bacaan, berbagi, cerita, cerita, kisah, renungan

Saya, Kami, Kita, Tak Hanya Sunda Dan Islam

Terlahir di Bandung, konon kota yang dijuluki Parijs Van Java, Kota Kembang, Kota berhawa sejuk, 60 tahun lalu, yang saya tahu hanyalah ‘kota’ seukuran sepanjang jalan Cigereleng, Mohamad Toha sampai Rumah- Sakit Advent.

Tentunya termasuk jalan Mohamad Toha sampai perempatan Pungkur, bersambung dengan jalan Balonggede, Alun- Alun selatan, Asia- Afrika, Braga dan Cihampelas.

jalan- jalan yang dulu masih dua arah.

Sepertinya rute kompromi Bapak, panggilan kami terhadap Ayahanda, mengantar saya periksa rutin dan berobat karena Asma dan bronkhitis bawaan saya.

Antara rute yang pendek dan sebisa- bisanya agar saya sekaligus bisa mengenal/ menikmati jalan- jalan dikota.

Sejak divonis dokter asma dan bronkhitis bawaan yang di usia tiga bulan nyaris tewas, saya tak boleh keluar halaman rumah sama sekali jika bukan karena ke Advent.

Alhasil sampai usia 5 tahun di Bandung pastinya tak banyak ‘main- main’ dan pengetahuan saya tentang banyak hal.

Saat anak2 sebaya saya main kejar- kejaran atau dikejar betulan oleh pemilik empang yang empangnya dipancing tanpa ijin, saya hanya bisa main mobil- mobilan atau apapun hanya didalam rumah atau pelataran teras. Itupun tak lama.

Tapi ada hal yang barangkali tak mereka punyai.

Dirumah kami ada empat pemuda seberang yang kos.

entah mereka ini kuliah atau bekerja.

yang pasti saya punya lebih empat orang lagi dirumah yang membuat saya ‘ lebih kaya’ dari teman- teman sebaya saya.

Dari mereka saya ‘ pandai ‘ menyanyikan lagu- lagu Batak. Dari mereka pengetahuan saya tak lagi sekitar Alun- Alun, Rumah- Sakit Advent, mobil- mobil panjang station wagon dokter- dokter Amerika di Advent, Cigereleng, sawah dan empangnya, tap juga ada pulau besar selain Jawa. Ada kota- kota lain selain Bandung. Ada danau Toba selain Situ Aksan dan Patenggang.

Saya boleh iri dengan kisah- kisah teman- teman sebaya saya main layangan, seru- serunya main bola. Tapi saya pantas berbangga diri dengan nyanyi- nyanyi Butet dan Dainang, dengan cerita saya tentang pulau Samosir ditengah danau Toba. Dan banyak lagi cerita- cerita seru lainnya.

Dihari pertama Sekolah Dasar saya di SDN Kemanggisan Jakarta, guru dan teman- teman saya pastinya terheran- heran bercampur geli, saat kami bergiliran menyanyikan lagu daerah kami masing- masing, alih- alih lagu Manuk Dadali atau Neng Geulis yang saya nyanyikan ya Dainang tadi 🙂

Menjelang usia SD kami pindah ke Jakarta. Bapak memang sejak saya masih di Bandung sudah bekerja di Jakarta.

Tiba- tiba saja saya punya lebih banyak lagi teman. Berbatas sungai Kemanggisan adalah Kampung tempat tinggal teman- teman sekolah Kampung Kemanggisan. Dideretan rumah kearah utara adalah Dika orang Kuningan, persis belakang adalah Benny yang dari Ambon. Dan beberapa lagi teman, sobat bermain saya.

Berlawanan dengan saran dokter, sejak saya di jakarta Bapak malah putuskan saya harus bermain. Tak lagi mesti dirumah saja.

Seperti di tulisan saya terdahulu, sepertinya bagi Bapak, lebih baik saya, jika memang pendek usia, tak diharapkan tentu saja, tapi bisa mengenyam masa- masa kanak- kanak saya sebaik mungkin daripada panjang usia tapi selamanya diam dirumah.

Diluar waktu- waktu sekolah adalah penjelajahan. Menjelajah dari ujung komplek Slipi di selatan sampai ujung utaranya.

Teman- temanpun semakin banyak dan beragam latar- belakang, suku dan agamanya.

Terlahir dari keluarga Ibunda yang asli Garut dan Bapak yang Jepara dan Banten, saya tak ada Bandung- Bandungnya ternyata. hanya kebetulan saja terlahir di Bandung.

Tapi yang pasti solat dan ngaji sudah diharuskan sejak kecil.
Kakek- kakek dari Ibunda dan Bapak yang Ajengan dan Kyai Haji, sudah pasti mengharuskan saya lebih lagi.

Berkaitan dengan ibadah, Bapak tak memaksakan banyak hal. Cukup solat lima waktu dan mengaji.

Puasa masih boleh saya lewat. Apalagi saat saya seringnya berpura- pura tak kuat 🙂

Tak jauh dari rumah, adalah rumah tetangga yang sering digunakan kebaktian. Ditengah- tengah kami bermain, sekali- sekali kami mampir dan ikut hadir. Hal yang pasti menarik bagi saya karena oh ada hal lain lagi yang berbeda.

Semakin lama, dari hanya sekedar melihat- lihat, kemudian sepenuhnya menyimak sampai turut membaca kitab.

Tak sedikit pertanyaan yang muncul, tapi saya yakin sedikitpun tak merubah akidah saya.

Menjadi tambahan pengetahuan saya bahwa ada iman dan kepercayaann yang lain.

Saya tetap bermain dengan siapapun dari suku, agama dan kepercayaan manapun.

Saya tetap solat dan mengaji.

Kepindahan kami berikutnya ke Pasar Minggu, ke komplek Garuda, persis setelah kenaikan kelas ke kelas 5.

Lagi- lagi yang kami temui tak hanya tetangga- tetangga berbeda suku dan agama, tapi juga bahwa hubungan kami dekat.

Persis depan rumah adalah dua kakak beradik Tante Lily dan Liana.

Dua bersaudara pekerja yang selalu mengajak saya untuk ikut mobil mereka setiap pagi sekolah.

SDN Duren Tiga sekolah saya memang terlewati arah ketempat mereka kerja.

Masa- masa suka dan senang saya pun berlanjut saat setelah kenaikan kelas ke kelas enam.

Kembali ke Bandung.

Dandanan main saya tak berubah, celana pendek yang seringnya berwarna lebih gelap dari hemd lengan pendek saya. Hemd yang tak pernah terlewat, terkancing sampai lubang kancing teratas 😊.

Hanya sekarang selalunya ditambahkan pullover agak tebal. Bermotif jika tak garis- menyamping atau kotak kotak.

Akhir tahun lalu Alhamdullillah saya berkesempatan bertemu dengan salah- satu anak keluarga Tionghoa, keluarga pengusaha industri rumahan tas- tas kerja dan sekolah.

Tetangga sederetan. Hanya terhalang dua rumah.

Dirumah keluarga mereka yang sama, dan usahanyapun masih yang sama.

Jalan Taman Siswa atau dikenal juga dengan jalan Bonteng

Rumah usaha mereka tempat kami anak- anak usia sekolah, salah- satu tempat kami ngabuburit saat ramadhan dengan melihat tukang- tukang bekerja. Seringkali kamipun ikut mengerjakan bagian- bagian yang mudahnya.

Masih dijalan yang sama, berseberangan, adalah keluarga Sigarlagi. Teman sekaligus nyaris lawan bsrkelahi saya 😊.

Saat mereka pindah ke Gegerkalong akhir enampuluhan saya sempat mengantar.

Terasa jauh tak sampai- sampai. Siapa nyana puluhan tahun berikutnya kembali menjadi tetangga lagi di Gegerkalong.

Masa- masa indah kami.

Tak kami pusingkan, suku atau agama dan kepercayaan apapun.

Bandung, juni 2017

Bersambung..

Advertisements
Standard
berbagi, fit, healthy, running, sehat, sport, trail running, tulisan, ultra running, ultra trail running

I’m Saving My Life

image

Satu tahun kemudian lari2 setiap hari masih sebagai therapi asma saya.
Artinya jika dijalankan Alhamdullillah asma tak menyapa.
Asthma controller pun bisa dikesampingkan.
Sebaliknya, jika tak dilakukan rutin, seperti yg saya coba belakangan ini, dgn niat agar tak terlalu bergantung pada lari- berlari, Alhamdullillah ketemu lagi:)
Dan asthma controllerpun ambil alih kendali.
Tak ketinggalan sang inhaler urun rembug untuk setiap serangan yg ‘berhasil’ lolos dari sang asthma controller.
Serangan yang lumayan menguras tenaga. Serangan yang meluluh- lantakan pertahanan diri.
Saluran nafas yg menyempit, menyesakkan dada, amat sangat dekat pada  cekikan yang mematikan.
Seringkali membuat saya heran dan takjub; anak- anak pengidap asma. Bagaimana usia- usia kanak- kanak mengatasinya, jika se usia ‘dewasa’ saya saja sudah dibuat repot.
Sedikit berbeda , dan harus saya syukuri, jika tak dikatakan ‘kemajuan’ adalah, sekarang saya bisa kurangi porsi larinya ke separuhnya. Jadi dari yang selalunya 10k, menjadi 5k setiap hari. Alhamdullillah.
Artinya saya tak terlalu tergantung sekali dgn angka 10k.
Tak berarti saya tak suka banyak- banyak lari.
Sebaliknya malah.
Saya sukaaa sekali lari. Saya jatuh cinta kepada lari.
Lari, olah tubuh, aktifitas luar ruang, yg, pada dasarnya mengandalkan hanya badan/ tubuh kita saja.
Keren.
Lari.
Saat saat saya merasa ‘peduli’ dengan jiwa dan raga saya. Saat saat saya pribadi. Me time.
Saat saat saya menemukan ilham, ide, inspirasi. Hal- hal yang mencerahkan.
Saya rindu akan lari- lari jauh saya. Sendiri atau bersama yang lain.
Belasan k, half atau bahkan fullmarathon.
Apalagi lari- lari ultra.
Spontan lari keluar kota. Lari- lari muncak gunung. Atau membelah pulau, dari pantai diujung yang satu, ke pantai diujung seberangnya.
Jadi saya beruntung sekali. Jika memang lari adalah therapi asma saya, maka dengan amat sangat senang sekali saya lakukannya.
Rupanya ada hal lain yang harus saya pelajari.
Belajar untuk tetap terhindar dari kambuhnya asma tanpa terlalu bergantung kepada lari- berlari.
Jadi jika pun toh saya lakukan lari- berlari saya, memang karena menjaga sehat dan suka saya.
Bukan karena hanya menghindari kambuhnya asma.
Semoga saya dimudahkan untuk mencoba tetap bisa berlari, sampai tak mungkin lagi.
Aamiin.
Salam:)

Standard
adventure, cerita

Lari Gambung – Cileunca – Banjaran, Dan Monster Steak

Tak menunggu lama sang monster steakpun tersaji.

Iyalah, wong medium rare. Disamping memang sudah liwat jam- jam makan siang juga.
1, ya satu, kilogram has dalam tergolek cantik manis menggoda di.. piring sih, tapi berbentuk pipih segi empat, berukuran tak biasa, selebar serbet makan  berbahan damas. Diatas meja didepan saya.
Sementara si akang waiter seperti yang sudah saya duga, terheran- heran.
Pendampingnya kentang  & salad. Agak tak biasa, kentangnya dibuat kripik, bukan tumbuk atau frenchfries.
Di salah- satu resto dari yang banyak berderet sepanjang jalan Riau.
Dan salah- satu menunya adalah Monster Steak.
Asli 1 kilogram has dalam. Jika mau mereka bisa timbangkan dulu sebelum disiapkan.
Persis beberapa saat, sebelum perlahan tapi pasti, akhirnya sampai ke potongan terakhir monster steak saya, Akang manager tiba- tiba muncul didepan saya.
“Damang Kang?”
“Alhamdullilah Kang, moga sama juga”..
Sapaan ramahnya berlanjut dengan,” Kang, anak- anak( maksudnya waiters) pada taruhan, Akang bisa ngabisin ga ..”.
” 🙂 “.

salah- satu dari beberapa menu lainnya yang monster- monster juga, biasa dipesan untuk 4 orang.

Itupun masih 250 gram per orangnya.

Pagi hari sebelumnya saya memulai lari- lari sendiri saya. Start di ketinggian 1400m Kampung Gambung. Dilereng Gunung Tilu. Masuk kabupaten Ciwidey. 35km selatan Bandung.

Trek melipir dikaki gunung Tilu. Arah danau Cileunca. Kemudian lanjut menurun kearah Banjaran.
60an k.
Hanya sedikit porsi disiapkan untuk sang monster ini setiap harinya..
Salah- satu dari promo mereka.
Harganya super murah untuk seukuran  raksasa ini.Berkualitas baik. Saya tahu sekali.
Jika disatu tempat saya ragu dengan daging steaknya saya cukup pesan blue rare atau rare. Minta hanya di marinade sebelumnya dengan garam laut, sedikit merica dan oregano. Mutlak saus dipisah. Jika menolak, artinya daging mereka jelek. Jika ya, boleh berharap baik 😉 .
Tak sedikit yang mengharuskan kita merogoh kocek sampai nyaris 100an ribu untuk 125 gram steak .  Bukan has luar. Apalagi has dalam. Padahal dikelas Warung Steak biasa.
Dengan banyak lemak disana sini.
Cukup mereka marinade lama sebelumnya dengan bermacam- macam bumbu. Semakin semarak, semakin aneh, semakin ‘tertutup’ jeleknya sang daging.
Istilah saya untuk ini adalah ‘ Daging bumbu’.
Tak berarti tak ‘enak’. Sebaliknya. Buktinya banyak warung- warung steak( yang sekarang sudah menyebut diri Steak Resto atau ada yang berani dengan Steak House) laku. Selalu penuh.
Padahal ya daging bumbu tadi. Daging yang bukan ‘daging’. Jadi yang ‘enak’ adalah bumbu- bumbunya. Dan sang daging hanyalah sekedar media.

Dikita, asal pedas, panas, di goreng atau bakar, apapun bisa jadi enak. Sekedar aci( tepung tapioka) pun diburu. Cireng kan?
Sekali waktu saya antar seorang klien, yang minta dibuatkan resto & cafe, coba menu steak ke beberapa tempat di Jakarta. Mulai dari kelas Warung Steak sampai Steak House sekelas O*tb@ck.
Disalah- satu, lokal, amat sangat terkenal, kami pesan 3 ( tiga ) menu steak, dengan tingkat kematangan berbeda( rare, medium, well done), lokal, US & NZ. Seperti tertera di menu.
Kami temui, ketiganya dari bagian sapi yang sama dan lokal. Disiapkannya saja yang berbeda. Jangan- jangan dari satu sapi yang sama.
Ditambah adegan mencelatnya garpu saya 😛 .
Harganya? Tahun 2004an, 75rb sampai 125rb, umtuk 125 gram? tak sepadan.

Bersambung

Standard
Uncategorized

Asap rokok dan Silaturahmi

Asap rokok & silaturahmi.
Berempat bersahabat sejak awal 70an. Sampai saat ini masih sekali- sekali kumpul. Masih berhubungan baik.
Hanya, salah- satu dari kami masih merokok. Bagi dua yg lain, yg satu tak pernah, yang satu lagi mantan perokok seperti saya, sepertinya tak terlalu mengganggu.
Hal sebaliknya bagi saya. Sedikit saja asap terhirup, langsung sesak nafas menyergap.
Bukan tak pernah berusaha mengatasinya. Setiap kumpul selalunya saya dan teman perokok ini duduk berseberangan. Terjauh.
Tak jarang pula kami berpindah posisi, tergantung arah angin.
Tentunya tak mungkin saya meminta dia untuk tak merokok. Sebagai mantan perokok dengan 2
bungkus tanpa filter sehari, ditambah 1 pak 50 gram tembakau lintingan, yg habis dalam 2- 3 hari, saya pastinya mahfum.
Tak berpengaruh terhadap sikap saya ke sang teman. Tetap baik2 saja. Tapi menjadi hambatan bagi saya untuk bisa kumpul2 tentunya.

Banyak pencetus asma saya teratasi dengan lari2 10k setiap hari. Alhamdullillah.
Tapi tidak sepertinya sang asap rokok 😦 .
Selamat pagi, selamat hari jumat 🙂

Standard
cerita, kisah, renungan

In Running We Trust

Setiap pertanyaan, ” kalo ga lari ga enak ya. Kaya ada yg ilang ato ga enak badan gitu?”.
Selalunya saya jawab, ” Ga koq. Biasa aja. Sukaaa banget lari. Tapi kalo lagi ngga ya biasa aja”.
Sekarang harus saya tambah dengan penjelasan, bahwa kalau tak rutin lari setiap hari, dan tak sampai  10an k, ” Selamat datang asma”..

Seingat saya, selama usia saya berlari, sejak awal 2010, bisa dihitung dengan jari serangan asma saya.
Kalaupun ya, cukup dengan mulai lari, hitungan belasan menit sudah dadah dadah asma.
Seberat apapun serangannya, tak pernah saya gunakan inhaler.
Awal 2012 jika tak salah, serangan asma, setelah flu berat. Di Singapura. Pertama kalinya sang dokter di singapore menuliskan inhaler pada resepnya.
‘Beruntung’ tak pandai menggunakannya. Jadi sama sekali tak saya gunakan, karena tak semudah menggunakan ventolin, seperti yang saya tahu dari anak saya, mantan ‘pengguna’.
Sekian tahun berlalu lagi. Lagi tanpa kehadiran asma dan ventolinnya tentu saja.
Sampai… 2-3 bulan lalu. Entah dengan alasan apa, padahal sibuk- sibuk sekalipun tidak, lari- berlari saya  bolong- bolong. Sering hanya kisaran 5an k. Lari- lari jauh pun jauh berkurang.
Saya mulai agak sering batuk- batuk. Yang ujung- ujungnya apalagi kalau bukan sesak.
Biasanya menjelang berangkat tidur sesak- sesaknya mulai.
Keluar kamar, duduk 30- 60 menit, setelah reda baru kembali kekamar.
Mulai dari  2- 3 hari sekali, akhirnya setiap malam begitu.
Minggu pertama puasa saya putuskan periksa dokter. Kali ini saya terfikir mau gunakan ventolin.
Kejutan yang luar- biasa menyenangkan.
Srotttt lenyap seketika sesak2nya.
Semoga yang menemukan masuk surga. Aamiin.
Jadi, isi kantong atas backpack hari2 saya bertambah.

Hari demi hari berlalu. Ndilalah serangan asma semakin laju.
Dari yang semula  sehari satu, lah koq ini malah semakin seru?

Tadi malam rupanya ventolin sudah final tak mau lagi bekerja sama.
Ga ngaruh kalau teman2 bilang.
Tidur bukan lagi sulit tapi mustahil.
Sesak semakin menggila.
Pukul 2 dini hari, sendiri saya putuskan ke UGD.
Berusaha tenang, karena pastinya akan ada dokter yang bisa tanganinya.
Ohya, soal UGD ini, saya tak pernah sulit.
Di lari2 jauh saya, saya selalu siap untuk cari UGD terdekat. Jika darurat kelelahan atau apapun lainnya.
Daftar, nama, alamat. Duduk, zap! Masker nebulizerpun terpasang. Setelah tarikan pertamapun sudah terasa plong. Alhamdullillah.
Kembali ke kamar dengan dua macam obat. Anti alergi dan anti radang.
Sampai dikamar, setelah sempat belasan menit tidur bangun tidur bangun,  rupanya sesak- sesaknya berulang.

Jam 6 kembali saya putuskan ke UGD lagi.
Persis sama dengan sebelumnya. Kali ini ditambah suntik dan.. setelah saya ceritakan riwayat asma saya, ditambah juga tanya- jawab seperti ini,

Saya, ” Dok, jadi, obat atau terapi apa yang sesuai bagi saya?”.
Dokter,” jika ada, aktifitas apa yang paling membuat Bapak nyaman, tenang dan menyenangkan?”.
Saya, “???.. Lari trel Dok”.
Dokter, ” Case closed!”.

Standard
cerita, running, story, trail running, tulisan, ultra running, ultra trail running

kehidupan yang warna- warni, lari dan asma abadi

WaistPack

jika perjalanan hidup adalah kumpulan dari hal2 yang baik, hebat, menyenangkan, berkelebihan dan keberhasilan. Barangkali bisa di ibaratkan seperti berlari dari start sampai finish dengan pace yg cepat menakjubkan, tanpa lelah sedikitpun. Di trek yg super mulus, udara bagus dan tanpa sedikitpun lapar dan haus.

Ada saat- saat  bisa pergi  main dari pagi sampai sore tanpa larangan orang- tua. Ada saat- saat tak boleh keluar rumah bertahun- tahun karena anjuran dokter.  Juara kelas berturut- turut dalam satu kurun waktu.  Saat lain raport tampil menyala dengan 8 angka merah.
Disaat yang satu rajin mengaji rajin belajar, sampai lupa padahal sedang libur. Disaat lain menjadi biang kerok perkelahian antar kampung.
Sebagian saat- saat sma adalah saat- saat tertawa lepas dalam keseharian bersama teman2. Sebagian lain adalah buru- buru menjauh dari kerumunan, menyembunyikan batuk asma yang sama sekali tak indah didengar.
Berlari mengajarkan kepada saya, bagaimana suatu minus, keburukan, kekurangan atau kerugian sepanjang hidup, yang hampir seperti kutukan, bisa menjadi sebaliknya. Bisa berdamai dengannya.
Asma saya  bisa jadi abadi, tak hilang sepanjang hayat saya.
Tapi dengan berlari, saya belajar mengendalikannya. Belajar bagaimana mengurangi pencetusnya.

Bagi teman2 pengidap asma seperti saya, tak usah kecil hati. Yuk kita coba untuk berlari.
Bisa jadi lari2nya saat ini bercampur  dengan berhenti berulang- kali. Tapi, sedikit demi sedikit tapi pasti , kita akan sampai pada titik ” Yes! i did it!” . Akhirnya bisa lari2 rutin sekian puluh menit setiap hari. Atau jika diinginkan bahkan sampai berlari trel ultra muncak Rinjani.
Selamat pagiiii 🙂

 

 

 

Standard
event, motivation, running, sport, story

Proudly Asthma Runner by Gita Ayu Pratiwi

 

Image

Menjalani hobi berlari sungguh tidak pernah terlintas di benak saya dulu, maksud saya sebelum 3 bulan lalu. Saat itu saya baru melahirkan dengan parut luka caesar di perut. Bayi saya usia 3 bulan dan masih kuat-kuatnya menyusu asi. Mau jogging cepat sedikit saja, rasanya ngeri sekali. Takut jaitan lepas, kata saya. Tapi sejatinya, jogging justru membantu luka caesar saya cepat pulih dan kondisi rahim kembali sehat pelan-pelan. Ya, apa sih pengaruh buruk olahraga? Sepertinya tidak ada.

Hari-hari jogging saya ternyata berbarengan dengan kesukaan baru suami. Bukan gadget, bukan pertandingan bola. Entah darimana asalnya, tiba-tiba suami saya jadi sangat hobi sekali berlari. Saya pikir ini hanya euphoria semata. Seperti hobi-hobi kagetan dia sebelumnya, sebentar datang sebentar pergi. Ya karena sayang suami, saya dukunglah hobi berlarinya ini. Maka melangkahlah kami bersama tiap ada waktu luang. Saya diseret-seret untuk menapaki jarak 2 kilometer minimalnya sehari. Akhirnya saya sendiri yang kecanduan. Tidak perlu ada dia, 2 kilo saya kunyah sendiri. Tentu saja dengan kaki saya. Hehe…

Berlari yang awalnya saya lakukan hanya di selingkaran rumah, akhirnya meluas ke lomba-lomba lari. Agak nekad memang. Karena saya biasanya cuma lari 2 km, sementara lomba-lomba lari memasang target 5 km sebagai batas minimal. Perlu diketahui, saya ini mengidap asma akut. Dan saya juga seorang yang penakut. Artinya, mau apa-apa minder. Belum ikut lomba aja galaunya udah nggak juntrung. Tapi partner saya memang lebih “sakit” sih daripada saya. Saya belum kasih jawaban bersedia ikut atau tidak, suami saya malah sudah daftar. Dan pulang-pulang dia sudah bawa race pack untuk 2 orang. Nah kan, saya diseret-seret kan?

Lomba pertama kami adalah lomba gratisan dari Istana Negara, acara 17-an. 8 km target jarak yang ditentukan. Beberapa hari sebelumnya kami berlatih, semacam gladi resik. Hebatnya, saya kuat berlari 10 km dengan interval di komplek kampus Universitas Indonesia-Depok, seminggu sebelum hari H. Tugas terberat suami saya seminggu terakhir itu adalah memdorong saya supaya tetap mau ikut lomba itu. Bukan untuk menjadi pemenang, katanya, tapi untuk membuktikan bahwa kita bisa. Yaah, betapapun saya menolak, tetap saja dia bawa saya ke lomba itu.

Mau tak mau, larilah juga kaki saya ini. Dimulai dengan start yang berduyun-duyun dengan ratusan orang lainnya. Konon, acara lari gratisan ini diikuti oleh 45.000 peserta dari segala macam kalangan. Lebih mirip seperti “jalan sehat” perasaan saya saat itu. Karena saya juga tidak diliputi perasaan berkompetisi. Langkah saya baik-baik saja, hanya nafas yang kadang tersengal.

Track Istana-Sudirman-Monas akhirnya berhasil kami selesaikan dengan tenang dan damai. Tidak ada medali, karena medali hanya untuk 1000 finisher pertama. Jelas, kapasitas speed saya masih belum mumpuni untuk sebuah lomba lari 8 km. Tapi tidak apa, saya cukup senang. Masih ada pisang gratis dan air putih, loh bukan, maksudnya saya bangga karena saya berhasil finish hari itu. Paling tidak saya tidak berhenti di tengah jalan dan minta pulang.

Di depan mata sudah terpampang jadwal lomba lari selanjutnya. Tertulislah King Of The Road 2013. King Of The Road adalah kejuaraan lari yang diadakan di Asia Tenggara. Diselenggarakan di 5 negara yaitu Thailand, Singapore, Indonesia, Phillipines, dan Malaysia. Tracknya dijalankan di area kota. Di Indonesia diadakan di pemukiman elit BSD, Tangerang, Banten.

Galau saya kambuh. Stres datang. Saya sampai masuk Rumah Sakit karena anxiety saya. Bukan, bukan karena takut tidak jadi juara King Of The Road (KOTR). Tapi karena keluarga saya ditimpa masalah yang membuat saya shock dan trauma berat. Untuk hal ini, saya menggantungkan kejiwaan saya pada obat penenang resep dokter. Saya sempat maju mundur tentang KOTR. Padahal tenggat waktunya tidak sampai sebulan. Saya merasa hati saya belum sembuh, dan bagaimana mungkin saya bisa lari kalau hati saya masih berdarah-darah.

2 minggu menuju KOTR dan saya tidak ada persiapan matang. Saya makin sering diserang asma. Insomnia, anxiety masih menghantui. Race pack sudah tiba. Tapi boleh percaya atau tidak, dengan hanya melihat race pack saja, hati saya membungah pelan-pelan. Saya penasaran lagi sama yang namanya lari. Lagipula kaki yang saya pakai lari sama sekali tidak ada hubungannya dengan hati, pikir saya. Ya nanti kalau mau galau lagi setelah lari, bolehlah. Tapi larilah dulu! Ini event besar, nikmatilah! Begitu suara dalam diri saya.

Mas Suami juga tak henti menyemangati. Katanya momen berlari ini adalah untuk mengukuhkan kemesraan kembali dengan istrinya, yang tak lain adalah saya. Gombal sih, tapi ya sudahlah. Saya tak ada daya upaya ketika Minggu, 29 Sptember 2013 pukul 4.45 dini hari itu kami bergerak menuju BSD, menjawab tantangan KOTR.

Kami tiba di kawasan parkir 1 menit sebelum mulai. Dan baru kami sadari tempat kami parkir berjarak kurang lebih 1 km dari start line. Tergopoh-gopohlah kami demi melihat peserta-peserta lain sudah berlarian. Asma saya mulai mengganggu. Badan saya seperti kaget. Tidak stretching, tidak pemanasan. Tapi hasrat, ternyata masih menyala-nyala.

Sepertinya kami mulai 5 menit lebih lambat dari waktu yang ditentukan. Begitu melewati garis start, pertarungan saya dengan diri saya sendiri dimulai. Semua anxiety saya hilang entah kemana. Kilo per kilo, saya lebih banyak berlari dengan menatap aspal. Saya merasa memasuki diri saya lebih dalam, saya merasakan banyak hal. Entah apa. Galau itu hilang semua. Tapi serangan asma, seperti sejuta kali memukul dada saya. Untung saja senjata inhaler saya masih ampuh melawan.

Interval lari dengan perbandingan 1:1, yaitu 1 menit berlari non stop kemudian 1 menit berjalan, sering kali saya langgar. Menuju 5 km saya mulai payah. Saya bisikkan semua kata-kata sakti untuk mendorong diri saya maju lagi. Tawaran berhenti sudah keluar beberapa kali dari mulut suami. Tapi, saya tidak datang sejauh ini untuk berhenti dan selesai tanpa usai.

Di sekeliling saya, banyak juga yang sedang kepayahan. Macam-macam cara mereka memotivasi diri. Ada yang nyanyi sambil teriak-teriak, ada yang lari dengan langkah kecil tapi “nyeruntul” terus alias tidak berhenti, ada juga yang berhenti sesekali untuk memijit kakinya. Banyak lagi. Saya sudah seharusnya tidak egois dan menyerah begitu saja. Bukan hanya saya yang sedang diuji kekuatannya. Setiap orang punya masalah masing-masing dan belum tentu masalah mereka tidak lebih berat daripada saya. Begitu juga kehidupan ini.

Setelah titik 8 km, saya mulai deg-degan sendiri. Dagdigdug karena saya hampir tidak kenal diri saya lagi. Saya sudah lari 8 km! Siapa tuh?! Saya? Haha! Yap, saya tidak datang untuk menjadi peserta yang disebut-sebut berhenti di jalan karena menyerah. Saya tidak datang untuk menjadi peserta yang diantar pulang dengan ambulans karena asmanya parah. Saya datang untuk memenangkan diri saya dari asma dan sesak saya. Saya mau dikenal sebagai peserta yang berhasil masuk garis finish meskipun asma. Dan meskipun saya punya segudang galau dan gundah.

Maka saya tidak berhenti sama sekali. Saya tidak mengizinkan kaki saya untuk berhenti melangkah. Walaupun itu langkah lelah, tapi saya pastikan saya tidak kalah. Menatap lagi ke bawah, melihat lebih jauh lagi ke dalam diri saya. Ya, saya memang berlari untuk melarikan diri saya. Tapi semata bukan untuk pergi. Tapi untuk menguatkan kaki-kaki saya lagi, menguatkan diri saya lagi, dan kemudian mengembalikan kepercayaan diri saya untuk kembali. Bahwa saya bisa, saya mampu.

1 km terakhir, medan menjadi terasa amat berat karena pergelangan kaki mulai teriak minta tolong. Belum, belum saatnya berhenti, bisik saya. Gapura finish sudah terlihat. Ini yang saya cari dari tadi. Pendekatan 10 km hanya untuk melihat si gapura cantik ini. Berlari 10 km hanya untuk menembus garis finish yang manis ini.

Lari saya tak henti. Saya genjot kaki saya yang perih. Ada tangis dalam hati. Tangis bahagia. Tangis bersyukur yang air matapun enggan tumpah. Mata saya terpejam. Tak sanggup saya lihat sekeliling. Ini adalah momen saya, yang saya tak mampu beli dimanapun, tak tergantikan oleh apapun.

Tiba-tiba sebuah tangan meraih jemari tangan saya. Dia, Mas Suami. Yang darinya berasal rasa senang sekaligus sakit. Dialah guru besar saya. Yang menjatuhkan saya, kemudian membangkitkan saya kembali. Bersamanya saya lewati garis finish. Saya, dengan asma saya, alhamdulillah berhasil melewati garis finish setelah berlari 10 km. Sungguh, tak terperi.

Medali melingkar di leher. Bangga sekali. Saya pulang dengan senyum yang tak henti mengembang. Tersipu-sipu pada diri saya sendiri. Malu rasanya, selama ini mengeluh. Malu rasanya, selama ini selalu bilang “Nggak mungkin.”  Lebih malu lagi waktu Mas Suami menunjukkan hasil record time kami yang dikirimkan panitia KOTR via email. Saya ada di peringkat 1003 dengan catatan waktu 1 jam 40 menit.

Saya mungkin bukan juara KOTR. Ya, saya tidak naik podium. Saya juga tidak tergabung dengan club lari manapun. Saya berlari bukan untuk mengalahkan siapapun. Ada musuh yang lebih besar dalam diri saya. Asma dan anxiety. Dan selama nafas ini masih menempel di jiwa raga, saya tidak akan berhenti.

Image

Gita Ayu Pratiwi

Standard