw, cari alamat, nyasar ga nyasar adalah juga ‘ petualangan’.
Langsung nyampe Alhamdullillah, nyasar ya juga berkah.
Liat dipeta ternyata ga jauh2 amat ke tkp.
Ga lama turun, langsung cegat taxi. Kebeneran si burung biru. Yg selama ini buat gw paling ok, karena hampir ga pernah nemu yg bau rokok.
” Selamat sore Pak”.
” ohya, selamat sore Pak”.
Beda dengan kalo massage, yg males kalo diajak ngobrol ma yg massagenya( semakin murah tempatnya biasanya semakin banyak ngajak ngobrolnya), di taxi seringnya nikmatin ngobrol ma Kang/ mas/ pak supir taxi.
Kalo ditempat massage, selalunya langsung bilang,” 90 menit ya Pak. Maaf saya pake earphone ya Pak”.
Selalunya sukses ga diajak ngobrol. Walau kenyataannya ga pake earphone juga.
Ohya, yang gw maksud massagenya di panti pijat tuna- netra.
Serius gw lebih duluin massage disini, karena menurut gw mereka emang lebih bisa. Dan kalau juga cari yg setara, biasanya ya harganya 2- 3 kalinya.
Satu lagi, gw bisa bebas ber’ekspresi’. Kan kadang gw gelian. Nah gw pikir gw jadi bebas bertampang aneh karena geli ato meringis- ringis kesakitan tanpa ketauan. Rasanya.
Tapi sekali waktu kejadiannya beda. Masih di panti pijat tuna- netra.
” 90 menit ya. Dan saya mau sambil tiduran”.
” Ya Pak”.
Kali ini ibu2 yg massagenya.
Berapa saat tiba2 si ibu bilang,” Katanya mau tiduran. Koq sms an?”.
“??????”.

Eh dimana kita tadi? Ohya di taxi ya.
Gw mulai nanya.
” bapak sudah punya pilihan?”.
” Saya masih bingung Pak”.
Tadinya gw berharap kang supir dah punya pilihan dan gw pengen aja denger alasannya. Titik.
” Kalau Bapak?”. Doi balik nanya.
Tiba2 aja gw keinget masa2 kecil gw.
1962. Umur gw baru 6 tahun. Sekali waktu gw liat ratusan orang beratribut salah- satu partai. Tereakin yel- yel.. ya partai lah ya.
Kapan lagi tiba2 rumah gw penuh ma ratusan orang beratribut partai lain.
Ya ampun, pada mo apa sih ni orang2?.
Ga tau kenapa, banyak orang di satu tempat, koq yg keinget ato yg gw rasain adalah aura kekerasan.
Pastinya gw salah. Tapi ya itu yg gw rasain.
1965. Babe balik ngantor ribut2,” waduh, jendral2 pada dibunuh!”.
1968. Lagi dimobil, lewat Glodok, abis jemput babe yang pulang naek kereta dari bandung. Tiba2 gw liat anggota tentara lari ngejar orang, terus nyambit belati kearah tu orang.
Untung ga kena.
Ga lama gw liat kakek2 tionghoa jongkok dipojokan nangis2. Muka ma badannya berlumuran darah.
Haduh merinding dan ketakutan yg gw rasain.
Babe gw nenangin, “Ga pa2, kita aman”.
Berikutnya gw liat sepasukan lagi baru turun dari truk. Pada loncat. Tampang garang.
Tau- tau banyak orang pada lari blingsatan ga karuan, dikejar- kejar tentara- tentara.
1969. Gw kelas 6 sd di bandung.
Naek sepeda dijalan Malabar. Masih sepi. Jarang mobil. Palingan sepeda, becak.
Ga tau gw ngelamun ato becak yg salah arah, tiba2 aja ada becak kearah gw. Dan ga tau gimana tau2 der aja tabrakan.
Yg pertama gw pikir cuman, gw kudu pura2 pingsan.
Bukan apa2. Penumpangnya tentara.
Eh ternyata gw salah duga. Doi malah samperin gw, angkat gw ati2,” Ga pa2 Dek?”.
Lah iya lah ga pa2. Emang gw cuma ketakutan aja bakal dihajar abis.
Legaaa.
Oh ada lagi yg kelewat.
Kejadiannya sebelumnya, masih di jakarta.
Berempat ma temen2, balik maen dari nyebur2. Bahasa kerennya renang, di empang bekas galian tanah, sebelahan rumah Bu Haryati, salah- satu istri Bung Karno.
Masuk komplek perumahan, pas lewatin plang bekas. Lupa plang apa. Ga tau siapa yg mulai, tau2 kita pada ambil batu2, lempar ke plang.
Perasaan si jauh dari rumah2.
Eh tiba2 aja ada bapak2 tereak2.
“Hei!Kurang ajar kamu!. Sini!!!”
Wahaha kaget banget.
Sementara gw bingung, temen2 gw pada kabur.
Tinggal gw sendirian. Asli masi bingung.
Dan jleg aja doi dah depan gw. Muka merah. Mencak2.
“Goblog kamu!”.
” lempar2 rumah orang”.
“Ee.. anu.. maaf Om, ga lempar rumah Om. Lempar plang itu Om”.
” plang plang apa?. Rumah saya itu tau?!!”.
Halah nasib, abis ni gw pikir.
Ga diapa- apain si. Tapi gw dibawa kerumahnya. Dinaekin kemobil pick up. Yang baknya pake atap terpal. Gw disuruh duduk dibak.
Pick up berlambang salah- satu angkatan. Di pintunya yg gw liat si.
Trus dibawa ke rumah gw.
Halah mampus lah gw.
Bakal dobel kena omel.
Singkat cerita nyampe depan rumah gw.
Gw ga bole turun. Doi masuk rumah.
Tau2 babe ma nyak gw keluar. Dan ya iyalah, tetangga pada ngerubung.
Asli berasa pesakitan.
” Ei, ayo turun..”.
Ga bisa ditahan lagi, gw nangis.
Masuk kerumah.
Sementara babe ribut ma tu mister galak diluar.
Banyak benernya pengalaman2 gw mirip2 begini.
Tapi satu lagi aja deh.
2011an kalo ga salah.
Makan mie ayam di tb. Ismail Bandung.
Tempat duduknya emang terbuka.
2 meja depan gw ada 2 cewek makan juga.
Ga lama datang 1 pemuda. Gagah. Gw langsung ngira, mesti ni angkatan. Dan berpangkat cukupan. Paling ngga lulusan akabri lah.
Ga gw perhatiin lagi si sampe doi tau2 ngerokok.
Kepikiran usil. Ni orang ga sopan banget, ngerokok didepan 2 temennya yg masi pada makan.
Tapi terus gw lupa2in. Lah temen2nya aja keliatan ga keganggu. Yowis.
Tpi pas doi buang2 abu rokok kelantai, gw berasa terusik.
Ni orang koq ga punya rasa ya. Kan gampang aja minta asbak lah.
Ah tapi gw berusaha ga pusingin.
Tapi terus gw kepikiran. Pokoknya tau2 gw celingak- celinguk cari asbak. Ada lah pas banget dimeja sebelahan doi.
Gw ambil, terus gw sodorin baek2.
“Ini mas, asbaknya”.
Sambil kaget, ” Oh.. ee makasi”..
Bersukur gw bisa ga berasa apa2. Aman2 aja. Ga pake sinis, ga pake gimana. Rasanya tulus.
Tau2 bubarlah mereka.
Selang berapa menit mister gagah nan ganteng balik lagi. Nyamperin gw.
“Tadi maksudnya apa?”
“?????”.
” Iyaa! Tadi maksudnya apppaaaa???”.
Waks, mampuslah awak.
Tau2 plak!!! Mukul pala gw. Tapi gw tangkis.
” Ayo! Situ apa saya? Ini urusan hidup dan mati!!!”.
” Saya angkatan, saya ga terima ini!”.
Doi berusaha geret gw keluar.
Itu Mamang2 tukang dagang ma tamu laen pada ga ada yg misahin.
Halah nasib2. Urusan beginian lagi beginian lagi.
Asli bingung gw, urusan ngasih asbak jadi urusan hidup dan mati.
Gw minta maaf aja ga digubris.
Beruntung, kali dalam situasi kejepit, gw yg biasanya ga bisa ngomong, kali ini jawab terus tapi hati2 jgn sampe juga bikin doi tambah naek pitam, tambah panik tau2 jleb aja gw ditusuk ato apa.
Sambil mikir juga, gimana keluar dari neraka ini.
Oh, kalo ga sala si, gw sempet jawab, ga usah bawa2 angkatan, gw juga keluarga angkatan. Maksud gw kali2 aja jadi melemah.
Ealah malah bikin doi semakin galak.
” Bohong! Mana coba saya lihat buktinya?”.
Gw keluarin lah ktp ato sim gitu.
Jreng!! Tau2 doi melongo.
Terus, ” Aduh maaap Pak, saya koq ngomel2in, bentak2 orang- tua. Maap ya Pak”. Gitu terus berulang- ulang.
Hadeuh..

Eits kelamaan ni keingetannya, soalnya tau2 kelewat jauh tuh tekape.
Sambil cari puter balik, gw sambung jawaban gw.
“Mas, saya sudah punya pilihan. Jauh2 saya sudah punya pilihan. Pilihan saya adalah harapan saya.
Mutlak tentu saja hanya yg diatas yang tau”.
” Doa saya bukan, semoga pilihan saya lah yang terpilih nanti. Tapi semoga yg lebih baik buat bangsa ini yang terpilih.
Nomor satu atau nomor dua, tentunya masing2 punya kelebihan dan kekurangannya.
Siapa pilih siapa pastinya sah- sah saja.
Saya hanya punya harapan sederhana, bahwa kedepan, siapapun yang terpilih, bisa membuat orang2 kecil dan sederhana seperti saya ini merasa aman dan nyaman jika ada/ dekat dengan aparat. Bukan seperti sekarang. Berurusan dengan aparat malah sebaliknya.
Senggolan mobil ato motor ga sengaja dengan aparat malah cari penyakit.
Salah tegur dengan aparat ya sami mawon.
Jadi hal- hal ‘ kecil’ ini saja harapan saya.
Harapan besar2 lainnya biarlah teman2 saya, tetangga2 saya, dan saudara2 saya yg lain saja yg lebih pandai yang punya”.
Pastinya tak semua aparat/ angkatan seburuk seperti cerita saya. Saya yakin sekali.
Tak berniat pamer atau melebih- lebihkan apa2 milik sendiri, gambaran rasa aman yg saya maksud barangkali tak juga berlebihan seperti yang tercermin dibawah ini.
Almarhum mertua saya, saat kami sama2 tinggal di Cirebon, awal tinggal di rumah dinas, masuk ke jalan pas satu mobil, di lingkungan pengusaha2 pasar/ toko etnis Tionghoa.
Mobil dinasnya toyota land cruiser hardtop. Tentunya berwarna dan beratribut/ tanda angkatan.
Sudah menjadi kebiasaan sepertinya, tetangga2 ini berusaha bersikap baik dengan memberi apa2 yg bisa diberikan ke keluarga almarhum mertua. Saya yakin kita makfum yg dimaksud.
Dengan sopan sang almarhum mertua selalu menolak setiap pemberian tetangga.
Sambil berkata, bahwa sama2 saling melindungi adalah kewajiban kita semua. Sipil maupun militer.
Dalam artian melindungi yg benar.

Saat di jatiwaringin mendapat rumah dinas berkamar 4, beliau tukar dengan rumah dinas berkamar 2, jatah seorang lain berpangkat lebih rendah.
Alasannya karena toh beliau tinggali hanya berdua dengan almarhumah mertua perempuan. Sementara seorang lain ini lebih muda dan tinggal lengkap dengan beberapa putra- putrinya.
Saat putri keduanya, di usia mahasiswi baru masuk, meninggal terjatuh dari angkot, dekat rumah. Saat sang supir angkot datang setelah mengantar korban ke ugd, dan mengabarkan berita duka, diluar dugaan kami semua, dengan berusaha tetap tegar, Bapak mertua almarhum memaafkan sang supir dan meminta dengan tegas kepada siapapun yang hadir untuk tak menyentuh sang supir seujung rambutpun .
Padahal tetangga sekomplek, apalagi anak2 mudanya, sepertinya sudah siap2 menelan sang supir angkot.

Harta yg dimiliki adalah sebenar- benarnya dari slip gajihnya. Saat almarhum meninggal, yang ditinggalkan adalah rumah titipan/ dinas dan uang tak seberapa dari tabungannya.
Sekali lagi, semoga yang lebih baik buat bangsa inilah yg terpilih nanti.
Dan semoga almarhum dan almarhumah mertua saya mendapat tempat yg layak disisiNya. Dan diampuni segala dosa dan kesalahannya. Aamiin.

Standard
berbagi, event, inspiration, komunitas, olahraga, renungan, running, sport, story, tulisan

BandungJakartaRun4Leukemia

wpid-p6130011.jpg

Awal 80an berangan- angan, sekali seumur- hidup turut dalam lomba lari 10k. Kekaguman saya akan olahraga lari mengalahkan kekaguman saya akan olahraga2 lain, apapun yang menggunakan alat.
Apa daya, asma & bronkhitis bawaan sejak lahir menjadi penghalang. Setidaknya begitu yang saya fahami selama itu.
Awal 2010 adalah lari ‘serius’ saya pertama.
Selanjutnya, kecintaan saya akan lari semakin besar. Dan ‘mengalahkan’ penghalang saya.
Sepertinya kapanpun saya siap untuk berlari puluh bahkan ratus kilo.
Haruskah? Tak mesti tentunya.

wpid-p6130022.jpg
10-30 menit berlari dalam sehari sudah ‘memenuhi’ untuk sehat.
Tak hanya untuk sehat sendiri, berlari ternyata bisa untuk banyak hal positif lainnya.
Misalnya, seperti yang dilakukan teman2 yg baru saja semalam, 13 juni 2014 lalu, memulai lari bandung- Jakartanya. Berlari untuk adik2 penderita Leukemia.
Diharapkan finish menemui adik- adik kita pada tanggal 15 juninya.

wpid-p6130031.jpg
Berlari sebagai bentuk kepedulian mereka akan penderitaan adik2 ini. Akan orang2 disekitar adik2 ini.
Berlari sebagai bentuk kepedulian terhadap sesama. Adik2 kita diantaranya.
Semangat teman2. Tetap sehat. Selamat sampai tujuan. Dan kembali ke Bandung.
Terimakasih tim pesepeda, motor & mobil pendukung. Terimakasih League, PocariID, SAB. Terimakasih semua teman- teman komunitas lari tanah- air.
#bdgjktrun4leukemia

wpid-p6130051.jpg

wpid-p6130065.jpg

wpid-p6130070.jpg

Standard
adventure, event, mountain running, olahraga, running, sport, trail running, tulisan, ultra running, ultra trail running

Mengenal Medan Berlari Trel

runLimitless

Pantai Pendawa Bali. Garmin Photo Session.

Hak gambar ada pada Patricia Heny.

Mengenal medan lari trel yang ada di kita. Dan bagaimana kita ‘menikmatinya’. Atau: mempersiapkan diri untuk sebagian. Sebagian lain biarlah kejutan 🙂 .
Sepertinya kita sepakat, bahwa lari trel adalah lari  selain dijalan yang menarik sekali. Menyehatkan, menenangkan, menghibur. dan biasanya menyenangkan. Terkadang saja menyebalkan.

Banyak hal menarik yang ada di lari- lari trel tanah- air. Yang mungkin tak ada ditempat lain.
Do’s & don’ts ditempat lain bisa jadi berbeda atau bahkan  tak berlaku di kita.
Ditempat lain mungkin ya bisa berlaku, “Usahakan jangan  berlari sendiri ditempat yang baru”. Ditempat lain yang sudah sedemikian membudayanya berlari. Tak sulit mencari teman.
Apalagi lari muncak gunung. ” pelajari dahulu trek yang akan dilalui.Beri tahu orang terdekat, kapan kita berangkat dan kapan perkiraan turun”.
Tentu saja berlaku juga di kita.
Atau, seringkalinya malah setelah beres muncak sendirian, lebih dulu saya sampai dirumah ketimbang whatsapp saya terbaca orang rumah 🙂 .

Trek1- trek2-

Lereng Gunung Burangrang. Atau di perkampungan dipinggiran kotapun mirip- mirip seperti ini kan? 🙂

Kiri: Trek di Gunung Burangrang. Kanan: Tangkubanparahu.

Satu.
Kita mulai dari yang termudah. Dengan trek seperti diatas. #newbiefriendly .

Kelengkapan: sepatu trel dan atasan bawahan jersey jika ada. Jika tidak asal cukup nyaman saja.

Yang dibawa: satu botol minuman cukup.

Trek yang bukan aspal. Tak jauh dari tempat tinggal.
Rerumputan atau tanah di halaman disekitar pemukiman. Datar2 saja atau dengan sedikit naik dan turun yang landai.

Trek terbuka. Tak terhalang alang- alang atau tumbuhan, karena sering dilalui.

Tak perlu banyak2 yang dipersiapkan. Cukup handheld bottle saja. Satupun cukup.

Pijakan tak sulit, karena hampir rata saja. Baik tanah maupun rumput.

Dua.

Berikutnya adalah, jika start  yang agak jauh dari rumah.jadi mesti dicapai dahulu sekian waktu #newbiefriendly .

kelimutu=BRomo-

Kiri: Danau Tiga Warna Kelimutu. Kanan: Bukit Pasir Bromo.

Yang dibawa: air dan makanan tergantung jarak dan ada tidaknya warung/ toko tempat kita beli sesuatu yg diperlukan.
Handheld bottle atau hydropack. Kamdig jika ada.
Semisal Sentul bagi teman2 Jakarta, Bogor dan Tangerang. Perkebunan teh Sukawana bagi Bandung dan sekitarnya.
Medannyapun beragam.
Ada yang bisa dengan santai sambil update status,( hati2 kepala terbentur batang/ dahan pohon yg melintang seketinggian kepala. Kecuali pakai helm dan siap trombophop),  karena tak perlu harus ngesot2 atau berpegangan pada apapun, atau dengan sedikit2 pegang sana- sini karena turunan yang lumayan curam. Walaupun mungkin hanya beberapa meter saja.
Semuanya berlaku, Berlari trel, artinya pemandangannya lebih hijau, lebih indah dan nyaman, tak hiruk- pikuk lalu- lalang kendaraan dan asapnya.

Disini sebotol minuman kita harus ditambah dengan lain2nya lagi. Cemilan dan uang secukupnya. Sarung tangan mulai diperlukan. Cukup sarung tangan wool seharga 5 ribuan.

KawahRatu- TamanJayaSungai-

Kiri: Sungai air hangat di Kawah Ratu Gunung Salak. Kanan: Muara sungai di TamanJaya Ujungkulon.

3. Trek yang sama, tetapi berbonus istimewa,semisal kawah dan sungai yang bisa dilalui/ dicapai. Seperti Pasir Alit ke Kawah Ratu Gunung Salak. Atau start parkiran atas Tangkubanparahu, memutar kebalikan arah jarum jam, mengelilingi Kawah Ratu Tangkubanparahu. Sampai sebelum panjatan. Dan kembali. #newbiefriendly.
Yang dibawa: setelan ganti untuk yang ada acara basah2an disungainya. Kamdig cenderung wajib 🙂 .

4. Berikutnya adalah medan yang termasuk hutan, lereng gunung. Yang berpotensi untuk tersesat. Bahaya kelelahan, kedinginan dan dehidrasi.
Pemula sebaiknya disertai pelari trel yang sudah berpengalaman.
Kelengkapan: rain coat ringan( cukup yg 10an ribu, windbreaker, sepatu yang lebih sesuai, untuk kesiapan menghadapi segala medan trek, seperti pasir, batuan licin, tanah becek dan sungai. Jam bergps jika ada. Pluit, headlamp kecil, Sarung tangan, atasan jersey berwarna cerah. Obat2an pribadi, betadine dan plester penutup luka. Bandana serbaguna( banyak yang murah. 40an ribu,buatan Bandung), telfon genggam murah( bukan smartphone, berbattery tahan lama).

Penting sebelumnya untuk diketahui, provider mana yang paling kuat di area ini.

Karena tak semua gunung dilintasi banyak pengguna, harus diantisipasi trek yang agak tertutup semak2, dahan ranting melintang. Artinya ada kemungkinan tergores.
Sila pakai bagi yang nyaman memakai semacam bawahan panjang/ compression.

GarminPhotoShoot0750TamanJayaPantai-

Kiri: Pantai Pendawa, Bali. Kanan: Pantai Taman Jaya, Ujung Kulon.

Langkah kaki dan pijakan.
Perhatikan pijakan kita disini. Terutama saat menurun.
Menurun dengan perlahan. Tentu saja cenderung lebih aman. Tapi lebih mudah lelah/ berat pada paha dan betis, karena menahan  grafitasi.
Jika memungkinkan adalah turun dengan sedikit lebih cepat.
Hanya, seperti dalam catur, beberapa langkah/ pijakan sudah harus diperhitungkan. Karena pijakan yang salah diawal akan diikuti oleh pijakan2 salah di yang berikutnya.

Batuan2 tajam injak dengan bagian telapak tengah. Menghindari tergelincir kedepan atau kebelakang. Pijakan diusahakan tak membuat sudut dengan sol bawah sepatu. Jadi hampir sejajar( lagi- lagi kemungkinan tergelincir).

Semakin tegak lurus pijakan dengan arah turun kita semakin baik. Semakin besar peluang kita untuk lebih cepat. Berlari dengan cara  melompat kebagian- bagian tegak lurus ini.

Semakin cepat kita turun, harus semakin condong badan kita kedepan. Menghindari  terjerembab kebelakang saat terpeleset.

Mata yang jangan hanya terpaku kebawah, memperhatikan kemana dan apa pijakan kita, tapi juga kedepan. Tak jarang ada batang dan dahan pohon yang melintang seketinggian kepala.

 

wpid-2014-02-01-05-18-46.png

Menjelang Jembatan Setan Gunung Merbabu.
Yang terpenting untuk semua adalah, kesiapan yang baik.
1. Biasakan hari- hari untuk tak terlalu ‘memanjakan’ tubuh dengan terlalu mudah memakai pakaian2 tebal, agar saat kita berada di cuaca dingin( dihutan pegunungan/ ketinggian) kita masih bisa cukup hangat dengan 1 jacket.

Bisa dibayangkan, jika hari2 saja dikota kita berjacket, apa lagi yang akan dipakai saat kita diketinggian. Ya kan?

2. Biasakan selalu bergerak. hindari duduk atau diam berlama- lama. Gerak, gerak dan gerak. Sebadan.  Jadi jangan hanya telunjuk saja yang bergerak.

3. Semua sepatu trel semestinya cukup baik. Dengan waktu dan jam terbang lari ngetrel kita, kita akan lebih pasti lagi mengetahui brand, type mana yang paling sesuai untuk kaki kita.

Yang penting bukan sepatu mana sesuai dengan medan yang mana, tetapi sepatu dengan peruntukan yang jelas yang sesuai dengan kaki kita. Setelahnya adalah kaki dan sepatu yang menyatu, yang seperti mempunyai mata dan perasaan, menyesuaikan gerak langkah dan pijakan. Apapun medannya.

4. Persiapan yang baik adalah persiapan yang tak mesti baik, sempurna.. Bingung? Jangan 🙂 . Tak mesti semuanya siap baru ngetrel. jika ya begitu, entah kapan kita ngetrelnya.
Jadi sisakan sedikit untuk kejutan. Kejutan yang mungkin mengesalkan bahkan menyebalkan, tapi setelahnya adalah kisah cerita seru yang membuat kita lebih cepat lagi terlatih.

Kapan- kapan saya sambung dengan trek- trek lainnya.Semoga bermanfaat.

Salam,

Yuk Ngetrel 🙂

 

 

Standard
design, inspiration, interior, sketchup, tangga, tempat tinggal, tulisan

Small Is The New Big

 

HowSmallCanYouGo?2

 

Tak basah dan menggigil saat hujan. Hangat saat cuaca dingin diluar. Dan sejuk tanpa harus memicingkan mata dan perpeluh keringat saat terik matahari siang.
Tempat beristirahat cukup dikala malam menjelang. Dan kehangatan pagi hari, memulai kehidupan dengan sarapan pagi. Sendiri, dengan pasangan atau bersama suami atau istri. Juga putra- putri.
Besar dengan ruangan- ruangannya yang luas bagi sebagian orang. Cukupan bagi sebagian lain.
Masing- masing dengan pilihannya.
Selain sandang dan pangan, papan adalah kebutuhan primer kita berikut.
Ada yang saya perhatikan berkenaan dengan rumah- tinggal.
Semakin besar rumah koq ya seperti yang semakin banyak ruang yang terbuang. Semakin sulit untuk dijaga bersih. Dan ujung- ujungnya semakin menyita waktu dan uang untuk pemeliharaannya.
Sepertinya juga semakin membuat si penghuni, maaf, kikir.
Karena selalu merasa ada ruang, barang/ perabotan yang entah kapan mau dipakainya, selalu merasa sayang untuk dikeluarkan.
Akhirnya sang perabotan menjadi penghuni abadi sekian meter persegi bangunan dan tentunya kavling yang entah berapa juta harganya.
Sempatkan menghitung, berapa luas kavling dan bangunan yang kita punya. Perhatikan, berapa meter persegi bangunan dan lahan/ kavling yang benar- benar terpakainya.
Kita akan terkejut.
Sambil tunggu teman- teman menghitung, saya akan lanjut dengan, apa yang saya maksud dengan “jika saya berbicara tentang rumah”.
Rumah yang menurut saya harus minimalis dalam artian yang sebenarnya. Sesuai dengan jaman, ketersediaan, kemampuan dan kebutuhan sekarang.
image

Kebutuhan macam ruang.
Kita akan batasi dengan hanya :
Kamar tidur utama, kamar tidur kedua( anak atau tamu), kamar mandi, dapur/ pantry, ruang makan dan duduk keluarga. Serta teras.

image

Ukuran Kamar Tidur.
Diibaratkan calon penghuni rumah masa depan ini adalah pasangan muda. Dengan dua anak- anak balita.
Pasangan suami- istri cukup dengan luasan 3m x 3,6m. 3m adalah lebar dari sebelah kiri tempat tidur kekanannya.
3,60m adalah dari kepala tempat tidur kearah ujung kaki tempat tidur.
Dengan lebar 1,80 cm bed king size, masih tersisa masing- masing 60cm dikiri kanan untuk side table/ meja samping tempat tidur. Tempat kita menaruh lampu baca/ malam dan bacaannya.
LampuBaca

Lampu Baca.
Bandingkan dua kamar tidur berbeda. Yang satu luas, terang, rapih, bersih tertata. Dibangunnya pun rapih. Terlihat dari sudut dinding yang lurus. Berfurnitur lengkap, kecuali lampu baca.  Sementara satu kamar yang lain sebaliknya. Lebih kecil. tak terlalu terang, karena penerangannya hanya dari lampu baca, bangunannya boleh jadi tak begitu rapih. Furniturnya pun  minimalis.
Saya berani bertaruh. Yang tampil lebih homy, nyaman, hangat adalah yang terakhir.
Ya, bukan dimana- mana atau apanya, kecuali bahwa yang terakhir berlampu baca.

Sekarang kita lihat kearah kaki tempat tidur.
Dengan ukuran panjang 3,6m, setelah terpakai panjang bed yang 2m tersisa 1,6m. 0.6m digunakan untuk dalamnya lemari pakaian dan atau rak buku/ tv. Sisa 1m cukup lebar untuk dilalui. 1 m adalah jarak antara kaki/ ujung bed ke lemari pakaian.
Tak sempitkan?

 

VilaKayuKamarAnak

Kamar Anak- Anak.

Dengan ukuran 3 m x 3 m sudah lebih dari cukup untuk 2( dua) bed ukuran dewasa sekalipun.
Dengan lebar 90 cm( single) x 2 bed, diposisikan dimasing- masing sisi kamar berseberangan, masih tersisa jarak 120 cm diantaranya.
Seperti juga di kamar tidur utama( pasangan), lemari pakaian anak2 dan meja belajar/ main mereka diposisikan satu baris, yaitu di dinding seberang dari bed.

 

KamarMandi

Kamar mandi.

Berukuran 1,80cm x 2 m sudah cukup untuk 1 monoblok( closet), wastafel dan shower tray. Tanpa bak tentunya.

 

Dapur:Pantry

Dapur/ Pantry.

Dapur/ pantry kita adalah dapur/ pantry saja. Bukan dapur bersih yang sedemikian bersih dijaga, sampai- sampai merasa sayang untuk dipakai. Juga bukan dapur kotor, yang memang karena disiapkan sedemikian rupa peruntukannya, dan ya biasanya sedemikian kotornya sampai- sampai enggan kita memakainya. Dengan kata- lain: urusan Bibi.

1,5 m x 3 m sudah mencukupi untuk ditempati bak cuci dobel dengan ukuran maksimal, kompor 4 tungku dan kulkas. Bahkan mesin cuci.

 

DudukMakanMasakTeras

Ruang Makan & Ruang Duduk Keluarga.

Kita coba dengan ukuran 3 m x 4,5 m. Bayangkan ukuran standar garasi yang 3 m x 5 m.

Tampak dari kiri ke kanan adalah ruang duduk keluarga, makan, dapur/ pantry. Dan sedikit ‘kemewahan’ adalah teras.

Total luas 2 kamar tidur, 1 kamar mandi, ruang duduk, makan, dapur/ pantry dan teras kita ini adalah 6,6 m x 7,8 m —>52 meter persegi saja.

 

RuangPeletakan

Pengelolaan ruang, penempatan bukaan( pintu/ jendela).

Dengan penempatan kamar mandi diantara dua kamar tidur dan berada dibagian sisi lain memudahkan akses dari kamar tidur( dekat), sedikit menjauh dari ruang- ruang lain( lebih privat). Juga tak memunculkan ruang lain yang terbuang. Ya kan?
Begitu juga dengan urutan penempatan teras( paling depan dari rumah), dapur/ pantry, makan dan ruang duduk dalam satu baris yang jelas.

Ohya, sampai saat ini kita bicara satu lantai saja. Jadi abaikan dahulu tampak dua lantainya.
Posisi tangga yang terlihat berlaku nanti jika ada rezeki lebih, kita buat lantai duanya. Aamiin 🙂
Sementara di posisi ini adalah ruang makan.

 

PintuPosisi

Detil Penempatan Pintu.

Pada gambar kiri adalah pintu yang biasanya  ditempatkan disudut ruang. Sementara pada gambar kanan( rumah kita) pintu posisinya digeser 60 cm kearah tengah.
Jelas sekali, digambar kiri, lemari tak bisa sepenuhnya sepanjang dinding. Karena ya posisi pintu tadi yang menghalangi.  Sementara dirumah kita, dengan digesernya kusen pintu 60cm kearah tengah, lemari  kan bisa dari ujung ke ujung. Kita hanya harus menambah 1( satu) kolom praktis saja.
Digambar kiri  kusen pintu dipasang pada kolom utama( sudut), sementara di rumah kita, dengan digesernya pintu dari kolom utama( sudut), maka diperlukan kolom praktis,sebagai pengganti dudukan sang kusennya.
Lebih mahal 1 kolom praktis 🙂  .

Storage( atau menyimpan dengan smart).

Belanja kelengkapan/ perabotan rumah tak pernah tak mengasyikan. Hanya akan menjadi masalah jika berujung pada kelebihan. Sekian banyak perabotan cantik menggemaskan,saat terkumpul disatu rumah bisa jadi malah menyebalkan.
Tak boleh terjadi di ‘rumah idaman’ kita.

Idenya adalah, bukan menempatkan perabotan/ kelengkapan diruang kosong, tapi mencari ruang yang ada yang “tak terpakai” menjadi  storage kita.
Yuk kita cari, ada dimana saja mereka.

– lemari pakaian sudah tadi kan? Yang kita pasang dari dinding ke dinding. Penuh.

BedDgnLaci2

– ‘Kolong’ bawah tempat tidur.
Yang biasanya spring bed dengan box alas, kali ini kita hilangkan. Jadi di posisi box alas adalah laci- laci( besar atau kecil, tergantung kebutuhannya).

 

 

LaciDibawahPijakanTangga

Laci- laci dibawah pijakan tangga( alat- alat/ kunci- kunci pertukangan/ plumbing/ instalasi dan atau sepatu).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Standard