running

RUNNING ROCKS!!!!

AkiTNFOct2010BO

I love being fit and healthy.
I enjoy life so, so much more.
If you haven’t run already, start. At your own pace, safely.

Running rocks!!!!

Picture courtesy of Barbara Oravetz, during my 1st trail running event overseas.
#TheNorthFace100Singapore #Oct2010 #garmin #fr305
Thanks Barbara

Standard
inspiration, motivation, story

Ki, Selamat Ulang- Tahun :) by Bang Aswi

“Ehhh … aku lari tuh mulai 2010, awal 2010. Jadi awalnya Jumat, sebetulnya sudah lama tahu bahwa lari itu olahraga yang mau banget aku lakuin. Cuma karena tahu ada asma dan bronchitis, dan sebelumnya pernah coba lari-lari kecil atau segala macam atau waktu aku sekolah … kayaknya cepet capek. Dari situ saya tahu saya pikir saya udah nggak ada peluang untuk lari. Nah, 2010 itu saya coba konsultasi ke dokter sebelumnya, alhamdulillah ya tersendat sih memang tapi sebulan pertama udah lumayanlah ada progres ya. Yang tadinya seratus meter udah sesak kali ini udah satu kilo dua kilo. Dua bulan kemudian udah bisa lari sepuluh….”

“Check up semua, apa jantung dah, apa tekanan darah dan segala macam, euhhh dokter bilang oke. Tapi belakangan saya tahu bahwa yang dimaksud di pengertian okenya itu bahwa saya larinya emang lari-lari pelan bukan seperti lari-lari yang saya lakuin belakangan ini. Sempet kaget juga tuh si dokternya. Nah itu awal-awal saya lari….”

Di titik ini jemari sosok itu berhenti. Sosok itu mencoba membayangkan apa yang dilakukan salah seorang sahabat dan guru kehidupannya, Aki Niaki . Kata-kata di atas adalah ucapan Aki di awal wawancara sosok itu di sebuah kafe di jalan Burangrang. Masih ada 40 menit lagi hasil wawancara yang belum diselesaikan tentang pengalaman Aki berlari. Masih ada ribuan jam kehidupan Aki yang belum tereksplor untuk dijadikan inspirasi bagi masyarakat luas, tidak hanya bagi yang ingin berlari. Masih banyak rahasia lagi tentang semangatnya untuk mengkampanyekan olahraga lari dan (juga) ngetrel.

Jujur, sosok itu juga punya asma. Jadi dirinya tahu bagaimana rasanya takbisa bernapas dengan wajar. Bagaimana rasanya ‘megap-megap’ saat baru lari beberapa puluh meter. Bagaimana rasanya tersiksa di saat jutaan orang menikmati nyenyaknya tidur. Bagaimana rasanya batuk-batuk hanya dengan melihat embun pada gelas yang dingin. Bagaimana rasanya menjadi orang yang tidak berharga untuk turut membantu kerja bakti (meski hanya sekadar di rumah sendiri) membersihkan debu karena nantinya akan batuk dan kemudian sesak napas. Sakit hati ini mengetahui itu semua.

Sosok itu dikenal ‘sport freak’ saat SMA dan mahasiswa. Basket, volley, sepakbola, bulutangkis, renang, hingga mengenal sepeda dan lari. Gila olahraga karena tahu bahwa inilah salah satu cara agar asmanya tidak sering kambuh dan menjadi beban bagi orang lain. Sepedalah yang dipilihnya kemudian saat sudah berkeluarga dan bekerja. Sampai kemudian dirinya mengenal Aki di pertengahan 2008, di komunitas Blogger Bandung—Batagor. Saat itu dirinya tidak tahu Aki itu pengidap asma. Saat itu dirinya tidak tahu apa agama Aki (maaf). Saat itu Aki belum berlari. Saat itu dirinya melihat Aki yang penuh semangat meski untuk beberapa kegiatan fisik tidak maksimal. Aki selalu aktif di tengah-tengah anak muda yang mayoritas masih mahasiswa. Tapi kemana-mana selalu naik motor.

Hingga kini, semangat Aki tetap sama dan bahkan jauh lebih berkobar lagi. Kegiatan fisiknya semakin maksimal dan prima. Kemana-mana selalu berlari dan tidak lagi kelihatan naik motor. Kondisi fisiknya kini jauh lebih bugar dan segar jika dibandingkan sosok itu di awal perkenalan. Aki bagaikan magnet bagi orang-orang yang ada di sekelilingnya, baik itu di komunitas blogger maupun di komunitas larinya. Aki semacam suri teladan. Padahal dia sudah berprestasi dan terkenal. Namun sikap hidupnya selalu ‘down to earth’. Penuh senyum. Penuh gairah. Penuh rasa kekeluargaan. Pokoknya ada perasaan nyaman saat dekat dengan dirinya. Perasaan yang tidak ingin berpisah. Entah mengapa.

Sampai saat ini sosok itu belum berkesempatan dapat berlari bersama dengan Aki. Usahanya berlari mengalami maju mundur, bahkan lebih banyak mundurnya. Belum satu kilometer tetapi sudah menyerah untuk berhenti. Selalu lari sendiri karena malu kalau harus lari bersama. Aki-lah yang memberi semangat pada diri sosok itu. Aki-lah yang memompa diri sosok itu hingga akhirnya memberanikan diri untuk mau bersepeda sendiri dari Bandung ke Jakarta. Jauh setelah Aki berlari dari Bandung ke Jakarta. Aki tidak tahu akan hal ini. Semangat untuk mencoba lebih berani. Semangat yang membuat dirinya kembali mendekati Aki karena ada satu ‘keajaiban’ di dalam dirinya yang seharusnya bisa dinikmati oleh lebih banyak orang lagi. Keajaiban untuk menjadi inspirasi.

Di depan mata, ada mimpi sosok itu untuk bisa bersama Aki menaklukkan 57 gunung. Entah itu berlari bersama. Entah itu bersepeda bersama. Atau hanya sekadar menyaksikan Aki berlari dengan penuh kebanggaan dan keharuan. Pokoknya ingin menjadi saksi pertama. Sebuah perasaan yang hanya bisa dikeluarkan kalau sudah mengenal siapa Aki sebenarnya. Saat berdiskusi bersama. Saat berkegiatan bersama. Saat shalat bersama. Saat melihat bola matanya yang berembun saat menceritakan masa kecilnya yang penuh perjuangan. Ada banyak cerita yang harus diolah tentang kehidupan Aki agar menjadi buku yang utuh. Buku yang bisa jadi belum dapat menceritakan diri Aki yang sebenarnya. Diri Aki yang kini menapaki usia ke-57 dan terus … dan terus menginspirasi orang-orang yang mengenalnya (atau bahkan belum mengenalnya).

Ki, selamat ulang tahun. Teruslah menginspirasi kami semua…. #pelukerat

Standard
adventure, cerita, kisah, mountain running, olahraga, running, sport, story, trail running, tulisan, ultra running, ultra trail running

Teman- teman Saya Yang Hebat

26 November.
Lapar dan haus teramat- sangat. Tak ada lagi yg bisa dimakan & diminum. Jikapun ada pastinya seketika itu juga keluar lagi. Maaf, dimuntahkan.
Asam lambung sudah kadung naik.
Lemas tak tersisa tenaga sedikitpun.
Duduk letih danĀ  lemah.bersandar dipohon yg tak lagi bisa menahan curah hujan. Sendiri.
Di ketinggian Plawangan, Tempat pendaki bermalam sebelum muncak Rinjani.
Beberapa saat tadi baru turun dari muncak Rinjani. Belasan menit setelah Kang Hendra. Dan lebih lama lagi setelah Kang Rudy.
Kang Rudy tak tahu lagi entah dimana.
Kang Hendra katanya antara Plawangan dan Segara Anak.
Pasrah. Tak ada lagi yg bisa diperbuat.
Belokan turun ke Segara Anak tak juga ditemukan. Sudah belasan kali dicoba,
Sampai, ya sampai tak kuat lagi melangkah.
Dering telpon Kang Hendra ada sekali2.
Pastinya karena signal yang kadang ada kadang tidak. Menanyakan apakah belokannya sudah ditemukan.
Setelah sekian kali dijawab belum, akhirnya jawaban saya terakhir adalah sudah.
Hanya agar Kang Hendra tak lagi mengkhawatirkan saya, dan, sungguh menjawab telponpun sudah tak kuat.
Selang beberapa puluh menit masuk sms/ bbm teman2 mengucapkan selamat ulang- tahun.
Satu, dua, beberapa sekaligus. Belas, dan ya ampun, seperti tersadarkan, bahwa saya punya banyak teman. Banyak sekali.
Tak saya sadari, saya menitikan airmata.
Setelahnya adalah isakan.
Isakan bahagia, karena entah bagaimana mulainya tiba2 saya merasa tidak sendiri lagi.
Tiba2 tersadar bahwa sepertinya ada banyak teman2 yg menunggu seperti apapun kisah2 lari2 gunung saya. Jika ya begitu maka tak boleh diri ini menyerah.
Tiba2 saja saya mempunyai kekuatan lagi.
Kekuatan yg saya yakin cukup untuk bangun, dan memulai pencarian belokan ke Segara Anak.
Ternyata belokan yang dicari hanyalah belasan meter arah utara dari tempat saya semula tadi.
Selanjutnya beberapa jam kami bertiga sudah berkumpul di Segara Anak. Selamat, tanpa kurang suatu apa. Alhamdullillah.
Dua tahun kemudian, beberapa hari kemarin teman2 saya bukan lagi sekedar berlari gunung, tapi berlomba berlari di gunung.
Artinya ada batas waktu yang harus mereka perhitungkan.
Dengan jarak 50km, 102km dan 165km.
Dengan berbagai tingkat pengalaman dan kemampuan.
Dari yang pemula sekali. Sampai yang sudah beberapa kali penamat lomba2 lari trel ultra dimanapun.
Padahal kisah saya diatas hanyalah 30an km saja.
Saya yakin, tantangan, hambatan dan perjuangan mereka pastinya lebih lagi dari saya.
Biaya, waktu, persiapan, cuaca, medan yang sulit dan berbahaya. Tidur yang kurang. Makan dan minum yang mungkin berbeda dengan biasanya.
Tapi begitu besar niat dan keinginan mereka untuk turut di hajatan ini.
Bersukur acaranya selesai dengan, semoga saya tidak salah, berhasil dan selamat.
Teman2, kalian sungguh luar- biasa. Tamat atau tidak tamat kalian telah membuat sejarah.
Langkah menuju Indonesia sebagai salah- satu tujuan hajatan lari trel ultra dunia sudah dimulai.
Tak bisa lagi dihalangi.
Dengan kenyataan bahwa kita mempunyai ratusan gunung, pebukitan dan medan trel dimana- mana, bukan hal yg mustahil berikutnya adalah menjadikan tanah-air sebagai kiblat lari trel ultra maupun non ultra dunia.
Saya yakin dan percaya sekali.
Terimakasih teman- teman, kalian dan apa yang baru saja kalian lakukan merupakan hadiah termanis dan terindah diulang- tahun saya..
Tak terlupakan juga doa dan dukungan dari teman2 yang lain.

Salam,

Standard