adventure, bacaan

60 Adalah 60. Bukan 50 atau 40, apalagi 30

 

Why 60 is SOOO Not The New 40 – The Huffington Post.

“Saat 30 atau 40 lari adalah tabu.

Saat 50 dan sampai kini 60, lari adalah the dream come true”.

———————————–

“Cinta saya saat muda adalah cinta yang malu- malu.

Cinta saya kini adalah cinta yang menggebu”.

————————————

Agak berbeda dengan tradisi pada tanggal- tanggal kelahiran teman- teman usia sekolah SD; termos, misting makan, baju- baju hangat atau pullover adalah benda- benda yang kerap saya terima ditanggal- tanggal saya. Kado ulang- tahun saya dari Mmak dan Bapak.

Kadonya pengidap asma dan bronkhitis. Yang tak boleh kedinginan dan minum yang harus hangat 🙂

‘Nasi tumpeng’nya sup ayam dan perkedel kentang.

Waktu berlalu, jaman berganti, seragam sekolah sudah berganti putih dan biru, asma tak juga kunjung pergi.

Hari- hari tetap dengan kemunculan asma sekali- sekali. Tapi tak menghalangi aktifitas bermain saya. Bahkan semakin menjadi- jadi.

Saya yang semula tak boleh/ bisa bermain, masa- masa sekolah adalah masa- masa penuh dengan bermain dan pergi- pergi. Atau barangkali kata ‘nakal’ lebih tepat 🙂

SD, bersama kakak tertua dan paman, saya kerap sudah berjalan kaki dari slipi ke Senayan demi menonton pagelaran musik atau hiburan apapun lainnya.

SMP, tiduran dengan berpegangan pada besi pinggiran rak barang diatas bus Cirebon – Pangandaran bukan lagi hal aneh bagi saya.

SMA, bersama tiga sahabat- sahabat, Cirebon sampai Bali, nyaris tak berbekal apapun, menumpang berdiri berpegangan diruang sempit lokomotif uap, truk sayuran dan apapun yang serba ‘menumpang’.

Masa- masa kuliah saya diantaranya adalah masa- masa pungut- pungut sepeda atau barang- barang bekas atau sedikit rusak, yang saya coba perbaiki semampu saya, yang kemudian saya jual dengan harga mahasiswa keteman- teman kuliah atau tetangga.

Eh hidup ternyata tak hanya sesak dan batuk- batuk asma 🙂

Hidup saya yang pernuh warna. Hidup saya tak hanya kumpulan dari potongan- potongan kisah ‘tak boleh kemana- mana’, diam dirumah mencoba bernafas dengan usaha keras, tapi juga teman bermain dikomplek tempat tinggal dan hampir dibanyak kampung tetangga. Dan petualangan petualangan seru didalamnya.

‘Masa Kecil Kurang Bahagia’ tak tepat bagi saya. Ya kan?

Masa- masa dewasa, pun adalah masa- masa penuh dengan ‘petualangan’.

Usia boleh bertambah. Petualangan demi petualangan bukan berkurang eh koq malah tak sudah- sudah.

Semangat saya untuk tetap bergerak tak pernah kunjung berhenti. Semangat saya untuk tetap melakukan aktifitas sehat, agar keinginan saya untuk lebih banyak tahu ini- itu, melihat dan merasakan indahnya negeri ini, bisa saya lakukan selama yang saya mampu.

Hidup saya adalah petualangan. Setiap bepergian saya adalah petualangan. Sedekat atau sesingkat apapun.

Pergi bukanlah sekedar berpindah dari satu tempat ketempat lain, dengan hanya dua titik lokasi pergi dan sampai. Tapi juga adalah rentang waktu dan pengalaman diantara keduanya.

Sebentar lagi Inshaa Alloh akan ada ucapan- ucapan selamat yang menghibur. Diantaranya adalah. ” Selamat ya Kang. Tetap semangat! 60 is the new 40″.

Terkesan seperti walau sudah 60, dengan apa’ apa yang tak lagi seperti 40, tapi sama bahagianya koq.

Terimakasih Teteh- Teteh, Akang- Akang 🙂

Tapi saya lebih menyukai ” 60 adalah 60″. 40 tentu saja indah. Apalagi 30.

Tapi 60 saya pun punya indah dan menariknya sendiri.

Kapanpun lembaran tahun kehidupan saya yang lalu- lalu, adalah lembaran kehidupan yang selalu saya nikmati. Dengan sekian duka dan suka yang tak pernah saya sesali.

Tapi saya tak ingin kembali ke 50, ke 40 atau bahkan 30.

Saya tak ingin kembali menjadi 50, 40 atau bahkan 30 tadi.

Lembaran setiap angka tahun adalah lembaran baru. Lembaran kehidupan yang punya tak hanya pilu, haru bahkan sendu, tapi juga dengan pasti banyak tawa, canda, dan kebahagiaan dan petualangan seru.

Saat 30 atau 40 lari adalah tabu.

Saat 50 dan sampai kini 60, lari adalah the dream come true.

Saat 30 sepeda bagi saya adalah bingkai sepeda dan komponen indah, ringan dan mahal yang lebih banyak di elus- elus daripada dipakainya.

Saat menjelang 60an sepeda bagi saya adalah treadmil ajaib, yang tak mesti indah, ringan dan mahal, yang memenuhi kebutuhan cardio saya hari- hari, dan pada saat yang sama bisa mengantar saya kemanapun saya mau.

Benarkan ajaib? 🙂

Cinta saya saat muda adalah cinta yang malu- malu.

Cinta saya kini adalah cinta yang menggebu.

(Sama siapa hayoooo 🙂 )

Cinta saya akan hidup sehat, cinta saya untuk mengajak siapapun untuk juga berpola hidup sehat.

Cinta saya akan kota saya, yang tak dipungkiri masih dengan masalah yang tak sedikit. Tapi terus bergerak berbenah menuju ke kota yang lebih baik.

Cinta saya untuk terus bergerak, tak tinggal duduk manis berpangku- tangan sekedar menyaksikan apapun sekedar datang dan pergi, tanpa saya terlibat didalamnya.

Cinta saya untuk mengajak generasi setelah saya untuk sama seperti saya. Bergerak lintas batas, lintas pulau, sampaikan kebaikan, sampaikan apapun tentang kota. Kota yang sedang berbenah.

Pagi nanti, start di Pendopo, rumah dinas Kang Emil, jam 10:00, dengan sepeda yang saya desain sendiri, dibantu dan dibuat, dirancang didukung perjalanannya oleh teman- teman saya dengan penuh cinta dan doa, sejauh 400km, kearah barat jawa, melintasi selat sunda ke Lampung, adalah bentuk lain kado ulang- tahun saya ke 60 selain termos, misting makanan dan pullover saat saya kecil dahulu.

Selamat Ulang- Tahun ke Enam- puluh Saya..

Terimakasih teman- teman dan salam 🙂

Advertisements
Standard
cerita, tulisan

NYARIS SAJA.

Hujan lebat, selalunya mengingatkan saya akan suatu peristiwa naas yang menimpa salah satu penghuni rumah sebelah.

beberapa tahun lalu.

Sejak siang sampai adzan magrib berkumandang, hujan tak juga berhenti. Sebelumnya malah dengan angin kencang.

Saat melihat air diparit samping rumah, parit buangan kedepan, yang ‘luber’, saya segera ke depan. Pastimya tersumbat di salah- satu penggalan selokan depan rumah. Entah dimana. Karena sejak rumah paling timur sampai rumah kami( tiga rumah) selokannya terbuka. Setelahnya kearah barat nyaris tertutup.

Betul saja, air sudah penuh hampir rata dengan permukaan jalan.

Masuk kembali,keluar saya sudah siap dengan linggis, dorong apapun yang mungkin menyumbat.

Tiba2″ Om!! Jangan Om!. Ada kabel listrik yang jatuh ke selokan!”.

Walau agak temaram magrib, Saya mengenalinya sebagai salah- satu dari tiga atau empat Akang2 pemelihara taman rumah sebelah.

Rumah persis sebelah timur saya. Yang taman depan dan belakang rumahnya paling cantik sekomplek.

Seketika saya berhenti. Melihat keatas. Ya ada kabel yang jauh ke selokan. Tapi terlihat bukan dari tiang listrik, melainkan dari tiang telpon.

Artinya bukan kabel listrik tapi kabel telpon yg setahu saya tak beraliran listrik.

setelah yakin dengan apa yang saya lihat, alih- alih mau ‘sodok’ cari- cari yang menyumbat melalui salah satu bak kontrolnya, saya malah mau ‘pindahkan’ sang kabel yang menjuntai dan jatuh ke selokan dengan linggis saya.

“Om!!!!, Stop Om!!. Ini ada yg mati disini kena strom!!!”

Seketika saya lepas linggisnya.

Astagfirulloh.

Hujan dan angin kecang mendorong tiang listrik hingga kabel terputus.

Ujung satu entah dimana, ujung satunya lagi adalah yg jatuh persis diantara rumah kami.

Tak sengaja terpegang oleh salah- satu Akang pemelihara taman tadi, terlihat oleh dua lainnya, untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak, walau sudah dengan usaha keras dua temannya, Akang ini meninggal seketika. Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi Rojiun.

Kejadiannya berselang hanya tiga puluhan menit sebelum saya nyaris ‘bersentuhan’ dengan sang kabel maut.

Sang kabel maut yang saya kira kabel telpon, yang ternyata adalah kabel listrik yang terputus, jatuh dulu kekabel- kabel telpon, kemudian ke selokan.

Semoga almarhum diampuni segala dosa dan kesalahannya dan diterima disisi Alloh SWT. Aamiin YRA.

Standard
cerita, kisah, story, tulisan

SEPENGGAL KISAH MASA KECIL SAYA

Dunia saya adalah main, main dan main disana – sini.
Dunia saya tak pernah sepi.
Kemanapun pergi, selalu ada siapa- siapa dikanan dan dikiri.

Berkelahi? Selalunya saya hindari. Tapi jika mesti, walau awalnya ragu akhirnya pasti saya hadapi.

SEPENGGAL KISAH MASA KECIL SAYA.

Sejak usia belum sekolah saya sudah suka sekali berteman. Terutama dengan perempuan:).
Tunggu dulu.
Bukan berarti genit atau keperempuan- perempuanan.
Bagi saya mereka tampil tak kasar, tak temperamen. Tak suka berkelahi.
Walau kenyataannya, tak jarang kebalikannya.
Saat tinggal dirumah petak di Batujajar Jakarta dulu, saat pemukiman dibelakang Grand Indonesia masih kampung, lebih sering mendengar si Tante sebelah rumah yang mencak- mencak entah karena apa daripada si Om suaminya.
Lebih sering terlihat si Mbok penjual sayur keliling ngomel- ngomel dibanding Bapak- Bapak tukang becak yng suka mangkal di gang keluar kampung kami.
Saat smp saya malah punya ‘bodyguard’ perempuan.
Siapapun yang ganggu saya, laki- laki pastinya, harus berhadapan dengannya.
Dan selalunya, segagah apapun laki- lakinya ciut dihadapannya.
Ohya, sang ‘ bodyguard’ ini hanya satu dari sedemikian banyak teman- teman perempuan yang suka dengan saya. Stop! Bukan saya maksud saya yang ter ini ter itu, tapi karena mereka menganggap saya.. apa ya, lucu barangkali. Perawakan saya mungil jika tak dikatakan lebih pendek dari kebanyakan se usia saya.
Jadi tampil imut.
Mereka tak sungkan peluk- peluk saya.
Ya itu tadi, barangkali saya dianggap boneka hidup.
Saya? Antara suka dan tak suka. Suka, karena ya dipeluk- peluk itu tadi. Perawakan boleh imut, mungil. Hati kan hati se dewasa mereka:). Tak suka, karena, ya bagaimana saya bisa jadikan salah- satu dari mereka pacar saya? Semua menganggap saya tak lebih dari teman ‘kecil’ yang menyenangkan.
Beruntung, porsi keinginan bermain saya tak kalah besar dengan porsi keinginan punya pacar:).

Jadi, pada akhirmya tetap saja saya lebih suka bersahabat dengan mereka.
Sahabat- sahabat saya sejak kecil sampai usia sma selalunya lebih banyak perempuan.
Bahkan Ibunya anak- anak adalah satu dari dua mantan sahabat saya sma 🙂
Walau tak banyak, beberapa adalah sahabat laki- laki.
Yang pasti teman- teman bermain usia sd saya banyak sekali.
Dari ujung komplek di utara sampai selatan.
Teman- teman main perang- perangan, pedang, bola. Sampai sekali- sekali mancing di sungai dikampung seberang.
Untuk yang terakhir saya lebih sebagai penonton.
Saya tak beruntung dengan urusan mancing- memancing.
Teman- teman sudah belasan ikan didapat, saya tak satupun.
Setali tiga uang dengan urusan adu layangan. Layang- layang mereka bisa berlama- lama lenggak- lenggok di udara sambil putuskan layang- layang lawan, saya selalunya menjadi disisi yang tak pernah lama. Begitu naik ssst putus. Layangan saya. Bukan lawan.
Tapi jika urusan mencari dan banyak  teman, entah laki- laki atau perempuan, rasa- rasanya saya lebih jagoan:).
Rentang usia teman- teman saya dua- tiga tahun kebawah dan keatas. Artinya, saat usia kelas tiga smp misalnya, mereka adalah di usia kelas satu smp sampai yang baru kuliah.
Dunia saya adalah main, main dan main disana- sini.
Dunia saya tak pernah sepi.
Kemanapun pergi, selalu ada siapa- siapa dikanan dan dikiri.
Seperti yang saya pernah ceritakan, Mmak dan Bapak tak pernah keberatan dengan hal ini.
Yang penting setelah solat dan ngaji.
Ditambah lagi saya tak bermasalah dengan urusan sekolah.
Masuk sekolah siang, pulang sekolah saat sore, langsung saya selesaikan semua pe er- pe er sekolah.
Sering kali malah saya selesaikan lebih dari yang semestinya.
Kadang empat sampai lima halaman lebihnya.
Setelahnya selalunya saya mandi, pakai hemd lengan pendek bermotif kotak- kotak, kebanyakannya, terkancing sampai keleher, saya siap pergi main. Tak pernah terlewat, bersepatu:).
Berkelahi? Selalunya saya hindari. Tapi jika mesti, walau awalnya ragu akhirnya pasti saya hadapi.
Pernah suatu kali, seorang teman, mungkin sebab iri- hati akan entah hal apa, berulang- ulang mengganggu saya. Apapun dilakukan untuk memancing emosi saya.
Bagian yang paling menyebalkannya bukan gangguannya, tapi bahwa dia berperawakan jauh lebih besar dari saya dan.. selalunya dia lakukan dihadapan banyak teman- teman yang lain.
Serba salah. Dibiarkan, tak nyaman juga, karena jadi bahan olok- olok yang lain. Dilawan? Tampang dan perawakannya saja sudah mengintimidasi.
Akhirnya, keputusan harus dilakukan. Saya hampiri dia, setengah berbisik saya katakan,” yuk, ga usah koar- koar, mari kita berdua kelapang”.
Dengan perhitungan dan harapan, pertama, siapa tahu gertak saya efektif, membuat dia berfikir lain tentang saya. Kedua, tak lupa berdoa yang banyak, setelah  beberapa kali pukulan dia terhadap saya, yang kemungkinan terbesar tak bisa saya elakan, teman- teman lain sudah merelainya. Semoga, Aamiin.
Perhitungan ketiga, saya akan ambil posisi dimana ada batu sedikit besar atau apapun dalam jangkauan saya, dan siap saya gunakan saat terjepit.
Saya akan hantamkan semampu saya. Sepertinya akan cukup sekali jika bisa ke kepalanya.Seperti yang suka saya lihat di film- film india di layar tancap.
Diluar dugaan, mendengar ‘tantangan’ saya dia tampak kaget.
Tiba- tiba saya melihat hal lain.
Tampak jelas keyakinannya mendadak surut, berbanding terbalik dengan kepercayaan diri saya.
Dan akhirnya ‘perkelahian’ kami berakhir dengan keduanya terjerembab di selokan bau dipinggir lapangan. Penonton kecewa, tak ada adegan pukulan tak berakhir dari sang lawan dan tak ada juga hantaman batu yang mematikan dari saya.
Sebaliknya saya  bahagia:)

Bandung,kamis dinihari, november 2015.
Sepenggal kisah masa kecil saya.
Ditulis saat terbangun dari ketiduran sejak selewat magrib kemarin.

Standard
adventure, biking, cycling, gowes, Jalan- jalan, sepeda, trip, tulisan

Bandung Mentawai RideNFly

 

BikeFlyBikeRumah-Hussein

 

A friend called me the other day, right before Isya. he asked me to go to Mentawai. Which is one of my few dream destinations. It’s not really that far but who hasn’t heard about Mentawai. It’s an island located in the Western part of Sumatra, with its traditional Mentawai tribe inhabitants. Which some may still have animism as their belief. With a canoe-like boat as their method of transportation. One of the most beautiful beach in the world where you can surf, snorkel dan even fishing. Wit its white sandy beach.
More than half of its animal population are endemic. Such as Joja or Mentawai Langur (Presbitys Potenziano), which is a unique species of apes, where they either live in pairs or in a more complex harem group.
Another one is Bokkoi or Kloss Gibbon (Hylobates Klossii) the most primitive kind of gibbons which ironically has a nice voice…or noise, more likely.
With its short and stubby nose and a pig-like tail and two colored body, the Simakebu or Snubnosed Langur (Simias Concolor) is a fast-growing kind of ape.
The event itself is a training for 40 of Mentawaian students who are aspiring to be travel guides. It is an event held by both Mentawai Tourism Board and one of Bandung’s School of Hospitality.
They took this event seriously, not only from the Tourism Board, the Regent himself came all the way to Bandung. They determine to make full use of its tourism instead of only relying in its oil palm produce.
Where do i come in in the picture? My background is in architecture, particylarly home and resort designing. And running of course.
We were planning on staying for a week. The training itself only went for 3 days. we spent most of the early days on travelling. And it should be noted that Mentawai doesn’t only offer pretty waves to be surfed on. Mentawai isn’t only about the traditional people.
We departed by the start of June. My 2 lecturer friends went on a Jakarta-Padang roadtrip for two days because they didn’t want to spend a lot of time in Padang.
As for myself, i’ve been planning to go Bike-Fly-Bike for this trip. I don’t know what the correct term yet, but i’ll keep using it for now.
I bike daily so i’m getting pretty used to it by now so it wasn’t that hard for me to bike all the way from home to the airport. I went for a Bandung-padang flight. I didn’t bring a lot of stuff because i wanted to stay fuss-free during this trip. I used a light daypack. I also didn’t use any bigger bags like that of a pannier. While with Pannier you can store them on the small storage by the wheels. I use a 12 l of daypack.
Unlike what i usually do, where i only pack a couple of short and jerseys for a 7 days biking, i also brought along a trouser and short sleeved shirt while still leaving enough space in the daypack for my gadgets.
I biked from home to the airport and then continued from Padang airport to…pretty much anywhere we were going.
One of the perks of going on a bike is that no traffic will ever be a problem for you. Not to mention it was only 7 km from my house to Bandung airport. So i didn;t have to wake up too early for my flight.
It only took me about 30 minutes to get to the airport. I have an hour to pack up my bike with a wrapping plastic before my flight for me to put into the baggage. I used wrappingplastic because it’s inexpensive and practical. Plus it’s available in every airports. I walk my bike when i’m in the airport. Just make sure to the security person that you will put them in the baggage later. Dismantle the two wheels and then deflate them because their policy doesn’t allow anyone to store inflated things up in the air. And then the two wheels are ready to be wrapped. And then the frames were also wrapped separately. I didn’t take out anything else other than those wheels, except for my camera stand.
My biking days are filled with documented videos and photos. Be it Bandung city views or its more less visited corners.I just rasfered it to my smartphone and then upload them.
I walked my bike all the way to security check while still making sure that the wheels are going to wrapped and put in the bagage. Thankfully they gave me no trouble at all. They even helped me putting it into the baggage, so helpful.
My 48 sized roadbike cost about under Rp. 5.000.000, i wasn’t worry about it. Would’ve been a whole different problem if it cost a whole lot more.
It’s actually safer with a pastic wrap compared to when you use it in a bike box. where people would mistake it for any other box and treat it with no care otherwise.
The wrapping plactic is divided into two, for the complete frame and then the 2 wheels is being wrapped as one. The wrapper is pretty handy when they did it, carefully packig all of the parts and then sealed it with a masking tape.
It only cost about Rp. 100.000 for both wrappings and only weighed about 11,7 kg which is under Lion Air’s 20 kg limit.
Lion Air and Express Air doesn’t charge any extra baggage for the bike, they considered it as the baggage. Garuda wouldn’t even charge us for any sporting equipments. Bikes included of course. Whereas Air Asia would charge us for extra.
With online reservation it went like:
-Domestic for up to 15 kg: Rp. 135.000
-Domestic for up to 20 kg: Rp. 150.000
Domestic for up to 25 kg: Rp. 180.000
Domestic for up to 30 kg: Rp. 240.000
Domestic for up to40 kg: Rp. 390.000
While it would cost more at the airport counter. It’s Rp. 300.000 for up to 15 kg.
The general requirments for you to store your bike in the baggage is:
-1 bike per person
-The bar is positioned along with the frame.
-The pedals need to be dismantle and then wrapped.
-Same goes with the gears.
-The tires need to be deflated.
-Take off the mudguards and then wrap it.
-The pumps, water bottle and other small stuf need to be safely put on the frame.
Not that hard right?
I’ve googled about Sumatran islands way before i went on this trip. We’ve had numerous events in Java, trail runnings in particular.
We’ve only been to Kerinci in Sumatra for these kinds of events. Which is one of the 7 mountain tops in Indonesia. Who knows, in the future Mentawai would be famous not only for its beach destination, but also for the nature trail run.
Alhamdulillah, it didn;t take us too long for finally boarding.
A friend remined me to take up the seat near the window so that i gaze upon the small islands when we land.
But as usual, i forgot to take the seat near the emergency door exit. Thankfully the seats weren’t full so i can just change seat to whichever one i wanted. Alhamdulillah.
We landed before mid day.
I told everyone i was going to bike from the airport so noone needed to pick me up. It didn’t take me long to fetch my bike from the conveyor belt and inflated the tires back on the spot. It was quite a spectacle to say the least. Before you knew it, i was already on my way from the airport. Don’t forget to throw all of the wrappings in the trash bins.
The second day, on Tuesday morning, we were already ready in the dock. My friends got dropped of by car, while i of course, biked all the way. It was only 2 km from the hotel to the dock. Easy peasy. We had lontong sayur Padang for breakfast, which is a tasty local delicacy of rice cake and vegetable curry.
We got in the boat at 7. I stored my bike on the upper deck and then tied it to be safe.
The boat ride cost about Rp. 250.000 per person. The Mentawai Fast boat could fit in about 200 passengers. And goes for 50 km/h. Pretty fast that it only took us 6.5 hour to go from Siberut-Mentawai. WIth a 2 hour stop at Sikabaluan, Mentawai.
The waves were gentle. Can’t wait to see a real wave, the ones in southern part of Siberut, which many considered as the prettiest. As well in Roniki Island, Karangmajat, Mosokut, SIbege, SIbarubaru dan some other places.
The waves are also sort of uniquely named. Waves like Ombak Ular Left, Ombak Tikus Left, Beach Break Left & Right, and Bang Bang Left, etc.
The Mentawai Fast boat was pretty clean. And most importantly all of the rooms are non smoking rooms. Alhamdulillah.Since i quit 20 years ago, i’ve grown no tolerance for cigarette smokes. I’d have asthma even when i inhale them.
Mentawai Fast doesn’t allow any passenger to go to the upper deck. The deck is opened, except for the one in the far back which has a roof but is opened on the side.
Which is suitable for them who can’t go on a day without smoking, Or those who has sea sick. Fortunately the other decks are comfortably air conditioned.
From the Muara Padang deck we took a short stop at SIkabaluan, Mentawai. We waited for 2 hrs for the passengers from here.
It tool 1,5 hrs from Sikabaluan-Muara Siberut.
The waves were still gentle, not unlike those of river, eventough it’s already in the sea. The weather was typical island hot.
The Mentawai island is surrounded by tropical rain forests. From the primary forest, mixed primary forest, to the swamp forest. Each islands with its own flora.
Mentawai is the traditional life of its inhabintans. Also has the oldest tattoo tradition in the world. I am especially interested in their plan of only relying on its tourism and not on its palm oil export anymore. I instantly said yes when the offered to take a sight-seeing trip. 
For them to compeletely maximize the tourism they need to fix their infra-structure elements first. The road needs to be well travelled, same goes with the road lights and electricity throughout the island.
As of today the only communication access is only available in the island’s capital region, Sipora Island, on the Southern part of Siberut Island, the biggest island in Mentawai.
Some location in Siberut are already facilitated with communication access.
As for the road, it was indecent to say the least. The concrete were holed and many were damaged and the road could only fit 2 cars from the opposite directions. The rest could only fit for 2 wheeled vehicles.
But a lot can be done to set itself as the cleanest tourism destination while waiting for them to fis the infra-structure elements. Clean and Bike-friendly Mentawai could be the main tourism destination in the country. Not to mention with many of its beach focused events, like surfing, running and biking.

So that’s it from me. See you at another RideNFly, in Malino, Bira Beach South Sulawesi.
With Pannier in the back on each sides of course.
See you then.
 

 

Standard
inspiration

Alon- Alon Asal ke Boston

image

Suatu ketika, di Bandung, awal- awal 2010.

Terengah- engah, menapaki trek disisi timur Taman Hutan Raya. Di utara Bandung.
Entah seperti apa gaya pelari  pemula yang lain. Saya? Menahan tak menurunkan kecepatan saat papasan  dengan pengunjung- pengunjung taman, yang hampir semua berjalan kaki. Dan.. seketika melambat begitu sudah diluar pandangan mereka, jika tak dikatakan berhenti. Hah heh hoh  😉
Sang teman tak juga membalas sms saya.
Kesal campur  senang. Kesal yang membuat bingung.
Sekian jauhkah saya tertinggal?
Senang, seperti yang diingatkan kembali, lari- lari di kehijauan luar- biasa sekali.
Nyaris sampai Maribaya sms sang temanpun muncul.
” waks sorry Ki, meeting lom beres”.
“?”.
Hadeuh.
Hari- hari setelahnya suka- suka saya berlari di kehijauan semakin menjadi- jadi.
Lari- lari saya yang semula adalah keliling lapang bola dikomplek, kemudian dijalan- jalan keliling komplek, sempat dua bulan di gym( jika hujan), setelahnya  ternyata berlari dijalan- jalan kota  jauh lebih menarik dan mengasyikan.
Dan puncaknya adalah lari start Jayagiri kepuncak  Tangkubanparahu. Sedikit menurun kearah bibir kawah Ratu. Dan kembali ke Jayagiri.
Sendiri dan seringkali.
Memang terlambat sekali saya sadari. Tapi, tak sedikitpun disesali.
Jika saja ada yang pantas disebut keberhasilan dalam hidup, bagi saya barangkali adalah, maaf, semoga tak terkesan melebihkan, berat dan bentuk badan yang sejak menikah 36 tahun lalu terjaga; yang semula selama lebih dari dua puluhan tahun perokok berat( dua bungkus tanpa filter plus tembakau lintingan 50 gram yang habis dalam dua hari),  di  1995 berhenti seketika, tanpa harus itu- ini; dan.. akhirnya, setelah puluhan tahun berhasil bisa berlari 😉
Ups, niatnya bukan tulisan mengenai saya, tapi tentang sang teman yang karena meetingnya yang tak selesai- selesai, mengesalkan tapi bersyukur membuat saya semakin jatuh- cinta akan lari.
Sang teman yang menginspirasi.
Sang teman yang punya andil  besar dalam hal ‘keberhasilan’ saya terakhir tadi.
Sang teman yang entah dikesempatan mana pernah berseloroh, ” Alon- Alon Asal ke Boston”.
Dan ternyata selorohnya menjadi kenyataan.
Dengan waktu lebih cepat dari 3 jam 10 menit 58 detik untuk full marathonnya, 42,195km, sang teman mendapat kualifikasi keikut- sertaannya di Boston Marathon 2015. 19 april mendatang ini.
Ajang lomba lari marathon bergengsi dunia.
Selamat Bang Muara Robin Sianturi.

Doa saya, semoga yang terbaik.
Terimakasih telah menginspirasi.

Bandung, Maret 2015.

Standard
adventure, cerita

Lari Gambung – Cileunca – Banjaran, Dan Monster Steak

Tak menunggu lama sang monster steakpun tersaji.

Iyalah, wong medium rare. Disamping memang sudah liwat jam- jam makan siang juga.
1, ya satu, kilogram has dalam tergolek cantik manis menggoda di.. piring sih, tapi berbentuk pipih segi empat, berukuran tak biasa, selebar serbet makan  berbahan damas. Diatas meja didepan saya.
Sementara si akang waiter seperti yang sudah saya duga, terheran- heran.
Pendampingnya kentang  & salad. Agak tak biasa, kentangnya dibuat kripik, bukan tumbuk atau frenchfries.
Di salah- satu resto dari yang banyak berderet sepanjang jalan Riau.
Dan salah- satu menunya adalah Monster Steak.
Asli 1 kilogram has dalam. Jika mau mereka bisa timbangkan dulu sebelum disiapkan.
Persis beberapa saat, sebelum perlahan tapi pasti, akhirnya sampai ke potongan terakhir monster steak saya, Akang manager tiba- tiba muncul didepan saya.
“Damang Kang?”
“Alhamdullilah Kang, moga sama juga”..
Sapaan ramahnya berlanjut dengan,” Kang, anak- anak( maksudnya waiters) pada taruhan, Akang bisa ngabisin ga ..”.
” 🙂 “.

salah- satu dari beberapa menu lainnya yang monster- monster juga, biasa dipesan untuk 4 orang.

Itupun masih 250 gram per orangnya.

Pagi hari sebelumnya saya memulai lari- lari sendiri saya. Start di ketinggian 1400m Kampung Gambung. Dilereng Gunung Tilu. Masuk kabupaten Ciwidey. 35km selatan Bandung.

Trek melipir dikaki gunung Tilu. Arah danau Cileunca. Kemudian lanjut menurun kearah Banjaran.
60an k.
Hanya sedikit porsi disiapkan untuk sang monster ini setiap harinya..
Salah- satu dari promo mereka.
Harganya super murah untuk seukuran  raksasa ini.Berkualitas baik. Saya tahu sekali.
Jika disatu tempat saya ragu dengan daging steaknya saya cukup pesan blue rare atau rare. Minta hanya di marinade sebelumnya dengan garam laut, sedikit merica dan oregano. Mutlak saus dipisah. Jika menolak, artinya daging mereka jelek. Jika ya, boleh berharap baik 😉 .
Tak sedikit yang mengharuskan kita merogoh kocek sampai nyaris 100an ribu untuk 125 gram steak .  Bukan has luar. Apalagi has dalam. Padahal dikelas Warung Steak biasa.
Dengan banyak lemak disana sini.
Cukup mereka marinade lama sebelumnya dengan bermacam- macam bumbu. Semakin semarak, semakin aneh, semakin ‘tertutup’ jeleknya sang daging.
Istilah saya untuk ini adalah ‘ Daging bumbu’.
Tak berarti tak ‘enak’. Sebaliknya. Buktinya banyak warung- warung steak( yang sekarang sudah menyebut diri Steak Resto atau ada yang berani dengan Steak House) laku. Selalu penuh.
Padahal ya daging bumbu tadi. Daging yang bukan ‘daging’. Jadi yang ‘enak’ adalah bumbu- bumbunya. Dan sang daging hanyalah sekedar media.

Dikita, asal pedas, panas, di goreng atau bakar, apapun bisa jadi enak. Sekedar aci( tepung tapioka) pun diburu. Cireng kan?
Sekali waktu saya antar seorang klien, yang minta dibuatkan resto & cafe, coba menu steak ke beberapa tempat di Jakarta. Mulai dari kelas Warung Steak sampai Steak House sekelas O*tb@ck.
Disalah- satu, lokal, amat sangat terkenal, kami pesan 3 ( tiga ) menu steak, dengan tingkat kematangan berbeda( rare, medium, well done), lokal, US & NZ. Seperti tertera di menu.
Kami temui, ketiganya dari bagian sapi yang sama dan lokal. Disiapkannya saja yang berbeda. Jangan- jangan dari satu sapi yang sama.
Ditambah adegan mencelatnya garpu saya 😛 .
Harganya? Tahun 2004an, 75rb sampai 125rb, umtuk 125 gram? tak sepadan.

Bersambung

Standard
cerita, motivation

PERUT RATA DAN BOKONG YANG SEDIKIT ADA

perutrata

Sejak menikah 35 tahun lalu, berat badan saya tak berubah sama sekali.

Dengan tinggi badan yang sayangnya tak sampai 170cm kurang sedikit( sengaja saya tulis sedikit, agar terkesan dekat ke 170cm 😛 ), berat badan saya tetap di 58kg.

Agak kurang untuk disebut ideal.

Tapi saya cukup sehat dan senang- senang saja. Bahkan merasa selalu bisa bergerak lincah.

Rasa- rasanya demikian juga dengan perut dan    bokong saya.

Merasa ‘gendut’ jika baru saja makan agak banyak. Dan bokong? Tak istimewa bak peragawan, tapi yaa ada sedikitlah, tak rata- rata amat.

Candaan diri kesukaan saya adalah ‘ badan harus menghadap kedepan’. Yang saya maksud adalah perut rata, bokong sedikit ada. Karena jika perut ada dan bokong rata, artinya kan sebaliknya, saya merasa berdiri menghadap kebelakang( just kidding 😛 ).

Maaf saya tak berniat menyinggung siapapun.

Tadi malam, kebetulan saya harus selesai duluan dengan lari- lari malam saya di Eiger Thursday Night Run.

Tak sengaja ada beberapa teman wiraniaga di resto sebelah- sebelah  yang bertanya kepada saya, bagaimana caranya punya perut rata.

Jaman apa- apa bisa bertanya ke Mbah Google, saking banyaknya mungkin membuat bingung mana yang dipilih.

Saran saya, sambil menunggu menemukan yang diinginkan, yang sesuai, barangkali beberapa hal yang sudah dan masih saja saya lakukan bisa dicoba.

1. Gerak, gerak dan gerak.

Keputusan saya dan nyonya untuk sejak menikah mengerjakan semua urusan/ kerjaan ruman, anak dan tetek- bengeknya sendiri membantu sekali untuk hal ini.Sapu, ngepel, bersih- bersih. Sampai- sampai saking seringnya bergantian menggendong nina- bobo anak2 kami saat kecil, membuat saya, jika berdiripun goyang- goyang sendiri, bergerak seolah  saya sedang menina- bobokan anak saya 😛

Menghindari menggunakan mobil sendiri jika memungkinkan.

Jika ya, selalunya tak terganggu dengan parkir mobil yang jauh dari kemana kami harus berada.

Menghindari lift/ eskalator semampu- mampunya.

Saat anak- anak di usia ‘ bisa dimintai tolong ambil itu ini’ seringnya saya lakukan sendiri.

Saya bukan tipikal suami yang harus selalu dilayani. Walau sang nyonya selalu siap dan senang hati lakukannya.

Sekedar buatkan suguhan untuk tamu saya, tak mesti minta tolong orang rumah. Apalagi untuk sendiri.

Dapur saya tak mahal. Tapi husband friendly 😉

Saya bisa nyaman siapkan teh atau kopi, cuci- cuci sampai siapkan sendiri sarapan pagi.

Walau selalumya sudah keduluan sang istri.

2. Urusan asupan saya tak punya pantangan. Semua suka. Bahkan sukaaaa sekali.

Tapi tak satupun yang menjadi keharusan.

Saya bisa tahunan tak makan nasi. Saya bisa diet apapun jika harus.

Berusaha tak sering-sering tentu saja goreng- gorengan, jeroan, yang terlalu berlemak, manis- manis dan bumbu yang terlalu tajam, kecuali pedas.

3. Berusaha sesering- seringnya bepergian.

Sering bepergian tak berarti tak betahan diam dirumah.

Saya suka dengan ungkapan “Selalu semangat pergi meninggalkan rumah, karena akan banyak mengalami/ menemukan banyak hal- hal baru.

Dan tak kalah semangatnya saat akan pulang, karena akan bisa ‘ istirahat’ sesuka dan senyaman suasana rumah sendiri”.

4. Persoalan dan masalah? Siapa sih yang tak punya sama sekali?

Tentunya saya tak terkecuali.

Saya tak membiarkan untuk memikirkan 1 persoalan/ masalah saya di waktu 24 jam saya dalam sehari.

Masih banyak hal itu- ini yg harus saya bagi.

Jadi, jika ada 1 hal tak juga kunjung selesai secara membuat saya happy, ya biar besok2 aja lagi.Toh dipikirin terus juga tetep we gitu lagi gitu lagi.

5. Sejak 5 tahun lalu saya tambahkan dengan berlari trel.

Larinya sendiri kita semua tahu manfaatnya. Lari trel?

Gerakan naik/ turun( turunan dan tanjakan), kaki yang banyak diangkat lebih tinggi,membuat otot perut banyak dirangsang untuk menjadi kencang. Suasana dan pemandangan yang hijau, udara lebih bersih, semua- semuanya adalah hal- hal mudah dan indah yang membuat lebih cepat lagi ke “PERUT RATA DAN BOKONG YANG SEDIKIT ADA”.

Eh sudah waktunya sepedahan dan lari pagi sambil pungut2 sampah ini.

Yuk atuh,

Selamat  pagi, selamat hari jumat 🙂

Standard
cerita, renungan, story, tulisan

Bapak

Untuk se usia 84 tahun, Bapak terhitung sehat.

Padahal lama sudah tak lagi banyak jalan kaki, seperti terakhir 1995an.

Menata taman dan lingkungan seluas 32 Ha enteng- enteng saja. Selalu berjalan kaki. Dibantu belasan tukang taman.

Sejak matahari menjelang, sampai sebelum magrib. Berhenti hanya saat makan siang dan minum teh sore dan waktu- waktu solatnya.

Luar- biasa suka- suka Bapak akan taman, desain rumah/ bangunan. Padahal Bapak tak bisa menggambar sama- sekali.

Tapi kerap bisa berdiskusi seru untuk urusan desain rumah/ bangunan dan taman serta banyak hal yg berhubungan.

Sejak Bapak di diagnosa ada gangguan jantung, Bapak tak boleh lagi ‘capek- capek’.

Entah memang sedemikian ‘parah’nya atau memang Bapak yg tiba2 saja ‘ malas’ jalan kaki lagi.

Hari- hari Bapak tak banyak berubah, kecuali minus jalan kaki jalan kakinya.

Keluar kamar pertama setiap harinya Bapak selalu sudah terlihat rapih. Selalu sudah mandi. Berhemd lengan pendek/ polo hemd. Polos atau bermotif garis- garis atau kotak- kotak kecil. Yang pasti berwarna cerah. Tak pernah lusuh ataupun kumel.

Celana pendek selutut atau panjang.

Sarapan, baca koran dan berita pagi di tv.

Satu dari banyak hal yang saya suka dari Bapak.

Selalu tampak rapih. Walau seharian dirumah.

Seminggu dua minggu sekali bersama Mmak( panggilan Ibunda) keluar kota. Sekedar nengok salah- satu anak2nya.

Atau bersama teman se usianya, bernostalgia ke perkebunan- perkebunan di jawa barat. Sekali- sekali sampai ke Jawa tengah jawa timur.

Seperti saya, Bapak tak punya pantangan makan. Tapi cukup rapih. Tak kebanyakan menyukai itu- itu saja. Terhitung apik.

Seumur- umur bukan perokok. Apalagi peminum alkohol.

Bapak hanya kenal air putih dan teh hangat tawar.

Bapak yang saya ingat. Jika sekarang, ‘cool’ barangkali adalah ungkapan yang nyaris pantas.

Sejak dulu.

Di usia sudah Bapak- bapak, tahun 75an. Berarti bapak di usia 44an.

Tahun- tahun itu, usia sekian kan biasanya tampil lebih ‘tua’ dibanding sekarang- sekarang.

Bapak- bapak lain biasanya berambut terpangkas rapih. Bapak ikal dengan sedikit lebih panjang.

Umum saat itu banyak keluarga bermobil model sedan, jeep. Bermuatan banyak.

Bapak pakai fiat 850 sport dua pintu.

Maunya malah mini cooper.

Padahal kami anak- anak sudah bertujuh.

Kaka terbesar usia 18an, terkecil 6 tahun.

Lucunya, kami semua, Mmak dan anak- anak mendukungnya.

Bukan karena Bapak ‘memanjakan diri’. Tapi ya memang kami semua suka seperti itu.

Kami semua dekat satu sama lain. Tapii tak berarti sering pergi bersama. Jika ya pastinya dengan kendaraan umum atau yang lebih besar. Sewaan.

Jadi mobil yang sport berpintu dua dan hanya satu- satunya sama sekali tak ‘mengganggu’. Bahkan ya itu tadi, cool 😉 .

” mana lebih seru, 1 mobil yg bisa banyakan, besar, tampil kebanyakan, tapi seringnya dipake cuma Bapak sendiri, atau berdua Mmak, atau paling Kang Denny( kakak laki- laki tertua), atau, mobil kecil, sport 2 pintu yg lucu?”. Pertanyaan Bapak yang tak sulit dijawab oleh semua seisi rumah.

Keesokan harinya sang sport berpintu dua menjadi satu- satunya dikota kami.

 

Tujuh anak, tujuh cara berbeda Bapak menghadapinya.

Setiap orang- tua selalunya akan bersikukuh, tak membeda- bedakan anak- anaknya.

Bagi saya? Rasanya si Bapak lebih deh ke saya.

Apapun.

Bagi Bapak, saya ter. Saya paling tertib, paling pandai. Dan ada saat- saat saya paling nakal, paling bandel. Pastinya ada saat saat saya paling mengesalkan.

 

Sejak kecil saya adalah teman Bapak.

Paling suka sarapan bareng Bapak. Paling suka habiskan makanan Bapak yang karena terburu- buru, tak sempat.

Paling suka menjadi teman Bapak baca koran. Atau mendengar cerita- cerita Bapak dikantor, dijalan.

Mendengar kisah- kisah Bapak jaman baheulanya.

Bapak yang selalu semangat mengajari saya apapun.

Jauh sebelum usia sekolah, saya sudah pandai tulis, baca, bahkan beberapa kalimat inggris dan belanda.

Menggambar apalagi. Yang terakhir bukan Bapak, tapi kaka sepupu saya yang ajari. Pastinya dengan dorongan Bapak.

Tak berkecukupan pada saatnya tak menghalangi Bapak untuk selalu berusaha agar saya mendapatkan apapun yang sebaiknya saya miliki.

Sampai.. saat saya lulus sma,” Ei, Bapak hanya bisa belikan tiket sekali jalan dan sedikit uang untuk makan beberapa minggu. Bapak percaya Ei bisa atasi apapun disana”.

 

Belakangan saya jarang tengok Bapak. Padahal saya lah dari tujuh bersaudara yang tinggal paling dekat dengan Bapak.

 

Saat ini Bapak masih opnam di rumah- sakit.

Jantungnya baik. Asam uratnya pun tak mengkhawatirkan.

Yang di deritanya ‘hanya’ gatal2 sebadan. Merah- merah. Disebagian tangan dan kaki malah seperti melepuh.

Dokter bilang Bapak kekurangan albumin. Mungkin Bapak terlalu ‘Apik’ makannya. Sampai- sampai asupan gizinya jauh berkurang.

Ditambah lagi banyak obat yang diminum. Untuk jantungnya, asam uratnya dan saraf. Bapak belum berapa lama terkena parkinson.

 

Kembali ke saya dan Bapak.

Tak saya maksudkan bahwa Bapak adalah Bapak terbaik di dunia.

Bapak, seperti juga mungkin beberapa Bapak- Bapak lain di manapun, pastinya tak luput dari salah. Tak lepas dari keliru.

Hal- hal yang manusiawi.

Tapi yang pasti, apa yang sudah, sedang dan pasti akan Bapak berikan kepada saya, tak akan pernah terukur.

Ibarat tulisan kisah/ cerita fiksi India, Mahabarata atau Jodha Akbar. Tak akan berakhir sampai ajal menjelang.

Sementara saya ke Bapak, mungkin tak lebih dari satu goresan kecil. Itupun pendek.

Ajal menyapa, tak hanya saat tua, tapi juga saat muda. Tak hanya saat sakit, begitupun saat sehat, gagah nan perkasa. Hanya Tuhan yang tahu..

 

Saya berdoa, semoga Alloh memberikan yang terbaik bagi Bapak. Aamiin.

Saya bukan sedang mendayu- dayu.

Saya ingin mengingatkan diri saya sendiri dan barangkali siapapun.

Saya tak ingin, saat Bapak, jika memang sudah menjadi kehendak Alloh, dijemputNya, tak tiba- tiba menangis meraung- raung sampai terdengar keujung jalan. Menyesali banyak hal. Menyesal tak memberikan apa yang mampu, bahkan jika ya seisi dunia. Padahal saat Bapak masih ada, tak segorespun yang diberikan kepada Bapak.

Pastinya saya akan bersedih. Sedikit terisak mungkin.

 

” Bapak ga usah khawatir lagi. Ei yg selalunya dimata Bapak adalah Ei kecil,yg suka megap- megap saat anfal asma, dulu, duluuu sekali, sudah lama sehat koq. Sudah bisa lari2 lama. Kadang berhari- hari. Sudah bisa lari jauh, bahkan ratus- ratus kilo”.

“Sampai nanti sore lagi ya Pak”.

 

Bandung, Advent pagi hari.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Standard
Uncategorized

Putri, Sang Guru Ngaji

Lama tak kelihatan, sudah usia smp lagi saja Neng ini.
Berkulit agak gelap, rambut keriting. Dan senyum yg manis.
Oh, yang saya maksud adalah saya yang lama tak melihat , bertemu anak tetangga sendiri.
Saya lupa sama sekali, siapa namanya.
Yang pasti saya ingat adalah, ibundanya pernah mengajar ngaji istri saya. Belasan tahun lalu.

” Yah, kenalin ini Mba Putri, guru ngaji. Panggil Putri aja ya? Kan jauh masih muda gini”.

Dipengajian berikut.
” Putri,  mba mba tetangga depan juga mau pada belajar ngaji. Bisa ya? Sekalian”.
” Iya mangga Ceu, nuhun. Alhamdullillah’.

Beberapa bulan kemudian.
” Yah, Putri ni dijodohkan mba- mba tetangga kita, sama adiknya, si Mas… tau lah ya?. Kan masih sendiri”.
” Oh, Alhamdullillah atuh”.
” Tapi Putrinya bingung”.
” Lho?”.
” Iya, Putri bilang, Putri mau, tapi Putri kan masih dalam perawatan rumah- sakit jiwa. Apa kata mba- mbanya nanti. Putri tanya, bagaimana menurut kita”.
” Wah, tau apa kita? Bingung”.
” Ngga keliatan seperti yang sedang dirawat ya?. Rasanya biasa- biasa aja. Ngajarin ngajinya bagus, enak”.
” Yah, coba tanya- tanya, cari info, harus apa kita.
Nanti mau ajak ngobrol Putrinya juga”.

Berbekal informasi Putri, esok harinya saya ke jalan Riau 11. Alamat yang sudah sejak usia SD saya dengar, tapi baru tahu sekarang dimana tepatnya.
Walau baru pertama kali ke rumah sakit jiwa ini, saya tak merasa canggung, karena ‘ jalan- jalan’ saya adalah juga, sesempatnya saya, ‘kunjungan’ ke pasar- pasar yang becek, gang- gang pemukiman kumuh, gedung pengadilan, sampai ruang tahanan kantor kepolisian.
Semoga bukan karena ‘pupujieun’ orang sunda bilang.
Tetapi sedikit usaha saya, mengingatkan diri- sendiri, bahwa ada kehidupan lain, disamping kehidupan yang selama ini sudah saya kenal.

” Ya Pak, Mba Putri ini memang dalam perawatan kami. Bersyukur Mba Putrinya mau rutin periksakan ke kami.
Selama rajin periksakan diri dan teratur minum obatnya, mestinya ta ada masalah dengan rencana menikahnya”.

Walau berhalangan untuk hadir di hari pernikahannya, kami bersyukur, sebelumnya bisa sedikit terlibat di persiapannya.

Kini, sang anak, yang senyumnya manis, baik- baik, sehat- sehat saja.
Putri, sang ibunda,  yang mengidap gangguan jiwa, saya lupa di tingkatan yang mana, dan sang ayah, pengidap epilepsi, Alhamdullillah sama juga. Selalu terlihat baik- baik saja, rukun- rukun saja. Malah, sepertinya pasangan yang paling terlihat selalu sama- sama kemanapun juga.
Putri masih mengajar ngaji. Masih aktif di kegiatan ibu- ibu komplek . Walau sekedar arisan, membagikan edaran dan undangan.
Kang Masnyapun sama. Tak pernah lagi terdengar serangan epilepsinya. Seperti jauh sebelum pernikahannya.
Putri dan Kang Masnya, seperti juga Putri- Putri dan Kang Mas- Kang Mas yang lain, hanya berharap mendapatkan sikap dan pandangan yang sama, seperti sikap dan pandangan kita kepada yang lain.
Selamat hari senin dan salam 🙂

Standard
berbagi, event, inspiration, komunitas, olahraga, renungan, running, sport, story, tulisan

BandungJakartaRun4Leukemia

wpid-p6130011.jpg

Awal 80an berangan- angan, sekali seumur- hidup turut dalam lomba lari 10k. Kekaguman saya akan olahraga lari mengalahkan kekaguman saya akan olahraga2 lain, apapun yang menggunakan alat.
Apa daya, asma & bronkhitis bawaan sejak lahir menjadi penghalang. Setidaknya begitu yang saya fahami selama itu.
Awal 2010 adalah lari ‘serius’ saya pertama.
Selanjutnya, kecintaan saya akan lari semakin besar. Dan ‘mengalahkan’ penghalang saya.
Sepertinya kapanpun saya siap untuk berlari puluh bahkan ratus kilo.
Haruskah? Tak mesti tentunya.

wpid-p6130022.jpg
10-30 menit berlari dalam sehari sudah ‘memenuhi’ untuk sehat.
Tak hanya untuk sehat sendiri, berlari ternyata bisa untuk banyak hal positif lainnya.
Misalnya, seperti yang dilakukan teman2 yg baru saja semalam, 13 juni 2014 lalu, memulai lari bandung- Jakartanya. Berlari untuk adik2 penderita Leukemia.
Diharapkan finish menemui adik- adik kita pada tanggal 15 juninya.

wpid-p6130031.jpg
Berlari sebagai bentuk kepedulian mereka akan penderitaan adik2 ini. Akan orang2 disekitar adik2 ini.
Berlari sebagai bentuk kepedulian terhadap sesama. Adik2 kita diantaranya.
Semangat teman2. Tetap sehat. Selamat sampai tujuan. Dan kembali ke Bandung.
Terimakasih tim pesepeda, motor & mobil pendukung. Terimakasih League, PocariID, SAB. Terimakasih semua teman- teman komunitas lari tanah- air.
#bdgjktrun4leukemia

wpid-p6130051.jpg

wpid-p6130065.jpg

wpid-p6130070.jpg

Standard
cerita, story

Passion For Adventure. Versi kami.

” Gawat, ga dapet ijin”. Berarti ga ada duit juga.
Hening sesaat.
” Udahlah, seadanya duit aja”.
” Pangandaran?”.
” Kurang”.
” Jogja?.
” Apalagi atuh”
” Bali bali”.
” Hah?”.
” yuk!”.
” Yuk!”.
” yuk!”.
” Duit?”.
” Wah..”.
” Gw palingan… dua ratus..”.
” Tiga ratus lima puluh,..”.
Terkumpul kurang- lebih seribu rupiah, obrolan di warung Bi Dar, tempat kami, berempat,  jajan dan sembunyi- sembunyi merokok, berlanjut dengan pertanyaan- pertanyaan, “naik apa?”.
Menit- menit berikut kami ancang- ancang melenggang ke stasion kereta- api.
Idenya adalah dengan seadanya uang disaku, naik kereta- api barang kemanapun, kearah timur.
Pikiran cetek, tak ada satupun yg berfikir, kan harus makan.
Stasion Cirebon sebenarnya dekat saja dari komplek tempat sebagian dari kami tinggal.
Masalahnya adalah, dari rumah ke stasion artinya melalui kampung musuh kami.
Masalah yang tak main- main. Bisa- bisa babak- belur kami yang hanya berempat. Sementara mereka bisa terkumpul puluhan dalam sekejap.
Ide yang akhirnya kami anggap paling cemerlang adalah.. naik kereta barang dari sebelum masuk kota. Karena kereta barang sering melambat saat memasuki kota. Seringnya. Semoga.
Dan jarak yang lima kali lipatnya pun kami tempuh demi terhindarnya dari pukulan dan lemparan batu. Amit- amit.
Naik kereta barangnya sukses. Tujuan ke arah timur yang tidak.
Kereta barang berhenti di stasion Cirebon.
Jadi, jalan kaki sejauh lima kalinya, melompat naik kereta barang, untuk jarak yang juga sama, dan sampai stasion menemui kenyataan bahwa kampung sang musuh ternyata sepi. Fiuh.
Berangkat ke timur berarti kami akan melalui persimpangan kereta jalan Kartini.
Jalan paling ramai dikota kami. Dan.. paling banyak dilalui teman2.
Hah, ternyata kami berempat ini tak hanya sok berpetualang tapi juga tak cukup percaya diri untuk terlihat naik gerbong barang.
Mencoba masuk ke gerbong tentu saja tak mungkin. Semua terkunci.
Karena tak seorangpun dari kami yang sukarela untuk berdiri dikiri atau kanan terluar, ya itu tadi, malu terlihat oleh siapapun nanti diperempatan saat kami melintas, akhirnya undianlah cara satu- satunya.
Dan seperti biasa undian tak pernah berpihak kepada saya.
10 menit.. 30 menit. Sudah 1 jam lebih kereta tak juga berangkat.
Saat kami tanyakan kepada seorang petugas, jawabannya sungguh diluar dugaan,” berangkatnya 3- 4 hari lagi”.
Petualangan di kehidupan nyata berjalan tak semulus seperti di film- film.
Bunyi peluit lokomotif uap mengakhiri debat kami atas dilanjutkannya atau tidak rencana sok petualangan ini.
Kedatangannya yang serasa tiba- tiba seperti menyemangati kami.
Kali ini kami berfikir sedikit lebih pintar. Saat akhirnya rangkaian kereta api berhenti, kami datangi sang masinis. Menanyakan apakah keretanya juga berhenti beberapa hari atau lanjut kearah timur.
” 2 jam lagi berangkat”.
” Naik disini saja. Jangan di gerbong”.
Yang dimaksud adalah, kami naik di ruang masinis, membayar 100 rupiah setiap stasion kepada masinis, dan siap2 kabur sebelum dipergoki petugas di stasion yang akan kami lewati.
Kalau sekarang saya melihat orang- orang yang menumpang kereta api dengan cara duduk diatapnya, komentarnya tak jauh- jauh dari, maaf, ” Dasar tolol”. Nah seperti itulah kami.
Bukan diatas atap memang, tapi sama- sama tak pakai otak.
Berpegangan satu tangan pada apapun yang bisa. Satu kaki berpijak, tangan dan kaki lain seenaknya melambai dan mengayun bebas, menantang angin yang menerpa.
Bahagia itu sederhana. Dan berbahaya.
Udara panas dari pembakaran batubara, angin kencang, dan terik matahari. Dan tentu saja muka coreng- moreng campuran debu dan kotoran udara lainnya. Mengawali sok petualangan kami kali ini.
Sama hebohnya dengan saat 3 tahun sebelumnya, Pangandaran- Cirebon, diatas atap bus.
Penyesalan teramat – sangat, padahal baru beberapa menit naik keatap bus. Tapi gengsi juga yang membuat kami bertahan.

Berjalan diatas rel, hanya menimbulkan goncangan tak berarti kearah samping. Pantas saja, siapapun bisa berlari kencang diatas atap kereta yang juga melaju kencang.
Stasion demi stasion kami liwati. Bersukur tak ada petugas yang melihat kami. Bersembunyi adalah salah- satu keakhlian kami.
Masuk waktu isha kami sampai di stasion jogja.  Rangkaian kereta hanya sampai disini.

Karena saat itu tak ada lagi kereta yang kearah timur, entah esok harinya, kami putuskan lanjut dengan mencoba naik mobil. Apapun.
Jalan kaki adalah satu2nya pilihan. Dan spbu target start kami berikut.

Sisa uang setelah dikurangi beberapa kali 100 rupiah setiap stasion masih mencukupi untuk sekali makan. Setelahnya adalah nol.
Ohya, selama kami naik kereta, makan kami adalah sisa jajanan yang kami beli sebelumnya diwarung Bi Dar. Masih ingatkan warung kami ini?

Setelah sekian lama berjalan, lelah dan lapar lah  yang lebih cepat menghampiri kami dibanding kami menemukan spbu.

Ditambah tak sebatang rokokpun lengkap sudah penderitaan kami. Kami bertiga. Karena satu teman kami tak merokok. Dan yang paling kami sesali adalah karena kami sepakat mempercayakan uang saku dipegang oleh sang kawan satu ini. Percuma saja,merengekpun tak kan dibelikannya, walau hanya sebatang.

Satu dari sekian truk yang kami hampiri berbaik hati memberi kami tumpangan. Tentu saja di bak. Dikabin depan sudah ada 2 ibu2 penjual sayur.  Dan pak supir tentunya. Keneknya bersama kami dibelakang.

Sudah lewat waktu isha, saat truk mulai melaju.
Pastinya karena lelah dan lapar, kali ini kami lebih banyak diam daripada seperti biasanya ramai.
Tak ada lagi canda dan saling ejek.
Kami duduk diantara bakul- bakul sayuran. Ditutup terpal tebal.
Udara dingin malam dan angin yang kencang lebih memaksa kami mencari posisi senyaman mungkin.
Lebih tepat barangkali sesedikit mungkin tersiksa.
Bersandar kedinding bak truk yang kerasnya Na’Uzubillah. Duduk beralaskan apapun yang agak membantu terhindar dari ya juga kerasnya lantai bak truk.
Kali ini ada hal lain yang melintas di fikiran saya.
Tiba- tiba teringat hangatnya kamar tidur saya. Satu dari lima kamar tidur di rumah tinggal kami.
Rumah tinggal dengan arsitektur amerika tahun 50an.
Berdiri terpisah dari rumah- rumah tetangga lain. Kiri dan kanan masih lahan kosong.
Apalagi karena sudah ketetapan dinas tata kota, bahwa di deretan sebelah barat, ya deretan rumah kami, tak boleh lagi dibangun rumah- tinggal. Peruntukannya untuk kantoran.
Membuat rumah kami satu- satunya rumah- tinggal.
Selainnya adalah perkantoran. Itupun masih jarang sekali. Tak berderet- deret seperti sekarang.
Kamar tidur saya tak mewah. Tempat tidur biasa.
Yang paling saya suka adalah, lemari- lemari built- in dan pintu- pintu kamar tidur yang semua menghadap kehalaman belakang. Jadi bukan menghadap kedalam ruang keluarga, seperti pada umumnya.
Semua pintu dan jendela adalah dobel. Satu pintu biasa yang membuka kedalam. Dan satu pintu berkasa nyamuk yang membuka keluar.
Mahal? Tak sama sekali. Rumah yang dibeli Bapak seharga satu setengah juta rupiah.
Dihindari oleh yang lain, menjadi keberuntungan bagi kami.
Konon katanya rumah berhantu. Lama tak ditinggali.
Padahal desain rumahnya sudah modern sekali pada jamannya.
Tak pernah diceritakan Bapak tentunya soal rumah berhantu ini sebelumnya.
Saya baru menyadari lama setelahnya, bahwa awal- awal teman- teman yang suka main kerumah, jarang sekali sampai lewat magrib.
Sejak tinggal dirumah ini saat tidur seringkali saya mengalami kena eureup- eureup. Apa ya bahasanya. Saat tidur tiba- tiba merasa seperti ada yang menindih. Berasa sesak tak bisa bergerak.
Orang bilang, harus segera dibangunkan. Jika tidak, akan tak bangun- bangun. Selamanya.
Ah tak sedikitpun saya percaya.
Selalunya jika tidur telentang.
Hal yang mudah untuk dihindari sebenarnya. Ya tidur tengkurap saja.
Masalahnya saya sering lupa. Tidur terlentang lagi terlentang lagi.
Dan pelupa saya parah.
Jadi kalau sekarang saya ini pelupa, bukan karena faktor usia, tapi memang bawaan. Haha.

Ya, tiba- tiba saya mengimpikan berada dikamar saya. Kamar di rumah yang konon berhantu. Tapi pastinya hanya setarikan nafas saja untuk sampai ke dapur dan sapu- habis apapun yang bisa dimakan. Dan rebahan setelahnya dikamar. Selama dan sekehendak saya.
Bukan kedinginan dengan perut lapar dan kelelahan teramat- sangat.

Alih- alih bisa melalui malam- malam yang menyiksa dengan mengantuk dan tidur, tetesan- tetesan air melalui bolong- bolong kecil sang terpal dan dinginnya tenda yang menempel kepala dan sebagian bahu kami membuat kami sebaliknya.

Hujan turun cukup deras. Karena terpal tak terpasang terbentang kencang dengan dudukan tinggi seperti harusnya. Tapi tergelar seadanya menutupi kami dan bakul- bakul sayur, tak ayal genanganpun ada dimana- mana diatas terpal, tepat di kepala kami. Sempurna sudah penderitaan ini.

Satu dari empat sok petualang ini meneteskan airmata. Sedih dan kesal.
Kelak saya tahu, ternyata yang lainpun sama. 😛 .

Bersambung 😉

Cirebon, 1974.

Standard
adventure, berbagi, cerita, cerita, kisah, renungan, event, olahraga, running, sport, trail running, tulisan

Lomba Yang Bisa Dimenangkan Oleh Siapapun Kita

Kamojang-

6 bulan pertama usia lari, saya tak cukup percaya diri untuk ikut lomba. Sampai Kang Rama Nusjirwan mengatakan,” Harus coba Ki, bagus untuk tahu dan tingkatkan kemampuan”.
Berikutnya adalah sibuk2 siapkan mental dgn sekian tanya- jawab sendiri, bagaimana kalau begini, bagaimana kalau begitu. Intip2 di hasil lomba yg sdh berjalan, kira2 saya akan ada di posisi mana. Akankah saya paling buncit?.
Belum cukup yakin saya putuskan daftar di Milo 10k 2010. Setelahnya adalah dag-dig-dug tak karuan.
Perasaan menyesal timbul. Peserta akan ribuan, dan mereka akan melihat orang setua saya lari terseok- seok atau gagal finish. Konyol sekali.
Ditengah- kegalauan saya, tiba2 saja Bang Muara Sianturi telpon,” Ki, jadi ikut Milo 10k?. Lo ikut Lomba Lintas Alam Kamojang aja, trel tuh”.
Pucuk dicinta ulam entah kemana eh si ulamnya tiba.
Yes. Selamat saya dari yg saya khawatirkan.
Kamojang, entah dimana, pastinya pesertanya tak ribuan. Venuenya dialam, banyak bukit dan pohon. Akan banyak tempat sembunyi jika kegagalan yg akan saya alami.
Tiba2 ada perasaan lain. Entah kenapa, saya merasa ada skenario yg dibuat si Abang ini.
Sampai2 beliaupun mau ikut lomba Kamojang ini.
Yg pasti dgn gagah percaya diri saya daftar.
Apalagi ternyata peserta kategori kecepatan( kita sebut lari trel kan)pesertanya hanya berlima. Haha. Sebelum2nya sampai 20-30an.
Hari H. Kami berlima, saya, Pendaki Liar, 1 peserta lokal, Bang Anwar rekan Pendaki Liar( saya dengar belasan kali berturut-turut juara lomba ini, mantan atlet lari halang- rintang 3000m) dan Bang Muara Sianturi.
Tak ada perasaan ragu, grogi atau apapun. Tak setetes keringat dinginpun saya rasakan.
Santai, seolah- olah sudah belasan puluhan kali ikut lomba.
Dari awal saya sudah ketinggalan. Yang tak pernah meninggalkan saya adalah asma saya. Selalu setia menemani  🙂 .
Dan percaya- diri yg entah darimana koq ya saya punyai.
Belasan km pertama, etape pertama adalah 25km, peserta lokal saya susul, juga Kang Pendaki Liar yg cidera. Kemudian lagi Bang Muara yg mengaku cidera. Berarti tinggal Bang Anwar didepan saya.
Singkat cerita saya finish 15 menit dibelakang beliau. Senang? Tentu saja. Aneh? Ya juga. Tapi saya tak ambil pusing. Saya nikmati saja dulu saat2 ini.
Kapan lagi saya merasakan saat2 kemenangan seperti ini. Seumur- umur lomba, hanya pernah juara di lomba balap… karung. Saat kelas 4 SD.
Itupun drama. Karena sempat diprotes peserta lain. Menurut mereka saya curang. Masa bukan loncat2 tapi melangkah. Sebelum lomba saya dibisiki kakak, “jangan loncat, ujung2 kaki posisikan keujung kiri kanan karung, dan melangkah jalan cepat” 😛 .
Bang Muara kembali ke Bandung malam itu juga. Artinya tak berlanjut dgn etape kedua esok harinya.
Esoknya saya lebih santai lagi, karena juara dua sudah ditangan. Kembali ke start 18km, dgn trek berbeda.
Saat magrib saya menerima piala juara dua setinggi 70 cm. Ga level dgn kemenangan Nadal & Schumacher, tapi perasaan mah beda2 tifis lah.
Sampai saat ini Bang Muara tak pernah mengakuinya. Tapi saya tetap percaya, beliau sengaja membuat saya ikut lomba ini. Membuat saya percaya diri dgn keikut-sertaannya dan membiarkan saya berlari menuju juara dgn tak melanjutkan lombanya.
Jika mau tentu saja trek yg ‘ hanya’ 25km disikat habis beliau. Seorang yg hanya perlu waktu 3jam 5 menit untuk 42.195 km.
Kisah diatas, gambaran betapa konyolnya saya, yg tak cukup percaya diri untuk ikut lomba atau memulai lari- berlari, tak harus diulang oleh siapapun.
Yang dilakukan seorang Bang Muara terhadap saya ingin saya tiru. Dengan cara yg berbeda yg saya mampu.
Dibantu dengan banyak teman2 lari trel yg luar- biasa, saya ingin, setelah ikut “Food, Fashion & trailFunrun. Sukawana” lalu dan “Food, Fashion & trailFunrun. Sawarna” 4 mei nanti, juga acara2 serupa selanjutnya, siapapun pemula tak lagi ragu untuk mulai lari, mulai ikut lomba. Tanpa dibebani dgn harus cepat, harus finish, harus podium, harus sempurna.
Lomba kita adalah lomba mengalahkan berbagai macam penghalang untuk hidup sehat dan nyaman. Lomba yg pasti bisa dimenangkan oleh siapapun kita. Pemula atau yang sudah lama.
Terimakasih Bang Muara, Kang Rama, dan semua teman2 yg selalu saling mendukung. Salam, selamat pagi, selamat hari jumat 🙂

Bandung, Maret 2014.

Standard
cerita, cerita, kisah, renungan, inspiration, kisah, motivation, olahraga, renungan, running, sport, story

Lebih Baik…. Lari

Belum terlalu siang, beberapa tahun lalu. Baru selesai lari dapat kabar ayah saya masuk ICU. Bandung diakhir minggu, macetnya, seperti yg sama2 kita tahu, ga lucu.
Menunggu yang lain mau berangkat sama2 koq rasanya seperti keabadian.
Tak pikir panjang saya lari ke Borromeus. Ya berlari.
Saat sampai dan melihat sanak- saudara berkumpul, saya baru sadar, ya ampun, saya pasti kena omel, gerutu dan omongan. Berulang- ulang, setiap mereka melihat saya berkostum lari.
” Hati- hati Kang, ingat umur”.
“Jangan maksain”.
“Jalan aja jalan. Lari mah atlet kali”.
Dan banyak lagi.
Itu satu. Dan baru sadar berikutnya adalah, apa kata Ayah nanti?.
“Duh ti- ati Ei( panggilan sayang Ayah ke saya). Harus ingat keselamatan. Umur kita kan sudah ga muda lagi”. Dan entah apalagi.
Perkiraan saya akan seperti itu.
Tapi, ya itu tadi, nasi sudah menjadi bubur. Kalau kata Aa Gym, jgn disesali, lebih baik buburnya kasih saja cakue.
Saya sudah melangkah masuk ke ruang icu, tak ada waktu lagi berfikir itu- ini.
Saya: “Salam Pak”.
Bapak: “Eh Ei. Abis lari?”.
Saya : ” Eu eu iya Pak. Anu.. dikit, bentar aja. Tadi .. eu buru2..”.
Bapak : ” Ya asal ati- ati aja. Semoga Bapak ga apa2 ni. Tapi kalo bisa milih, memang lebih keren mati karena lari daripada mati karena penyakit”.
Saya : ” ???????”.
Semoga Bapak selalu diberkahi sehat dan bahagia. Aamiin.

Standard
cerita, inspiration, kisah, motivation, olahraga, renungan, running, sport, story, trail running

Yuk kawan, kita lari

image

Tentu saja Nadine tahu sekali bagaimana mengikat tali sepatu trelnya dengan benar. Seperti yang selalu dengan penuh semangat Nadine ingatkan ke siapapun, yang kedapatan tali sepatunya lepas.
Lipat masuk simpul tali sepatu yang sebelah kanan kedalam bulatan simpul tali pertama. Sekarang lipat, masukan juga lagi simpul tali kirinya. Tarik perlahan sampai benar- benar terikat kuat.
Demikian yang Nadine ingat dari yang pernah dia baca dan lihat disalah-satu majalah lari.
Simpul tali sepatu yang tak mudah lepas untuk lari- lari agak sedikit jauh. Bahkan lari trel sekalipun.
Sekali lagi dia periksa, apa- apa yang mungkin belum ada. Setelah sebelumnya sedikit lap- lap badan ala cowboy, makan dan minum sekedarnya, sikat gigi. Mematut- matut diri dicermin kamar.
Lipatan uang sepuluh ribu dan telpon selularnya sudah di saku tas dipinggangnya. Beberapa potong coklat kacang sebagai bekal disiapkan. Juga botol plastik air ramah lingkungannya.
Sebagai penyuka kegiatan luar- ruang tentunya pantas jika lebih lagi peduli lingkungan.
Sekali lagi tersungging senyum dibibirnya. Bangga akan kepeduliannya. Walau mungkin baru sedikit yang dia tahu soal isu lingkungan.
Tak apa. Toh sudah dimulai.
Seperti biasa Nadine memakai celana lari pendek dan atasan yang menurutnya nyaman dan berwarna cerah.
Nadine membiasakan untuk tak terlalu tebal berpakaian.
Kali inipun tanpa jacket. Cukup dengan mulai menggerakan badan, hangatpun didapat.
Tiba- tiba teringat nasehat sang paman. ” Nneng hati- hati. Jangan jauh- jauh. Jangan banyak- banyak larinya, pakai jacket”.
Seperti biasa, Nadin tersenyum saat menjawab,” ya Mang, nuhun”.
Ah si Mmang baik- hati ini. Jangan- jangan harusnya lebih menghawatirkan dirinya sendiri. Makan tak kenal pantangan. Apapun disikat. Jeroan, gorengan. Sate kambing yang selalu harus bergajih. Jangan ditanya kalau sudah mendapatkan gulai kepala kambing. Utuh. Ya utuh sekepala. Asyik- masyuk, sampai- sampai tak lagi dapat dibedakan mana kepala kambing dan mana kepala si Mmang. Dan tentu saja nasi putih yang banyak. Sementara tak pernah sekalipun terlihat berolah- tubuh.
Semoga Mmang selalu sehat.
Udara dibulan januari memang agak dingin. Terkadang pagi- pagi hujanpun sudah menjelang.
Satu lagi godaan yang tak kecil untuk tetap ditempat tidur.
“Tidak!, saya harus menang. Saya harus bisa mengalahkan kemalasan ini”. Demikian Nadine seringkali meyakinkan diri- sendiri.
Semakin besar godaannya semakin besar dia melawan.
Jalan kaki keluar komplek rumahnya. Beberapa ratus meter. Kemudian belasan menit dengan angkutan umum kearah utara kota.
Gerbang kawasan wisata alam di utara ini memang tempat Nadine memulai lari- lari trelnya.
Sepuluh menit pemanasan sebelum mulai tak lupa dilakukan.
Pemanasan tak kalah penting. Lagi- lagi Nadine mengingatkan diri- sendiri.
” Nneng geulis, lumpat deui?”. Si bibi pemilik warung dengan sapaannya yang lucu dan menyenangkan.
” Sumuhun Bi. Mangga”.
Tanah licin mengawali trek lari trelnya. Sisa- sisa hujan semalam cukup membuat Nadine melangkah lebih hati- hati lagi.
Baru beberapa puluh ayunan kaki dingin pagi sudah tak terasa lagi. Sebaliknya, keringat mulai menetes dari dahi dan sekujur badannya.
Agak terengah juga diawal- awal. Tapi sudah selalu semakin baik dari sebelum- sebelumnya.
Trek lari ditengah kehijauan hutan pinus selalu menyenangkan. Tak pernah membuat bosan. Sepertinya setiap langkah adalah hal yang selalu baru. Berapa kalipun diulang.
Mata yang selalu harus awas melihat kemana kaki melangkah. Pijakan mana yang dipilih. Pada saat yang sama harus juga awas akan batangan atau dahan pohon yang melintang tepat seketinggian kepala.
Lebih- lebih lagi diturunan. Beberapa langkah berikutnya harus sudah diperhitungkan.
Satu kali terpleset dipijakan pertama kerap diikuti oleh terpeleset dipijakan berikutnya.
Apalagi dibebatuan yang licin.
Beruntung jika hanya goresan kecil pendek dikaki.
2km sudah. Seperti yang dia lihat di jam lari bergpsnya. Berarti 3km lagi sampai puncak.
Trek semakin menanjak. Semakin membuatnya terengah- engah.
Sesekali Nadine minum dari botol airnya.
Tak mesti banyak sekaligus.
Nadine lebih memilih beberapa teguk setiap lima- belas menit. Tak banyak. Sekedar tak dehydrasi.
Sedikit berlebih minum air menyebabkan bengkak dikaki.
Hutan pinus sudah lama terlewati.
Sudah mulai vegetasi khas punggungan gunung berkawah.
Bau belerangpun sudah mulai tercium.

Ketukan dipintu kamarnya menghentikan tulis-menulisnya.
“Itcha, sudah bangun sayang?”
“Ya Mama”.
“Mau Mama mandikan sekarang?”
“Sebentar lagi Mama”.
Itcha menghela nafas.
Termenung. Memandangi kedua kakinya yang kecil karena memang lama tak bisa digerakan.
Demam tinggi di usia balita adalah penyebab kelumpuhannya.
Seperti setiap pagi di hari- hari sebelumnya, adalah saat- saat menyenangkan baginya untuk menulis.
Menulis, kegiatan sejak beberapa tahun lalu. Sejak sebelumnya mengikuti dunia lari- berlari dikotanya.
Berlari belakangan memang sedang menjadi
trend. Tak hanya di ibukota. Juga di kota- kota lain.
Lomba lari sudah hampir setiap bulan diadakan.
Dan tentang lari- berlarilah kebanyakan tulisan- tulisannya.
Itcha kembali ke Note 8nya. Sedikit melanjutkan tulisannya.
Membayangkan, bagaimana indah dan menyenangkannya, berlari dikesejukan hutan pinus. Saat jutaan yang lain masih tertidur lelap.
Dunia seakan hanya miliknya sendiri.
Berbagai inspirasi menari lincah dalam benaknya. Seperti yang tak berkesudahan.
Pada saat yang sama mata yang harus awas mengawasi setiap pijakan kakinya.

Beberapa tahun belakangan Itcha tak lagi bersedih dengan keadaannya.
Itcha percaya, semua hal di dunia tentu ada maksudnya. Begitu juga dengan kelumpuhannya.
Jika kebahagian bagi yang lain adalah harta yang banyak, kesehatan jasmani, putra- putri yang sehat menggemaskan dan lain sebagainya.
Kebahagian bagi dirinya adalah menerima dan bisa berdamai dengan kelumpuhannya. Menerima ketidak- mampuannya untuk berlari.
Seperti yang pernah menjadi impiannya, sekali dalam seumur- hidup mengikuti lomba lari 10 k.
Kebahagian baginya yang lain adalah mendapatkan cara untuk mengingatkan siapapun untuk tak menyia- nyiakan kesempatan yang ada.
Dengan menulis.
” Saat berlari menjadi impian yang tak pernah terwujud bagi orang- orang seperti aku, jangan sampai terjadi bagi orang- orang yang lebih beruntung”.
Tak berolah- tubuh padahal ingin, tapi tak kesampaian karena hambatan adalah kewajaran.
Tak berolah- tubuh karena kemalasan padahal bisa dan di mungkinkan adalah kebodohan.

Standard
cerita, motivation, olahraga, running, story

Just like you and me

Bertengger di lima baris pertama urutan virtual run. Sejak akhir 2009.
Bukan semakin berkurang malah semakin banyak yang datang.
Dengan ribuan km lari tentunya.
Yang lainnya, penamat tri dibeberapa lomba. Dari kelas Sprint sampai olimpiade lengkap ada.
Ironman sampai metaman sudah ada beberapa.
Podium dibeberapa lomba lari sudah pasti. Bahkan ada yang berkali- kali.
5k, 10k, half dan full marathon lari?. Jangankan dinegeri sendiri, diluar- negeripun dicari.
Lari ultra puluh- puluh sampai ratusan km sudah bukan lagi satu- dua yang lakukan, tapi belasan. Bahkan puluhan.
Belakangan banyak teman2 yang tak hanya lari on road, tetapi juga off road.
Lombanya pun ada.
Dengan jarak belasan, puluhan sampai ratusan.
Rasanya baru kemarin- kemarin sang teman ini( mahmud abas, mama muda anak baru satu), bertanya,” Kang, aku bisa ga ya ikut lomba lari trel ultra?”. Ternyata? Lari 24jam dengan 92kmpun bukan hal mustahil bagi dia.
Kisah lainpun tak kalah luar- biasa.
Belum setahun usia lari- berlarinya. Pengalaman lari trelnyapun belum lebih dari dua. Lagi2 seorang mahmud abas jakarta tiba- tiba saja menjadi penamat di 50k trel ultra.
Tak bisa lagi dihitung dengan jari, teman2 yang beberapa waktu lalu masih berpakaian xxl barangkali, sekarang tampil lebih lagi percaya diri. Karena ukuran sudah berganti.
Banyak lagi kisah2, cerita2 yang seperti ini.
Hebat? Sudah pasti.
Adakah mereka punya kiat? Yuk kita cari.
Mereka- mereka ini, teman- teman kita ini, adalah seperti juga siapapun yang kita temukan hari- hari. Just like you and me.
Makan siang, malam dan sarapan pagi. Persis sama. Sayuran, buah, susu. Dengan roti atau nasi.
Tidur, istirahatpun ya persis sama. Dari malam sampai pagi.
Jadi? Apa yg membedakan dengan kita- kita ini?
Niat dan semangatnya yang luar- biasa kuat.
Berlari, melakukan kegiatan sehat bersama- sama dengan yang lain sudah pasti lebih baik.tak diragukan sedikitpun. Bagi mereka ditambah lagi dengan,’ jika perlu sendiri sekalipun’.
Cuaca sejuk sudah pasti menggoda bagi kita. Bagi mereka?, ‘sedikit panas atau sedikit hujan tak ada salahnya dicoba’. 🙂
Bagi kita,’ ya ampun, baru 5k’. Padahal target hanya 10k. Bagi mereka ‘ Alhamdullillah sudah 5k’. Sementara target mungkin masih belasan bahkan half.
Tak dimaksudkan sama sekali bahwa kita harus berkegiatan atau berlari luar- biasa seperti mereka.
Olah- tubuh atau berlari, 10-30 menit setiap sore atau pagi, asal memang setiap hari, standar sehat sudah cukup terpenuhi.
Hanya, jika kita memang mempunyai keinginan diri. Apapun. Mulai dari ikut tri, lomba lari gunung muncak rinjani. Sampai hanya sekedar mau mulai lari, ya niat dan semangatnya itu tadi.
Tak boleh sekedar, ‘ah besok mah asli mo narik kaki bangun pagi, tapi kenyataannya tarik selimut lagi tarik selimut lagi. Setiap hari berulang kali. Tahu- tahu tahunpun berganti.
Teman- teman lain sudah kesana- kesini, tinggallah diri ini.
Apalagi kalau bukan merenungi diri- sendiri, ‘ duh iraha deui atuh ya mulai? Meuni hese gini?
Selamat pagiiiii Eh udah mau jumatan lagi…

Standard
inspiration, motivation, story

Ki, Selamat Ulang- Tahun :) by Bang Aswi

“Ehhh … aku lari tuh mulai 2010, awal 2010. Jadi awalnya Jumat, sebetulnya sudah lama tahu bahwa lari itu olahraga yang mau banget aku lakuin. Cuma karena tahu ada asma dan bronchitis, dan sebelumnya pernah coba lari-lari kecil atau segala macam atau waktu aku sekolah … kayaknya cepet capek. Dari situ saya tahu saya pikir saya udah nggak ada peluang untuk lari. Nah, 2010 itu saya coba konsultasi ke dokter sebelumnya, alhamdulillah ya tersendat sih memang tapi sebulan pertama udah lumayanlah ada progres ya. Yang tadinya seratus meter udah sesak kali ini udah satu kilo dua kilo. Dua bulan kemudian udah bisa lari sepuluh….”

“Check up semua, apa jantung dah, apa tekanan darah dan segala macam, euhhh dokter bilang oke. Tapi belakangan saya tahu bahwa yang dimaksud di pengertian okenya itu bahwa saya larinya emang lari-lari pelan bukan seperti lari-lari yang saya lakuin belakangan ini. Sempet kaget juga tuh si dokternya. Nah itu awal-awal saya lari….”

Di titik ini jemari sosok itu berhenti. Sosok itu mencoba membayangkan apa yang dilakukan salah seorang sahabat dan guru kehidupannya, Aki Niaki . Kata-kata di atas adalah ucapan Aki di awal wawancara sosok itu di sebuah kafe di jalan Burangrang. Masih ada 40 menit lagi hasil wawancara yang belum diselesaikan tentang pengalaman Aki berlari. Masih ada ribuan jam kehidupan Aki yang belum tereksplor untuk dijadikan inspirasi bagi masyarakat luas, tidak hanya bagi yang ingin berlari. Masih banyak rahasia lagi tentang semangatnya untuk mengkampanyekan olahraga lari dan (juga) ngetrel.

Jujur, sosok itu juga punya asma. Jadi dirinya tahu bagaimana rasanya takbisa bernapas dengan wajar. Bagaimana rasanya ‘megap-megap’ saat baru lari beberapa puluh meter. Bagaimana rasanya tersiksa di saat jutaan orang menikmati nyenyaknya tidur. Bagaimana rasanya batuk-batuk hanya dengan melihat embun pada gelas yang dingin. Bagaimana rasanya menjadi orang yang tidak berharga untuk turut membantu kerja bakti (meski hanya sekadar di rumah sendiri) membersihkan debu karena nantinya akan batuk dan kemudian sesak napas. Sakit hati ini mengetahui itu semua.

Sosok itu dikenal ‘sport freak’ saat SMA dan mahasiswa. Basket, volley, sepakbola, bulutangkis, renang, hingga mengenal sepeda dan lari. Gila olahraga karena tahu bahwa inilah salah satu cara agar asmanya tidak sering kambuh dan menjadi beban bagi orang lain. Sepedalah yang dipilihnya kemudian saat sudah berkeluarga dan bekerja. Sampai kemudian dirinya mengenal Aki di pertengahan 2008, di komunitas Blogger Bandung—Batagor. Saat itu dirinya tidak tahu Aki itu pengidap asma. Saat itu dirinya tidak tahu apa agama Aki (maaf). Saat itu Aki belum berlari. Saat itu dirinya melihat Aki yang penuh semangat meski untuk beberapa kegiatan fisik tidak maksimal. Aki selalu aktif di tengah-tengah anak muda yang mayoritas masih mahasiswa. Tapi kemana-mana selalu naik motor.

Hingga kini, semangat Aki tetap sama dan bahkan jauh lebih berkobar lagi. Kegiatan fisiknya semakin maksimal dan prima. Kemana-mana selalu berlari dan tidak lagi kelihatan naik motor. Kondisi fisiknya kini jauh lebih bugar dan segar jika dibandingkan sosok itu di awal perkenalan. Aki bagaikan magnet bagi orang-orang yang ada di sekelilingnya, baik itu di komunitas blogger maupun di komunitas larinya. Aki semacam suri teladan. Padahal dia sudah berprestasi dan terkenal. Namun sikap hidupnya selalu ‘down to earth’. Penuh senyum. Penuh gairah. Penuh rasa kekeluargaan. Pokoknya ada perasaan nyaman saat dekat dengan dirinya. Perasaan yang tidak ingin berpisah. Entah mengapa.

Sampai saat ini sosok itu belum berkesempatan dapat berlari bersama dengan Aki. Usahanya berlari mengalami maju mundur, bahkan lebih banyak mundurnya. Belum satu kilometer tetapi sudah menyerah untuk berhenti. Selalu lari sendiri karena malu kalau harus lari bersama. Aki-lah yang memberi semangat pada diri sosok itu. Aki-lah yang memompa diri sosok itu hingga akhirnya memberanikan diri untuk mau bersepeda sendiri dari Bandung ke Jakarta. Jauh setelah Aki berlari dari Bandung ke Jakarta. Aki tidak tahu akan hal ini. Semangat untuk mencoba lebih berani. Semangat yang membuat dirinya kembali mendekati Aki karena ada satu ‘keajaiban’ di dalam dirinya yang seharusnya bisa dinikmati oleh lebih banyak orang lagi. Keajaiban untuk menjadi inspirasi.

Di depan mata, ada mimpi sosok itu untuk bisa bersama Aki menaklukkan 57 gunung. Entah itu berlari bersama. Entah itu bersepeda bersama. Atau hanya sekadar menyaksikan Aki berlari dengan penuh kebanggaan dan keharuan. Pokoknya ingin menjadi saksi pertama. Sebuah perasaan yang hanya bisa dikeluarkan kalau sudah mengenal siapa Aki sebenarnya. Saat berdiskusi bersama. Saat berkegiatan bersama. Saat shalat bersama. Saat melihat bola matanya yang berembun saat menceritakan masa kecilnya yang penuh perjuangan. Ada banyak cerita yang harus diolah tentang kehidupan Aki agar menjadi buku yang utuh. Buku yang bisa jadi belum dapat menceritakan diri Aki yang sebenarnya. Diri Aki yang kini menapaki usia ke-57 dan terus … dan terus menginspirasi orang-orang yang mengenalnya (atau bahkan belum mengenalnya).

Ki, selamat ulang tahun. Teruslah menginspirasi kami semua…. #pelukerat

Standard
perkawinan, story

Tiga Puluh Empat Tahun

” Mau balik Bandung lo? Ngapain? Kawin? Emang berani? Ngaca dong?”. Tanya seorang teman.
Sempat kaget. Apa maksudnya.
Jawabannya ada dihadapan saya beberapa saat kemudian.
Tampak pantulan saya dicermin wastafel tempat saya kerja paruh waktu.
Rambut jabrik sedikit melampaui bahu tak terawat. Pipi tembam. Pun sama tak pernah tersentuh apa- apa selain air dan keringat.
Kacamata.. saya yakin kacamata bagus dan tidak juga murah. Tapi tiba2 baru saya sadari, seperti benda aneh yang jauh dari disebut pantas diwajah saya.
Saya merenung. Mendadak hilang semangat.
Ya ampun. Pastinya tak ada satupun yang saya lakukan untuk penampilan saya.
Tak pernah terfikir kearah sana.
Saya hanya tahu, penampilan baik hanya sesuai sampai masa- masa sma.
Masa kuliah adalah masa- masa serba terbatas.
Tinggal dikosan,sendiri atau berbagi kamar dengan seorang teman. Mencukupi kebutuhan hidupnya dengan kerja paruh- waktu saat libur kuliah. Perangkat audio adalah radio baheula model roti besar seukuran tv lawas 17 inch.
Fruehlingsrolle( lumpia) adalah sarapan atau cemilan mewah.
Selalunya biskuit entah apa mereknya.
Beberapa hari kemudian saya sudah duduk manis dikursi tempat potong rambut yg untuk kantong kuliahan saya jauh dari terjangkau.
Rupanya kesadaran saya untuk punya tampilan ‘normal’ lebih kuat dari keraguan saya memasuki salah satu tempat potong rambut terbaik dikota.
Untuk setiap lembar yang saya bayar tentunya saya mengharapkan yang terbaik.
Jadi ya saya serahkan sepenuhnya kepada mereka.
Alhamdullillah, bukan saja tidak mengecewakan tapi ya ampun terkaget- kaget sendiri. Haha.
Bersamaan dengan itu saya mulai lebih banyak lagi berjalan, lari2 pendek,karena asma saya yang menghambat, renang, asupan yang lebih lagi terkontrol selama  beberapa bulan sebelum pulang menikah.
Pulang, menikah, dan hari- hari selanjutnya hal- hal biasa yang mengikuti setelah pernikahan.
Ada hal yang membuat saya merenung lagi.
Banyak yang bilang, saat pernikahan dan saat- saat setelahnya adalah tahapan- tahapan kehidupan yang membuat orang lebih bahagia lagi.
Ditandai dengan wajah- wajah yang selalunya sumringah dan… sebagian dengan penampilan yang kali ini tidak lagi dengan usaha terbaik seperti saat sebelum menikah.
Kerap kali saya melihat, semakin lama usia pernikahan, semakin tak karuan penampilan dan  pakaian rumah sang pasangan.
Hilir- mudik dengan daster/ pakaian tidur atau kaos oblong dengan maaf robekan disana- sini. Bahkan sarung.
Terkadang malah sampai melewati waktu siang.
Rasanya seperti, dandan hanya saat masih sendiri. Saat belum mendapat pasangan. Setelahnya? Ah kan saya sudah laku. Ah kan dia sudah menjadi milik saya.
Entah bagi yang lain. Bagi saya? Seperti yang tidak menghargai.
Tentunya banyak cara seseorang menghargai pasangannya. Sebanyak manusianya itu sendiri.
Saya, seperti juga yang lain, tentunya ingin mempunyai pilihan, cara yang mana yang terbaik.
Sampai saat inipun saya tidak pernah tahu, cara yang mana yang paling baik yang saya ambil.
Jangan jangan malah tak pernah juga ada satupun yang saya punyai.
Apalagi jika ditambah lagi dengan sssst.. sekian banyak hal yang saya lakukan, sengaja ataupun tidak, yang mungkin malah menambah kekecewaan sang pasangan.
Jika ya, ditengah- tengah keluguan saya memasuki masa pernikahan, barangkali paling tidak ada satu yang saya usahakan sejak hari pertama pernikahan saya. Saya ingin bisa mempertahankan  penampilan saya tidak terkesan terlalu semaunya. Jauh dari gagah- perkasa, tapi bukan  cerminan dari pola hidup yang seenaknya.
58kg adalah berat badan saya saat ini, seperti juga sejak 34 tahun lalu lebih  seminggu. Tak kurang dan tak lebih 1 ons pun.
Bukan hal yang istimewa tentunya. Tapi seperti saya sebutkan diatas tadi, setidaknya ada satu yang saya usahakan.
Selamat hari jadi untuk saya dan pasangan hidup saya.

Standard
inspiration, motivation, mountain running, running, sport, story, trail running, ultra running, ultra trail running

Age is just a number……. by Dewi Satriyani

Age is just a number…….

November 26, 2013 at 3:33pm

Usia itu cuma angka, dan akhirnya yang membedakan tua dan muda itu akhirnya berpulang pada semangat setiap manusianya, dan saya menemukannya pada opa,sahabat,teman dan guru saya yang akrab disapa Aki. Sampai saat saya menulis notes inipun saya bahkan tidak mengetahui nama aslinya.

Belum terlalu lama saya mengenal beliau, tapi banyak pengalaman berharga dan moment berkesan yang sempat saya lewati. Yang saya dengar selama ini beliau adalah orang yang cukup disegani di kalangan pelari, mungkin layak juga kalau disebut trendsetter, tapi lepas dari semua popularitasnya saya sungguh tidak melihat Aki sebagai pelari ataupun selebritis yang untouchable.

Saya bukan pelari mahir, boro-boro mahir, belum 1 KM aja kadang suka udah nyerah, dari kecil juga saya nggak punya mimpi bisa masuk hutan, ikutan trel apalagi mendaki bukit. Jaman kecil, anti sama yang namanya Pramuka, kemah juga sekalipun belum pernah ngrasain. Sampai akhirnya Aki mengajak saya untuk ikutan ngetrail. Belagak gila, tawaran itupun saya terima. Dan benar saja, trail pertama saya ada di barisan terakhir, terpisah tak terlalu jauh, tapi lebih sering berhenti dibanding berlari. Tapi aki sangat telaten mendampingi saya, memegang tangan saya erat ketika menemui medan yang licin dan terjal, ataupun saat menapaki tanjakan dengan jalan setapak yang kalau dilihat kanan kiri udah pingin muntah. Trail paling berkesan saat di Bukit Tunggul, sepertinya cuma sepuluh kilo katanya, tapi elevasinya itu bikin ngilu, terutama buat saya pemula.

Aki tidak pernah menakuti orang yang ingin mencoba trail, meskipun kalau dipikir2 kaya berasa dijorokin sama Aki, karena beliau selalu bilang ini track buat beginner. Begitu sampai venuenya sempet mewek juga.

But on top of that, dari beliau saya belajar mengalahkan rasa takut, terutama takut masuk hutan dan berlari di perbukitan. Saya juga belajar betapa siapapun punya kemungkinan yang sama untuk merasakan nikmatnya nge trail seminim apapun kemampuan kita untuk berlari dan berapapun usia Anda.

Semangat Aki luar biasa, terutama untuk memasyarakatkan trail. Dia orang gila yang menurut saya suka nekad dalam artian positif. Mungkin sedikit banyak bisa dibilang risk taker sejati. Aki mengubah apa yang dirasa tidak mungkin menjadi potensi luar biasa.

dan saya masih menunggu beliau mewujudkan mimpi mengencani 57 gunung sebelum pertambahan usianya nanti. Siapapun pasti akan bangga untuk mendampingi beliau menyelesaikan ekspedisinya.

Dirgahayu Opa, semoga kamu tidak pernah lelah menjadi inspirasi untuk kita semua.

Sehat dan panjang umur selalu.

Standard
motivation, running, sport, story

rieka

Saat sebagian Mama- mama muda lain barangkali berangan- angan mempunyai tubuh indah tanpa melakukan apa- apa.

Atau? Ya, bisa jadi membaca setumpuk buku tentang ini sambil, ehem ngemil; seorang yg saya kenal bertekad memulai lari untuk… kesehatannya. Bagi diri dan keluarganya. Jujur, agak jarang saya dengar.
Teman saya ini memulainya dengan amat sederhana saja.
Tanpa banyak baca teori yang membuat mengerutkan dahi. Tanpa berlama- lama melakukan persiapan yang membosankan. Yang malah membuat hilang semangat untuk larinya.
Bersukur teman saya memposting kisahnya ini di Path.
Lebih bersukur lagi beliau berkenan mengijinkan saya untuk memposting ulang.
Tidak banyak yang saya tahu tentang tulis- menulis.
Tapi akan saya katakan, tulisan teman saya ini biasa- biasa saja. Tak juga berpanjang- panjang.
Tetapi makna tulisannya yang luar- biasa.
Sampai saya baca berulang- ulang.
Motivasi dan inspirasi? Ini salah- satunya. Enjoy..

“Setahun yang lalu mulai coba rutin lari… Akhir September 2012 kalo ga salah, mulai ditemenin NikePlus tgl 4 Oktober 2012… Inget banget awal lari dulu menye2 banget, baru lari 10 menit aja udah ngos2-an parah & mutusin jalan… Alhamdulillah lama2 bisa juga  lari nonstop. Sekarang masih lelet sih tapi lumayanlah ya… 😁

Jaman sekolah dulu paling benci kalo disuruh lari. Satu2-nya olahraga yg disukain cuma renang…

Berhubung sekarang ada anak yg ga bisa ditinggal lama2, akhirnya coba2 lari. Terinspirasi mama2 TUM… Niatnya cuma satu sih, pengen sehat demi Kalya…

Masih inget banget gimana mimik muka khawatirnya Kalya kalo liat bundanya nangis2 nahan nyeri beberapa hari dalam setiap bulannya, duh bikin frustasi… 😥  .

Alhamdulillah sejak rutin lari pelan2 frekuensi nyerinya berkurang… Dari yang awalnya pake obat penahan nyeri 10 hari, turun jadi 6-4-2 dan sejak bulan Mei 2013 ga pake sama sekali sampai sekarang…

Alhamdulillah semoga sehat seterusnya… Amin… 🙏

Anyway, makasih banget2 untuk mama2 runner yang jadi inspirasi untuk mulai lari… Postingan larinya teh ninit, fanny, meta, gamma, nyanya & mama2 lainnya beneran memotivasi banget diawal lari dulu… 😘 Juga untuk teman2 IR Bandung yang baik hati & selalu menyemangati… Makasih aki, kak arie, tyas, yustin & teman2 IR Bandung lainnya yang bikin semangat lari sejak pertama kali daku lari bareng & “terjebak” 10K… 😙 #MariLari 🏃🏃🏃”

1st Runniversary by Rieka Riananda

Aside