biking, cycling, design

TRIKE

Trike.jpg

Kondisi jalan dihampir kebanyakan kota di tanah- air  ‘memaksa’ saya pada awalnya mendesain Trike dengan wheel track( jarak antar as kedua roda depan) lebih dari 100 cm. Padahal bertentangan juga dengan ‘kebutuhan’ manuver di, lagi- lagi kondisi jalan alias kemacetan, dalam kota. Kebutuhan Trike yang tak terlalu lebar agar mudah ‘meliku- liuk’ ditengah kemacetan.

Uji- coba ratusan km Bandung- Lampung lalu dan beberapa kali setelahnya ditrek yang berbeda, trek naik- turun Curug Cimahi, kemacetan Na’Uzubillah Cisarua Lembang, Cihideung, Sersan Bajuri di hari minggu, sampai trek potong kompas berpacu menuju IGD Advent, akhirnya mengharuskan saya mendesain ulang beberapa dimensinya. Diantaranya ya wheel track tadi.

Beberapa penyesuaian pada desain Trike saya berikutnya.

Frame dan geometri.

– Bahan aluminium atau carbon untuk mengejar bobot total maksimal 17 kg.

 – Pilihan wheel track yang mendekati ideal antara 70cm( banyak pada Trike di Eropa dan Amerika yang mempunyai rata- rata jalan- jalan kota yang halus, rata, minus lubang- lubang yang menjebak), sampai 75 cm, cukup stabil, tak mudah terguling, lincah dan masuk disela- sela kendaraan lain ditengah kemacetan kota tanah- air.

Dan tak kalah penting, masuk ke ‘lawang’ pintu rumah 🙂 .

Komponen.

–  Desain ulang rak belakang dengan dudukan pannier yang lebih rendah lagi yang artinya rak belakang( juga tetap sebagai tempat battery) dengan dudukan untuk tas- tas sepeda( panniers) yang lebih lebar. Lebih lebar dari lebar as belakang.

– Lampu- lampu sorot depan dan belakang  yang terang dengan tenaga sendiri.

– Rem cakram depan dan belakang hidrolik.

– Arm belakang model garpu( standar sepeda) atau monoarm.

– Dengan atau tanpa Canopy yang tergulung saat tak dipakai dan cukup dengan satu tarikan ringan jika diperlukan.

– Dudukan  teleskopik Hammock stand depan dan belakang.

– Teleskopik Hammock stand yang ringan dan mudah cabut- pasang, terpasang disamping       kiri- kanan main frame.

– Usb guna isi ulang gadget.

– Dudukan gadget pada handlebar kiri, lengkap dengan colokan usb gadget. Dan tahan air.

Masih bersambung…

Salam 🙂

#desainbaru #eigersignature #custom #eigertropicaladventure #enjoylifewithoutaroof #trektownbike #etrike

Standard
gowes, review

LOGR Java, Sang Onthel Elektrik

 

img_1540img_1542img_1543

 

img_1552Tak seperti beberapa Sepeda Elektrik yang terlihat  ‘dipaksakan’ menyerupai sepeda motor, Onthel Elektrik ini tampil ‘biasa’ seperti sepeda kayuh, tapi sepeda kayuh yang rapih, cantik nan ciamik.

Dinamo penggerak roda depan yang juga hub  depan cukup kecil. Tak mencolok.

Berframe kokoh( steel), dengan bobot seperti umumnya Onthel.

img_1541
Rak depan yang unik, amat sangat mencolok, dengan finishing rapih, berbahan aluminum.
img_1553

Selain tuas rem belakang pada handle bar kiri adalah kontrol On/Off, +/- torsi/ tenaga, tampilan Kecepatan, tampilan Torsi( 1-5) dan indikator lampu belakang.

img_1555
Di handle bar kanan, tuas rem depan, throttle( tuas gas), gear shifter belakang( 1-3) model tromol.

 

img_1556

Battery berkapasitas 11 ampere( 250 watt), 36 Volt ‘tersembunyi’ di rak belakang. Akan lebih tak terlihat lagi jika pannier belakang terpasang.

Pengisian mudah, bisa langsung pada posisi terpasang atau dicabut jika terminal jauh dari sepeda.

Cukup 2-3 jam untuk pengisian penuh, memenuhi kebutuhan 30 – 50 km.

Pada battery adalah tombol cek kapasitas battery, indikator battery dan tombol On/ Off lampu belakang.

Rak belakang ini seperti juga peruntukannya adalah tempat ‘digantung’kannya sepasang pannier( tas sepeda) atau satu saja disalah- satu sisi . Sekaligus ditempatkannya lampu belakang dan reflektor.
Sayangnya hanya satu moda lampu. Tak ada moda lampu blink. Daya diambil dari battery.
Dan akan lebih baik lagi jiga dilengkapi dengan  lampu depan dan Kring- Kring, agar saya tak perlu selalu berteriak. “Awas awas, numpang lewat! ” 🙂

Test ride?
Karena peruntukannya memang bukan untuk ‘diangkat- angkat’ berselfie seperti umumnya yang ber roadbike, bobotnya tak menjadi masalah.

Handling  bagus, kayuhan standar Onthel memang tak seringan roadbike, tapi masih ramah dengkul untuk wara- wiri dalam kota.
Kejutan manis saat elektrik dinyalakan.
Ber pedal assist, dinamo digerakan tak hanya oleh tuas throttle( gas), tapi juga oleh kayuhan.

Semakin kuat mengayuh dinamo akan semakin kuat memutar roda depan.
Secara singkatnya saya gambarkan ‘bantuan’ elektrik ini seperti jika kita mengayuh dan ada yang bantu dorong dari belakang.

Onthel atau sepeda jenis manapun ber elektrik amat saya sarankan untuk siapa saja. Terutama untuk Anda yang ingin bertransisi dari kendaraan berbahan bakar fosil ke elektrik, dan kemudian ke sepeda berkayuh.
Tak ada lagi masalah terlalu berkeringat dan terengah- engah saat masuk kantor  atau ruang kuliah.

Pada moda tenaga battery sepenuhnya, cukup kedua kaki diam saja di pedal dan sila dorong tuas throttel( gas) dengan jempol tangan kanan.
Dan.. bukan Anda yang harus heran, tapi biarkan kanan kiri belakang Anda yang terheran- heran, melihat satu Onthel bersosok besar gagah melaju ringan di tanjakan Cipaganti atau Dago atas dengan kayuhan penuh senyum, atau bahkan tanpa satu kayuhanpun  🙂

Salam BOSEH, Bike On the Street Everybody Happy 🙂

Ohya, dengan IDR 14.000.000 tentu saja sudah dapat Anda peroleh 1 sepeda motor baru bertenaga berlipat- ganda dengan kecepatan maksimal sampai diatas 100km/ jam.
Hanya jika Anda lebih peduli kesehatan diri dan lingkungan, dan juga keamanan, Sepeda elektrik ini ada pilihan yang lebih bijak, smart dan berwawasan. Ya kan?

Atau mau rasakan sensasi sepeda elektrik dengan lebih murah lagi? Bawa sepeda Anda jenis apapun yang ada, pilihan ebike kit, hub depan, belakang atau middrive merubah Gowes Hah Heh Hoh Anda menjadi Gowes Cantik, Apik, Ciamik Banyak Dilirik 🙂

https://trektownbike.com/

 

 

 

 

 

Standard