cerita, kisah, story, tulisan

SEPENGGAL KISAH MASA KECIL SAYA

Dunia saya adalah main, main dan main disana – sini.
Dunia saya tak pernah sepi.
Kemanapun pergi, selalu ada siapa- siapa dikanan dan dikiri.

Berkelahi? Selalunya saya hindari. Tapi jika mesti, walau awalnya ragu akhirnya pasti saya hadapi.

SEPENGGAL KISAH MASA KECIL SAYA.

Sejak usia belum sekolah saya sudah suka sekali berteman. Terutama dengan perempuan:).
Tunggu dulu.
Bukan berarti genit atau keperempuan- perempuanan.
Bagi saya mereka tampil tak kasar, tak temperamen. Tak suka berkelahi.
Walau kenyataannya, tak jarang kebalikannya.
Saat tinggal dirumah petak di Batujajar Jakarta dulu, saat pemukiman dibelakang Grand Indonesia masih kampung, lebih sering mendengar si Tante sebelah rumah yang mencak- mencak entah karena apa daripada si Om suaminya.
Lebih sering terlihat si Mbok penjual sayur keliling ngomel- ngomel dibanding Bapak- Bapak tukang becak yng suka mangkal di gang keluar kampung kami.
Saat smp saya malah punya ‘bodyguard’ perempuan.
Siapapun yang ganggu saya, laki- laki pastinya, harus berhadapan dengannya.
Dan selalunya, segagah apapun laki- lakinya ciut dihadapannya.
Ohya, sang ‘ bodyguard’ ini hanya satu dari sedemikian banyak teman- teman perempuan yang suka dengan saya. Stop! Bukan saya maksud saya yang ter ini ter itu, tapi karena mereka menganggap saya.. apa ya, lucu barangkali. Perawakan saya mungil jika tak dikatakan lebih pendek dari kebanyakan se usia saya.
Jadi tampil imut.
Mereka tak sungkan peluk- peluk saya.
Ya itu tadi, barangkali saya dianggap boneka hidup.
Saya? Antara suka dan tak suka. Suka, karena ya dipeluk- peluk itu tadi. Perawakan boleh imut, mungil. Hati kan hati se dewasa mereka:). Tak suka, karena, ya bagaimana saya bisa jadikan salah- satu dari mereka pacar saya? Semua menganggap saya tak lebih dari teman ‘kecil’ yang menyenangkan.
Beruntung, porsi keinginan bermain saya tak kalah besar dengan porsi keinginan punya pacar:).

Jadi, pada akhirmya tetap saja saya lebih suka bersahabat dengan mereka.
Sahabat- sahabat saya sejak kecil sampai usia sma selalunya lebih banyak perempuan.
Bahkan Ibunya anak- anak adalah satu dari dua mantan sahabat saya sma ๐Ÿ™‚
Walau tak banyak, beberapa adalah sahabat laki- laki.
Yang pasti teman- teman bermain usia sd saya banyak sekali.
Dari ujung komplek di utara sampai selatan.
Teman- teman main perang- perangan, pedang, bola. Sampai sekali- sekali mancing di sungai dikampung seberang.
Untuk yang terakhir saya lebih sebagai penonton.
Saya tak beruntung dengan urusan mancing- memancing.
Teman- teman sudah belasan ikan didapat, saya tak satupun.
Setali tiga uang dengan urusan adu layangan. Layang- layang mereka bisa berlama- lama lenggak- lenggok di udara sambil putuskan layang- layang lawan, saya selalunya menjadi disisi yang tak pernah lama. Begitu naik ssst putus. Layangan saya. Bukan lawan.
Tapi jika urusan mencari dan banyak  teman, entah laki- laki atau perempuan, rasa- rasanya saya lebih jagoan:).
Rentang usia teman- teman saya dua- tiga tahun kebawah dan keatas. Artinya, saat usia kelas tiga smp misalnya, mereka adalah di usia kelas satu smp sampai yang baru kuliah.
Dunia saya adalah main, main dan main disana- sini.
Dunia saya tak pernah sepi.
Kemanapun pergi, selalu ada siapa- siapa dikanan dan dikiri.
Seperti yang saya pernah ceritakan, Mmak dan Bapak tak pernah keberatan dengan hal ini.
Yang penting setelah solat dan ngaji.
Ditambah lagi saya tak bermasalah dengan urusan sekolah.
Masuk sekolah siang, pulang sekolah saat sore, langsung saya selesaikan semua pe er- pe er sekolah.
Sering kali malah saya selesaikan lebih dari yang semestinya.
Kadang empat sampai lima halaman lebihnya.
Setelahnya selalunya saya mandi, pakai hemd lengan pendek bermotif kotak- kotak, kebanyakannya, terkancing sampai keleher, saya siap pergi main. Tak pernah terlewat, bersepatu:).
Berkelahi? Selalunya saya hindari. Tapi jika mesti, walau awalnya ragu akhirnya pasti saya hadapi.
Pernah suatu kali, seorang teman, mungkin sebab iri- hati akan entah hal apa, berulang- ulang mengganggu saya. Apapun dilakukan untuk memancing emosi saya.
Bagian yang paling menyebalkannya bukan gangguannya, tapi bahwa dia berperawakan jauh lebih besar dari saya dan.. selalunya dia lakukan dihadapan banyak teman- teman yang lain.
Serba salah. Dibiarkan, tak nyaman juga, karena jadi bahan olok- olok yang lain. Dilawan? Tampang dan perawakannya saja sudah mengintimidasi.
Akhirnya, keputusan harus dilakukan. Saya hampiri dia, setengah berbisik saya katakan,” yuk, ga usah koar- koar, mari kita berdua kelapang”.
Dengan perhitungan dan harapan, pertama, siapa tahu gertak saya efektif, membuat dia berfikir lain tentang saya. Kedua, tak lupa berdoa yang banyak, setelah  beberapa kali pukulan dia terhadap saya, yang kemungkinan terbesar tak bisa saya elakan, teman- teman lain sudah merelainya. Semoga, Aamiin.
Perhitungan ketiga, saya akan ambil posisi dimana ada batu sedikit besar atau apapun dalam jangkauan saya, dan siap saya gunakan saat terjepit.
Saya akan hantamkan semampu saya. Sepertinya akan cukup sekali jika bisa ke kepalanya.Seperti yang suka saya lihat di film- film india di layar tancap.
Diluar dugaan, mendengar ‘tantangan’ saya dia tampak kaget.
Tiba- tiba saya melihat hal lain.
Tampak jelas keyakinannya mendadak surut, berbanding terbalik dengan kepercayaan diri saya.
Dan akhirnya ‘perkelahian’ kami berakhir dengan keduanya terjerembab di selokan bau dipinggir lapangan. Penonton kecewa, tak ada adegan pukulan tak berakhir dari sang lawan dan tak ada juga hantaman batu yang mematikan dari saya.
Sebaliknya saya  bahagia:)

Bandung,kamis dinihari, november 2015.
Sepenggal kisah masa kecil saya.
Ditulis saat terbangun dari ketiduran sejak selewat magrib kemarin.

Advertisements
Standard
Uncategorized

Putri, Sang Guru Ngaji

Lama tak kelihatan, sudah usia smp lagi saja Neng ini.
Berkulit agak gelap, rambut keriting. Dan senyum yg manis.
Oh, yang saya maksud adalah saya yang lama tak melihat , bertemu anak tetangga sendiri.
Saya lupa sama sekali, siapa namanya.
Yang pasti saya ingat adalah, ibundanya pernah mengajar ngaji istri saya. Belasan tahun lalu.

” Yah, kenalin ini Mba Putri, guru ngaji. Panggil Putri aja ya? Kan jauh masih muda gini”.

Dipengajian berikut.
” Putri,  mba mba tetangga depan juga mau pada belajar ngaji. Bisa ya? Sekalian”.
” Iya mangga Ceu, nuhun. Alhamdullillah’.

Beberapa bulan kemudian.
” Yah, Putri ni dijodohkan mba- mba tetangga kita, sama adiknya, si Mas… tau lah ya?. Kan masih sendiri”.
” Oh, Alhamdullillah atuh”.
” Tapi Putrinya bingung”.
” Lho?”.
” Iya, Putri bilang, Putri mau, tapi Putri kan masih dalam perawatan rumah- sakit jiwa. Apa kata mba- mbanya nanti. Putri tanya, bagaimana menurut kita”.
” Wah, tau apa kita? Bingung”.
” Ngga keliatan seperti yang sedang dirawat ya?. Rasanya biasa- biasa aja. Ngajarin ngajinya bagus, enak”.
” Yah, coba tanya- tanya, cari info, harus apa kita.
Nanti mau ajak ngobrol Putrinya juga”.

Berbekal informasi Putri, esok harinya saya ke jalan Riau 11. Alamat yang sudah sejak usia SD saya dengar, tapi baru tahu sekarang dimana tepatnya.
Walau baru pertama kali ke rumah sakit jiwa ini, saya tak merasa canggung, karena ‘ jalan- jalan’ saya adalah juga, sesempatnya saya, ‘kunjungan’ ke pasar- pasar yang becek, gang- gang pemukiman kumuh, gedung pengadilan, sampai ruang tahanan kantor kepolisian.
Semoga bukan karena ‘pupujieun’ orang sunda bilang.
Tetapi sedikit usaha saya, mengingatkan diri- sendiri, bahwa ada kehidupan lain, disamping kehidupan yang selama ini sudah saya kenal.

” Ya Pak, Mba Putri ini memang dalam perawatan kami. Bersyukur Mba Putrinya mau rutin periksakan ke kami.
Selama rajin periksakan diri dan teratur minum obatnya, mestinya ta ada masalah dengan rencana menikahnya”.

Walau berhalangan untuk hadir di hari pernikahannya, kami bersyukur, sebelumnya bisa sedikit terlibat di persiapannya.

Kini, sang anak, yang senyumnya manis, baik- baik, sehat- sehat saja.
Putri, sang ibunda,  yang mengidap gangguan jiwa, saya lupa di tingkatan yang mana, dan sang ayah, pengidap epilepsi, Alhamdullillah sama juga. Selalu terlihat baik- baik saja, rukun- rukun saja. Malah, sepertinya pasangan yang paling terlihat selalu sama- sama kemanapun juga.
Putri masih mengajar ngaji. Masih aktif di kegiatan ibu- ibu komplek . Walau sekedar arisan, membagikan edaran dan undangan.
Kang Masnyapun sama. Tak pernah lagi terdengar serangan epilepsinya. Seperti jauh sebelum pernikahannya.
Putri dan Kang Masnya, seperti juga Putri- Putri dan Kang Mas- Kang Mas yang lain, hanya berharap mendapatkan sikap dan pandangan yang sama, seperti sikap dan pandangan kita kepada yang lain.
Selamat hari senin dan salam ๐Ÿ™‚

Standard
berbagi, event, inspiration, komunitas, olahraga, renungan, running, sport, story, tulisan

BandungJakartaRun4Leukemia

wpid-p6130011.jpg

Awal 80an berangan- angan, sekali seumur- hidup turut dalam lomba lari 10k. Kekaguman saya akan olahraga lari mengalahkan kekaguman saya akan olahraga2 lain, apapun yang menggunakan alat.
Apa daya, asma & bronkhitis bawaan sejak lahir menjadi penghalang. Setidaknya begitu yang saya fahami selama itu.
Awal 2010 adalah lari ‘serius’ saya pertama.
Selanjutnya, kecintaan saya akan lari semakin besar. Dan ‘mengalahkan’ penghalang saya.
Sepertinya kapanpun saya siap untuk berlari puluh bahkan ratus kilo.
Haruskah? Tak mesti tentunya.

wpid-p6130022.jpg
10-30 menit berlari dalam sehari sudah ‘memenuhi’ untuk sehat.
Tak hanya untuk sehat sendiri, berlari ternyata bisa untuk banyak hal positif lainnya.
Misalnya, seperti yang dilakukan teman2 yg baru saja semalam, 13 juni 2014 lalu, memulai lari bandung- Jakartanya. Berlari untuk adik2 penderita Leukemia.
Diharapkan finish menemui adik- adik kita pada tanggal 15 juninya.

wpid-p6130031.jpg
Berlari sebagai bentuk kepedulian mereka akan penderitaan adik2 ini. Akan orang2 disekitar adik2 ini.
Berlari sebagai bentuk kepedulian terhadap sesama. Adik2 kita diantaranya.
Semangat teman2. Tetap sehat. Selamat sampai tujuan. Dan kembali ke Bandung.
Terimakasih tim pesepeda, motor & mobil pendukung. Terimakasih League, PocariID, SAB. Terimakasih semua teman- teman komunitas lari tanah- air.
#bdgjktrun4leukemia

wpid-p6130051.jpg

wpid-p6130065.jpg

wpid-p6130070.jpg

Standard
cerita, story

Passion For Adventure. Versi kami.

” Gawat, ga dapet ijin”. Berarti ga ada duit juga.
Hening sesaat.
” Udahlah, seadanya duit aja”.
” Pangandaran?”.
” Kurang”.
” Jogja?.
” Apalagi atuh”
” Bali bali”.
” Hah?”.
” yuk!”.
” Yuk!”.
” yuk!”.
” Duit?”.
” Wah..”.
” Gw palingan… dua ratus..”.
” Tiga ratus lima puluh,..”.
Terkumpul kurang- lebih seribu rupiah, obrolan di warung Bi Dar, tempat kami, berempat,ย  jajan dan sembunyi- sembunyi merokok, berlanjut dengan pertanyaan- pertanyaan, “naik apa?”.
Menit- menit berikut kami ancang- ancang melenggang ke stasion kereta- api.
Idenya adalah dengan seadanya uang disaku, naik kereta- api barang kemanapun, kearah timur.
Pikiran cetek, tak ada satupun yg berfikir, kan harus makan.
Stasion Cirebon sebenarnya dekat saja dari komplek tempat sebagian dari kami tinggal.
Masalahnya adalah, dari rumah ke stasion artinya melalui kampung musuh kami.
Masalah yang tak main- main. Bisa- bisa babak- belur kami yang hanya berempat. Sementara mereka bisa terkumpul puluhan dalam sekejap.
Ide yang akhirnya kami anggap paling cemerlang adalah.. naik kereta barang dari sebelum masuk kota. Karena kereta barang sering melambat saat memasuki kota. Seringnya. Semoga.
Dan jarak yang lima kali lipatnya pun kami tempuh demi terhindarnya dari pukulan dan lemparan batu. Amit- amit.
Naik kereta barangnya sukses. Tujuan ke arah timur yang tidak.
Kereta barang berhenti di stasion Cirebon.
Jadi, jalan kaki sejauh lima kalinya, melompat naik kereta barang, untuk jarak yang juga sama, dan sampai stasion menemui kenyataan bahwa kampung sang musuh ternyata sepi. Fiuh.
Berangkat ke timur berarti kami akan melalui persimpangan kereta jalan Kartini.
Jalan paling ramai dikota kami. Dan.. paling banyak dilalui teman2.
Hah, ternyata kami berempat ini tak hanya sok berpetualang tapi juga tak cukup percaya diri untuk terlihat naik gerbong barang.
Mencoba masuk ke gerbong tentu saja tak mungkin. Semua terkunci.
Karena tak seorangpun dari kami yang sukarela untuk berdiri dikiri atau kanan terluar, ya itu tadi, malu terlihat oleh siapapun nanti diperempatan saat kami melintas, akhirnya undianlah cara satu- satunya.
Dan seperti biasa undian tak pernah berpihak kepada saya.
10 menit.. 30 menit. Sudah 1 jam lebih kereta tak juga berangkat.
Saat kami tanyakan kepada seorang petugas, jawabannya sungguh diluar dugaan,” berangkatnya 3- 4 hari lagi”.
Petualangan di kehidupan nyata berjalan tak semulus seperti di film- film.
Bunyi peluit lokomotif uap mengakhiri debat kami atas dilanjutkannya atau tidak rencana sok petualangan ini.
Kedatangannya yang serasa tiba- tiba seperti menyemangati kami.
Kali ini kami berfikir sedikit lebih pintar. Saat akhirnya rangkaian kereta api berhenti, kami datangi sang masinis. Menanyakan apakah keretanya juga berhenti beberapa hari atau lanjut kearah timur.
” 2 jam lagi berangkat”.
” Naik disini saja. Jangan di gerbong”.
Yang dimaksud adalah, kami naik di ruang masinis, membayar 100 rupiah setiap stasion kepada masinis, dan siap2 kabur sebelum dipergoki petugas di stasion yang akan kami lewati.
Kalau sekarang saya melihat orang- orang yang menumpang kereta api dengan cara duduk diatapnya, komentarnya tak jauh- jauh dari, maaf, ” Dasar tolol”. Nah seperti itulah kami.
Bukan diatas atap memang, tapi sama- sama tak pakai otak.
Berpegangan satu tangan pada apapun yang bisa. Satu kaki berpijak, tangan dan kaki lain seenaknya melambai dan mengayun bebas, menantang angin yang menerpa.
Bahagia itu sederhana. Dan berbahaya.
Udara panas dari pembakaran batubara, angin kencang, dan terik matahari. Dan tentu saja muka coreng- moreng campuran debu dan kotoran udara lainnya. Mengawali sok petualangan kami kali ini.
Sama hebohnya dengan saat 3 tahun sebelumnya, Pangandaran- Cirebon, diatas atap bus.
Penyesalan teramat – sangat, padahal baru beberapa menit naik keatap bus. Tapi gengsi juga yang membuat kami bertahan.

Berjalan diatas rel, hanya menimbulkan goncangan tak berarti kearah samping. Pantas saja, siapapun bisa berlari kencang diatas atap kereta yang juga melaju kencang.
Stasion demi stasion kami liwati. Bersukur tak ada petugas yang melihat kami. Bersembunyi adalah salah- satu keakhlian kami.
Masuk waktu isha kami sampai di stasion jogja.ย  Rangkaian kereta hanya sampai disini.

Karena saat itu tak ada lagi kereta yang kearah timur, entah esok harinya, kami putuskan lanjut dengan mencoba naik mobil. Apapun.
Jalan kaki adalah satu2nya pilihan. Dan spbu target start kami berikut.

Sisa uang setelah dikurangi beberapa kali 100 rupiah setiap stasion masih mencukupi untuk sekali makan. Setelahnya adalah nol.
Ohya, selama kami naik kereta, makan kami adalah sisa jajanan yang kami beli sebelumnya diwarung Bi Dar. Masih ingatkan warung kami ini?

Setelah sekian lama berjalan, lelah dan lapar lahย  yang lebih cepat menghampiri kami dibanding kami menemukan spbu.

Ditambah tak sebatang rokokpun lengkap sudah penderitaan kami. Kami bertiga. Karena satu teman kami tak merokok. Dan yang paling kami sesali adalah karena kami sepakat mempercayakan uang saku dipegang oleh sang kawan satu ini. Percuma saja,merengekpun tak kan dibelikannya, walau hanya sebatang.

Satu dari sekian truk yang kami hampiri berbaik hati memberi kami tumpangan. Tentu saja di bak. Dikabin depan sudah ada 2 ibu2 penjual sayur.ย  Dan pak supir tentunya. Keneknya bersama kami dibelakang.

Sudah lewat waktu isha, saat truk mulai melaju.
Pastinya karena lelah dan lapar, kali ini kami lebih banyak diam daripada seperti biasanya ramai.
Tak ada lagi canda dan saling ejek.
Kami duduk diantara bakul- bakul sayuran. Ditutup terpal tebal.
Udara dingin malam dan angin yang kencang lebih memaksa kami mencari posisi senyaman mungkin.
Lebih tepat barangkali sesedikit mungkin tersiksa.
Bersandar kedinding bak truk yang kerasnya Na’Uzubillah. Duduk beralaskan apapun yang agak membantu terhindar dari ya juga kerasnya lantai bak truk.
Kali ini ada hal lain yang melintas di fikiran saya.
Tiba- tiba teringat hangatnya kamar tidur saya. Satu dari lima kamar tidur di rumah tinggal kami.
Rumah tinggal dengan arsitektur amerika tahun 50an.
Berdiri terpisah dari rumah- rumah tetangga lain. Kiri dan kanan masih lahan kosong.
Apalagi karena sudah ketetapan dinas tata kota, bahwa di deretan sebelah barat, ya deretan rumah kami, tak boleh lagi dibangun rumah- tinggal. Peruntukannya untuk kantoran.
Membuat rumah kami satu- satunya rumah- tinggal.
Selainnya adalah perkantoran. Itupun masih jarang sekali. Tak berderet- deret seperti sekarang.
Kamar tidur saya tak mewah. Tempat tidur biasa.
Yang paling saya suka adalah, lemari- lemari built- in dan pintu- pintu kamar tidur yang semua menghadap kehalaman belakang. Jadi bukan menghadap kedalam ruang keluarga, seperti pada umumnya.
Semua pintu dan jendela adalah dobel. Satu pintu biasa yang membuka kedalam. Dan satu pintu berkasa nyamuk yang membuka keluar.
Mahal? Tak sama sekali. Rumah yang dibeli Bapak seharga satu setengah juta rupiah.
Dihindari oleh yang lain, menjadi keberuntungan bagi kami.
Konon katanya rumah berhantu. Lama tak ditinggali.
Padahal desain rumahnya sudah modern sekali pada jamannya.
Tak pernah diceritakan Bapak tentunya soal rumah berhantu ini sebelumnya.
Saya baru menyadari lama setelahnya, bahwa awal- awal teman- teman yang suka main kerumah, jarang sekali sampai lewat magrib.
Sejak tinggal dirumah ini saat tidur seringkali saya mengalami kena eureup- eureup. Apa ya bahasanya. Saat tidur tiba- tiba merasa seperti ada yang menindih. Berasa sesak tak bisa bergerak.
Orang bilang, harus segera dibangunkan. Jika tidak, akan tak bangun- bangun. Selamanya.
Ah tak sedikitpun saya percaya.
Selalunya jika tidur telentang.
Hal yang mudah untuk dihindari sebenarnya. Ya tidur tengkurap saja.
Masalahnya saya sering lupa. Tidur terlentang lagi terlentang lagi.
Dan pelupa saya parah.
Jadi kalau sekarang saya ini pelupa, bukan karena faktor usia, tapi memang bawaan. Haha.

Ya, tiba- tiba saya mengimpikan berada dikamar saya. Kamar di rumah yang konon berhantu. Tapi pastinya hanya setarikan nafas saja untuk sampai ke dapur dan sapu- habis apapun yang bisa dimakan. Dan rebahan setelahnya dikamar. Selama dan sekehendak saya.
Bukan kedinginan dengan perut lapar dan kelelahan teramat- sangat.

Alih- alih bisa melalui malam- malam yang menyiksa dengan mengantuk dan tidur, tetesan- tetesan air melalui bolong- bolong kecil sang terpal dan dinginnya tenda yang menempel kepala dan sebagian bahu kami membuat kami sebaliknya.

Hujan turun cukup deras. Karena terpal tak terpasang terbentang kencang dengan dudukan tinggi seperti harusnya. Tapi tergelar seadanya menutupi kami dan bakul- bakul sayur, tak ayal genanganpun ada dimana- mana diatas terpal, tepat di kepala kami. Sempurna sudah penderitaan ini.

Satu dari empat sok petualang ini meneteskan airmata. Sedih dan kesal.
Kelak saya tahu, ternyata yang lainpun sama. ๐Ÿ˜› .

Bersambung ๐Ÿ˜‰

Cirebon, 1974.

Standard
adventure, berbagi, cerita, cerita, kisah, renungan, event, olahraga, running, sport, trail running, tulisan

Lomba Yang Bisa Dimenangkan Oleh Siapapun Kita

Kamojang-

6 bulan pertama usia lari, saya tak cukup percaya diri untuk ikut lomba. Sampai Kang Rama Nusjirwan mengatakan,” Harus coba Ki, bagus untuk tahu dan tingkatkan kemampuan”.
Berikutnya adalah sibuk2 siapkan mental dgn sekian tanya- jawab sendiri, bagaimana kalau begini, bagaimana kalau begitu. Intip2 di hasil lomba yg sdh berjalan, kira2 saya akan ada di posisi mana. Akankah saya paling buncit?.
Belum cukup yakin saya putuskan daftar di Milo 10k 2010. Setelahnya adalah dag-dig-dug tak karuan.
Perasaan menyesal timbul. Peserta akan ribuan, dan mereka akan melihat orang setua saya lari terseok- seok atau gagal finish. Konyol sekali.
Ditengah- kegalauan saya, tiba2 saja Bang Muara Sianturi telpon,” Ki, jadi ikut Milo 10k?. Lo ikut Lomba Lintas Alam Kamojang aja, trel tuh”.
Pucuk dicinta ulam entah kemana eh si ulamnya tiba.
Yes. Selamat saya dari yg saya khawatirkan.
Kamojang, entah dimana, pastinya pesertanya tak ribuan. Venuenya dialam, banyak bukit dan pohon. Akan banyak tempat sembunyi jika kegagalan yg akan saya alami.
Tiba2 ada perasaan lain. Entah kenapa, saya merasa ada skenario yg dibuat si Abang ini.
Sampai2 beliaupun mau ikut lomba Kamojang ini.
Yg pasti dgn gagah percaya diri saya daftar.
Apalagi ternyata peserta kategori kecepatan( kita sebut lari trel kan)pesertanya hanya berlima. Haha. Sebelum2nya sampai 20-30an.
Hari H. Kami berlima, saya, Pendaki Liar, 1 peserta lokal, Bang Anwar rekan Pendaki Liar( saya dengar belasan kali berturut-turut juara lomba ini, mantan atlet lari halang- rintang 3000m) dan Bang Muara Sianturi.
Tak ada perasaan ragu, grogi atau apapun. Tak setetes keringat dinginpun saya rasakan.
Santai, seolah- olah sudah belasan puluhan kali ikut lomba.
Dari awal saya sudah ketinggalan. Yang tak pernah meninggalkan saya adalah asma saya. Selalu setia menemaniย  ๐Ÿ™‚ .
Dan percaya- diri yg entah darimana koq ya saya punyai.
Belasan km pertama, etape pertama adalah 25km, peserta lokal saya susul, juga Kang Pendaki Liar yg cidera. Kemudian lagi Bang Muara yg mengaku cidera. Berarti tinggal Bang Anwar didepan saya.
Singkat cerita saya finish 15 menit dibelakang beliau. Senang? Tentu saja. Aneh? Ya juga. Tapi saya tak ambil pusing. Saya nikmati saja dulu saat2 ini.
Kapan lagi saya merasakan saat2 kemenangan seperti ini. Seumur- umur lomba, hanya pernah juara di lomba balap… karung. Saat kelas 4 SD.
Itupun drama. Karena sempat diprotes peserta lain. Menurut mereka saya curang. Masa bukan loncat2 tapi melangkah. Sebelum lomba saya dibisiki kakak, “jangan loncat, ujung2 kaki posisikan keujung kiri kanan karung, dan melangkah jalan cepat” ๐Ÿ˜› .
Bang Muara kembali ke Bandung malam itu juga. Artinya tak berlanjut dgn etape kedua esok harinya.
Esoknya saya lebih santai lagi, karena juara dua sudah ditangan. Kembali ke start 18km, dgn trek berbeda.
Saat magrib saya menerima piala juara dua setinggi 70 cm. Ga level dgn kemenangan Nadal & Schumacher, tapi perasaan mah beda2 tifis lah.
Sampai saat ini Bang Muara tak pernah mengakuinya. Tapi saya tetap percaya, beliau sengaja membuat saya ikut lomba ini. Membuat saya percaya diri dgn keikut-sertaannya dan membiarkan saya berlari menuju juara dgn tak melanjutkan lombanya.
Jika mau tentu saja trek yg ‘ hanya’ 25km disikat habis beliau. Seorang yg hanya perlu waktu 3jam 5 menit untuk 42.195 km.
Kisah diatas, gambaran betapa konyolnya saya, yg tak cukup percaya diri untuk ikut lomba atau memulai lari- berlari, tak harus diulang oleh siapapun.
Yang dilakukan seorang Bang Muara terhadap saya ingin saya tiru. Dengan cara yg berbeda yg saya mampu.
Dibantu dengan banyak teman2 lari trel yg luar- biasa, saya ingin, setelah ikut “Food, Fashion & trailFunrun. Sukawana” lalu dan “Food, Fashion & trailFunrun. Sawarna” 4 mei nanti, juga acara2 serupa selanjutnya, siapapun pemula tak lagi ragu untuk mulai lari, mulai ikut lomba. Tanpa dibebani dgn harus cepat, harus finish, harus podium, harus sempurna.
Lomba kita adalah lomba mengalahkan berbagai macam penghalang untuk hidup sehat dan nyaman. Lomba yg pasti bisa dimenangkan oleh siapapun kita. Pemula atau yang sudah lama.
Terimakasih Bang Muara, Kang Rama, dan semua teman2 yg selalu saling mendukung. Salam, selamat pagi, selamat hari jumat ๐Ÿ™‚

Bandung, Maret 2014.

Standard
cerita, cerita, kisah, renungan, inspiration, kisah, motivation, olahraga, renungan, running, sport, story

Lebih Baik…. Lari

Belum terlalu siang, beberapa tahun lalu. Baru selesai lari dapat kabar ayah saya masuk ICU. Bandung diakhir minggu, macetnya, seperti yg sama2 kita tahu, ga lucu.
Menunggu yang lain mau berangkat sama2 koq rasanya seperti keabadian.
Tak pikir panjang saya lari ke Borromeus. Ya berlari.
Saat sampai dan melihat sanak- saudara berkumpul, saya baru sadar, ya ampun, saya pasti kena omel, gerutu dan omongan. Berulang- ulang, setiap mereka melihat saya berkostum lari.
” Hati- hati Kang, ingat umur”.
“Jangan maksain”.
“Jalan aja jalan. Lari mah atlet kali”.
Dan banyak lagi.
Itu satu. Dan baru sadar berikutnya adalah, apa kata Ayah nanti?.
“Duh ti- ati Ei( panggilan sayang Ayah ke saya). Harus ingat keselamatan. Umur kita kan sudah ga muda lagi”. Dan entah apalagi.
Perkiraan saya akan seperti itu.
Tapi, ya itu tadi, nasi sudah menjadi bubur. Kalau kata Aa Gym, jgn disesali, lebih baik buburnya kasih saja cakue.
Saya sudah melangkah masuk ke ruang icu, tak ada waktu lagi berfikir itu- ini.
Saya: “Salam Pak”.
Bapak: “Eh Ei. Abis lari?”.
Saya : ” Eu eu iya Pak. Anu.. dikit, bentar aja. Tadi .. eu buru2..”.
Bapak : ” Ya asal ati- ati aja. Semoga Bapak ga apa2 ni. Tapi kalo bisa milih, memang lebih keren mati karena lari daripada mati karena penyakit”.
Saya : ” ???????”.
Semoga Bapak selalu diberkahi sehat dan bahagia. Aamiin.

Standard
inspiration, motivation, story

Ki, Selamat Ulang- Tahun :) by Bang Aswi

“Ehhh … aku lari tuh mulai 2010, awal 2010. Jadi awalnya Jumat, sebetulnya sudah lama tahu bahwa lari itu olahraga yang mau banget aku lakuin. Cuma karena tahu ada asma dan bronchitis, dan sebelumnya pernah coba lari-lari kecil atau segala macam atau waktu aku sekolah … kayaknya cepet capek. Dari situ saya tahu saya pikir saya udah nggak ada peluang untuk lari. Nah, 2010 itu saya coba konsultasi ke dokter sebelumnya, alhamdulillah ya tersendat sih memang tapi sebulan pertama udah lumayanlah ada progres ya. Yang tadinya seratus meter udah sesak kali ini udah satu kilo dua kilo. Dua bulan kemudian udah bisa lari sepuluh….”

“Check up semua, apa jantung dah, apa tekanan darah dan segala macam, euhhh dokter bilang oke. Tapi belakangan saya tahu bahwa yang dimaksud di pengertian okenya itu bahwa saya larinya emang lari-lari pelan bukan seperti lari-lari yang saya lakuin belakangan ini. Sempet kaget juga tuh si dokternya. Nah itu awal-awal saya lari….”

Di titik ini jemari sosok itu berhenti. Sosok itu mencoba membayangkan apa yang dilakukan salah seorang sahabat dan guru kehidupannya, Aki Niaki . Kata-kata di atas adalah ucapan Aki di awal wawancara sosok itu di sebuah kafe di jalan Burangrang. Masih ada 40 menit lagi hasil wawancara yang belum diselesaikan tentang pengalaman Aki berlari. Masih ada ribuan jam kehidupan Aki yang belum tereksplor untuk dijadikan inspirasi bagi masyarakat luas, tidak hanya bagi yang ingin berlari. Masih banyak rahasia lagi tentang semangatnya untuk mengkampanyekan olahraga lari dan (juga) ngetrel.

Jujur, sosok itu juga punya asma. Jadi dirinya tahu bagaimana rasanya takbisa bernapas dengan wajar. Bagaimana rasanya ‘megap-megap’ saat baru lari beberapa puluh meter. Bagaimana rasanya tersiksa di saat jutaan orang menikmati nyenyaknya tidur. Bagaimana rasanya batuk-batuk hanya dengan melihat embun pada gelas yang dingin. Bagaimana rasanya menjadi orang yang tidak berharga untuk turut membantu kerja bakti (meski hanya sekadar di rumah sendiri) membersihkan debu karena nantinya akan batuk dan kemudian sesak napas. Sakit hati ini mengetahui itu semua.

Sosok itu dikenal ‘sport freak’ saat SMA dan mahasiswa. Basket, volley, sepakbola, bulutangkis, renang, hingga mengenal sepeda dan lari. Gila olahraga karena tahu bahwa inilah salah satu cara agar asmanya tidak sering kambuh dan menjadi beban bagi orang lain. Sepedalah yang dipilihnya kemudian saat sudah berkeluarga dan bekerja. Sampai kemudian dirinya mengenal Aki di pertengahan 2008, di komunitas Blogger Bandung—Batagor. Saat itu dirinya tidak tahu Aki itu pengidap asma. Saat itu dirinya tidak tahu apa agama Aki (maaf). Saat itu Aki belum berlari. Saat itu dirinya melihat Aki yang penuh semangat meski untuk beberapa kegiatan fisik tidak maksimal. Aki selalu aktif di tengah-tengah anak muda yang mayoritas masih mahasiswa. Tapi kemana-mana selalu naik motor.

Hingga kini, semangat Aki tetap sama dan bahkan jauh lebih berkobar lagi. Kegiatan fisiknya semakin maksimal dan prima. Kemana-mana selalu berlari dan tidak lagi kelihatan naik motor. Kondisi fisiknya kini jauh lebih bugar dan segar jika dibandingkan sosok itu di awal perkenalan. Aki bagaikan magnet bagi orang-orang yang ada di sekelilingnya, baik itu di komunitas blogger maupun di komunitas larinya. Aki semacam suri teladan. Padahal dia sudah berprestasi dan terkenal. Namun sikap hidupnya selalu ‘down to earth’. Penuh senyum. Penuh gairah. Penuh rasa kekeluargaan. Pokoknya ada perasaan nyaman saat dekat dengan dirinya. Perasaan yang tidak ingin berpisah. Entah mengapa.

Sampai saat ini sosok itu belum berkesempatan dapat berlari bersama dengan Aki. Usahanya berlari mengalami maju mundur, bahkan lebih banyak mundurnya. Belum satu kilometer tetapi sudah menyerah untuk berhenti. Selalu lari sendiri karena malu kalau harus lari bersama. Aki-lah yang memberi semangat pada diri sosok itu. Aki-lah yang memompa diri sosok itu hingga akhirnya memberanikan diri untuk mau bersepeda sendiri dari Bandung ke Jakarta. Jauh setelah Aki berlari dari Bandung ke Jakarta. Aki tidak tahu akan hal ini. Semangat untuk mencoba lebih berani. Semangat yang membuat dirinya kembali mendekati Aki karena ada satu ‘keajaiban’ di dalam dirinya yang seharusnya bisa dinikmati oleh lebih banyak orang lagi. Keajaiban untuk menjadi inspirasi.

Di depan mata, ada mimpi sosok itu untuk bisa bersama Aki menaklukkan 57 gunung. Entah itu berlari bersama. Entah itu bersepeda bersama. Atau hanya sekadar menyaksikan Aki berlari dengan penuh kebanggaan dan keharuan. Pokoknya ingin menjadi saksi pertama. Sebuah perasaan yang hanya bisa dikeluarkan kalau sudah mengenal siapa Aki sebenarnya. Saat berdiskusi bersama. Saat berkegiatan bersama. Saat shalat bersama. Saat melihat bola matanya yang berembun saat menceritakan masa kecilnya yang penuh perjuangan. Ada banyak cerita yang harus diolah tentang kehidupan Aki agar menjadi buku yang utuh. Buku yang bisa jadi belum dapat menceritakan diri Aki yang sebenarnya. Diri Aki yang kini menapaki usia ke-57 dan terus … dan terus menginspirasi orang-orang yang mengenalnya (atau bahkan belum mengenalnya).

Ki, selamat ulang tahun. Teruslah menginspirasi kami semua…. #pelukerat

Standard
inspiration, motivation, mountain running, running, sport, story, trail running, ultra running, ultra trail running

Age is just a number……. by Dewi Satriyani

Age is just a number…….

November 26, 2013 at 3:33pm

Usia itu cuma angka, dan akhirnya yang membedakan tua dan muda itu akhirnya berpulang pada semangat setiap manusianya, dan saya menemukannya pada opa,sahabat,teman dan guru saya yang akrab disapa Aki. Sampai saat saya menulis notes inipun saya bahkan tidak mengetahui nama aslinya.

Belum terlalu lama saya mengenal beliau, tapi banyak pengalaman berharga dan moment berkesan yang sempat saya lewati. Yang saya dengar selama ini beliau adalah orang yang cukup disegani di kalangan pelari, mungkin layak juga kalau disebut trendsetter, tapi lepas dari semua popularitasnya saya sungguh tidak melihat Aki sebagai pelari ataupun selebritis yang untouchable.

Saya bukan pelari mahir, boro-boro mahir, belum 1 KM aja kadang suka udah nyerah, dari kecil juga saya nggak punya mimpi bisa masuk hutan, ikutan trel apalagi mendaki bukit. Jaman kecil, anti sama yang namanya Pramuka, kemah juga sekalipun belum pernah ngrasain. Sampai akhirnya Aki mengajak saya untuk ikutan ngetrail. Belagak gila, tawaran itupun saya terima. Dan benar saja, trail pertama saya ada di barisan terakhir, terpisah tak terlalu jauh, tapi lebih sering berhenti dibanding berlari. Tapi aki sangat telaten mendampingi saya, memegang tangan saya erat ketika menemui medan yang licin dan terjal, ataupun saat menapaki tanjakan dengan jalan setapak yang kalau dilihat kanan kiri udah pingin muntah. Trail paling berkesan saat di Bukit Tunggul, sepertinya cuma sepuluh kilo katanya, tapi elevasinya itu bikin ngilu, terutama buat saya pemula.

Aki tidak pernah menakuti orang yang ingin mencoba trail, meskipun kalau dipikir2 kaya berasa dijorokin sama Aki, karena beliau selalu bilang ini track buat beginner. Begitu sampai venuenya sempet mewek juga.

But on top of that, dari beliau saya belajar mengalahkan rasa takut, terutama takut masuk hutan dan berlari di perbukitan. Saya juga belajar betapa siapapun punya kemungkinan yang sama untuk merasakan nikmatnya nge trail seminim apapun kemampuan kita untuk berlari dan berapapun usia Anda.

Semangat Aki luar biasa, terutama untuk memasyarakatkan trail. Dia orang gila yang menurut saya suka nekad dalam artian positif. Mungkin sedikit banyak bisa dibilang risk taker sejati. Aki mengubah apa yang dirasa tidak mungkin menjadi potensi luar biasa.

dan saya masih menunggu beliau mewujudkan mimpi mengencani 57 gunung sebelum pertambahan usianya nanti. Siapapun pasti akan bangga untuk mendampingi beliau menyelesaikan ekspedisinya.

Dirgahayu Opa, semoga kamu tidak pernah lelah menjadi inspirasi untuk kita semua.

Sehat dan panjang umur selalu.

Standard