tulisan

Saya, Anak- Anak dan Rumah

 

” Kang Aki berasa sering sekali pergi- pergi untuk gowes dan lari- larinya, apa ga….( pasti sudah tahu kelanjutannya kaaaaan? )…..
 
Bagi sang tetangga adalah corat- coret anak nakal yang tak pernah ‘diajari’ orang- tuanya, bagi anak saya,siapa tau adalah karya maestronya🙂…..
 
Berada di saat, di waktu- waktu mereka kecil, main, sekolah dan masa pertumbuhan, bukanlah hal yang bisa diulang. Saat- saat sekali seumur hidup….
 
———————————————————————————
 
Panas siang- hari yang menghentak yang biasanya tak menjadi penghalang untuk tetap gowes atau lari, kali ini membuat saya agak ‘membiarkan’ untuk ‘mengalah’.
 
Secangkir kopi panas diruang kantor ber ac seorang teman kali ini sudah pasti adalah nikmat lain yang saya dapati.
 
Waktu minum kopi saya atau tepatnya susu dengan sedikit perasa kopi adalah pagi setelah sarapan pertama saya jam enam dirumah dan setelah makan sore jam tiga saya. Dimanapun. Walau juga tak mesti.
 
Sekali- sekali eh rasanya belakangan sering- kali, kopi siang haripun tak lagi saya tolak.
Katanya kopi bagus untuk pengidap asma.
 
Dan..obrolan santai yang semula tak saya niatkan untuk mengganggu pekerjaannya pun mengalir menjadi ealah ternyata agak- agak serius juga.
 
Obrolan bertema lari dan gowes( apalagi atuh ah ), dari soal aktifitas saya ajak- ajak siapapun untuk gowes dan lari ke , ” Kang, ngomong- ngomong, anak- anak ikut lari ngga?”, ” Kang Aki berasa sering sekali pergi- pergi untuk gowes dan lari- larinya, apa ga….( pasti sudah tahu kelanjutannya kaaaaan? )..terusss sampai,” Iya ni Kang, rasanya bukan saya saja yang penasaran, tapi sudah ‘viral’ kenapa Kang Aki ga pernah cerita, posting tentang anak- anak atau semua ‘orang rumah’”🙂
 
Masa siii? Iya ya..
 
Dan jawaban demi jawaban sayapun mengalir.
 
Pertama sekali.. ya betul, saya harus akui saya bukan Ayah dan suami ideal. Jauh dari itu.
 
Cinta, perhatian dan kasih- sayang atas orang rumah? Ya iyalah, Kadarnya? Relatif.
Entah saya yang mana tapi yang pasti tak masuk dalam kelompok Ayah atau suami super apa- apanya.
 
Jangan- jangan malah masuk kelompok dibawah rata- rata🙂
 
Anak- anak kan buah- hati. Selalu yang ‘ter’ bagi siapapun ayahnya.
Termasuk anak- anak saya.
 
Siapa bilang saya tak suka dengan ide berbagi apapun baik- baiknya , lucu- lucunya, keren- kerennya anak- anak kita?
 
Yang biasa- biasa saja dimata orang lain, selalunya lucu- lucu, keren- keren dimata kita. Apalagi jika ya memang yang beneran keren- kerennya. Semisal nilai- nilai bagus di sekolah, saat anak- anak sudah pintar baca tulis dan mengaji atau rajin ke rumah ibadah, masih muda sudah pintar cari uang. Dan banyak lagi. Ya kan?
Tak terkecuali saya.
 
Mereka seringkali menjadi hal yang indah- indah dan menyenangkan.
 
Sekali- sekali membuat jengkel dan mengesalkan🙂
 
Bagi saya, tak terkecuali anak- anak saya, rasanya tak sedikit yang ingin saya ‘pamerkan’.
Jangankan yang keren- keren, yang hebat- hebat seperti yang saya tulis diatas, yang sedikit- sedikit bagus saja atau bahkan bagi orang lain ‘tak lucu’, bagi saya , anak- anak selalu lucu. Apalagi anak- anak sendiri.
 
Rasanya saya pernah tulis ini entah kapan.
Saat anak kedua saya di usia belum sekolah membakar kasur di gudang kecil rumah tetangga sebelah karena jengkel ditegur sang tuan rumah tetangga,karena katanya corat- coret dinding pembatas antar rumah kita disisi rumahnya, bagi saya maaf, memang salah, dan sudah pasti saya kaget dan saya tegur dia. Tapi juga bagi saya adalah bahwa anak saya sudah bisa bersikap.
Bagi sang tetangga adalah corat- coret anak nakal yang tak pernah ‘diajari’ orang- tuanya, bagi anak saya,siapa tau adalah karya maestronya🙂.
Sampai- sampai satu anak saya ini mendapat julukan teroris.
Diantaranya ‘menteror’ Ibu- Ibu pengajian dirumah tetangga yang sandal- sandalnya satu-satu dibuang sang anak keselokan saat mereka khusuk mengaji. Astagfirullah, anaknya Pak Herry.
 
Dan masih ada lbanyak lagi cerita- cerita lain.
 
Jika saya tak banyak menulis tentang mereka, saya kira saya sedang belajar ‘menghargai’ privasi mereka.
Kisah- kisah mereka yang pastinya selalu indah bagi saya jangan- jangan adalah kisah- kisah yang bagi mereka ‘biar buat Ayah Ibu aja’.
 
Bersyukur tak kurang- kurang postingan- postingan indah, keren- keren tentang anak- anak, putra- putri yang dilakukan teman- teman atau siapapun yang lain.
 
Saya merasakan hal yang sama dan saya turut kagum dan bangga akan semua anak- anak kita.
Jadi rasanya tak salah jika saya cukupi saja dari melihat postingan- postingan orang- tua orang tua yang lain 🙂
 
Dalam mencari periuk nasi orang serumah, beruntung bagi saya, barangkali tidak bagi yang lain, tak mengharuskan saya ‘ngantor’ dengan waktu yang mengikat.
Waktu saya agak lebih bebas.
 
Sekali lagi saya bukanlah Ayah dan Suami ideal. Jauh dari itu.
Siapa tahu tak sedikit hal yang luput dari perhatian saya akan mereka karena ‘sibuk- sibuk’ saya.
Hanya barangkali cara saya agak berbeda.
 
 
Saya bisa berhari- hari tak ditengah- tengah mereka. Tapi begitupun juga, bisa berhari- hari berturut- turut ada bersama mereka.
Satu minggu tak melihat anak istri, di minggu berikutnya bisa jadi hanya berdua istri spontan saat pergi sekedar beli cemilan,” Yah, ke Cirebon yuk”. Dan tanpa tapi tanpa ‘gimana kalo gitu gimana kalo gini’ ajakan ke Cirebon menjadi jalan- jalan kuliner sampai Yogya. Anak- anak? ” Sok ajalah Yah, Bu. Masih inget kan nomor rekening kita?🙂 .
 
Dan petatah- petitih petuah kami hanya, ” Tolong liat- liat kalo ujan”, ” Pergi- perginya ati- ati, gantian ya, biar ada orang dirumah”. Yang tak selalu juga mereka turuti.
 
Saya, Ayah yang masih saja Ayah yang belum bisa ‘membahagiakan’ anak- anak dan istri dengan rumah dan mobil seorang satu, kirim mereka sekolah diluar negeri, intan- berlian di jari, leher dan lengan sang istri, yang kata orang sunda, reunceum, berjejer rapat padat dari pergelangan kesiku.
 
Tapi memang bukan juga cita- cita saya.
 
Saya, hanya Ayah yang menjadi orang pertama yang melihat mereka saat ketiganya hadir kedunia, selain dokter dan suster yang membantu kelahiran mereka.
 
Saya, yang walau tak selalu dengan muka berseri penuh senyum 🙂 , selain pastinya lebih banyak istri saya, juga buat susu mereka, ganti popok mereka, gendong mereka, antar jemput sekolah mereka, kenal dengan guru- guru mereka, aktif di sekolah mereka.
 
Sampai mereka kuliahpun saya masih sering beurusan dengan kampus mereka.
 
Bukan tak percaya anak- anak atau tak ingin mengajari anak- anak mandiri, tapi ada hal yang tak ingin saya tertinggal.
 
Berada di saat, di waktu- waktu mereka kecil, main, sekolah dan masa pertumbuhan, bukanlah hal yang bisa diulang. Saat- saat sekali seumur hidup.
 
Tiga puluh tujuh tahun kumpul kami adalah tiga puluh tujuh tahun tanpa pembantu.
Ngepel dan sapu- sapu bagi saya bukanlah tabu.
 
Tak selalu, tapi seringkalinya malah seru.
 
Saya tahu benda apapun dirumah dan tempatnya dimana.
Saya tak mesti teriak- teriak ke siapapun dirumah menanyakan apa dimana.
 
Saya tak pernah menganggap anak istri adalah remote control saya.
Siapkan sarapan dan sekedar buat kopi dan banyak hal lain lagi saya bisa dan seringkalinya lakukan sendiri.
 
Walau tak selalu berujung pada keberhasilan( ya da ga gampang atuh…) inisiatif saya atau permintaan sang istri, perbaikan apapun dirumah selalu saya coba lakukan sendiri.
Tahukan kisah naik- naik genting saya? Beneran lho, bukan hoax🙂
 
Pergi- pergi saya, lari- lari dan gowes- gowes saya bisa jadi sekali- sekali membuat kesal anak- anak dan istri.
 
Tapi mestinya tak dipungkiri, salah- satu keinginan anak- anak bahwa ” Ayah mah jangan tua- tua ya, Segini-gini aja” rasanya sudah terpenuhi.
 
Mandi pagi, dandan rapi dan sapu2 ngepel sekali- sekali sebelum bangunnya anak- istri, baru pergi lanjut gowes dan lari , rasa- rasanya si oke sekali🙂.
 
Tetap fit dan sehat( Alhamdullillah) sambil juga jaga berat badan dan penampilan adalah bentuk penghargaan saya kepada seisi rumah.
 
Salam dan selamat pagi🙂

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Standard
cerita, kisah, story, tulisan

SEPENGGAL KISAH MASA KECIL SAYA

Dunia saya adalah main, main dan main disana – sini.
Dunia saya tak pernah sepi.
Kemanapun pergi, selalu ada siapa- siapa dikanan dan dikiri.

Berkelahi? Selalunya saya hindari. Tapi jika mesti, walau awalnya ragu akhirnya pasti saya hadapi.

SEPENGGAL KISAH MASA KECIL SAYA.

Sejak usia belum sekolah saya sudah suka sekali berteman. Terutama dengan perempuan:).
Tunggu dulu.
Bukan berarti genit atau keperempuan- perempuanan.
Bagi saya mereka tampil tak kasar, tak temperamen. Tak suka berkelahi.
Walau kenyataannya, tak jarang kebalikannya.
Saat tinggal dirumah petak di Batujajar Jakarta dulu, saat pemukiman dibelakang Grand Indonesia masih kampung, lebih sering mendengar si Tante sebelah rumah yang mencak- mencak entah karena apa daripada si Om suaminya.
Lebih sering terlihat si Mbok penjual sayur keliling ngomel- ngomel dibanding Bapak- Bapak tukang becak yng suka mangkal di gang keluar kampung kami.
Saat smp saya malah punya ‘bodyguard’ perempuan.
Siapapun yang ganggu saya, laki- laki pastinya, harus berhadapan dengannya.
Dan selalunya, segagah apapun laki- lakinya ciut dihadapannya.
Ohya, sang ‘ bodyguard’ ini hanya satu dari sedemikian banyak teman- teman perempuan yang suka dengan saya. Stop! Bukan saya maksud saya yang ter ini ter itu, tapi karena mereka menganggap saya.. apa ya, lucu barangkali. Perawakan saya mungil jika tak dikatakan lebih pendek dari kebanyakan se usia saya.
Jadi tampil imut.
Mereka tak sungkan peluk- peluk saya.
Ya itu tadi, barangkali saya dianggap boneka hidup.
Saya? Antara suka dan tak suka. Suka, karena ya dipeluk- peluk itu tadi. Perawakan boleh imut, mungil. Hati kan hati se dewasa mereka:). Tak suka, karena, ya bagaimana saya bisa jadikan salah- satu dari mereka pacar saya? Semua menganggap saya tak lebih dari teman ‘kecil’ yang menyenangkan.
Beruntung, porsi keinginan bermain saya tak kalah besar dengan porsi keinginan punya pacar:).

Jadi, pada akhirmya tetap saja saya lebih suka bersahabat dengan mereka.
Sahabat- sahabat saya sejak kecil sampai usia sma selalunya lebih banyak perempuan.
Bahkan Ibunya anak- anak adalah satu dari dua mantan sahabat saya sma 🙂
Walau tak banyak, beberapa adalah sahabat laki- laki.
Yang pasti teman- teman bermain usia sd saya banyak sekali.
Dari ujung komplek di utara sampai selatan.
Teman- teman main perang- perangan, pedang, bola. Sampai sekali- sekali mancing di sungai dikampung seberang.
Untuk yang terakhir saya lebih sebagai penonton.
Saya tak beruntung dengan urusan mancing- memancing.
Teman- teman sudah belasan ikan didapat, saya tak satupun.
Setali tiga uang dengan urusan adu layangan. Layang- layang mereka bisa berlama- lama lenggak- lenggok di udara sambil putuskan layang- layang lawan, saya selalunya menjadi disisi yang tak pernah lama. Begitu naik ssst putus. Layangan saya. Bukan lawan.
Tapi jika urusan mencari dan banyak  teman, entah laki- laki atau perempuan, rasa- rasanya saya lebih jagoan:).
Rentang usia teman- teman saya dua- tiga tahun kebawah dan keatas. Artinya, saat usia kelas tiga smp misalnya, mereka adalah di usia kelas satu smp sampai yang baru kuliah.
Dunia saya adalah main, main dan main disana- sini.
Dunia saya tak pernah sepi.
Kemanapun pergi, selalu ada siapa- siapa dikanan dan dikiri.
Seperti yang saya pernah ceritakan, Mmak dan Bapak tak pernah keberatan dengan hal ini.
Yang penting setelah solat dan ngaji.
Ditambah lagi saya tak bermasalah dengan urusan sekolah.
Masuk sekolah siang, pulang sekolah saat sore, langsung saya selesaikan semua pe er- pe er sekolah.
Sering kali malah saya selesaikan lebih dari yang semestinya.
Kadang empat sampai lima halaman lebihnya.
Setelahnya selalunya saya mandi, pakai hemd lengan pendek bermotif kotak- kotak, kebanyakannya, terkancing sampai keleher, saya siap pergi main. Tak pernah terlewat, bersepatu:).
Berkelahi? Selalunya saya hindari. Tapi jika mesti, walau awalnya ragu akhirnya pasti saya hadapi.
Pernah suatu kali, seorang teman, mungkin sebab iri- hati akan entah hal apa, berulang- ulang mengganggu saya. Apapun dilakukan untuk memancing emosi saya.
Bagian yang paling menyebalkannya bukan gangguannya, tapi bahwa dia berperawakan jauh lebih besar dari saya dan.. selalunya dia lakukan dihadapan banyak teman- teman yang lain.
Serba salah. Dibiarkan, tak nyaman juga, karena jadi bahan olok- olok yang lain. Dilawan? Tampang dan perawakannya saja sudah mengintimidasi.
Akhirnya, keputusan harus dilakukan. Saya hampiri dia, setengah berbisik saya katakan,” yuk, ga usah koar- koar, mari kita berdua kelapang”.
Dengan perhitungan dan harapan, pertama, siapa tahu gertak saya efektif, membuat dia berfikir lain tentang saya. Kedua, tak lupa berdoa yang banyak, setelah  beberapa kali pukulan dia terhadap saya, yang kemungkinan terbesar tak bisa saya elakan, teman- teman lain sudah merelainya. Semoga, Aamiin.
Perhitungan ketiga, saya akan ambil posisi dimana ada batu sedikit besar atau apapun dalam jangkauan saya, dan siap saya gunakan saat terjepit.
Saya akan hantamkan semampu saya. Sepertinya akan cukup sekali jika bisa ke kepalanya.Seperti yang suka saya lihat di film- film india di layar tancap.
Diluar dugaan, mendengar ‘tantangan’ saya dia tampak kaget.
Tiba- tiba saya melihat hal lain.
Tampak jelas keyakinannya mendadak surut, berbanding terbalik dengan kepercayaan diri saya.
Dan akhirnya ‘perkelahian’ kami berakhir dengan keduanya terjerembab di selokan bau dipinggir lapangan. Penonton kecewa, tak ada adegan pukulan tak berakhir dari sang lawan dan tak ada juga hantaman batu yang mematikan dari saya.
Sebaliknya saya  bahagia:)

Bandung,kamis dinihari, november 2015.
Sepenggal kisah masa kecil saya.
Ditulis saat terbangun dari ketiduran sejak selewat magrib kemarin.

Standard