gowes, review

LOGR Java, Sang Onthel Elektrik

 

img_1540img_1542img_1543

 

img_1552Tak seperti beberapa Sepeda Elektrik yang terlihat  ‘dipaksakan’ menyerupai sepeda motor, Onthel Elektrik ini tampil ‘biasa’ seperti sepeda kayuh, tapi sepeda kayuh yang rapih, cantik nan ciamik.

Dinamo penggerak roda depan yang juga hub  depan cukup kecil. Tak mencolok.

Berframe kokoh( steel), dengan bobot seperti umumnya Onthel.

img_1541
Rak depan yang unik, amat sangat mencolok, dengan finishing rapih, berbahan aluminum.
img_1553

Selain tuas rem belakang pada handle bar kiri adalah kontrol On/Off, +/- torsi/ tenaga, tampilan Kecepatan, tampilan Torsi( 1-5) dan indikator lampu belakang.

img_1555
Di handle bar kanan, tuas rem depan, throttle( tuas gas), gear shifter belakang( 1-3) model tromol.

 

img_1556

Battery berkapasitas 11 ampere( 250 watt), 36 Volt ‘tersembunyi’ di rak belakang. Akan lebih tak terlihat lagi jika pannier belakang terpasang.

Pengisian mudah, bisa langsung pada posisi terpasang atau dicabut jika terminal jauh dari sepeda.

Cukup 2-3 jam untuk pengisian penuh, memenuhi kebutuhan 30 – 50 km.

Pada battery adalah tombol cek kapasitas battery, indikator battery dan tombol On/ Off lampu belakang.

Rak belakang ini seperti juga peruntukannya adalah tempat ‘digantung’kannya sepasang pannier( tas sepeda) atau satu saja disalah- satu sisi . Sekaligus ditempatkannya lampu belakang dan reflektor.
Sayangnya hanya satu moda lampu. Tak ada moda lampu blink. Daya diambil dari battery.
Dan akan lebih baik lagi jiga dilengkapi dengan  lampu depan dan Kring- Kring, agar saya tak perlu selalu berteriak. “Awas awas, numpang lewat! ” 🙂

Test ride?
Karena peruntukannya memang bukan untuk ‘diangkat- angkat’ berselfie seperti umumnya yang ber roadbike, bobotnya tak menjadi masalah.

Handling  bagus, kayuhan standar Onthel memang tak seringan roadbike, tapi masih ramah dengkul untuk wara- wiri dalam kota.
Kejutan manis saat elektrik dinyalakan.
Ber pedal assist, dinamo digerakan tak hanya oleh tuas throttle( gas), tapi juga oleh kayuhan.

Semakin kuat mengayuh dinamo akan semakin kuat memutar roda depan.
Secara singkatnya saya gambarkan ‘bantuan’ elektrik ini seperti jika kita mengayuh dan ada yang bantu dorong dari belakang.

Onthel atau sepeda jenis manapun ber elektrik amat saya sarankan untuk siapa saja. Terutama untuk Anda yang ingin bertransisi dari kendaraan berbahan bakar fosil ke elektrik, dan kemudian ke sepeda berkayuh.
Tak ada lagi masalah terlalu berkeringat dan terengah- engah saat masuk kantor  atau ruang kuliah.

Pada moda tenaga battery sepenuhnya, cukup kedua kaki diam saja di pedal dan sila dorong tuas throttel( gas) dengan jempol tangan kanan.
Dan.. bukan Anda yang harus heran, tapi biarkan kanan kiri belakang Anda yang terheran- heran, melihat satu Onthel bersosok besar gagah melaju ringan di tanjakan Cipaganti atau Dago atas dengan kayuhan penuh senyum, atau bahkan tanpa satu kayuhanpun  🙂

Salam BOSEH, Bike On the Street Everybody Happy 🙂

Ohya, dengan IDR 14.000.000 tentu saja sudah dapat Anda peroleh 1 sepeda motor baru bertenaga berlipat- ganda dengan kecepatan maksimal sampai diatas 100km/ jam.
Hanya jika Anda lebih peduli kesehatan diri dan lingkungan, dan juga keamanan, Sepeda elektrik ini ada pilihan yang lebih bijak, smart dan berwawasan. Ya kan?

Atau mau rasakan sensasi sepeda elektrik dengan lebih murah lagi? Bawa sepeda Anda jenis apapun yang ada, pilihan ebike kit, hub depan, belakang atau middrive merubah Gowes Hah Heh Hoh Anda menjadi Gowes Cantik, Apik, Ciamik Banyak Dilirik 🙂

https://trektownbike.com/

 

 

 

 

 

Advertisements
Standard
adventure

Hidup Hanya Sekali, Yuk Gowes Yang Jauh Sekali- Sekali :-)

screenshot_2016-09-21-06-01-55-1

Menggantung dibawah atap Saung di Pantai Sawarna

Hujan dan angin kencang semalam sempat membuat saya lebih mengkhawatirkan ambruknya saung ketimbang  terjatuh dari hammock.
Alhamdullillah saung yg hanya berstruktur balok2 kayu kecil dengan atap rumbia yg sudah tak lagi tampak bagus kokoh berdiri. Dan tak kurang pentingnya lagi tak bocor.

Menjelang magrib Hammock saya  pasang didalam saung. Khawatir jika hujan. Sementara memang belum saya lengkapi dengan Tarp atau Flysheet. Kap berbahan tenda berbentuk segi empat atau belah ketupat, sebagai pelindung hujan.
Dibentang diatas tali( tak mesti prusik 7mm, bisa yang lebih kecil). Keempat ujungnya ditarik ketanah dan dipasak.

Saat cerah Hammock saya gantung pada salah- satu kolom saung dan pohon terdekatnya.

screenshot_2016-09-20-07-43-01-1

Hari ini saya rencanakan kembali ke Bandung dengan menumpang mobil bak, truk atau apapun.

Gowesnya saya cukupi Bandung – Sawarna saja. Kembalinya? No thanks 😊

Cukup sekali merasakan tanjakan- tanjakan neraka Sawarna. Entah jika kapan- kapan lagi..

Continue reading

Standard
tulisan

Menulis Lagi

 

Entah kapan terakhir menulis disini.

Ternyata ingin saja tak cukup. Terlintas sering. Mulai? Nanti lagi nanti lagi 🙂

Beberapa hari terakhir saya banyak menggambar beberapa macam/ jenis sepeda. Rancangan sendiri ataupun mengambil contoh dari merk/ jenis yang sudah ada.

Kota kami sedang menggalakkan bersepeda. Bercita- cita menjadi kota yang ramah pesepeda. Semoga bukan sekedar angan- angan, kota sepeda.

Kemacetan kota sudah tak lagi ramah.

Kendaraan yang sudah jauh melampaui daya tampung jalan. Transportasi umum yang jauh dari aman dan nyaman.

Diperburuk lagi oleh prilaku berlalu- lintas kebanyakan masyarakat yang jauh dari baik.

Sejak hampir dua tahun saya bersepeda. Sebagai sarana transportasi hari- hari saya. Nyaris tak terputus. Sekali- sekali berangkot dan damri. Hampir tak pernah bermobil atau motor.

 

Tiba- tiba saja terfikir pada Brompton.

Dikenal cantik ciamik dan… ya, tentunya mahal.

 

 

 

 

 

 

Standard

image

bakti sosial, berbagi, biking, cerita, cycling, fit, healthy, inspiration, komunitas, motivation, olahraga, renungan, running, sehat, sepeda, sketchup, sport, story, transportasi

Peduli Atas Bumi Yang Hanya Satu Ini

Image

image

biking, cycling, fit, healthy, olahraga, sehat, sepeda, sport, tulisan

GoWest!

Image
adventure, biking, motivation, olahraga, sepeda, sport, transportasi, tulisan

CYCLE AND SHOOT!

cycling

Not only does it run smoothly in the middle of traffic, it’s also pretty much boundless. Even motorcycle could be troubled by some neighbourhood portals. The only obstacle you could have is when you have a flat tire. And even then you can just walk it without having to face too much pity looks from people.

image

Gone are the days of having to worry you left your license an registrations or having to queue in a long line for gas. It’s also unquestionably healthier, you’re doing the environment a favor by cutting back on pollution. And that is one of the things that make cycling cool.

VIRB Picture

My daily activities involve a lot of moving around, walking, running, you name it. I only drive once in a little while, when i really have to.

image

Not that i dont like it, and not because i can’t. I’m pretty badass at driving. Just that the traffic’s been a pain in the behind, even more so lately, it takes away all the fun and thrill of driving. It’s just not worth it anymore.

If i may add, whether you’re running or cycling, it would be much more fun if you also take pictures along the way. Be it the sceneries, corners of the town or even some selfies.

But if you’re really into cycling or interested on trying and also happen to have the budget, Garmin Virb could be the right choice. It ranges about 4-5 Mio, with an extra 1-5 mio you could get some more than decent camera. Trust me, it’s worth it.

 

My bike is about 4,7 mio, but i’m lucky enough to endorsed for it, thanks Kang :). It’s a Polygon, flatbar road bike 50 in size, Helios F1.

I have no plans on upgrading it just yet, unless for maintining purposes, such as lamps, pumps etc.

You can just stick a camera on the helmet and you’re ready to capture some moments of your trips. Not only manually, but we can set it in advance, we can even set it with the Time Laps feature. So you don’t have to be connected to any desktops.

virbonbar

You can even pair it with smartphones and other gadgets, i did mine on a Fenix2. I could control it with Fenix2.

image

I could even use my smartphone as the Virb’s viewfinder.

 

it stays on for 3 straight hour. You can bring some powerbank along with you if you think that’s not long enough. Did i mention that it’s waterproof? It could go down to 50m under.

Ok that’s it from me i guess, see you guys

again later. Have a great Monday.

Bahasa.

YUK GOWES, YUK VIDEO & FOTO- FOTO

Tak hanya melaju lancar ditengah kemacetan kota. Tapi juga hampir selalu tak ada rintangan. Motor saja takluk oleh portal.

Saat tak diharapkan ada gangguan, ban kempes/ bocor, selalunya bisa diatasi seketika. Ataupun jika karena satu dan lain hal harus didorong, tak begitu membuat orang lain yang  melihatnya merasa iba.

Tak pusing dengan ‘ketinggalan’ surat- surat kendaraan atau ijin mengemudi, tak kesal dengan antrian di spbu.

Jangan lagi ditanya soal lebih sehatnya, andil dalam mengurangi polusi. Dan banyak lagi. Tak boleh ketinggalan disebut, tampil lebih keren.

Bukan karena merek dan harganya, tapi karena bersepedanya.

Aktifitas saya sehari- hari berurusan banyak dengan bergerak. Jalan, lari, ber ‘angkot’, berkendaraan umum. Sekali- sekali, jika harus, walau selalunya saya hindari,   stir mobil sendiri.

Bukan tak suka. Sampai detik ini saya masih suka dan bisa memacu cepat mobil. Dan yakin masih lincah bermanufer.

Urusan mobil, saya agak- agak lumayan lah. Jika tak dikatakan ‘bisaan euy’ .

Saya bisa mudah dan lincah bermanufer saat parkir. Baik parkir satu baris ditengah- tengah diantara dua mobil. Dengan ruang yang pas.

Atau jika harus melaju mundur. Saya bisa mengemudi lurus mundur berkilo- kilo dengan kecepatan maksimum mundur. Di trek lurus maupun berkelok- kelok.

Soal ngebut? Jangankan saya, Bapak, jika bukan karena larangan yang disebabkan gangguan jantungnya, di tikungan- tikungan Alas Roban, puncak pas, tiga kendaraan didepan disikat dengan sekali injakan pedal gas. Diijalan jalan tol? Ya apalagi.

Urusan rambu- rambu lalulintas? Ijin mengemudi saya dapatkan melalui test teori dan praktek.

Sampai- sampai Ibu- Ibu, Bapak- Bapak polisinya manyun. Yang mereka pikir barangkali,”Ni orang kalo ga  pelit- pelit amat, ya kere. Koq ya mau repot- repot ikut test segala”.

Kemacetan yang semakin menggila dimana- mana tak lagi mengasyikan untuk stir kendaraan sendiri.

Merasa bodoh jika harus gas rem gas rem setiap sekian detik.  Merasa lebih bodoh lagi dengan  mobil bertransmisi manual. Gas kopling rem, gas kopling rem. Amit- amit.

Asyik- asyik dan ga asyik- asyiknya berkendaraan, apapun, sudah cukuplah ya.

Saya mau tambahkan.

Berlari atau kali ini temanya bersepeda, lebih mengasyikan lagi dengan ambil- ambil foto diantaranya.

Entah pemandangan, entah suasana dibeberapa pojokan kota. Selfiepun tak masalah.

Dengan smartphone yang hampir dari kita semua punya tentunya cukup.

Tapi jika, sekali lagi jika, punya anggaran untuk sepeda seharga lebih dari anggaran satu action camera. Semisal Garmin Virb, layak jadi pilihan.

Dikisaran harga 4-5an juta, dengan tambahan 1-5 jutaan lagi, jadi total antara 5 sampai 10 juta, kita sudah bisa gowes beraction camera.

Percayalah, asyik- asyiknya melampaui asyik- asyiknya ‘gowes tok’ beranggaran jauh diatasnya.

sepeda saya, ( beruntung ada yang memfasilitasi, terimakasih Kang 🙂 , berharga 4,7an juta. Polygon, road bike( flatbar) berukuran 50, Helios F1.

saya niatkan untuk tak akan saya tambah atau tingkatkan, kecuali yang memang harus. Semisal lampu, pengaman dan pompa.

Ditempel dengan dudukan berlem kuat( bawaan asli virb), atau dipasang di stang dengan bracket khususnya, atau pada helmetstrap, virb siap mengabadikan laju- laju gowes kita. Atau apapun lainnya.

Video atau foto.

Tak hanya secara manual, tapi bisa dengan interval yang sebelumnya kita setting. Dengan waktu- waktu tertentu. Yang sekaligus adalah fitur time lapsnya. Jadi tak lagi kudu di oprek di desktop.

Bahkan bisa dipasangkan dengan smartphone dan gadget lain, semisal jam bergps. Pada saya adalah Fenix2.

Play/ pause/stop bisa dilakukan di fenix2 saya.

Saat tangan bebas. Berhenti misalnya, dengan sang action camera tetap bertengger di helm sepeda, saya bisa jadikan smartphone saya sebagai  viewfinder sang  virb.

Saya bisa melihat apapun yg dilhat sang virb, dilayar smartphone saya.

Begitu juga dengan play/ pause/ stop dan setting virbnya.

Canggih ya? Iya lah 🙂 .

Berbattery tahan 3an jam, jangan- jangan penggowesnya yang kalah kuat 😉 .

Dirasa kurang? Powerbank berkapasitas belasan ribu miliampere seharga ratus ribu sudah cukup untuk suplai tenaga tak hanya untuk virb kita, tapi juga fenix2 dan smartphone saya sekaligus.

Tak khawatir kehujanan, action camera kita ini tahan air sampai kedalaman 50 meter.

Tanpa casing khusus.

Apalagi ya?

Kapan- kapan saya sambung lagi. Ok?

Terimakasih garmin indonesia , eiger adventure dan siapapun yang telah mendukung lari-lari, gowes- gowes dan video- video/ berfoto- foto saya.

Selamat siang, selamat hari senin.

Salam lari dan gowes 🙂

 

Hak sebagian gambar ada pada http://www.dcrainmaker.com/2013/12/garmin-depth-review.html dan Kang Vincent

Standard
fit, healthy, sehat, sport, transportasi

Saya Dan Sepeda

Gowes

Selain berlari,sudah lama saya menyukai sepeda. Bahkan jauh sebelum suka lari.

Sejak usia kuliah, sepeda tak hanya saya sukai tapi bagi saya koq tampil smart ya. Keren sudah pasti.

Terkesan ‘melek’  lingkungan. Dan ‘melek’ kesehatan.

Saat smp adalah saat saya gunakan sepeda sebagai transportasi. Rumah- sekolah, rumah- sekolah.

Sma sudah tidak lagi.

Kuliah kembali saya bersepeda. Mobil sendiri? Saya sengaja tak buat sim agar saya tak tergoda untuk membelinya. Yang termurah, terbutut sekalipun.

Beruntung, ternyata memang uang sayapun tak pernah cukup untuk itu 😛 .

7, ya tujuh buah sepeda pernah saya miliki ditahun- tahun awal kuliah.

Tunggu dulu, tujuh sepeda saya ini bukan sepeda- sepeda kinclong berharga setara belas, puluh juta sekarang.

Tapi setara seratus- duaratus ribu rupiah masa kini.

Itupun bukan beli tapi hasil memulung di beberapa tempat buangan barang- barang rumah- tangga.

Harga barunya tak lebih dari 1 jutaan nilai sekarang.

Sepeda- sepeda biasa.

Saya sampai punya daftar jadwal ‘buangan’ area/ lokasi mana saja sekota  tempat saya tinggal.

Tak sombong sayapun suka ‘membuang’.

Bedanya, seringkali buangan mereka- mereka rusaknya tak banyak. . Oprek- oprek sedikit, kembali lagi berfungsi.

Sementara buangan saya, lebih banyak rusaknya daripada masih baiknya.

Terkadang dalam hitungan belas menit,barang buangan tetangga  sebelah. ya persis sebelah saya sudah menjadi penghuni baru rumah sewaan saya.

Sedikit ganti kabel rem atau sambung rantai yang putus sepeda- sepeda banyak tadi sudah siap saya jual ke teman- teman kuliah atau tetangga seharga senilai tadi. Apalagi jika mau sedikit repot, semprot warna- warna pastel atau mat, setara 50an ribu rupiah lagi siap saya  kantongi.

Bernilai ekonomis dan menghibur 😉

Setelah dengan tak terlalu serius  tahunan menabung saya berhasil memiliki sepeda idaman. Walau belum seutuhnya. Maksudnya memiliki sebagian dari sepeda idaman saya. Framenya saja. Asli buatan Itali. Dengan ukuran yang sesuai dengan tinggi badan, selangkangan, jangkauan tangan dan ukuran- ukuran lainnya saya.

Road bike. Berwarna merah. Merah sekali. Dengan Seat Tube( batangan vertical persis dibawah sadel) yang tergunting, karena jarak roda( kelak jika sudah bertambah lagi pangkatnya) yang lebih dekat. Peruntukan Time Trial. Triathlon. Kereen.

Lamunan saya naik pangkat. Dari yang semula hanya pandangan yang berulang- ulang pada katalog, kini pada sebuah sep eh frame. Frame sepeda yang sebenarnya.

Frame yang bisa saya sentuh. Bahkan dibawa tidur.

Tak lagi saya harus menanggung malu karena keseringan melihat- melihat tanpa beli.

Beruntung penjaga- penjaga toko sepedanya ramah( atau mungkin kasihan kepada saya?).

Beruntung juga mereka tak kenal ungkapan dari trayek angkot di Bandung,  ” Sukajadi – Kiaracondong, liat- liat dari tadi, beli dong!”

Lebih ramah lagi tentunya setelah akhirnya ada sesuatu yang saya beli.

Saya yakin mereka bernafas lega. Akhirnyaaaa

Cukup lama sampai terbeli lagi bagian- bagian  lainnya. Groupset. Shimano 105 adalah juga groupset idaman saya.

Hub depan belakang( as roda), jari- jari, rim(velg), ban, sadel, stang dan bagian- bagian kecil lainnya pun menyusul.

Alhamdullillah.

Semua saya beli di toko sepeda yang sama, tempat saya melihat- lihat dalam keabadian. Tempat dimana saya akhirnya membeli bagian pertama sepeda idaman saya.

Tak selalu lebih murah dari toko- toko lain. Tapi tak etis melihat- lihatnya disini, belinya koq disana. Ya kan?

Setiap hari, dari berangkat pagi sampai pulang sore. Terkadang malam. Tak terputus saya bersepeda.

Tak tercampur dengan transportasi lain. Kecuali darurat, yang sepeda bisa saya masukan kedalamnya.

Banyak tahun berselang. Bersepeda lagi saat saya banyak di Bsd dan Bintaro. Relatif dekat. Beberapa bulan.

dari pagi puku;l 9 sampai menjelang magrib.

Sepeda pinjaman.

Bsd- Karawang adalah pengalaman bersepeda terjauh saya.

Sudah lama sekali.

Beberapa hari belakangan  saya agak menginginkan bersepeda. Bukan sepedanya, tapi sebagai pengganti transportasi saya sehari- hari.

Selama ini saya nyaman- nyaman saya berangkot. Kecuali jika ada yang merokok, dan jika terburu- buru, macet- macet kotanya.

Jadi kali ini disamping penyebab pertamanya adalah sebagai transportasi hari- hari, bukan hanya digunakan diakhir minggu. Sebenarnya dari senin sampai jumat. Dan bisa jadi sabtu dan minggu juga.

Ada satu hal lagi.

Yang sudah- sudah seperti juga barangkali Anda, saya suka segala yang serba baik, indah, keren. Dan biasanya mahal.

Kali ini ada tantangan yang lebih menggoda.

Jika ya saya putuskan untuk punya sepeda. Maka akan bermerk lokal, semurah mungkin, standar, tak akan saya ganti atau tambah apa- apa kecuali karena rusak atau yang memang harus. Semisal helm, lampu jika belum ada. Pedal tetap akan saya pakai yang bukan clet misalnya. Sepatupun demikian. Harus bisa hanya pakai sepatu lari saya.

Bahkan kostum sepedanyapun akan saya pakai kostum lari saya 😛

Pucuk Dicinta Sepeda Nyamperin.

Tak mimpi tak berfirasat, tiba- tiba ada yang menawari saya untuk memakai sepeda.

Road bike, Lokal. murah, standar.

Koq ya klop semua ya.

Alhamdullillah( lagi).

Jadi…yuk gowes….

Tak hanya diakhir pekan, tapi juga sebagai pengganti sebagian transportasi. Jika mungkin setiap hari.

Terimakasih tak terhingga kepada yang memakaikan saya  sepeda 🙂

Bandung, Maret 2015.

Standard