adventure

Eiger Solo Tent. Vagabond

IMG_0189 IMG_0188 IMG_0187 IMG_0184

 

Berbahan

Fly : 190T Polyster PU 3000mm
Inner : 190T Breathable Polyster & Mesh
Floor : 210D P/OXF PU 5000mm
Pole : Fiberglass flash-touch pole system/Alu,

Berukuran terpasang 230x[40+80+40]x90cm,

dalam kantong kemasan bergaris tangah 15cm, panjang 70cm.

Dan berat tak sampai 2 kg  tenda tipe Dome ini  tak sulit dibawa saat rideNfly. Saat di pannier sepeda atau dibawa masuk ke kabin pesawat.

Nyaman untuk sendiri. Darurat berduapun bisa 🙂

Kuat dan mudah dilepas/ pasang.

Sebelumnya selalu saya bawa kemanapun pergi yang harus menginap.

Saat lebih dari dua orang dalam satu kamar hotel, semisal ramai- ramai  di satu acara lari- berlari,  saya lebih memilih memasang Vagabond ini dalam kamar dibanding tidur di salah- satu bednya.

Numpang menginap di handai- taulan? Sama, saya lebih suka pasang sang Vagabond disalah- satu sudut ruang atau bahkan di halaman rumah sang pemilik rumah daripada merepotkan disiapkan khusus satu kamar untuk saya.

Salam gowes dan camping 🙂

 

 

 

Standard
adventure, biking, motivation, olahraga, sepeda, sport, transportasi, tulisan

CYCLE AND SHOOT!

cycling

Not only does it run smoothly in the middle of traffic, it’s also pretty much boundless. Even motorcycle could be troubled by some neighbourhood portals. The only obstacle you could have is when you have a flat tire. And even then you can just walk it without having to face too much pity looks from people.

image

Gone are the days of having to worry you left your license an registrations or having to queue in a long line for gas. It’s also unquestionably healthier, you’re doing the environment a favor by cutting back on pollution. And that is one of the things that make cycling cool.

VIRB Picture

My daily activities involve a lot of moving around, walking, running, you name it. I only drive once in a little while, when i really have to.

image

Not that i dont like it, and not because i can’t. I’m pretty badass at driving. Just that the traffic’s been a pain in the behind, even more so lately, it takes away all the fun and thrill of driving. It’s just not worth it anymore.

If i may add, whether you’re running or cycling, it would be much more fun if you also take pictures along the way. Be it the sceneries, corners of the town or even some selfies.

But if you’re really into cycling or interested on trying and also happen to have the budget, Garmin Virb could be the right choice. It ranges about 4-5 Mio, with an extra 1-5 mio you could get some more than decent camera. Trust me, it’s worth it.

 

My bike is about 4,7 mio, but i’m lucky enough to endorsed for it, thanks Kang :). It’s a Polygon, flatbar road bike 50 in size, Helios F1.

I have no plans on upgrading it just yet, unless for maintining purposes, such as lamps, pumps etc.

You can just stick a camera on the helmet and you’re ready to capture some moments of your trips. Not only manually, but we can set it in advance, we can even set it with the Time Laps feature. So you don’t have to be connected to any desktops.

virbonbar

You can even pair it with smartphones and other gadgets, i did mine on a Fenix2. I could control it with Fenix2.

image

I could even use my smartphone as the Virb’s viewfinder.

 

it stays on for 3 straight hour. You can bring some powerbank along with you if you think that’s not long enough. Did i mention that it’s waterproof? It could go down to 50m under.

Ok that’s it from me i guess, see you guys

again later. Have a great Monday.

Bahasa.

YUK GOWES, YUK VIDEO & FOTO- FOTO

Tak hanya melaju lancar ditengah kemacetan kota. Tapi juga hampir selalu tak ada rintangan. Motor saja takluk oleh portal.

Saat tak diharapkan ada gangguan, ban kempes/ bocor, selalunya bisa diatasi seketika. Ataupun jika karena satu dan lain hal harus didorong, tak begitu membuat orang lain yang  melihatnya merasa iba.

Tak pusing dengan ‘ketinggalan’ surat- surat kendaraan atau ijin mengemudi, tak kesal dengan antrian di spbu.

Jangan lagi ditanya soal lebih sehatnya, andil dalam mengurangi polusi. Dan banyak lagi. Tak boleh ketinggalan disebut, tampil lebih keren.

Bukan karena merek dan harganya, tapi karena bersepedanya.

Aktifitas saya sehari- hari berurusan banyak dengan bergerak. Jalan, lari, ber ‘angkot’, berkendaraan umum. Sekali- sekali, jika harus, walau selalunya saya hindari,   stir mobil sendiri.

Bukan tak suka. Sampai detik ini saya masih suka dan bisa memacu cepat mobil. Dan yakin masih lincah bermanufer.

Urusan mobil, saya agak- agak lumayan lah. Jika tak dikatakan ‘bisaan euy’ .

Saya bisa mudah dan lincah bermanufer saat parkir. Baik parkir satu baris ditengah- tengah diantara dua mobil. Dengan ruang yang pas.

Atau jika harus melaju mundur. Saya bisa mengemudi lurus mundur berkilo- kilo dengan kecepatan maksimum mundur. Di trek lurus maupun berkelok- kelok.

Soal ngebut? Jangankan saya, Bapak, jika bukan karena larangan yang disebabkan gangguan jantungnya, di tikungan- tikungan Alas Roban, puncak pas, tiga kendaraan didepan disikat dengan sekali injakan pedal gas. Diijalan jalan tol? Ya apalagi.

Urusan rambu- rambu lalulintas? Ijin mengemudi saya dapatkan melalui test teori dan praktek.

Sampai- sampai Ibu- Ibu, Bapak- Bapak polisinya manyun. Yang mereka pikir barangkali,”Ni orang kalo ga  pelit- pelit amat, ya kere. Koq ya mau repot- repot ikut test segala”.

Kemacetan yang semakin menggila dimana- mana tak lagi mengasyikan untuk stir kendaraan sendiri.

Merasa bodoh jika harus gas rem gas rem setiap sekian detik.  Merasa lebih bodoh lagi dengan  mobil bertransmisi manual. Gas kopling rem, gas kopling rem. Amit- amit.

Asyik- asyik dan ga asyik- asyiknya berkendaraan, apapun, sudah cukuplah ya.

Saya mau tambahkan.

Berlari atau kali ini temanya bersepeda, lebih mengasyikan lagi dengan ambil- ambil foto diantaranya.

Entah pemandangan, entah suasana dibeberapa pojokan kota. Selfiepun tak masalah.

Dengan smartphone yang hampir dari kita semua punya tentunya cukup.

Tapi jika, sekali lagi jika, punya anggaran untuk sepeda seharga lebih dari anggaran satu action camera. Semisal Garmin Virb, layak jadi pilihan.

Dikisaran harga 4-5an juta, dengan tambahan 1-5 jutaan lagi, jadi total antara 5 sampai 10 juta, kita sudah bisa gowes beraction camera.

Percayalah, asyik- asyiknya melampaui asyik- asyiknya ‘gowes tok’ beranggaran jauh diatasnya.

sepeda saya, ( beruntung ada yang memfasilitasi, terimakasih Kang 🙂 , berharga 4,7an juta. Polygon, road bike( flatbar) berukuran 50, Helios F1.

saya niatkan untuk tak akan saya tambah atau tingkatkan, kecuali yang memang harus. Semisal lampu, pengaman dan pompa.

Ditempel dengan dudukan berlem kuat( bawaan asli virb), atau dipasang di stang dengan bracket khususnya, atau pada helmetstrap, virb siap mengabadikan laju- laju gowes kita. Atau apapun lainnya.

Video atau foto.

Tak hanya secara manual, tapi bisa dengan interval yang sebelumnya kita setting. Dengan waktu- waktu tertentu. Yang sekaligus adalah fitur time lapsnya. Jadi tak lagi kudu di oprek di desktop.

Bahkan bisa dipasangkan dengan smartphone dan gadget lain, semisal jam bergps. Pada saya adalah Fenix2.

Play/ pause/stop bisa dilakukan di fenix2 saya.

Saat tangan bebas. Berhenti misalnya, dengan sang action camera tetap bertengger di helm sepeda, saya bisa jadikan smartphone saya sebagai  viewfinder sang  virb.

Saya bisa melihat apapun yg dilhat sang virb, dilayar smartphone saya.

Begitu juga dengan play/ pause/ stop dan setting virbnya.

Canggih ya? Iya lah 🙂 .

Berbattery tahan 3an jam, jangan- jangan penggowesnya yang kalah kuat 😉 .

Dirasa kurang? Powerbank berkapasitas belasan ribu miliampere seharga ratus ribu sudah cukup untuk suplai tenaga tak hanya untuk virb kita, tapi juga fenix2 dan smartphone saya sekaligus.

Tak khawatir kehujanan, action camera kita ini tahan air sampai kedalaman 50 meter.

Tanpa casing khusus.

Apalagi ya?

Kapan- kapan saya sambung lagi. Ok?

Terimakasih garmin indonesia , eiger adventure dan siapapun yang telah mendukung lari-lari, gowes- gowes dan video- video/ berfoto- foto saya.

Selamat siang, selamat hari senin.

Salam lari dan gowes 🙂

 

Hak sebagian gambar ada pada http://www.dcrainmaker.com/2013/12/garmin-depth-review.html dan Kang Vincent

Standard
cerita, running, story, trail running, tulisan, ultra running, ultra trail running

kehidupan yang warna- warni, lari dan asma abadi

WaistPack

jika perjalanan hidup adalah kumpulan dari hal2 yang baik, hebat, menyenangkan, berkelebihan dan keberhasilan. Barangkali bisa di ibaratkan seperti berlari dari start sampai finish dengan pace yg cepat menakjubkan, tanpa lelah sedikitpun. Di trek yg super mulus, udara bagus dan tanpa sedikitpun lapar dan haus.

Ada saat- saat  bisa pergi  main dari pagi sampai sore tanpa larangan orang- tua. Ada saat- saat tak boleh keluar rumah bertahun- tahun karena anjuran dokter.  Juara kelas berturut- turut dalam satu kurun waktu.  Saat lain raport tampil menyala dengan 8 angka merah.
Disaat yang satu rajin mengaji rajin belajar, sampai lupa padahal sedang libur. Disaat lain menjadi biang kerok perkelahian antar kampung.
Sebagian saat- saat sma adalah saat- saat tertawa lepas dalam keseharian bersama teman2. Sebagian lain adalah buru- buru menjauh dari kerumunan, menyembunyikan batuk asma yang sama sekali tak indah didengar.
Berlari mengajarkan kepada saya, bagaimana suatu minus, keburukan, kekurangan atau kerugian sepanjang hidup, yang hampir seperti kutukan, bisa menjadi sebaliknya. Bisa berdamai dengannya.
Asma saya  bisa jadi abadi, tak hilang sepanjang hayat saya.
Tapi dengan berlari, saya belajar mengendalikannya. Belajar bagaimana mengurangi pencetusnya.

Bagi teman2 pengidap asma seperti saya, tak usah kecil hati. Yuk kita coba untuk berlari.
Bisa jadi lari2nya saat ini bercampur  dengan berhenti berulang- kali. Tapi, sedikit demi sedikit tapi pasti , kita akan sampai pada titik ” Yes! i did it!” . Akhirnya bisa lari2 rutin sekian puluh menit setiap hari. Atau jika diinginkan bahkan sampai berlari trel ultra muncak Rinjani.
Selamat pagiiii 🙂

 

 

 

Standard