cerita, running, story, trail running, tulisan, ultra running, ultra trail running

kehidupan yang warna- warni, lari dan asma abadi

WaistPack

jika perjalanan hidup adalah kumpulan dari hal2 yang baik, hebat, menyenangkan, berkelebihan dan keberhasilan. Barangkali bisa di ibaratkan seperti berlari dari start sampai finish dengan pace yg cepat menakjubkan, tanpa lelah sedikitpun. Di trek yg super mulus, udara bagus dan tanpa sedikitpun lapar dan haus.

Ada saat- saat  bisa pergi  main dari pagi sampai sore tanpa larangan orang- tua. Ada saat- saat tak boleh keluar rumah bertahun- tahun karena anjuran dokter.  Juara kelas berturut- turut dalam satu kurun waktu.  Saat lain raport tampil menyala dengan 8 angka merah.
Disaat yang satu rajin mengaji rajin belajar, sampai lupa padahal sedang libur. Disaat lain menjadi biang kerok perkelahian antar kampung.
Sebagian saat- saat sma adalah saat- saat tertawa lepas dalam keseharian bersama teman2. Sebagian lain adalah buru- buru menjauh dari kerumunan, menyembunyikan batuk asma yang sama sekali tak indah didengar.
Berlari mengajarkan kepada saya, bagaimana suatu minus, keburukan, kekurangan atau kerugian sepanjang hidup, yang hampir seperti kutukan, bisa menjadi sebaliknya. Bisa berdamai dengannya.
Asma saya  bisa jadi abadi, tak hilang sepanjang hayat saya.
Tapi dengan berlari, saya belajar mengendalikannya. Belajar bagaimana mengurangi pencetusnya.

Bagi teman2 pengidap asma seperti saya, tak usah kecil hati. Yuk kita coba untuk berlari.
Bisa jadi lari2nya saat ini bercampur  dengan berhenti berulang- kali. Tapi, sedikit demi sedikit tapi pasti , kita akan sampai pada titik ” Yes! i did it!” . Akhirnya bisa lari2 rutin sekian puluh menit setiap hari. Atau jika diinginkan bahkan sampai berlari trel ultra muncak Rinjani.
Selamat pagiiii 🙂

 

 

 

Advertisements
Standard
perkawinan, story

Tiga Puluh Empat Tahun

” Mau balik Bandung lo? Ngapain? Kawin? Emang berani? Ngaca dong?”. Tanya seorang teman.
Sempat kaget. Apa maksudnya.
Jawabannya ada dihadapan saya beberapa saat kemudian.
Tampak pantulan saya dicermin wastafel tempat saya kerja paruh waktu.
Rambut jabrik sedikit melampaui bahu tak terawat. Pipi tembam. Pun sama tak pernah tersentuh apa- apa selain air dan keringat.
Kacamata.. saya yakin kacamata bagus dan tidak juga murah. Tapi tiba2 baru saya sadari, seperti benda aneh yang jauh dari disebut pantas diwajah saya.
Saya merenung. Mendadak hilang semangat.
Ya ampun. Pastinya tak ada satupun yang saya lakukan untuk penampilan saya.
Tak pernah terfikir kearah sana.
Saya hanya tahu, penampilan baik hanya sesuai sampai masa- masa sma.
Masa kuliah adalah masa- masa serba terbatas.
Tinggal dikosan,sendiri atau berbagi kamar dengan seorang teman. Mencukupi kebutuhan hidupnya dengan kerja paruh- waktu saat libur kuliah. Perangkat audio adalah radio baheula model roti besar seukuran tv lawas 17 inch.
Fruehlingsrolle( lumpia) adalah sarapan atau cemilan mewah.
Selalunya biskuit entah apa mereknya.
Beberapa hari kemudian saya sudah duduk manis dikursi tempat potong rambut yg untuk kantong kuliahan saya jauh dari terjangkau.
Rupanya kesadaran saya untuk punya tampilan ‘normal’ lebih kuat dari keraguan saya memasuki salah satu tempat potong rambut terbaik dikota.
Untuk setiap lembar yang saya bayar tentunya saya mengharapkan yang terbaik.
Jadi ya saya serahkan sepenuhnya kepada mereka.
Alhamdullillah, bukan saja tidak mengecewakan tapi ya ampun terkaget- kaget sendiri. Haha.
Bersamaan dengan itu saya mulai lebih banyak lagi berjalan, lari2 pendek,karena asma saya yang menghambat, renang, asupan yang lebih lagi terkontrol selama  beberapa bulan sebelum pulang menikah.
Pulang, menikah, dan hari- hari selanjutnya hal- hal biasa yang mengikuti setelah pernikahan.
Ada hal yang membuat saya merenung lagi.
Banyak yang bilang, saat pernikahan dan saat- saat setelahnya adalah tahapan- tahapan kehidupan yang membuat orang lebih bahagia lagi.
Ditandai dengan wajah- wajah yang selalunya sumringah dan… sebagian dengan penampilan yang kali ini tidak lagi dengan usaha terbaik seperti saat sebelum menikah.
Kerap kali saya melihat, semakin lama usia pernikahan, semakin tak karuan penampilan dan  pakaian rumah sang pasangan.
Hilir- mudik dengan daster/ pakaian tidur atau kaos oblong dengan maaf robekan disana- sini. Bahkan sarung.
Terkadang malah sampai melewati waktu siang.
Rasanya seperti, dandan hanya saat masih sendiri. Saat belum mendapat pasangan. Setelahnya? Ah kan saya sudah laku. Ah kan dia sudah menjadi milik saya.
Entah bagi yang lain. Bagi saya? Seperti yang tidak menghargai.
Tentunya banyak cara seseorang menghargai pasangannya. Sebanyak manusianya itu sendiri.
Saya, seperti juga yang lain, tentunya ingin mempunyai pilihan, cara yang mana yang terbaik.
Sampai saat inipun saya tidak pernah tahu, cara yang mana yang paling baik yang saya ambil.
Jangan jangan malah tak pernah juga ada satupun yang saya punyai.
Apalagi jika ditambah lagi dengan sssst.. sekian banyak hal yang saya lakukan, sengaja ataupun tidak, yang mungkin malah menambah kekecewaan sang pasangan.
Jika ya, ditengah- tengah keluguan saya memasuki masa pernikahan, barangkali paling tidak ada satu yang saya usahakan sejak hari pertama pernikahan saya. Saya ingin bisa mempertahankan  penampilan saya tidak terkesan terlalu semaunya. Jauh dari gagah- perkasa, tapi bukan  cerminan dari pola hidup yang seenaknya.
58kg adalah berat badan saya saat ini, seperti juga sejak 34 tahun lalu lebih  seminggu. Tak kurang dan tak lebih 1 ons pun.
Bukan hal yang istimewa tentunya. Tapi seperti saya sebutkan diatas tadi, setidaknya ada satu yang saya usahakan.
Selamat hari jadi untuk saya dan pasangan hidup saya.

Standard