cerita

Banyak Lari Dan Gowes Yang Tak Membuat Bisa Ngeles Dari Koles

Bangunan tak mewah. Tak juga terlalu luas. Yang pasti asri dan bersih.
Letaknyapun tak dijalan utama Sedikit agak masuk jalan kecil. Cukup dua kendaraan berpapasan.
Rumah- sakit Jantung Hasna Medika. Salah- satu sponsor kami.
Matahari masih dengan sinarnya yang kuat. Padahal sudah lebih dekat ke magrib daripada ashar.
Sambutan hangat teman- teman dokter membuat lelah- lelah gowes dari Bandung kami tak lagi terasa.
Sebentar bersihkan diri tak lama kami sudah berkumpul diruang pertemuan. Setelah sebelumnya berkeliling melihat berbagai ruang dan fasilitas Hasna Medika.

Sempat melirik hidangan yang disediakan. Dimeja saji disalah- satu sisi dinding ruangan.
Hmm khas masakan Cirebon. Mulai dari sega jamblang, nasi lengko dan penganan/ cemilan lain. Menggugah selera sudah pasti.

Entah, mengapa sega jamblang dan nasi lengko. Padahal sega ya nasi πŸ™‚

Obrolan hangat. Banyak info bermanfaat yang didapat.

Mulai dari ruang- ruang pasien kelas Β tiga rasa VIP, ber AC 24 jam, alat- alat medis lengkap dan canggih, sampai pelayanan yang prima dan manusiawi.
Biaya yang seluruhnya ditanggung asuransi/ bpjs.

Pagi keesokan hari dimulai dengan drama.

Salah- satu teman talent pesepeda ngambek tak mau lakukan pengecekan jantung.

Ups maaf, besok- besok saya sambung πŸ™‚

 

Advertisements
Standard
cerita, renungan, story, tulisan

Bapak

Untuk se usia 84 tahun, Bapak terhitung sehat.

Padahal lama sudah tak lagi banyak jalan kaki, seperti terakhir 1995an.

Menata taman dan lingkungan seluas 32 Ha enteng- enteng saja. Selalu berjalan kaki. Dibantu belasan tukang taman.

Sejak matahari menjelang, sampai sebelum magrib. Berhenti hanya saat makan siang dan minum teh sore dan waktu- waktu solatnya.

Luar- biasa suka- suka Bapak akan taman, desain rumah/ bangunan. Padahal Bapak tak bisa menggambar sama- sekali.

Tapi kerap bisa berdiskusi seru untuk urusan desain rumah/ bangunan dan taman serta banyak hal yg berhubungan.

Sejak Bapak di diagnosa ada gangguan jantung, Bapak tak boleh lagi ‘capek- capek’.

Entah memang sedemikian ‘parah’nya atau memang Bapak yg tiba2 saja ‘ malas’ jalan kaki lagi.

Hari- hari Bapak tak banyak berubah, kecuali minus jalan kaki jalan kakinya.

Keluar kamar pertama setiap harinya Bapak selalu sudah terlihat rapih. Selalu sudah mandi. Berhemd lengan pendek/ polo hemd. Polos atau bermotif garis- garis atau kotak- kotak kecil. Yang pasti berwarna cerah. Tak pernah lusuh ataupun kumel.

Celana pendek selutut atau panjang.

Sarapan, baca koran dan berita pagi di tv.

Satu dari banyak hal yang saya suka dari Bapak.

Selalu tampak rapih. Walau seharian dirumah.

Seminggu dua minggu sekali bersama Mmak( panggilan Ibunda) keluar kota. Sekedar nengok salah- satu anak2nya.

Atau bersama teman se usianya, bernostalgia ke perkebunan- perkebunan di jawa barat. Sekali- sekali sampai ke Jawa tengah jawa timur.

Seperti saya, Bapak tak punya pantangan makan. Tapi cukup rapih. Tak kebanyakan menyukai itu- itu saja. Terhitung apik.

Seumur- umur bukan perokok. Apalagi peminum alkohol.

Bapak hanya kenal air putih dan teh hangat tawar.

Bapak yang saya ingat. Jika sekarang, ‘cool’ barangkali adalah ungkapan yang nyaris pantas.

Sejak dulu.

Di usia sudah Bapak- bapak, tahun 75an. Berarti bapak di usia 44an.

Tahun- tahun itu, usia sekian kan biasanya tampil lebih ‘tua’ dibanding sekarang- sekarang.

Bapak- bapak lain biasanya berambut terpangkas rapih. Bapak ikal dengan sedikit lebih panjang.

Umum saat itu banyak keluarga bermobil model sedan, jeep. Bermuatan banyak.

Bapak pakai fiat 850 sport dua pintu.

Maunya malah mini cooper.

Padahal kami anak- anak sudah bertujuh.

Kaka terbesar usia 18an, terkecil 6 tahun.

Lucunya, kami semua, Mmak dan anak- anak mendukungnya.

Bukan karena Bapak ‘memanjakan diri’. Tapi ya memang kami semua suka seperti itu.

Kami semua dekat satu sama lain. Tapii tak berarti sering pergi bersama. Jika ya pastinya dengan kendaraan umum atau yang lebih besar. Sewaan.

Jadi mobil yang sport berpintu dua dan hanya satu- satunya sama sekali tak ‘mengganggu’. Bahkan ya itu tadi, cool πŸ˜‰ .

” mana lebih seru, 1 mobil yg bisa banyakan, besar, tampil kebanyakan, tapi seringnya dipake cuma Bapak sendiri, atau berdua Mmak, atau paling Kang Denny( kakak laki- laki tertua), atau, mobil kecil, sport 2 pintu yg lucu?”. Pertanyaan Bapak yang tak sulit dijawab oleh semua seisi rumah.

Keesokan harinya sang sport berpintu dua menjadi satu- satunya dikota kami.

 

Tujuh anak, tujuh cara berbeda Bapak menghadapinya.

Setiap orang- tua selalunya akan bersikukuh, tak membeda- bedakan anak- anaknya.

Bagi saya? Rasanya si Bapak lebih deh ke saya.

Apapun.

Bagi Bapak, saya ter. Saya paling tertib, paling pandai. Dan ada saat- saat saya paling nakal, paling bandel. Pastinya ada saat saat saya paling mengesalkan.

 

Sejak kecil saya adalah teman Bapak.

Paling suka sarapan bareng Bapak. Paling suka habiskan makanan Bapak yang karena terburu- buru, tak sempat.

Paling suka menjadi teman Bapak baca koran. Atau mendengar cerita- cerita Bapak dikantor, dijalan.

Mendengar kisah- kisah Bapak jaman baheulanya.

Bapak yang selalu semangat mengajari saya apapun.

Jauh sebelum usia sekolah, saya sudah pandai tulis, baca, bahkan beberapa kalimat inggris dan belanda.

Menggambar apalagi. Yang terakhir bukan Bapak, tapi kaka sepupu saya yang ajari. Pastinya dengan dorongan Bapak.

Tak berkecukupan pada saatnya tak menghalangi Bapak untuk selalu berusaha agar saya mendapatkan apapun yang sebaiknya saya miliki.

Sampai.. saat saya lulus sma,” Ei, Bapak hanya bisa belikan tiket sekali jalan dan sedikit uang untuk makan beberapa minggu. Bapak percaya Ei bisa atasi apapun disana”.

 

Belakangan saya jarang tengok Bapak. Padahal saya lah dari tujuh bersaudara yang tinggal paling dekat dengan Bapak.

 

Saat ini Bapak masih opnam di rumah- sakit.

Jantungnya baik. Asam uratnya pun tak mengkhawatirkan.

Yang di deritanya ‘hanya’ gatal2 sebadan. Merah- merah. Disebagian tangan dan kaki malah seperti melepuh.

Dokter bilang Bapak kekurangan albumin. Mungkin Bapak terlalu ‘Apik’ makannya. Sampai- sampai asupan gizinya jauh berkurang.

Ditambah lagi banyak obat yang diminum. Untuk jantungnya, asam uratnya dan saraf. Bapak belum berapa lama terkena parkinson.

 

Kembali ke saya dan Bapak.

Tak saya maksudkan bahwa Bapak adalah Bapak terbaik di dunia.

Bapak, seperti juga mungkin beberapa Bapak- Bapak lain di manapun, pastinya tak luput dari salah. Tak lepas dari keliru.

Hal- hal yang manusiawi.

Tapi yang pasti, apa yang sudah, sedang dan pasti akan Bapak berikan kepada saya, tak akan pernah terukur.

Ibarat tulisan kisah/ cerita fiksi India, Mahabarata atau Jodha Akbar. Tak akan berakhir sampai ajal menjelang.

Sementara saya ke Bapak, mungkin tak lebih dari satu goresan kecil. Itupun pendek.

Ajal menyapa, tak hanya saat tua, tapi juga saat muda. Tak hanya saat sakit, begitupun saat sehat, gagah nan perkasa. Hanya Tuhan yang tahu..

 

Saya berdoa, semoga Alloh memberikan yang terbaik bagi Bapak. Aamiin.

Saya bukan sedang mendayu- dayu.

Saya ingin mengingatkan diri saya sendiri dan barangkali siapapun.

Saya tak ingin, saat Bapak, jika memang sudah menjadi kehendak Alloh, dijemputNya, tak tiba- tiba menangis meraung- raung sampai terdengar keujung jalan. Menyesali banyak hal. Menyesal tak memberikan apa yang mampu, bahkan jika ya seisi dunia. Padahal saat Bapak masih ada, tak segorespun yang diberikan kepada Bapak.

Pastinya saya akan bersedih. Sedikit terisak mungkin.

 

” Bapak ga usah khawatir lagi. Ei yg selalunya dimata Bapak adalah Ei kecil,yg suka megap- megap saat anfal asma, dulu, duluuu sekali, sudah lama sehat koq. Sudah bisa lari2 lama. Kadang berhari- hari. Sudah bisa lari jauh, bahkan ratus- ratus kilo”.

“Sampai nanti sore lagi ya Pak”.

 

Bandung, Advent pagi hari.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Standard