adventure, bacaan

60 Adalah 60. Bukan 50 atau 40, apalagi 30

 

Why 60 is SOOO Not The New 40 – The Huffington Post.

“Saat 30 atau 40 lari adalah tabu.

Saat 50 dan sampai kini 60, lari adalah the dream come true”.

———————————–

“Cinta saya saat muda adalah cinta yang malu- malu.

Cinta saya kini adalah cinta yang menggebu”.

————————————

Agak berbeda dengan tradisi pada tanggal- tanggal kelahiran teman- teman usia sekolah SD; termos, misting makan, baju- baju hangat atau pullover adalah benda- benda yang kerap saya terima ditanggal- tanggal saya. Kado ulang- tahun saya dari Mmak dan Bapak.

Kadonya pengidap asma dan bronkhitis. Yang tak boleh kedinginan dan minum yang harus hangat 🙂

‘Nasi tumpeng’nya sup ayam dan perkedel kentang.

Waktu berlalu, jaman berganti, seragam sekolah sudah berganti putih dan biru, asma tak juga kunjung pergi.

Hari- hari tetap dengan kemunculan asma sekali- sekali. Tapi tak menghalangi aktifitas bermain saya. Bahkan semakin menjadi- jadi.

Saya yang semula tak boleh/ bisa bermain, masa- masa sekolah adalah masa- masa penuh dengan bermain dan pergi- pergi. Atau barangkali kata ‘nakal’ lebih tepat 🙂

SD, bersama kakak tertua dan paman, saya kerap sudah berjalan kaki dari slipi ke Senayan demi menonton pagelaran musik atau hiburan apapun lainnya.

SMP, tiduran dengan berpegangan pada besi pinggiran rak barang diatas bus Cirebon – Pangandaran bukan lagi hal aneh bagi saya.

SMA, bersama tiga sahabat- sahabat, Cirebon sampai Bali, nyaris tak berbekal apapun, menumpang berdiri berpegangan diruang sempit lokomotif uap, truk sayuran dan apapun yang serba ‘menumpang’.

Masa- masa kuliah saya diantaranya adalah masa- masa pungut- pungut sepeda atau barang- barang bekas atau sedikit rusak, yang saya coba perbaiki semampu saya, yang kemudian saya jual dengan harga mahasiswa keteman- teman kuliah atau tetangga.

Eh hidup ternyata tak hanya sesak dan batuk- batuk asma 🙂

Hidup saya yang pernuh warna. Hidup saya tak hanya kumpulan dari potongan- potongan kisah ‘tak boleh kemana- mana’, diam dirumah mencoba bernafas dengan usaha keras, tapi juga teman bermain dikomplek tempat tinggal dan hampir dibanyak kampung tetangga. Dan petualangan petualangan seru didalamnya.

‘Masa Kecil Kurang Bahagia’ tak tepat bagi saya. Ya kan?

Masa- masa dewasa, pun adalah masa- masa penuh dengan ‘petualangan’.

Usia boleh bertambah. Petualangan demi petualangan bukan berkurang eh koq malah tak sudah- sudah.

Semangat saya untuk tetap bergerak tak pernah kunjung berhenti. Semangat saya untuk tetap melakukan aktifitas sehat, agar keinginan saya untuk lebih banyak tahu ini- itu, melihat dan merasakan indahnya negeri ini, bisa saya lakukan selama yang saya mampu.

Hidup saya adalah petualangan. Setiap bepergian saya adalah petualangan. Sedekat atau sesingkat apapun.

Pergi bukanlah sekedar berpindah dari satu tempat ketempat lain, dengan hanya dua titik lokasi pergi dan sampai. Tapi juga adalah rentang waktu dan pengalaman diantara keduanya.

Sebentar lagi Inshaa Alloh akan ada ucapan- ucapan selamat yang menghibur. Diantaranya adalah. ” Selamat ya Kang. Tetap semangat! 60 is the new 40″.

Terkesan seperti walau sudah 60, dengan apa’ apa yang tak lagi seperti 40, tapi sama bahagianya koq.

Terimakasih Teteh- Teteh, Akang- Akang 🙂

Tapi saya lebih menyukai ” 60 adalah 60″. 40 tentu saja indah. Apalagi 30.

Tapi 60 saya pun punya indah dan menariknya sendiri.

Kapanpun lembaran tahun kehidupan saya yang lalu- lalu, adalah lembaran kehidupan yang selalu saya nikmati. Dengan sekian duka dan suka yang tak pernah saya sesali.

Tapi saya tak ingin kembali ke 50, ke 40 atau bahkan 30.

Saya tak ingin kembali menjadi 50, 40 atau bahkan 30 tadi.

Lembaran setiap angka tahun adalah lembaran baru. Lembaran kehidupan yang punya tak hanya pilu, haru bahkan sendu, tapi juga dengan pasti banyak tawa, canda, dan kebahagiaan dan petualangan seru.

Saat 30 atau 40 lari adalah tabu.

Saat 50 dan sampai kini 60, lari adalah the dream come true.

Saat 30 sepeda bagi saya adalah bingkai sepeda dan komponen indah, ringan dan mahal yang lebih banyak di elus- elus daripada dipakainya.

Saat menjelang 60an sepeda bagi saya adalah treadmil ajaib, yang tak mesti indah, ringan dan mahal, yang memenuhi kebutuhan cardio saya hari- hari, dan pada saat yang sama bisa mengantar saya kemanapun saya mau.

Benarkan ajaib? 🙂

Cinta saya saat muda adalah cinta yang malu- malu.

Cinta saya kini adalah cinta yang menggebu.

(Sama siapa hayoooo 🙂 )

Cinta saya akan hidup sehat, cinta saya untuk mengajak siapapun untuk juga berpola hidup sehat.

Cinta saya akan kota saya, yang tak dipungkiri masih dengan masalah yang tak sedikit. Tapi terus bergerak berbenah menuju ke kota yang lebih baik.

Cinta saya untuk terus bergerak, tak tinggal duduk manis berpangku- tangan sekedar menyaksikan apapun sekedar datang dan pergi, tanpa saya terlibat didalamnya.

Cinta saya untuk mengajak generasi setelah saya untuk sama seperti saya. Bergerak lintas batas, lintas pulau, sampaikan kebaikan, sampaikan apapun tentang kota. Kota yang sedang berbenah.

Pagi nanti, start di Pendopo, rumah dinas Kang Emil, jam 10:00, dengan sepeda yang saya desain sendiri, dibantu dan dibuat, dirancang didukung perjalanannya oleh teman- teman saya dengan penuh cinta dan doa, sejauh 400km, kearah barat jawa, melintasi selat sunda ke Lampung, adalah bentuk lain kado ulang- tahun saya ke 60 selain termos, misting makanan dan pullover saat saya kecil dahulu.

Selamat Ulang- Tahun ke Enam- puluh Saya..

Terimakasih teman- teman dan salam 🙂

Standard
inspiration, motivation, story

Ki, Selamat Ulang- Tahun :) by Bang Aswi

“Ehhh … aku lari tuh mulai 2010, awal 2010. Jadi awalnya Jumat, sebetulnya sudah lama tahu bahwa lari itu olahraga yang mau banget aku lakuin. Cuma karena tahu ada asma dan bronchitis, dan sebelumnya pernah coba lari-lari kecil atau segala macam atau waktu aku sekolah … kayaknya cepet capek. Dari situ saya tahu saya pikir saya udah nggak ada peluang untuk lari. Nah, 2010 itu saya coba konsultasi ke dokter sebelumnya, alhamdulillah ya tersendat sih memang tapi sebulan pertama udah lumayanlah ada progres ya. Yang tadinya seratus meter udah sesak kali ini udah satu kilo dua kilo. Dua bulan kemudian udah bisa lari sepuluh….”

“Check up semua, apa jantung dah, apa tekanan darah dan segala macam, euhhh dokter bilang oke. Tapi belakangan saya tahu bahwa yang dimaksud di pengertian okenya itu bahwa saya larinya emang lari-lari pelan bukan seperti lari-lari yang saya lakuin belakangan ini. Sempet kaget juga tuh si dokternya. Nah itu awal-awal saya lari….”

Di titik ini jemari sosok itu berhenti. Sosok itu mencoba membayangkan apa yang dilakukan salah seorang sahabat dan guru kehidupannya, Aki Niaki . Kata-kata di atas adalah ucapan Aki di awal wawancara sosok itu di sebuah kafe di jalan Burangrang. Masih ada 40 menit lagi hasil wawancara yang belum diselesaikan tentang pengalaman Aki berlari. Masih ada ribuan jam kehidupan Aki yang belum tereksplor untuk dijadikan inspirasi bagi masyarakat luas, tidak hanya bagi yang ingin berlari. Masih banyak rahasia lagi tentang semangatnya untuk mengkampanyekan olahraga lari dan (juga) ngetrel.

Jujur, sosok itu juga punya asma. Jadi dirinya tahu bagaimana rasanya takbisa bernapas dengan wajar. Bagaimana rasanya ‘megap-megap’ saat baru lari beberapa puluh meter. Bagaimana rasanya tersiksa di saat jutaan orang menikmati nyenyaknya tidur. Bagaimana rasanya batuk-batuk hanya dengan melihat embun pada gelas yang dingin. Bagaimana rasanya menjadi orang yang tidak berharga untuk turut membantu kerja bakti (meski hanya sekadar di rumah sendiri) membersihkan debu karena nantinya akan batuk dan kemudian sesak napas. Sakit hati ini mengetahui itu semua.

Sosok itu dikenal ‘sport freak’ saat SMA dan mahasiswa. Basket, volley, sepakbola, bulutangkis, renang, hingga mengenal sepeda dan lari. Gila olahraga karena tahu bahwa inilah salah satu cara agar asmanya tidak sering kambuh dan menjadi beban bagi orang lain. Sepedalah yang dipilihnya kemudian saat sudah berkeluarga dan bekerja. Sampai kemudian dirinya mengenal Aki di pertengahan 2008, di komunitas Blogger Bandung—Batagor. Saat itu dirinya tidak tahu Aki itu pengidap asma. Saat itu dirinya tidak tahu apa agama Aki (maaf). Saat itu Aki belum berlari. Saat itu dirinya melihat Aki yang penuh semangat meski untuk beberapa kegiatan fisik tidak maksimal. Aki selalu aktif di tengah-tengah anak muda yang mayoritas masih mahasiswa. Tapi kemana-mana selalu naik motor.

Hingga kini, semangat Aki tetap sama dan bahkan jauh lebih berkobar lagi. Kegiatan fisiknya semakin maksimal dan prima. Kemana-mana selalu berlari dan tidak lagi kelihatan naik motor. Kondisi fisiknya kini jauh lebih bugar dan segar jika dibandingkan sosok itu di awal perkenalan. Aki bagaikan magnet bagi orang-orang yang ada di sekelilingnya, baik itu di komunitas blogger maupun di komunitas larinya. Aki semacam suri teladan. Padahal dia sudah berprestasi dan terkenal. Namun sikap hidupnya selalu ‘down to earth’. Penuh senyum. Penuh gairah. Penuh rasa kekeluargaan. Pokoknya ada perasaan nyaman saat dekat dengan dirinya. Perasaan yang tidak ingin berpisah. Entah mengapa.

Sampai saat ini sosok itu belum berkesempatan dapat berlari bersama dengan Aki. Usahanya berlari mengalami maju mundur, bahkan lebih banyak mundurnya. Belum satu kilometer tetapi sudah menyerah untuk berhenti. Selalu lari sendiri karena malu kalau harus lari bersama. Aki-lah yang memberi semangat pada diri sosok itu. Aki-lah yang memompa diri sosok itu hingga akhirnya memberanikan diri untuk mau bersepeda sendiri dari Bandung ke Jakarta. Jauh setelah Aki berlari dari Bandung ke Jakarta. Aki tidak tahu akan hal ini. Semangat untuk mencoba lebih berani. Semangat yang membuat dirinya kembali mendekati Aki karena ada satu ‘keajaiban’ di dalam dirinya yang seharusnya bisa dinikmati oleh lebih banyak orang lagi. Keajaiban untuk menjadi inspirasi.

Di depan mata, ada mimpi sosok itu untuk bisa bersama Aki menaklukkan 57 gunung. Entah itu berlari bersama. Entah itu bersepeda bersama. Atau hanya sekadar menyaksikan Aki berlari dengan penuh kebanggaan dan keharuan. Pokoknya ingin menjadi saksi pertama. Sebuah perasaan yang hanya bisa dikeluarkan kalau sudah mengenal siapa Aki sebenarnya. Saat berdiskusi bersama. Saat berkegiatan bersama. Saat shalat bersama. Saat melihat bola matanya yang berembun saat menceritakan masa kecilnya yang penuh perjuangan. Ada banyak cerita yang harus diolah tentang kehidupan Aki agar menjadi buku yang utuh. Buku yang bisa jadi belum dapat menceritakan diri Aki yang sebenarnya. Diri Aki yang kini menapaki usia ke-57 dan terus … dan terus menginspirasi orang-orang yang mengenalnya (atau bahkan belum mengenalnya).

Ki, selamat ulang tahun. Teruslah menginspirasi kami semua…. #pelukerat

Standard