event, inspiration, motivation, mountain running, review, running, sport, story, trail running, ultra running, ultra trail running

CATATAN SEORANG NEWBIE TRAIL RUNNER DI BromoTenggerSemeru100Ultra oleh Ina Budiyarni

InaMaggie001InaMartinTju InaAnwarSurahman001InaDianNdaruPurwanti hak gambar ada pada Maggie Kim Hong Yeo, Martin Tju, Anwar Surahman & Dian Ndaru Purwanti.
Tak pernah terlintas dalam pikiran saya sebelumnya, saya akan menjadi finisher Bts100Ultra 50k dengan waktu 11 jam 12 menit. Di bawah Cut Off Time yang 12 jam.
Senang dan bangga bercampur jadi satu, karena saya bisa melawan ketakutan dalam diri saya.. Takut di hutan sendirian..
Seketika saya buka foto album ‘RUN’ dalam Facebook saya yang berisi foto-foto sebagian lelarian saya di tahun 2013 ini. Tahun 2012 saya baru sanggup lari 5k dan 10k dalam race, itupun seperti keong..
Tahun 2013 saya banyak bertemu dengan orang-orang hebat yang menginspirasi saya dalam lelarian. Juga kompor-kompor yang akhirnya membuat saya melakukan my 1st 21k Half Marathon di awal tahun 2013 dan my 1st 42k Full Marathon di tengah tahun 2013.
Tapi tidak dengan trail run.. Trail run pertama saya adalah 10k Tahura trail run. Setelah itu boro-boro mau ikut trail lagi. Yang ada di otak saya trail itu gear nya ribet dan menghabiskan banyak waktu. Karena harus seharian, dari pagi sampai sore.
Sebagai seorang single mother, yang terfikir adalah, lari di akhir minggu cukup hanya lari dijalan saja. Setelahnya lebih baik menghabiskan waktu dengan anak, yang adalah segalanya bagi saya.
Saya menghitung berapa banyak foto dan mengingat kronologi trail run saya, sebelum akhirnya nekat mengikuti BTS100Ultra 50k. Dan ternyata secara total baru 7x trail run yang saya ikuti sepanjang hidup saya. Untuk selanjutnya ikut BTS Ultra 50 dengan track yang gilaaa..
Di antara padatnya aktifitas saya berkantor, mengurus anak & aktifitas-aktifitas lainnya, di akhir minggu, di minggu-minggu trakhir menjelang race, saya luangkan waktu untuk latihan ngetrel. Dengan jarak puluhan km di Sentul bersama dengan teman-teman yang hebat..
Teman-teman saya yang bukan pelari menanyakan, ” Apa sih yang kamu cari dengan ikut race 50k naik turun gunung?’”.
Mungkin saat itu saya belum tahu pasti dan belum bisa menjawab atas pertanyaan itu. Yang saya tahu hanya, ada keinginan yang kuat sekali untuk turut serta di BTS Ultra 50.
Walaupun saya masih newbie trail runner, saya hanya berfikir jika orang lain bisa, mengapa saya tidak bisa? Jika orang lain berani, mengapa saya tidak berani? Jika juga orang lain nekat, mengapa juga saya tidak nekat?
Sudah banyak tempaan dalam hidup saya sebagai seorang single parent. Dan inilah saatnya tempaan di indahnya alam ciptaan Tuhan. Yang membuat saya merasa sangat kecil di dalamnya..
Dengan mendapat restu dari anak saya, berangkatlah saya menjadi salah satu orang ‘gila’ di BTS Ultra. Dengan bangganya anak saya bercerita ke setiap orang bahwa Bundanya akan berlari 50k naik turun gunung. Bahkan sampai juga bercerita kepada guru ngajinya.
Maka semakin semangatlah saya untuk berusaha sekuat tenaga agar bisa finish sebelum Cut Off Time.
Begitu berbedanya aura di Ranupane saat menjelang start ultra trail, dibandingkan dengan start road race. Walaupun jumlah pesertanya jauh lebih sedikit dibandingkan dengan peserta race jalanan, tapi serunya di start line mengalahkan start race-race saya sebelumnya.
Sebagai newbie trail runner sudah pasti larinya saya adalah alon-alon asal kelakon. Sambil menikmati pemandangan dan foto-foto sana sini yang tidak mungkin saya lewatkan. Berkat camera yang selalu ada dalam genggaman saya sepanjang lari 50k.
Ternyata apa yang tidak saya dapatkan di road race, saya dapatkan disini.. Pemandangan yang spektakuler sepanjang rute, yang buat saya serasa dalam mimpi. Karena selama ini hanya saya lihat di foto, gambar atau kalender.
Danau Ranukumbolo yang begitu mempesona dari jarak jauh dan dekat. Puncak Semeru dari kejauhan. Hamparan pasir berbisik Bromo. Kawah Bromo dan bukit-bukit pasir, yang masih melekat di ingatan saya sampai sekarang..
Capek, sudah pasti.. Ngos-ngosan apalagi.. Tapi indahnya alam membuat saya tidak terlalu merasakan gempornya betis & paha ini.
Tanjakan yang seperti tak berakhir di tanjakan cinta Ranukumbolo ( entah sampai sekarang saya tidak tahu mengapa dinamakan Tanjakan Cinta. jika saja Tanjakan Cinta nya sudah seperti begitu, akan seperti apa ya Tanjakan Putus Cinta nya ?). Ayek-ayek, jalur pipa, bukit pasir Bromo.. Ditambah sepanjang perjalanan, ingatan akan anak saya. Dan bahwa saya tidak mau mengecewakannya..
Serta keinginan akan membuat anak saya bangga mempunyai Bunda seorang Ultramom..
Tanjakan, turunan, dingin, panas, angin, gerimis, pasir, haus, letih, lelah.Semua silih berganti .. Tanjakan-tanjakan sadiis, turunan-turunan cadas, walaupun berat tapi entah mengapa begitu senang saya menjalaninya.. Gerutuan yang tak henti- henti, ” Gilak tanjakannya!”, tapi kaki ini tetap semangat melangkah. Bahkan saat mendapat tanjakan yang tidak lazim, sehingga harus merayap seperti layaknya spiderman. Dan turunan sumur tegak lurus yang membuat banyak peserta perosotan seperti layaknya anak kecil. Teman-teman peserta pun semua tampak seru dengan segala tingkah lakunya.. Walaupun capek tapi semua happy..
Saya baru merasakan ternyata beratnya lari Full Marathon 42km di jalanan tidak ada apa-apanya dibanding ultra trail run di BTS..
Fisik dan mental benar-benar diuji.. Fisik sudah pasti terkuras untuk lari naik turun gunung belasan jam, mental pun diuji berkali-kali ketika ada ojek & kuda lewat.. Beruntung saya tidak tergoda sedikitpun.
Yang membuat saya tergoda justru menjelang km 35. Saat bladder sudah habis, water station jemplang tidak jua tampak, dan jalanan yang walaupun aspal namun adalah tanjakan tiada akhir. Saat sepeda motor penjual ice cream lewat, yang langsung di serbu semua peserta. Ice cream terenak di dunia saat itu, hahaha..
Jam garmin sudah menunjukkan km 40. Yess tinggal 10km lagi, dan di depan mata adalah padang pasir Bromo. Yang sepertinya tidak terlalu sulit untuk mengakhiri race ini di km50.. Tapi ternyataaa.. surpriseeee… Ternyata finishnya di kanan atas sementara kami dibelokan ke kiri ke gundukan pasir naik turun tiada akhir.. Dan.. belum cukup sampai disitu, kami harus naik tangga ke bibir kawah untuk mengambil gelang kuning, kemudian turun lagi. Haha hebat sekali si pembuat rute.. 5 km terakhir yang amat sangat berkesan di hati dan di kaki..
Saya melihat ke garmin saya. Sudah hampir 11 jam saya berlari.. Artinya waktu saya tinggal 1 jam lagi untuk bisa finish di bawah Cut Off Time.. Akhirnya dengan sisa tenaga yang ada, lari lah saya.. Tetapi begitu sampai jalan aspal, hah ternyata lagi-lagi tanjakan. Berarti, jalan lagi. Begitu sampai di atas tanjakan, banyak orang-orang yang bilang ‘tinggal sedikit lagi mbak finish’.. Tanpa basa basi larilah saya dengan perasaan campur- aduk antara senang dan terharu..
Begitu tulisan FINISH tampak didepan saya, rasa harupun kembali tak terelakan. Saya tahan airmata yang hampir menetes. Karena ,” masa macho-macho pelari ultra mewek”.
Begitu saya menginjakkan kaki di finish line, kata ‘Alhamdulillah’ yang tiada habisnya terus terucap di hati saya.. Yeayy saya berhasil menjadi ULTRA RUNNER, finish my 1st Ultra trail 50k dengan waktu 11 jam 12 menit!!
What an amazing race, amazing route, amazing view, amazing people.. Thank you committee for a beautiful race & I will come back next year!!

Standard
event, motivation, running, sport, story

Proudly Asthma Runner by Gita Ayu Pratiwi

 

Image

Menjalani hobi berlari sungguh tidak pernah terlintas di benak saya dulu, maksud saya sebelum 3 bulan lalu. Saat itu saya baru melahirkan dengan parut luka caesar di perut. Bayi saya usia 3 bulan dan masih kuat-kuatnya menyusu asi. Mau jogging cepat sedikit saja, rasanya ngeri sekali. Takut jaitan lepas, kata saya. Tapi sejatinya, jogging justru membantu luka caesar saya cepat pulih dan kondisi rahim kembali sehat pelan-pelan. Ya, apa sih pengaruh buruk olahraga? Sepertinya tidak ada.

Hari-hari jogging saya ternyata berbarengan dengan kesukaan baru suami. Bukan gadget, bukan pertandingan bola. Entah darimana asalnya, tiba-tiba suami saya jadi sangat hobi sekali berlari. Saya pikir ini hanya euphoria semata. Seperti hobi-hobi kagetan dia sebelumnya, sebentar datang sebentar pergi. Ya karena sayang suami, saya dukunglah hobi berlarinya ini. Maka melangkahlah kami bersama tiap ada waktu luang. Saya diseret-seret untuk menapaki jarak 2 kilometer minimalnya sehari. Akhirnya saya sendiri yang kecanduan. Tidak perlu ada dia, 2 kilo saya kunyah sendiri. Tentu saja dengan kaki saya. Hehe…

Berlari yang awalnya saya lakukan hanya di selingkaran rumah, akhirnya meluas ke lomba-lomba lari. Agak nekad memang. Karena saya biasanya cuma lari 2 km, sementara lomba-lomba lari memasang target 5 km sebagai batas minimal. Perlu diketahui, saya ini mengidap asma akut. Dan saya juga seorang yang penakut. Artinya, mau apa-apa minder. Belum ikut lomba aja galaunya udah nggak juntrung. Tapi partner saya memang lebih “sakit” sih daripada saya. Saya belum kasih jawaban bersedia ikut atau tidak, suami saya malah sudah daftar. Dan pulang-pulang dia sudah bawa race pack untuk 2 orang. Nah kan, saya diseret-seret kan?

Lomba pertama kami adalah lomba gratisan dari Istana Negara, acara 17-an. 8 km target jarak yang ditentukan. Beberapa hari sebelumnya kami berlatih, semacam gladi resik. Hebatnya, saya kuat berlari 10 km dengan interval di komplek kampus Universitas Indonesia-Depok, seminggu sebelum hari H. Tugas terberat suami saya seminggu terakhir itu adalah memdorong saya supaya tetap mau ikut lomba itu. Bukan untuk menjadi pemenang, katanya, tapi untuk membuktikan bahwa kita bisa. Yaah, betapapun saya menolak, tetap saja dia bawa saya ke lomba itu.

Mau tak mau, larilah juga kaki saya ini. Dimulai dengan start yang berduyun-duyun dengan ratusan orang lainnya. Konon, acara lari gratisan ini diikuti oleh 45.000 peserta dari segala macam kalangan. Lebih mirip seperti “jalan sehat” perasaan saya saat itu. Karena saya juga tidak diliputi perasaan berkompetisi. Langkah saya baik-baik saja, hanya nafas yang kadang tersengal.

Track Istana-Sudirman-Monas akhirnya berhasil kami selesaikan dengan tenang dan damai. Tidak ada medali, karena medali hanya untuk 1000 finisher pertama. Jelas, kapasitas speed saya masih belum mumpuni untuk sebuah lomba lari 8 km. Tapi tidak apa, saya cukup senang. Masih ada pisang gratis dan air putih, loh bukan, maksudnya saya bangga karena saya berhasil finish hari itu. Paling tidak saya tidak berhenti di tengah jalan dan minta pulang.

Di depan mata sudah terpampang jadwal lomba lari selanjutnya. Tertulislah King Of The Road 2013. King Of The Road adalah kejuaraan lari yang diadakan di Asia Tenggara. Diselenggarakan di 5 negara yaitu Thailand, Singapore, Indonesia, Phillipines, dan Malaysia. Tracknya dijalankan di area kota. Di Indonesia diadakan di pemukiman elit BSD, Tangerang, Banten.

Galau saya kambuh. Stres datang. Saya sampai masuk Rumah Sakit karena anxiety saya. Bukan, bukan karena takut tidak jadi juara King Of The Road (KOTR). Tapi karena keluarga saya ditimpa masalah yang membuat saya shock dan trauma berat. Untuk hal ini, saya menggantungkan kejiwaan saya pada obat penenang resep dokter. Saya sempat maju mundur tentang KOTR. Padahal tenggat waktunya tidak sampai sebulan. Saya merasa hati saya belum sembuh, dan bagaimana mungkin saya bisa lari kalau hati saya masih berdarah-darah.

2 minggu menuju KOTR dan saya tidak ada persiapan matang. Saya makin sering diserang asma. Insomnia, anxiety masih menghantui. Race pack sudah tiba. Tapi boleh percaya atau tidak, dengan hanya melihat race pack saja, hati saya membungah pelan-pelan. Saya penasaran lagi sama yang namanya lari. Lagipula kaki yang saya pakai lari sama sekali tidak ada hubungannya dengan hati, pikir saya. Ya nanti kalau mau galau lagi setelah lari, bolehlah. Tapi larilah dulu! Ini event besar, nikmatilah! Begitu suara dalam diri saya.

Mas Suami juga tak henti menyemangati. Katanya momen berlari ini adalah untuk mengukuhkan kemesraan kembali dengan istrinya, yang tak lain adalah saya. Gombal sih, tapi ya sudahlah. Saya tak ada daya upaya ketika Minggu, 29 Sptember 2013 pukul 4.45 dini hari itu kami bergerak menuju BSD, menjawab tantangan KOTR.

Kami tiba di kawasan parkir 1 menit sebelum mulai. Dan baru kami sadari tempat kami parkir berjarak kurang lebih 1 km dari start line. Tergopoh-gopohlah kami demi melihat peserta-peserta lain sudah berlarian. Asma saya mulai mengganggu. Badan saya seperti kaget. Tidak stretching, tidak pemanasan. Tapi hasrat, ternyata masih menyala-nyala.

Sepertinya kami mulai 5 menit lebih lambat dari waktu yang ditentukan. Begitu melewati garis start, pertarungan saya dengan diri saya sendiri dimulai. Semua anxiety saya hilang entah kemana. Kilo per kilo, saya lebih banyak berlari dengan menatap aspal. Saya merasa memasuki diri saya lebih dalam, saya merasakan banyak hal. Entah apa. Galau itu hilang semua. Tapi serangan asma, seperti sejuta kali memukul dada saya. Untung saja senjata inhaler saya masih ampuh melawan.

Interval lari dengan perbandingan 1:1, yaitu 1 menit berlari non stop kemudian 1 menit berjalan, sering kali saya langgar. Menuju 5 km saya mulai payah. Saya bisikkan semua kata-kata sakti untuk mendorong diri saya maju lagi. Tawaran berhenti sudah keluar beberapa kali dari mulut suami. Tapi, saya tidak datang sejauh ini untuk berhenti dan selesai tanpa usai.

Di sekeliling saya, banyak juga yang sedang kepayahan. Macam-macam cara mereka memotivasi diri. Ada yang nyanyi sambil teriak-teriak, ada yang lari dengan langkah kecil tapi “nyeruntul” terus alias tidak berhenti, ada juga yang berhenti sesekali untuk memijit kakinya. Banyak lagi. Saya sudah seharusnya tidak egois dan menyerah begitu saja. Bukan hanya saya yang sedang diuji kekuatannya. Setiap orang punya masalah masing-masing dan belum tentu masalah mereka tidak lebih berat daripada saya. Begitu juga kehidupan ini.

Setelah titik 8 km, saya mulai deg-degan sendiri. Dagdigdug karena saya hampir tidak kenal diri saya lagi. Saya sudah lari 8 km! Siapa tuh?! Saya? Haha! Yap, saya tidak datang untuk menjadi peserta yang disebut-sebut berhenti di jalan karena menyerah. Saya tidak datang untuk menjadi peserta yang diantar pulang dengan ambulans karena asmanya parah. Saya datang untuk memenangkan diri saya dari asma dan sesak saya. Saya mau dikenal sebagai peserta yang berhasil masuk garis finish meskipun asma. Dan meskipun saya punya segudang galau dan gundah.

Maka saya tidak berhenti sama sekali. Saya tidak mengizinkan kaki saya untuk berhenti melangkah. Walaupun itu langkah lelah, tapi saya pastikan saya tidak kalah. Menatap lagi ke bawah, melihat lebih jauh lagi ke dalam diri saya. Ya, saya memang berlari untuk melarikan diri saya. Tapi semata bukan untuk pergi. Tapi untuk menguatkan kaki-kaki saya lagi, menguatkan diri saya lagi, dan kemudian mengembalikan kepercayaan diri saya untuk kembali. Bahwa saya bisa, saya mampu.

1 km terakhir, medan menjadi terasa amat berat karena pergelangan kaki mulai teriak minta tolong. Belum, belum saatnya berhenti, bisik saya. Gapura finish sudah terlihat. Ini yang saya cari dari tadi. Pendekatan 10 km hanya untuk melihat si gapura cantik ini. Berlari 10 km hanya untuk menembus garis finish yang manis ini.

Lari saya tak henti. Saya genjot kaki saya yang perih. Ada tangis dalam hati. Tangis bahagia. Tangis bersyukur yang air matapun enggan tumpah. Mata saya terpejam. Tak sanggup saya lihat sekeliling. Ini adalah momen saya, yang saya tak mampu beli dimanapun, tak tergantikan oleh apapun.

Tiba-tiba sebuah tangan meraih jemari tangan saya. Dia, Mas Suami. Yang darinya berasal rasa senang sekaligus sakit. Dialah guru besar saya. Yang menjatuhkan saya, kemudian membangkitkan saya kembali. Bersamanya saya lewati garis finish. Saya, dengan asma saya, alhamdulillah berhasil melewati garis finish setelah berlari 10 km. Sungguh, tak terperi.

Medali melingkar di leher. Bangga sekali. Saya pulang dengan senyum yang tak henti mengembang. Tersipu-sipu pada diri saya sendiri. Malu rasanya, selama ini mengeluh. Malu rasanya, selama ini selalu bilang “Nggak mungkin.”  Lebih malu lagi waktu Mas Suami menunjukkan hasil record time kami yang dikirimkan panitia KOTR via email. Saya ada di peringkat 1003 dengan catatan waktu 1 jam 40 menit.

Saya mungkin bukan juara KOTR. Ya, saya tidak naik podium. Saya juga tidak tergabung dengan club lari manapun. Saya berlari bukan untuk mengalahkan siapapun. Ada musuh yang lebih besar dalam diri saya. Asma dan anxiety. Dan selama nafas ini masih menempel di jiwa raga, saya tidak akan berhenti.

Image

Gita Ayu Pratiwi

Standard