tulisan

Belajar Gambar Saya

Mungkin karena sampai usia pra sekolah saya tak boleh keluar rumah jika tak harus, tinggal di Bandung, menggambar menjadi kesukaan saya yang utama. Tema gambarnya tak jauh2 pastinya dari yang terlihat dari rumah.
Diantaranya pesawahan, pepohonan dan kebun tetangga.
Terhalang satu rumah tetangga disebelah kanan adalah hamparan sawah.
Daerah jalan Moch.Toha, tepatnya Cigereleng, akhir 1950 masih pesawahan.

Asma dan bronkhitis bawaan lahir mengharuskan saya tetap dirumah, jika tak perlu2 sekali. Semisal ke Advent(Tuh berarti sejak tahun akhir 50an lalu saya sudah akrab dengan sang rumah sakit ini😁).

Suka2 gambar saya berlanjut sampai ketika sudah pindah ke Jakarta.
Rumah pertama kami di Jakarta adalah bangunan berdinding bilik berlantai tanah.
Disepetak tanah dilokasi Gelora Bung Karno sekarang.
Gambar2 saya diantaranya buldozer. Lho?
Ya buldozer.
Saya begitu terpana melihat beberapa mesin besar berwarna mencolok. Pastinya bertenaga besar. Mendorong sana sini, angkat sejumlah tanah dari satu tempat untuk kemudian dipindahkan ketempat lain.
Sementara Ayah lebih sering termangu melihat aksi sang buldozer ini.

Kelak setelah kepindahan kami ke Baturaja saya menemukan kosakata baru, penggusuran.
Baturaja, persis dibelakang Hotel Indonesia sekarang, adalah lagi2 bangunan berdinding bilik berlantai tanah.
Bedanya jika yang di senayan Ayah beli, kali ini mengontrak.
Perbedaan lain lagi, tak ada lagi pemandangan yang agak jauh. Kedepan belakang samping kiri dan kanan adalah gang, rumah2 tetangga dan sungai kecil.
Lengkap dengan kakusnya😁.
Tak ada lagi obyek2 gambar alam.
Beruntung salah satu tetangga kami adalah kakak sepupu. Beruntungnya lagi dia pandai menggambar.
Kali ini alam tak menyediakan diri menjadi obyek gambar saya tapi seolah memberi pilihan lain dengan kesukaan dan kepandaian sang kakak sepupu menggambar perempuan2 tak berbusana😁.
Bayangkan, usia balita gambar2 saya perempuan telanjang.
Sepupu yang tak hanya dianugerahi kebisaan gambar tapi juga jahil.
Keinginan besar saya belajar gambar dan jahilnya sang kakak sepupu wujudnya adalah saya harus terlebih dahulu tampil ingusan keliling2 depan rumah dengan panci butut ditulisi PM,Polisi Militer, yang harus saya pakai seolah topi baja, sebagai syarat belajar gambar kepadanya.

Jika tak salah 2 tahun kemudian kami pindah ke Slipi.
Alhamdullillah penggusuran rumah di senayan mendapat ganti rumah di Slipi.
Rumah paling indah didunia.
Rumah berlantai ubin.
Kamar2 berpintu kayu dan berdinding tembok.
Atapnyapun genteng.
Kami tak harus lagi keluar rumah bawa payung jika mau buang hajat saat hujan😁.

Masa SD saya di Slipi adalah juga masa belajar gambar saya berikut.
Kali ini guru gambar saya adalah 5, ya 5 bersaudara kakak sepupu saya lainnya. Semuanya pandai menggambar.
Dari mereka saya belajar diantaranya bahwa menggambar tak mesti persis mirip tapi detil. Arsir dan lain lain dan lain lain.
Sayangnya kali ini tak lagi bisa sering2 belajarnya, karena mereka tinggal diujung selatan kota. Kebayoran baru.
Obyek gambarpun berubah lagi. Pohon2, benda2 tehnik. Jikapun perempuan, kali ni berbusana😁.

Masa masa sekolah sampai sma belajar2 gambar saya tak lagi banyak.
Suka sukanya sudah bertambah dengan main main jauh jauh dan lama. Menjelajah sampai kampung kampung tetangga.
Saat sma bahkan ke Bali nyaris tanpa bekal uang.

Sampai sekarang saya masih suka menggambar.
Sebagian sebagai pengisi waktu luang pun sebagian jika harus sebagai periuk nasi saya.
Ohya gambar gambar diatas bukan gambar gambar saya tapi coretan coretan sang anak sulung, kakak.
Sepertinya dia lebih berbakat dibanding saya😊😁

Standard
design

IT’S MINE.

MiniVeloAllBlack

Akhirnya, setelah dua postingan berjudul Mini Velo, desain diataslah yang menjadi edisi pertama Mini Velo saya yang Inshaa Alloh masih agustus 2018 ini diluncurkan.
Tak lagi hanya gambar- gambar cantiknya saja yang beredar di layar kaca 🙂

250 watt, 36 volt Electric Mini Velo. Pedelec sekaligus E-Bike. 8 speed Internalgear hub dan Carbonbelt drive. Ga Pake Rante! 🙂

Continue reading

Standard
sepeda

​BE SMART BE HEALTHY

Ada pilihan menarik bertransportasi  di Bandung. Bebas macet dan tak begitu ngaret, sedikit berkeringat tapi sehat. Kan katanya, “Kebaikan Demi Kebaikan Menghampiri Orang2 Yg Berkeringat” 😊.

Semisal saya, dari rumah diutara Bandung hendak ke  Alun2 atau lokasi lain dimanapun di kota.

Ratus meter jalan kaki sampai jalan Setiabudi. Naik angkot jurusan manapun yg melewati atau dekat2 ke shelter/ dock BOSEH ( smart bike share).

Dock/ shelter terdekat dari saya adalah yang berlokasi di Mesjid Cipaganti.

Berarti saya ambil Angkot Kalapa Ledeng. Turun di Cihampelas/ Sastra.

Lanjut jalan kaki kearah barat ke jalan Cipaganti.

Sampai di dock/ shelter, tempel kartu BdgETransport, masukan pin, ambil kartu, tarik keluar sepeda.

Lanjut gowes kemanapun mau. Ke dock/ shelter manapun yang terdekat ke tujuan.

Tempel kartu, masukan pin, ambil kartu, masukan lagi sepeda, klik, selesai.

Demikian juga dengan pulangnya atau mau lanjutkan kemana lagi?

Keren ya 😊

Jangan lupa bawa helm, tumbler dan headlamp.

Siapa tahu, keasikan gowes, atau memang perlu sampai  malam menjelang 😊.

Yuk buat kartu BdgETransportnya.

Info: 022 5220768.

@dishub_kotabdg

dishub.bandung.go.id

Standard
bacaan, review, tulisan

Hotel Malaka Bandung

malakavalkenet

Hak gambar ada pada Sudarsono

 

Jalan Malabar, Halimun, Wayang dan sekitarnya adalah area bermain saya. Bandung tempo akhir 60an.

Cuaca pagi yang masih berembun. Dan pullover pun selalunya menjadi kelengkapan setiap pagi harinya.

Siapa sangka hampir 50 tahun kemudian saya berkesempatan masuk eh bahkan menginap dibangunan yang dahulunya adalah  fabrik roti dan kue Valkenet.  Salah- satu fabrik roti dan kue di kota Bandung, selain Merbaboe, Maison Bogerijen, Maison Vogelpoel, Lux Vincet, dan lain- lain. Didirikan oleh orang Belanda.  Ada juga yang didirikan oleh orang-orang Tionghoa seperti Jap Tek Ho, Khoe Pek Goan, Tan Kim Liang, dan lain- lain.

 

Bangunan fabrik roti dan kue yang dahulunya punya kisah,”Siapapun yang melewatinya dan bisa mencium wangi roti/ kuenya boleh mendapatkannya cuma- cuma”, kini adalah Hotel Malaka.
Bangunan minimalis, di desain oleh arsitek senior kenamaan Tan Tjiang Ay.

Continue reading

Standard
bacaan, berbagi, cerita, cerita, kisah, renungan

Saya, Kami, Kita, Tak Hanya Sunda Dan Islam

Terlahir di Bandung, konon kota yang dijuluki Parijs Van Java, Kota Kembang, Kota berhawa sejuk, 60 tahun lalu, yang saya tahu hanyalah ‘kota’ seukuran sepanjang jalan Cigereleng, Mohamad Toha sampai Rumah- Sakit Advent.

Tentunya termasuk jalan Mohamad Toha sampai perempatan Pungkur, bersambung dengan jalan Balonggede, Alun- Alun selatan, Asia- Afrika, Braga dan Cihampelas.

jalan- jalan yang dulu masih dua arah.

Sepertinya rute kompromi Bapak, panggilan kami terhadap Ayahanda, mengantar saya periksa rutin dan berobat karena Asma dan bronkhitis bawaan saya.

Antara rute yang pendek dan sebisa- bisanya agar saya sekaligus bisa mengenal/ menikmati jalan- jalan dikota.

Sejak divonis dokter asma dan bronkhitis bawaan yang di usia tiga bulan nyaris tewas, saya tak boleh keluar halaman rumah sama sekali jika bukan karena ke Advent.

Alhasil sampai usia 5 tahun di Bandung pastinya tak banyak ‘main- main’ dan pengetahuan saya tentang banyak hal.

Saat anak2 sebaya saya main kejar- kejaran atau dikejar betulan oleh pemilik empang yang empangnya dipancing tanpa ijin, saya hanya bisa main mobil- mobilan atau apapun hanya didalam rumah atau pelataran teras. Itupun tak lama.

Tapi ada hal yang barangkali tak mereka punyai.

Dirumah kami ada empat pemuda seberang yang kos.

entah mereka ini kuliah atau bekerja.

yang pasti saya punya lebih empat orang lagi dirumah yang membuat saya ‘ lebih kaya’ dari teman- teman sebaya saya.

Dari mereka saya ‘ pandai ‘ menyanyikan lagu- lagu Batak. Dari mereka pengetahuan saya tak lagi sekitar Alun- Alun, Rumah- Sakit Advent, mobil- mobil panjang station wagon dokter- dokter Amerika di Advent, Cigereleng, sawah dan empangnya, tap juga ada pulau besar selain Jawa. Ada kota- kota lain selain Bandung. Ada danau Toba selain Situ Aksan dan Patenggang.

Saya boleh iri dengan kisah- kisah teman- teman sebaya saya main layangan, seru- serunya main bola. Tapi saya pantas berbangga diri dengan nyanyi- nyanyi Butet dan Dainang, dengan cerita saya tentang pulau Samosir ditengah danau Toba. Dan banyak lagi cerita- cerita seru lainnya.

Dihari pertama Sekolah Dasar saya di SDN Kemanggisan Jakarta, guru dan teman- teman saya pastinya terheran- heran bercampur geli, saat kami bergiliran menyanyikan lagu daerah kami masing- masing, alih- alih lagu Manuk Dadali atau Neng Geulis yang saya nyanyikan ya Dainang tadi 🙂

Menjelang usia SD kami pindah ke Jakarta. Bapak memang sejak saya masih di Bandung sudah bekerja di Jakarta.

Tiba- tiba saja saya punya lebih banyak lagi teman. Berbatas sungai Kemanggisan adalah Kampung tempat tinggal teman- teman sekolah Kampung Kemanggisan. Dideretan rumah kearah utara adalah Dika orang Kuningan, persis belakang adalah Benny yang dari Ambon. Dan beberapa lagi teman, sobat bermain saya.

Berlawanan dengan saran dokter, sejak saya di jakarta Bapak malah putuskan saya harus bermain. Tak lagi mesti dirumah saja.

Seperti di tulisan saya terdahulu, sepertinya bagi Bapak, lebih baik saya, jika memang pendek usia, tak diharapkan tentu saja, tapi bisa mengenyam masa- masa kanak- kanak saya sebaik mungkin daripada panjang usia tapi selamanya diam dirumah.

Diluar waktu- waktu sekolah adalah penjelajahan. Menjelajah dari ujung komplek Slipi di selatan sampai ujung utaranya.

Teman- temanpun semakin banyak dan beragam latar- belakang, suku dan agamanya.

Terlahir dari keluarga Ibunda yang asli Garut dan Bapak yang Jepara dan Banten, saya tak ada Bandung- Bandungnya ternyata. hanya kebetulan saja terlahir di Bandung.

Tapi yang pasti solat dan ngaji sudah diharuskan sejak kecil.
Kakek- kakek dari Ibunda dan Bapak yang Ajengan dan Kyai Haji, sudah pasti mengharuskan saya lebih lagi.

Berkaitan dengan ibadah, Bapak tak memaksakan banyak hal. Cukup solat lima waktu dan mengaji.

Puasa masih boleh saya lewat. Apalagi saat saya seringnya berpura- pura tak kuat 🙂

Tak jauh dari rumah, adalah rumah tetangga yang sering digunakan kebaktian. Ditengah- tengah kami bermain, sekali- sekali kami mampir dan ikut hadir. Hal yang pasti menarik bagi saya karena oh ada hal lain lagi yang berbeda.

Semakin lama, dari hanya sekedar melihat- lihat, kemudian sepenuhnya menyimak sampai turut membaca kitab.

Tak sedikit pertanyaan yang muncul, tapi saya yakin sedikitpun tak merubah akidah saya.

Menjadi tambahan pengetahuan saya bahwa ada iman dan kepercayaann yang lain.

Saya tetap bermain dengan siapapun dari suku, agama dan kepercayaan manapun.

Saya tetap solat dan mengaji.

Kepindahan kami berikutnya ke Pasar Minggu, ke komplek Garuda, persis setelah kenaikan kelas ke kelas 5.

Lagi- lagi yang kami temui tak hanya tetangga- tetangga berbeda suku dan agama, tapi juga bahwa hubungan kami dekat.

Persis depan rumah adalah dua kakak beradik Tante Lily dan Liana.

Dua bersaudara pekerja yang selalu mengajak saya untuk ikut mobil mereka setiap pagi sekolah.

SDN Duren Tiga sekolah saya memang terlewati arah ketempat mereka kerja.

Masa- masa suka dan senang saya pun berlanjut saat setelah kenaikan kelas ke kelas enam.

Kembali ke Bandung.

Dandanan main saya tak berubah, celana pendek yang seringnya berwarna lebih gelap dari hemd lengan pendek saya. Hemd yang tak pernah terlewat, terkancing sampai lubang kancing teratas 😊.

Hanya sekarang selalunya ditambahkan pullover agak tebal. Bermotif jika tak garis- menyamping atau kotak kotak.

Akhir tahun lalu Alhamdullillah saya berkesempatan bertemu dengan salah- satu anak keluarga Tionghoa, keluarga pengusaha industri rumahan tas- tas kerja dan sekolah.

Tetangga sederetan. Hanya terhalang dua rumah.

Dirumah keluarga mereka yang sama, dan usahanyapun masih yang sama.

Jalan Taman Siswa atau dikenal juga dengan jalan Bonteng

Rumah usaha mereka tempat kami anak- anak usia sekolah, salah- satu tempat kami ngabuburit saat ramadhan dengan melihat tukang- tukang bekerja. Seringkali kamipun ikut mengerjakan bagian- bagian yang mudahnya.

Masih dijalan yang sama, berseberangan, adalah keluarga Sigarlagi. Teman sekaligus nyaris lawan bsrkelahi saya 😊.

Saat mereka pindah ke Gegerkalong akhir enampuluhan saya sempat mengantar.

Terasa jauh tak sampai- sampai. Siapa nyana puluhan tahun berikutnya kembali menjadi tetangga lagi di Gegerkalong.

Masa- masa indah kami.

Tak kami pusingkan, suku atau agama dan kepercayaan apapun.

Bandung, juni 2017

Bersambung..

Standard
adventure

Eiger Solo Tent. Vagabond

IMG_0189 IMG_0188 IMG_0187 IMG_0184

 

Berbahan

Fly : 190T Polyster PU 3000mm
Inner : 190T Breathable Polyster & Mesh
Floor : 210D P/OXF PU 5000mm
Pole : Fiberglass flash-touch pole system/Alu,

Berukuran terpasang 230x[40+80+40]x90cm,

dalam kantong kemasan bergaris tangah 15cm, panjang 70cm.

Dan berat tak sampai 2 kg  tenda tipe Dome ini  tak sulit dibawa saat rideNfly. Saat di pannier sepeda atau dibawa masuk ke kabin pesawat.

Nyaman untuk sendiri. Darurat berduapun bisa 🙂

Kuat dan mudah dilepas/ pasang.

Sebelumnya selalu saya bawa kemanapun pergi yang harus menginap.

Saat lebih dari dua orang dalam satu kamar hotel, semisal ramai- ramai  di satu acara lari- berlari,  saya lebih memilih memasang Vagabond ini dalam kamar dibanding tidur di salah- satu bednya.

Numpang menginap di handai- taulan? Sama, saya lebih suka pasang sang Vagabond disalah- satu sudut ruang atau bahkan di halaman rumah sang pemilik rumah daripada merepotkan disiapkan khusus satu kamar untuk saya.

Salam gowes dan camping 🙂

 

 

 

Standard
event, Hash, komunitas, mountain running, olahraga, running, sport, trail running

Lari- Larinya Teman Senior Kita di Universal Hash House Harrier

InaAnwarSurahman001

Sedikiiit saja kembali ke UniversalHash HouseHarrier Trail Running Race 2014, minggu lalu.
Awal 80an saya kenal beberapa kelompok pegiat lari lintas- alam( seperti kita sekarang, lari trel) dikota Bandung.
BHHH( Bandung Hash House Harrier), yang sering diplesetkan menjadi Bandung Hah Heh Hoh, Pelita( Pelari Lintas Alam), Pola86( Penggemar Olahraga Lintas Alam). 86, percaya atau tidak, teman2 senior nan kencang2 ini,sejak 1986 sampai rabu lalu tak pernah terputus lari setiap hari rabu sorenya.
Virgo( lupa singkatannya apa). Dan beberapa lagi. Jika tak salah malah ada belasan.
Jadi, kami di Bandung, punya banyak sekali pilihan. Belasan kali dalam seminggu. Setiap pagi dan sore,mulai senin sampai minggu.
Dan bisa terjadi ada beberapa komunitas dengan masing2 treknya di waktu yang sama.
Kebanyakan dari mereka bahkan adalah pelanggan2 saya menginap.
Jadi sabtu c/i. Minggu pagi mereka berlari.
Dulu.
Sayang sekali saat itu saya belum bisa berlari 😦 .
Ups, kembali ke yang saya maksud.
Konon komunitas lari seperti Universal HHH ini berasal dari Malaysia.
Trek lari yg ditandai sebelumnya dengan potongan2 kertas atau bubuk kapur.
Yang melakukan taburan ini disebut Hare.
Kita- kita, pelarinya disebut Hounds. Pelari yang mencari dan mengikuti jejak yang dibuat oleh sang Hare tadi. Biasanya dilakukan sehari sebelumnya.
Start/ finishnya adalah Beer Truck( Ah pantas, sebagian masih pertahankan tradisi ini).
Nah Universal Trail Running Race 2014 kemarin ini adalah kurang- lebih cara teman2 senior kita memperkenalkan lari- lari mereka.
Medannya? Ya seperti yang kita lalui kemarin ini. Semak2, blusukan. Naik- turun. Dan secara horor.
Jadi jika kita temukan tanda2 arah kemarin ini, ya adalah bonus. Karena biasanya mereka benar2 mengandalkan hanya taburan kertas saja.
Keamanannya hanya, adanya tim sapu- bersih 🙂 .

Mohon maaf jika kemarin ini membuat sebagian teman2 kesal, jengkel dan ngambek dengan treknya yg tak ‘sopan’.
Tapi percaya lah, tak ada maksud lain, selain sama- sama mengajak siapapun untuk mencintai lari.

Oh ada tambahan sedikit lagi untuk kita ketahui soal Hah Heh eh HHH ini.
– On On:
a. Nada tinggi panjang, terus menurun : tanda awal untuk memulai kegiatan Run, diteriakkan oleh Hash Master.
b. Bersemangat, nada tinggi pendek-turun : tanda Hound telah menemukan jejak kawul yang benar.
c. Nada naik turun pendek : salam persahabatan antar Hasher saat berpapasan di jalan.
d. Nada rendah pendek : minum-minum di senja hari setalah selesai Hash Run.
– Down Down:
Seni meminum habis segelas penuh bir dengan sekali teguk dengan iringan lagu Down Down dari para Hasher. Jika tidak habis, sisa bir harus di guyurkan di kepala. Down Down diberikan oleh Hash Master/Mistress atau R.A. sebagai suatu tanda penghargaan (an axclusive honour) yang boleh di protes tapi tidak dapat di tolak, apapun juga alasannya.
– Harriete: Sebutan bagi seorang Hasher wanita.
– Puppy: Hasher kecil berusia antara 3 – 12 tahun.
– On Sec: Hasher yang bertugas melaksanakan pencatatan semua data kegiatan Hash Club,administrasi/surat menyurat, statistik, keuangan, penerbitan Hasheet dll.
– Hash Liaison: Hasher yang bertugas menghubungi sponsor dan menjamin adanya beer & minuman lainnya baik di Regular Run Site maupun didalam kegiatan Hash lainnya (Party, Picnic Run Dll).
– Hash Flash: Hasher yang bertugas mengabadikan semua peristiwa Hash dalam Photo/slide/film/video.
Jadi kemarin ini saya sedikiiiit membantu melakukan sebagian pekerjaan2 sebagai Hash Liaison dan Hash Flash 🙂
Sampai jumpa di On On tahun depan. Salam

 

Sumber: http://kobahash.blogspot.com/2012/06/daftar-istilah-hash.html

Standard