adventure, event, mountain running

UTMB.

Bandung, 1987.Angan2 terkesan muluk. Sekali seumur hidup bisa menamatkan 10k dilomba lari manapun. Sudah pasti tak peduli podium. Bahkan tak pusing jikapun beberapa jam terlewat waktu Cut Off Timenya. Selama tak sampai berganti hari.

Bandung 2010.

Mencoba mulai berlari.

Kandas di 1km pertama. Menangispun bukan lagi dibuat- buat atau kiasan.

Plawangan Sembalun, 26 november 2012.

Nyaris tewas. Sendirian, tak menemukan jalan ke Segara Anak, tujuan berikut dimana Kang Hendra dan Kang Rudy Ansyah mestinya sudah sampai.

Dehidrasi dan kelelahan teramat- sangat.

Angan- angan berikut bahwa suatu saat saya akan melihat lomba lari trel disini rupanya harus tetap sekedar angan- angan.

Continue reading

Advertisements
Standard
running

RUNNING ROCKS!!!!

AkiTNFOct2010BO

I love being fit and healthy.
I enjoy life so, so much more.
If you haven’t run already, start. At your own pace, safely.

Running rocks!!!!

Picture courtesy of Barbara Oravetz, during my 1st trail running event overseas.
#TheNorthFace100Singapore #Oct2010 #garmin #fr305
Thanks Barbara

Standard
adventure, event, inspiration

Percuma Teriak- Teriak Di Sosmed Juga, Ga Kan Didengerin..

6633

courtesy of wwwdot6633ultradotcom

8 manusia- manusia gilak, penamat lari dikutub utara. Sejauh 533km. Dengan batas waktu 191 jam.

salah- satunya adalah Hendra Wijaya, Indonesia. Kedua dari kanan..

Pagi ini ada yg sms saya, berbaik- hati menawarkan diri, membantu, agar keikut- sertaan kita di lomba2 ultra dunia bisa dibantu/ dibiayai  pemerintah( kemenpora).
Kata beliau( yang juga mengaku punya kedekatan dengan siapa2 dipemerintahan), percuma buang ongkos mahal2, teriak2 di sosmed, ga kan didengerin pemerintah.
Saya balas pendek saja.
Kami lakukan ini semua, sebagian yg turut serta diberbagai kejuaraan dluar- negeri, berlari- lari mulai sendiri, beberapa sekedar suka2, sampai di lomba2 tanah- air, justru karena memang sudah tak didengar, jadi ya kami lakukan semampu- mampu kami, memajukan dunia lari trel tanah- air.
Lebih baik ngesot perlahan tapi pasti dengan kemampuan kami apa adanya, daripada mungkin saja wus wus wus tapi harus mengemis- ngemis, merengek- rengek minta diongkosin/ dibantu.
Beruntung orang luar malah yang lebih punya perhatian.( Eh ternyata panjang deng balasan saya 😛 )

Tambahan dari saya. Aneh ya, jaman segala informasi bisa didapat dengan sekedar sentuhan jari, pemerintah koq ya seperti kesulitan menemukan potensi yg ada. Tak usah bicara ‘ menciptakan’.

Saya tak sedang mendewakan siapapun teman2 saya atau mengagungkan Lari Trel Tanah- air.
Tapi tak bisa saya pungkiri, mereka ini luar- biasa.
Demi majunya lari- trel, yang satu tak sungkan2 menghabiskan biaya dan waktu yang tak sedikit.
Lainnya lagi berlatih giat, mengadakan lomba sampai patungan untuk bisa turut ambil bagian di lomba2 tanah- air maupun mancanegara.
Beberapa lomba sudah diakui dunia. Beberapa pelari sudah  juga menjadi penamat, bersanding dengan penamat-2 luar- negeri.
Dua tahun lalu ‘sulit’ mendapatkan peserta. Kini, rasanya ‘tak mudah’ atur lomba mana yg akan diadakan atau diikuti.
Padahal lari- trel tanah air belumlah seusia kebanyakan negara2 lain.

Luar- biasa pertama.

Alam indonesia yang luar- biasa.
Lari trel bisa dilakukan dimana saja.  Lari trel tak mesti lari gunung. Di pantai. Bahkan dikebun tetangga 🙂
Begitu pijakan bukan lagi aspal atau sejenis, ya sudah lari trel namanya.
Kenyataan bahwa kita punya gunung yg banyak sekali , menjadikan lari trel tak jauh2 dari gunung. Paling tidak lerengnya.
Negara tetangga, saking sedikitnya punya gunung, bukitpun disebut gunung.
Nah kita, saking banyak gunung, gunungpun sering disebut bukit.

Luar- biasa yang kedua.
Juga bisa dilakukan siapa saja. Penduduknya yang super banyak. Cukup 1% saja yang melakukan, se asia tengggara habis diborong.

Luar- biasa yang ketiga.
Kapan saja. 365 hari dalam setahun, tak terputus musim ini itu.

Artinya potensi luar- biasa kita, bisa berkiprah dikancah dunia.
Sudah pasti menjadi daya tarik wisata mancanegara.

Gambarannya.
Siapapun yg akan ikut di UTMB( salah- satu lomba lari trel ultra bergengsi dunia. 170km, melintasi 3 negara. Swiss, Itali & Perancis), harus mendapatkan 8 poin. Yang didapat dari keikut- sertaannya di lomba2 dimanapun yg sudah mendapat kualifikasi UTMB.
Sudah ada beberapa lomba dunia yg mendapatkan kualifikasi yg dimaksud.
Dimanapun selain di Indonesia.
Nah sekarang sudah ada 5( lima) lomba tanah- air yang sudah mendapatkan kualifikasi ini. Mulai dari 1 poin sampai 4 poin.
Dipastikan akan menyusul beberapa lagi yang akan mendapatkan kualifikasi UTMB ini.
Artinya, besar kemungkinan lomba2 tanah- air menjadi pilihan utama untuk mendapatkan poinn2 ini. Ya ga sih?
Coba pikir.
Alamnya ya ampun okeh pisan.
Ongkosnya, jika pun bukan yang termurah, pasti tak lebih mahal.
Medannya? ( Biasa, bagi kaum pelari2 trel gilak, semakin hardcore medannya semakin maknyussss), jangan tanya. Terkadang setelah melihat merasakan medan di kita, ditempat lain bisa- bisa terkesan seperti Disneyland 😉

Selamat siang, selamat hari senin 🙂

Standard
adventure, cerita

Lari Gambung – Cileunca – Banjaran, Dan Monster Steak

Tak menunggu lama sang monster steakpun tersaji.

Iyalah, wong medium rare. Disamping memang sudah liwat jam- jam makan siang juga.
1, ya satu, kilogram has dalam tergolek cantik manis menggoda di.. piring sih, tapi berbentuk pipih segi empat, berukuran tak biasa, selebar serbet makan  berbahan damas. Diatas meja didepan saya.
Sementara si akang waiter seperti yang sudah saya duga, terheran- heran.
Pendampingnya kentang  & salad. Agak tak biasa, kentangnya dibuat kripik, bukan tumbuk atau frenchfries.
Di salah- satu resto dari yang banyak berderet sepanjang jalan Riau.
Dan salah- satu menunya adalah Monster Steak.
Asli 1 kilogram has dalam. Jika mau mereka bisa timbangkan dulu sebelum disiapkan.
Persis beberapa saat, sebelum perlahan tapi pasti, akhirnya sampai ke potongan terakhir monster steak saya, Akang manager tiba- tiba muncul didepan saya.
“Damang Kang?”
“Alhamdullilah Kang, moga sama juga”..
Sapaan ramahnya berlanjut dengan,” Kang, anak- anak( maksudnya waiters) pada taruhan, Akang bisa ngabisin ga ..”.
” 🙂 “.

salah- satu dari beberapa menu lainnya yang monster- monster juga, biasa dipesan untuk 4 orang.

Itupun masih 250 gram per orangnya.

Pagi hari sebelumnya saya memulai lari- lari sendiri saya. Start di ketinggian 1400m Kampung Gambung. Dilereng Gunung Tilu. Masuk kabupaten Ciwidey. 35km selatan Bandung.

Trek melipir dikaki gunung Tilu. Arah danau Cileunca. Kemudian lanjut menurun kearah Banjaran.
60an k.
Hanya sedikit porsi disiapkan untuk sang monster ini setiap harinya..
Salah- satu dari promo mereka.
Harganya super murah untuk seukuran  raksasa ini.Berkualitas baik. Saya tahu sekali.
Jika disatu tempat saya ragu dengan daging steaknya saya cukup pesan blue rare atau rare. Minta hanya di marinade sebelumnya dengan garam laut, sedikit merica dan oregano. Mutlak saus dipisah. Jika menolak, artinya daging mereka jelek. Jika ya, boleh berharap baik 😉 .
Tak sedikit yang mengharuskan kita merogoh kocek sampai nyaris 100an ribu untuk 125 gram steak .  Bukan has luar. Apalagi has dalam. Padahal dikelas Warung Steak biasa.
Dengan banyak lemak disana sini.
Cukup mereka marinade lama sebelumnya dengan bermacam- macam bumbu. Semakin semarak, semakin aneh, semakin ‘tertutup’ jeleknya sang daging.
Istilah saya untuk ini adalah ‘ Daging bumbu’.
Tak berarti tak ‘enak’. Sebaliknya. Buktinya banyak warung- warung steak( yang sekarang sudah menyebut diri Steak Resto atau ada yang berani dengan Steak House) laku. Selalu penuh.
Padahal ya daging bumbu tadi. Daging yang bukan ‘daging’. Jadi yang ‘enak’ adalah bumbu- bumbunya. Dan sang daging hanyalah sekedar media.

Dikita, asal pedas, panas, di goreng atau bakar, apapun bisa jadi enak. Sekedar aci( tepung tapioka) pun diburu. Cireng kan?
Sekali waktu saya antar seorang klien, yang minta dibuatkan resto & cafe, coba menu steak ke beberapa tempat di Jakarta. Mulai dari kelas Warung Steak sampai Steak House sekelas O*tb@ck.
Disalah- satu, lokal, amat sangat terkenal, kami pesan 3 ( tiga ) menu steak, dengan tingkat kematangan berbeda( rare, medium, well done), lokal, US & NZ. Seperti tertera di menu.
Kami temui, ketiganya dari bagian sapi yang sama dan lokal. Disiapkannya saja yang berbeda. Jangan- jangan dari satu sapi yang sama.
Ditambah adegan mencelatnya garpu saya 😛 .
Harganya? Tahun 2004an, 75rb sampai 125rb, umtuk 125 gram? tak sepadan.

Bersambung

Standard
komunitas, motivation, olahraga, running, sport

Ameng Atuh Ka Bandung..

image

“Ameng Atuh Ka Bandung”..
Tak hanya tempat belanja baju & celana, jalan2 suka2, jalan kaki atau pake sepeda(punya sendiri atau sewa),  kuliner dimana saja( dari kali-lima sampai resto/ cafe yg gaya),  bandungpun ramah bagi yg suka olahraga.
Dari lintasan Pajajaran sampai lapang Saparua. Dari Lapang Upi sampai Sorga
http://www.infobdg.com/v2/6-jogging-track-di-bandung/ #explorebandung #infobandung #pemkotbandung

Standard
berbagi, event, inspiration, komunitas, olahraga, renungan, running, sport, story, tulisan

BandungJakartaRun4Leukemia

wpid-p6130011.jpg

Awal 80an berangan- angan, sekali seumur- hidup turut dalam lomba lari 10k. Kekaguman saya akan olahraga lari mengalahkan kekaguman saya akan olahraga2 lain, apapun yang menggunakan alat.
Apa daya, asma & bronkhitis bawaan sejak lahir menjadi penghalang. Setidaknya begitu yang saya fahami selama itu.
Awal 2010 adalah lari ‘serius’ saya pertama.
Selanjutnya, kecintaan saya akan lari semakin besar. Dan ‘mengalahkan’ penghalang saya.
Sepertinya kapanpun saya siap untuk berlari puluh bahkan ratus kilo.
Haruskah? Tak mesti tentunya.

wpid-p6130022.jpg
10-30 menit berlari dalam sehari sudah ‘memenuhi’ untuk sehat.
Tak hanya untuk sehat sendiri, berlari ternyata bisa untuk banyak hal positif lainnya.
Misalnya, seperti yang dilakukan teman2 yg baru saja semalam, 13 juni 2014 lalu, memulai lari bandung- Jakartanya. Berlari untuk adik2 penderita Leukemia.
Diharapkan finish menemui adik- adik kita pada tanggal 15 juninya.

wpid-p6130031.jpg
Berlari sebagai bentuk kepedulian mereka akan penderitaan adik2 ini. Akan orang2 disekitar adik2 ini.
Berlari sebagai bentuk kepedulian terhadap sesama. Adik2 kita diantaranya.
Semangat teman2. Tetap sehat. Selamat sampai tujuan. Dan kembali ke Bandung.
Terimakasih tim pesepeda, motor & mobil pendukung. Terimakasih League, PocariID, SAB. Terimakasih semua teman- teman komunitas lari tanah- air.
#bdgjktrun4leukemia

wpid-p6130051.jpg

wpid-p6130065.jpg

wpid-p6130070.jpg

Standard
mountain running, olahraga, running, sport, trail running, tulisan

Berlatih Lari Di Ketinggian

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Pada dasarnya , berlari di ketinggian adalah berlari di udara yang lebih tipis(  hypoxia).
Jika dilakukan lebih sering, bahkan banyak dilakukan oleh atlet dalam rentang waktu tertentu( salah- satu tempat berlatih atlet lari nomor 1 indonesia, Agus Prayogo,  adalah Pangalengan. Altitude training).
Yang terjadi adalah tubuh akan berusaha memproduksi sejumlah energi yang dibutuhkan akan tetapi dalam kondisi  keterbatasan oksigen. Usaha inilah, jika dilakukan sering, yg memicu meningkatkan sistem kerja respitori tubuh, cardiovascular dan utilisasi oksigen yang lebih effisien.

Ada pendapat lain. Live high, train low. Yang lebih penting adalah tinggalnya di ketinggian. Sementara berlatihnya yang tak mesti. Yang tentunya sebagian besar ‘bernafas’ nya yang justru di ketinggian.

Sampai- sampai untuk ini bahkan ada simulatornya. Mulai dari tenda, kamar tidur dan kelengkapan berlatih dengan masker yang bisa mensimulasikan keterbatasan oksigen sampai seperti di ketinggian 6400 meter.

Jadi tak mesti ke ketinggian yang sebenarnya.

Aman? Sesuai jugakah altitude training ini bagi kita, pelari2 trel sekedar cantik suka2? Tentu saja. Sejauh bertahap dan hati- hati.

Ada hal lain yang bisa kita dapat dari altitude training. Ya, betul. Semakin tinggi  tempat kita berlari, relatif semakin bersih udaranya, semakin indah pemandangannya.Semakin nyaman dan semakin bahagia tentunya.
Yang saya maksud adalah,semakin tinggi,semakin menjauhi kota.

Live high, train high yang sebenarnya? Tak lain dan tak bukan Sang jawara lari trel ultra/ gunung Killian Jornet 🙂
Yuk Ngetrel! Maenkan!

 

 

The main reason runners head for the hills is because high-altitude air contains less oxygen than sea-level air, a situation that forces the body to compensate in a variety of ways conducive to improved distance-running performance.
Read more at http://running.competitor.com/2013/06/training/whats-the-real-story-with-altitude-training_30368#SdjfIsm4LwhQ2MHX.99
The main reason runners head for the hills is because high-altitude air contains less oxygen than sea-level air, a situation that forces the body to compensate in a variety of ways conducive to improved distance-running performance.
Read more at http://running.competitor.com/2013/06/training/whats-the-real-story-with-altitude-training_30368#SdjfIsm4LwhQ2MHX.99
The main reason runners head for the hills is because high-altitude air contains less oxygen than sea-level air, a situation that forces the body to compensate in a variety of ways conducive to improved distance-running performance.
Read more at http://running.competitor.com/2013/06/training/whats-the-real-story-with-altitude-training_30368#SdjfIsm4LwhQ2MHX.99
The main reason runners head for the hills is because high-altitude air contains less oxygen than sea-level air, a situation that forces the body to compensate in a variety of ways conducive to improved distance-running performance.
Read more at http://running.competitor.com/2013/06/training/whats-the-real-story-with-altitude-training_30368#SdjfIsm4LwhQ2MHX.99
Standard
olahraga, running, sport

Lari Barefoot

Berlari nyeker alias tanpa alas sama sekali. Tak ada dalam bayangan saya sama sekali sebelumnya. Kekamar mandi saja pakai alas. Kecuali saat mandi  dibawah shower.
Namun sensasinya saya rasakan betul.
Sekali- sekali. Dan bukan pada saat berlari. Tapi jalan kaki berjarak tak begitu jauh.
3 tahun lalu pertama kali melihat dan langsung tertarik dengan sepatu Vibr*m Five Fingers.
Beralas tipis sekali, dengan bagian depan yang berupa jari- jari. Lucu, membungkus masing2 jari2.
Entah rasanya jika dipakai.
Beberapa waktu kemudian seorang teman baik menghadiahi saya sepasang.
Terimakasih yaa 🙂
Ternyata nyaman sekali. Sedemikian ringan. Sampai- sampai saya berfikir, apakah  mungkin saya akan pakai lagi sepatu bersol ‘normal’.
Dan, ya, setelahnya memang lebih sering model barefoot ini yang saya  pakai.
Me**ell adalah sepatu model barefoot berikutnya yang saya beli kemudian. Menyusul New Ba**ance dengan seri minimusnya.
Semuanya ok dan nyaman sekali.
Entah memang sepatu2nya, atau saya yang beruntung, yang sepertinya memang cocok- cocok saja pakai yang manapun.
Lari2 dijalan dan ngetrel saya berikutnya adalah bersepatu model barefoot.
Lomba lari di Ragunan, pertama kalinya saya pakai barefoot untuk jarak 21k. Luar biasa ringan dan nyaman.
Finish dengan waktu belasan menit lebih cepat dari sebelum2nya. Beberapa langkah setelah garis finish, jalan perlahan, tertatih dan stop! Tak lagi bisa digerakan kedua kaki saya.
Kram. Sampai dipapah kearah mobil yang diparkir.
Lupa, jika sebelumnya belum pernah untuk jarak lebih dari sepuluh- belasan km.
Di lari2 jauh berikut saya pakai me**el. Untuk jarak 160km. Trek aspal  tanah dan batuan.
Kebanyakannya aspal.
Di km 130an ujung2 jari kaki serasa hancur. Terkena sedikit benturan kerikil kecil saja sakit sekali.
Beruntung walau dengan tertatih- tatih di 30k terakhir, bisa terselesaikan juga Lari2 Kawah Putih- Ujunggentengnya( yang harus berubah menjadi Kawah Putih- Argabinta. Karena ternyata masih 50km lagi jika sampai Ujunggenteng).
Nah bagaimana dengan lari nyeker, yg tanpa alas sama sekali?
Ternyata sama- sama nyaman dan menyenangkan.
Sejauh di trek yang tidak keras. Seperti tanah. Apalagi rerumputan.
Beberapa kali saya lakukan muncak Burangrang dengan nyeker.
Berlari belasan km di lintasan tanpa alas( nyeker) juga terasa nyaman, hanya setelahnya muncul bundaran merah ditelapak kaki. Blister.
Mungkin karena semakin lama semakin lelah. Tanpa sadar semakin lama telapak belakang semakin turun, yang akhirnya nyaris bersamaan dengan telapak depan menjejak landasan. Landasan lintasan yang memang keras.

Tulisan saya tidak dimaksudkan untuk menyampaikan bahwa berlari nyeker lebih baik atau sebaliknya dari berlari bersepatu.
Hanya jika teman2 terfikir untuk mencobanya, barangkali ini bisa sedikit membantu.
Kita sudah sekian lama terbiasa  berjalan,lari dengan bersepatu. Bersol tebal.
Jadi berpindah ke tanpa alas alias nyeker tentunya harus dengan tahapan.
Mulai dengan beberapa kali beberapa km, sepuluh, belasan dan selanjutnya.
Juga sebaiknya tidak untuk kapan saja berpindah-pindah antara beralas dan tanpa alas.
Sepatu2 model barefoot seperti yang saya sebut diatas bisa menjadi jembatan antara kedua cara berlari diatas.
Atau, cukup sampai dengan sepatu model barefoot saja.
Mengingat, jika untuk benar- benarnyeker, landasan dikita, bahkan di hutan dilereng Burangrang sekalipun masih suka saya temui pecahan kaca.

Standard
inspiration, motivation, story

Ki, Selamat Ulang- Tahun :) by Bang Aswi

“Ehhh … aku lari tuh mulai 2010, awal 2010. Jadi awalnya Jumat, sebetulnya sudah lama tahu bahwa lari itu olahraga yang mau banget aku lakuin. Cuma karena tahu ada asma dan bronchitis, dan sebelumnya pernah coba lari-lari kecil atau segala macam atau waktu aku sekolah … kayaknya cepet capek. Dari situ saya tahu saya pikir saya udah nggak ada peluang untuk lari. Nah, 2010 itu saya coba konsultasi ke dokter sebelumnya, alhamdulillah ya tersendat sih memang tapi sebulan pertama udah lumayanlah ada progres ya. Yang tadinya seratus meter udah sesak kali ini udah satu kilo dua kilo. Dua bulan kemudian udah bisa lari sepuluh….”

“Check up semua, apa jantung dah, apa tekanan darah dan segala macam, euhhh dokter bilang oke. Tapi belakangan saya tahu bahwa yang dimaksud di pengertian okenya itu bahwa saya larinya emang lari-lari pelan bukan seperti lari-lari yang saya lakuin belakangan ini. Sempet kaget juga tuh si dokternya. Nah itu awal-awal saya lari….”

Di titik ini jemari sosok itu berhenti. Sosok itu mencoba membayangkan apa yang dilakukan salah seorang sahabat dan guru kehidupannya, Aki Niaki . Kata-kata di atas adalah ucapan Aki di awal wawancara sosok itu di sebuah kafe di jalan Burangrang. Masih ada 40 menit lagi hasil wawancara yang belum diselesaikan tentang pengalaman Aki berlari. Masih ada ribuan jam kehidupan Aki yang belum tereksplor untuk dijadikan inspirasi bagi masyarakat luas, tidak hanya bagi yang ingin berlari. Masih banyak rahasia lagi tentang semangatnya untuk mengkampanyekan olahraga lari dan (juga) ngetrel.

Jujur, sosok itu juga punya asma. Jadi dirinya tahu bagaimana rasanya takbisa bernapas dengan wajar. Bagaimana rasanya ‘megap-megap’ saat baru lari beberapa puluh meter. Bagaimana rasanya tersiksa di saat jutaan orang menikmati nyenyaknya tidur. Bagaimana rasanya batuk-batuk hanya dengan melihat embun pada gelas yang dingin. Bagaimana rasanya menjadi orang yang tidak berharga untuk turut membantu kerja bakti (meski hanya sekadar di rumah sendiri) membersihkan debu karena nantinya akan batuk dan kemudian sesak napas. Sakit hati ini mengetahui itu semua.

Sosok itu dikenal ‘sport freak’ saat SMA dan mahasiswa. Basket, volley, sepakbola, bulutangkis, renang, hingga mengenal sepeda dan lari. Gila olahraga karena tahu bahwa inilah salah satu cara agar asmanya tidak sering kambuh dan menjadi beban bagi orang lain. Sepedalah yang dipilihnya kemudian saat sudah berkeluarga dan bekerja. Sampai kemudian dirinya mengenal Aki di pertengahan 2008, di komunitas Blogger Bandung—Batagor. Saat itu dirinya tidak tahu Aki itu pengidap asma. Saat itu dirinya tidak tahu apa agama Aki (maaf). Saat itu Aki belum berlari. Saat itu dirinya melihat Aki yang penuh semangat meski untuk beberapa kegiatan fisik tidak maksimal. Aki selalu aktif di tengah-tengah anak muda yang mayoritas masih mahasiswa. Tapi kemana-mana selalu naik motor.

Hingga kini, semangat Aki tetap sama dan bahkan jauh lebih berkobar lagi. Kegiatan fisiknya semakin maksimal dan prima. Kemana-mana selalu berlari dan tidak lagi kelihatan naik motor. Kondisi fisiknya kini jauh lebih bugar dan segar jika dibandingkan sosok itu di awal perkenalan. Aki bagaikan magnet bagi orang-orang yang ada di sekelilingnya, baik itu di komunitas blogger maupun di komunitas larinya. Aki semacam suri teladan. Padahal dia sudah berprestasi dan terkenal. Namun sikap hidupnya selalu ‘down to earth’. Penuh senyum. Penuh gairah. Penuh rasa kekeluargaan. Pokoknya ada perasaan nyaman saat dekat dengan dirinya. Perasaan yang tidak ingin berpisah. Entah mengapa.

Sampai saat ini sosok itu belum berkesempatan dapat berlari bersama dengan Aki. Usahanya berlari mengalami maju mundur, bahkan lebih banyak mundurnya. Belum satu kilometer tetapi sudah menyerah untuk berhenti. Selalu lari sendiri karena malu kalau harus lari bersama. Aki-lah yang memberi semangat pada diri sosok itu. Aki-lah yang memompa diri sosok itu hingga akhirnya memberanikan diri untuk mau bersepeda sendiri dari Bandung ke Jakarta. Jauh setelah Aki berlari dari Bandung ke Jakarta. Aki tidak tahu akan hal ini. Semangat untuk mencoba lebih berani. Semangat yang membuat dirinya kembali mendekati Aki karena ada satu ‘keajaiban’ di dalam dirinya yang seharusnya bisa dinikmati oleh lebih banyak orang lagi. Keajaiban untuk menjadi inspirasi.

Di depan mata, ada mimpi sosok itu untuk bisa bersama Aki menaklukkan 57 gunung. Entah itu berlari bersama. Entah itu bersepeda bersama. Atau hanya sekadar menyaksikan Aki berlari dengan penuh kebanggaan dan keharuan. Pokoknya ingin menjadi saksi pertama. Sebuah perasaan yang hanya bisa dikeluarkan kalau sudah mengenal siapa Aki sebenarnya. Saat berdiskusi bersama. Saat berkegiatan bersama. Saat shalat bersama. Saat melihat bola matanya yang berembun saat menceritakan masa kecilnya yang penuh perjuangan. Ada banyak cerita yang harus diolah tentang kehidupan Aki agar menjadi buku yang utuh. Buku yang bisa jadi belum dapat menceritakan diri Aki yang sebenarnya. Diri Aki yang kini menapaki usia ke-57 dan terus … dan terus menginspirasi orang-orang yang mengenalnya (atau bahkan belum mengenalnya).

Ki, selamat ulang tahun. Teruslah menginspirasi kami semua…. #pelukerat

Standard
inspiration, motivation, running, sport, story

Tulisan yang menginspirasi. Dari seorang teman lari. Luar- biasa 🙂

Ini keder pisan postingnya, tapi kubulatkan nyali karena niatnya semata berbagi Dari tadi malem getoooh menjalin kata2 dan menguatkan hati … tsaaaaaahhhhhhh….

Mei 2013 : Obesitas (Penyebabnya banyak lahhhh), berat badan gue 73kg (tinggi 163), kolesterol tinggi, jalan cepet ngos2an dan ya jelas ga kepikir / ga minat lari. Di gue yang nampol adalah hasil cek darah yg nunjukin kolesterol tinggi itu. Apa aja ituuuuu yg udah gue biarin masuk ke badan gue and who am I to ruin this body that God created? Keinget semua obrolan dgn seorang temen yang sangat baik bernama Dewandra Djelantik tentang pola hidup sehat yang sesungguhnya sama sekali tidak berat.
So malem harinya setelah foto itu diambil, gue putuskan untuk ke gym, nyadar badan ini perlu dilatih dan mental ini perlu dihormati. Keinget juga seorang temen yang kece bernama Mia Salim yang terbukti mampu mengalahkan excuses dan kembali fit setelah berbadan dua. I want to be healthy for me and for my hubby, Verno Nitiprodjo. That May 2013, the battle royale, the battle between me and my excuses, finally began. It was gruesome.

Seiring waktu, mindset terbentuk, dan tentunya lemak hilang melalui pola makan yg benar + clean eating, olahraga yg ikhlas (kal0 ga ikhlas jadinya kalah mulu ma alesan2) dengan tetap menjalankan keseharian yang sibuk, seru dan gila… hahahaha, istirahat dengan cukup (6 jam sehari,deep sleep karena olahraga memungkinkan gue deep sleep).

SiskaLalu seiring dgn badan makin enteng, otot2 fungsional mulai bekerja, personal trainer gue, namanya Andreas Susilo, mulai “mempercepat” langkah gue di treadmill ke arah jogging. Berat gue 65 waktu mulai jogging. Awalnya 15 menit dan lama2 sejam. Jadi ya gak langsung lari. Jalan dululah. Makin lama, makin dicepetin pace nya dan jadi lari, dengan waktu dan kilometer yang lebih panjang. Dengan mindset yang juga terus dilatih.

Oktober 2013 : I, 36 yrs old, never been athletic, finish my first 5k race. Not an easy one, but definitely a happy one. I did not run for a medal. I ran for me, with the love of my life. I run to celebrate this life and be thankful to Him. That, wud always be my goals in running.

November 2013: I’m still trying to shred 5kg of fat and gain muscle mass for the sake of being h e a l t h y. And preparing to finish a 10 K next month

Gue masih dan akan tetep banyak nanya ke Dewandra, Mia dan tunduk pada arahan Andreas saat latian. Dalam hal lari, akan selalu berguru pada pelari senior yg gue temui. I can not do this alone. Support paling besar tentunya dari si ganteng Verno.

I know some people out there, prolly my dear friends and family, are in or starting their battle royale. No matter what happened, don’t give up. You are precious. You are strong.

Siska Ws. Nitiprodjo

No matter what happened, don’t give up. You are precious. You are strong.

Aside
event, motivation, running, sport, story

Proudly Asthma Runner by Gita Ayu Pratiwi

 

Image

Menjalani hobi berlari sungguh tidak pernah terlintas di benak saya dulu, maksud saya sebelum 3 bulan lalu. Saat itu saya baru melahirkan dengan parut luka caesar di perut. Bayi saya usia 3 bulan dan masih kuat-kuatnya menyusu asi. Mau jogging cepat sedikit saja, rasanya ngeri sekali. Takut jaitan lepas, kata saya. Tapi sejatinya, jogging justru membantu luka caesar saya cepat pulih dan kondisi rahim kembali sehat pelan-pelan. Ya, apa sih pengaruh buruk olahraga? Sepertinya tidak ada.

Hari-hari jogging saya ternyata berbarengan dengan kesukaan baru suami. Bukan gadget, bukan pertandingan bola. Entah darimana asalnya, tiba-tiba suami saya jadi sangat hobi sekali berlari. Saya pikir ini hanya euphoria semata. Seperti hobi-hobi kagetan dia sebelumnya, sebentar datang sebentar pergi. Ya karena sayang suami, saya dukunglah hobi berlarinya ini. Maka melangkahlah kami bersama tiap ada waktu luang. Saya diseret-seret untuk menapaki jarak 2 kilometer minimalnya sehari. Akhirnya saya sendiri yang kecanduan. Tidak perlu ada dia, 2 kilo saya kunyah sendiri. Tentu saja dengan kaki saya. Hehe…

Berlari yang awalnya saya lakukan hanya di selingkaran rumah, akhirnya meluas ke lomba-lomba lari. Agak nekad memang. Karena saya biasanya cuma lari 2 km, sementara lomba-lomba lari memasang target 5 km sebagai batas minimal. Perlu diketahui, saya ini mengidap asma akut. Dan saya juga seorang yang penakut. Artinya, mau apa-apa minder. Belum ikut lomba aja galaunya udah nggak juntrung. Tapi partner saya memang lebih “sakit” sih daripada saya. Saya belum kasih jawaban bersedia ikut atau tidak, suami saya malah sudah daftar. Dan pulang-pulang dia sudah bawa race pack untuk 2 orang. Nah kan, saya diseret-seret kan?

Lomba pertama kami adalah lomba gratisan dari Istana Negara, acara 17-an. 8 km target jarak yang ditentukan. Beberapa hari sebelumnya kami berlatih, semacam gladi resik. Hebatnya, saya kuat berlari 10 km dengan interval di komplek kampus Universitas Indonesia-Depok, seminggu sebelum hari H. Tugas terberat suami saya seminggu terakhir itu adalah memdorong saya supaya tetap mau ikut lomba itu. Bukan untuk menjadi pemenang, katanya, tapi untuk membuktikan bahwa kita bisa. Yaah, betapapun saya menolak, tetap saja dia bawa saya ke lomba itu.

Mau tak mau, larilah juga kaki saya ini. Dimulai dengan start yang berduyun-duyun dengan ratusan orang lainnya. Konon, acara lari gratisan ini diikuti oleh 45.000 peserta dari segala macam kalangan. Lebih mirip seperti “jalan sehat” perasaan saya saat itu. Karena saya juga tidak diliputi perasaan berkompetisi. Langkah saya baik-baik saja, hanya nafas yang kadang tersengal.

Track Istana-Sudirman-Monas akhirnya berhasil kami selesaikan dengan tenang dan damai. Tidak ada medali, karena medali hanya untuk 1000 finisher pertama. Jelas, kapasitas speed saya masih belum mumpuni untuk sebuah lomba lari 8 km. Tapi tidak apa, saya cukup senang. Masih ada pisang gratis dan air putih, loh bukan, maksudnya saya bangga karena saya berhasil finish hari itu. Paling tidak saya tidak berhenti di tengah jalan dan minta pulang.

Di depan mata sudah terpampang jadwal lomba lari selanjutnya. Tertulislah King Of The Road 2013. King Of The Road adalah kejuaraan lari yang diadakan di Asia Tenggara. Diselenggarakan di 5 negara yaitu Thailand, Singapore, Indonesia, Phillipines, dan Malaysia. Tracknya dijalankan di area kota. Di Indonesia diadakan di pemukiman elit BSD, Tangerang, Banten.

Galau saya kambuh. Stres datang. Saya sampai masuk Rumah Sakit karena anxiety saya. Bukan, bukan karena takut tidak jadi juara King Of The Road (KOTR). Tapi karena keluarga saya ditimpa masalah yang membuat saya shock dan trauma berat. Untuk hal ini, saya menggantungkan kejiwaan saya pada obat penenang resep dokter. Saya sempat maju mundur tentang KOTR. Padahal tenggat waktunya tidak sampai sebulan. Saya merasa hati saya belum sembuh, dan bagaimana mungkin saya bisa lari kalau hati saya masih berdarah-darah.

2 minggu menuju KOTR dan saya tidak ada persiapan matang. Saya makin sering diserang asma. Insomnia, anxiety masih menghantui. Race pack sudah tiba. Tapi boleh percaya atau tidak, dengan hanya melihat race pack saja, hati saya membungah pelan-pelan. Saya penasaran lagi sama yang namanya lari. Lagipula kaki yang saya pakai lari sama sekali tidak ada hubungannya dengan hati, pikir saya. Ya nanti kalau mau galau lagi setelah lari, bolehlah. Tapi larilah dulu! Ini event besar, nikmatilah! Begitu suara dalam diri saya.

Mas Suami juga tak henti menyemangati. Katanya momen berlari ini adalah untuk mengukuhkan kemesraan kembali dengan istrinya, yang tak lain adalah saya. Gombal sih, tapi ya sudahlah. Saya tak ada daya upaya ketika Minggu, 29 Sptember 2013 pukul 4.45 dini hari itu kami bergerak menuju BSD, menjawab tantangan KOTR.

Kami tiba di kawasan parkir 1 menit sebelum mulai. Dan baru kami sadari tempat kami parkir berjarak kurang lebih 1 km dari start line. Tergopoh-gopohlah kami demi melihat peserta-peserta lain sudah berlarian. Asma saya mulai mengganggu. Badan saya seperti kaget. Tidak stretching, tidak pemanasan. Tapi hasrat, ternyata masih menyala-nyala.

Sepertinya kami mulai 5 menit lebih lambat dari waktu yang ditentukan. Begitu melewati garis start, pertarungan saya dengan diri saya sendiri dimulai. Semua anxiety saya hilang entah kemana. Kilo per kilo, saya lebih banyak berlari dengan menatap aspal. Saya merasa memasuki diri saya lebih dalam, saya merasakan banyak hal. Entah apa. Galau itu hilang semua. Tapi serangan asma, seperti sejuta kali memukul dada saya. Untung saja senjata inhaler saya masih ampuh melawan.

Interval lari dengan perbandingan 1:1, yaitu 1 menit berlari non stop kemudian 1 menit berjalan, sering kali saya langgar. Menuju 5 km saya mulai payah. Saya bisikkan semua kata-kata sakti untuk mendorong diri saya maju lagi. Tawaran berhenti sudah keluar beberapa kali dari mulut suami. Tapi, saya tidak datang sejauh ini untuk berhenti dan selesai tanpa usai.

Di sekeliling saya, banyak juga yang sedang kepayahan. Macam-macam cara mereka memotivasi diri. Ada yang nyanyi sambil teriak-teriak, ada yang lari dengan langkah kecil tapi “nyeruntul” terus alias tidak berhenti, ada juga yang berhenti sesekali untuk memijit kakinya. Banyak lagi. Saya sudah seharusnya tidak egois dan menyerah begitu saja. Bukan hanya saya yang sedang diuji kekuatannya. Setiap orang punya masalah masing-masing dan belum tentu masalah mereka tidak lebih berat daripada saya. Begitu juga kehidupan ini.

Setelah titik 8 km, saya mulai deg-degan sendiri. Dagdigdug karena saya hampir tidak kenal diri saya lagi. Saya sudah lari 8 km! Siapa tuh?! Saya? Haha! Yap, saya tidak datang untuk menjadi peserta yang disebut-sebut berhenti di jalan karena menyerah. Saya tidak datang untuk menjadi peserta yang diantar pulang dengan ambulans karena asmanya parah. Saya datang untuk memenangkan diri saya dari asma dan sesak saya. Saya mau dikenal sebagai peserta yang berhasil masuk garis finish meskipun asma. Dan meskipun saya punya segudang galau dan gundah.

Maka saya tidak berhenti sama sekali. Saya tidak mengizinkan kaki saya untuk berhenti melangkah. Walaupun itu langkah lelah, tapi saya pastikan saya tidak kalah. Menatap lagi ke bawah, melihat lebih jauh lagi ke dalam diri saya. Ya, saya memang berlari untuk melarikan diri saya. Tapi semata bukan untuk pergi. Tapi untuk menguatkan kaki-kaki saya lagi, menguatkan diri saya lagi, dan kemudian mengembalikan kepercayaan diri saya untuk kembali. Bahwa saya bisa, saya mampu.

1 km terakhir, medan menjadi terasa amat berat karena pergelangan kaki mulai teriak minta tolong. Belum, belum saatnya berhenti, bisik saya. Gapura finish sudah terlihat. Ini yang saya cari dari tadi. Pendekatan 10 km hanya untuk melihat si gapura cantik ini. Berlari 10 km hanya untuk menembus garis finish yang manis ini.

Lari saya tak henti. Saya genjot kaki saya yang perih. Ada tangis dalam hati. Tangis bahagia. Tangis bersyukur yang air matapun enggan tumpah. Mata saya terpejam. Tak sanggup saya lihat sekeliling. Ini adalah momen saya, yang saya tak mampu beli dimanapun, tak tergantikan oleh apapun.

Tiba-tiba sebuah tangan meraih jemari tangan saya. Dia, Mas Suami. Yang darinya berasal rasa senang sekaligus sakit. Dialah guru besar saya. Yang menjatuhkan saya, kemudian membangkitkan saya kembali. Bersamanya saya lewati garis finish. Saya, dengan asma saya, alhamdulillah berhasil melewati garis finish setelah berlari 10 km. Sungguh, tak terperi.

Medali melingkar di leher. Bangga sekali. Saya pulang dengan senyum yang tak henti mengembang. Tersipu-sipu pada diri saya sendiri. Malu rasanya, selama ini mengeluh. Malu rasanya, selama ini selalu bilang “Nggak mungkin.”  Lebih malu lagi waktu Mas Suami menunjukkan hasil record time kami yang dikirimkan panitia KOTR via email. Saya ada di peringkat 1003 dengan catatan waktu 1 jam 40 menit.

Saya mungkin bukan juara KOTR. Ya, saya tidak naik podium. Saya juga tidak tergabung dengan club lari manapun. Saya berlari bukan untuk mengalahkan siapapun. Ada musuh yang lebih besar dalam diri saya. Asma dan anxiety. Dan selama nafas ini masih menempel di jiwa raga, saya tidak akan berhenti.

Image

Gita Ayu Pratiwi

Standard

Eigers 2nd Test W120

Kita Kita Aja Lari Masa Kamu Ngga..

Run, Eat ,Sleep. Repeat

motivation, photo shoot, running, sport

Kita Kita Aja Lari Masa Kamu Ngga..

Image

Eiger, The Real Adventure GearOLYMPUS DIGITAL CAMERA OLYMPUS DIGITAL CAMERA OLYMPUS DIGITAL CAMERA OLYMPUS DIGITAL CAMERA OLYMPUS DIGITAL CAMERAOLYMPUS DIGITAL CAMERA OLYMPUS DIGITAL CAMERA OLYMPUS DIGITAL CAMERA OLYMPUS DIGITAL CAMERA OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Just Me And My Eiger

review, running, sport, story, trail running, ultra running, ultra trail running

Eiger, The Real Adventure Gear

Image
adventure, mountain running, photo shoot, review, running, sport, trail running, ultra running, ultra trail running

There are lots of tracks around the world you name it. BromoTenggerSemeru100Ultra is one of the prettiest

bts50kDistancebts50course  Bts50Elevationbts100ultraOLYMPUS DIGITAL CAMERA OLYMPUS DIGITAL CAMERA OLYMPUS DIGITAL CAMERA OLYMPUS DIGITAL CAMERA OLYMPUS DIGITAL CAMERAcourtesy of Nefo Ginting bts100ultra001 bts100ultra002 bts100ultra003 bts100ultra004

EAST JAVA – INDONESIA – The Mount Bromo Tengger Semeru Ultra Run race is a unique event that aims to challenge your inner spirit and physical state, as well as to provide race participants with magnificent natural beauty and environment of Bromo Tengger Semeru National Park in East Java – Indonesia at various altitude level.

Running at the high altitude region of Bromo Tengger Semeru National Park, you will experience tracks filled with various scenery, such as sea of volcanic sand (2.200 masl) with low temperature and strong wind. Then you will be running through rural back roads, forest path and prairie with a distant magnificent view of the highest mountain in Java, Mount Semeru (3.676 masl) and the tranquility of Lake Ranu Kumbolo (2.400 masl).

At last, this Bromo Tengger Semeru Ultra Run race will challenged you through 3 different distances, 160 km, 100 km and 50 km, in comfortable weather conditions and a very scenic route.

There are three race categories within the Bromo Tengger Semeru 100 Ultra with total distance of 160Km, 100Km, and 50Km

RACE ORGANIZER

Bromo Tengger Semeru 100 Ultra Committee (Trail Runner Indonesia Community (a Non-Profit Organization))

BACKED BY

Bromo Tengger Semeru National Park (TNBTS) Ministry of Indonesian Tourism Agency, Goverment of Malang Regency, Government of Probolinggo Regency, Government of Lumajang Regency, Government of Pasuruan Regency, Trail Runners Indonesia (TRI), FORAKSI, Young Pioneer (YEPE) Malang, MAPALA Tursina Malang

RACE DATES

Friday, November 22, 2013

Bromo-Tengger-Semeru100 Ultra
DATE Friday, November 22, 2013. Starts at 03:00 pm
DISTANCE 160K
CUMULATIVE ALTITUDE GAIN
TIME LIMIT 46 hours
START / FINISH
Bromo-Tengger-Semeru100 Ultra
DATE Friday, November 22, 2013. Starts at 03:00 pm
DISTANCE 100K
CUMULATIVE ALTITUDE GAIN
TIME LIMIT 32 hours
START/FINISH
Bromo-Tengger-Semeru100 Ultra
DATE Saturday, November 23, 2013. Starts at 05:00 am
DISTANCE 50K
CUMULATIVE ALTITUDE GAIN
TIME LIMIT 12 hours
START/FINISH

CONDITIONS TO PARTICIPATE IN THIS RACE

  1. You understand the unique nature and requirements of competing in an ultra-long distance trail running race. You will be running in the dark of early morning and all day through mountainous terrain and have undertaken the necessary training to compete in such a race.
  2. You will be responsible for yourself and have the ability to deal with any problems that may be encountered during the race.
  3. You are able to deal with, on your own without assistance, deteriorating weather conditions (low temperatures, strong winds, and rain) and other troubles expected when traveling across mountainous terrain.
  4. You are able to deal with extreme fatigue, internal organ and digestive problems, muscle pain, mild physical injuries and psychological problems on your own.
  5. You fully understand that you are responsible for overcoming the above conditions 1 to 4 on your own and that it is not the responsibility of the race organization.
  6. You are fully aware that when participating in an outdoor activity such as this race, your safety depends on your own skills and abilities.
  7. Video/television footage, photos, articles, race results, etc. may be used and/or shown in newspapers, television, magazines, internet, pamphlets, etc. You understand and agree that these rights belong to the race organization and may be used for these purposes.

If during the 2013 race, you do not meet the above race conditions, your entry to the 2014 race may be declined

QUALIFIER

For participant who will enter 160K should had experience at least once in 100K ultra trail race and proof the event name, time record and send by email to BTS100Ultra@yahoo.com

RACE ENTRY FEES

160Km
FOREIGNER US$ 150 / runner
INDONESIAN US$ 100 / runner or IDR 1000000 / runner
100Km
FOREIGNER US$ 125 / runner
INDONESIAN US$ 75 / runner or IDR 750000 / runner
50Km
FOREIGNER US$ 75 / runner
INDONESIAN US$ 50 / runner or IDR 500000 / runner

Registration for Bromo Tengger Semeru 100 Ultra (BTS 100 Ultra) will due on OCTOBER 31st 2013. The Race Organizer WILL NOT accept any more participant after the due date.

*The Entry Fee is not refundable

There are lots of tracks around the world you name it. Bromo Tengger Semeru 100 Ultra is one of the prettiest.

From start to finish we’ll be treated with some marvelous  view.

Dirt track, rocks and sands of bromo are just waiting to be explored.

50k, 100k or 160k the choice is yours.

http://www.bromotenggersemeru100ultra.com

Standard
photo shoot, story

I suddenly remember who that lady was

BilanganFuI really have to write this.
Yesterday on my flight to Malang, the plane’s air con didn’t function very well, which rarely happens.
I was sleepy cuse i was driving all the way from Bandung to Soekarno- Hatta Airport, so i tried hard to sleep.
I forgot for how long but Bang Nefo who was on the left side of the line, chatting with a passenger from the right side of the row.
I remember this guy was wearing a hat, but i forgot what type of hat it was.
They were chatting about running and i was pretty excited because running’s always been a topic of interest for me.
I was still sleepy as i looked at their way, a lady on the guy’s left joined the conversation. That’s pretty cool, i thought to myself.
Before long i also joined the conversation.
After only a few sentences the plane landed.
They said goodbye first, cause they had to get off the plane first.
When i walked out, i can still spot them and i thought they were about to take pictures of the plane.
Turns out they asked to take pictures with us. Say no more, i was happy to do it, considering i was never a camera shy kinda person.
And so we did, turns out the guy in the hat wanted to take our pic all along. he used Leica, M5 i think. Meaning he’s either a rich amateur or really is a professional photographer.
And then we took another photo together. The one above was taken with my cellphone. We still need to wait for the luggages, while they went immediately.
As we waited, Bang Nefo casually mentioned that the lady was a writer, or  novelist, or something he wasn’t really sure of either.
I suddenly remember who that lady was.
The name’s Ayu, Ayu something. Then i recalled it was Ayu Utami.
Ok, no wonder she sounds familiar.
So that’s it for now.

Standard

GarminDon'tAskMe

adventure, moutain running, photo shoot, running, sport, trail running, ultra running, ultra trail running

Dont Ask Me Why I Run. Ask Yourself Why You Dont.

Image

Garmin' s Photo Shoot by Patricia Heny

adventure, photo shoot, running, sport

Garmin’ s Photo Shoot by Patricia Heny

Image
sport

134km Coast2coast Ultra Trail Run – Bromo/Ranukumbolo

Dari sekedar melanjutkan Lari Gunung Nusantara kami, yang digagas Kang Hendra Wijaya, saat- saat cari rute dan gunung  di peta, pantai utara jawa dan selatannya menarik perhatian saya.
dan terkaget- kaget bercampur senang saat mendapati bahwa Bromo ada dijarak terpendeknya. Artinya rute kali ini benar- benar bisa dari pantai ke pantai dan muncak Bromo.

 

image

Setelah tertunda 3 bulan.

image

image

image

image

Standard