berbagi, event, inspiration, komunitas, olahraga, renungan, running, sport, story, tulisan

BandungJakartaRun4Leukemia

wpid-p6130011.jpg

Awal 80an berangan- angan, sekali seumur- hidup turut dalam lomba lari 10k. Kekaguman saya akan olahraga lari mengalahkan kekaguman saya akan olahraga2 lain, apapun yang menggunakan alat.
Apa daya, asma & bronkhitis bawaan sejak lahir menjadi penghalang. Setidaknya begitu yang saya fahami selama itu.
Awal 2010 adalah lari ‘serius’ saya pertama.
Selanjutnya, kecintaan saya akan lari semakin besar. Dan ‘mengalahkan’ penghalang saya.
Sepertinya kapanpun saya siap untuk berlari puluh bahkan ratus kilo.
Haruskah? Tak mesti tentunya.

wpid-p6130022.jpg
10-30 menit berlari dalam sehari sudah ‘memenuhi’ untuk sehat.
Tak hanya untuk sehat sendiri, berlari ternyata bisa untuk banyak hal positif lainnya.
Misalnya, seperti yang dilakukan teman2 yg baru saja semalam, 13 juni 2014 lalu, memulai lari bandung- Jakartanya. Berlari untuk adik2 penderita Leukemia.
Diharapkan finish menemui adik- adik kita pada tanggal 15 juninya.

wpid-p6130031.jpg
Berlari sebagai bentuk kepedulian mereka akan penderitaan adik2 ini. Akan orang2 disekitar adik2 ini.
Berlari sebagai bentuk kepedulian terhadap sesama. Adik2 kita diantaranya.
Semangat teman2. Tetap sehat. Selamat sampai tujuan. Dan kembali ke Bandung.
Terimakasih tim pesepeda, motor & mobil pendukung. Terimakasih League, PocariID, SAB. Terimakasih semua teman- teman komunitas lari tanah- air.
#bdgjktrun4leukemia

wpid-p6130051.jpg

wpid-p6130065.jpg

wpid-p6130070.jpg

Standard
cerita, inspiration, kisah, motivation, olahraga, renungan, running, sport, story, trail running

Yuk kawan, kita lari

image

Tentu saja Nadine tahu sekali bagaimana mengikat tali sepatu trelnya dengan benar. Seperti yang selalu dengan penuh semangat Nadine ingatkan ke siapapun, yang kedapatan tali sepatunya lepas.
Lipat masuk simpul tali sepatu yang sebelah kanan kedalam bulatan simpul tali pertama. Sekarang lipat, masukan juga lagi simpul tali kirinya. Tarik perlahan sampai benar- benar terikat kuat.
Demikian yang Nadine ingat dari yang pernah dia baca dan lihat disalah-satu majalah lari.
Simpul tali sepatu yang tak mudah lepas untuk lari- lari agak sedikit jauh. Bahkan lari trel sekalipun.
Sekali lagi dia periksa, apa- apa yang mungkin belum ada. Setelah sebelumnya sedikit lap- lap badan ala cowboy, makan dan minum sekedarnya, sikat gigi. Mematut- matut diri dicermin kamar.
Lipatan uang sepuluh ribu dan telpon selularnya sudah di saku tas dipinggangnya. Beberapa potong coklat kacang sebagai bekal disiapkan. Juga botol plastik air ramah lingkungannya.
Sebagai penyuka kegiatan luar- ruang tentunya pantas jika lebih lagi peduli lingkungan.
Sekali lagi tersungging senyum dibibirnya. Bangga akan kepeduliannya. Walau mungkin baru sedikit yang dia tahu soal isu lingkungan.
Tak apa. Toh sudah dimulai.
Seperti biasa Nadine memakai celana lari pendek dan atasan yang menurutnya nyaman dan berwarna cerah.
Nadine membiasakan untuk tak terlalu tebal berpakaian.
Kali inipun tanpa jacket. Cukup dengan mulai menggerakan badan, hangatpun didapat.
Tiba- tiba teringat nasehat sang paman. ” Nneng hati- hati. Jangan jauh- jauh. Jangan banyak- banyak larinya, pakai jacket”.
Seperti biasa, Nadin tersenyum saat menjawab,” ya Mang, nuhun”.
Ah si Mmang baik- hati ini. Jangan- jangan harusnya lebih menghawatirkan dirinya sendiri. Makan tak kenal pantangan. Apapun disikat. Jeroan, gorengan. Sate kambing yang selalu harus bergajih. Jangan ditanya kalau sudah mendapatkan gulai kepala kambing. Utuh. Ya utuh sekepala. Asyik- masyuk, sampai- sampai tak lagi dapat dibedakan mana kepala kambing dan mana kepala si Mmang. Dan tentu saja nasi putih yang banyak. Sementara tak pernah sekalipun terlihat berolah- tubuh.
Semoga Mmang selalu sehat.
Udara dibulan januari memang agak dingin. Terkadang pagi- pagi hujanpun sudah menjelang.
Satu lagi godaan yang tak kecil untuk tetap ditempat tidur.
“Tidak!, saya harus menang. Saya harus bisa mengalahkan kemalasan ini”. Demikian Nadine seringkali meyakinkan diri- sendiri.
Semakin besar godaannya semakin besar dia melawan.
Jalan kaki keluar komplek rumahnya. Beberapa ratus meter. Kemudian belasan menit dengan angkutan umum kearah utara kota.
Gerbang kawasan wisata alam di utara ini memang tempat Nadine memulai lari- lari trelnya.
Sepuluh menit pemanasan sebelum mulai tak lupa dilakukan.
Pemanasan tak kalah penting. Lagi- lagi Nadine mengingatkan diri- sendiri.
” Nneng geulis, lumpat deui?”. Si bibi pemilik warung dengan sapaannya yang lucu dan menyenangkan.
” Sumuhun Bi. Mangga”.
Tanah licin mengawali trek lari trelnya. Sisa- sisa hujan semalam cukup membuat Nadine melangkah lebih hati- hati lagi.
Baru beberapa puluh ayunan kaki dingin pagi sudah tak terasa lagi. Sebaliknya, keringat mulai menetes dari dahi dan sekujur badannya.
Agak terengah juga diawal- awal. Tapi sudah selalu semakin baik dari sebelum- sebelumnya.
Trek lari ditengah kehijauan hutan pinus selalu menyenangkan. Tak pernah membuat bosan. Sepertinya setiap langkah adalah hal yang selalu baru. Berapa kalipun diulang.
Mata yang selalu harus awas melihat kemana kaki melangkah. Pijakan mana yang dipilih. Pada saat yang sama harus juga awas akan batangan atau dahan pohon yang melintang tepat seketinggian kepala.
Lebih- lebih lagi diturunan. Beberapa langkah berikutnya harus sudah diperhitungkan.
Satu kali terpleset dipijakan pertama kerap diikuti oleh terpeleset dipijakan berikutnya.
Apalagi dibebatuan yang licin.
Beruntung jika hanya goresan kecil pendek dikaki.
2km sudah. Seperti yang dia lihat di jam lari bergpsnya. Berarti 3km lagi sampai puncak.
Trek semakin menanjak. Semakin membuatnya terengah- engah.
Sesekali Nadine minum dari botol airnya.
Tak mesti banyak sekaligus.
Nadine lebih memilih beberapa teguk setiap lima- belas menit. Tak banyak. Sekedar tak dehydrasi.
Sedikit berlebih minum air menyebabkan bengkak dikaki.
Hutan pinus sudah lama terlewati.
Sudah mulai vegetasi khas punggungan gunung berkawah.
Bau belerangpun sudah mulai tercium.

Ketukan dipintu kamarnya menghentikan tulis-menulisnya.
“Itcha, sudah bangun sayang?”
“Ya Mama”.
“Mau Mama mandikan sekarang?”
“Sebentar lagi Mama”.
Itcha menghela nafas.
Termenung. Memandangi kedua kakinya yang kecil karena memang lama tak bisa digerakan.
Demam tinggi di usia balita adalah penyebab kelumpuhannya.
Seperti setiap pagi di hari- hari sebelumnya, adalah saat- saat menyenangkan baginya untuk menulis.
Menulis, kegiatan sejak beberapa tahun lalu. Sejak sebelumnya mengikuti dunia lari- berlari dikotanya.
Berlari belakangan memang sedang menjadi
trend. Tak hanya di ibukota. Juga di kota- kota lain.
Lomba lari sudah hampir setiap bulan diadakan.
Dan tentang lari- berlarilah kebanyakan tulisan- tulisannya.
Itcha kembali ke Note 8nya. Sedikit melanjutkan tulisannya.
Membayangkan, bagaimana indah dan menyenangkannya, berlari dikesejukan hutan pinus. Saat jutaan yang lain masih tertidur lelap.
Dunia seakan hanya miliknya sendiri.
Berbagai inspirasi menari lincah dalam benaknya. Seperti yang tak berkesudahan.
Pada saat yang sama mata yang harus awas mengawasi setiap pijakan kakinya.

Beberapa tahun belakangan Itcha tak lagi bersedih dengan keadaannya.
Itcha percaya, semua hal di dunia tentu ada maksudnya. Begitu juga dengan kelumpuhannya.
Jika kebahagian bagi yang lain adalah harta yang banyak, kesehatan jasmani, putra- putri yang sehat menggemaskan dan lain sebagainya.
Kebahagian bagi dirinya adalah menerima dan bisa berdamai dengan kelumpuhannya. Menerima ketidak- mampuannya untuk berlari.
Seperti yang pernah menjadi impiannya, sekali dalam seumur- hidup mengikuti lomba lari 10 k.
Kebahagian baginya yang lain adalah mendapatkan cara untuk mengingatkan siapapun untuk tak menyia- nyiakan kesempatan yang ada.
Dengan menulis.
” Saat berlari menjadi impian yang tak pernah terwujud bagi orang- orang seperti aku, jangan sampai terjadi bagi orang- orang yang lebih beruntung”.
Tak berolah- tubuh padahal ingin, tapi tak kesampaian karena hambatan adalah kewajaran.
Tak berolah- tubuh karena kemalasan padahal bisa dan di mungkinkan adalah kebodohan.

Standard
inspiration, motivation, story

Ki, Selamat Ulang- Tahun :) by Bang Aswi

“Ehhh … aku lari tuh mulai 2010, awal 2010. Jadi awalnya Jumat, sebetulnya sudah lama tahu bahwa lari itu olahraga yang mau banget aku lakuin. Cuma karena tahu ada asma dan bronchitis, dan sebelumnya pernah coba lari-lari kecil atau segala macam atau waktu aku sekolah … kayaknya cepet capek. Dari situ saya tahu saya pikir saya udah nggak ada peluang untuk lari. Nah, 2010 itu saya coba konsultasi ke dokter sebelumnya, alhamdulillah ya tersendat sih memang tapi sebulan pertama udah lumayanlah ada progres ya. Yang tadinya seratus meter udah sesak kali ini udah satu kilo dua kilo. Dua bulan kemudian udah bisa lari sepuluh….”

“Check up semua, apa jantung dah, apa tekanan darah dan segala macam, euhhh dokter bilang oke. Tapi belakangan saya tahu bahwa yang dimaksud di pengertian okenya itu bahwa saya larinya emang lari-lari pelan bukan seperti lari-lari yang saya lakuin belakangan ini. Sempet kaget juga tuh si dokternya. Nah itu awal-awal saya lari….”

Di titik ini jemari sosok itu berhenti. Sosok itu mencoba membayangkan apa yang dilakukan salah seorang sahabat dan guru kehidupannya, Aki Niaki . Kata-kata di atas adalah ucapan Aki di awal wawancara sosok itu di sebuah kafe di jalan Burangrang. Masih ada 40 menit lagi hasil wawancara yang belum diselesaikan tentang pengalaman Aki berlari. Masih ada ribuan jam kehidupan Aki yang belum tereksplor untuk dijadikan inspirasi bagi masyarakat luas, tidak hanya bagi yang ingin berlari. Masih banyak rahasia lagi tentang semangatnya untuk mengkampanyekan olahraga lari dan (juga) ngetrel.

Jujur, sosok itu juga punya asma. Jadi dirinya tahu bagaimana rasanya takbisa bernapas dengan wajar. Bagaimana rasanya ‘megap-megap’ saat baru lari beberapa puluh meter. Bagaimana rasanya tersiksa di saat jutaan orang menikmati nyenyaknya tidur. Bagaimana rasanya batuk-batuk hanya dengan melihat embun pada gelas yang dingin. Bagaimana rasanya menjadi orang yang tidak berharga untuk turut membantu kerja bakti (meski hanya sekadar di rumah sendiri) membersihkan debu karena nantinya akan batuk dan kemudian sesak napas. Sakit hati ini mengetahui itu semua.

Sosok itu dikenal ‘sport freak’ saat SMA dan mahasiswa. Basket, volley, sepakbola, bulutangkis, renang, hingga mengenal sepeda dan lari. Gila olahraga karena tahu bahwa inilah salah satu cara agar asmanya tidak sering kambuh dan menjadi beban bagi orang lain. Sepedalah yang dipilihnya kemudian saat sudah berkeluarga dan bekerja. Sampai kemudian dirinya mengenal Aki di pertengahan 2008, di komunitas Blogger Bandung—Batagor. Saat itu dirinya tidak tahu Aki itu pengidap asma. Saat itu dirinya tidak tahu apa agama Aki (maaf). Saat itu Aki belum berlari. Saat itu dirinya melihat Aki yang penuh semangat meski untuk beberapa kegiatan fisik tidak maksimal. Aki selalu aktif di tengah-tengah anak muda yang mayoritas masih mahasiswa. Tapi kemana-mana selalu naik motor.

Hingga kini, semangat Aki tetap sama dan bahkan jauh lebih berkobar lagi. Kegiatan fisiknya semakin maksimal dan prima. Kemana-mana selalu berlari dan tidak lagi kelihatan naik motor. Kondisi fisiknya kini jauh lebih bugar dan segar jika dibandingkan sosok itu di awal perkenalan. Aki bagaikan magnet bagi orang-orang yang ada di sekelilingnya, baik itu di komunitas blogger maupun di komunitas larinya. Aki semacam suri teladan. Padahal dia sudah berprestasi dan terkenal. Namun sikap hidupnya selalu ‘down to earth’. Penuh senyum. Penuh gairah. Penuh rasa kekeluargaan. Pokoknya ada perasaan nyaman saat dekat dengan dirinya. Perasaan yang tidak ingin berpisah. Entah mengapa.

Sampai saat ini sosok itu belum berkesempatan dapat berlari bersama dengan Aki. Usahanya berlari mengalami maju mundur, bahkan lebih banyak mundurnya. Belum satu kilometer tetapi sudah menyerah untuk berhenti. Selalu lari sendiri karena malu kalau harus lari bersama. Aki-lah yang memberi semangat pada diri sosok itu. Aki-lah yang memompa diri sosok itu hingga akhirnya memberanikan diri untuk mau bersepeda sendiri dari Bandung ke Jakarta. Jauh setelah Aki berlari dari Bandung ke Jakarta. Aki tidak tahu akan hal ini. Semangat untuk mencoba lebih berani. Semangat yang membuat dirinya kembali mendekati Aki karena ada satu ‘keajaiban’ di dalam dirinya yang seharusnya bisa dinikmati oleh lebih banyak orang lagi. Keajaiban untuk menjadi inspirasi.

Di depan mata, ada mimpi sosok itu untuk bisa bersama Aki menaklukkan 57 gunung. Entah itu berlari bersama. Entah itu bersepeda bersama. Atau hanya sekadar menyaksikan Aki berlari dengan penuh kebanggaan dan keharuan. Pokoknya ingin menjadi saksi pertama. Sebuah perasaan yang hanya bisa dikeluarkan kalau sudah mengenal siapa Aki sebenarnya. Saat berdiskusi bersama. Saat berkegiatan bersama. Saat shalat bersama. Saat melihat bola matanya yang berembun saat menceritakan masa kecilnya yang penuh perjuangan. Ada banyak cerita yang harus diolah tentang kehidupan Aki agar menjadi buku yang utuh. Buku yang bisa jadi belum dapat menceritakan diri Aki yang sebenarnya. Diri Aki yang kini menapaki usia ke-57 dan terus … dan terus menginspirasi orang-orang yang mengenalnya (atau bahkan belum mengenalnya).

Ki, selamat ulang tahun. Teruslah menginspirasi kami semua…. #pelukerat

Standard
event, inspiration, motivation, mountain running, review, running, sport, story, trail running, ultra running, ultra trail running

CATATAN SEORANG NEWBIE TRAIL RUNNER DI BromoTenggerSemeru100Ultra oleh Ina Budiyarni

InaMaggie001InaMartinTju InaAnwarSurahman001InaDianNdaruPurwanti hak gambar ada pada Maggie Kim Hong Yeo, Martin Tju, Anwar Surahman & Dian Ndaru Purwanti.
Tak pernah terlintas dalam pikiran saya sebelumnya, saya akan menjadi finisher Bts100Ultra 50k dengan waktu 11 jam 12 menit. Di bawah Cut Off Time yang 12 jam.
Senang dan bangga bercampur jadi satu, karena saya bisa melawan ketakutan dalam diri saya.. Takut di hutan sendirian..
Seketika saya buka foto album ‘RUN’ dalam Facebook saya yang berisi foto-foto sebagian lelarian saya di tahun 2013 ini. Tahun 2012 saya baru sanggup lari 5k dan 10k dalam race, itupun seperti keong..
Tahun 2013 saya banyak bertemu dengan orang-orang hebat yang menginspirasi saya dalam lelarian. Juga kompor-kompor yang akhirnya membuat saya melakukan my 1st 21k Half Marathon di awal tahun 2013 dan my 1st 42k Full Marathon di tengah tahun 2013.
Tapi tidak dengan trail run.. Trail run pertama saya adalah 10k Tahura trail run. Setelah itu boro-boro mau ikut trail lagi. Yang ada di otak saya trail itu gear nya ribet dan menghabiskan banyak waktu. Karena harus seharian, dari pagi sampai sore.
Sebagai seorang single mother, yang terfikir adalah, lari di akhir minggu cukup hanya lari dijalan saja. Setelahnya lebih baik menghabiskan waktu dengan anak, yang adalah segalanya bagi saya.
Saya menghitung berapa banyak foto dan mengingat kronologi trail run saya, sebelum akhirnya nekat mengikuti BTS100Ultra 50k. Dan ternyata secara total baru 7x trail run yang saya ikuti sepanjang hidup saya. Untuk selanjutnya ikut BTS Ultra 50 dengan track yang gilaaa..
Di antara padatnya aktifitas saya berkantor, mengurus anak & aktifitas-aktifitas lainnya, di akhir minggu, di minggu-minggu trakhir menjelang race, saya luangkan waktu untuk latihan ngetrel. Dengan jarak puluhan km di Sentul bersama dengan teman-teman yang hebat..
Teman-teman saya yang bukan pelari menanyakan, ” Apa sih yang kamu cari dengan ikut race 50k naik turun gunung?’”.
Mungkin saat itu saya belum tahu pasti dan belum bisa menjawab atas pertanyaan itu. Yang saya tahu hanya, ada keinginan yang kuat sekali untuk turut serta di BTS Ultra 50.
Walaupun saya masih newbie trail runner, saya hanya berfikir jika orang lain bisa, mengapa saya tidak bisa? Jika orang lain berani, mengapa saya tidak berani? Jika juga orang lain nekat, mengapa juga saya tidak nekat?
Sudah banyak tempaan dalam hidup saya sebagai seorang single parent. Dan inilah saatnya tempaan di indahnya alam ciptaan Tuhan. Yang membuat saya merasa sangat kecil di dalamnya..
Dengan mendapat restu dari anak saya, berangkatlah saya menjadi salah satu orang ‘gila’ di BTS Ultra. Dengan bangganya anak saya bercerita ke setiap orang bahwa Bundanya akan berlari 50k naik turun gunung. Bahkan sampai juga bercerita kepada guru ngajinya.
Maka semakin semangatlah saya untuk berusaha sekuat tenaga agar bisa finish sebelum Cut Off Time.
Begitu berbedanya aura di Ranupane saat menjelang start ultra trail, dibandingkan dengan start road race. Walaupun jumlah pesertanya jauh lebih sedikit dibandingkan dengan peserta race jalanan, tapi serunya di start line mengalahkan start race-race saya sebelumnya.
Sebagai newbie trail runner sudah pasti larinya saya adalah alon-alon asal kelakon. Sambil menikmati pemandangan dan foto-foto sana sini yang tidak mungkin saya lewatkan. Berkat camera yang selalu ada dalam genggaman saya sepanjang lari 50k.
Ternyata apa yang tidak saya dapatkan di road race, saya dapatkan disini.. Pemandangan yang spektakuler sepanjang rute, yang buat saya serasa dalam mimpi. Karena selama ini hanya saya lihat di foto, gambar atau kalender.
Danau Ranukumbolo yang begitu mempesona dari jarak jauh dan dekat. Puncak Semeru dari kejauhan. Hamparan pasir berbisik Bromo. Kawah Bromo dan bukit-bukit pasir, yang masih melekat di ingatan saya sampai sekarang..
Capek, sudah pasti.. Ngos-ngosan apalagi.. Tapi indahnya alam membuat saya tidak terlalu merasakan gempornya betis & paha ini.
Tanjakan yang seperti tak berakhir di tanjakan cinta Ranukumbolo ( entah sampai sekarang saya tidak tahu mengapa dinamakan Tanjakan Cinta. jika saja Tanjakan Cinta nya sudah seperti begitu, akan seperti apa ya Tanjakan Putus Cinta nya ?). Ayek-ayek, jalur pipa, bukit pasir Bromo.. Ditambah sepanjang perjalanan, ingatan akan anak saya. Dan bahwa saya tidak mau mengecewakannya..
Serta keinginan akan membuat anak saya bangga mempunyai Bunda seorang Ultramom..
Tanjakan, turunan, dingin, panas, angin, gerimis, pasir, haus, letih, lelah.Semua silih berganti .. Tanjakan-tanjakan sadiis, turunan-turunan cadas, walaupun berat tapi entah mengapa begitu senang saya menjalaninya.. Gerutuan yang tak henti- henti, ” Gilak tanjakannya!”, tapi kaki ini tetap semangat melangkah. Bahkan saat mendapat tanjakan yang tidak lazim, sehingga harus merayap seperti layaknya spiderman. Dan turunan sumur tegak lurus yang membuat banyak peserta perosotan seperti layaknya anak kecil. Teman-teman peserta pun semua tampak seru dengan segala tingkah lakunya.. Walaupun capek tapi semua happy..
Saya baru merasakan ternyata beratnya lari Full Marathon 42km di jalanan tidak ada apa-apanya dibanding ultra trail run di BTS..
Fisik dan mental benar-benar diuji.. Fisik sudah pasti terkuras untuk lari naik turun gunung belasan jam, mental pun diuji berkali-kali ketika ada ojek & kuda lewat.. Beruntung saya tidak tergoda sedikitpun.
Yang membuat saya tergoda justru menjelang km 35. Saat bladder sudah habis, water station jemplang tidak jua tampak, dan jalanan yang walaupun aspal namun adalah tanjakan tiada akhir. Saat sepeda motor penjual ice cream lewat, yang langsung di serbu semua peserta. Ice cream terenak di dunia saat itu, hahaha..
Jam garmin sudah menunjukkan km 40. Yess tinggal 10km lagi, dan di depan mata adalah padang pasir Bromo. Yang sepertinya tidak terlalu sulit untuk mengakhiri race ini di km50.. Tapi ternyataaa.. surpriseeee… Ternyata finishnya di kanan atas sementara kami dibelokan ke kiri ke gundukan pasir naik turun tiada akhir.. Dan.. belum cukup sampai disitu, kami harus naik tangga ke bibir kawah untuk mengambil gelang kuning, kemudian turun lagi. Haha hebat sekali si pembuat rute.. 5 km terakhir yang amat sangat berkesan di hati dan di kaki..
Saya melihat ke garmin saya. Sudah hampir 11 jam saya berlari.. Artinya waktu saya tinggal 1 jam lagi untuk bisa finish di bawah Cut Off Time.. Akhirnya dengan sisa tenaga yang ada, lari lah saya.. Tetapi begitu sampai jalan aspal, hah ternyata lagi-lagi tanjakan. Berarti, jalan lagi. Begitu sampai di atas tanjakan, banyak orang-orang yang bilang ‘tinggal sedikit lagi mbak finish’.. Tanpa basa basi larilah saya dengan perasaan campur- aduk antara senang dan terharu..
Begitu tulisan FINISH tampak didepan saya, rasa harupun kembali tak terelakan. Saya tahan airmata yang hampir menetes. Karena ,” masa macho-macho pelari ultra mewek”.
Begitu saya menginjakkan kaki di finish line, kata ‘Alhamdulillah’ yang tiada habisnya terus terucap di hati saya.. Yeayy saya berhasil menjadi ULTRA RUNNER, finish my 1st Ultra trail 50k dengan waktu 11 jam 12 menit!!
What an amazing race, amazing route, amazing view, amazing people.. Thank you committee for a beautiful race & I will come back next year!!

Standard
perkawinan, story

Tiga Puluh Empat Tahun

” Mau balik Bandung lo? Ngapain? Kawin? Emang berani? Ngaca dong?”. Tanya seorang teman.
Sempat kaget. Apa maksudnya.
Jawabannya ada dihadapan saya beberapa saat kemudian.
Tampak pantulan saya dicermin wastafel tempat saya kerja paruh waktu.
Rambut jabrik sedikit melampaui bahu tak terawat. Pipi tembam. Pun sama tak pernah tersentuh apa- apa selain air dan keringat.
Kacamata.. saya yakin kacamata bagus dan tidak juga murah. Tapi tiba2 baru saya sadari, seperti benda aneh yang jauh dari disebut pantas diwajah saya.
Saya merenung. Mendadak hilang semangat.
Ya ampun. Pastinya tak ada satupun yang saya lakukan untuk penampilan saya.
Tak pernah terfikir kearah sana.
Saya hanya tahu, penampilan baik hanya sesuai sampai masa- masa sma.
Masa kuliah adalah masa- masa serba terbatas.
Tinggal dikosan,sendiri atau berbagi kamar dengan seorang teman. Mencukupi kebutuhan hidupnya dengan kerja paruh- waktu saat libur kuliah. Perangkat audio adalah radio baheula model roti besar seukuran tv lawas 17 inch.
Fruehlingsrolle( lumpia) adalah sarapan atau cemilan mewah.
Selalunya biskuit entah apa mereknya.
Beberapa hari kemudian saya sudah duduk manis dikursi tempat potong rambut yg untuk kantong kuliahan saya jauh dari terjangkau.
Rupanya kesadaran saya untuk punya tampilan ‘normal’ lebih kuat dari keraguan saya memasuki salah satu tempat potong rambut terbaik dikota.
Untuk setiap lembar yang saya bayar tentunya saya mengharapkan yang terbaik.
Jadi ya saya serahkan sepenuhnya kepada mereka.
Alhamdullillah, bukan saja tidak mengecewakan tapi ya ampun terkaget- kaget sendiri. Haha.
Bersamaan dengan itu saya mulai lebih banyak lagi berjalan, lari2 pendek,karena asma saya yang menghambat, renang, asupan yang lebih lagi terkontrol selama  beberapa bulan sebelum pulang menikah.
Pulang, menikah, dan hari- hari selanjutnya hal- hal biasa yang mengikuti setelah pernikahan.
Ada hal yang membuat saya merenung lagi.
Banyak yang bilang, saat pernikahan dan saat- saat setelahnya adalah tahapan- tahapan kehidupan yang membuat orang lebih bahagia lagi.
Ditandai dengan wajah- wajah yang selalunya sumringah dan… sebagian dengan penampilan yang kali ini tidak lagi dengan usaha terbaik seperti saat sebelum menikah.
Kerap kali saya melihat, semakin lama usia pernikahan, semakin tak karuan penampilan dan  pakaian rumah sang pasangan.
Hilir- mudik dengan daster/ pakaian tidur atau kaos oblong dengan maaf robekan disana- sini. Bahkan sarung.
Terkadang malah sampai melewati waktu siang.
Rasanya seperti, dandan hanya saat masih sendiri. Saat belum mendapat pasangan. Setelahnya? Ah kan saya sudah laku. Ah kan dia sudah menjadi milik saya.
Entah bagi yang lain. Bagi saya? Seperti yang tidak menghargai.
Tentunya banyak cara seseorang menghargai pasangannya. Sebanyak manusianya itu sendiri.
Saya, seperti juga yang lain, tentunya ingin mempunyai pilihan, cara yang mana yang terbaik.
Sampai saat inipun saya tidak pernah tahu, cara yang mana yang paling baik yang saya ambil.
Jangan jangan malah tak pernah juga ada satupun yang saya punyai.
Apalagi jika ditambah lagi dengan sssst.. sekian banyak hal yang saya lakukan, sengaja ataupun tidak, yang mungkin malah menambah kekecewaan sang pasangan.
Jika ya, ditengah- tengah keluguan saya memasuki masa pernikahan, barangkali paling tidak ada satu yang saya usahakan sejak hari pertama pernikahan saya. Saya ingin bisa mempertahankan  penampilan saya tidak terkesan terlalu semaunya. Jauh dari gagah- perkasa, tapi bukan  cerminan dari pola hidup yang seenaknya.
58kg adalah berat badan saya saat ini, seperti juga sejak 34 tahun lalu lebih  seminggu. Tak kurang dan tak lebih 1 ons pun.
Bukan hal yang istimewa tentunya. Tapi seperti saya sebutkan diatas tadi, setidaknya ada satu yang saya usahakan.
Selamat hari jadi untuk saya dan pasangan hidup saya.

Standard
inspiration, motivation, mountain running, running, sport, story, trail running, ultra running, ultra trail running

Age is just a number……. by Dewi Satriyani

Age is just a number…….

November 26, 2013 at 3:33pm

Usia itu cuma angka, dan akhirnya yang membedakan tua dan muda itu akhirnya berpulang pada semangat setiap manusianya, dan saya menemukannya pada opa,sahabat,teman dan guru saya yang akrab disapa Aki. Sampai saat saya menulis notes inipun saya bahkan tidak mengetahui nama aslinya.

Belum terlalu lama saya mengenal beliau, tapi banyak pengalaman berharga dan moment berkesan yang sempat saya lewati. Yang saya dengar selama ini beliau adalah orang yang cukup disegani di kalangan pelari, mungkin layak juga kalau disebut trendsetter, tapi lepas dari semua popularitasnya saya sungguh tidak melihat Aki sebagai pelari ataupun selebritis yang untouchable.

Saya bukan pelari mahir, boro-boro mahir, belum 1 KM aja kadang suka udah nyerah, dari kecil juga saya nggak punya mimpi bisa masuk hutan, ikutan trel apalagi mendaki bukit. Jaman kecil, anti sama yang namanya Pramuka, kemah juga sekalipun belum pernah ngrasain. Sampai akhirnya Aki mengajak saya untuk ikutan ngetrail. Belagak gila, tawaran itupun saya terima. Dan benar saja, trail pertama saya ada di barisan terakhir, terpisah tak terlalu jauh, tapi lebih sering berhenti dibanding berlari. Tapi aki sangat telaten mendampingi saya, memegang tangan saya erat ketika menemui medan yang licin dan terjal, ataupun saat menapaki tanjakan dengan jalan setapak yang kalau dilihat kanan kiri udah pingin muntah. Trail paling berkesan saat di Bukit Tunggul, sepertinya cuma sepuluh kilo katanya, tapi elevasinya itu bikin ngilu, terutama buat saya pemula.

Aki tidak pernah menakuti orang yang ingin mencoba trail, meskipun kalau dipikir2 kaya berasa dijorokin sama Aki, karena beliau selalu bilang ini track buat beginner. Begitu sampai venuenya sempet mewek juga.

But on top of that, dari beliau saya belajar mengalahkan rasa takut, terutama takut masuk hutan dan berlari di perbukitan. Saya juga belajar betapa siapapun punya kemungkinan yang sama untuk merasakan nikmatnya nge trail seminim apapun kemampuan kita untuk berlari dan berapapun usia Anda.

Semangat Aki luar biasa, terutama untuk memasyarakatkan trail. Dia orang gila yang menurut saya suka nekad dalam artian positif. Mungkin sedikit banyak bisa dibilang risk taker sejati. Aki mengubah apa yang dirasa tidak mungkin menjadi potensi luar biasa.

dan saya masih menunggu beliau mewujudkan mimpi mengencani 57 gunung sebelum pertambahan usianya nanti. Siapapun pasti akan bangga untuk mendampingi beliau menyelesaikan ekspedisinya.

Dirgahayu Opa, semoga kamu tidak pernah lelah menjadi inspirasi untuk kita semua.

Sehat dan panjang umur selalu.

Standard
adventure, cerita, kisah, mountain running, olahraga, running, sport, story, trail running, tulisan, ultra running, ultra trail running

Teman- teman Saya Yang Hebat

26 November.
Lapar dan haus teramat- sangat. Tak ada lagi yg bisa dimakan & diminum. Jikapun ada pastinya seketika itu juga keluar lagi. Maaf, dimuntahkan.
Asam lambung sudah kadung naik.
Lemas tak tersisa tenaga sedikitpun.
Duduk letih dan  lemah.bersandar dipohon yg tak lagi bisa menahan curah hujan. Sendiri.
Di ketinggian Plawangan, Tempat pendaki bermalam sebelum muncak Rinjani.
Beberapa saat tadi baru turun dari muncak Rinjani. Belasan menit setelah Kang Hendra. Dan lebih lama lagi setelah Kang Rudy.
Kang Rudy tak tahu lagi entah dimana.
Kang Hendra katanya antara Plawangan dan Segara Anak.
Pasrah. Tak ada lagi yg bisa diperbuat.
Belokan turun ke Segara Anak tak juga ditemukan. Sudah belasan kali dicoba,
Sampai, ya sampai tak kuat lagi melangkah.
Dering telpon Kang Hendra ada sekali2.
Pastinya karena signal yang kadang ada kadang tidak. Menanyakan apakah belokannya sudah ditemukan.
Setelah sekian kali dijawab belum, akhirnya jawaban saya terakhir adalah sudah.
Hanya agar Kang Hendra tak lagi mengkhawatirkan saya, dan, sungguh menjawab telponpun sudah tak kuat.
Selang beberapa puluh menit masuk sms/ bbm teman2 mengucapkan selamat ulang- tahun.
Satu, dua, beberapa sekaligus. Belas, dan ya ampun, seperti tersadarkan, bahwa saya punya banyak teman. Banyak sekali.
Tak saya sadari, saya menitikan airmata.
Setelahnya adalah isakan.
Isakan bahagia, karena entah bagaimana mulainya tiba2 saya merasa tidak sendiri lagi.
Tiba2 tersadar bahwa sepertinya ada banyak teman2 yg menunggu seperti apapun kisah2 lari2 gunung saya. Jika ya begitu maka tak boleh diri ini menyerah.
Tiba2 saja saya mempunyai kekuatan lagi.
Kekuatan yg saya yakin cukup untuk bangun, dan memulai pencarian belokan ke Segara Anak.
Ternyata belokan yang dicari hanyalah belasan meter arah utara dari tempat saya semula tadi.
Selanjutnya beberapa jam kami bertiga sudah berkumpul di Segara Anak. Selamat, tanpa kurang suatu apa. Alhamdullillah.
Dua tahun kemudian, beberapa hari kemarin teman2 saya bukan lagi sekedar berlari gunung, tapi berlomba berlari di gunung.
Artinya ada batas waktu yang harus mereka perhitungkan.
Dengan jarak 50km, 102km dan 165km.
Dengan berbagai tingkat pengalaman dan kemampuan.
Dari yang pemula sekali. Sampai yang sudah beberapa kali penamat lomba2 lari trel ultra dimanapun.
Padahal kisah saya diatas hanyalah 30an km saja.
Saya yakin, tantangan, hambatan dan perjuangan mereka pastinya lebih lagi dari saya.
Biaya, waktu, persiapan, cuaca, medan yang sulit dan berbahaya. Tidur yang kurang. Makan dan minum yang mungkin berbeda dengan biasanya.
Tapi begitu besar niat dan keinginan mereka untuk turut di hajatan ini.
Bersukur acaranya selesai dengan, semoga saya tidak salah, berhasil dan selamat.
Teman2, kalian sungguh luar- biasa. Tamat atau tidak tamat kalian telah membuat sejarah.
Langkah menuju Indonesia sebagai salah- satu tujuan hajatan lari trel ultra dunia sudah dimulai.
Tak bisa lagi dihalangi.
Dengan kenyataan bahwa kita mempunyai ratusan gunung, pebukitan dan medan trel dimana- mana, bukan hal yg mustahil berikutnya adalah menjadikan tanah-air sebagai kiblat lari trel ultra maupun non ultra dunia.
Saya yakin dan percaya sekali.
Terimakasih teman- teman, kalian dan apa yang baru saja kalian lakukan merupakan hadiah termanis dan terindah diulang- tahun saya..
Tak terlupakan juga doa dan dukungan dari teman2 yang lain.

Salam,

Standard
motivation, running, sport, story

rieka

Saat sebagian Mama- mama muda lain barangkali berangan- angan mempunyai tubuh indah tanpa melakukan apa- apa.

Atau? Ya, bisa jadi membaca setumpuk buku tentang ini sambil, ehem ngemil; seorang yg saya kenal bertekad memulai lari untuk… kesehatannya. Bagi diri dan keluarganya. Jujur, agak jarang saya dengar.
Teman saya ini memulainya dengan amat sederhana saja.
Tanpa banyak baca teori yang membuat mengerutkan dahi. Tanpa berlama- lama melakukan persiapan yang membosankan. Yang malah membuat hilang semangat untuk larinya.
Bersukur teman saya memposting kisahnya ini di Path.
Lebih bersukur lagi beliau berkenan mengijinkan saya untuk memposting ulang.
Tidak banyak yang saya tahu tentang tulis- menulis.
Tapi akan saya katakan, tulisan teman saya ini biasa- biasa saja. Tak juga berpanjang- panjang.
Tetapi makna tulisannya yang luar- biasa.
Sampai saya baca berulang- ulang.
Motivasi dan inspirasi? Ini salah- satunya. Enjoy..

“Setahun yang lalu mulai coba rutin lari… Akhir September 2012 kalo ga salah, mulai ditemenin NikePlus tgl 4 Oktober 2012… Inget banget awal lari dulu menye2 banget, baru lari 10 menit aja udah ngos2-an parah & mutusin jalan… Alhamdulillah lama2 bisa juga  lari nonstop. Sekarang masih lelet sih tapi lumayanlah ya… 😁

Jaman sekolah dulu paling benci kalo disuruh lari. Satu2-nya olahraga yg disukain cuma renang…

Berhubung sekarang ada anak yg ga bisa ditinggal lama2, akhirnya coba2 lari. Terinspirasi mama2 TUM… Niatnya cuma satu sih, pengen sehat demi Kalya…

Masih inget banget gimana mimik muka khawatirnya Kalya kalo liat bundanya nangis2 nahan nyeri beberapa hari dalam setiap bulannya, duh bikin frustasi… 😥  .

Alhamdulillah sejak rutin lari pelan2 frekuensi nyerinya berkurang… Dari yang awalnya pake obat penahan nyeri 10 hari, turun jadi 6-4-2 dan sejak bulan Mei 2013 ga pake sama sekali sampai sekarang…

Alhamdulillah semoga sehat seterusnya… Amin… 🙏

Anyway, makasih banget2 untuk mama2 runner yang jadi inspirasi untuk mulai lari… Postingan larinya teh ninit, fanny, meta, gamma, nyanya & mama2 lainnya beneran memotivasi banget diawal lari dulu… 😘 Juga untuk teman2 IR Bandung yang baik hati & selalu menyemangati… Makasih aki, kak arie, tyas, yustin & teman2 IR Bandung lainnya yang bikin semangat lari sejak pertama kali daku lari bareng & “terjebak” 10K… 😙 #MariLari 🏃🏃🏃”

1st Runniversary by Rieka Riananda

Aside