cerita, kisah, story, tulisan

SEPENGGAL KISAH MASA KECIL SAYA

Dunia saya adalah main, main dan main disana – sini.
Dunia saya tak pernah sepi.
Kemanapun pergi, selalu ada siapa- siapa dikanan dan dikiri.

Berkelahi? Selalunya saya hindari. Tapi jika mesti, walau awalnya ragu akhirnya pasti saya hadapi.

SEPENGGAL KISAH MASA KECIL SAYA.

Sejak usia belum sekolah saya sudah suka sekali berteman. Terutama dengan perempuan:).
Tunggu dulu.
Bukan berarti genit atau keperempuan- perempuanan.
Bagi saya mereka tampil tak kasar, tak temperamen. Tak suka berkelahi.
Walau kenyataannya, tak jarang kebalikannya.
Saat tinggal dirumah petak di Batujajar Jakarta dulu, saat pemukiman dibelakang Grand Indonesia masih kampung, lebih sering mendengar si Tante sebelah rumah yang mencak- mencak entah karena apa daripada si Om suaminya.
Lebih sering terlihat si Mbok penjual sayur keliling ngomel- ngomel dibanding Bapak- Bapak tukang becak yng suka mangkal di gang keluar kampung kami.
Saat smp saya malah punya ‘bodyguard’ perempuan.
Siapapun yang ganggu saya, laki- laki pastinya, harus berhadapan dengannya.
Dan selalunya, segagah apapun laki- lakinya ciut dihadapannya.
Ohya, sang ‘ bodyguard’ ini hanya satu dari sedemikian banyak teman- teman perempuan yang suka dengan saya. Stop! Bukan saya maksud saya yang ter ini ter itu, tapi karena mereka menganggap saya.. apa ya, lucu barangkali. Perawakan saya mungil jika tak dikatakan lebih pendek dari kebanyakan se usia saya.
Jadi tampil imut.
Mereka tak sungkan peluk- peluk saya.
Ya itu tadi, barangkali saya dianggap boneka hidup.
Saya? Antara suka dan tak suka. Suka, karena ya dipeluk- peluk itu tadi. Perawakan boleh imut, mungil. Hati kan hati se dewasa mereka:). Tak suka, karena, ya bagaimana saya bisa jadikan salah- satu dari mereka pacar saya? Semua menganggap saya tak lebih dari teman ‘kecil’ yang menyenangkan.
Beruntung, porsi keinginan bermain saya tak kalah besar dengan porsi keinginan punya pacar:).

Jadi, pada akhirmya tetap saja saya lebih suka bersahabat dengan mereka.
Sahabat- sahabat saya sejak kecil sampai usia sma selalunya lebih banyak perempuan.
Bahkan Ibunya anak- anak adalah satu dari dua mantan sahabat saya sma ūüôā
Walau tak banyak, beberapa adalah sahabat laki- laki.
Yang pasti teman- teman bermain usia sd saya banyak sekali.
Dari ujung komplek di utara sampai selatan.
Teman- teman main perang- perangan, pedang, bola. Sampai sekali- sekali mancing di sungai dikampung seberang.
Untuk yang terakhir saya lebih sebagai penonton.
Saya tak beruntung dengan urusan mancing- memancing.
Teman- teman sudah belasan ikan didapat, saya tak satupun.
Setali tiga uang dengan urusan adu layangan. Layang- layang mereka bisa berlama- lama lenggak- lenggok di udara sambil putuskan layang- layang lawan, saya selalunya menjadi disisi yang tak pernah lama. Begitu naik ssst putus. Layangan saya. Bukan lawan.
Tapi jika urusan mencari dan banyak  teman, entah laki- laki atau perempuan, rasa- rasanya saya lebih jagoan:).
Rentang usia teman- teman saya dua- tiga tahun kebawah dan keatas. Artinya, saat usia kelas tiga smp misalnya, mereka adalah di usia kelas satu smp sampai yang baru kuliah.
Dunia saya adalah main, main dan main disana- sini.
Dunia saya tak pernah sepi.
Kemanapun pergi, selalu ada siapa- siapa dikanan dan dikiri.
Seperti yang saya pernah ceritakan, Mmak dan Bapak tak pernah keberatan dengan hal ini.
Yang penting setelah solat dan ngaji.
Ditambah lagi saya tak bermasalah dengan urusan sekolah.
Masuk sekolah siang, pulang sekolah saat sore, langsung saya selesaikan semua pe er- pe er sekolah.
Sering kali malah saya selesaikan lebih dari yang semestinya.
Kadang empat sampai lima halaman lebihnya.
Setelahnya selalunya saya mandi, pakai hemd lengan pendek bermotif kotak- kotak, kebanyakannya, terkancing sampai keleher, saya siap pergi main. Tak pernah terlewat, bersepatu:).
Berkelahi? Selalunya saya hindari. Tapi jika mesti, walau awalnya ragu akhirnya pasti saya hadapi.
Pernah suatu kali, seorang teman, mungkin sebab iri- hati akan entah hal apa, berulang- ulang mengganggu saya. Apapun dilakukan untuk memancing emosi saya.
Bagian yang paling menyebalkannya bukan gangguannya, tapi bahwa dia berperawakan jauh lebih besar dari saya dan.. selalunya dia lakukan dihadapan banyak teman- teman yang lain.
Serba salah. Dibiarkan, tak nyaman juga, karena jadi bahan olok- olok yang lain. Dilawan? Tampang dan perawakannya saja sudah mengintimidasi.
Akhirnya, keputusan harus dilakukan. Saya hampiri dia, setengah berbisik saya katakan,” yuk, ga usah koar- koar, mari kita berdua kelapang”.
Dengan perhitungan dan harapan, pertama, siapa tahu gertak saya efektif, membuat dia berfikir lain tentang saya. Kedua, tak lupa berdoa yang banyak, setelah  beberapa kali pukulan dia terhadap saya, yang kemungkinan terbesar tak bisa saya elakan, teman- teman lain sudah merelainya. Semoga, Aamiin.
Perhitungan ketiga, saya akan ambil posisi dimana ada batu sedikit besar atau apapun dalam jangkauan saya, dan siap saya gunakan saat terjepit.
Saya akan hantamkan semampu saya. Sepertinya akan cukup sekali jika bisa ke kepalanya.Seperti yang suka saya lihat di film- film india di layar tancap.
Diluar dugaan, mendengar ‘tantangan’ saya dia tampak kaget.
Tiba- tiba saya melihat hal lain.
Tampak jelas keyakinannya mendadak surut, berbanding terbalik dengan kepercayaan diri saya.
Dan akhirnya ‘perkelahian’ kami berakhir dengan keduanya terjerembab di selokan bau dipinggir lapangan. Penonton kecewa, tak ada adegan pukulan tak berakhir dari sang lawan dan tak ada juga hantaman batu yang mematikan dari saya.
Sebaliknya saya  bahagia:)

Bandung,kamis dinihari, november 2015.
Sepenggal kisah masa kecil saya.
Ditulis saat terbangun dari ketiduran sejak selewat magrib kemarin.

Standard
story

Masa Kecil

Asma dan Bronkhitis.

Yg paling sekali saya ingat, diusia belum lagi 4 tahun , saat2 setiap subuh bapak berangkat kerja dan pulang tengah malam. Tinggal di bandung, kerja di jakarta. Tidak besar gajihnya. Yang pasti lebih dari separuhnya habis untuk biaya pengobatan asma dan bronkhitis saya.
Seminggu sekali berobat ke advent. Rumah-sakit mentereng( saat itu), dengan dokter- dokter  berkebangsaan Amerika. Mobil2 mereka yang berjendela lebar. Sekali- sekali beli bakpaw.  Ya sekali- sekali karena tentunya mahal bagi kami.
Diantar Bapak atau Mma( saya panggil Mma ke Ibu saya) terkadang pakai sepeda.
Sesuai anjuran dokter, sejak diketahui mengidap asma dan bronkhitis akut, usia 3 bulan bahkan divonis tak tertolong,  saya hanya boleh main didalam rumah. Kecuali  ke advent tadi.
Bandung katanya tidak bersahabat bagi anak- anak yang mengidap asma dan bronkhitis seperti saya.
Rupanya Bapak dan Mma berfikir lain.
Daripada saya panjang usia( aamiin) tapi hanya dirumah, dan tetap saja  sakitan, lebih baik singkat( jangaaaaan..) tapi tetap dapat mengecap dunia anak2 saya.

 

Jakarta.
Menjelang usia 4 tahun saya kami pindah ke Jakarta.
Berbeda dengan perlakuan terhadap anak- anak yang berpenyakit, saya malah sepertinya dibebaskan untuk lakukan apa saja.
Karena sekolah saya siang, maka pagi dan sore, kadang sampai malam adalah saat- saat bebas bermain saya.
Beruntung saya tidak punya masalah dengan sekolah saya.
Mma Dan Bapak selalu percaya bahwa saya bisa mengatasinya dengan baik.
Selama sekolah dasar saya selalu juara kelas.
Setiap acara rekreasi kantor bapak selalunya saya diajak. Setiap pameran dan pertunjukan musik.
Jikapun tidak bisa mengantar, saya selalu diijinkan untuk pergi dengan teman- teman.
Saat itu pertunjukan musik seringkalinya di istora senayan. Jadi, jalan kaki dari slipi tempat kami tinggal sampai senayan sering saya lakukan. Seringkalinya tanpa uang sepeserpun.

Untuk yang satu ini saya tidak pernah khawatir.

Menjelang pintu masuk pemeriksaan karcis cukup saya dekati, biasanya bapak- bapak sendiri, lalu saya bilang, ” Om, saya ikut ya”. Dengan senyum manis saya ( sepertinya ya), ditambah dandanan saya yang selalu rapih, kemeja lengan pendek bermotif kotak- kotak( Selalunya pilihan Bapak), dimasukan ke celana, yang terkancing sampai keleher, rasanya saya sulit untuk ditolak. ūüôā

Selanjutnya saya cukup pegang ujung kemeja si bapak- bapak ini.

Istora belum mengenal karcis masuk untuk anak- anak. Jadi gratis.

 

Oh ya, belum saya ceritakan tempat tinggal pertama kami di senayan.

Rumah petak di Senayan.
Persis di area Istora senayan. Jadi saat itu masih kosong Рmelongpong alias  masih kampung.
Tidak tahu persis tapi petak tanah yang Bapak beli mungkin berukuran kurang lebih 3 meter x 6 meter.
Bangunan berdinding bilik dan berlantai tanah. Satu atap dengan tetangga.
Menghibur sekali saat itu, selalu bisa tahu apa- apa saja yang terjadi dirumah sebelah ūüôā

Suatu saat saya dengar deru traktor dikampung kami. Bukan alang- kepalang suka- citanya. Ada benda besar, bergerak dengan sedemikian bertenaganya. Dorong/ angkat gundukan tanah kesana- kemari. Dengan warna kuning mencolok. Sementara Mma dan Bapak sebaliknya.

Lagi, Rumah Petak Beralas Tanah di Baturaja.

Singkat sekali waktunya sampai akhirnya kami pindah ke Baturaja. Persis sebelah selatan Hotel Indonesia. Mengontrak.

Petak rumah berukuran kurang- lebih sama. Dan ya sama juga beralaskan tanah. Lagi- lagi sama, kopel dengan tetangga sebelah. Lagi- lagi sama, menghibur. Sama, selalu bisa tahu apa- apa saja yang terjadi dirumah sebelah kan?  :).

Yang lainnya yang saya ingat disini adalah; penjual es-krim pakai kereta semacam andong beroda empat, ditarik kuda. Dijalan raya Baturajanya. Tempat  tinggal kami masuk lagi kekampung.

Bapak yang kalau berangkat kerja selalu telanjang kaki dengan sepatu yang ditentengnya. Sampai dijalan aspal baru pakai sepatu dengan sebelumnya gosok- gosok telapak kaki dulu kerumput.

Kakus umum berjarak 10 meter dari rumah. Berdinding bilik setinggi dada orang dewasa, dengan atap yang juga bilik. Lebih untuk menahan terik matahari dibanding curah hujan.

Sebisa mungkin Bapak selalu membawa apapun yang bisa dibaca dari kantornya. Entah koran edisi beberapa hari sebelumnya, brosur. Apapun. Mulai alat2 kelengkapan fabrik sampai kendaraan. Tulisan dan cetakan apapun yang bisa dibaca.

Jadi saya sudah bisa baca tulis dan berhitung jauh sebelum saya masuk sekolah dasar.

Setiap akhir minggu adalah jalan- jalan sekitar menteng. Kantor Bapak dijalan Imam Bonjol.
Jalan- jalan artinya jalan kaki dari rumah kekantor pulang- pergi.
Selalunya Bapak banyak bercerita tentang bangunan- bangunan yang ada sepanjang jalan- jalan kami.
Saya menikmati betul jalan- jalan ini.
Rasanya seperti masuk kedalam buku bergambar tentang rumah, bangunan dan seisinya. Dan kami bebas berjalan- jalan didalamnya.
Oh ada lagi yang selalu saya ingat. Setiap kami berjalan melalui jalan raya Baturaja yang beraspal saya selalu mendekati mobil fiat 1100 tahun 56, jika kebetulan memang sedang terparkir disitu. Setelahnya Bapak selalu membisiki saya, kapan- kapan kita beli mobil seperti ini.

Dan saya percaya.

Padahal mobil saat itu kan amat sangat jarang. Sementara kami rumah layak milik sendiripun belum punya.

Kembali kerumah kami di Baturaja.

Alat penangkap nyamuk kami adalah piring seng yang diolesi tipis minyak goreng disemua permukaannya. Sekali kebutan lembut( agar minyaknya tidak turut terkebut) puluhan nyamuk menempel disitu.

Berita Gembira.
Suatu saat berita gembira sampai kepada kami. Kami mendapat rumah pengganti di Slipi. Pengganti dari rumah petak berdinding bilik di senayan.
Selang tak terlalu lama kami pindah kerumah baru milik kami sendiri ini. Di slipi.
Terkesima. Rumah berdinding tembok. Dengan kamar- kamar yang juga berdinding tembok. Bukan lagi kain yang digantung di kawat yang dibentang sebagai pemisah antar ruang.
Kamar mandi didalam rumah. Dengan pintu kayu dan slot. Ya slot betulan. Bukan tali yang disangkutkan ke paku, agar pintunya tidak terbuka tertiup angin.
Halaman punya kami sendiri. Berpagar lagi.
Banyak rumah dan bangunan indah, megah nan luas yang pernah saya lihat dijalan- jalan kami di menteng. Tapi rumah inilah yang terindah.
Tiba- tiba saya punya teman- teman main yang banyak. Gang- gang antar kopel beraspal. Keluar pintu rumah sudah bisa pakai sepatu.

Saya yang selalunya berdandan rapi, semakin semangat saja lagi. Jadi, seingat saya, keluar rumah, sedekat dan sesebentar apapun adalah bersepatu.

Suatu saat, entah karena iseng, atau memang  sebal dengan gaya saya yang pecicilan, yang selalu bersepatu,  Om tetangga samping kopel menyiram kaki saya dengan air got, saat dia siram- siram jalan.

Mma dan Bapak hanya tersenyum saat saya adukan kejadian tadi.

Komplek perumahan kami, komplek Slipi. Membentang dari blok A di utara ke blok K di selatan.

Luas sekali. Tempat bermain kami banyak. Bisa dilapangan depan rumah. di blok sebelah. Dilapangan sekolah. Atau berpetualang masuk kekampung Kemanggisan. dengan sungai- sungai berwarna kecoklatan, tempat kami bermain air.

Belum lagi kolam- kolam air bekas galian dimana- mana.

Area sekolah tepat ditengah- tengah antara komplek kami dan kampung kemanggisan.

hubungan saya dan Mma/ Bapak baik sekali. Kalau tidak disebut saya adalah anak kesayangan mereka.

Tapi untuk urusan uang jajan anehnya saya merasa malu untuk minta.

Jadi, punya uang  jika diberi. Dan tak sepeserpun jika  tidak.

Entah dari mana idenya, saya bisa dapatkan satu gelas es serut gratis dari mamang penjualnya untuk beberapa gelas bekas yang saya cuci.

Saya lakukan dipagi hari ditempat jajan sekolah. Seperti yang sudah saya ceritakan diatas, pagi dan sore bahkan malam adalah waktu main saya.

Vespa Piaggio tahun 61 adalah kendaraan dinas Bapak pertama.

Cantik berwarna pastel.

Kegiatan saya bertambah. Cuci vespa setiap Bapak pulang kantor. Menyenangkan sekali.

Tanpa sepengetahuan Mma dan Bapak, saya belajar kemudikan Vespa, setiap sore pulang sekolah. Setiap selesai antar korannya  paman. Adik Mma  yang ikut tinggal dirumah.

Paman bekerja sebagai pengantar koran dikomplek.

Bisikan Bapak Yang Menjadi Kenyataan.

Fiat 1100 tahun 1956 akhirnya kami miliki. Bekas.

Yang Bapak beli dari teman kantor Bapak secara mencicil.

Malam takbiran nanti berarti kami bisa keliling- keliling kota dengan mobil kami sendiri. Tidak lagi berdesakan di truknya Om Sejan. Supir truk di Angkatan laut. Tetangga kami.

Ah tapi menyenangkan sekali naik  truk beramai- ramai dengan teman- teman yang lain.

Paling tidak sekarang ada pilihan lain.

Ada mobil artinya setiap akhir pekan ke Ancol. Dulu namanya Binaria.

Sepertinya disamping memang Bapak senang rekreasi juga mungkin karena ingin agar saya bisa menikmati masa kanak- kanak saya sebanyak mungkin.

Saat itu saya belum bisa berenang. Tapi Bapak membiarkan saya berkano tanpa pelampung kebagian yang pastinya dalam.

Suatu saat saya diajak Bapak melihat  kapal perang kita yang bersandar dipelabuhan. Pameran maritim.
Ternyata banyak sekali pengunjung yang datang. Dengan susah- payah kami menerobos, mencoba untuk sedekat mungkin ke kapal.

Dan…betul seperti yang dikhawatirkan Bapak, kapal sudah penuh oleh pengunjung. Bapak tampak kecewa sekali.

Jembatan akses masuknya pun sudah mau diangkat. Pupus sudah harapan masuk kedalam kapal.

Selanjutnya Bapak mencoba lebih dekat lagi ke kapal, ketika melihat seorang awak kapal tampak ada disisi terdekat kapal.

Ditengah riuh- rendah suara pengunjung, sulit bisa menangkap apa yang tengah dibicarakan Bapak dan orang ini.

Tiba- tiba saja dengan gerakan tangannya Bapak menyuruh saya untuk mendekat.

Tahu2 saya sudah berada diatas kapal.Tanpa Bapak.

Sedemikian inginnya Bapak, bahwa saya ada diatas kapal. Sedemikian besar upaya Bapak mengusahakannya.

Menggambar.

Sepertinya Bapak menginginkan sekali saya melakukan banyak hal yang tak bisa dilakukan Bapak dimasa- masa kecilnya. Dengan cara yang baik.

Tak memaksakan tapi memberi peluang.
Tak pernah mengharuskan saya ini- itu tapi menyediakan segalanya jika memang saya inginkan. Atau, dirasa saya inginkan.
Banyak bacaan. Walau sekedar buku- buku tua pinjaman, brosur- brosur alat- alat berat pertanian dan perkebunan. Banyak ajak saya jalan- jalan, rekreasi. Kemanapun.  Terkadang melampaui yang Bapak mampu.

Bapak selalu menyempatkan membelikan saya satu buku gambar setiap hari. Yang habis juga setiap hari.

Entah, saya suka sekali menggambar.

Turunan? Sukanya barangkali ya. Bapak memang suka akan gambar- menggambar. Tapi tak bisa menggambar.

Mma suka tari- tarian. Tapi sama juga, tak bisa menari.

Sementara saya, hampir setiap kegiatan dimasa- masa itu saya lakukan.

Guru menggambar pertama saya adalah kakak sepupu. Kakak sepupu berusia hampir sebaya Bapak. Sejak rumah di Baturaja tinggal selalu tak jauh dari kami. Suka sekali beliau menggambar.

Dan yang almarhum( semoga diampuni dosa dan kesalahannya. Aamiin) sukai untuk digambar selalunya perempuan cantik, berleher jenjang, bertungkai panjang dan..telanjang.

Bersambung..

 

 

Standard