tulisan

Lucid Dream

Saat usia sekolah saya sering alami mimpi yg didalamnya saya menyadari sedang bermimpi.
Terkadang, jika mimpinya asyik dan terbangun, saya bisa ‘sambung’ lagi sang mimpi tadi.
Sekali2 bagian2nya meloncat. Tak selalu pas nyambungnya.😁

Setelah selama ini tak begitu terperhatikan. beberapa tahun belakangan agak semakin sering saya alami.
Akhirnya malah saya suka ‘main2’.
Semisal dalam mimpi saya sedang ada diketinggian bibir jurang. Karena saya sadar sedang mimpi, ” Ah loncat ah”😁
Tapi kadangkala si mimpi terasa sedemikian nyata sampai2 saya ragu mau lakukan hal2 diatas tadi.”Duh ini lagi mimpi bukan ya”.

Tak selalu berhasil, kadang saya juga ‘bisa’ merancang mimpi. Berlari di kehijauan, muncak gunung2 yg belum pernah sebelumnya, bersepeda jauh dengan sepeda rancangan sendiri😊.

Yang lucu sekaligus konyol, tapi saya sukai adalah, saat mimpi ketemu yg cantik.
Terbayangkan apa saja yang bisa saya lakukan?Sssst😁

Oh beberapa malam lalu saya mimpi tiduran di hammock. Diketinggian pohon.
Asyik berayun, saya seperti sadar, wah dikenyataan saya pasti ga berani. Bolehlah berayun lebih kuat. Jikapun tali putus atau lepas toh kan dalam mimpi.
Gedebut! Entah tali terlepas atau putus saya terjatuh.
Sakitnya koq nyata.
Ternyata memang senyata- nyatanya saya jatuh dari hammock.
Ternyata juga saya ketiduran di hammock.
Beruntung hanya setinggi 1/2 m saja dari atas lantai papan.
Talinya putus!

Advertisements
Standard
tulisan

Belajar Gambar Saya

Mungkin karena sampai usia pra sekolah saya tak boleh keluar rumah jika tak harus, tinggal di Bandung, menggambar menjadi kesukaan saya yang utama. Tema gambarnya tak jauh2 pastinya dari yang terlihat dari rumah.
Diantaranya pesawahan, pepohonan dan kebun tetangga.
Terhalang satu rumah tetangga disebelah kanan adalah hamparan sawah.
Daerah jalan Moch.Toha, tepatnya Cigereleng, akhir 1950 masih pesawahan.

Asma dan bronkhitis bawaan lahir mengharuskan saya tetap dirumah, jika tak perlu2 sekali. Semisal ke Advent(Tuh berarti sejak tahun akhir 50an lalu saya sudah akrab dengan sang rumah sakit ini😁).

Suka2 gambar saya berlanjut sampai ketika sudah pindah ke Jakarta.
Rumah pertama kami di Jakarta adalah bangunan berdinding bilik berlantai tanah.
Disepetak tanah dilokasi Gelora Bung Karno sekarang.
Gambar2 saya diantaranya buldozer. Lho?
Ya buldozer.
Saya begitu terpana melihat beberapa mesin besar berwarna mencolok. Pastinya bertenaga besar. Mendorong sana sini, angkat sejumlah tanah dari satu tempat untuk kemudian dipindahkan ketempat lain.
Sementara Ayah lebih sering termangu melihat aksi sang buldozer ini.

Kelak setelah kepindahan kami ke Baturaja saya menemukan kosakata baru, penggusuran.
Baturaja, persis dibelakang Hotel Indonesia sekarang, adalah lagi2 bangunan berdinding bilik berlantai tanah.
Bedanya jika yang di senayan Ayah beli, kali ini mengontrak.
Perbedaan lain lagi, tak ada lagi pemandangan yang agak jauh. Kedepan belakang samping kiri dan kanan adalah gang, rumah2 tetangga dan sungai kecil.
Lengkap dengan kakusnya😁.
Tak ada lagi obyek2 gambar alam.
Beruntung salah satu tetangga kami adalah kakak sepupu. Beruntungnya lagi dia pandai menggambar.
Kali ini alam tak menyediakan diri menjadi obyek gambar saya tapi seolah memberi pilihan lain dengan kesukaan dan kepandaian sang kakak sepupu menggambar perempuan2 tak berbusana😁.
Bayangkan, usia balita gambar2 saya perempuan telanjang.
Sepupu yang tak hanya dianugerahi kebisaan gambar tapi juga jahil.
Keinginan besar saya belajar gambar dan jahilnya sang kakak sepupu wujudnya adalah saya harus terlebih dahulu tampil ingusan keliling2 depan rumah dengan panci butut ditulisi PM,Polisi Militer, yang harus saya pakai seolah topi baja, sebagai syarat belajar gambar kepadanya.

Jika tak salah 2 tahun kemudian kami pindah ke Slipi.
Alhamdullillah penggusuran rumah di senayan mendapat ganti rumah di Slipi.
Rumah paling indah didunia.
Rumah berlantai ubin.
Kamar2 berpintu kayu dan berdinding tembok.
Atapnyapun genteng.
Kami tak harus lagi keluar rumah bawa payung jika mau buang hajat saat hujan😁.

Masa SD saya di Slipi adalah juga masa belajar gambar saya berikut.
Kali ini guru gambar saya adalah 5, ya 5 bersaudara kakak sepupu saya lainnya. Semuanya pandai menggambar.
Dari mereka saya belajar diantaranya bahwa menggambar tak mesti persis mirip tapi detil. Arsir dan lain lain dan lain lain.
Sayangnya kali ini tak lagi bisa sering2 belajarnya, karena mereka tinggal diujung selatan kota. Kebayoran baru.
Obyek gambarpun berubah lagi. Pohon2, benda2 tehnik. Jikapun perempuan, kali ni berbusana😁.

Masa masa sekolah sampai sma belajar2 gambar saya tak lagi banyak.
Suka sukanya sudah bertambah dengan main main jauh jauh dan lama. Menjelajah sampai kampung kampung tetangga.
Saat sma bahkan ke Bali nyaris tanpa bekal uang.

Sampai sekarang saya masih suka menggambar.
Sebagian sebagai pengisi waktu luang pun sebagian jika harus sebagai periuk nasi saya.
Ohya gambar gambar diatas bukan gambar gambar saya tapi coretan coretan sang anak sulung, kakak.
Sepertinya dia lebih berbakat dibanding saya😊😁

Standard
cerita, tulisan

NYARIS SAJA.

Hujan lebat, selalunya mengingatkan saya akan suatu peristiwa naas yang menimpa salah satu penghuni rumah sebelah.

beberapa tahun lalu.

Sejak siang sampai adzan magrib berkumandang, hujan tak juga berhenti. Sebelumnya malah dengan angin kencang.

Saat melihat air diparit samping rumah, parit buangan kedepan, yang ‘luber’, saya segera ke depan. Pastimya tersumbat di salah- satu penggalan selokan depan rumah. Entah dimana. Karena sejak rumah paling timur sampai rumah kami( tiga rumah) selokannya terbuka. Setelahnya kearah barat nyaris tertutup.

Betul saja, air sudah penuh hampir rata dengan permukaan jalan.

Masuk kembali,keluar saya sudah siap dengan linggis, dorong apapun yang mungkin menyumbat.

Tiba2″ Om!! Jangan Om!. Ada kabel listrik yang jatuh ke selokan!”.

Walau agak temaram magrib, Saya mengenalinya sebagai salah- satu dari tiga atau empat Akang2 pemelihara taman rumah sebelah.

Rumah persis sebelah timur saya. Yang taman depan dan belakang rumahnya paling cantik sekomplek.

Seketika saya berhenti. Melihat keatas. Ya ada kabel yang jauh ke selokan. Tapi terlihat bukan dari tiang listrik, melainkan dari tiang telpon.

Artinya bukan kabel listrik tapi kabel telpon yg setahu saya tak beraliran listrik.

setelah yakin dengan apa yang saya lihat, alih- alih mau ‘sodok’ cari- cari yang menyumbat melalui salah satu bak kontrolnya, saya malah mau ‘pindahkan’ sang kabel yang menjuntai dan jatuh ke selokan dengan linggis saya.

“Om!!!!, Stop Om!!. Ini ada yg mati disini kena strom!!!”

Seketika saya lepas linggisnya.

Astagfirulloh.

Hujan dan angin kecang mendorong tiang listrik hingga kabel terputus.

Ujung satu entah dimana, ujung satunya lagi adalah yg jatuh persis diantara rumah kami.

Tak sengaja terpegang oleh salah- satu Akang pemelihara taman tadi, terlihat oleh dua lainnya, untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak, walau sudah dengan usaha keras dua temannya, Akang ini meninggal seketika. Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi Rojiun.

Kejadiannya berselang hanya tiga puluhan menit sebelum saya nyaris ‘bersentuhan’ dengan sang kabel maut.

Sang kabel maut yang saya kira kabel telpon, yang ternyata adalah kabel listrik yang terputus, jatuh dulu kekabel- kabel telpon, kemudian ke selokan.

Semoga almarhum diampuni segala dosa dan kesalahannya dan diterima disisi Alloh SWT. Aamiin YRA.

Standard
cerita

Saya Oh Saya..

Beruntung saya sadar bahwa saya memang pelupa. Jadi sejak semalam saya siapkan tak terburu. Cek cek & cek.
Setelah dirasa aman saya kembali menggantung di hammock tersayang.
Bada subuh saya mulai lagi perlahan. Cek cek & cek lagi semua. Rasanya lagi2 aman.
Tak ada yg tertinggal. Pesan go-jek, via kemacetan Cihampelas yg Na’Uzubillah menuju stasiun kereta- api Kebon Kawung.
Tapi karena sudah disiapkan cukup waktu, saya santai.
Sampai di stasiun, tak terburu- buru saya hampiri mesin otomatis pencetak tiket.
Alhamdullillah semua tertera dengan benar.
Masih 30 menit sebelum keberangkatan saya putuskan naik saja. Toh gerbongnya sudah ada.
Lagi- lagi2 santai saya tanya petugas, pastikan saya di rangkaian yg benar.
Tanya lagi sebelah mana gerbong 5 saya.
Alhamdullillah, hanya beberapa gerbong saya sudah sampai ke gerbong 5.
Naik perlahan, lagi- lagi dengan gagah dan penuh percaya diri saya masuk dan siap ke nomor duduk saya.
Santai dan pasti saya lihat.
Berulang- ulang.
Ternyata bernomor belasan. Saya masuk di pintu gerbong sebelah timur, mulai dari 1.
Ok berarti tadi salah masuk pintu.
Tak mengapa, sedikit jalan lagi, sampai keujung sekalipun bukanlah jarak yg tak berakhir.
Perlahan lagi saya menuju kearah depan.
1, 2, 3, 4 dan… lho nomor berakhir di 13 ABC. Hah????
Saya cek lagi, betul, saya lihat adalah nomor 18.
Cek cek dan cek lagi, tetap no 18.
Saya berusaha tenang. Mungkin mesin cetak tadi bermasalah. Atau petugas yang salah input.
Astagfirrulloh.
Tiba- tiba saya merasa menyesal. Lain kali berapapun dapat nomornya saya harus cek memang adakah nomornya.
Nasi sudah menjadi bubur. Mungkin lebih baik tambahkan cakue saja daripada dibawa pusing. Apalagi saya sedang batuk- batuk sesak.
Beruntung gerbong belum penuh. 1 2 hanya ber 7.
Saya masih termenung diujung gerbong dengan sisa sedikit penyesalan. Sebelum saya putuskan kembali ke petugas untuk masalah saya, tak sengaja tiket terlepas dan segera saya pungut.
Ya Alloh Ya Robbie Ya Rakhim, nomor saya tiba- tiba berubah menjadi IB..
Mata oh mata saya…
Salam selamat pagi, tut tut tut doakan semoga perjalanan kami menjadi kebaikan bagi kita semua. Paling tidak saya. Aamiin YRA
😊 #satuharisatutulisan #yuknaikkereta #menjelangenampuluh
Standard
tulisan

Menulis Lagi

 

Entah kapan terakhir menulis disini.

Ternyata ingin saja tak cukup. Terlintas sering. Mulai? Nanti lagi nanti lagi 🙂

Beberapa hari terakhir saya banyak menggambar beberapa macam/ jenis sepeda. Rancangan sendiri ataupun mengambil contoh dari merk/ jenis yang sudah ada.

Kota kami sedang menggalakkan bersepeda. Bercita- cita menjadi kota yang ramah pesepeda. Semoga bukan sekedar angan- angan, kota sepeda.

Kemacetan kota sudah tak lagi ramah.

Kendaraan yang sudah jauh melampaui daya tampung jalan. Transportasi umum yang jauh dari aman dan nyaman.

Diperburuk lagi oleh prilaku berlalu- lintas kebanyakan masyarakat yang jauh dari baik.

Sejak hampir dua tahun saya bersepeda. Sebagai sarana transportasi hari- hari saya. Nyaris tak terputus. Sekali- sekali berangkot dan damri. Hampir tak pernah bermobil atau motor.

 

Tiba- tiba saja terfikir pada Brompton.

Dikenal cantik ciamik dan… ya, tentunya mahal.

 

 

 

 

 

 

Standard
cerita, kisah, story, tulisan

SEPENGGAL KISAH MASA KECIL SAYA

Dunia saya adalah main, main dan main disana – sini.
Dunia saya tak pernah sepi.
Kemanapun pergi, selalu ada siapa- siapa dikanan dan dikiri.

Berkelahi? Selalunya saya hindari. Tapi jika mesti, walau awalnya ragu akhirnya pasti saya hadapi.

SEPENGGAL KISAH MASA KECIL SAYA.

Sejak usia belum sekolah saya sudah suka sekali berteman. Terutama dengan perempuan:).
Tunggu dulu.
Bukan berarti genit atau keperempuan- perempuanan.
Bagi saya mereka tampil tak kasar, tak temperamen. Tak suka berkelahi.
Walau kenyataannya, tak jarang kebalikannya.
Saat tinggal dirumah petak di Batujajar Jakarta dulu, saat pemukiman dibelakang Grand Indonesia masih kampung, lebih sering mendengar si Tante sebelah rumah yang mencak- mencak entah karena apa daripada si Om suaminya.
Lebih sering terlihat si Mbok penjual sayur keliling ngomel- ngomel dibanding Bapak- Bapak tukang becak yng suka mangkal di gang keluar kampung kami.
Saat smp saya malah punya ‘bodyguard’ perempuan.
Siapapun yang ganggu saya, laki- laki pastinya, harus berhadapan dengannya.
Dan selalunya, segagah apapun laki- lakinya ciut dihadapannya.
Ohya, sang ‘ bodyguard’ ini hanya satu dari sedemikian banyak teman- teman perempuan yang suka dengan saya. Stop! Bukan saya maksud saya yang ter ini ter itu, tapi karena mereka menganggap saya.. apa ya, lucu barangkali. Perawakan saya mungil jika tak dikatakan lebih pendek dari kebanyakan se usia saya.
Jadi tampil imut.
Mereka tak sungkan peluk- peluk saya.
Ya itu tadi, barangkali saya dianggap boneka hidup.
Saya? Antara suka dan tak suka. Suka, karena ya dipeluk- peluk itu tadi. Perawakan boleh imut, mungil. Hati kan hati se dewasa mereka:). Tak suka, karena, ya bagaimana saya bisa jadikan salah- satu dari mereka pacar saya? Semua menganggap saya tak lebih dari teman ‘kecil’ yang menyenangkan.
Beruntung, porsi keinginan bermain saya tak kalah besar dengan porsi keinginan punya pacar:).

Jadi, pada akhirmya tetap saja saya lebih suka bersahabat dengan mereka.
Sahabat- sahabat saya sejak kecil sampai usia sma selalunya lebih banyak perempuan.
Bahkan Ibunya anak- anak adalah satu dari dua mantan sahabat saya sma 🙂
Walau tak banyak, beberapa adalah sahabat laki- laki.
Yang pasti teman- teman bermain usia sd saya banyak sekali.
Dari ujung komplek di utara sampai selatan.
Teman- teman main perang- perangan, pedang, bola. Sampai sekali- sekali mancing di sungai dikampung seberang.
Untuk yang terakhir saya lebih sebagai penonton.
Saya tak beruntung dengan urusan mancing- memancing.
Teman- teman sudah belasan ikan didapat, saya tak satupun.
Setali tiga uang dengan urusan adu layangan. Layang- layang mereka bisa berlama- lama lenggak- lenggok di udara sambil putuskan layang- layang lawan, saya selalunya menjadi disisi yang tak pernah lama. Begitu naik ssst putus. Layangan saya. Bukan lawan.
Tapi jika urusan mencari dan banyak  teman, entah laki- laki atau perempuan, rasa- rasanya saya lebih jagoan:).
Rentang usia teman- teman saya dua- tiga tahun kebawah dan keatas. Artinya, saat usia kelas tiga smp misalnya, mereka adalah di usia kelas satu smp sampai yang baru kuliah.
Dunia saya adalah main, main dan main disana- sini.
Dunia saya tak pernah sepi.
Kemanapun pergi, selalu ada siapa- siapa dikanan dan dikiri.
Seperti yang saya pernah ceritakan, Mmak dan Bapak tak pernah keberatan dengan hal ini.
Yang penting setelah solat dan ngaji.
Ditambah lagi saya tak bermasalah dengan urusan sekolah.
Masuk sekolah siang, pulang sekolah saat sore, langsung saya selesaikan semua pe er- pe er sekolah.
Sering kali malah saya selesaikan lebih dari yang semestinya.
Kadang empat sampai lima halaman lebihnya.
Setelahnya selalunya saya mandi, pakai hemd lengan pendek bermotif kotak- kotak, kebanyakannya, terkancing sampai keleher, saya siap pergi main. Tak pernah terlewat, bersepatu:).
Berkelahi? Selalunya saya hindari. Tapi jika mesti, walau awalnya ragu akhirnya pasti saya hadapi.
Pernah suatu kali, seorang teman, mungkin sebab iri- hati akan entah hal apa, berulang- ulang mengganggu saya. Apapun dilakukan untuk memancing emosi saya.
Bagian yang paling menyebalkannya bukan gangguannya, tapi bahwa dia berperawakan jauh lebih besar dari saya dan.. selalunya dia lakukan dihadapan banyak teman- teman yang lain.
Serba salah. Dibiarkan, tak nyaman juga, karena jadi bahan olok- olok yang lain. Dilawan? Tampang dan perawakannya saja sudah mengintimidasi.
Akhirnya, keputusan harus dilakukan. Saya hampiri dia, setengah berbisik saya katakan,” yuk, ga usah koar- koar, mari kita berdua kelapang”.
Dengan perhitungan dan harapan, pertama, siapa tahu gertak saya efektif, membuat dia berfikir lain tentang saya. Kedua, tak lupa berdoa yang banyak, setelah  beberapa kali pukulan dia terhadap saya, yang kemungkinan terbesar tak bisa saya elakan, teman- teman lain sudah merelainya. Semoga, Aamiin.
Perhitungan ketiga, saya akan ambil posisi dimana ada batu sedikit besar atau apapun dalam jangkauan saya, dan siap saya gunakan saat terjepit.
Saya akan hantamkan semampu saya. Sepertinya akan cukup sekali jika bisa ke kepalanya.Seperti yang suka saya lihat di film- film india di layar tancap.
Diluar dugaan, mendengar ‘tantangan’ saya dia tampak kaget.
Tiba- tiba saya melihat hal lain.
Tampak jelas keyakinannya mendadak surut, berbanding terbalik dengan kepercayaan diri saya.
Dan akhirnya ‘perkelahian’ kami berakhir dengan keduanya terjerembab di selokan bau dipinggir lapangan. Penonton kecewa, tak ada adegan pukulan tak berakhir dari sang lawan dan tak ada juga hantaman batu yang mematikan dari saya.
Sebaliknya saya  bahagia:)

Bandung,kamis dinihari, november 2015.
Sepenggal kisah masa kecil saya.
Ditulis saat terbangun dari ketiduran sejak selewat magrib kemarin.

Standard
adventure, biking, cycling, gowes, Jalan- jalan, sepeda, trip, tulisan

Bandung Mentawai RideNFly

 

BikeFlyBikeRumah-Hussein

 

A friend called me the other day, right before Isya. he asked me to go to Mentawai. Which is one of my few dream destinations. It’s not really that far but who hasn’t heard about Mentawai. It’s an island located in the Western part of Sumatra, with its traditional Mentawai tribe inhabitants. Which some may still have animism as their belief. With a canoe-like boat as their method of transportation. One of the most beautiful beach in the world where you can surf, snorkel dan even fishing. Wit its white sandy beach.
More than half of its animal population are endemic. Such as Joja or Mentawai Langur (Presbitys Potenziano), which is a unique species of apes, where they either live in pairs or in a more complex harem group.
Another one is Bokkoi or Kloss Gibbon (Hylobates Klossii) the most primitive kind of gibbons which ironically has a nice voice…or noise, more likely.
With its short and stubby nose and a pig-like tail and two colored body, the Simakebu or Snubnosed Langur (Simias Concolor) is a fast-growing kind of ape.
The event itself is a training for 40 of Mentawaian students who are aspiring to be travel guides. It is an event held by both Mentawai Tourism Board and one of Bandung’s School of Hospitality.
They took this event seriously, not only from the Tourism Board, the Regent himself came all the way to Bandung. They determine to make full use of its tourism instead of only relying in its oil palm produce.
Where do i come in in the picture? My background is in architecture, particylarly home and resort designing. And running of course.
We were planning on staying for a week. The training itself only went for 3 days. we spent most of the early days on travelling. And it should be noted that Mentawai doesn’t only offer pretty waves to be surfed on. Mentawai isn’t only about the traditional people.
We departed by the start of June. My 2 lecturer friends went on a Jakarta-Padang roadtrip for two days because they didn’t want to spend a lot of time in Padang.
As for myself, i’ve been planning to go Bike-Fly-Bike for this trip. I don’t know what the correct term yet, but i’ll keep using it for now.
I bike daily so i’m getting pretty used to it by now so it wasn’t that hard for me to bike all the way from home to the airport. I went for a Bandung-padang flight. I didn’t bring a lot of stuff because i wanted to stay fuss-free during this trip. I used a light daypack. I also didn’t use any bigger bags like that of a pannier. While with Pannier you can store them on the small storage by the wheels. I use a 12 l of daypack.
Unlike what i usually do, where i only pack a couple of short and jerseys for a 7 days biking, i also brought along a trouser and short sleeved shirt while still leaving enough space in the daypack for my gadgets.
I biked from home to the airport and then continued from Padang airport to…pretty much anywhere we were going.
One of the perks of going on a bike is that no traffic will ever be a problem for you. Not to mention it was only 7 km from my house to Bandung airport. So i didn;t have to wake up too early for my flight.
It only took me about 30 minutes to get to the airport. I have an hour to pack up my bike with a wrapping plastic before my flight for me to put into the baggage. I used wrappingplastic because it’s inexpensive and practical. Plus it’s available in every airports. I walk my bike when i’m in the airport. Just make sure to the security person that you will put them in the baggage later. Dismantle the two wheels and then deflate them because their policy doesn’t allow anyone to store inflated things up in the air. And then the two wheels are ready to be wrapped. And then the frames were also wrapped separately. I didn’t take out anything else other than those wheels, except for my camera stand.
My biking days are filled with documented videos and photos. Be it Bandung city views or its more less visited corners.I just rasfered it to my smartphone and then upload them.
I walked my bike all the way to security check while still making sure that the wheels are going to wrapped and put in the bagage. Thankfully they gave me no trouble at all. They even helped me putting it into the baggage, so helpful.
My 48 sized roadbike cost about under Rp. 5.000.000, i wasn’t worry about it. Would’ve been a whole different problem if it cost a whole lot more.
It’s actually safer with a pastic wrap compared to when you use it in a bike box. where people would mistake it for any other box and treat it with no care otherwise.
The wrapping plactic is divided into two, for the complete frame and then the 2 wheels is being wrapped as one. The wrapper is pretty handy when they did it, carefully packig all of the parts and then sealed it with a masking tape.
It only cost about Rp. 100.000 for both wrappings and only weighed about 11,7 kg which is under Lion Air’s 20 kg limit.
Lion Air and Express Air doesn’t charge any extra baggage for the bike, they considered it as the baggage. Garuda wouldn’t even charge us for any sporting equipments. Bikes included of course. Whereas Air Asia would charge us for extra.
With online reservation it went like:
-Domestic for up to 15 kg: Rp. 135.000
-Domestic for up to 20 kg: Rp. 150.000
Domestic for up to 25 kg: Rp. 180.000
Domestic for up to 30 kg: Rp. 240.000
Domestic for up to40 kg: Rp. 390.000
While it would cost more at the airport counter. It’s Rp. 300.000 for up to 15 kg.
The general requirments for you to store your bike in the baggage is:
-1 bike per person
-The bar is positioned along with the frame.
-The pedals need to be dismantle and then wrapped.
-Same goes with the gears.
-The tires need to be deflated.
-Take off the mudguards and then wrap it.
-The pumps, water bottle and other small stuf need to be safely put on the frame.
Not that hard right?
I’ve googled about Sumatran islands way before i went on this trip. We’ve had numerous events in Java, trail runnings in particular.
We’ve only been to Kerinci in Sumatra for these kinds of events. Which is one of the 7 mountain tops in Indonesia. Who knows, in the future Mentawai would be famous not only for its beach destination, but also for the nature trail run.
Alhamdulillah, it didn;t take us too long for finally boarding.
A friend remined me to take up the seat near the window so that i gaze upon the small islands when we land.
But as usual, i forgot to take the seat near the emergency door exit. Thankfully the seats weren’t full so i can just change seat to whichever one i wanted. Alhamdulillah.
We landed before mid day.
I told everyone i was going to bike from the airport so noone needed to pick me up. It didn’t take me long to fetch my bike from the conveyor belt and inflated the tires back on the spot. It was quite a spectacle to say the least. Before you knew it, i was already on my way from the airport. Don’t forget to throw all of the wrappings in the trash bins.
The second day, on Tuesday morning, we were already ready in the dock. My friends got dropped of by car, while i of course, biked all the way. It was only 2 km from the hotel to the dock. Easy peasy. We had lontong sayur Padang for breakfast, which is a tasty local delicacy of rice cake and vegetable curry.
We got in the boat at 7. I stored my bike on the upper deck and then tied it to be safe.
The boat ride cost about Rp. 250.000 per person. The Mentawai Fast boat could fit in about 200 passengers. And goes for 50 km/h. Pretty fast that it only took us 6.5 hour to go from Siberut-Mentawai. WIth a 2 hour stop at Sikabaluan, Mentawai.
The waves were gentle. Can’t wait to see a real wave, the ones in southern part of Siberut, which many considered as the prettiest. As well in Roniki Island, Karangmajat, Mosokut, SIbege, SIbarubaru dan some other places.
The waves are also sort of uniquely named. Waves like Ombak Ular Left, Ombak Tikus Left, Beach Break Left & Right, and Bang Bang Left, etc.
The Mentawai Fast boat was pretty clean. And most importantly all of the rooms are non smoking rooms. Alhamdulillah.Since i quit 20 years ago, i’ve grown no tolerance for cigarette smokes. I’d have asthma even when i inhale them.
Mentawai Fast doesn’t allow any passenger to go to the upper deck. The deck is opened, except for the one in the far back which has a roof but is opened on the side.
Which is suitable for them who can’t go on a day without smoking, Or those who has sea sick. Fortunately the other decks are comfortably air conditioned.
From the Muara Padang deck we took a short stop at SIkabaluan, Mentawai. We waited for 2 hrs for the passengers from here.
It tool 1,5 hrs from Sikabaluan-Muara Siberut.
The waves were still gentle, not unlike those of river, eventough it’s already in the sea. The weather was typical island hot.
The Mentawai island is surrounded by tropical rain forests. From the primary forest, mixed primary forest, to the swamp forest. Each islands with its own flora.
Mentawai is the traditional life of its inhabintans. Also has the oldest tattoo tradition in the world. I am especially interested in their plan of only relying on its tourism and not on its palm oil export anymore. I instantly said yes when the offered to take a sight-seeing trip. 
For them to compeletely maximize the tourism they need to fix their infra-structure elements first. The road needs to be well travelled, same goes with the road lights and electricity throughout the island.
As of today the only communication access is only available in the island’s capital region, Sipora Island, on the Southern part of Siberut Island, the biggest island in Mentawai.
Some location in Siberut are already facilitated with communication access.
As for the road, it was indecent to say the least. The concrete were holed and many were damaged and the road could only fit 2 cars from the opposite directions. The rest could only fit for 2 wheeled vehicles.
But a lot can be done to set itself as the cleanest tourism destination while waiting for them to fis the infra-structure elements. Clean and Bike-friendly Mentawai could be the main tourism destination in the country. Not to mention with many of its beach focused events, like surfing, running and biking.

So that’s it from me. See you at another RideNFly, in Malino, Bira Beach South Sulawesi.
With Pannier in the back on each sides of course.
See you then.
 

 

Standard